Kembali
16
1
2018 Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 1 ISSN 2685-4791

PENINGKATANPENGETAHUAN “MENCUCI TANGAN” PADA SISWA SEKOLAH DASAR MENGGUNAKAN MEDIA EDUKOMIK

Universitas YARSI; Universitas YARSI

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh literasi informasi kesehatan melalui media edukomik terhadap peningkatan pengetahuan perilaku hidup bersih sehat, yaitu mencuci tangan pada anak-anak sekolah dasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode eksperimen menggunakan one group pretest-posttets. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 56 responden yang diambil secara purposive sampling.Data dianalisis dengan menggunakan SPSS dengan menghitung uji T (T-test).Berdasarkan hasil perhitungan dan uji T (t-Test) terdapat perbedaan nilai antara sebelum dan sesudah perlakuan pemberian informasi kesehatan. Sebelum perlakuan nilai rata-rata sebesar 7.2500 sedangkan setelah perlakuan nilai rata-rata sebesar 10.3214. Sedangkan hasil uji T dengan membandingkan taraf signifikan, dapat diketahui hasilnya nilai sig (2-tailed) nya sebesar 0.0000 yang artinya nilai signifikan nya adalah lebih besar dari 0.05. Hal ini menunjukan bahwa hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya pemberian literasi informasi melalui media edukomik terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan perilaku hidup bersih sehat mencuci tangan pada responden. Dapat disimpulkan bahwa pemberian literasi informasi kesehatan melalui media edukomik mampu meningkatkan pengetahuan anak terhadap perilaku hidup bersih sehat yaitu mencuci tangan. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada indikator perilaku hidup bersih sehat lainnya agar dapat dipastikan bahwa media edukomik dapat digunakan untuk memperomosikan kesehatan masyarakat.
Keywords: Literasi informasi kesehatan · Edukomik · Perilaku hidup bersih sehat · Mencuci tangan · PHBS · Sekolah Dasar

Introduction

Komik sudah dikenal sebagai media hiburan anak-anak hingga dewasa. Komik pada umumnya dikenal sebagai cerita bergambar. Seperti menurut Soedjana & Rivai (2011)komik adalah suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat, dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan bagi pembacanya.Tanpa memasukan unsur hiburan, Soedarso (2015)mendefinisikan komik sebagaisebuah susunan gambar dan kata yang bertujuan untuk memberikaninformasi yang ingin disampaikan kepada pembaca. Komik mempunyai berbagai jenis seperti yang disampaikan oleh Dhien (2006),yaitu: komik superhero, komik laga, komik horror, komik roman, komik detektif, komik humor, Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3(1) 20182komik spiritual, komik pendidikan, komik sport, komik wayang, dan komik seks. Komik yang menyajikan informasinya dalam bentuk gambar membuat kalangan tertentu menjadikan komik sebagai media pembelajaran atau edukasi. Maharsi dalam Soedarso (2015)menyatakan bahwa sebagaimedia edukasi, komikmemiliki pengaruh yang besar dalam memberikanpemahaman yang cepat kepada para pembaca tentang suatu halyang bermuatan edukasi. Peran komik dalam edukasi dapat ditemukan seperti di buku buku pelajaran TK yangmenggunakan komik sebagai salah satu materi dalam pemberian informasi(Soedarso,2015)Komik dengan fungsi mengedukasi lazimnya disebut dengan edukomik atau educomic. Seperti yang disampaikan oleh Soedarso (2015)yang menyatakan penggunaan gambar padabuku pelajaran dinilai mampu untuk menyalurkan informasi yang mudah untuk dipahami walaupunyang ditampilkan dengan gambar yang sederhana. Gambar dan cerita menjadikan sebuah mediapesan yang beragam. Sebuah komik yang baik harus memiliki fungsi yang baik pula, selain memilikifungsi menghibur, sebuah komik pun juga harus memiliki fungsi yang meng edukasi parapembacanya, selalu memilikipesan moral yang ingin disampaikan. Hal ini dikuatkan oleh pendapatMigotuwio (2013)yang menyatakankomik tidak hanya berhenti sebagaimedia hiburan saja. Namun dapat dialihkan dan dimanfaatkan secara maksimal sebagai media promosi, edukasi, dan informasi. Sehingga komik sangat tepat untuk menghadirkan tujuan-tujuan, pesan-pesan dengan tampilan yang menarik sebagai media yang menghibur sekaligus sebagaimedia pembelajaran yang sangat menyegarkan. Literasi informasi kesehatan seringkali dikenal dengan ”Health literacy”. World Health Organization (WHO) mengemukakan literasi kesehatan sebagai kemampuan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan individu untuk mendapatkan akses, memahami dan menggunakan informasi dengan cara mempromosikan dan menjaga kesehatan yang baik. Sedangkan menurut Koh, Brach, Harris, & Parchman (2013)mengemukakan “health literacy that is, their ability to obtain, process, communicate, and understand basic health information and services”. Atau literasi kesehatan merupakan kemampuan mereka untuk memperoleh, memproses, dan mengomunikasikan, serta memahami dasar informasi dan layanan kesehatan.Kesehatan pada anak usia dini perlu diperhatikan, terutama untuk anak sekolah dasar. Di dalam periode ini didapatkan banyak permasalahan kesehatan yang menentukan kualitas anak dikemudian hari. Permasalahan kesehatan tersebut pada umumnya akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik disekolah. Oleh karena itu diharapkan peran guru dan ibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3(1) 20183orang tua untuk ikut andil dalammemberikan literasi informasi kesehatan kepada anak. Perilaku hidup bersih dan sehat harus diterapkan sejak dini oleh para orang tua dan guru, mengingat bahwa pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah dasar yang menjadi landasan utama tergantung dari pola hidup sehat. Undang-Undang Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 menyatakan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam pencapaian tumbuh kembang optimal sangat ditentukan oleh kualitas perkembangan anak selama periode usia dini yaitu sejak janin sampai anak berusia 6 (enam) tahun yang terlihat dari meningkatnyaderajat kesehatan dan status gizi, kecerdasan dan keceriaan, pematangan emosional dan kesejahteraan anak. Sementara itu National Association for The Education of Young Children (NAEYC) menyampaikan bahwa anak usia dini ituanak yang berusia antara 0 sampai 8 tahun (Bredekamp, 1992)yang mendapatkan layanan pendidikan di taman penitipan anak, penitipan anak dalam keluarga (family child care home), pendidikan prasekolah baik negeri maupun swasta, taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perwujudan pada paradigma sehat dalam budaya perorangan, keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan meningkatkan dan memelihara kesehatannya baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial (Kementerian Kesehatan, 2010). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatandan berperan dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Kementerian Kesehatan, 2011). Menurut Proverawati & Rahmawati (2012), terdapat delapan indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk memulai PHBS di sekolah, antara lain adalah : a). Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun, b) Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin Sekolah, c) Menggunakan jamban yang bersih dan sehat, d) Olahraga yang teratur dan terukur, e) Memberantas jentik nyamuk, f) Tidak merokok di Sekolah, g) Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan, h) Membuang sampah pada tempatnya.Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan anak usia sekolah, maka pemerintah mempromosikan hidup bersih dan sehat dengan membuat program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah. Salah satu yang ada dalam PHBS sekolah adalah mempromosikan kesehatan melalui tindakan “mencuci tangan”. Program PHBS dapat diperkenalkan salah satunya dengan pemberian literasi informasi mengenai “mencuci tangan” dengan menggunakan Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3(1) 2018 edukomik sebagai media. Untuk melihat bagaimana efektivitas penggunaan edukomik dalam memberikan literasi informasi kesehatan PHBS mencuci tangan tersebut dapat dilihat dengan ada tidaknya pengaruh pemberian literasi informasi kesehatan melalui edukomik terhadap peningkatan pengetahuan siswa sekolah tentang PHBS mencuci tangan.Apakah ada pengaruh pemberian literasi informasikesehatan melalui educomic“mencuci tangan”terhadap peningkatan pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih sehat “mencuci tangan” pada siswa sekolah dasar. Dengan rumusan masalah seperti tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pengaruh pemberian literasi informasi kesehatan melalui educomic “mencuci tangan” terhadap peningkatan pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih sehat “mencuci tangan” pada siswa sekolah dasar.Sedangkan manfaat dari penelitian ini antara lain adalah: 1.Memberikan gambaran mengenai pengaruh literasi informasi kesehatan terhadap peningkatan perilaku hidup sehat dengan menggunakan media educomic pada siswa sekolah dasar 2.Sebagai alternatif media pembelajaran dengan menggunakan media educomic serta dapat membantu siswa/siswi dalam meningkatkan pengetahuan perilaku hidup bersih sehat.3.Memberikan masukan bagi pemerintah cara meningkatkan perilaku hidup bersih sehat anak sekolah dasar salah satunya adalah dengan menyampaikan literasi informasi kesehatan melalui educomic

Result

Uji t non-parametrik (t-Test) dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh peningkatan pengetahuan mencuci tangan sebelum dan sesudah diberi perlakuan dengan menggunakan media edukomik. Perhitungan t Test digunakan untuk membandingkan rata-rata dari dua group yang berpasangan, apakah kedua group tersebut mempunyai rata-rata yang sama atau signifikan. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka dapat dikatakan terdapat perbedaan pengetahuan mencuci tangan sebelum dan sesudah perlakuan. Apabila nilai probabilitas > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan tentang peningkatan mencuci tangan sebelum dan sesudah perlakuan. Dari hasil perhitungan statistik deskriptif, maka diketahui nilai rata-rata pada sebelum perlakuan 7.2500 dan nilai rata rata setelah perlakuan 10.3214. disini terlihat bahwa nilai setelah perlakuan lebih tinggi dari pada sebelum perlakuan (Tabel 1). Table 1. Deskripsi statistik N Nilai rata-rata sebelum 56 7.2500 sesudah 56 10.3214 Kemudian, dilakukan uji t untuk pengujian hipotesis dengan cara membandingkan taraf signifikan dengan kriteria keputusan : Jika nilai signifikan > 0,05 maka H0 diterima, dan jika nilai signifikan < 0,05 maka H0 ditolak. Table 2. Tes statistik prottest – pretest Z -6.004b Asymp. Sig. (2- tailed) .000 Berdasarkan hasil output tabel t Test diketahui bahwa nilai sig (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah berlakuan pada penggunaan media edukomik maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya bahwa pemberian literasi informasi melalui media edukomik terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan perilaku. Berdasarkan hasil penelitian data mencuci tangan memperoleh suatu kesimpulan bahwa ada pengaruh literasi informasi kesehatan melalui edukomik terhadap peningkatan pengetahuan perilaku hidup sehat mencuci tangan sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Hal ini ditunjukan dari hasil uji t Test bahwa nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 artinya t hitung < dari t tabel. Diketahui nilai sebelum diberi perlakuan yaitu sebesar 7.2500 dan setelah diberi perlakuan pengetahuan siswa terhadap perilaku hidup sehat menjadi meningkat yaitu sebesar 10.3214. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa media edukomik dapat meningkatkan pengetahuan siswa terhadap perilaku hidup sehat mencuci tangan. 3.1.2 Hasil Pengamatan Lapangan Berdasarkan hasil analisis dari kuesioner, maka data yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini Tabel 3. Peningkatan Pengetahuan Sebelum dan Setelah Literasi Informasi Kesehatan No. Item Pertanyaan Sebelum Setelah Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase 1 Rajin mencuci tangan 27 51.8 % 49 87.5 % 2 Mencuci tangan dengan sabun 37 66.1 % 54 96.4 % 3 Mencuci tangan dengan menggosok tangan, sela-sela jari dan kuku 35 62.5% 53 94.6% 4 Menggunting kuku 1 minggu sekali 31 55.4% 53 94.6% 5 Mencuci tangan sebelum dan setelah makan 46 82.1 % 53 94.6 % 6 Mencuci tangan sebelum makan 36 64.3 % 52 92.9 % 7 Mencuci tangan setelah bermain 35 62.5% 53 94.6% 8 Mencuci tangan setelah buang air besar 47 83.9% 50 89.3% 9 Mencuci tangan setelah memegang hewan 38 67.9% 54 96.4% Jumlah rata-rata 36.9 65.9% 52.3 93.4% Dengan memperhatikan Tabel 3 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan semua pengetahuan tentang mencuci tangan yang disampaikan melalui edukomik, taerdapat peningkatan sebesar 27.5%. Hampir semua responden mengalami peningkatan lebih dari 90% atau mendekati 100%, kecuali untuk 2 pengetahuan, yaitu : “rajin mencuci tangan” sebesar 87.5% dan “mencuci tangan setelah buang air besar” sebesar 89.3%. Apabila diurutkan, terlihat peningkatan pengetahuan yang paling besar adalah “mencuci tangan dengan sabun” dan “mencuci tangan setelah memegang hewan” dengan persentase sebesar 96.4%. Rata-rata peningkatan setiap pertanyaan dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini. Gambar 2. Rata-rata Peningkatan Pengetahuan PHBS “Mencuci Tangan” 3.2 Pembahasan Berdasarkan uji hipotesis dan hasil analisis dari kuesioner maka dapat diketahui bahwa pengetahuan siswa terhadap perilaku hidup sehat dengan menggunakan media edukomik sebelum dan sesudah diberi perlakuan manjadi meningkat, hasil ini disesuaikan dengan teori, yang disampaikan Maharsi (2011) dan Soedarso (2015) bahwa dalam perannya sebagai media edukasi memiliki pengaruh yang besar dalam memberi pemahaman yang cepat kepada para pembaca tentang suatu hal yang bermuatan edukasi (Maharsi dalam Soedarso, 2015) dan komik bukan sekedar membawa pesan edukasi dan bersifat hiburan (edutainment), melalui rangkain gambar, komik mampu mengemas sesuatu yang sulit jadi mudah dicerna. Begitu pun dengan yang disampaikan oleh Migotuwio (2013) yang menyatakan komik tidak hanya berhenti sebagai media hiburan saja. Namun dapat dialihkan dan dimanfaatkan secara maksimal sebagai media promosi, edukasi, dan informasi. Sehingga komik sangat tepat untuk menghadirkan tujuan-tujuan, pesan-pesan dengan tampilan yang menarik sebagai media yang menghibur sekaligus sebagai media pembelajaran yang sangat menyegarkan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian dari yang lakukan oleh Rosini (2017) yang melakukan kajian terhadap perilaku hidup sehat lainnya, yaitu pemberian literasi informasi kesehatan tentang “menggosok gigi” dengan menggunakan media edukomik. Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian literasi informasi kesehatan dengan menggunakan edukomik cara menggosok gigi terhadap peningkatan pengetahuan cara menggosok gigi pada anak-anak usia dini. Kajian lainnya yang tak jauh hasilnya dengan penelitian ini disampaikan oleh Hadi, Sugiarto, K.Y, & Rahmah (2012), yaitu hasil penelitian yang menunjukan adanya pengaruh penyuluhan kesehatan demam berdarah dengue (DBD) dengan media komik terhadap perilaku pencegahan DBD.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian literasi informasi kesehatan perilaku hidup sehat yaitu cara mencuci tangan melalui media edukomik terhadap peningkatan pengetahuan perilakuhidup bersih sehat tentang mencuci tangan. Media edukomik untuk edukasi menjadi sarana yang tepat dalam menyampaikan pesan yang bermuatan edukasi, terutama kepada anak-anak usia dini dan usia sekolah. Untuk kedepan disarankan untuk meneliti indikator lainnya dalam PHBS bisa dengan media edukomik atau dengan menggunakan media lainnya. Atau sebaliknya media edukomik dapat digunakan untuk promosi bidang kesehatan lainnya sehingga dapat ditentukan media yang paling cocok