Kembali
16
1
2017 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 3 · 2 ISSN 2685-8363

MENDEKONSTRUKSI PERAN KEPEMIMPINAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI ERA NET GENERATION MELALUI PERSPEKTIF TEORI SOSIAL POSTMODERN JACQUES DERRIDA

Politeknik Negeri Malang

Abstrak

Teknologi informasi dalam kehidupan mengalami perkembangan yang cukup pesat, berbagai perubahan terjdi. Pola perubahan sosial yang terjadi dari masa ke masa yakni masa kuno/klasik, masa pertengahan, masa modern dan postmodern. Salah satu yang tumbuh dan berkembang adalah kemunculan generasi yang serba canggih dan cepat atau yang disebut dengan net generation, dimana mereka tumbuh dan berkembang ditengah-tengah kemajuan zaman. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat sumber informasi memiliki tuntutan untuk dapat semkin berkembang. Pola perubahan peranan kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi sebagai ujung tombak perpustakaan perlu dilakukan suatu perubahan-perubahan seiring dengan perkembangan yang terjadi. Artikel kajian ini dibahas mengenai bagaimana melakukan pola perubahan tersebut melalui pendekatan perspektif teori sosial postmodern yang dikemukakan oleh Jacques Derrida. Melalui teorin dekonstuksinya dicoba untuk mendekonstruksi peranan kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi dengan mencoba membuka mindset dan berfikir secara filosofis mengoyak suatu kemapanan mengenai perspektif lama dalam proses kepemimpinan yang kaku untuk dilakukan perubahan pengembangan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan.
Keywords: deconstruction · postmodern · net generation · generation · leadership · university library

Introduction

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa banyak proses perubahan dalam suatu tatanan masyarakat. Bersumber pada ranah perubahan kognitif selanjutnya menuju tahap perubahan nilai (afeksi) dan pada titik tertentu membentuk sebuah skill (performance) pada diri manusia dalam bentuk perilaku sikap sosial dalam kebudayaannya. Kerangka pikir atas pergeseran pengetahuan manusia mengacu pada sebuah freame besar yakni masa kuno/ klasik, masa pertengahan, masa modern dan postmodern. Gejala postmodern telah menyebar dalam berbagai aspek kebudayaan disertai memunculkan berbagai fenomena. Salah satu implikasi yang tak terelakkan adalah munculnya suatu revolusi informasi yang kemudian melahirkan sebuah masyarakat berbasiskan teknologi informasi atau lebih dikenal istilah Net Generation. Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi ini merupakan suatu tatanan masyarakat yang dalam kehidupannya sangat familiar dengan teknologi informasi TI. Hal tersebut sebagaimana dilihat pada Laporan Tetra Pak Index 2017 mencatatkan ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia, sementara hampir setengahnya adalah penggila media sosial, atau berkisar di angka 40%. Jumlah angka dan prosesntase tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan di tahun 2016 kenaikan penguna internet di Indonesia berkisar 51% atau sekitar 45 juta pengguna yang diikuti dengan pertumbuhan sebesar 34% pengguna aktif media sosial. Perpustakaan sebagai pusat sumber informasi secara otomatis telah terimbas oleh perubahan seiring dengan adanya gejala postmodern dan fenomena masyarakat Net Generation, salah satunya perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu unit pusat sumber informasi sivitas akademika perguruan tinggi meliputi dosen, karyawan dan mahasiswa. Sebagaimana diungkapkan oleh Rashmussen & Jockhumsen (2007) mengenai Problems and Possibilities: The Public Library in The Borderline Between Modernity and Late Modernity, dikemukakan bahwa berbagai tantangan disini muncul dan harus dihadapi oleh perpustakaan seiring adanya perkembangan di masa modernitas akhir atau postmodern. Keberadaan teknologi informasi dan penggunaanya yang semakin masif juga telah menyebabkan perpustakaan memiliki perasaan cemas dan waswas. Pasalnya kemajuan teknologi digital membuat pusat ilmu pengetahuan tersebut menjadi khawatir akan ditinggalkan oleh penggunanya. Hal tersebut mengingat bahwa peran perpustakaan perguruan tinggi ini lebih kompleks di mana para pengguna yang dilayanai merupakan masyarakat akademis yang pola pemikirannya bersifat ilmiah dan kritis. Perspektif lama dalam kepemimpinan perpustakaan perlu dilakukan suatu pengembangan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan. Terlebih perpustakaan perguruan tinggi dengan kondisi perpustakaan perguruan tinggi yang dinamika organisasinya sangat dinamis, dimana perpustakaan dituntut untuk bergerak cepat untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat. Disinilah peranan kepemimpinan diperlukan salah satunya dalam tata kelola manajemen perpustakaan dan peningkatan kinerja para pustakawan atau bawahannya. Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Konya dan Gurel (2014) dengan judul Leadership approaches of university library managers in turkey mengemukakan bahwa sama halnya dengan organisasi lainnya, perpustakaan membutuhkan seorang pemimpin yang berkualitas di mana mampu mengikuti perubahan dan perkembangan serta membawa suatu perubahan dengan karakteristik berorientasi pada lingkungan, staf dan memiliki ide-ide kreatif. Melalui pendekatan Dekonstruksi sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa tokoh dalam aliran postmodern dekonstruktif Jacques Derida mencoba mengoyak kemapanan, menggoyang hegemonik, menjungkir balikkan logika dan mengobrak-abrik semua hal yang selama ini diterima begitu saja untuk memberikan peluang membangun hal - hal baru dan menemukan makna baru khususnya dalam konteks peranan kepemimpinan dalam perpustakaan perguruan tinggi. Berdasarkan hal tersebutlah diperlukannya pengembangan terhadap praktik-praktik kepemimpinan kritis dalam pengelolaan perpustakaan serta membuka kesadaran untuk keluar dari rutinitas lama yang selama ini terhegomoni menjadi lebih terbuka dalam kepemimpinan pengelolaan perpustakaan dan informasi. Dari mendekonstruksi atas peran kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi yang selama ini sudah dilakukan bagaimana perpustakaan dapat terlibat dalam praktik-praktik kritis dengan pengembangan berbagai layanan dan fungsinya.

Discussion

1. Kepemimpinan Perpustakaan Perpustakaan dapat diartikan sebagai ruang yang berfungsi untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang disimpan dan dikelola menurut tata susunan untuk kepentingan pembaca bukan untuk dijual dengan mencari untung. Secara umum makna dari perpustakaan merujuk pada empat komponen utama yaitu tempat/ ruangan, koleksi, manusia dan aktivitas. Mengikuti kaidah klasik yang menjadi fondasi kesepakatan fungsi manajemen, maka setiap kegiatan manusia khususnya yang melembaga salah satunya perpustakaan dalam operasionalnya haruslah dirancang, diorganisasikan dihimpun dan dikendalikan. Harus dipahami secara seksama bahwa sebenarnya dalam fungsi manajemen tersebut terdapat unsur penting yaitu kepemimpinan. Kepemimpinan atau leadership dalam tatanan keilmuan sosial dapat digolongkan kedalam ilmu terapan (applied sciences). Hal tersebut karena kepemimpinan bukan hanya sebatas konseptual ataukah serangkaian teoritis semata, namun jauh dari itu kepemimpinan berkaitan dengan suatu usaha dengan prinsip-prinsip dan rumusan untuk kebermanfaatan dan peningkatan kesejahteraan manuaia. Perlu dilakukan pemahaman secar mendalam sebagai langkah awal dalam mempelajari dan memahami kepemimpinan yang berkaitan dengan makna aspek-aspek kepemimpinan melalui berbagai macam perspektif. Secara bahasa kepemimpinan dapat diistilahkan juga dengan leadership yang berasal dari kata leader yang muncul muncul pada tahun 1300-an, sedangkan kata leadership muncul pada tahun 1700an. Pengertian kepemimpinan sendiri dikemukakan identik dengan usaha untuk mempengaruhi orang lain supaya mereka mau untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapa tujuan tertentu. Pengertian lain kepemimpinan berkaitan dengan perilaku yaitu suatu perilaku yang dilakukan dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para pengguna kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi, sehingga dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah dicapai. Merujuk dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses atau suatu keterampilan seseorang dalam mempengaruhi orang lain guna mendapatkan satu misi dan arah yang sama dalam mencapai sebuah tujuan organisasi. Dalam menjalankan sebuah kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu mengantarkan bawahannya menuju pada tujuan yang ingin dicapai. Inilah yang mengharuskan seorang pemimpin mempunyai keahlian memimpin dan sifat-sifat kepemimpinan yang disukai bawahannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin tidak berdiri sendiri, namun membangun hubungan yang baik dengan bawahannya, mampu mempengaruhi dan memotivasi agar bawahan mampu bekerja bersama dengan baik. 2. Perkembangan dan Karakteristik Net Generation Di tengah perkembangan TI yang semakin canggih dapat kita lihat bahwa kelompok remaja pada dasarnya merupakan bagian dari generasi virtual atau Net Generation. Net Generation ini merupakan generasi dengan karakteristik bahwa kegiatan mereka lebih cenderung asik untuk menghabiskan waktu mereka berselancar di dunia maya dari pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara fisik lainnya. Berkomunikasi dengan handphone yang telah dilengkapi sistem operasi canggih berbasis android, bermain internet serta berjejaring melalui facebook dan media sosial lainnya, di mana kegiatan ini dilakukan selama berjam-jam. Generasi ini dilahirkan antara tahun 1977 – 1997, berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak terpesona pada televisi, net generation tumbuh dalam lingkungan sosial dan kebiasaan sejak awal yang telah akrab dengan internet. Berikut merupakan terminologi perkembangan generasi: Generasi Tahun Istilah Baby Boomers 1946 - 1964 The Baby Boom Baby Bust 1965 - 1976 Generation X Net Generation 1977 - 1997 Generation Y Tabel 1 Terminologi Perkembangan Generasi Secara garis besar beberapa ciri atau karakteristik yang menandai adalah freedom, customization, scrutiny, integrity, collaboration, entertaiment, speed dan innovation. Karakteristik freedom bagi kalangan net generation memberikan mereka suatu pemahaman bahwa internet telah memberikan mereka kebebasan untuk memilih apa yang mereka kehendaki. Customization menunjuk pengertian bahwa net generation umumnya adalah konsumer yang akif dan acapkali bisa memperoleh suatu hal dan menyesuaikannya serta menjadikan miliknya. Scruity adalah berkaitan dengan karakteristik bahwa net generation memiliki sikap yang kritis. Collaboration memberikan gambaran karakteristik bahwa net generation memiliki sikap untuk terus berinovasi. Entertaiment adalah net generation banyak kesempatan untuk menyenangkan diri mereka secara online. Speed merujuk kepada net generation memiliki karakteristik yang cepat dalam melakukan kegiatan dan terkadang condong lebih suka pada hal-hal yang berbau instan. 3. Karakteristik Pemikiran Postmodern Jacques Derrida Berbicara mengenai postmodern ternyata telah membawa pada suatu wilayah yang penuh dengan pertentangan. Pertentangan dalam hal ini mengenai apakah postmodern sebagai suatu era, faham ideologi ataukah sebuah teori. Pandangan tentang teori sosial suatu kerangka pengetahuan logis atau koheren yang menyoroti aspek-aspek kunci mengenai mengapa “apa yang dimaksud dengan sosial itu”, mengonseptualisasikan dimensi-dimensi kuncinya, mengorganisir kausalitas-kausalitas dengan satu cara yang bersifat penjelasan atau eksplanatoris dan kata sifat “postmodern” menjadi bahan utama perdebatan yang intensif dan sebuah kajian kritis. Dikatakan bahwa postmodern memiliki suatu substansi dan makna– makna yang tersendiri tetapi juga beragam dan karenanya membutuhkan penjelasan bahwa teori sosial mungkin dikehendaki dalam peran tradisionalnya sebagai satu arahan kepada perubahan sosial. Sebagai objek utama dalam kajiannya postmodern mengutamakan pada perubahan-perubahan sosial yang terjadi dan juga produk-produk yang dihasilkan sebagai hasil dari adanya perubahan. Salah satu ciri khusus postmodern adalah suatu kombinasi antara radikalisme epistimologi, termasuk mempertanyakan secara kritis mengenai “warisan pencerahan” dengan liberalisme substansif, keterbukaan pragmatik terhadap semua tema, ranah disipliner dan tradisi-tradisi. Postmodern dalam konteks teori dapat dikatakan merupakan sebuah teori yang cukup fenomenal. Dikatakan fenomenal bahwa teori ini bukan tiba-tiba lahir dengan begitu saja serta bukan hanya terfokus pada satu ilmu. Salah satu tokoh yang cukup penting dari postmodern salah satunya adalah Jacques Derrida melalui teori dekonstruksinya. Jacques Derrida merupakan salah satu tokoh penting teori postmodern, atau lebih tepatnya pada tatanan poststrukturalisme. Derrida identik dengan teori dekonstruksi yang dikemukakannya. Dekostruksi secara umum diartikan sebagai cara atau metode dalam membaca teks, adapun yang khusus dalam cara baca dekonstruksi yang membuatnya bermuatan filosofis adalah bahwa unsur-unsur yang dilacaknya, untuk kemudian dibongkar, pertama-tama bukanlah inkonsistensi logis, argumen lemah atau premis yang tidak akurat yang terdapat dalam teks sebagaimana yang dilakukan oleh moderism melainkan unsur yang secara filosofis menjadi penentu atau unsur yang memungkinkan teks tersebut menjadi filosofis. Tujuan yang diinginkan dengan melalui metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidak berhasilan upaya penghadiran kebenaran absolute. Melalui metode dekonstruksi inilah ingin mengupas mengenai agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan kepincangan dibalik teks-teks. Secara garis besar apa yang dikemukakan oleh Derrida mengenai dekosntruksi ini yaitu lebih mengarah kepada membongkar mengenai sesuatu yang telah ada. Melalui pendekatan dekosntruksi jugalah Derrida mencoba untuk mengoyak kemapanan, menggoyang hegemoni, menjungkirbalikkan logika dan mengobrak abrik semua hal yang selama ini diterima begitu saja, untuk memberi peluang membangun hal-hal baru dan menemukan makna baru. Secara lebih sederhana deskontruksi dapat dipahami sebagai cara berfikir filosofis yang mencoba untuk memeriksa kembali bekerjanya sebuah hierarki dan metode. 4. Mendekonstruksi Peran Kepemimpinan Perpustakaan Perguruan Tinggi Era Net Generation Melalui Perspektif Teori Sosial Postmodern Jacques Derrida Perlu dipahami secara seksama bahwa di era informasi dengan lahirnya net generation sebagai sebuah fenomena yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah tatanan masyarakat, sudah semakin jauh memasuki era teknologi informasi yang identik dengan istilah era informasi atau era digital. Mereka sesuai dengan beberapa karakteristik yang telah disebutkan sudah mulai memiliki beberapa karakteristik seperti freedom (kebebasan), customization (konsumen yang aktif), scurity (kritis), collaboration (suka berinovasi), entertaiment (hal-hal yang bersifat menyenangkan). Perpustakaan di era ini memiliki tuntutan yang cukup kompleks bukan sebatas sebagai tempat buku yang berjajar dirak, namun perpustakaan harus mampu mendistribusikan serta memberikan suatu solusi kepada para pengguna terhadap bebagai kebutuhan mereka, terlebih pengguna perpustakaan saat ini sebagian besar adalah mereka para net generation. Terlebih dalam ruang lingkup perpustakaan pergururan tinggi, di mana memiliki tugas yang cukup kompleks dan dinamis. Perpustakaan bukan hanya dituntut untuk dapat menyajikan sumber-sumber informasi, namun perpustakaan perguruan tinggi memiliki tuntutan sebagai wadah pengetahuan maupun sarana penelitian bagi seluruh sivitas akademika meliputi mahasiswa, dosen dan karyawan. Mendekonstruksi peranan kepemimpinan konteks perpustakaan khususnya dilingkungan perguruan tinggi diperlukan suatu pengembanganpengembangan yang bukan hanya sebatas memotovasi bawahan ataupun mempengaruhi orang lain guna mendapatkan satu misi dan arah yang sama dalam mencapai sebuah tujuan organisasi, namun disisi lain juga diperlukan upaya-upaya terobosan untuk proses pelayanan yang lebih luas dan berkembang. Pemimpin harus mampu dan berani membongkar terhadap dominasi-dominasi yang selama ini tidak disadari menghambat pemikiran-pemikiran baru, inovasi serta alternatif-alternatif lain dalam lingkungan perpustakaan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Rashmussen & Jockhumsen (2007) mengenai Problems and Possibilities: The Public Library in The Borderline Between Modernity and Late Modernity, juga dikemukakan bahwa di era postmodern ini perpustakaan secara umum memiliki peranan penting antara lain: a. Memainkan peran sentral dalam proses pembentukan keragaman budaya dalam kaitannya dengan pengembangan masyarakat yang multietnis. b. Dalam hubungan ini, perpustakaan sebagai tempat alternatif bagi etnis minoritas. Sebagaimana seperti sebuah studi baru yang mengungkapkan bahwa identitas profesional pustakawan ditentukan oleh citra perpustakaan umum sebagai ruang bebas dan demokratis untuk pertemuan budaya dan sosialisasi antarbudaya. c. Perpustakaan memegang tanggung jawab tertentu dalam menghindari perpecahan sosial akibat pengembangan teknologi informasi dan meningkatnya arus globalisasi. d. Last but not least, perpustakaan menjadi bagian yang lebih aktif di tengah masyarakat. Yakni dengan mendukung debat demokratis dalam sebuah masa di mana terjadi ledakan informasi. Implementasinya berkaitan dengan perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan tidak lagi hanya berperan sebagai pusat sumber informasi dan pengetahuan (information and knowledge hub), melainkan perpustakaan sudah harus bertransformasi menjadi ruang publik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik untuk sarana informatif maupun penelitian. Hal ini juga merujuk pada karakteristik net generation sebagai generasi yang harus dilayani perpustakaan masa kini dengan kecenderungan masyarakat konsumer, yang memiliki keragaman dalam hal selera, pilihan dan gaya hidup. Pemimpin mau tidak mau, harus merombak paradigma lama perpustakaan sebagai perpustakaan yang kaku, sakral, yang penuh dengan halhal normatif. Melalui konsep dekonstruksi ini peranan kepemimpinan sebagai motor penggerak mulai melangkah membebaskan diri dari mainstream, dalam artian menuju hal yang bersifat anti mainstream dari apa yang sudah menjadi suatu kebiasaan. Senantiasa melakukan dan mendorong kondisi internal perpustakaan senantiasa melakukan berbagai inovasi kepada para bawahan serta memiliki cara pandang baru serta selalu melihat berbagai peluangpeluang yang ada. Hal ini sebagaimana diungkapkan mengenai beberapa hal kritis dalam fokus perhatian postmodern dalam ruang lingkup teori sosial adalah adanya lima pergeseran subtantif dalam fokus perhatian antara lain: a. Dari struktural ke kultural: lebih banyak perhatian diberikan kepada kebudayaan, khsusnya budaya pop, lengkap dengan segala perubahan yang tidak dapat diprediksikan terlebih dahulu beserta basis-basis nilainya yang tidak pasti. b. Dari produksi ke konsumsi dan gaya hidup masal, komunikasi dan media masa. c. Dari interaksi ke wacana yaitu pergeseran linguistik/simbolik yang tercermin dalam lebih banyaknya perhatian yang dicurahkan kepada representasi-representasi khususnya dalam media dan wacana-wacana populer. d. Dari yang tipikal ke yang beragam dan marjinal: meningkatnya ketertarikan orang terhadap bentuk susunan sosial kultural non tipikal (yang kerap kali bersifat spesifik dan termajinalkan), seperti minoritas-minoritas jenis kelamin, etnis, religius, gaya hidup, dan budaya-budaya mereka. Pola berifikir dan prespektif lama dan kaku perlu dibongkar dalam proses kepemimpinan. Beberapa hal terkait haruslah dirubah antara lain seperti merubah mindset bahwa menjadi pemimpin itu bukanlah selalu yang seseorang dipuja atau dicintai, namun mereka adalah individu yang menjadikan para pengikutnya berbuat benar, kepemimpinan berbeda dengan popularitas maka pemimpin senantiasa memberikan contoh, kepemimpinan identik dengan pencapaian hasil, kepemimpinan bukanlah kedudukan, jabatan, atau uang melainkan kepemimpinan adalah tanggung jawab. Senada dengan yang dikemukakan oleh Joseph A. Maciariello mengenai leadership and effectiveness yaitu beberapa peranan pemimpin untuk menjadikan efektif dalam kepemimpinannya meliputi: a. Mampu menciptakan sebuah organisasi itu memiliki semangat kinerja tinggi dengan menunjukkan tingkat integritas yang tinggi dalam moral dan etika. b. Selalu Fokus pada hasil. c. Membangun kekuatan - milik sendiri dan orang lain. d. Memimpin melampaui batas untuk memenuhi minimal minimum, yaitu dengan penuh totalitas. e. Mampu melakukan komunikasi kepada semua pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, pemegang saham, dan masyarakat umum. Setiap pemimpin untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya tentunya memiliki pola atau gaya kepemimpinan masing-masing. Seringkali pemilihan gaya kepemimpinan ini sangat beprengaruh pada keberhasilan kepemimpinannya. Bahkan seorang pemimpin juga harus mampu mengembangkan gaya kepemimpinannya agar mampu menyesuaikan situasi dan keinginan bawahannya. Berkaitan dengan upaya mendekonstruksi peranan kepemimpinan perpustakaan dalam konteks ini juga meliputi perubahan gaya kepemimpinan seperti apa yang seharusnya diterapkan di era net generation dengan segala karakteristiknya yang dapat dikatakan merupakan generasi yang serba canggih dan instan. Pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat memang sangat dibutuhkan karena kepemimpinan yang berhasil tergantung pada penerapan gaya seorang pemimpin terhadap situasi. Merujuk pada era sekareang ini dengan tumbuh kembangnya net generation, di mana mereka merupakan sebagian besar dari komunitas pengguna perpustakaan dapat dikatakan gaya kepemimpinan transformasional dibutuhkan pada era saat ini karena perubahan yang terjadi pada lingkungan kerja berlangsung secara konstan dan pemimpin transformasional dianggap sebagai pilihan tepat untuk memimpin sebuah organisasi melewati perubahan-perubahan dari internal maupun eksternal organisasi. Berangkat pada pandangan ini, gaya kepemimpinan transformasional dapat dikatakan relavan untuk diterapkan pada organisasi yang fokus utama kerjanya mengurus hal-hal yang bersifat dinamis, salah satunya sesuai dengan pembahasan ini yaitu di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi. Kepemimpinan transformasional pada hakikatnya merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam organisasi. Bass dan Avolio (1994) dalam Suwanto menngungkapkan empat dimensi yang harus di lakukan dalam kepemimpinan transformasional melalui konsep “41” indialized influence, inspirational motivation, intelectual simulation dan individualized consideration. Konsep 41 dalam kepemimpinan transformasional tersebut dapat implementasikan kedalam upaya mendekonstruksi peranan kepemimpinan lingkungan perpustakaan perguruan tinggi diantaranya seperti: a. “I” Indialized influence, yaitu pemimpin perpustakaan bukan menakut nakuti atau gila akan kehormatan, namun pemimpin secara alami mencptakan rasa respect dan rasa nyaman dipercayai dari orang-orang yang dipimpinnya baik itu para pustakawan maupun staf pendukung. b. “I” Inspirational motivation, yaitu Pemimpin perpustakaan dapat menstimulasi para pengikut agar kreatif dan inovatif yang dituangkan melalui antusiasme dan optimisme. c. “I” Intelectual simulation, yaitu pemimpin perpustakaan yang dalam kepemimpinannya senantiasa menggali inovasi dan ide baru dari orang-orang yang dipimpinnya salah satunya melalui inovasi metode baru yang digunakan dalam penyelesaian pekerjaan salah satunya yang berkaitan dengan teknologi informasi meliputi hardware ataupun software. d. “I” Individualized consideration, yaitu pemimpin perpustakaan senantiasa mendengarkan dengan penuh perhatian serta memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan prestasi dan kebutuhan dari orang-orang yang dipimpinnya. Dapat dikatakan bahwa dalam kepemimpinan transformasional bermakna usaha mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Hal tersebut juga sejalan dengan upaya dekonstruksi yang dikemukakan oleh Derrida yaitu lebih mengarah kepada membongkar mengenai sesuatu yang telah ada. Melalui pendekatan dekonstruksi peranan kepemimpinan perpustakaan lingkungan perguruan tinggi yang diwujudkan melalui kepemimpinan transformasional untuk mengoyak kemapanan, menggoyang hegemoni, menjungkirbalikkan logika dan mengobrak abrik semua hal yang selama ini diterima begitu saja, untuk memberi peluang membangun hal-hal baru dan menemukan makna baru yang semua itu dapat diwujudkan diantaranya melalui mentransformasikan visi menjadi realita, atau mengubah sesuatu menjadi aktual. Seorang pemimpin transformasional disini selalu berpandangan kedepan sehingga memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistik tentang bagaimana sebuah organisasi perpustakaan di masa depan. Melalui mendeskontruksi peranan kepemimpinan perpustakaan diantaranya juga melalui gaya kepemimpinan transformasional perpustakaan lingkungan perguruan tinggi nantinya akan dapat menyelesaikan permasalahan kepemimpinan yang terjadi di perpustakaan salah satunya perspektif lama yang melekat pada diri perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi yaitu perpustakaan identik dengan tempat ditaruhnya para pegawai yang tidak memiliki kompetensi di unit lain, atau perpustakaan sebagai tempat orang-orang yang terbuang. Perpektif perpustakaan perguruan tinggi nantinya akan dapat bergeser menjadi salah satu unit yang berkompeten dalam suatu institusi karena memang mereka yang ada didalamnya memiliki kompetensi-kompetensi yang dapat bersaing.

Conclusion

Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat sumber informasi lingkungan institusi lembaga perguruan tinggi seiring dengan perkembangannya mulai was-was dan harus mengadakan suatu pola perubahan agar tidak tergerus oleh zaman. Melalui perspektif teori sosial postmodern yang dikemukakan oleh Jacques Derrida perpustakaan perlu melakukan suatu perubahan dalam pengelolaan utamanaya dalam hal mendeskontruksi peranan kepemimpinan sebagai top management dalam proses pelayanan informasi khususnya untuk dapat mewadahi mereka net generation dilingkungan perguruan tinggi. Terlebih pengguna perpustakaan perguruan tnggi tersebut juga mereka memiliki latar belakang pendidikan dengan pola pemikirannya bersifat ilmiah dan kritis. Upaya mendeskontruksi pnanan kepemimpinan perpustakan perguruan tinggi dalam hal ini yaitu dengan mencoba mengarahkan peikiran secara filosofis dengan memeriksa kembali bekerjanya sebuah hierarki dan metode. Proses penyelenggaraan kepemipinan perpustakaan membebaskan dari mainstream menuju ke arah anti mainstream dari kebiasaan-kebiasaan lama yang menghalangi adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Pola berfikir kepemimpinan sebagai penggerak harus dapat lebih kritis dengan membongkar dominasi tatanan yang selama ini tidak disadari menghambat pemikiran-pemikiran baru, dengan merubahnya menjadi berfikir secara inovatif untuk senantiasa melakukan perubahan demi kemajuan. Penerapan gaya kepemipin transfrmasional relavan untuk diterapkan pada organisasi yang fokus utama kerjanya mengurus hal-hal yang bersifat dinamis, salah satunya sesuai dengan pembahasan ini yaitu di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi.