Kembali
16
1
2016 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 2 · 2 ISSN 2685-8363

SPIRITUAL LEADERSHIP SEBAGAI FUNGSI PENGAWASAN UNTUK MEWUJUDKAN PUSTAKAWAN YANG UNGGUL

Universitas Muhammadiyah Magelang

Abstrak

Pustakawan memiliki kompetensi yang tidak dapat dianggap remeh, baik soft skills maupun hard skills. Kompetensi yang dimiliki pustakawan harus menjadikan dirinya sebagai pribadi yang unggul dalam melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya. Tulisan ini memaparkan bagaimana spiritual leadership mengantarkan pustakawan menjadi pribadi yang unggul dengan menanamkan etos kerja islami dan keteladanan Rasulullah dalam dinamika kerja perpustakaan. Spiritual leadership di sini sebagai fungsi pengawasan untuk membentuk kesadaran diri bahwa pustakawan adalah sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri dengan kontrol pengawasan langsung dari Tuhan.

Abstract

Librarians have a competency that can not be underestimated, both soft skills and hard skills. Competences of the librarians should make himself as a person who is expert in carrying out the tasks entrusted to him. This paper describes how the spiritual leadership delivers librarians become superior person by instilling a work ethic and Islamic Prophet modelling in the library working dynamics. Spiritual leadership here act as a supervisory function to form a self awareness that librarians are leader for himself with direct supervisory control of God.
Keywords: librarian · spiritual · leadership · Islamic work ethic

Introduction

Memiliki profesi sebagai pustakawan merupakan sebuah pilihan yang terkadang bukan menjadi pilihan pertama sehingga tidak jarang dijalani tidak dengan sepenuh hati. Meski sebenarnya pustakawan memiliki berbagai kompetensi yang tidak dapat dipandang remeh. Pustakawan harus memiliki berbagai keterampilan dalam melaksanakan tugasnya baik dalam menghimpun maupun menyebarkan informasi dengan segala model pelayanan dan latar belakang pemustaka. Bekerja di bidang layanan termasuk pustakawan mengarahkan kompetensi yang dimiliki untuk menciptakan pelayanan yang memuaskan atau sering disebut dengan layanan prima. Perpustakaan dituntut untuk dapat menjadi sumber belajar bagi pemustakanya. Segala informasi yang dibutuhkan pemustaka diharapkan tersedia di Perpustakaan. Tantangan kemajuan teknologi informasi menjadikan motivasi bagi Perpustakaan untuk meningkatkan layanannya. Bukan menjadikan penyedia informasi berbasis komputer atau internet sebagai kompetitor. Namun duduk bersanding, bersama saling mengisi untuk mencapai kepuasan pemustaka. Kepuasan pemustaka tidak saja dicapai dengan sajian koleksi informasi yang lengkap dan up to date. Kepuasan dari mutu layanan juga penting untuk mengundang Pemustaka datang kembali ke Perpustakaan. Kesan pertama yang pemustaka rasakan ketika datang ke Perpustakaan adalah awal untuk menjalin kedekatan dan membuat mereka datang kembali memanfaatkan Perpustakaan kita. Pustakawan telah memiliki kompetensi berupa hard skill yang diperoleh dari jenjang pendidikan formal yang telah ditempuh. Hard skill berhubungan dengan kemampuan atau kegiatan teknis dan praktis di Perpustakaan. Kompetensi tersebut harus dilengkapi dengan kompetensi soft skills dan spiritual leadership untuk meningkatan kualitas layanan. ‘Soft skills merupakan kemampuan yang berhubungan dengan perilaku dan dapat dikatakan sebagai interpersonal skills atau personal skills yang meliputi kemampuan berkomunikasi, pemecahan terhadap suatu perselisihan dan negosiasi, keefektifan pribadi, memecahkan masalah secara kreatif, berpikir strategis, membangun tim, mempengaruhi kemampuan dan menjual kemampuan. Adapun spiritual leadership ‘menanamkan pada diri pustakawan bahwa mereka harus menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan sebagai pengawas atau kontrol dalam bekerja adalah Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt.’. Kompetensi hard skills, soft skills, dan spiritual leadership tersebut dimaksudkan untuk memberikan layanan prima bagi pemustaka. Kompetensi itu akan mengubah cara berpikir pustakawan dalam memberikan layanan yang berorientasi kepuasan pemustaka sehingga dapat memberikan lebih dari apa yang dibutuhkan pemustaka. Kerja sama yang hebat dan saling bersinergi dalam tim akan mempermudah pencapaian tujuan. Tulisan ini hanya akan berfokus pada bagaimana upaya mewujudkan pustakawan yang unggul dengan spiritual leadership. Di mana dengan spiritual leadership segala kegiatan pustakawan berdasarkan nilai-nilai religi atau keilahian. Spiritual leadership mengantarkan pada komitmen pada institusi tempat bekerja dan komitmen spiritualitas, yakni kita bukan hanya bertanggung jawab pada pimpinan instansi tetapi juga bertanggung jawab kepada Tuhan. Spiritual Leadership Spiritual leadership atau dapat diterjemahkan sebagai kepemimpinan spiritual. Definisi kepemimpinan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perihal memimpin; cara memimpin. Sedangkan spiritual adalah berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Jadi kepemimpinan spiritual yakni kepemimpinan (cara memimpin) yang berhubungan dengan rohani atau batin. Tobroni (2005: 25) mendefinisikan kepemimpinan spiritual atau spiritual leadership sebagai kepemimpinan yang berbasis pada etika religious dan kepemimpinan dengan nama Tuhan, yaitu kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan dalam memimpin makhlukNya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kepemimpian atas nama tuhan adalah kepemimpinan dengan penuh kasih sebagaimana sifat Tuhan yang Maha pengasih dan Penyayang. Definisi lain spiritual leadership dikemukakan oleh Rohmadi (2016, yakni merupakan kepemimpinan dari hati yang menjadikan nilai-nilai yang kita yakini menjadi landasan di dalam melaksanakan tugas. Pemimpin bukan hanya untuk orang lain, akan tetapi juga pemimpin bagi diri sendiri. Nilainilai spiritual leadership harus ditanamkan pada diri pustakawan. ‘Mereka harus menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan yang menjadi kontrol atau pengawas dalam bekerja langsung Tuhan Yang Maha Esa. Artinya ada atau tidak manajer atau pemimpin Perpustakaan, mereka tetap unggul di dalam memberikan pelayanan prima’ (Rohmadi, 2016). Kepemimpinan yang dibahas dalam tulisan ini adalah kepemimpinan spiritual yang berkaitan dengan kepemimpinan untuk diri sendiri, kepemimpinan yang membawa pada diri pada pribadi unggul. Unggul menurut KBBI adalah (kata sifat) lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet, dan sebagainya) dari pada yang lain-lain; utama (terbaik, terutama). Jadi pustakawan yang memiliki pribadi unggul adalah pustakawan yang memiliki ‘sesuatu’ yang lebih baik dari yang lain, baik itu dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun perilaku. Tobroni (2005: 26) menyebutkan pokokpokok karakteristik kepemimpinan spiritual, antara lain: 1. Kejujuran Sejati Orang yang jujur adalah orang yang mempunyai integritas dan kepribadian utuh sehingga dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam situasi apapun. Integritas adalah sebuah kejujuran dan tidak pernah bohong. Adapun kepura-puraan adalah kebalikan dari kejujuran. Pelayanan setengah hati yang diberikan pustakawan adalah contoh bentuk kepura-puraan. Berarti pelayanan atau melaksanakan tugas sepenuh hati adalah sebuah kejujuran yang mesti dimiliki oleh pustakawan. 2. Semangat amal saleh Kepemimpinan yang mau berkorban demi kepentingan orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bekerja bukan hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kemanan dan kemapanan diri, melainkan sebuah panggilan hati nurani, panggilan spiritualitasnya sebagai hamba Tuhan dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. 3. Membangkitkan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain Pemimpin spiritual berusaha mengenali jati dirinya dengan baik yaitu potensi lahiriah seperti kecakapn dan profesionalitas, dan potensi batin seperti watak dan karakternya. Dengan memahami diri sendiri, ia akan dapat memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri dan dapat bersikap arif dan bijaksana di segala situasi. 4. Keterbukaan menerima perubahan Pemimpin spiritual tidak alergi terhadap perubahan dan bukan penikmat kemapanan, memiliki rasa hormat dan senang terhadap perubahan yang menyentuh diri yang paling dalam sekalipun. 5. Do the right thing Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan etis, di mana ia bukan sekadar mempengaruhi, menggerakkan, dan mencapai tujuan, tetapi cara menggerakkan dan mempengaruhinya yang etis, serta tujuan yang ingin dicapai adalah hal yang benar. 6. Disiplin tetapi fleksibel dan tetap cerdas dan penuh gairah Kedisiplinan didasarkan pada komitmen dan kesadaran spiritual. Kebiasaan mendisiplinkan diri sendiri menjadikan pemimpin spiritual sebagai orang yang teguh memegang prinsip, memiliki disiplin yang tinggi tetapi tetap fleksibel, cerdas, bergairah, dan mampu melahirkan energi yang seakan tiada habisnya. 7. Kerendahan hati Seorang pemimpin spiritual menyadari sepenuhnya bahwa semua kedudukan, prestasi, dan sanjungan dan kehormatan itu bukan karena dia, melainkan karena dan untuk dzat Yang Maha Terpuji Pengawasan di Perpustakaan Pengawasan (Controlling) merupakan kegiatan mengevalusi pelaksanan kerja dan jika diperlukan memperbaiki apa yang sedang dikerjakan untuk mejamin tercapainya hasilhasil menurut rencana (Terry, 2010: 232). Fungsi pengawasan ini berhubungan dengan fungsi perencanaan. Kesesuaian perencanaan dan hasil kerja dapat diawasi dengan melihat pelaksanaan kerja dan standar-standar yang telah ditetapkan. Seandainya dalam pelaksanaan rencana terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki, maka akan segera diambil langkah atau tindakan perbaikan. Pengawasan dapat dilakukan dari segi waktu pelaksanaan, hasil yang akan dicapai, serta pelaksana kerja itu sendiri. Seperti halnya organisasi lainnya, perpustakaan mempunyai rencana dan strategi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan tugas dan pekerjaan di Perpustakaan juga perlu pengawasan agar dicapai hasil sebagaimana diharapkan. Pengawasan dilakukan di setiap lini kegiatan, termasuk perencanaan, personalia, dan penganggaran. Meskipun perencanaan telah dilakukan dengan matang, tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan terjadi beberapa kesalahan atau ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan yang direncanakan. Oleh karena itu, fungsi pengawasan yang baik akan dapat meminimalkan penyimpangan pencapaian tujuan. Pengawasan dapat dilakukan dengan cara preventif (preventive controlling) dan korektif (corrective controlling) (Manullang dalam Lasa, 2008; 312). Pengawasan preventif merupakan pengawasan sebagai langkah pencegahan terjadinya kesalahan atau penyelewengan dalam pelaksanaan tugas. Pengawasan korektif dilakukan jika dalam perjalanan pencapaian tujuan ditemukan beberapa hal yang tidak sesuai atau dapat juga karena diinginkan suatu variasi hasil capaian. Ketidaksesuaian pelaksanaan dengan rencana tidak selalu karena sumber daya manusia atau sumber daya lainnya di Perpustakaan. Tetapi perubahan lingkungan dan tuntutan stakeholder terkadang mengharuskan mengevaluasi rencana dan kegiatan yang telah disusun. Perubahan lingkungan dapat berupa perubahan birokrasi dan peraturan, maupun terkadang berbenturan dengan kepentingan pribadi. Hal-hal tersebut memungkinkan terjadi kesalahan pada pelaksanaan. Lasa Hs. (2008: 315) menyebutkan salah satu fungsi pengawasan dalam Perpustakaan adalah mengetahui efektivitas Perpustakaan (library effectivity) yang diketahui melalui indikator kinerja perpustakaan. Lebih lanjut dijelaskan kinerja Perpustakaan adalah efektivitas jasa Perpustakaan dan efisiensi sumber daya yang digunakan untuk menyiapkan jasa tersebut. Keberhasilan pelayanan jasa tersebut sangat tergantung sumber daya manusia, dalam hal ini pustakawan, sebagai motor penggerak organisasi. Tidak menutup kemungkinan pustakawan sebagai manusia biasa mempunyai beberapa kekurangan di samping segala kelebihan yang dimiliki. Fungsi pengawasan dalam organisasilah yang akan mengontrol setiap kegiatannya. Spiritual Leadership sebagai Fungsi Pengawasan Fungsi pengawasan yang telah diuraikan di atas pada prinsipnya adalah untuk mengantarkan langkah-langkah organanisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Perpustakaan dengan tujuan utamanya adalah kepuasan stakeholder atau pemustaka, berusaha melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen yang salah satunya adalah pengawasan. Namun sebenarnya lebih dari itu, fungsi pengawasan bukan hanya dimaknai sebagai pengawasan oleh atasan atau pimpinan. Pemimpin yang hanya mengandalkan reward dan punishment yang bersifat duniawi tidak akan sepenuhnya dapat melakukan pengawasan terhadap jalannya kegiatan. Menanamkan semangat yang hebat dan niat yang lurus dalam bekerja (ibadah) perlu terus dilakukan oleh seorang pemimpin. Keahlian yang diperoleh dari jenjang pendidikan formal tidak akan memberikan berkah manfaat bagi institusi tanpa dibarengi dengan niat kerja yang jelas. Niat ibadah dalam bekerja akan memberikan energi yang positif untuk memberikan layanan yang memuaskan, layanan sepenuh hati, serta kesadaran yang mengantarkan pustakawan pada sikap yang tidak mengeluh dan putus asa. Berangkat dari kesadaran diri untuk mengubah cara pandang bekerja yang berorientasi pada profit menjadi ibadah dan beramal serta mengedepankan niat ikhlas melayani sepenuh hati inilah yang disebut dengan pelayanan berbasis spiritual leadership. Dia bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan fungsi kontrol oleh Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt. sebagai pengawas langsung dalam bekerja. Pustakawan yang professional perlu menanamkan nilai-nilai spiritual leadership sehingga pustakawan memiliki karakteristik kepemimpinan spiritual dalam melaksanakan tugasnya. Spiritual leadership akan membentuk sumber daya manusia unggul yang dengan kesadaran dirinya untuk tetap melaksanakan tugasnya dengan baik, meskipun tanpa pengawasan dari pimpinan. Pembentukan karakteristik kepemimpinan spiritual dalam tulisan ini dilakukan dengan penanaman karakteristik Etos kerja Islami dan keteladanan akhlaq Rasulullah. Karakteristik Etos Kerja Islami Berkaitan dengan pembentukan pustakawan dengan karakteristik spiritual leadership, kiranya perlu dilakukan penanaman nilai etos kerja Islami. Etos merupakan suatu pandangan yang dijadikan kebiasaan dalam setiap langkah. Asifudin (2004: 104) mengatakan karekteristik etos kerja Islami berdasarkan konsep iman dan amal saleh. Suatu kerja atau perbuatan, meski secara nyata memberikan manfaat bersifat keduniaan bagi orang lain, namun tanpa disertai iman pada pelakunya, kerja itu tidak akan membuahkan pahala di akherat kelak. Lebih jauh disampaikan oleh Asifudin karakteristik etos kerja islami antara lain: 1. Kerja merupakan penjabaran aqidah Manusia dikendalikan oleh sesuatu yang bersifat batin, ia terpengaruh dan diarahkan oleh keyakinan yang mengikat. Agama merupakan salah satu faktor yang menjadi sebab timbulnya suatu keyakianan, pandangan, serta sikap hidup tertentu yang menjadi pemancar bagi etos kerja yang baik. Jadi etos kerja dalam Islam merupakan pancaran keyakinan orang Islam bahwa kerja berkaitan dengan tujuan mencari rida Allah, yakni dalam rangka ibadah. “Sesungguhnya semua pekerjaan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya tertuju kepada Allah dan RasulNya, berarti hijarah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan orang yang hijrahnya pada keduniaan, ia akan memperolehnya; kalau pada seorang wanita, ia akan menikahinya. Jadi hijrah seseorang itu tergantuing pada niat hijrahnya” (HR. Bukhariy). Dari hadis di atas dapat dimaknai kalau nilai dari setiap perbuatan itu tergantung dari niat dan komitmen yang mendasarinya. 2. Kerja dilandasi ilmu Manusia mempunyai keistimewaan diberikan akal oleh Allah untuk memahami wahyu Allah untuk diamalkan setelah terlebih dahulu dipahami. Karena akal itulah manusia bisa menguasai ilmu pengetahuan. Islam mendukung pengajaran yang bersifat aqliyyah seiring dengan pendidikan ilmiah sesuai dengan objeknya. Jadi ilmu menjadi landasan dalam bekerja agar dapat berikhtiar memanfaatkan alam seperti yang diajarkan oleh Islam. 3. Kerja dengan meneladani sifat-sifat Ilahi serta Mengikuti petunjuk-petunjukNya Etos kerja Islami tidak dapat terwujud tanpa didukung oleh sifat giat dan aktif manusia bersangkutan memanfaatkan potensi-potensi yang ada padanya. Orang yang beretos kerja Islami menyadari bahwa potensi yang dikaruniakan padanya dan dapat dihubungkan dengan sifat-sifat ilahi yang pada dasarnya merupakan amanah yang mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya secara bertanggung jawab sesuai dengan ajaran (Islam). Petunjuk Allah dalam Al-Quran sangat jelas berkaitan dengan menghargai waktu, tidak boleh malas dan putus asa, bertanggung jawab, adil, dan lain sebagainya. Rasulullah sebagai Teladan Selain disebutkan di atas tentang karakteristik etos kerja islami, dalam melaksanakan kerja kita juga perlu meneladani sifat-sifat Rasulullah Muhammad SAW. Yakni: 1. Shiddiq (jujur, benar) Pustakawan dapat meneladani rasulullah dengan berkata jujur dan benar di dalam memberikan informasi kepada pemustakanya. Kejujuran yang apa adanya namun bertanggung jawab lebih disukai daripada kata-kata manis yang menutupi seolah memberikan solusi. Kejujuran juga merupakan awal dari membangun sebuah kepercayaan. Dalam hal antara pustakawan dan Perpustakaan dengan masyarakat penggunanya (pemustaka). Antasari (2016) dalam bukunya Personal Branding Pustakawan mengatakan bahwa profesi pustakawan yang berhubungan dengan pelayanan terkadang mebutuhkan kesabaran ekstra karena tidak jarang pemustaka berlaku mengundang emosi. Namun hal ini bukan menjadi alasan untuk berlaku tidak jujur. Dikatakan pula, jujur dan benar ini termasuk menjaga lisan yakni dalam pemilihan bahasa dan kata yang baik, sehingga pemustaka merasa nyaman. 2. Amanah Amanah artinya dapat dipercaya atau terpercaya. Amanah bisa juga diartikan titipan. Semua yang ada di dunia ini adalah titipan Allah. Kita harus menjaganya dengan baik. Pun dengan profesi yang kini tengah kita jalani. Tugas sebagai pustakawan adalah amanah. Oleh karena itu kita harus amanah juga dalam melaksanakannya. Baik dalam tugas profesi maupun administrasi lainnya. Misalnya dalam pengadaan buku yang sesuai dengan kebutuhan, rapi dalam laporan dan pembukuan lainnya. 3. Tabligh Tabligh artinya menyampaikan. Menyampaikan dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi dalam mennyampaikan informasi. Pustakawan bertugas sebagai pengorganisasi informasi sampai kepada penyebaran informasi. Kemampuan komunikasi tidak hanya bagaimana kita menyampaikan, tetapi juga bagaimana kita mendengar keluhan dan kebutuhan pemustaka. 4. Fathonah Fathonah artinya cerdas, pintar, dan professional. Pustakawan mempunyai kemampuan atau keahlian yang diperoleh dari jenjang pendidikan formal. Pengetahuan ini merupakan karunia Allah SWT yang perlu diasah sesui dengan kebutuhan karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan kebutuhan pun selalu berubah. Dan yang perlu diingat di sini, manusia yang berpengetahuan luas dan cerdas, harus senantiasa mempunyai keimanan yang kuat seperti Nabi Muhammad SAW. Implementasi etos kerja Islami bukanlah sesuatu yang mudah. Manusia diciptakan sebagai makhluk Tuhan yang unik dengan segala persoalan yang dihadapinya. Etos kerja manusia dipengaruhi oleh motivasi hidup maupun pemahamannya berkaitan dengan ajaran agama. Manusia mempunyai motivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus mempunyai keyakinan bahwa sesuatu yang dia kerjakan juga untuk bekal di kehidupan yang abadi. Pemahaman bahwa manusia di dunia ini adalah utusan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, di bumi untuk mengatur (bekerja) menjaga ciptaan-Nya dengan segala hak dan kewajibannya, merupakan suatu motivasi tersendiri dalam bekerja yakni bahwa apa yang dikerjakan adalah bernilai ibadah. Dengan demikian, manusia yang malas bekerja dengan baik, berarti belum menjadi utusan Allah SWT, yang baik pula. Keyakinan sebagai makhluk dan utusan Tuhan di bumi dengan meneladani akhlak Rasulullah dalam bekerja akan menjadikan pustakawan senatiasa mengembangkan sesuatu yang positif, baik dari individu, organisasi, maupun budaya.

Conclusion

Berdasarkan pemabahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengawasan dalam fungsi manajemen merupakan upaya untuk meminimalkan ketidaksesuaian rencana dengan tujuan atau hasil seiring dengan berjalannya pelaksanaan kegiatan. Pencapaian tujuan Perpustakaan memerlukan kehadiran pustakawan yang unggul yakni pustakawan yang memiliki ‘sesuatu’ yang lebih baik dari yang lain, baik itu dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun perilaku dalam melaksanakan tugasnya. Pengawasan bukan hanya dari manajer atau pimpinan. Akan tetapi juga pemahaman spiritual leadership yang akan membawa kesadaran pustakawan akan pentingnya kepemimpinan bagi diri sendiri dengan fungsi kontrol langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa. Pembentukan pustakawan unggul berbasis spiritual leadership erat kaitannya dengan karakteristik etos kerja Islami, yaitu: kerja merupakan penjabaran aqidah; kerja dilandasi ilmu; kerja dengan meneladani sifat-sifat Ilahi serta mengikuti petunjuk-Nya. Keteladan sifat Rasulullah Muhammad SAW penting untuk selalu dijadikan uswah di dalam melaksanakan kegiatan di Perpustakaan (siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah). Dengan demikian penanaman spiritual leadership di dalam fungsi manajemen terutama pengawasan sangat diperlukan untuk membentuk pustakawan unggul dan mengantarkan organisasi (perpustakaan) di dalam mencapai tujuannya. Hal lain yang perlu disandingkan pada spiritual leadership adalah istiqomah yakni sikap untuk komitmen dan konsisten dalam melaksanakan tugas.