Kembali
16
1
2016 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 2 · 2 ISSN 2685-8363

KNOWLEDGE SHARING BERBASIS KARAKTER PEMUSTAKA

Universitas Sebelas Maret

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang knowledge sharing berbasis karakter pemustaka. Tujuannya adalah untuk mengukur sebagian dari indikator karakter pemustaka dalam mendukung knowledge sharing seperti: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab pemustaka. Hal ini dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan dayaguna perpustakaan dan layanannya, seperti layanan prima, meningkatkan keterampilan pemustaka dalam mengakses layanan perpustakaan, meningkatkan keterampilan pustakawan dalam mengelola sumber daya perpustakaan, serta mendisiplinkan pustakawan dan pemustaka menuju layanan berbasis keinginan pemustaka.

Abstract

This research discusses about knowledge sharing based on user’s character. The objectives are to measure part of user’s character indicators that supporting knowledge sharing as: honesty, opennes, and responsibel. These can used as tools to improve usability of library and their service, such as: prime services, increasing user skills to access library services, increasing librarian skill to manage all library resources and disciplining the librarians and users toward serve based on user desire.
Keywords: knowledge sharing · library services · user character

Introduction

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Untuk meraih derajat manusia seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan. Pendidikan harus dapat menghasilkan insan-insan yang memiliki karakter mulia, di samping memiliki kemampuan akademik dan keterampilan yang memadai. Salah satu cara untuk mewujudkan manusia yang berkarakter adalah dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran, baik di sekolah tingkat dasar, menengah atas, dan juga perguruan tinggi. Nilai-nilai karakter utama yang harus terwujud dalam sikap dan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter adalah jujur (olahhati), cerdas (olahpikir), tangguh (olahraga), dan peduli (olahrasa dan karsa). Pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan pemuatan nilai-nilai karakter dalam semua mata pelajaran dan atau mata kuliah yang diajarkan di setiap institusi pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi serta dalam setiap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Untuk itu pendidik (guru dan dosen) harus mempersiapkan pendidikan karakter mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Pelaksanaan pendidikan karakter di institusi pendidikan perlu didukung oleh keteladanan pendidik dan orang tua serta budaya yang berkarakter. Dalam sebuah perguran tinggi pendidikan karakter dilakukan pada setiap awal penerimaan mahasiswa baru (PMB). Mahasiswa yang dibekali pendidikan karakter diharapkan akan memiliki sikap dan perilaku yang dapat dijadikan pijakan dalam mendukung terciptanya knowledge sharing pada setiap tindakan dalam kehidupan sehari-hari kapan pun dan di mana pun dia berada. Demikian pula dalam kehidupan belajar mengajar di kampus, juga dalam kegiatan di perpustakaan utamanya kegiatan layanan, yaitu: jujur, cerdas, tangguh, peduli, dan bertanggung jawab. Kegiatan perpustakaan, khususnya layanan yang berorientasi pada pemustaka sangat memerlukan informasi yang akurat dan lengkap mengenai pemustakanya, khususnya karakter pemustaka. Oleh karena itu, perlu bagi pustakawan mengenal karakter pemustaka agar dalam memberikan layanan perpustakaan sesuai bahkan melampaui keinginan pemustakanya. Untuk mengenal dan mengetahui karakter pemustaka, dan dalam rangka memberikan kesempatan pemustaka untuk menilai dan memberi saran mengenai layanan perpustakaan dibutuhkan sebuah proses knowledge sharing. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penelitian ini akan membahas mengenai knowledge sharing berbasis karakter pemustaka. Tujuan penilitian ini adalah untuk mengukur sebagian dari indikator karakter pemustaka dalam mendukung knowledge sharing seperti: kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab pemustaka. Hal ini dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan dayaguna perpustakaan dan layanannya, seperti layanan prima, meningkatkan keterampilan pemustaka dalam mengakses layanan perpustakaan, meningkatkan keterampilan pustakawan dalam mengelola sumber daya perpustakaan, serta mendisiplinkan pustakawan dan pemustaka menuju layanan berbasis keinginan pemustaka. Tinjauan Pustaka 1. Knowledge Sharing Knowledge sharing merupakan tahapan diseminasi (penyebaran) dan penyediaan pengetahuan pada saat yang tepat untuk karyawan yang membutuhkan. Knowledge sharing dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya secara tatap muka (face to face) seperti rapat, diskusi, pertukaran dokumen, training atau diklat, hingga melalui media intranet atau internet (Tobing, 2007:9). Di sisi lain, David Gurteen dalam Yusuf (2012: 36) menyatakan bahwa, knowledge sharing atau berbagi pengetahuan adalah suatu konsep yang menggambarkan kondisi interaksi antar orang, bisa dua orang atau lebih, dalam bentuk proses komunikasi yang bertujuan untuk peningkatan dan pengembangan diri setiap anggotanya. Knowledge sharing dalam penelitian ini menitikberatkan pada berbagi pengetahuan antara pemustaka dan pustakawan atau sebaliknya dalam kegiatan layanan perpustakaan dengan mengutamakan segi karakter pemustaka. 2. Karakter Pemustaka Karakter biasa disebut juga dengan sifat yang merupakan pembeda antara yang satu dengan lainnya (KBBI). Hal yangsama juga diungkapkan oleh Phoenix (2013:413) bahwa, karakter merupakan sifat khas individu yang membedakan dirinya dengan individu lainnya. Pemustaka adalah semua individu (tanpa terkecuali) yang memanfaatkan semua fasilitas perpustakaan (Suwarno, 2011: 37). Ahmad (2012: 45) menyatakan bahwa, karakter pemustaka merupakan ciri/sifat pribadi seorang pengguna yang dominan dan mudah diketahui saat berada di perpustakaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakter pemustaka merupakan ciri khas dan mendominasi individu dalam memanfaatkan semua fasilitas perpustakaan dan merupakan pembeda yang jelas dengan individu lainnya. Pengukuran mengenai karakter pemustaka memang sulit dilakukan, sekalipun dengan psikotes tertentu. Namun dalam penelitian ini, mengacu pada “6 Pilar Karakter” seperti disebutkan oleh Hendra dan Fransisca (2003), yaitu: kejujuran, keterbukaan, perhatian, kepedulian, kewarganegaraan, dan tanggung jawab. 3. Layanan Perpustakaan Menurut Kotler (1998) dalam Suwardi (2006), layanan atau jasa merupakan penawaran suatu kegiatan dari individu kepada individu lainnya yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak berpengaruh terhadap kepemilikan apapun. Ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa sering dianggap sebagai pelayanan atau jasa. Sejalan dengan itu, Rangkuti (2002) menyatakan bahwa, pelayanan atau jasa adalah kinerja atau kegiatan tak kasat mata dari individu kepada individu lainnya. Layanan perpustakaan, di dalam Undang-Undang No.43 Tahun 2007 (Bab V pasal 14) disebutkan bahwa, setiap perpustakaan melakukan layanan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka, menerapkan tata cara layanan berdasarkan standar nasional perpustakaan, mengembangkan layanan perpustakaan sesuai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, mengembangkan layanan perpustakaan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, menyelenggarakannya, pengoptimalan layanananya. Layanan terpadu diwujudkan melalui jejaring telematika.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, melalui studi kasus tentang knowledge sharing berbasis karakter pemustaka dalam layanan UPT Pusat Perpustakaan UNS – Surakarta. Data primer dikumpulkan melalui form kuesioner dari 100 pemustaka, yang terdiri dari mahasiswa semua angkatan yang berkunjung di perpustakaan, sepanjang tahun 2017 dan diyakini telah mengikuti kegiatan pendidikan karakter. Data penunjang lainnya berupa kumpulan SMS broadcast sejumlah 800 SMS sepanjang tahun 2017 (Januari – Juli) seputar layanan perpustakaan dan kotak saran pemustaka. Data diolah untuk mendapatkan nilai rata-rata (average) yang ditampilkan dalam persentase data, dengan mengacu pada indikator standar karakter yang dimiliki oleh pemustaka. Analisis data bersifat diskriptif analitis, yang menjelaskan karakter pemustaka dengan berfokus pada kejujuran, kecerdasan, dan kepedulian pemustaka terhadap layanan perpustakaan UNS. Analisis ini digunakan untuk memperoleh jawaban akurat mengenai sejauh mana knowledge sharing berbasis karakter pemustaka dapat menjadi salah satu landasan peningkatan layanan perpustakaan.

Discussion

Knowledge sharing yang dilakukan di UPT Perpustakaan UNS menitikberatkan pada berbagi pengetahuan antara pemustaka dan pustakawan atau sebaliknya dalam kegiatan layanan perpustakaan yang berbasis pada karakter pemustaka. Identifikasi karakter pemustaka meskipun sulit dilakukan, namun dalam penelitian ini dilakukan pengukuran dengan mengacu pada “6 Pilar Karakter” dengan titik fokus pada 3 hal, yaitu: kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab. Berdasarkan ke-tiga titik fokus di atas, sejumlah 850 responden pengguna layanan perpustakaan melalui SMS broadcast yang diteliti sepanjang bulan Januari hingga Juli 2017, diperoleh data sebagai berikut: Gambar 1.Pengukuran Karakter Pemustaka (Sumber: dimodifikasi dari Data Primer, Juli 2017) Pengukuran karakter pemustaka dilihat dari titik fokus kejujuran, pada gambar di atas menunjukkan bahwa, 84,94% pemustaka memberikan pendapat, jawaban, dan penilaian mereka terhadap layanan perpustakaan secara jujur dan apa adanya. Sebagian besar pemustaka sejumlah 722 peserta dari 850 pemustaka menjawab dengan jujur dan boleh dikatakan sopan. Mereka melaporkan semua peminjaman dan menyampaikan permohonan perpanjangan melalui jawaban pesan dari perpustakaan. Hal ini juga secara langsung diklarifikasi oleh petugas jika terjadi ketidaksesuaian antara laporan pemustaka dengan data peminjaman di perpustakaan. Ini berarti bahwa kejujuran pemustaka dalam proses layanan perpustakaan melalui SMS Broadcast ada pada tingkat sangat baik. Pengukuran karakter pemustaka dilihat dari titik fokus keterbukaan, pada gambar di atas menunjukkan bahwa, 75,65% pemustaka memberikan pendapat, jawaban, dan penilaian mereka terhadap layanan perpustakaan dilakukan dengan terbuka. Sejumlah 643 dari 850 pesan yang masuk memberikan jawaban secara terbuka baik mengenai peminjaman dan perpanjangan pinjaman maupun pertanyaanpertanyaan seputar cara memperpanjang, waktu perpanjangan, dan layanan yang lainnya tanpa rasa khawatir. Ini berarti bahwa keterbukaan pemustaka terhadap layanan perpustakaan ada pada tingkat baik. Pengukuran karakter pemustaka dilihat dari titik fokus tanggung jawab, pada gambar di atas menunjukkan bahwa, 79,18% pemustaka memberikan pendapat, jawaban, dan penilaian mereka terhadap layanan perpustakaan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Ini berarti bahwa tanggung jawab pemustaka ada pada tingkat baik. Terbukti dari sejumlah 850 SMS broadcast yang masuk, 673 pengguna secara sadar dan penuh tanggung jawab melaporkan pinjaman mereka dan atau menyampaikan langsung kepada pustakawan, jika mereka terlupa untuk memperpanjang atau mengembalikan peminjaman mereka. Beberapa kesulitan atau kendala tentu saja dijumpai selama proses pengukuran karakter pemustaka melalui SMS broadcast ini, diantaranya: munculnya pesan-pesan sponsor/ iklan dari pihak operator, bahkan hampir setiap hari. Demikian juga dengan pesan-pesan sampah dari pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti minta pulsa, penawaran hadiahhadiah, dan lain sebagainya. Ini menjadi kendala yang cukup besar dalam proses pengukuran karakter pemustaka. Memerlukan ketelitian dan kesabaran dalam memilah pesanpesan tersebut dan memisahkannya dari pesanpesan yang benar-benar dari pemustaka yang membutuhkan berbagi informasi dalam hal layanan perpustakaan.

Conclusion

Pengukuran karakter pemustaka melalui indikator “The 6 Pillar”, utamanya dari sisi: kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab pemustaka dapat dijadikan acuan untuk melakukan persiapan kegiatan knowledge sharing yang akan datang, khususnya dalam pelayanan perpustakaan di UPT Perpustakaan UNS atau layanan lain yang bersifat lebih inovatif dan dapat menuju layanan prima serta layanan yang berdasarkan keinginan pemustaka atau setidaknya mendekati keinginan pemustaka. Misalnya, dalam memberikan layanan peminjaman, pengembalian, perpanjangan, dan kritik, atau saran melalui SMS broadcast. Pemustaka tidak perlu terlampau khawatir untuk datang ke perpustakaan, jika belum memiliki waktu luang. Hal ini sangat efektif dan efisien baik bagi pemustaka maupun bagi pustakawan untuk mengukur kemampuan mereka sendiri dalam hal mengakses layanan atau sebaliknya memberikan layanan. Melalui hasil yang diperoleh dari pengukuran tersebut, pustakawan dan perpustakaan dapat lebih mudah mengenal karakter pemustaka yang mereka telah dapatkan melalui pendidikan karakter pada saat penerimaan mahasiswa baru, sehingga ini akan sangat mudah dijadikan pegangan untuk lebih meningkatkan layanan perpustakaan serta keterampilan pustakawan di masa yang akan datang. Terbukti, melalui pengukuran sebagian dari indikator karakter pemustaka dalam mendukung knowledge sharing seperti: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab pemustaka, dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan dayaguna perpustakaan dan layanannya. Peningkatan dayaguna dan layanan perpustakaan dapat dilihat bahwa perpustakaan telah mampu memberikan layanan prima, meningkatkan keterampilan pemustaka dalam mengakses layanan perpustakaan, meningkatkan keterampilan pustakawan dalam mengelola sumberdaya perpustakaan, serta mendisiplinkan pustakawan dan pemustaka menuju layanan berbasis keinginan pemustaka. Saran Untuk lebih meningkatkan dayaguna perpustakaan dan layanannya, sebaiknya di masa yang akan datang perpustakaan juga melakukan pengukuran dengan indikator “The 6 Pillar” dari sisi yang lainnya, misal: perhatian dan kepedulian. Hal ini akan lebih menyempurnakan pengukuran karakter pemustaka yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan knowledge sharing dalam seluruh aktivitas perpustakaan, tidak hanya layanan saja, mungkin untuk sarana promosi. Pengolahan data yang bersumber dari SMS broadcast, cukup menyulitkan. Disamping itu juga banyaknya pesan iklan dan pesan sampah yang sering sekali masuk membuat penghitungan menjadi agak lama. Sebaiknya untuk yang akan datang, bisa memanfaatkan media yang lebih usable dan mudah diolah, seperti whatsapp group atau telegram group.