Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 1 ISSN 2654-6469

Kolaborasi Rumah Baca Asmanadia Ciranjang dengan Relawan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kegiatan Literasi

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Rumah Baca Asmanadia Ciranjang (RBA Ciranjang) merupakan salah satu cabang dari Rumah Baca Asmanadia di Indonesia. Untuk mengembangkan dan menjalankan kegiatannya, RBA Ciranjang tidak bergerak sendirian, oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen kolaborasi RBA Ciranjang dengan relawan dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi dan untuk mengetahui faktor pendukung serta penghambat dari kolaborasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Informan dalam penelitian ini adalah ketua pengurus RBA Ciranjang, dua relawan RBA Ciranjang dan satu key informant. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan komponen kolaborasi terlaksana dengan baik, dilihat dari komponen pertama yaitu komunikasi yang terjalin antara RBA Ciranjang dengan relawan menunjukkan kedekatan mereka. Komponen kedua yaitu RBA Ciranjang dan relawan sudah saling percaya dan memahami tugas mereka masing-masing. Komponen ketiga yaitu RBA Ciranjang dan relawan memiliki komitmen untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Komponen keempat yaitu tujuan yang mereka sepakati adalah menumbuhkan minat dan budaya membaca dari kegiatan literasi yang ada di RBA Ciranjang agar masyarakat tersebut berdaya. Komponen kelima yaitu dampak yang dirasakan oleh RBA Ciranjang dan relawan merupakan dampak yang positif. Faktor pendukung terjalinnya kolaborasi adalah motivasi yang dimiliki oleh RBA Ciranjang dengan relawan dan tidak ada faktor penghambat dari kolaborasi.

Abstract

Asmanadia Ciranjang Reading House (RBA Ciranjang) is one of the branches of Asmanadia Reading House in Indonesia. To develop and carry out its activities, RBA Ciranjang does not work alone, therefore the purpose of this research is to find out the components of collaboration between RBA Ciranjang and volunteers to empower communities based on literacy activities and to identify the supporting and inhibiting factors of collaboration. This study uses a qualitative research method with a case study approach. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, and literature studies. The informants in this study were the head of the Ciranjang RBA board, two Ciranjang RBA volunteers and one key informant. The results showed that the implementation of the collaboration component was carried out well, seen from the first component, namely the communication that existed between RBA Ciranjang and volunteers showing their closeness. The second component is RBA Ciranjang and volunteers already trust each other and understand their respective duties. The third component is RBA Ciranjang and volunteers have a commitment to achieve the agreed goals. The fourth component is the goal that they agreed on is to grow interest and reading culture from literacy activities in RBA Ciranjang so that the community is empowered. The fifth component, namely the impact felt by the Ciranjang RBA and volunteers, is a positive impact. The supporting factor for collaboration is the motivation that RBA Ciranjang has with volunteers and there are no inhibiting factors from collaboration.
Keywords: Rumah Baca Asmanadia · kolaborasi · relawan · kegiatan literasi

Introduction

Dalam kepedulian masyarakat untuk membantu pendidikan bagi masyarakat itu sendiri dapat diwujudkan dengan hadirnya perpustakaan umum yang dikelola atas inisiatif dari masyarakat itu sendiri, tempat tersebut dikenal dengan sebutan taman bacaan masyarakat (TBM) atau rumah baca. Rumah baca adalah tempat yang digunakan sebagai wadah untuk memfasilitasi aktivitas membaca, diskusi dan aktivitas literasi lainnya yang didukung dengan koleksi serta fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dan tentunya didukung dengan adanya pengelola yang bertanggung jawab untuk menampung minat yang dimiliki oleh masyarakat. Rumah baca bisa dinyatakan sebagai perpustakaan yang keberadaannya sangat dekat dengan masyarakat, terlebih terlebih segala kegiatan yang dilaksanakan merupakan kegiatan literasi, maka akan lahirnya generasi yang sadar dengan ilmu pengetahuan, yang di mana ilmu pengetahuan ini menjadi hal yang paling utama dalam menjalani kehidupan, dengan kata lain rumah baca merupakan salah satu wujud dari hal untuk membangun kesadaran masyarakat akan ilmu pengetahuan. Rumah baca merupakan tempat yang tumbuh kembangnya bersama masyarakat sekitar. Rumah baca hadir sebagai tempat baca dengan suasana sederhana dan terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya (Ludifa, 2015). Rumah baca yang memiliki fokus dalam “membaca” ini diartikan bahwa membaca merupakan alat untuk belajar, memperoleh kesenangan, dan memperoleh pengetahuan dari suatu tulisan. Sehingga dengan membaca seseorang dapat mengenal, mengetahui, dan memahami apa yang sebelumnya belum dikenal, diketahui, dan dipahaminya (Mora & Setiawati, 2020). Dalam kehidupan banyak hal yang bisa diatasi dengan membaca, karena banyak informasi yang dituang dalam bentuk tulisan, sehingga membaca harus dijadikan asupan sehari-hari manusia dalam menjalankan kehidupannya. Rumah baca selain menjadi tempat untuk mencari informasi dan menambah pengetahuan pun menjadi salah satu tempat yang sesuai untuk memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan bisa dikatakan sebagai mendayagunakan segala potensi dan kekuatan untuk memberdayakan sumber daya manusia dan komunitas setempat baik yang tangible maupun yang intangible, seperti nilai-nilai modal sosial: kegotongroyongan dan solidaritas sosial (Efendi et al., 2019). Diketahui bahwa masyarakat yang berdaya haruslah memiliki daya, kekuatan atau kemampuan. Kekuatan yang dimaksud dapat dilihat dari aspek fisik dan material, ekonomi, kelembagaan, kerja sama, kekuatan intelektual, dan komitmen bersama dalam menerapkan prinsip-prinsip pemberdayaan (Widjajanti, 2011). Terdapat kata kekuatan intelektual, yang artinya kekuatan intelektual ini bisa didapatkan dari hasil mencari tahu pengetahuan yang lebih luas lagi, salah satunya dengan membaca. Rumah Baca Asmanadia memiliki slogan “Menjelajah Buku, Membuka Mata Dunia”, rumah baca ini hadir dilingkungan masyarakat untuk memfasilitasi anak-anak mengenal bakat baca dan tulis ataupun masyarakat di lingkungan sekitar rumah baca untuk gemar membaca dan meningkatkan keterampilan serta kemampuan masyarakat. Salah satu cabang Rumah Baca Asmanadia adalah Rumah Baca Asmanadia Ciranjang (RBA Ciranjang) yang berlokasi di Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat. RBA Ciranjang ini memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca dan tulis anak-anak di sekitar rumah baca atau di lingkungan Ciranjang. RBA Ciranjang berdiri pada tahun 2010, terhitung sejak tahun tersebut bisa dikatakan bahwa RBA Ciranjang sudah berdiri selama kurang lebih 12 tahun di lingkungan masyarakat Ciranjang. Dalam mengembangkan rumah baca tersebut tentunya rumah baca tidak bergerak sendirian, terlebih rumah baca yang hadir di lingkungan masyarakat harus menjalankan program ataupun kegiatan yang bisa dilaksanakan bersama dengan masyarakat, apalagi di sini RBA Ciranjang memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca anak-anak, seperti yang diketahui bahwa minat baca di Indonesia menjadi isu penting yang perlu ditangani, sehingga program maupun kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang harus memiliki kaitan dengan minat baca. Dalam merancang dan menjalankan program, tentunya pengurus RBA Ciranjang tidak bisa melakukan semuanya sendirian, diperlukan kolaborasi dengan pihak lain. Penelitian mengenai rumah baca dan pemberdayaan masyarakat ini pernah diteliti sebelumnya oleh Dilla Hardina Agustiani dan M. Fikriansyah Wicaksono pada tahun 2021, yaitu dengan judul ‘Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Literasi: Studi Kasus Taman Baca Masyarakat Matahari Indonesia Kediri’. Penelitian tersebut memiliki tujuan untuk mengungkapkan proses pemberdayaan masyarakat melalui berbagai kegiatan literasi dan untuk mengetahui pula hambatan yang di rasakan oleh TBM dalam memberdayakan masyarakat melalui literasi. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dan langkah untuk menganalisis penelitian ini yaitu melalui tahap analisis, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah TBM Matahari Indonesia berperan penting dalam memberi wadah kreatifitas dan menggali bakat terpendam yang dimiliki oleh anak-anak sekitar TBM. Dan hambatan yang dirasakan adalah keterbatasan koleksi, kurangnya SDM dan minimnya dana pengembangan TBM (Agustiani & Wicaksono, 2021). Hal yang membedakan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis ini adalah terkait kolaborasi yang dilakukan antara RBA Ciranjang dengan aktor kolaborasi, yaitu relawan, perlu diketahui bahwa relawan bukanlah orang yang bisa dieksploitasi begitu saja waktu dan tenaganya, sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkapkan proses kolaborasi yang terjalin antara RBA Ciranjang dengan relawan dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi dan untuk mengetahui pula faktor pendukung dan penghambat dari kolaborasi yang dilakukan. Dari permasalahan dan tujuan yang sudah disebutkan sebelumnya, oleh karena itu judul tulisan ini adalah “Kolaborasi Rumah Baca Asmanadia Ciranjang dengan relawan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi.” B. TINJAUAN PUSTAKA Rumah baca bisa dikatakan juga sebagai salah satu dari pendidikan nonformal, hal ini terdapat pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dalam beberapa pasalnya disebutkan bahwasanya program-program pendidikan nonformal terdiri dari life skill, PAUD, pendidikan kepemudaan, pendidikan untuk memberdayakan wanita, diklat, pendidikan kesetaraan, taman bacaan masyarakat atau rumah baca serta pendidikan lainnya yang mengarah pada pengembangan keahlian warga belajar (Mora & Setiawati, 2020). Dikarenakan menjadi tempat yang bisa mengedukasi masyarakat, rumah baca perlu dikembangkan, pengembangan rumah baca ataupun taman baca masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan karena rumah baca merupakan salah satu tempat untuk membaca selain perpustakaan, rumah baca juga merupakan tempat belajar serta sebagai pusat informasi bagi seluruh masyarakat (Amin, 2020). Rumah baca yang memiliki peran untuk mengedukasi masyarakat dan menjadi pusat informasi bagi masyarakat, membuat para peneliti yang memiliki ketertarikan dengan rumah baca dan masyarakat melakukan penelitian di rumah baca atau taman bacaan masyarakat. Salah satu penelitian yang pernah dilakukan oleh penerliti terdahulu yaitu penelitian yang dilakukan oleh Dilla Hardina Agustiani dan M. Fikriansyah Wicaksono pada tahun 2021, dan penelitian yang dilakukan oleh Agus Triawan pada tahun 2020 dengan judul ‘Pemberdayaan Masyarakat Melalui Gerakan Literasi Taman Baca Masyarakat (TBM) Multi Pekon Padang Tambak Kecamatan Way Tenong Lampung Barat’. Kedua penelitian tersebut memiliki tujuan untuk mengungkapkan proses pemberdayaan masyarakat melalui gerakan literasi dan untuk mengetahui hambatan dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui gerakan literasi. salah satu hambatan yang dirasakan adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang ada di taman bacaan tersebut. Namun, pada kenyataannya, hambatan mengenai kurangnya SDM di taman baca atau rumah baca bukan hanya dialami oleh satu atau dua taman baca saja, melainkan banyak taman baca yang berdiri di Indonesia memiliki masalah dalam kekurangan SDM. Sehingga penelitian yang dilakukan ini adalah untuk menjawab permasalahan tersebut, atau untuk mengembangkan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, karena penelitian yang dilakukan ini adalah mengenai kolaborasi antara Rumah Baca Asmanadia Ciranjang dengan relawan dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi. Diharapkan tulisan ini mampu untuk membantu para pengelola TBM atau rumah baca dalam menyelesaikan masalah di bidang SDM. Tak bisa dipungkiri, bahwa SDM ini sangat dibutuhkan oleh taman bacaan atau rumah baca, karena SDM ini termasuk ke dalam komponen-komponen yang ada di taman baca atau rumah baca. Setidaknya terdapat dua komponen yang ada di rumah baca, yaitu sumber daya fisik seperti koleksi-koleksi yang ada di rumah baca dalam berbagai format, seperti buku, majalah, koran, CD dan lain sebagainya, dan tentunya koleksi-koleksi tersebut harus disimpan sesuai dengan tempatnya, oleh sebab itu diperlukan rak buku, display untuk buku baru, rak majalah, gantungan koran, dan fasilitas lainnya seperti meja, kursi, alas duduk, panggung kecil, dan lain sebagainya. dan komponen yang kedua adalah sumber daya manusia (SDM), sekurang-kurangnya SDM yang ada di rumah baca yaitu ketua pengelola atau pengurus rumah baca tersebut. Perlu diingat, faktor penting dalam keberhasilan tujuan organisasi ialah sumber daya pendukung yang dikelola dengan baik oleh sumber daya manusia yang berkompeten (Waisah, 2020). Dengan adanya sumber daya yang berkompeten ini akan berpengaruh terhadap efektivitas dan efisiensi dari pelaksanaan program yang dimiliki oleh taman baca tersebut dan dapat dilaksanakan semaksimal mungkin. Sehingga rumah baca harus memiliki SDM lain selain pengelola, maka diperlukan kolaborasi antara rumah baca dengan pihak lain yang bersedia membantu rumah baca. Pengertian kolaborasi menurut etimologi yaitu berasal dari kata co dan labor yang memiliki arti sebagai penyatuan tenaga atau peningkatan kemampuan yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau telah disepakati bersama (Saleh, 2020). Lalu, jika dilihat dari sisi terminologi, kolaborasi memiliki makna yang lebih luas namun umum, kolaborasi bisa dikatakan sebagai kerja sama yang terjalin antara dua orang atau institusi atau lebih yang bisa saling memahami permasalahan masing-masing yang sedang dihadapi dan akan diselesaikan secara bersama-sama. Arti lain dari kolaborasi adalah kerja sama yang dilakukan dengan dasar kesepakatan antara dua pihak atau lebih (kolektif) khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran dalam hal pencapaian tujuan. Hal ini sesuai dengan definisi kolaborasi sebagai jaringan atau distribusi informasi, sumber daya, aktivitas dan kapabilitas organisasi dalam dua atau lebih sektor untuk bekerja sama mencapai tujuan yang tidak bisa dicapai jika bekerja sendiri-sendiri (Udiani, 2016). Aan Marie Thomshon dalam (Wulandari, 2019) mengatakan bahwa kolaborasi merupakan sebuah konsep yang mirip dengan kerja sama tetapi memiliki makna yang lebih dalam, yakni merupakan proses kolektif dalam pembentukan sebuah kesatuan yang didasari oleh hubungan saling menguntungkan (mutualisme) dan adanya kesamaan tujuan dari organisasi-organisasi atau individu-individu yang memiliki sifat otonom, saling berinteraksi melalui negosiasi baik secara formal maupun informal. Dari pengertian-pengertian tersebut, bisa dikatakan bahwa kolaborasi dipengaruhi oleh rasa kepercayaan, kepentingan, dan kesepakatan yang dibangun demi mencapai tujuan bersama. Munculnya kemauan untuk melakukan kerja sama atau kolaborasi adalah dengan adanya keinginan untuk mencari solusi terhadap masalah yang dirasakan bersama. Masalah atau kepentingan bersama tersebut bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi berkembangnya kolaborasi yang bersifat dinamis dan saling ketergantungan. Dalam kolaborasi yang dilakukan, terdapat komponen-komponen yang menjadi kunci keberhasilan dari kolaborasi itu sendiri. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori yang diungkapkan oleh Ansell and Gash (2008). Menurut Ansell dan Gash terdapat lima komponen yang membentuk siklus dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, yaitu, pertama, Dialog Tatap-Muka (Face to face dialogue). Dialog antar-muka sebagai bentuk komunikasi menjadi hal yang penting dalam kolaborasi, karena adanya proses pembentukan konsensus. Komunikasi langsung (face to face) merupakan upaya untuk mengurangi stereotip (yaitu persepsi aktor yang memandang adanya sisi buruk aktor lain) dan meningkatkan rasa hormat antar aktor. Dengan adanya komunikasi langsung, para aktor yang terlibat dalam kolaborasi menjadi lebih objektif dalam berinteraksi. Kedua, membangun kepercayaan (trust building). Membangun kepercayaan merupakan syarat yang diperlukan untuk membangun kolaborasi yang solid. Membangun kepercayaan memerlukan waktu yang tidak singkat, hal ini karena dalam kolaborasi diperlukan komunikasi yang intensif (terus menerus). Ketiga, adanya komitmen pada proses kolaborasi (commitment to the process). Komitmen merupakan komponen yang sangat penting dalam proses kolaborasi. Komitmen berkaitan erat dengan motivasi asli para aktor dalam kolaborasi. Komitmen dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni pengakuan bersama, apresiasi, dan monitoring. Keempat, adanya pemahaman bersama (shared understanding). Pemahaman bersama merupakan hal yang penting dalam mencapai tujuan bersama. Pemahaman bersama dapat diartikan sebagai common mission (misi umum), common purpose (tujuan umum), common objectives (objektivitas umum), dan shared vision (visi bersama). Pemahaman yang dimaksud adalah penyatuan pemikiran dan persamaan tujuan, sehingga meminimalisir terjadinya kesalahpahaman antar aktor. Kelima, adanya dampak sementara (intermediate outcomes). Dampak sementara terjadi selama proses kolaborasi, oleh karena itu ada kata “sementara” di dalamnya. Dampak sementara menghasilkan feedbacks. Umpan balik yang diharapkan adalah umpan balik yang positif, yang disebut “small-wins” (kemenangan kecil). Kemenangan kecil ini akan meningkatkan harapan masing-masing aktor dalam kolaborasi sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dan komitmen.

Method

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2017). Penelitian kualitatif mencoba mengerti makna suatu kejadian atau peristiwa dengan mencoba dengan berinteraksi dengan orang-orang dalam situasi fenomena tersebut (Yusuf, 2017). Pemahaman makna tersebut yaitu menempatkan posisi subjek penelitian sama dengan posisi peneliti, dengan tujuan untuk membangun kesamaan dan menciptakan interaksi yang menyenangkan, sehingga tujuan kualitatif ini ditinjau berdasarkan dengan kepentingan penelitian itu sendiri. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus digunakan karena menurut Woodside (2010), studi kasus merupakan penyelidikan empiris yang menyelidiki mengenai fenomena dalam konteks kehidupan nyata terutama ketika batas-batas antara fenomena dan konteks tidak jelas terlihat. Sehingga studi kasus tidak hanya menyangkut orang atau organisasi, melainkan bersangkutan juga dengan tanggung jawab, sistem, koleksi, program, dan populasi. Sehingga, dengan menggunakan pendekatan studi kasus ini ditujukan untuk mengungkapkan gambaran yang mendalam dan mendetail mengenai situasi atau objek tertentu. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus ini, data-data didapatkan dari hasil observasi yang dilakukan secara langsung ke lapangan. Data yang terkumpul tersebut akan dianalisis dan diinterpretasi, sehingga data-data tersebut kemungkinan bisa menjadi kunci terhadap apa yang diteliti. Data yang didapatkan bisa berasal dari naskah wawancara yang telah direduksi, catatan lapangan, dan dokumentasi baik berupa foto, video atau bahkan record. Dalam penelitian ini, penulis mewawancarai ketua pengurus RBA Ciranjang yaitu Kang Jejen, dua relawan RBA Ciranjang yaitu Bu Rani dan Kang Yasir, dan satu key informant yaitu Bu Heni selaku Sekretaris Jenderal Forum TBM. Sehingga, digunakannya pendekatan studi kasus ini ditujukan untuk mengungkap pelaksanaan komponen kolaborasi antara RBA Ciranjang dengan relawan dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi. Data yang terkumpul didapatkan dari hasil observasi secara langsung ke RBA Ciranjang untuk mengamati relawan yang menjalin kolaborasi dengan RBA Ciranjang. Selain dari observasi, data yang didapatkan juga berasal dari wawancara yang dilakukan kepada pengurus RBA Ciranjang dan relawan RBA Ciranjang. Studi pustaka juga dilakukan untuk memperjelas temuan lapangan. Hasil penelitian dalam artikel ini akan dibahas secara deskriptif.

Result & Discussion

Sebelum membahas mengenai kolaborasi yang dilakukan antara RBA Ciranjang dengan relawan, penulis akan membahas terlebih dahulu mengenai kegiatan yang dilakukan oleh RBA Ciranjang. Kegiatan yang sering dilaksanakan oleh RBA Ciranjang adalah Hiking Super Beda atau RBA Ciranjang Goes To Kampung, ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk memperkenalkan RBA Ciranjang ke masyarakat sekitar Ciranjang dan mengkampanyekan budaya baca ke kampung-kampung tersebut, di sinilah dilaksanakannya kegiatan lain, yaitu lapak baca, di sini RBA Ciranjang menggelar buku-buku agar masyarakat di kampung tersebut bisa membaca buku-buku tersebut secara gratis. Kegiatan selanjutnya adalah Rumah Belajar, kegiatan ini didasari dari keprihatinan pengurus RBA Ciranjang yang melihat anak-anak sekitar RBA Ciranjang yang hanya bermain saja, dan tidak adanya wadah untuk mengarahkan mereka agar mendapatkan pendidikan, pengalaman serta keterampilan tambahan mereka di luar bangku sekolah formal, Berangkat dari hal tersebut, akhirnya kegiatan rumah belajar ini dilaksanakan dengan mencanangkan program pendampingan belajar. Yang diajarkan di rumah belajar ini yaitu membaca, menulis, berhitung, dan mengaji, dengan pelajaran tambahannya yaitu hafalan doa’doa harian, surat-surat pendek, praktik shalat, kesenian serta keterampilan. Kegiatan selanjutnya adalah Program Komputer, program ini terbuka untuk umum, bukan hanya untuk anak-anak, namun program komputer ini ditujukan untuk anak-anak yang saat ini sudah melaksanakan ujian secara daring melalui komputer, jadi selain anak-anak mendapatkan pengajaran komputer di sekolahnya, anak-anak bisa belajar komputer di RBA Ciranjang. Sebelum melaksanakan kegiatan Rumah Belajar dan Program Komputer, anak-anak wajib untuk membaca buku terlebih dahulu, satu anak satu buku, minimal 10 menit. Hal ini pun terlihat dari observasi yang dilakukan oleh penulis ketika kegiatan rumah belajar berlangsung, anak-anak yang mengikuti kegiatan ini dengan segera mengambil buku yang telah disediakan oleh RBA Ciranjang, dan mereka segera membacanya. Keep collaborative efforts voluntary, not mandatory is Collaboration is not a process that can be forced (Udiani, 2016), dalam pengertian tersebut bisa diartikan bahwa kolaborasi bukanlah sesuatu yang dipaksakan di antara kedua belah pihak yang melakukan kolaborasi. Kolaborasi yang terjalin harus berdasarkan kepercayaan di antara kedua belah pihak. Terdapat tiga pola kolaborasi yang biasanya dilakukan oleh rumah baca atau taman bacaan, hal ini diungkapkan oleh key informant yaitu Bu Heni selaku Sekretaris Jenderal Forum TBM, dalam petikan wawancara berikut: “...dalam praktiknya taman bacaan masyarakat itu tidak bisa bergerak sendiri, dalam prosesnya pasti ada kerja sama atau kolaborasi dengan pihak lain hmm kalau kemudian kita membagi pola kerja sama antara pihak tbm dengan pihak lain itu bisa berwujud misal kerja sama penyelenggaraan kegiatan, atau kolaborasi dalam penyediaan relawan seperti itu, atau pembiayaan, jadi, tiga hal itu yang biasanya dilakukan oleh teman-teman TBM..” (Bu Heni, Wawancara, Mei, 2022) Salah satu kolaborasi yang biasanya dilakukan oleh rumah baca atau taman bacaan masyarakat adalah kolaborasi dalam penyediaan relawan. Oleh sebab itu, bahasan ini akan membahas mengenai pelaksanaan komponen kolaborasi antara RBA Ciranjang dengan relawan dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi. Dalam kolaborasi yang dilakukan ini, terdapat komponen-komponen yang bisa menjadi tolak ukur dari kolaborasi yang dilakukan, apakah kolaborasi berhasil untuk dilakukan atau tidak. Peneliti menggunakan komponen kolaborasi yang diungkapkan oleh Ansell and Gash (2008). Berikut merupakan komponen-komponen kolaborasi yang dilakukan, yaitu, pertama, Dialog Antar-Muka atau Face to Face Dialogue. Komponen pertama ini dinilai penting dalam kolaborasi, karena terjalinnya bentuk komunikasi di antara orang-orang yang terlibat dalam kolaborasi. Komunikasi yang dibangun dengan baik akan menghasilkan harmoni dalam kehidupan sosial, sehingga komunikasi yang terjalin dalam kolaborasi merupakan jantung dari kolaborasi itu sendiri. Komunikasi yang dilakukan secara langsung merupakan salah satu upaya untuk mengurangi persepsi buruk yang bisa saja muncul dari aktor yang terlibat dalam kolaborasi yang dilakukan, selain itu komunikasi secara langsung pun mampu untuk meningkatkan rasa hormat dari sesama aktor kolaborasi, karena dari komunikasi yang dilakukan secara langsung, kita bisa langsung mengetahui bagaimana lawan bicara kita berbicara, bagaimana ekspresi yang dia keluarkan, dan melihat secara langsung gestur tubuh lawan bicara kita. Komunikasi yang terjalin antara RBA Ciranjang dengan relawan menggunakan bahasa non-formal atau menggunakan bahasa yang santai, karena sesama relawan yang ada di RBA Ciranjang sudah saling menganggap keluarga. Bahasa yang santai ini bukan hanya ketika berbincang santai saja, melainkan rapat-rapat yang dilakukan pun menggunakan bahasa non-formal, seperti rapat-rapat yang dilakukan oleh RBA Ciranjang dengan relawan, biasanya rapat ini dilakukan ketika kegiatan sedang berlangsung atau setelah kegiatan, pengurus bersama relawan membuat lingkaran dan setelahnya mereka mengadakan rapat dan evaluasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan, dan untuk menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya, seperti kegiatan RBA Ciranjang Goes to Kampung, apakah kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan di kampung tersebut lagi atau dilaksanakan di kampung yang lain. Selain rapat, biasanya terdapat pertemuan dengan para relawan, namun itu bukanlah pertemuan yang dilakukan untuk membahas hal-hal formal, melainkan pertemuan untuk melepas penat dan bersenang-senang bersama, jadi jarang terdapat rapat atau pertemuan formal yang dilakukan secara rutin. Hal tersebut pun diungkapkan oleh pengurus RBA Ciranjang yaitu Kang Jejen, beliau mengatakan bahwa komunikasi yang terjalin di antara relawan bersifat aktif, namun bukan komunikasi yang formal, karena beberapa pertemuan yang dilakukan pun bukan membahas mengenai program-program atau kegiatan di rumah baca, melainkan pertemuan dengan diskusi yang santai. Akan tetapi, pertemuan tersebut bukan artinya tidak memiliki arti, justru itu merupakan langkah yang bagus untuk mempererat hubungan yang terjalin di antara relawan, dengan hubungan yang dibangun dengan baik, maka kolaborasi yang dilakukan nantinya akan menghasilkan tujuan yang memuaskan. Relawan RBA Ciranjang pun menyebutkan bahwa mereka sudah merasakan kedekatan dengan pengurus RBA Ciranjang. Bu Rani selaku relawan RBA Ciranjang menyebutkan bahwa komunikasi yang terjalin dengan Kang Jejen adalah komunikasi non formal dan beliau menyebutkan bahwa dirinya dengan Kang Jejen sudah seperti saudara. Begitu juga dengan Kang Yasir (relawan RBA Ciranjang) yang menyebutkan bahwa komunikasi yang terjalin dengan relawan merupakan komunikasi yang membangun kekeluargaan, mereka saling memahami peran masing-masing, sehingga kegiatan yang dilaksanakan pun terlaksana dengan baik. Selain itu, untuk saling memahami dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi diperlukan keterbukaan antara RBA Ciranjang dengan relawan. Setiap hal yang terjadi antara RBA Ciranjang dengan relawan harus disampaikan secara terbuka atau transparan. Agar relawan mampu menyampaikan pendapatnya secara terbuka dan tidak menghalangi relawan dalam menyampaikan informasi, maka diperlukanlah sikap saling menghargai antar relawan dan RBA Ciranjang. Pengurus RBA Ciranjang pun membebaskan relawan untuk menyampaikan ide gagasan mereka, tentunya kegiatan tersebut harus berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pertemuan dan diskusi atau dialog antar-muka dalam aspek komunikasi yang terjadi ini bukan hanya diskusi yang diadakan secara formal saja, melainkan terdapat diskusi non formal. Jika diskusi formal yang dilakukan ketika acara berlangsung atau setelah acara berlangsung adalah untuk membahas mengenai kegiatan yang nantinya akan dilaksanakan bersama masyarakat, maka diskusi non formal dilakukan untuk mempererat hubungan sesama relawan, dan dua hal tersebut sangat penting untuk memaksimalkan kolaborasi dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi yang dilakukan. Komponen kedua, adalah membangun kepercayaan atau Trust Building. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwasanya dalam membangun kolaborasi yang solid dan tercapainya keberhasilan dalam kolaborasi adalah dengan membangun kepercayaan dari setiap aktor kolaborasi. Membangun kepercayaan sesama aktor kolaborasi tidaklah membutuhkan waktu yang singkat, karena di dalam kolaborasi yang dilakukan diperlukan adanya komunikasi yang terus-menerus. Sehingga rasa percaya ini harus dibangun oleh pengurus organisasi dengan sumber daya yang mereka miliki. Sikap saling percaya ini harus ada sejak awal kegiatan kolaborasi sampai akhir kegiatan kolaborasi, dengan adanya sikap saling percaya ini maka akan menimbulkan sikap saling melengkapi dan saling membantu. Kepercayaan RBA Ciranjang sudah muncul sedari awal ketika open recruitment relawan dilakukan. Untuk open recruitment relawan, RBA Ciranjang hanya membuat unggahan di media sosial RBA Ciranjang, yaitu facebook, para calon relawan tinggal menuliskan “Nama_Alamat_Alasan menjadi relawan dan bidang yang dia minati” di kolom komentar postingan open recruitmen relawan. Calon relawan yang memberikan komentarnya akan dihubungi oleh Kang Jejen dan mengkonfirmasi bahwa dirinya diterima menjadi relawan, dan konfirmasi lainnya yang diberikan pun seputar tanggal berapa untuk berkumpul dan mengikuti kegiatan RBA Ciranjang. Di sini RBA Ciranjang tidak memberikan syarat khusus untuk para calon relawan dan tidak adanya wawancara yang bersifat teknis untuk para calon relawan, RBA Ciranjang percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh para calon relawan, dan para calon relawan ini akan amanah dengan tugas mereka. RBA Ciranjang dan relawan sudah saling percaya satu sama lain, mereka saling memahami tugas mereka masing-masing sehingga kegiatan yang telah direncanakan pun terlaksana dengan baik. Hal itu pun diungkapkan oleh relawan RBA Ciranjang, sebagai relawan mereka berusaha untuk memberikan pelajaran dan keterampilan agar anak-anak berprestasi, yang di mana pelajaran dan keterampilan tersebut bisa didapatkan dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang dan mereka pun memiliki memiliki rasa tanggung jawab untuk mengikuti semua kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang. Begitu juga dengan ungkapan pengurus RBA Ciranjang, bahwasanya baik relawan maupun pengurus bertanggung jawab terhadap peran yang dimiliki, yaitu dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang. Dari pemaparan tersebut bisa diketahui bahwa baik dari relawan maupun pihak RBA Ciranjang memiliki tanggung jawab secara penuh terhadap kolaborasi yang terjalin. Selain itu, perasaan yang timbul dari pengurus RBA Ciranjang dengan relawan merupakan perasaan alami yang muncul dari dalam diri mereka. Mereka memiliki perasaan yang sama yaitu peduli dengan lingkungan masyarakat mereka, mereka ingin membangun anak-anak yang terampil dan memiliki wawasan yang luas agar mereka mampu untuk menghadapi kehidupan kedepannya. Hasil dari memiliki perasaan yang sama ini, bisa dilihat dari kegiatan yang dilaksanakan oleh RBA khususnya RBA Ciranjang dengan relawan. Dari hasil pengamatan penulis secara langsung ketika melihat kolaborasi antara pengurus RBA Ciranjang dengan relawan mereka terlihat saling membantu satu sama lain untuk mengurus dan menyelenggarakan kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang, seperti kegiatan di rumah belajar. Membangun sikap saling percaya ini akan menimbulkan kedekatan sosial, yaitu adanya hubungan emosional terhadap organisasi yang melakukan kolaborasi. Hal ini terlihat dari kedekatan antara RBA Ciranjang dengan relawan dan dengan masyarakat. Kedekatan relawan dengan masyarakat pun terlihat dari anak-anak yang dengan antusias menyambut relawan yang datang di kegiatan rumah belajar. Anak-anak yang semula sedang membaca buku, langsung menghampiri relawan tersebut dan menyambutnya. Dibangunnya hubungan emosional ini akan memiliki pengaruh terhadap kinerja RBA Ciranjang dengan relawan. Komponen ketiga, adalah komitmen dalam proses atau Commitmn to The Process. Komponen ketiga ini pun sama pentingnya dengan dua komponen sebelumnya. Masing-masing aktor yang terlibat dalam kolaborasi haruslah memiliki komitmen yang kuat untuk menjalankan tugas serta tanggung jawab mereka. RBA Ciranjang dan relawan memiliki komitmen untuk mewujudkan tujuan yang dimiliki oleh RBA Ciranjang, yaitu meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Berbicara mengenai komitmen, pada dasarnya RBA Ciranjang dengan relawan tidak memiliki kesepakatan secara tertulis terkait komitmen mereka. Hal tersebut pun diungkapkan oleh pengurus RBA Ciranjang dan relawan RBA Ciranjang, bahkan pengurus RBA Ciranjang mengungkapkan bahwa ketika orang tersebut sudah mau menjadi relawan, maka hal tersebut merupakan hal yang sangat baik untuk RBA Ciranjang, yang terpenting adalah para relawan tersebut memiliki keinginan yang kuat untuk berkontribusi kepada masyarakat. Jadi meskipun tidak ada kesepakatan secara tertulis antar pihak kolaborasi, relawan RBA Ciranjang tetap memahami peran dan tanggung jawab terhadap kolaborasi yang dilakukan. Tentunya komitmen ini harus dijaga. Hal yang dilakukan oleh RBA Ciranjang untuk menjaga komitmen serta semangat relawan adalah dengan memberikan apresiasi. Apresiasi bisa dikatakan sebagai bentuk pemberian penghargaan yang bersifat positif. Di sini pengurus RBA Ciranjang tidak memberikan fee kepada relawan, melainkan setiap selesai kegiatan, pengurus RBA Ciranjang mengajak para relawan untuk makan bersama, hal ini pun diungkapkan dalam petikan wawancara berikut: “...intinya apresiasi, afeksi kepada relawan, sekecil apa pun kontribusi relawan itu, harus dikasih apresiasi. Kalau di sini, habis kegiatan, kita ngadain ngaliwet bareng misalnya, jadi nggak ngasih uang kaya buat ongkos, kan kalau makan kaya gini itu, kerasa kebersamaannya...” (Kang Jejen, Wawancara, Desember 2021). Makan liwet bersama ini sebagai bentuk apresiasi pengurus RBA Ciranjang terhadap relawannya. Acara ini pun sebagai ajang untuk mendekatkan diri sesama relawan dan pengurus RBA Ciranjang. meskipun hanya apresiasi berupa makan bersama, hal ini tidak mengurangi semangat relawan dalam menjalin kolaborasi dengan RBA Ciranjang, sebaliknya mereka semakin bersemangat untuk mengadakan kegiatan-kegiatan lainnya. Selain makan bersama, hal lainnya yang dilakukan oleh RBA Ciranjang adalah menulis buku bersama yang isinya mengenai pengalaman relawan tersebut ketika melakukan kegiatan di RBA Ciranjang, adanya menulis buku bersama ini sebagai ajang untuk mengingat kembali kenangan akan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan bersama, dan untuk memantik semangat relawan untuk menjalankan kegiatan lainnya. Selain itu untuk menjaga komitmen, yang bisa dilakukan adalah para relawan harus mendapatkan ilmu baru serta pengetahuan baru. Hal ini diungkapkan oleh Bu Heni selaku key informant, bahwasanya relawan perlu mendapatkan pembekalan apa saja yang harus mereka lakukan selama kolaborasi yang terjalin, apa saja yang harus mereka pelajari, dan kiat-kiat apa saja yang harus mereka dapatkan. Dengan begitu, ketika relawan merasakan adanya hal positif yang dia dapatkan dari kolaborasi bersama rumah baca, dia akan tetap menjaga komitmennya untuk rumah baca. Komponen keempat adalah pemahaman bersama atau Shared Understanding. Dalam kolaborasi yang dilakukan, tentunya terdapat tujuan yang disepakati bersama, oleh karenanya diperlukan pemahaman bersama yang dilihat dari kesamaan tujuan serta visi misi yang hendak dicapai. Tujuan yang dimiliki oleh RBA Ciranjang yaitu : 1) meningkatkan minat baca pada masyarakat (anak-anak, remaja dan orang tua), dan 2) merangsang kesadaran masyarakat sekitar dalam menumbuhkan minat baca. Visi yang dimiliki oleh RBA Ciranjang adalah “Terwujudnya rumah baca modern, melalui strategi keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan mental spritual dan fisik materil sehingga tercipta insan cendikia yang berakhlaqul karimah.” Adapun misi dari RBA Ciranjang ini adalah memiliki insan yang memiliki ilmu pengetahuan, disiplin, toleransi, dan ikhlas, menanamkan sifat kasih saying, menumbuhkan anak yang kreatif, inovatif dan dinamis dalam meningkatkan ilmu pengetahuan, dan menanamkan keikhlasan dalam menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu. Hal yang ingin dicapai oleh RBA Ciranjang ini merupakan suatu hal yang luar biasa, karena minat baca di kalangan masyarakat harus ditumbuhkan oleh berbagai pihak yang peduli dengan literasi. Dengan membaca, maka kehidupan akan lebih mudah, selain itu membaca tidak akan pernah punah selama masih adanya simbol dan huruf yang bisa diterjemahkan dan dipahami oleh otak manusia. Meskipun zaman semakin maju, dan membaca bukan berasal dari buku saja, minat baca harus tetap ditumbuhkan sedari dini. Namun, keinginan untuk membaca memanglah harus muncul dari diri orang tersebut tidak bisa dipaksakan oleh orang lain, jika membaca didasari dari paksaan maka makna yang terdapat dalam bahan bacaan tersebut tak akan terserap dengan baik. Maka dari itu, RBA Ciranjang dan relawan bekerja sama untuk menjadi faktor pendorong masyarakat agar gemar membaca. Relawan RBA Ciranjang mengetahui betul tujuan serta visi misi yang dimiliki oleh RBA Ciranjang, dan mereka pun sepakat untuk mencapai tujuan dan melaksanakan visi misi tersebut. Hal ini pun diungkapkan oleh Kang Yasir, bahwasanya sebagai relawan harus memberikan pemahaman literasi kepada masyarakat, mengajak masyarakat untuk menumbuhkan budaya membaca. Begitu juga dengan Bu Rani, beliau menyebutkan bahwasanya sebagai relawan dirinya ingin menjadikan anak-anak untuk rajin membaca dan meningkatkan minat baca sedari dini yaitu dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang, dirinya dengan relawan yang lain membuat suasana yang nyaman dan menyenangkan agar anak-anak mau membaca. Sehingga tujuan serta visi misi yang disepakati antara RBA Ciranjang dengan relawan adalah meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya membaca di kalangan masyarakat, semakin banyak membaca maka pengetahuan baru pun akan bertambah dan bisa memperluas pemikiran, sehingga masyarakat tersebut bisa dengan mudah mengambil keputusan dalam hidupnya dan menyelesaikan permasalahan yang bisa saja terjadi. Kelima adalah dampak sementara atau Intermediate Outcomes. Dampak sementara ini bisa terjadi selama proses kolaborasi yang berlangsung dan menghasilkan umpan balik yang bersifat positif. Tentunya kolaborasi yang dilakukan RBA Ciranjang dengan relawan memiliki dampak yang positif, baik untuk RBA Ciranjang, relawan dan masyarakat. RBA Ciranjang merasa sangat terbantu dengan adanya relawan, hal ini pun diungkapkan oleh Kang Jejen, beliau menyebutkan bahwa kekurangan yang dimiliki oleh dirinya sebagai pengurus RBA Ciranjang dilengkapi oleh adanya relawan, oleh sebab itu relawan di RBA Ciranjang dibagi ke dalam beberapa bagian lagi sesuai dengan minat relawan tersebut, seperti relawan khusus mendongeng, relawan khusus program komputer, relawan khusus kegiatan rumah belajar, relawan khusus kegiatan goes to kampung, relawan khusus dokumentasi, relawan khusus pendanaan atau donasi dan lain sebagainya. Pembagian relawan ini pun diungkapkan oleh Bu Heni, dalam petikan wawancara berikut: “...Ketika TBM tidak melakukan atau menyiapkan skema relawan dengan baik, ya pastinya itu akan menjadi hal yang sulit bagi TBM. Ya bagaimana kita akan mencari relawan ketika kita tidak tahu kita butuh relawan yang seperti apa, apakah kita butuh relawan untuk mengelola media sosial misalnya? Relawan untuk pelaksaan teknis, atau relawan lain yang kita perlukan, namun ketika kita sudah punya apa sih keperluan kita mencari relawan, nah pastinya kita bisa melakukan hal yang spesifik...” (Bu Heni, Wawancara, Mei, 2022) Dari ungkapan key informant tersebut terlihat bahwa rumah baca harus menyiapkan skema relawan yang baik, agar bisa merancang kriteria yang dibutuhkan, jadi ketika open recruitment untuk relawan, para calon relawan bisa mengetahui apa yang harus mereka lakukan nantinya dan mereka akan memilih sesuai dengan minat yang mereka miliki. Sehingga kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang bisa terlaksana dengan baik karena adanya kolaborasi yang dilakukan bersama relawan. Dampak yang diterima oleh relawan adalah para relawan mengerti mengenai makna hidup mereka, bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri, melainkan tentang orang lian, sehingga dirinya ingin bermanfaat untuk orang lain. Ditambah jika apa yang dilakukan ini didasari atas niat yang baik, dengan perasaan yang ikhlas dan tanpa pamrih, niscaya akan mendapatkan balasan yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta. Relawan pun bisa semakin mengenal mengenai lingkungan masyarakatnya, dan dirinya mendapatkan pengalaman serta pengetahuan baru dengan adanya kolaborasi ini. Begitu juga dengan dampak dirasakan oleh masyarakat. Dari observasi dan wawancara yang dilakukan, para informan menyebutkan bahwa masyarakat terutama anak-anak sudah memiliki minat membaca yang tinggi, jika ketika awal anak-anak masih sulit untuk membaca buku atas kesadaran dirinya, seiring berjalannya waktu anak-anak pun memiliki kesadaran untuk membaca buku, setiap kegiatan yang akan dimulai, seperti kegiatan rumah belajar, sebelum mereka belajar mereka akan mengambil buku dan akan membacanya. Dalam pelaksanaanya terdapat faktor pendukung dan penghambat kolaborasi RBA Ciranjang dengan relawan. Adapun faktor pendukung dari kolaborasi yang dilakukan adalah adanya motivasi dari kedua belah pihak. Dalam bahasan ini, motivasi mempunyai peranan strategis dalam kolaborasi yang dilakukan antara relawan dengan RBA Ciranjang, karena tanpa adanya motivasi yang timbul dari diri relawan, kolaborasi yang terjalin tidak akan pernah terjadi, sehingga tujuan-tujuan yang dimiliki oleh RBA akan sulit untuk tercapai. Dengan kata lain adanya motivasi yang dimiliki oleh relawan, membuat relawan tersebut melakukan kolaborasi dengan RBA. Keinginan kuat relawan untuk membantu lingkungan sekitarnya mampu membuat RBA berkembang. Hal tersebut pun sesuai dengan ungkapan para informan dalam penelitian ini, yaitu para relawan yang memiliki keinginan kuat untuk membantu lingkungan sekitarnya. Seperti Bu Rani yang memiliki motivasi untuk membantu anak-anak meningkatkan minat mereka dalam bidang baca tulis dan membantu anak-anak untuk memiliki keterampilan dan kegiatan tambahan. Bu Rani menginginkan waktu yang dihabiskan oleh anak-anak tidak didominasi oleh gawai yang mereka miliki, beliau ingin anak-anak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Selain motivasi, pemikiran positif pun bisa menjadi faktor pendukung lainnya. Maksud dari pemikiran positif ini adalah tidak ada alasan untuk menyerah karena suatu hal, misalnya mengenai fasilitas yang kurang memadai di RBA Ciranjang ketika RBA Ciranjang pertama kali berdiri, sedari awal Kang Jejen tidak memiliki alasan untuk berpikir bahwa RBA Ciranjang tidak memiliki fasilitas yang memadai, seperti kegiatan program komputer, pada awalnya kegiatan program komputer ini dirancang ketika RBA Ciranjang tidak memiliki komputer sama sekali, hanya ada satu notebook yang dimiliki oleh relawan, namun hal tersebut bukanlah halangan yang membuat kegiatan tidak dilaksanakan, Kang Jejen berpikir bahwa dirinya beserta relawan yang lain memiliki potensi yang ada dalam diri mereka. Seiring berjalannya waktu, RBA Ciranjang pun memiliki komputer yang cukup untuk melaksanakan kegiatan program komputer yang didapatkan dari donasi. Adapun faktor penghambat yang dapat menghambat kolaborasi tidak terlihat. Hal ini pun terlihat dari kepercayaan yang dimiliki oleh RBA Ciranjang dengan relawan dan komunikasi yang terjalin dengan di antara kedua belah pihak. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa para relawan merasakan kedekatan dengan pengurus RBA Ciranjang yaitu Kang Jejen, seperti Bu Rani yang merasa sudah seperti saudara dan best friend dengan Kang Jejen. Dan begitu juga sesama relawan, mereka semua merasakan adanya ikatan kekeluargaan. Dengan kata lain tidak ada masalah yang muncul dari sesama relawan dan RBA, meskipun ada masalah, masalah yang muncul bukanlah masalah yang bisa mengganggu proses kolaborasi yang terjalin. Seperti masalah percintaan yang dialami oleh sesama relawan. Permasalahan ataupun hambatan lainnya yang bisa terjadi bukanlah suatu hal yang bisa menghambat kolaborasi yang dilakukan. Seperti permasalahan rumah baca atau taman bacaan pada umumnya, yaitu masalah pendanaan. RBA Ciranjang memang merasakan masalah pendanaan, namun masalah ini bisa mereka atasi, yaitu dengan adanya kolaborasi bersama relawan. Relawan di RBA Ciranjang pada praktiknya terbagi menjadi dua bagian, ada relawan yang aktif dan pasif. Relawan yang aktif adalah relawan yang bisa mengikuti kegiatan di RBA Ciranjang, relawan aktif ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian lagi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu ada relawan yang khusus mendongeng, relawan khusus di program kegiatan komputer, relawan khusus kegiatan rumah belajar, relawan khusus pendokumentasian kegiatan dan lain sebagainya. Lalu relawan yang pasif adalah relawan yang tidak bisa mengikuti kegiatan RBA Ciranjang secara langsung, sehingga relawan pasif ini bergerak untuk mengumpulkan donasi, baik itu mengumpulkan donasi berupa uang, buku, ataupun barang lainnya yang bermanfaat untuk RBA Ciranjang, hal ini pun diungkapkan oleh Kang Jejen dalam petikan wawancara berikut: “...Ada relawan, dia gak bisa datang kesini, tapi dia mencari donatur, jadi ada relawan yang gak bisa di lapangan, karrena misalnya sibuk, kita kasih tugas buat menggalang dana saja, misal kita buka gerakan sedekah subuh, buka celengan sedekah subuh misalnya di tempat kerja nya relawan, masukin berapa saja, nanti hasil dari celengan itu salah satunya buat beli buku, atau buat kepentingan kegiatan RBA...” (Kang Jejen, Wawancara, Desember, 2021). Jadi, dengan adanya kolaborasi dengan relawan ini bukan hanya sekedar untuk mengatasi permasalahan mengenai SDM yang ada di rumah baca, melainkan permasalahan seperti pendanaan pun bisa diatasi. Donasi yang masuk ke RBA Ciranjang [un bukan hanya donasi berupa uang saja, melainkan banyak donatur yang mendonasikan buku, rak buku, meja, kursi, dan barang lainnya yang diperlukan dan bermanfaat bagi RBA Ciranjang. Dari pemaparan di atas, memang tak ada faktor penghambat dari kolaborasi yang terjalin antara RBA dengan relawan. Meskipun ada permasalahan yang muncul, permasalahan tersebut bukanlah masalah yang akan menghambat proses kolaborasi antara RBA dengan relawan dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kegiatan literasi. Permasalahan yang muncul adalah masalah-masalah yang memang biasanya terjadi dalam mengembangkan rumah baca.

Conclusion

Kolaborasi yang terjadi antara RBA Ciranjang dengan relawan didasari dari motivasi yang muncul dari kedua belah pihak, artinya tidak ada paksaan di sini. RBA Ciranjang tidak memberatkan para calon relawan yang hendak mendaftarkan dirinya menjadi relawan, hal itu terlihat dari open recruitment relawan yang dilakukan oleh RBA Ciranjang. RBA Ciranjang tidak memberikan syarat khusus kepada calon relawan, yang terpenting calon relawan itu ikhlas dan amanah untuk mengemban tugas serta peran mereka nantinya. Selain itu, RBA Ciranjang sangat percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh para relawan, hal ini membuat relawan pun percaya dengan RBA Ciranjang. Kepercayaan ini membuat hubungan yang dimiliki oleh pengurus RBA Cirancang dan sesama relawan menjadi dekat. Komunikasi yang terjalin antara pengurus dan relawan RBA Ciranjang merupakan komunikasi non formal, hal ini pun terlihat ketika pengurus dan relawan berkomunikasi ketika kegiatan berlangsung dan ketika rapat ataupun evaluasi yang dilakukan. Karena kedekatan mereka, hal ini membuat mereka saling memahami tugas serta peran yang mereka miliki, sehingga kegiatan yang dilaksanakan di RBA Ciranjang bisa terlaksana dengan baik, dan RBA Ciranjang mengalami perkembangan yang positif. RBA Ciranjang dan relawan pun mengetahui tujuan yang hendak mereka capai, yaitu untuk mewujudkan tujuan serta visi misi yang dimiliki oleh RBA Ciranjang. Tujuan yang dimiliki oleh RBA Ciranjang adalah meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya membaca di kalangan masyarakat. Dengan tujuan tersebut, memberikan dampak yang positif untuk RBA Ciranjang, relawan dan masyarakat. Khususnya relawan mereka semakin memahami bahwa hidup ini bukan hanya tentang dirinya sendiri, melainkan harus bermanfaat dengan sesama dan lingkungannya, sehingga bisa dikatakan bahwa kolaborasi yang dilakukan berhasil dan memberikan hasil yang baik. Lalu faktor pendukung dari kolaborasi yang dilakukan adalah motivasi dan pemikiran positif, sedangkan untuk faktor penghambat, tidak ada faktor penghambat dari kolaborasi yang dilakukan karena mereka sudah saling memahami dan saling percaya, jika pun ada masalah itu bukanlah masalah yang menghambat kolaborasi yang terjalin, melainkan masalah yang umumnya terjadi pada rumah baca, namun permasalahan tersebut bisa diatasi dengan kolaborasi yang dilakukan bersama relawan. Saran yang bisa diberikan oleh penulis adalah untuk pembaca yang merupakan pengurus rumah baca atau TBM yang mengalami kekurangan SDM, bisa melakukan open recruitment relawan dan membuat skema relawan dengan baik, dengan adanya skema relawan yang baik, akan mampu mengatasi permasalahan lainnya seperti pendanaan.