Pencarian Informasi Mahasiswa Teknologi Pangan Unpad: Sebuah Kajian Teori Anomalous State of Knowledge (ASK)
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pencarian informasi oleh mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran, terkait dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengakses informasi dengan Teori Anomalous State of Knowledge (ASK). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner, terdiri dari pertanyaan tertutup (matrix questions) dan pertanyaan terbuka (contingency questions) sebagai instrumen penelitiannya. Dari hasil penelitian ini menyebutkan bahwa (1) terjalin hubungan yang signifikan antara faktor luasnya pengetahuan dengan tindakan pencarian informasi. (2) terjalin hubungan yang signifikan antara faktor keterampilan pencarian informasi dengan akses informasi. Hubungan yang signifikan ini dibuktikan dengan nilai signifikansi t < 0,05 (hasil t < 0,001). (3) faktor kemampuan mahasiswa menghubungkan informasi baru dengan pencarian informasi tidak memiliki hubungan signifikan, dengan nilai signifikansi t > 0,05 (hasil t = 0,44), dalam artian bahwa mahasiswa cenderung mengalami anomali pengetahuan, sesuai dengan Teori ASK (Anomalous State of Knowledge). Kemudian saran peneliti agar mahasiswa dapat selalu melakukan pencarian informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi (akses layanan perpustakaan digital dan alat bantu pembelajaran lainnya) serta melibatkan pustakawan dalam membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan penemuan informasi sehingga membantu dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam melakukan pencarian informasi tidak hanya sebatas dari satu sumber, tetapi juga bisa dari perbandingan atau penambahan sumber informasi lainnya.
Abstract
This study aimed to identify factors that influence information searches by students of Food Technology, Padjadjaran University, related to knowledge and skills in accessing information with the Anomalous State of Knowledge (ASK) theory. The study was conducted using a quantitative method, with research data collected through questionnaires consisting of closed questions (matrix questions) and open questions (contingency questions) as research instruments. The results of this study stated that (1) there is a significant relationship between the breadth of knowledge factor and information search actions. (2) there is a significant relationship between the information search skill factor and information access. This significant relationship is proven by the significance value of t <0.05 (result t <0.001). (3) The factor of students' ability to connect new information with information searches does not have a significant relationship, with a significance value of t > 0.05 (result t = 0.44), in the sense that students tend to experience knowledge anomalies, by the ASK Theory (Anomalous State of Knowledge). Then, the researcher suggests that students can always search for information to improve their knowledge and skills by utilizing technological developments (access to digital library services and other learning aids) and involving librarians in helping to improve knowledge and skills to find information to help in the learning process. This is because searching for information is not only limited to one source but can also be from comparing or adding other sources of information.
Keywords:
information seeking model
· food technology students
· anomalous state of knowledge theory (ASK)
Introduction
Informasi merupakan sesuatu yang sudah tidak asing bagi masyarakat, setiap orang membutuhkan informasi dalam kehidupannya. Semakin banyaknya informasi yang tersedia di internet dan database akademik telah mengubah secara signifikan perilaku pencarian informasi mahasiswa lintas disiplin ilmu. Perilaku pencarian informasi mencakup langkah-langkah seperti mengidentifikasi sumber informasi yang relevan, mengevaluasi keandalan informasi tersebut, dan mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Hal ini menjadi krusial dalam konteks pendidikan, penelitian, dan pengambilan keputusan di berbagai bidang (Wilson, 1999). Di bidang teknologi pangan, mahasiswa dihadapkan pada tantangan untuk navigasi lautan informasi yang luas agar menemukan sumber daya yang mereka perlukan dalam studi dan penelitian mereka. Mahasiswa Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran sering kali harus mencari di luar buku teks dan materi kuliah yang telah ditentukan untuk menemukan informasi yang mereka perlukan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan yang melekat pada sumber daya akademik konvensional, yang mungkin tidak selalu sejalan dengan kebutuhan spesifik dan minat studi atau penelitian mahasiswa. Mahasiswa Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) dihadapkan pada berbagai sumber informasi untuk memenuhi kebutuhan belajar mereka. Sumber-sumber ini termasuk buku teks, jurnal ilmiah, artikel online, dan database. Walaupun begitu, tidak semua sumber informasi ini tersedia dengan mudah atau sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Hal ini dapat menyebabkan mereka kesulitan dalam menemukan informasi yang relevan dan akurat sehingga berakibat pada kualitas pembelajaran. Salah satu teori yang dapat membantu memahami kesulitan mahasiswa dalam mencari informasi adalah Anomalous State of Knowledge (ASK). Teori ini menyatakan bahwa kebutuhan informasi muncul ketika terdapat kesenjangan antara pengetahuan yang dimiliki individu dan informasi yang dibutuhkannya. Kesenjangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengetahuan tentang suatu topik, informasi yang tidak lengkap atau tidak akurat, atau informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan individu. Belkin (1980) mengemukakan konsep Anomalous State of Knowledge (ASK) dengan menyatakan bahwa seseorang mengenali kekurangan dalam pemahamannya tentang suatu situasi atau topik, yang mendorong keinginan untuk mengatasi anomali tersebut. Kesadaran ini mengawali perilaku mencari informasi, yaitu individu aktif mencari informasi karena merasa pengetahuannya saat ini tidak mencukupi untuk menghadapi situasi tertentu. Secara dasarnya, terdapat ketidakpastian dalam pemahaman mereka tentang suatu topik, yang mendorong kebutuhan untuk mengakses informasi. Menurut Teori Anomalous State of Knowledge (ASK), konsep ini diilustrasikan sebagai jaringan yang menunjukkan hubungan antara berbagai konsep dalam pikiran seseorang. Belkin (1980) menyatakan bahwa kesenjangan antar konsep memerlukan pengisian terus-menerus sehingga meningkatkan padatnya jaringan konsep secara keseluruhan dalam pikiran seseorang. Kesimpulannya, kesenjangan alami ini mendorong individu untuk mencari konsep-konsep baru yang melampaui pemahaman mereka saat ini. Peneliti telah memeriksa studi terdahulu terkait pencarian informasi sebagai respons terhadap kesenjangan antar konsep ini. Stores (2017) mengaji perilaku pencarian informasi mahasiswa diploma di Federal College of Agricultural Produce Technology, Kano, dan menemukan bahwa kebutuhan akan informasi mendorong perilaku pencarian yang beragam. Khanum dan Bashir (2021) dalam studinya mengenai kompetensi informasi dan perilaku pencarian dalam paradigma digital pada literatur Urdu menemukan bahwa ada peran signifikan dari kompetensi digital dalam memodifikasi pola pencarian dan kebutuhan informasi. Fatmawati (2015) menjelaskan bahwa kebutuhan informasi pemustaka terjadi karena keadaan tidak menentu yang timbul akibat terjadinya kesenjangan (gap) dalam diri pemustaka antara pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang diinginkan. Sementara itu, Hariyati, Purwanto, dan Rianty (2021) mengidentifikasi pola penggunaan sumber informasi pada proses pembelajaran jarak jauh di Universitas Surabaya dan menemukan bahwa teknologi menjadi faktor krusial dalam menentukan efektivitas pencarian informasi mahasiswa. Beberapa studi terdahulu telah mengeksplorasi berbagai aspek terkait pencarian informasi, masih terdapat perbedaan yang mencolok antara masing-masing penelitian tersebut dan penelitian yang sedang dilakukan ini berfokus pada keterampilan dalam pencarian informasi yang digunakan oleh mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk memenuhi kebutuhan akademik mereka, terutama di era digital informasi tersedia secara melimpah dan beragam dengan Teori Anomalous State of Knowledge (ASK) yang diungkapkan oleh Belkin. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tentang bagaimana hubungan pencarian informasi mahasiswa Teknologi Pangan dengan tindakan pencarian informasi, akses informasi, dan menghubungkan informasi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memberikan hubungan/pengaruh dan tidak memberikan hubungan/pengaruh dalam pencarian informasi oleh mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran, terkait dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengakses informasi dengan Teori Anomalous State of Knowledge (ASK)
Method
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode ini menghasilkan informasi yang dapat diukur secara objektif dan digunakan untuk menguji hipotesis (Creswell, 2014). Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari pertanyaan tertutup (matrix questions) dan pertanyaan terbuka (contingency questions), menggunakan skala Likert lima (5) tingkat: sangat setuju (SS), setuju (S), netral (N), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Menurut Fowler (2009), kuesioner adalah alat pengumpulan data yang berisi serangkaian pertanyaan terstruktur yang diberikan kepada responden untuk mendapatkan tanggapan mereka terhadap topik tertentu. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Metode simple random sampling adalah teknik pemilihan sampel dimana setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi bagian dari sampel (Saunders, Lewis, & Thornhill, 2019). Populasi penelitian ini adalah mahasiswa aktif Teknologi Pangan Unpad tahun angkatan 2022 dan 2023, dengan ukuran populasi 269 orang. Selanjutnya, peneliti menentukan ukuran sampel dengan menggunakan rumus Prijana dan Andri Yanto (2020), berikut: 𝑛 = 𝑛0 1+( 𝑛0 𝑁 ) dengan 𝑛0 = 𝑡 2 .(𝑝.𝑞) 𝑑2 Notasi: 𝑛 = Ukuran sampel atau size of sample 𝑛0 = Ukuran sampel asumsi 𝑡 = Koefisien kepercayaan atau coefficient of confidence 𝑑 = Sampling error 𝑝. 𝑞 = Parameter proporsi 𝑁 = Ukuran populasi atau size of population Selanjutnya, peneliti menggunakan sampling error sebesar 0,05 dengan derajat kepercayaan sebesar 95%. Kemudian peneliti menghitung ukuran sampel minimal yang dapat mewakili populasi Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran, dengan menggunakan rumus. Diketahui: Populasi (N) = 269; d = 0,05; t = 1,96; p dan q = 50% : 50% Jawab: 𝑛0= (1.96) 2×(0,50×0,50) (0,05) 2 𝑛0= 384,16 ∼ 384 𝑛 = 384 1 + ( 384 269) 𝑛 = 384 1 + 1,427 𝑛 = 384 2,427 = 158,2 ∼ 158 Hasil sampel sebanyak 158 unit sampel. Sampel diambil secara acak menggunakan website Randomizer. Kuesioner dibagikan secara online melalui Google-Form. Data dianalisis menggunakan korelasi pearson product moment dengan program SPSS untuk mengevaluasi hubungan linier antara dua variabel. Analisis ini sangat berguna dalam menyelidiki hubungan antara faktor-faktor yang berbeda dalam berbagai bidang penelitian (Field, 2024). Data interval mewakili kuantitas di mana perbedaan antara dua nilai bermakna dan konsisten di seluruh rentang skala. Namun, data interval tidak memiliki titik nol absolut (Trochim & Donnelly, 2008).
Result & Discussion
Penelitian ini menguji 3 hipotesis, sebagai berikut: 1) Faktor Luasnya Pengetahuan dengan Tindakan Pencarian Informasi H0: Tidak terjalin hubungan yang signifikan antara faktor luasnya pengetahuan dengan tindakan pencarian informasi H1: Terjalin hubungan signifikan antara faktor luasnya pengetahuan dengan tindakan pencarian Tabel 1. Hubungan antara Luasnya Pengetahuan dengan Tindakan Pencarian Informasi Sumber: Dokumen Peneliti (2024) Berdasarkan pada tingkat kepercayaan 99% atau α = 0,01 dengan koefisien korelasi pearson, yaitu ρ (rho) = 0,585 diperoleh hasil analisis yang menginformasikan bahwa terjalin hubungan yang signifikan antara faktor luasnya pengetahuan dengan tindakan pencarian informasi. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi t < 0,05 (yaitu hasil t < 0,01) maka H0 ditolak sehingga mengartikan bahwa hipotesis (H1) diterima. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa faktor luasnya pengetahuan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan berhubungan terhadap tindakan mereka dalam melakukan pencarian informasi, baik melalui pilihan media informasi (seperti digital; cetak, video, perekam suara, layanan perpustakaan, kakak tingkat/teman; pendapat ahli/dosen/peneliti, dan sumber informasi lainnya) atau pun alasan mereka memilih pilihan media/sumber informasi tersebut. Menurut studi oleh Kuhlthau (1991) dalam artikelnya membahas tentang bagaimana individu, termasuk mahasiswa, menghadapi tantangan dalam memilih dan menggunakan berbagai sumber informasi untuk mencari pengetahuan baru dan memperluas pemahaman mereka. Dengan kata lain, semakin tinggi dan rendahnya pengetahuan atau pun rasa ingin tahu setiap mahasiswa juga akan mengakibatkan tindakan mereka dalam melakukan pencarian atau penemuan informasi yang mereka butuhkan (baik melalui media digital, cetak, perekam suara, perpustakaan, kakak tingkat/teman, pendapat ahli/dosen/peneliti, dan sumber informasi lainnya) atau pun melalui alasan mereka memilih media/sumber informasi tersebut untuk dijadikan sebagai pilihan dalam melakukan pencarian atau penemuan informasi. Hasil dari olah data dan analisis data ini sesuai dengan hipotesis awal peneliti yaitu pola perilaku seseorang dalam pencarian informasi dapat disebabkan oleh faktor luasnya pengetahuan seseorang. 2) Faktor Keterampilan Pencarian Informasi dengan Akses Informasi H0: Tidak terjalin hubungan yang signifikan antara faktor keterampilan pencarian informasi dengan akses informasi H1: Terjalin hubungan yang signifikan antara faktor keterampilan pencarian informasi dengan akses informasi Tabel 2. Hubungan antara Keterampilan Pencarian Informasi dengan Akses Informasi Sumber: Dokumen Peneliti (2024) Berdasarkan pada tingkat kepercayaan 99% atau α = 0,01 dengan koefisien korelasi pearson, yaitu ρ (rho) = 0,362 diperoleh hasil analisis yang menginformasikan bahwa terjalin hubungan yang signifikan antara faktor keterampilan pencarian informasi dengan akses informasi. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi t < 0,05 (yaitu hasil t < 0,001) maka H0 ditolak sehingga mengartikan bahwa hipotesis (H1) diterima. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa faktor keterampilan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dalam melakukan pencarian atau penemuan informasi memiliki hubungan dengan pengaksesan informasi. Menurut studi oleh Case (2012) dalam bukunya menyoroti bahwa individu sering menghadapi tantangan dalam mencari dan mengelola informasi yang memerlukan keterampilan khusus untuk mengakses sumber-sumber informasi yang relevan dan memverifikasi kebenaran informasi tersebut.Dengan kata lain, jika setiap mahasiswa terampil dalam melakukan pencarian atau penemuan informasi, maka mereka dalam melakukan pengaksesan informasi juga akan semakin mudah, begitu pula sebaliknya. Hal ini juga sesuai dengan hipotesis awal peneliti yaitu pola perilaku seseorang dalam pencarian informasi dapat disebabkan oleh faktor keterampilan seseorang dalam melakukan pencarian informasi. 3) Faktor Kemampuan Menghubungkan Informasi Baru dengan Pencarian Informasi H0: Tidak terjalin hubungan yang signifikan antara faktor kemampuan menghubungkan informasi baru dengan pencarian informasi H1: Terjalin hubungan yang signifikan antara faktor kemampuan menghubungkan informasi baru dengan pencarian informasi Tabel 3. Hubungan Antara Pencarian Informasi dengan Menghubungkan Informasi Baru Sumber: Dokumen Peneliti (2024) Berdasarkan pada tingkat kepercayaan 99% atau α = 0,01 dengan koefisien korelasi pearson, yaitu ρ (rho) = 0,136 diperoleh hasil analisis yang menginformasikan bahwa tidak terjalin hubungan yang signifikan antara faktor pencarian informasi dengan menghubungkan informasi baru. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi t > 0,05 (yaitu hasil t = 0,44) maka H1 ditolak sehingga mengartikan bahwa hipotesis (H0) diterima. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dalam melakukan pencarian informasi tidak berkaitan dengan kemampuan menghubungkan informasi baru. Dengan kata lain, setiap mahasiswa tidak selalu memiliki keefektifan dalam menghubungkan informasi baru yang mereka terima (tetap terjadinya anomali pengetahuan) dengan dirinya saat mereka melakukan pencarian informasi. Menurut Dervin & Nilan (1986) tentang kebutuhan dan penggunaan informasi, mereka mengemukakan bahwa individu sering menghadapi situasi di mana mereka harus memodifikasi pemahaman mereka untuk mengatasi kurangnya kesesuaian antara informasi baru dan pengetahuan yang ada. Ini dapat menggambarkan bagaimana mahasiswa Teknologi Pangan mungkin menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan informasi baru dalam proses pencarian informasi mereka. Jadi, walaupun telah melakukan pencarian atau penemuan informasi dari berbagai sumber untuk mengakses informasi yang mereka butuhkan berdasarkan tingkat rendah dan tingginya pengetahuan yang mereka miliki, belum dipastikan pula jika mereka dapat menghubungkan informasi yang diterimanya tersebut secara efektif atau masih tetap terdapat kesenjangan dalam pemahaman informasi, anomali pengetahuan. Karena hal tersebut, mahasiswa Teknologi Pangan Unpad untuk terus melakukan pencarian informasi dari berbagai sumber karena pengetahuan yang mereka miliki (rendah atau tinggi) dengan informasi baru yang diterima tidak selalu efektif.
Conclusion
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Unpad dalam melakukan pencarian informasi pada mata kuliah Prinsip Keteknikan Pengolahan Pangan (PKPP) dipengaruhi oleh faktor luasnya pengetahuan dan faktor keterampilan pencarian informasi. Sedangkan faktor kemampuan mahasiswa menghubungkan informasi baru dengan pencarian informasi tidak memiliki pengaruh/hubungan. Mahasiswa masih mengalami anomali pengetahuan, dikarenakan kurangnya pengetahuan atau pun informasi, keterampilan, serta kemudahan akses yang dimiliki sehingga mereka akan selalu menemukan berbagai cara untuk bisa mengatasi kesenjangan pengetahuan tersebut dalam memenuhi kebutuhan akademik. Kemudian saran peneliti agar mahasiswa dapat selalu mencari cara dan mengembangkan keterampilan atau pun dalam memahami pengaksesan teknologi. Hal ini dikarenakan dalam melakukan pencarian informasi tidak hanya sebatas dari satu sumber, tetapi juga bisa dari perbandingan atau penambahan sumber informasi lainnya. Keterampilan yang diasah bisa berupa keterampilan komunikasi (dengan teman/kakak tingkat, ahli/dosen/peneliti, team working, dan sebagainya), melek teknologi dan informasi, problem solving dalam menemukan masalah saat pencarian informasi, serta keterampilan manajemen waktu yang baik untuk melakukan pencarian informasi.