Kembali
16
1
2017 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 3 · 1 ISSN 2685-8363

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM PENINGKATAN MINAT BACA MASYARAKAT

N/A

Abstrak

Pertumbuhan pengetahuan dan teknologi yang begitu kencang menjadikan informasi menjadi hal yang penting bagi kehidupan manusia. Dalam mengahadapi hal tersebut dibutuhkan kemampuan membaca agar dapat menyerap informasi. Membaca berpengaruh dalam kehidupan manusia, setelah kita membaca berbagai manfaat bisa kita dapatkan. Untuk membudayakan minat baca masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang intensif dari berbagai pihak antara lain dari para orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat dan tak ketinggalan perpustakaan. Perpustakaan menjadi sarana penghubung atau jembatan yang menyambungkan antara sumber informasi dengan para pemustaka, sehingga keberadaannya sangat penting sebagai sarana media sumber belajar.
Keywords: reading · interest · library

Introduction

Di era kehidupan yang serba modern seperti saat ini informasi mengalir begitu derasnya, di mana arus informasi menjadi penting dalam kehidupan dan aktivitas manusia. Agar informasi tersebut dapat termakan oleh manusia maka dibutuhkan kemampuan dalam hal membaca. Budaya baca masyarakat Indonesia masih relatif rendah, salah satunya disebabkan karakter masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan budaya lisan dibanding budaya tulis. Selain itu juga kelangkaan akses untuk mendapatkan buku, kurangnya kultur membaca sejak dini. Sudiana (2004: 103) menyatakan bahwa orang yang memiliki minat baca yang tinggi akan sering melakukan kegiatan membaca. Melalui seringnya membaca, maka akan terbina kebiasaan membaca, akhirnya dengan membaca dapat memenuhi kebutuhannya. Perumpamaan orang yang haus, maka kita akan spontanitas mencari air karena kita butuh air untuk minum agar rasa haus tersebut bisa terpenuhi. Begitu juga halnya membaca, kita akan mau membaca apabila diri kita membutuhkan informasi, sains, dan berbagai pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya, jalan keluar dari permasalah tersebut adalah dengan membaca. Kegiatan membaca ini terus ditimbuhkan, dirawat dan dikembangkan secara terusmenerus. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca (Sutarno NS, 2006: 27). Dengan budaya baca yang tinggi, kita akan selalu merasa kecanduan untuk selalu membaca. Oleh sebab itu, membudayakan kebiasaan membaca masyarakat harus mendapat perhatian yang serius baik dari orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat dan tak ketinggalan perpustakaan. Minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, masih sangat rendah. Data dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Menurut Pendiri Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, Trini Hayati, salah satu penyebab rendahnya minat baca anak adalah kesulitan akses untuk mendapatkan buku. Semangat baca yang tinggi pun menjadi tidak berarti tanpa adanya buku yang bisa dibaca. “Rasa tertarik ada tapi untuk mendapatkan akses buku susah. Jadi, minat baca anak kurang,” ujar Trini, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (11/5/2017). Berdasarkan latar belakang di atas, permasalah yang akan dibahas dalam artikel ini yaitu bagaimana peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca masyarakat? Tujuan dari artikel ini untuk mengetahui peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca masyarakat

Discussion

Peran Perpustakaan dalam Peningkatan Minat Baca Bangsa yang cerdas adalah bila masyarakatnya menguasai ilmu pengetahuan. Buku merupakan sumber ilmu pengetahuan. Disini perpustakaan sebagai media bagi masyarakat yang hendak memperkaya ilmu pengetahuan melalui membaca secara gratis. Tujuan dari perpustakaan memberikan layanan informasi kepada masyarakat, membudayakan kebiasaan membaca, serta membantu masyarakat yang ingin memperkaya wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Usaha untuk menumbuhkan minat baca masyarakat sudah sejak lama dilakukan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Pada tanggal 14 September dicanangkan oleh Presiden RI Bapak Soeharto kala itu, sebagai Hari kunjung perpustakaan, sedang setiap tanggal 17 Mei merupakan Hari perpustakaan nasional. Semuanya itu adalah dalam rangka mengajak dan menggerakkan masyarakat agar memanfaatkan berbagai jenis perpustakaan. Perpustakaan setiap tahun menggalakkan berbagai usaha berkaitan dengan minat baca, semuanya berhubungan dengan usaha-usaha lebih mendekatkan keberadaan perpustakaan di tengah masyarakat serta membuat masyarakat gemar membaca. Berbagai usaha tersebut diharapkan dapat mendukung dan membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki budaya baca cukup tinggi, seperti halnya pada masyarakat negara maju lainnya. Orang yang telah memiliki budaya baca tinggi akan selalu menghabiskan waktunya untuk membaca, sehingga dalam dirinya tertanam kebiasaan membaca, maka membaca sudah merupakan suatu kepentingan atau kebutuhan. Dengan memiliki kebiasaan membaca yang tinggi, orang akan merasa ketagihan membaca. Oleh karena itu, untuk membudayakan membaca sejak dini di kalangan masyarakat, khususnya anak-anak, pelajar ataupun mahasiswa, pengembangan minat baca wajib mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak seperti keluarga, sekolah, pemerintah maupun pihak swasta. Berikut langkah yang dapat dilakukan perpustakaan dalam peningkatan minat baca masyarakat, yaitu: 1. Ketersediaaan koleksi bahan pustaka Koleksi perpustakaan merupakan kumpulan bahan pustaka yang menyimpan berbagai informasi, ilmu pengetahuan, yang tersedia di dalam perpustakan. Perpustakaan harus melengkapi koleksi yang dibutuhkan atau diinginkan oleh pemustakanya. Ketersediaan koleksi berkaitan erat dengan pemanfaatannya. Apabila koleksi yang tersedia lengkap dan siap digunakan oleh pemustaka, tentu koleksi tersebut akan dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. Karena yang dibutuhkan oleh pengguna tersedia sesuai dengan kebutuhan mereka (Sutarno, 2007: 26). Setiap perpustakaan harus memiliki koleksi yang beragam, bukan hanya buku paket tetapi bacaan yang sifatnya ringan dan menghibur, seperti buku bergambar, cerita anak, cerita fiksi/novel, majalah, surat kabar, tabloid, jurnal, dan lain-lain. Begitu juga dengan perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan berbagai koleksi tidak hanya yang tercetak tetapi juga berlangganan e-journal, e-book, e-paper nasional serta internasional. Perlu juga di pojok-pojok ruang dilengkapi berbagai corner, misalnya BI corner, Taiwan corner, SNI corner, dan lain-lain. Selain itu juga dengan teknologi informasinya, baik berbasis web, online, digital library, Self Accses Terminal (SAT) dilengkapi berbagai ragam layanan seperti klinik perpustakaan. Perpustakaan yang memiliki banyak koleksi belum menjamin kualitas pemanfaatan yang besar terhadap koleksi perpustakaan. Kendati pengelola perpustakaan menyediakan berbagai macam koleksi. Jika koleksi tidak signifikan dengan informasi yang dibutuhkan pemustaka maka pemanfaatan koleksi akan sedikit. Kelengkapan koleksi perpustakaan menjadi daya tarik bagi suatu perpustakaan, hal ini menyebabkan pemustaka mau datang kemudian mau memanfaatkan perpustakaan, selain itu juga kemutakhiran koleksi disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan sehingga pemustaka dapat dengan bebas untuk mencari informasi yang mereka dibutuhkan. Selain itu upaya yang dilakukan melalui fasilitas-fasilitas perpustakaan yaitu sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan, sehingga dapat menciptakan kenyamanan bagi para pemustaka. Fasilitas tersebut seperti, AC, komputer, Wifi, dan tempat yang nyaman untuk membaca. 2. Pelayanan yang prima dan unggul Pelayanan perpustakaan merupakan suatu kegiatan untuk melayani atau membantu pemustaka dalam kegiatan perpustakaan. Layanan merupakan ujung tombak bagi perpustakaan. Pustakawan sebagai pengelola perpustakaan dan juga pemberi jasa harus memberikan pelayanan yang prima dan unggul dengan murah senyum, sikap ramah dan sopan santun agar memberikan kesan agar mereka datang lagi ke perpustakan, selain itu juga berjiwa pelayan serta memiliki keunggulan yang dapat dibagi kepada para pemustaka. Pustakawan bukan sekadar menyediakan, mengambilkan, melayankan, dan menerima buku dari pemustaka tetapi seorang pustakawan harus dapat mengemas informasi dan literasi mengenai wawasan ilmu pengetahuan untuk para pemustaka dengan layanan prima dan unggul. Pustakawan dituntut kreatif dan inovatif dalam memberikan pelayanan yang prima dan unggul kepada pemustaka. Di samping kualitas teknis yang harus dimiliki, soft skill perlu dikembangkan sehingga pada akhirnya dapat mencitrakan dirinya dan perpustakaan sebagai lembaga tempatnya bekerja. 3. Promosi perpustakaan Promosi perpustakaan merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan perpustakaan dengan tujuan agar masyarakat mengetahui fungsi perpustakaan, baik melalui koleksi, fasilitas, layanan dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada di perpustakaan. Banyaknya pemustaka yang dating ke perpustakaan menjadi tolok ukur pemanfaatan dan keberadaan perpustakaan. Perpustakaan harus dapat menunjukkan tampilan yang friendly, nyaman, menarik serta memberikan layanan yang ramah kepada pemustaka karena keberhasilan perpustakaan diukur tingkat keterpakaian koleksinya. Bagaiman agar pemustaka mengetahui keberadaan dan manfaat dari perpustakaan, maka perpustakaan harus memperkenalkan diri dalam berbagai kegiatan kepada pemustaka melalui promosi perpustakaan. 4. Melibatkan orang tua, guru, dosen Orang tua merupakan madrasah pertama bagi anaknya, maka orang tua memiliki peran yang besar dalam membiasakan membaca bagi anaknya. Peran penting orang tua yaitu memberi contoh, membimbing dan mengarahkan anaknya untuk membiasaan budaya baca, selain itu juga menyediakan fasilitas bacaan yang nyaman dan representatif. Minat baca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sedini mungkin karena minat membaca tidak dapat terbentuk dengan sendirinya tetapi dipengaruhi oleh dorongan atau stimulus yang diperoleh dari seluruh anggota keluarga. Para orang tua hendaknya menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca bagi anak-anaknya. Para orang tua hendaknya sering mengajak anak toko buku atauke perpustakaan. Biarpun mereka suka, bila sudah berada di perpustakaan mereka akan melihat-lihat, penasaran selanjutnya ada keinginan untuk ikut membaca untuk mengisi ruang dan waktu. Guru sebagai orang tua kedua bagi anak di sekolah. Guru sangat berperan dalam merealisasikan Permendikbud No. 21/2015 mengenai pembiasan membaca buku-buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran. Metode ini sudah banyak dijalankan di beberapa sekolah. Dengan metode ini diharapkan para murid/ siswa akan rajin, bersemangat dan ramai berkunjung ke perpustakaan sekolah. Guru memberikan tugas, dimana para murid harus membaca buku. Guru harus selalu memotivasi anak didiknya mencintai buku sejak dini. Hal ini merupakan salah satu upaya pengembangan minat dan kebiasaan membaca baik di rumah maupun di sekolah. Para dosen, kepala prodi di tiap fakultas dan juga rektor harus ikut partisipasi dalam budaya baca bagi seluruh civitas akademika. Setiap dosen hendaknya dalam memberikan tugas atau soal ujian harus menggunakan banyak sumber referensi. Hal ini merupakan salah cara untuk menumbuhkan budaya baca mahasiswa dengan sedikit paksaan, mahasiswa merasa butuh banyak referensi maka pasti mereka akan mencari dan membaca banyak referensi. Sebagai contoh dalam membuat makalah dan diharuskan memuat banyak refrensi baik buku maupun berbagai jurnal. Selain itu dapat dilakukan dengan cara mewajibkan mahasiswanya untuk wajib mendaftar kartu anggota perpustakaan. Dosen mewajibkan mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir baik D3, S-1, S-2, dan S-3 harus merujuk pada e-jurnal atau jurnaljurnal nasional yang suda terakrteditasi, diharapkan mahasiswa dapat bekerjasama dengan pustakawan dalam penelusuran informasi, baik itu penelusuran e-jurnal, e-book baupun digital library.

Conclusion

Peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca masyarakat sangat penting. Langkah-langkah yang dapat dilakukan perpustakaan dalam rangka peningkatan minat baca masyarakat, yaitu ketersediaaan koleksi bahan pustaka juga melalui fasilitas-fasilitas perpustakaan yaitu sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan, sehingga dapat menciptakan kenyamanan bila berada di dalam perpustakaan. pelayanan yang prima dan unggul, promosi perpustakaan, hal ini dilakukan agar keberadaan perpustakaan dapat diketahui oleh masyarakat, dan melibatkan orang tua, guru, dosen.