ANALISIS KETERKAITAN ANTARA AGAMA DAN BUDAYA PADA MASYARAKAT VIRTUAL DI INDONESIA
N/A
Abstrak
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui alkulturasi antara agama, budaya dan masyarakat virtual dan implementasi dari agama, dan budaya pada masyarakat virtual di Indonesia. Metodelogi penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan konseptual dengan menganalisis data-data yang ada melalui studi literatur yang berkaitan dengan fokus yang diteliti. Literatur yang digunakan adalah sumber primer dan sekunder yakni buku-buku dan beberapa jurnal yang mengkaji pokok pikiran yang sama. Adapun hasil kesimpulan dari makala ini ialah agama, budaya, masyarakat merupakan aspek penting yang mengambil peran utama dalam menciptakan keanekaragaman kebudayaan suatu bangsa. Pluralisme yang terjadi berasal dari proses alkulturasi antara kedua aspek tersebut. Keberhasilan suatu model alkulturasi budaya dan agama akan sangat didukung oleh perkembangan teknologi informasi yang mempengaruhi masyarakatnya untuk berkembang di ranah virtual atau modernisasi. Diharapkan dengan memahami proses alkulturasi antara agama, budaya dan masyarakat virtual, kita mampu mengurangi kegagalan alkuturasi akan aspek-aspek tersebut demi menciptakan masyarakat yang harmonis di era modernisasi saat ini.
Abstract
This paper aims to determine the acculturation between religion, culture and virtual society and the implementation of religion, and culture in virtual communities in Indonesia. The research methodology used is a conceptual approach by analyzing existing data through the study of literature relating to the focus under study. The literature used is primary and secondary sources, namely books and several journals that examine the same subject matter. The results of this conclusion are religion, culture, society is an important aspect that takes a leading role in creating a diversity of cultures of a nation. Pluralism that occurs comes from the acculturation process between these two aspects. The success of an acculturation model of culture and religion will be strongly supported by the development of information technology that affects its people to develop in the virtual realm or modernization. It is hoped that by understanding the acculturation process between religion, culture and virtual society, we are able to reduce the alkuturation failure of these aspects in order to create a harmonious society in the current era of modernization.
Keywords:
religion
· culture
· virtual society
Introduction
1. Latar Belakang Keanekaragaman wajah budaya Indonesia memberi arti penting bahwa tradisi atau adat telah menjelma sebagai perwujudan budaya lokal. Kemajemukan budaya suatu di Indonesia juga dapat dipastikan adanya karena pada dasarnya kebudayaan suatu bangsa adalah realitas yang majemuk. Dengan berkembangnya beragam suku di Indonesia maka kemajukan masyarakat pun tidak dapat dipungkiri lagi. Masyarakat berbudaya adalah masyarakat yang mampu mengeneralkan subjektivitas kebudayaan masing-masing sehingga terjadi proses alkuturasi kebudayaan dengan masyarakat yang memiliki kebudayaan sendiri. Agama sebagai hasil rancang bangun dari akumulasi konsep, pandangan, penafsiran, dan gagasan manusia. Agama sebagai sistem nilai pada satu sisi telah berdialektika dengan siklus budaya yang dinamis. Agama sebagai sistem nilai pada saatnya akan mengalami alkulturasi maupun berkolaborasi dengan budaya sebagai hasil tindakan manusia dan akan terus berkembang. Dalam proses alkulturasi antara budaya dan agama, informasi akan mengambil peran penting terhadap proses tersebut. Pertukaran informasi antara masyarakat merupakan fenomena sosial sehingga akan sangat pen-ting untuk memahami bagaimana hubungan sosial tersebut mempengaruhi komunikasi yang terjadi di antara mereka. Dengan adanya komunikasi aktif antara masyarakat dengan budaya masing-masing, maka pemahaman masyarakat tentang budaya, dan agama akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi di era globalisasi saat ini. Perubahan yang terus-menerus terjadi dalam berbagai aspek kehidupan manusia yang prosesnya sangat cepat tentunya dilatarbelakangi oleh dunia informasi, terlebih informasi yang tersedia sekarang ini sudah tersaji dalam bentuk digital sehingga memudahkan pengguna informasi dalam mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Dengan perkembangan informasi yang demikian dahsyat sehingga mampu mengubah segala fenomena sosial dan peradaban manusia, maka setiap individu akan berlomba-lomba dan berkompetensi untuk menjadi unggul dalam menguasai informasi. Teknologi informasi sangat memiliki peran penting dalam perubahan ataupun transformasi yang terjadi di masyarakat. Transformasi yang dimaksud meliputi bebagai aspek baik dari segi ekonomi, hingga agama maupun budaya. Oleh karena itu, kita sekarang hidup di era yang mana segala aspek kehidupan dapat saling berhubungan satu sama lainnya, dunia yang menyajikan tensi yang stabil dalam bersaing dan dunia dengan segala macam kemungkinan yang ada di mana saja. Alkulturasi budaya dan agama juga sangat mempengaruhi proses tersebut. Seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi informasi yang kian berkembang ini ditandai dengan era digitalisasi di mana-mana. Masyarakat mampu mengaskes informasi dari mana saja tanpa adanya batasan apapun. Hal ini sesuai dengan konsep dunia virtual di mana kita mengakses sesuatu yang nyata namun tidak konkrit. Hal ini juga turut mewarnai corak masyarakat Indonesia yang telah dipengaruhi oleh konsep virtual tersebut sehingga disebut masyarakat virtual. Persoalan bangsa pada masa kini adalah hilangnya sejumlah kearifan lokal dari hati dan jiwa masyarakat, karena sudah dipengaruhi oleh budaya modern yang kian lama terus menggeser kearifan budaya lokal. Arus modernisasi yang paling berpengaruh terhadap perubahan nilai-nilai budaya bangsa adalah kekuatan budaya global yang beorientasi pada budaya pasar, hedonis, materialistis. Segala sesuatu dinilai dari segi materi sehingga orientasi terhadap nilai materialistik inilah yang mendistorsi berbagai aspek sosial yang ada di masyarakat tak terkecuali aspek hukum, sosial, politik, hingga seni budaya. Problematika inilah yang masih sering kita temui di masyarakat khususnya masyarakat sekarang yang disebut masyarakat virtual. 2. Rumusan Masalah: a. Bagaimana alkulturasi antara agama, budaya dan masyarakat virtual? b. Bagaimana implementasi dari Agama, dan Budaya pada Masyarakat Virtual? 3. Kajian Literatur a. Agama Islam Agama Islam merupakan agama yang universal, berlaku di segala tempat dan zaman (Shalihun likulli al-alamin). Keyakinan bahwa Islam sebagai agama yang universal membawa berbagai konsekuensi antara lain bisa dianut oleh berbagai bangsa dan masyarakat dengan latar belakang yang berbedabeda. Sebagai agama yang ingin menyejahterahkan umat manusia, maka ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis senantiasa berorientasi pada kehidupan yang dinamis, menghargai akal pikiran, seimbang dalam memenuhi kebutuhan spiritual dan material, mengembangkan kehidupan sosial, kemitraan, anti feodalistik, mengu-tamakan persaudaraan, berakhlak mulia hingga kecintaannya terhadap kebersihan. Perlu dilakukan usaha yang sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari merupakan definisi dari studi Islam atau kajian Islam. Secara singkat studi Islam dapat dikatakan sebagai usaha-usaha ataupun tindakan yang dilakukan untuk mendalami atau mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan agama Islam. b. Budaya dan Informasi Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh suatu kelompok tertentu dan diwariskan secara turun-temurun. Keanekaragaman budaya merupakan simbol perbedaan kultur dan kebanyakan komunitas etnik sering kali memberikan pembenaran pada budaya sebaga identitas mereka. Budaya tidak bisa dipahami sebagai suatu hukum kebiasaan belaka. Keberagaman makna yang terwujud dalam budaya menghasilkan cita rasa makanan, desain arsitektur, gaya berbu-sana, dialek yang digunakan dalam berinteraksi serta alat maupun pelengkap dalam upacara kebudayaan tertentu. Perkembangan kebudayaan juga tidak bisa terlepas dari perkembangan teknologi informasi yang telah menunjukkan kemajauan sangat cepat. Kemajuan ini telah menyebabkan manusia lebih mudah untuk berhubungan satu sama lain, Informasi dan peristiwa yang terjadi berbagai belahan dunia dengancepat dapat diketahui oleh manusia di benua lain. Untuk mengefektifkan lingkungan yang berbasis literasi informasi maka kita harus dapat belajar, bekerja, berkomunikasi dengan orang lain, berinteraksi dengan pemerintah yang mana kita akan membutuhkan kemampuan yang dapat memberikan jalan untuk memiliki kompetensi khusus dalam berkompetensi mewujudkan tujuan kita di lingkungan masyarakat. c. Masyarakat Virtual Nomina virtual berasal dari bahasa latin virtus yang berarti kekuatan atau ketahanan. Pada masa abad pertengahan, virtus berubah menjadi virtualis dan dapat dipahami sebagai kata kebaikan seperti yang kita pahami saat ini. Seorang yang virtual adalah apa yang kita pahami dalam penggunaan yang lebih kontemporer seperti seorang yang memiliki kua-litas menonjol, memiliki kelebihan fisik atau kapasitas; efektif dalam hal kualitas atau seorang yang mampu memberikan pengaruh-pengaruh tertentu. Jadi, masyarakat virtual merupakan seorang yang memiliki kelebihan fisik dalam mengakses dunia virtual yakni dunia yang terasa nyata namun tidak memiliki substasi yang konkret.
Method
Makalah ini menggunakan pendekatan konseptual dengan mengana-lisis data-data yang ada melalui studi literatur yang berkaitan dengan fokus yang diteliti. Literatur yang digunakan adalah sumber primer dan sekunder yakni buku-buku dan beberapa jurnal yang mengkaji pokok pikiran yang sama.
Discussion
1. Alkulturasi antara Agama, Budaya dan Masyarakat Virtual Dialektika antara agama dan budaya di masyarakat muslim secara umum melahirkan perspektif yang subjektif. Sebagian sangat bersemangat untuk “membersihkan” agama dari kemungkinan alkulturasi budaya setempat, sebagian berlomba-lomba untuk mendialekkan kedua aspek tersebut. Keadaan ini berkembang secara periodik dari masa ke masa. Terlepas dari keyakinan masing-masing pemahaman, yang jelas potret keberagaman yang terjadi terus berkembang semakin menunjukan bahwa alkuturasi yang terjadi kian tumbuh subur di masyarakat. Bentuk dialektika yang dapat penulis pahami adalah ketika kedua fokus tersebut berkolaborasi, maka akan melahirkan nilai agama dan kebudayaan tertentu seperti corak keislaman lokal. Keberagaman kebudayaan yang ada merupakan hasil kombinasi dari berbagai aspek kehidupan yang berkembang di masyarakat. Aspek-aspek inilah yang nantinya akan mempengaruhi agama dan budaya itu sendiri. Aspek-aspek yang dimaksud akan berhubungan dengan keadaan sosial, politik, ekonomi, hingga perkembangan teknologi informasi. Pluralisme agama akan sangat dipengaruhi oleh 2 faktor yakni faktor internal (ideologis) dan faktor eksternal. Faktor internal ini muncul akibat dari tuntutan akan kebenaran yang mutlak dari agama-agama itu sendiri baik dalam masalah aqidah, sejarah maupun dalam masalah keyakinan. Faktor berikutnya yang mempengaruhi pluralisme agama adalah faktor eksternal yang kuat dan mempunyai peran kunci dalam menciptakan iklim yang kondusif dan lahan yang subur bagi berkembangnya teori pluralisme agama. yaitu faktor sosio-politis. Berkembangnya wacana-wacana sosio-politis, demokrasi dan nasionalisme yang telah melahirkan sistem negara bangsa dan kemudian mengarah kepada apa yang sekarang ini disebut dengan globalisasi yang merupakan hasil praktis dari sebuah proses sosial dan politis yang berlangsung kurang lebih tiga abad. Proses ini muncul sejak pemikiran manusia mengenal “liberalisme” yang menyuarakan kebebasan, toleransi, persamaan dan pluralisme. Liberalisme kemudian menjadi ikon dan simbul setiap pergerakan sosio-politis dalam menentang segala bentuk kezaliman dan kesewenangwenangan. Hingga muncul dalam kamus sosial-politik suatu istilah yang disebut “demokrasi”. Hasil pluralisme yang terjadi dalam agama merupakan hasil alkulturasi antara sosial budaya dan aspek politik yang ada dan terus berkembang di masyarakat. Hal ini memicu para pemikir untuk melahirkan gagasan dan ide baru dalam berkontribusi di ranah teori pluralisme sehingga keberadaan aspek pluralisme agama terus eksis dan mengikuti perkembangan yang ada. Dua hal yang perlu dipahami bahwa pluralisme agama ini dapat muncul di permukaan karena dipengaruhi oleh kolaborasi antara dua konsep utama yakni konsep liberalisme yang dikombinasikan dengan konsep demokrasi. Gambar 1. Siklus Alkulturasi Budaya dan Agama Gambar tersebut mendeksripsikan alur tentang bagaimana siklus alkulturasi budaya dan agama yang menghasilkan keanekaragaman (plural) agama di mana hal ini dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan eksternal. Secara bersamaan kedua faktor tersebut didukung oleh paham liberalisme dan demokrasi yang mana paham tersebut juga sama-sama mempengaruhi aspek pluralisme sehingga apabila digambarkan akan membentuk siklus seperti gambar di atas. Pada masyarakat virtual pluralisme antara kebudayaan dan agama akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi yang ditandai oleh arus globalisasi informasi yang terus berkembang pesat. Konsep awal yang diusung oleh dunia virtual adalah tentang sesuatu yang tidak nyata, namun arus globalisasi yang menyempurnakan dunia teknologi informasi digital maka perlahan mengubah konsep virtual yang tidak nyata itu tadi. Dengan bantuan teknologi informasi yakni komputer, maka data yang bergerak secara konvensional dapat diverifikasikan untuk kebanyakan pengguna komputer dan hal ini merupakan suatu yang nyata sehingga konsep yang tadinya tidak nyata dapat berubah menjadi realitas yang nyata. Walaupun dari awal konsep ini memiliki arti yang tidak nyata, namun dalam realitas prosesnya dapat terasa nyata dan dapat menghasilkan sesuatu. Ketika orang saling berinteraksi di dunia online, maka hal pertama yang dirasakan bahwa hal tersebut terasa tidak nyata, tetapi jika ditelaah lebih jauh, interaksi yang dilakukan tersebut adalah benar adanya, namun interaksi yang terjadi merupakan bentuk interaksi yang tidak secara langsung. Pada hakikatnya virtual adalah nyata tapi tidak aktual. Diibaratkan memori adalah virtual: nyata tanpa menjadi aktual, ideal tanpa menjadi abstrak. Hal ini dapat digambarkan sebagaimana kita menyimpan kenangan suatu peristiwa yang aktual yang berkembang ideal dalam memori yang disebut virtual tersebut namun hakikatnya memori yang virtual ini mampu menyimpan kenangan yang nantinya sangat bernilai dalam perkembangan kebudayaan. Selanjutnya, penulis akan mencoba mengkaji agama, budaya dan masyarakat virtual melalui teori konstruksi sosial yang melibatkan proses eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi. Dalam skema konstruksi soisial dijelaskan bahwa eksternalisasi merupakan tahap penyesuaian diri dengan dunia sosialkultural sebagai produk manusia. Objektifikasi merupakan interaksi sosial dalam dunia intersubjektifikasi yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Sedangkan untuk tahap terakhir yakni internalisasi, adalah tahapan di mana individu mengidentifikasikan diri dengan lembaga-lembaga sosial tempat individu menjadi anggotanya. Konstruksi Sosial Peter L Berger, Thomas Luckmann Dalam pembahasan makalah ini, proses eksternalisasi agama yang berada pada tahap ini diekternalisasikan agar mampu beradaptasi dengan dunia sosiocultural(kebudayaan). Karena agama bersifat dinamis, maka proses adaptasi tersebut dapat berjalan. Setelah itu, proses selanjutnya adalah objektifikasi, bagaimana kita mengkombinasikan antara agama dan sosio-cultural sehingga menjadi aktualisasi tindakan yang nantinya menjadi keberagaman budaya. Tahapan selanjutnya adalah setelah mengeskter-nalkan dan mengobjekkan aspek-aspek tersebut maka kita akan mengin-ternalisasikan kembali aspek tersebut sehingga akan menghasilkan realitas sosial yang juga akan diinternalisasikan oleh masyarakat virtual, karena masyarakat virtual merupakan hasil realitas yang dibangun dalam proses interaksi sosial yang ada. Realitas sosial yang dibangun dalam masyarakat virtual biasanya tentang isu-isu tertentu yang akan berkaitan dengan isu sosial, agama, budaya, hingga politik. Mereka dapat mengakses isu-isu tersebut melalui media canggih yang disebut smartphone, ataupun komputer yang memungkinkan mereka dapat mengakses informasi/isu yang ada di mana pun tanpa ada batasan ruang dan waktu. 2. Implementasi dari Agama, dan Budaya pada Masyarakat Virtual Implementasi akan ketiga aspek bahasan di atas akan mengarah pada kelebihan (keberhasilan) dan kekurangan (kegagalan) ketika ketiga aspek tersebut teralkulturasikan. Hal ini terjadi karena bisa saja budaya dan agama dapat teralkulturasi dengan baik tanpa mengalami hambatan maupun masalah ketika berproses. Namun tidak selamanya proses tersebut berjalan mulus. Ada kalanya ketika proses alkulturasi budaya dan agama berlangsung tidak berjalan lancar sehingga menyebabkan kegagalan alkuturasi budaya dan agama. Bentuk keberhasilan alkulturasi budaya dan agama akan penulis paparkan melalui penyerapan nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan beragama di Medan. Beberapa faktor yang mendukung terwujudnya kehidupan bersama yang harmonis di Sumatra Utara yang mana latar belakang etnis yang beragam tidak menjadi faktor penghambat keharmonisan tersebut. Faktor pendukung yang dimaksud adalah di kalangan masyarkat Batak yang notabene merupakan etnis dominan – terdapat keunikan tersendiri, yakni cross-link antara latar belakang etnis dengan latar belakang agama; kesamaan agama dengan etnis yang berbeda maupun sebaliknya menyebabkan masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu etnis dan agama. Peta kearifan lokal yang bersentuhan dengan aturan, tata cara, antarkomunitas disimpulkan dalam beberapa poin yakni pertama kearifan lokal yang beorientasi pada perluasan domain persaudaraan pada etnis Melayu dan Batak Toba. Kedua, penekanan terhadap spirit persamaan nasib dan kepentingan harmoni sosial. Ketiga, pemeliharaan hubungan antara kedua etnis dominan tersebut diatur dalam tradisi yang bervariasi untuk memelihara persaudaraan yang sudah terbangun. Keempat, permasalahan di kalangan Melayu dan Batak Toba, dan Jawa biasanya melibatkan tokoh masyarakat pemerintah setempat sesuai dengan prinsip masa lalu yang diwariskan melalui tradisi yang terus berlangsung. Walaupun zaman terus berubah, era globalisasi kian berkembang, teknologi informasi yang terus terperbaharui, tidak mempengaruhi kearifan lokal yang ada di Sumatra Utara sehingga jarang sekali menim-bulkan konflik karena keselurahan tindakan masyarakat di dunia virtual tersebut tetap diatur oleh seperangkat aturan yang memiliki tata cara tersendiri dalam mengimplementasikan interaksi sosial yang ada, guna menyelasarskan kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Dunia virtual yang sekarang ini dapat membawa dampak negatif pada masyarakat apabila diseimbangkan dengan aspek agama dan budaya leluhur yang berkembang secara turun-temurun dapat menghindarkan masyarakat dari kegagalan alkulturasi budaya yang nantinya akan berujung pada konflik sosial. Berbanding terbalik dengan kearifan lokal di Sumatra Utara, kegagalan alkulturasi budaya dan isu agama terjadi di Lampung. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kegagalan akulturasi budaya antara suku Balinuraga dengan Lampung yang dimulai prosesnya dari ketiadaan ruang sosial bersama diyakini sebagai akar masalah konflik Lampung. Sayangnya, masalah ini sering kali tidak dilihat oleh para pemangku kepentingan dan lembaga kemanusiaan dalam proses penyelesaian konflik Lampung. Program aksi yang berusaha memupuskan konflik, khususnya membuka ruang social bersama dari dua belah pihak secara jangka panjang tidak begitu terlihat. Jangankan untuk akulturasi budaya yang membawa harmoni,interaksi sosial di antara mereka masih bersifat sempit. Padahal hal ini penting dilakukan untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada pengertian hidup bersama pada wadah dan identitas kewarga-negaraan Indonesia. Dengan jalan membuka interaksi sosial bersama pada ruang sosial yang memungkinkan proses akulturasi budaya akan terjadi. Seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya bahwa tidak selamanya alkulturasi antara agama dan budaya dapat berjalan lancar, karena tiap masyarakat yang memiliki latar belakang agama, etnis yang berbeda memiliki ideologi yang berbeda pula. Apabila perbedaan ini terus berkembang tanpa adanya proses mediasi antara subjek maupun objek yang bersangkutan, maka alkulturasi budaya yang ingin dibangun tidak dapat terealisasikan sehingga menimbulkan kegagalan alkulturasi. Dunia modern yang identik dengan virtualisasi apabila tidak dapat di-balance-kan dapat menimbulkan konflik sosial pada masyarakat virtual yang apabila proses alkulturasi antara budaya dan agama tidak dapat dikolaborasikan dengan sempurna. Komunkasi yang baik antara tokoh agama, masyarakat, pemerintah merupakan salah satu cara untuk meminimalisir kegagalan tersebut.
Conclusion
Agama, budaya, masyarakat merupakan aspek penting yang mengambil peran utama dalam menciptakan keanekaragaman kebudayaan suatu bangsa. Pluralisme yang terjadi berasal dari proses alkulturasi antara kedua aspek tersebut. Keberhasilan suatu model alkulturasi budaya dan agama akan sangat didukung oleh perkembangan teknologi informasi yang mempengaruhi masyarakatnya untuk berkembang di ranah virtual atau modernisasi. Pluralisme yang disinggung sebelumnya dipengaruhi oleh dua faktor yakni internal dan eksternal serta dipengaruhi paham liberalisme dan demokrasi. Akulturasi budaya juga dapat dikaji melalui teori konstruksi sosial sehingga dalam pengimplementasiannya, akan terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi yakni keberhasilan alkulturasi antara kedua aspek tersebut, atau sebaliknya yaitu kegagalan terhadap proses alkulturasi agama dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat virtual. Diharapkan dengan memahami proses alkulturasi antara agama, budaya dan masyarakat virtual, kita mampu mengurangi kegagalan alkuturasi mengenai aspek-aspek tersebut demi menciptakan masyarakat yang harmonis di era modernisasi saat ini.