Menggali Motivasi, Faktor yang Mempengaruhi, dan Hambatan Pustakawan dalam Mengikuti Call for Paper atau Call for Best Practice
Universitas Islam Indonesia
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi kasus menggunakan teori ERG (Existence, Relatedness, Growth). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui motivasi, faktor, dan hambatan pustakawan dalam mengikuti kegiatan Call for Paper (CFP) atau Call for Best Practice (CFBP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 13 pustakawan semua sudah memiliki pengalaman mengikuti kegiatan CFP maupun CFBP. Motivasi pustakawan telah memenuhi teori motivasi ERG. Kategori Existence mencakup eksistensi, kesejahteraan institusi, dan tuntutan profesi. Kategori Relatedness termasuk networking dan sharing knowledge, sementara kategori Growth mencakup aktualisasi diri, prestasi, penghargaan, dan pengembangan kompetensi. Faktorfaktor yang mempengaruhi motivasi pustakawan meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari pengembangan diri, senang menulis dan mencoba hal baru, menambah pengalaman, kepuasan diri, dan eksistensi. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari kinerja untuk pemenuhan angka kredit dan portofolio, akreditasi perpustakaan, promosi institusi, mendapatkan kesejahteraan dari institusi, kompetisi, ajakan teman dan tema dan lokasi seminar. Hambatan yang dihadapi pustakawan dalam mengikuti kegiatan CFP maupun CFBP adalah keterbatasan waktu, pendanaan, birokrasi perizinan, kesulitasn mencari partner menulis, pencarian referensi, kurangnya percayaan diri, gugup saat presentasi, dan kurangnya semangat menulis. Penelitian ini memberikan wawasan yang berharga bagi pengembangan profesionalisme pustakawan dan meningkatkan partisipasi dalam kegiatan ilmiah. Diharapkan pustakawan lebih aktif dalam kegiatan ilmiah agar mampu meningkatkan produktivitas karya ilmiah yang berdampak pada diri sendiri dan institusi
Abstract
This research is qualitative research with case studies, using ERG (Existence, Relatedness, Growth) theory to analyze the motivation of librarians in following the call for paper (CFP) and call for best practice (CFBP). This study aims to determine the motivations, factors, and obstacles librarians face when participating in these activities. The results showed that 13 librarians had experience participating in CFP and CFBP activities. Librarian motivation has fulfilled the ERG motivation theory. The Existence category includes the existence and welfare of institutions and the profession's demands. The Relatedness category includes networking and knowledge sharing, while the Growth category includes self-actualization, achievement, rewards, and competency development. Factors that influence librarian motivation include internal factors such as self-development, love to write and try new things, increased experience, self-satisfaction, and existence. External factors include performance for the fulfillment of credit and portfolio figures, library accreditation, promotion of institutions, getting welfare from institutions, competitions, friend invitations, and the theme and location of seminars. However, librarians face several obstacles, such as limited time, funding, licensing bureaucracy, difficulty finding writing partners, finding references, lack of confidence, nervousness during presentations, and lack of enthusiasm for writing. This research provides valuable insights for the professional development of librarians and increases their participation in scholarly activities. It is expected that librarians will be more active in participating in scientific activities to increase the productivity of scientific work that impacts themselves and institutions.
Keywords:
call for paper
· call for best practice
· scientific papers
· librarian motivation
· ERG motivation theory
Introduction
Call for paper berasal dari kata call dalam bahasa Inggris yang artinya panggilan, for yang berarti untuk, dan paper yang berarti kertas. Mengikuti call for paper dapat diartikan sebagai panggilan untuk membuat tulisan ilmiah atau makalah (Tri Hardiningtyas, 2018). Sedangkan arti dari best practice (disebut juga praktik baik) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan pengalaman terbaik tentang keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tugas profesinya, salah satunya adalah profesi pustakawan. Bagi pustakawan, call for paper dan call for best practice merupakan kesempatan emas untuk mengasah kemampuan dalam penulisan karya ilmiah. Call for paper dan call for best practice yang diselenggarakan bersamaan dengan seminar atau konferensi biasanya akan dilakukan presentasi di hadapan audiens. Dalam sebuah kompetisi akan diberikan penghargaan seperti the best presenter atau the best paper. Output dari call for paper atau call for best practice adalah karya ilmiah yang akan dipublikasikan dalam prosiding, jurnal, atau jurnal mitra. Blasius Sudarsono menyatakan bahwa menulis merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh pustakawan dalam mengelola layanan perpustakaan setelah berpikir (Dewi, 2023). Menulis membutuhkan proses berpikir dan membaca, menjadi kompetensi dasar bagi pustakawan dengan disertai kompetensi dasar lainnya seperti kewirausahaan dan etika. Konferensi Internasional Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia II diselenggarakan pada Bulan November 2023 oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Pusat bekerja sama dengan FPPTI Wilayah Jawa Tengah. Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. FPPTI merupakan organisasi yang terdiri dari perpustakaan perguruan tinggi negeri dan perpustakaan perguruan tinggi swasta bertujuan menjalin kerja sama untuk meningkatkan peran perpustakaan dalam menunjang fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi (FPPTI, 2020). Dalam acara ini, dosen dan pustakawan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bertemu untuk bertukar pengalaman serta ide dalam bidang penulisan serta mempresentasikan karya ilmiah. Konferensi dihadiri oleh 123 perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah peserta yang mengikuti call for paper adalah 23 dan sejumlah 9 peserta mengikuti call for best practice (FPPTI, 2023). Pengamatan penulis selama mengikuti call for paper dan call for best practice menunjukkan antusiasme peserta saat melakukan presentasi. Beberapa presentasi dari pustakawan mengangkat ide-ide baru dalam bidang ilmu perpustakaan seperti "Upscaling Academic Library Resources as a Strategy to Navigate the Post-Pandemic Era" dan "Digital Transformation and Society 5.0 in the Interconnected World”. Penulis terlibat langsung dalam acara tersebut sebagai peserta yang mempresentasikan karya ilmiah dalam call for paper. Peserta berkenalan, bertukar nomor telepon, dan setelah acara berlangsung, beberapa peserta saling mengirimkan link kuesioner untuk membantu penelitian serta mengajak kolaborasi dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini memotivasi penulis untuk melakukan penelitian tentang motivasi peserta dalam mengikuti call for paper atau call for best practice yang diadakan oleh FPPTI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi, faktor yang mempengaruhi, dan hambatan pustakawan dalam mengikuti kegiatan call for paper atau call for best practice. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memotivasi pustakawan dalam mengikuti call for paper atau call for best practice paper. Penelitian sebelumnya terkait motivasi pustakawan dalam penulisan karya ilmiah yaitu tulisan dalam sebuah jurnal yang berjudul "Motivasi, Kompetensi dan Kreativitas Pustakawan Universitas Diponegoro dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Tahun 2021" (Haryani, 2022). Dalam tulisan yang menggunakan metodologi penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif tersebut dijelaskan bahwa motivasi pustakawan dalam pengembangan profesi antara lain untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat/jabatan, berbagi pengetahuan, dan menyalurkan hobi menulis. Kendala dalam pengembangan profesi adalah kurang menguasai teknik penulisan, bad mood, dan kurang percaya diri. Penelitian lain tentang motivasi berdasarkan teori Abraham Maslow menggunakan metodologi penelitian kualitatif, menunjukkan bahwa motivasi jurnalis perempuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologi, perlindungan, kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Motivasi terbesar adalah untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri dengan mengembangkan kemampuan, potensi, atau wawasan mereka (Rahmadanti, 2023). Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Melalui observasi partisipatif dan kuesioner terbuka yang dibagikan dengan menggunakan google form, dilanjutkan dengan komunikasi antar pribadi, penelitian ini akan mengungkap motivasi pustakawan dalam mengikuti call for paper atau call for best practice menggunakan teori kebutuhan ERG (Existence, Relatedness, and Growth) yang ditemukan oleh Alderfer (2011). Beberapa penelitian menunjukkan perbedaan antara teori kebutuhan ERG dengan teori Maslow. Clayton Aldefer, sebagai pendiri teori ERG, mengusulkan bahwa hierarki dalam teori ERG tidaklah kaku seperti dalam teori Maslow. Aldefer mengemukakan bahwa teori ERG lebih fleksibel, yang bergantung pada kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Menurut Aldefer, konsep ini mewakili pergerakan yang lebih dinamis dalam hierarki kebutuhan, yang disebut sebagai prinsip kegagalan-kemunduran. Prinsip ini menyatakan bahwa kegagalan dalam memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi dapat menyebabkan individu untuk kembali ke kebutuhan yang lebih rendah yang sudah terpenuhi sebelumnya (Rahayu, 2021). Faktor-faktor yang memotivasi pustakawan serta hambatan hambatan yang ditemui dalam kegiatan ini akan diungkap dalam penelitian ini.
Method
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang menurut Sukmadinata merupakan suatu penelitian ditujukan untuk menguraikan (deskriptif) serta analisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang baik secara individu maupun kelompok (Zafirahana, 2021). Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, seperti logika, etnografi, analisis wacana, studi kasus, wawancara terbuka, observasi partisipan, konseling, terapi, grounded theory, biografi, metode komparatif, introspeksi, kasuistik, kelompok fokus, kritik sastra, praktik meditasi, penelitian sejarah, dll (Mohajan, 2018). Pendekatan dalam penelitian ini adalah studi kasus yaitu suatu penjelasan yang menyeluruh atau bisa disebut komprehensif yang berhubungan dengan aspek yang menyeluruh dari seseorang, suatu komunitas atau organisasi, sistem atau kondisi kemasyarakatan (Maleong, 2017). Cara pengambilan data dengan menggunakan teknik purposive sampling hal tersebut dikarenakan target informan yang akan ditarik datanya memiliki karakteristik yang dipandang sesuai dengan penelitian ini (Turner, 2020). Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Metode pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner di grup WhatsApp, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Uji validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik. Dokumen dalam penelitian ini berupa data sekunder yang ada di booklet KPPTI ke-2 dan data primer diambil menggunakan pengamatan langsung dan kuesioner terbuka menggunakan google form yang diberikan kepada semua peserta yang mengikuti call for paper dan call for best practice pada Konferensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia ke-2. Peserta yang diberikan kuesioner terbuka adalah yang tergabung dalam grup WhatsApp peserta call for paper dan call for best practice FPPTI ke-2 dengan anggota grup sebanyak 53 orang. Kriteria yang diambil sebagai informan adalah yang bersedia menjawab kuesioner terbuka yang dikirimkan melalui percakapan pribadi dan dilanjutkan dengan pertanyaan lebih mendalam.
Result & Discussion
Kuesioner terbuka telah disebarkan kepada seluruh peserta call for paper (CFP) dan call for best practice (CFBP) FPPTI ke-2 dengan anggota grup sebanyak 53 orang. Peserta yang bersedia mengisi kuesioner sebanyak 13 peserta. Sebelumnya telah diberikan lembar pernyataan informed consent. Beberapa pertanyaan dan jawaban yang diberikan kemudian dilakukan reduksi data dan analisis data untuk dapat diambil kesimpulan. Variabel pertanyaan dan jawaban dari 13 informan tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 1. Motivasi, faktor dan hambatan keikutsertaan dalam CFP dan CFBP Variabel Pertanyaan Jawaban Analisis Sudah berapa kali mengikuti call for paper atau cal for best practice 1 kali 3 orang 2 kali 3 orang 3 kali 2 orang 4 kali 3 orang 5 kali 1 orang 10 kali 1 orang Dapat disimpulkan bahwa 13 informan semua sudah pernah mengikuti kegiatan CFP atau CFBP Tema yang diikuti 1. layanan dan media sosial 2. Manajemen dan ilmu perpustakaan. 3. teknologi di perpustakaan 4. Data security, project management 5. TIK, lebih tertarik dengan TIK 6. Desiminasi informasi kepada masyarakat. 7. perpustakaan/kepustakwanan dan komunikasi 8. Adaptasi transportasi outomasi digital library 9. Perkembangan perpustakaan 10. Literasi 11. Promosi Perpustakaan 12. Kompetensi pustakawan 13. Menyesuaikan panitia Tema yang sering diikuti terkait dengan perpustakaan dan kepustakawanan, informasi, teknologi informasi, data security, digital library, project manajemen Awal ketertarikan Dikelompokan berdasarkan jawaban terbanyak dari informan: 1. Aktualisasi diri (4) 2. Pengalaman (2) 3. sharing knowledge (2) 4. ajakan teman (2) 5. tuntutan profesi (2) 6. peningkatan kompetensi menulis (1) 7. suka menulis (1) 8. tema sesuai (1) 9. lokasi tempat seminar (1) 10. dinas luar agar tidak bosan (1) Awal ketertarikan dapat disimpulkan sebagai: 1. Aktualisasi diri (4) 2. Pengalaman (2) 3. sharing knowledge (2) 4. ajakan teman (2) 5. tuntutan profesi (2) 6. peningkatan kompetensi menulis (1) 7. suka menulis (1) 8. tema sesuai (1) 9. lokasi tempat seminar (1) 10. dinas luar agar tidak bosan (1) Motivasi mengikuti CFP maupun CFBP Informan dengan jawaban terbanyak adalah: 1. Networking/kolaborasi (10) 2. Eksistensi (5) 3. Prestasi (3) 4. Penghargaan (3) 5. Kenaikan jabfung (1) 6. penilaian institusional (1) 7. Akreditasi Perpus (2) 8. Mengembangkan kompetensi (2) 9. Mendapatkan kesejahteraan dari Institusi (1) 10. Memajukan Institusi (1) 11. Jalan-jalan (1) Jika ditinjau dengan teori kebutuhan ERG: A (Eksistensi): Eksistensi, mendapat kesejahteraan dari Institusi B (Relatedness): networking, kolaborasi, akreditasi perpustakaan C (Growth): penilaian institusional, akreditasi perpus, memajukan institusi, kenaikan jabfung, pengembangan kompetensi, prestasi, penghargaan, jalan-jalan Faktor yang berpengaruh dalam motivasi mengikuti CFP dan CFBP Faktor yang mempengaruhi motivasi: 1. pengembangan diri (6) 2. Networking (5) 3. Senang menulis dan mencoba hal baru (3) 4. Faktor kinerja untuk pemenuhan angka kredit dan portofolio (3) 5. Promosi Institusi (2) 6. Menambah pengalaman (2) 7. Eksistensi (2) 8. Mendapatkan kesejahteraan dari institusi (1) 9. Tema (1) 10. Lokasi seminar (1) Faktor-faktor yang mempengaruhi untuk mengikuti CFP dan CFPB adalah: 1. Networking 2. Senang menulis dan mencoba hal baru 3. Faktor kinerja untuk pemenuhan angka kredit dan portofolio 4. Promosi Institusi 5. Menambah pengalaman 6. Eksistensi 7. Mendapatkan kesejahteraan dari institusi 8. Tema 9. Lokasi seminar Hambatan Ada 6 Informan yang menjawab bahwa waktu sebagai hambatan. Waktu pengerjaan yang sedikit, lamanya publish, membagi waktu antara menulis dengan tugas rutin. Hambatan dalam mengikuti CFP dan CFPB adalah: 1. Waktu (6) 2. Pendanaan dan birokrasi (4) 3. Kolaborasi (3) 4. Referensi (2 Hambatan terhadap pendanaan dan birokrasi dijawab oleh 4 informan. Hambatan berkolaborasi dalam menulis dijawab oleh 3 informan. Kesulitan dalam mencari referensi dijawab oleh 2 informan. Kurang percaya diri gugup dan semangat yang kurang menjadi hambatan beberapa informan 5. Kurang percaya diri (1) 6. Gugup (1) 7. Semangat menulis yang kurang (1) Sumber: Olah data (2024) Motivasi: Definisi, Jenis, dan Penerapan pada Pustakawan Motivasi berasal dari bahasa Latin movare yang berarti gerak atau dorongan untuk bergerak (Muhfizar et al., 2021). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, motivasi diartikan sebagai: (1) dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, (2) usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapatkan kepuasan dengan perbuatannya (KBBI, 2022). Salah satu teori motivasi yang relevan untuk melihat motivasi pada pustakawan adalah teori ERG (Existence, Relatedness, and Growth) yang dikembangkan oleh Clayton Paul Alderfer. Dijelaskan dalam Moorhead & Griffin (2013), bahwa teori motivasi ERG mengembangkan teori hierarki kebutuhan manusia dari Maslow dengan mengelompokkan kebutuhan dasar manusia sehingga lebih mudah diterapkan dalam pemberian motivasi bagi karyawan di tempat kerja (Purwatmini, 2019). Teori ini menitikberatkan pada perilaku personal dan menguraikan dimana terdapat tiga kebutuhan manusia yang mendorong seseorang untuk bertindak: (1) Existence/E yaitu kebutuhan akan eksistensi yang meliputi kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisiologis dan keamanan, (2) Relatedness/R yaitu kebutuhan sosial untuk selalu terhubung dan berinteraksi dengan sesama manusia, (3) Growth/G yaitu kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang (Alderfer, 2011). Perbedaan antara teori ERG dan teori Maslow terletak pada penyederhanaan lima piramida kebutuhan Maslow menjadi tiga konsep kebutuhan oleh Alderfer. Teori ERG mengandung konsep frustasi-regresi, yang menyatakan bahwa individu bisa mengejar kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah saat merasa frustrasi dengan kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi (Kreitner & Angelo, 2014). Dalam konteks organisasi, teori ERG lebih sering dianggap relevan dan praktis karena mencerminkan realitas kompleksitas kebutuhan karyawan. Karyawan mungkin mencari kepuasan di berbagai level pada saat yang sama, seperti mencari rasa aman dalam pekerjaan (eksistensi) sambil mencari hubungan sosial yang baik di tempat kerja (relatedness) dan pengembangan karir (growth). Begitu juga penerapan untuk melihat motivasi pustakawan dalam mengikuti call for paper maupun call for best paper. Uraian berikut ini merupakan hasil dari jawaban kuesioner. Ada 13 informan yang bersedia menjawab kuesioner terbuka sebagaimana tabel 1 dan hasilnya adalah sebagai berikut: a. Kebutuhan Eksistensi (Existense) Jawaban atas kebutuhan eksistensi pada pustakawan merupakan motivasi bagi 5 informan dalam mengikuti call for paper atau call for best practice. Informan lain menjawab salah satu motivasi dalam mengikuti CFP atau CFBP adalah untuk mendapatkan kesejahteraan dari institusi. Kesejahteraan yang didapatkan oleh pustakawan antara lain: Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD), jalan-jalan untuk refreshing dan remunerasi apabila nanti karya dapat terbit pada jurnal sebagaimana ketentuan dalam remunerasi masing-masing institusi. Kebutuhan akan penilaian dari institusi bisa masuk dalam kategori pemenuhan kebutuhan dasar apabila hal tersebut dilihat sebagai kebutuhan dasar penilaian yang akan berpengaruh pada keamanan pekerjaan dan kesejahteraan dasar. Tuntutan profesi juga merupakan jawaban yang termasuk pada kebutuhan eksistensi. b. Kebutuhan Sosial untuk Berinteraksi (Relatedness) Motivasi pustakawan dalam keikutsertaan dalam call for paper dan call for best practice sebagaimana jawaban dari 13 informan adalah networking/ menambah teman dan kolaborasi baik individu maupun antar institusi. Dengan bertemunya pustakawan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh FPPTI tersebut dapat menambah relasi individu maupun institusional. c. Kebutuhan untuk Tumbuh/Berkembang (Growth) Motivasi pustakawan dalam mengikuti call for paper atau call for best practice yang terkait dengan kebutuhan tumbuh/berkembang berdasarkan tingkatan jawaban dari informan terbanyak adalah aktualisasi diri, prestasi, penghargaan, kenaikan jabatan fungsional, akreditasi perpustakaan, dan pengembangan kompetensi. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi dalam Partisipasi Call for Paper dan Call for Best Practice Menurut Haryanto (2022), faktor yang mempengaruhi motivasi dibagi menjadi dua yaitu faktor yang mempengaruhi motivasi intrinsik (faktor yang yang berasal dari dalam diri pustakawan) dan faktor yang mempengaruhi motivasi ekstrinsik (faktor dari luar individu). Berdasarkan jawaban dari 13 informan maka yang termasuk faktor intrinsik adalah (1) pengembangan diri, (2) senang menulis dan mencoba hal baru, (3) menambah pengalaman, (4) kepuasan diri, dan (5) eksistensi. Sedangkan yang termasuk faktor ekstrinsik antara lain (1) faktor kinerja untuk pemenuhan angka kredit dan portofolio, (2) akreditasi perpustakaan, (3) promosi institusi, (4) mendapatkan kesejahteraan dari institusi, (5) kompetisi, (6) ajakan teman, dan (7) tema dan lokasi seminar. Hambatan Pustakawan dalam Mengikuti Call for Paper dan Call for Best Practice Jawaban dari informan mengenai hambatan mengikuti kegiatan call for paper maupun call for best practice adalah dari segi waktu, pendanaan dan birokrasi, kolaborasi, untuk menemukan rekan yang cocok untuk dijadikan partner dalam menulis dan bekerjasama, referensi, kurang percaya diri, gugup, dan semangat menulis yang kurang. d. Waktu Hambatan ini berkaitan dengan waktu yang diberikan oleh pihak penyelenggara kegiatan dimulai dari submit, revisi, naskah diterima, manajemen waktu dalam bekerja dan menulis, serta lamanya waktu publikasi. Dengan manajemen waktu yang tepat serta mempertimbangkan prioritas tugas maka beberapa hambatan ini dapat diubah menjadi tantangan. Publikasi yang lama dapat diatasi dengan menjalin komunikasi dengan penyelenggara serta lebih banyak mengirimkan artikel. e. Pembiayaan dan Birokrasi Perizinan dari Institusi Banyak pustakawan menghadapi kendala keuangan ketika ingin mengikuti kegiatan ilmiah seperti call for paper maupun call for best practice. Masing-masing institusi memiliki aturan tentang pendanaan kegiatan seperti biaya pendaftaran, perjalanan, dan akomodasi. Selain itu, proses perizinan dari institusi yang sering kali melibatkan birokrasi. Meski pada akhirnya hal ini dapat diatasi dengan bukti keberangkatan pustakawan tersebut. Faktor komunikasi, kesabaran, keuletan serta taat pada aturan institusi menjadi hal utama dalam hal ini. f. Kolaborasi Kolaborasi dengan teman dalam penelitian dan penulisan menjadi solusi dalam memperkaya isi makalah dan mempercepat proses penulisan. Namun, menemukan partner menulis yang memiliki minat dan waktu yang sama tidak mudah, sehingga banyak pustakawan terpaksa menulis sendiri dengan waktu lebih lama dan terasa lebih membebani. Menemukan partner menulis memang tidak mudah dan ini menjadi tantangan tersendiri. Meski kolaborasi menjadi hambatan, namun terbukti hal tersebut merupakan kendala diawal yang ditemui. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta call for paper maupun call for best practice pada KPPTI yang tidak sendiri dalam menulis (FPPTI, 2023). Dengan meluaskan jaringan serta kolaborasi, dapat juga dengan memanfaatkan platform kolaborasi online seperti ResearchGate atau LinkedIn untuk menemukan rekan penulis yang memiliki minat penelitian serupa. g. Keterbatasan Referensi dengan Topik Terkini. Ketersediaan referensi yang relevan dan up-to-date sangat penting dalam penulisan makalah ilmiah. Namun, pustakawan sering menghadapi keterbatasan akses ke sumber referensi terbaru, baik karena keterbatasan langganan jurnal oleh institusi mereka atau kurangnya waktu untuk mencari dan membaca literatur terbaru. Akses jurnal menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan. Pencarian sumber referensi digital yang selama ini mungkin masih ada kesulitan, menjadi tantangan tersendiri. Hal ini membutuhkan kemampuan dan pembiasaan dengan cara banyak belajar. Dengan memanfaatkan sumber daya digital serta bergabung pada komunitas ilmiah dapat membantu dalam mengatasi hal ini. h. Kurangnya Semangat Diri dan Rasa Percaya Diri, serta Mengatasi Rasa Gugup Saat Presentasi. Menulis dan mempresentasikan karya ilmiah membutuhkan motivasi dan kepercayaan diri yang tinggi. Banyak pustakawan merasa kurang percaya diri dengan kemampuan menulis dan presentasi mereka, yang bisa menghalangi mereka dari berpartisipasi. Selain itu, rasa gugup saat harus berbicara di depan publik atau presentasi di konferensi bisa menjadi hambatan psikologis yang signifikan. Dengan pelatihan dan pengembangan diri, serta latihan terus menerus dengan umpan balik dapat menambah semangat dan percaya diri meningkat.
Conclusion
Motivasi pustakawan diambil dari 13 informan yang sudah pernah mengikuti call for paper atau call for best paper sesuai motivasi Existence adalah untuk mendapatkan kesejahteraan dari institusi (contoh: SPPD, jalan-jalan, dan remunerasi), dan tuntutan profesi. Sedangkan sesuai motivasi Relatednes adalah menambah teman dan kolaborasi (networking), baik secara individu maupun antar institusi serta sharing knowledge. Sesuai motivasi Growth adalah untuk aktualisasi diri, prestasi, penghargaan, kenaikan jabfung, akreditasi perpustakaan, dan pengembangan kompetensi. Meskipun menghadapi berbagai hambatan, motivasi pustakawan untuk mengikuti CFP atau CFBP mencerminkan kebutuhan untuk pengembangan profesi, memperoleh berbagi pengetahuan, dan memenuhi tuntutan pekerjaan. Melalui kemauan, kesabaran, keuletan, dan peningkatan kompetensi sebagai pustakawan maka hambatan dapat diatasi.