TANTANGAN DAN KOMPETENSI PUSTAKAWAN DI ERA DIGITAL
N/A
Abstrak
Tantangan keberadaan perpustakaan di era digital semakin kompleks. Tantangan tersebut, antara lain: 1) semakin banyaknya informasi; 2) mengelola berbagai macam bentuk bahan pustaka; 3) semakin kompleksnya sumber-sumber informasi; 4)pengguna perpustakaan berupa generasi digital. Agar dapat tetap eksis keberadaannya perpustakaan harus berperan aktif menunjukkan fungsinya sebagai pusat informasi, kolaborasi, komunikasi, dan penelitian. Pustakawan sebagai salah satu komponen utama di perpustakaan diharapkan memiliki kompetensi yang memadai dan terus ditingkatkan dalam menghadapi persaingan di era digital ini.
Keywords:
digital era
· challenge
· competence
· librarian
Introduction
Tantangan keberadaan perpustakaan di era digital semakin bertambah kompleks. Perpustakaan tidak lagi hanya bersaing dengan lembaga-lembaga penyedia informasi yang sejenis. Akan tetapi, persaing yang paling mengancam kedudukan dan peran perpustakaan saat ini adalah lautan informasi yang terus berkembang dinamis dan tak terbatas. Agar keberadaannya dapat tetap eksis, perpustakaan mau tidak mau harus mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Di era digital, termasuk juga kehadiran internet, menyebabkan peran perpustakaan mengalami banyak perubahan. Perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi tidak lagi hanya sebagai lembaga yang mengumpulkan bukubuku dan menunggu kehadiran pemustaka datang ke perpustakaan untuk menggunakan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan, tetapi juga harus berperan aktif menunjukkan fungsinya sebagai pusat informasi, kolaborasi, komunikasi, dan penelitian. Agar dapat melakukan hal-hal tersebut, perpustakaan seharusnya mempunyai sumber daya manusia yang memadai. Pustakawan sebagai salah satu komponen utama di perpustakaan dituntut untuk memiliki dan meningkatkan berbagai kompetensi yang dimiliki agar perpustakaan dapat terus eksis. Kreativitas, ide, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh seorang pustakawan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah perpustakaan. Untuk itu, kemampuan dan keterampilan seorang pustakawan harus selalu ditingkatkan dan diperbaharui. Kemampuankemampuan dasar pustakawan, seperti katalogisasi, klasifi kasi, tajuk subjek, dan sebagainya tidak dihilangkan, tetapi harus diupgrade, disesuaikan dengan perkembangan era digital. Selain itu, ditambah lagi dengan kemampuan lain, seperti mengorganisasi berbagai jenis bahan pustaka dan kemampuan menelusuri sumber-sumber informasi melalui teknologi informasi Pengguna potensial perpustakaan pada saat ini adalah mereka yang dikenal sebagai “net generation”. Salah satu karakteristik net generation yang paling menonjol adalah mereka sudah terbiasa dengan teknologi informasi sehingga memiliki kemampuan yang memadai dalam memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkannya. Dengan kemampuan yang dimiliki, net generation lebih memilih menggunakan media internet untuk mencari informasi yang mereka butuhkan dibandingkan mencarinya di perpustakaan. Di sinilah tantangan bagi para pustakawan di era digital untuk memberikan pelayanan yang baik bagi pemustakanya, khususnya net generation tersebut. Berdasarkan penjelasan diatas, rumusan masalah artikel ini adalah tantangan apa saja yang dihadapi oleh pustakawan di era digital dan kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh pustakawan di era digital?
Discussion
Pustakawan di Era Digital Dalam lima hukum dasar perpustakaan yang dikemukakan oleh Ranganathan,2 hukum kelima adalah library is growing organism. This law focused more on the need for internal change than on changes in the environment itself. Dr. Ranganathan argued that library organizations must accommodate growth in staff, the physical collection, and patron use. This involved allowing for growth in the physical building, reading areas, shelving, and in space for the catalog. Hal ini berarti keberadaan perpustakaan akan terus berkembang dinamis mengikuti perubahan, termasuk juga di era digital seperti saat ini. Hadirnya teknologi informasi di perpustakaan, termasuk internet telah membuat perpustakaan berubah dalam banyak hal. Misalnya saja, untuk layanan yang awalnya bersifat manual, perlahan kini mulai beralih menuju otomatisasi. Selain itu, koleksi perpustakaan yang awalnya berupa koleksi cetak, seiring dengan hadirnya internet, koleksi perpustakaan juga meliputi koleksi digital, yang membutuhkan keahlian khusus untuk mengelolanya. Agar dapat terus berkembang, semua komponen di perpustakaan harus selaras dalam bekerja. Faktor sumber daya manusia dalam hal ini adalah pustakawan, mau tidak mau harus berperan aktif mengikuti perkembangan masyarakat. Kemampuan pustakawan untuk berubah dan beradaptasi sesuai dengan perkembangan masyarakat menjadi salah satu hal yang penting. Di era digital ini, pustakawan tidak lagi hanya duduk menunggu pemustaka datang ke perpustakaan memanfaatkan koleksi yang dimiliki, akan tetapi saat ini pustakawan diharapkan juga dapat berperan aktif sebagai jembatan/fasilitator antara sumber-sumber informasi dengan pemustaka. Pemustaka di era digital ini adalah mereka yang dikenal sebagai internet generation atau net generation. Tapscott3 mengemukakan karakteristik net generation sebagai berikut: 1. Freedom (kebebasan) Net generation menginginkan kebebasan. Adanya internet membuat net generation memiliki kebebasan untuk selalu dapat memilih apa yang akan dilakukannya, ingin menjadi siapa, dan sebagainya. 2. Customization/personalize Net generation suka mengubah hal yang sudah standar menjadi sesuai dengan dirinya (personalize) dan menjadikan miliknya. 3. Scrutiny Karakteristik yang berkaitan dengan sikap kritis untuk membedakan informasi yang terpercaya (reliable) dan yang tidak. Net generation suka mengkaji informasi apapun dengan saksama, termasuk asal-usul sumber informasi tersebut. Hal ini dikarenakan mereka dekat internet dan memiliki pandangan alternatif tentang beragam informasi yang ada di internet. 4. Integrity Walaupun tumbuh dan berkembang di era kemajuan teknologi informasi, net generation tetap memiliki integritas yang kuat, sadar, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Mereka menekankan pada kejujuran dan keterbukaan. 5. Collaboration Net Generation merupakan generasi yang terbiasa melakukan kolaborasi (collaboration), berjejaring dengan berbagai pihak. Umumnya dilakukan melalui jejaring sosial, seperti facebook, twitter, instagram, dan sebagainya untuk kepentingan upgrade informasi yang dimilikinya. 6. Entertainment Internet memberikan fungsi hiburan untuk menyenangkan diri secara online. Net generation mudah dalam memperoleh hiburan dan berita-berita paling up to date dalam waktu yang singkat. Hal ini juga berarti bahwa net generation biasa “mencampur” hiburan dengan pekerjaan. 7. Speed Net Generation fokus terhadap kecepatan dan respons instan karena adanya kecanggihan teknologi informasi yang dapat diakses tanpa batasan ruang dan waktu sehingga penyebaran informasi dapat dilakukan secara singkat. 8. Innovationn Yang terpenting darii kemunculan net generation adalah adanya inovasi yang bersifat dinamis, yaitu adanya ide-ide baru, temuantemuan baru, dan bahkan masa depan baru. Tantangan dan Kompetensi Pustakawan di Era Digital Di era digital ini, tantangan yang dihadapi oleh sebuah perpustakaan, antara lain adanya informasi tanpa batas, semakin beragamnya bahan pustaka, semakin kompleksnya sumbersumber informasi yang ada, serta pengguna perpustakaan pada saat ini adalah para net generation. Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, maka dibutuhkan seorang pustakawan profesional. Pustakawan merupakan sebuah profesi. Sebagaimana profesi lainnya, pustakawan merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Suatu profesi tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau dipersiapkan untuk melakukan profesi tersebut. Sulistyo-Basuki4 menjelaskan mengenai pustakawan sebagai profesi mempunyai syarat, antara lain: 1. Adanya sebuah asosiasi atau organisasi keahlian. 2. Adanya struktur dan pola pendidikan yang jelas. 3. Adanya kode etik. 4. Adanya tingkat kemandirian. 5. Profesi pustakawan berorientasi pada jasa. Sementara itu, Undang-Undang nomor 43 TAHUN 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Berdasarkan dua defi nisi di atas, maka yang disebut profesi haruslah berlandaskan pada jenjang pendidikan formal dan memiliki etika serta tanggung jawab yang menjadi panduan dalam menjalankan profesi tersebut. Profesional pustakawan berkaitan dengan adanya kompetensi karena pada hakikatnya pustakawan dikatakan profesional apabila dia memiliki kompetensi di bidang perpustakaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia5 menyebutkan defi nisi kompetensi sebagai kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu). Dalam tulisan dari Assoc. Prof. Dr. Christopher Soo-Guan Khoo6 yang berjudul Competencies for New Era Librarians and Information Proffesionals, menyebutkan kompetensi pustakawan di era teknologi informasi secara garis besar meliputi sembilan hal, meliputi: 1. Traditional LIS skills, extended to the electronic environment 2. Information management 3. IT-related skills 4. Transferable/generic skills 5. Teaching, training and coaching 6. Management and leadership 7. Entrepreneurship 8. Attitudes and personal traits 9. Other skills/knowledges Sementara itu, berdasarkan Standar Kompetensi Kinerja Indonesia7 bidang perpustakaan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja pustakawan diwujudkan dalam tiga kelompok unit kompetensi, yaitu kelompok kompetensi umum, kelompok kompetensi inti dan kelompok kompetensi khusus. Penjelasannya masing-masing sebagai berikut. 1. Kompetensi Umum Kompetensi Umum adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan, yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas perpustakaan, meliputi: a. Mengoperasikan komputer tingkat dasar b. Menyusun rencana kerja perpustakaan c. Membuat laporan kerja perpustakaan 2. Kompetensi Inti Kompetensi inti adalah kompetensi fungsional yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan dalam menjalankan tugas-tugas perpustakaan. Kompetensi inti mencakup unit-unit kompetensi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas inti dan wajib dikuasai oleh pustakawan. Kompetensi inti, meliputi: a. Melakukan seleksi bahan perpustakaan. b. Melakukan pengadaan bahan perpustakaan. c. Melakukan pengatalogan deskriptif. d. Melakukan pengatalogan subjek. e. Melakukan perawatan bahan perpustakaan. f. Melakukan layanan sirkulasi. g. Melakukan layanan referensi. h. Melakukan penelusuran informasi sederhana. i. Melakukan promosi perpustakaan. j. Melakukan kegiatan literasi informasi. k. Memanfaatkan jaringan internet untuk layanan perpustakaan. 3. Kompetensi Khusus Kompetensi khusus merupakan kompetensi tingkat lanjut yang bersifat spesifi k, meliputi: a. Merancang tata ruang dan perabot perpustakaan. b. Melakukan perbaikan bahan perpustakaan. c. Membuat literatur sekunder. d. Melakukan penelusuran informasi kompleks. e. Melakukan kajian perpustakaan. f. Membuat karya tulis ilmiah. ANALISIS Kehadiran teknologi informasi, khususnya internet telah membawa perubahan di segala bidang, termasuk perpustakaan. Sebagaimana diutarakan oleh Ranganathan library is growing organism, maka keberadaan perpustakaan akan selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman. Ketika memasuki era digital, di mana informasi menjadi lautan tak terbatas dan pengguna perpustakaan adalah mereka yang dikenal sebagai net generation, maka perpustakaan menghadapi berbagai macam tantangan baru yang semakin kompleks. Adapun beberapa tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan antara lain: 1. Semakin banyaknya informasi Di era digital, informasi melimpah ruah. Internet sering diibaratkan sebagai hutan belantara yang sangat luas. Berbagai informasi tersedia di dalamnya dan bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja dengan cepat. Akibat informasi yang melimpah ruah ini, sulit untuk memutuskan mana informasi yang berguna dan penting. Tingkat validitas kebenaran suatu informasi pun seringkali menjadi samar. Kemampuan menyaring, memadukan, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka menjadi salah satu hal yang penting dimiliki oleh pustakawan. 2. Mengelola berbagai macam bentuk bahan pustaka Koleksi bahan pustaka yang ada saat ini tersedia dalam berbagai format. Baik format digital maupun nondigital, setiap bahan pustaka mempunyai “usia” penggunaan. Akan tetapi, ketika bahan pustaka disimpan dalam format digital, maka “usia” penggunaan bahan pustaka tersebut akan lebih cepat karena dengan teknologi informasi yang terus berkembang, format penyimpanan juga akan terus berubah mengikuti teknologi. Kemampuan pustakawan untuk mengelola berbagai macam bahan pustaka ini menjadi salah satu hal yang penting sehingga diharapkan bahan pustaka dapat terus digunakan. 3. Semakin kompleknya sumber-sumber informasi Informasi di era digital seringkali berasal dari berbagai macam sumber. Pustakawan selain dituntut untuk dapat menggunakan kemampuannya dalam menelusuri sumbersumber informasi, mereka juga diharapkan dapat mengajarkan kemampuan tersebut kepada pemustaka. Layanan bimbingan kepada pemustaka ini penting dilakukan. 4. Pengguna perpustakaan berupa generasi digital Generasi digital atau yang lebih dikenal dengan internet generation atau net generation memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dalam berbagai survei yang telah dilakukan, pola pencarian informasi generasi digital ini juga berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi ini sudah terbiasa menggunakan teknologi informasi, bersikap lebih kritis aktif, dan cenderung menginginkan layanan perpustakaan yang serba cepat dan seketika. Untuk dapat menarik net generation, perpustakaan perlu melakukan pengembangan perpustakaan dari sisi teknologi informasi, fasilitas fi sik, koleksi, maupun layanan perpustakaan. Berbagai tantangan yang sudah dijelaskan di atas membuat perpustakaan sebagai pusat informasi harus selalu berbenah diri. Kehadiran seorang pustakawan profesional sangat dibutuhkan. Berdasarkan penjelasan mengenai kompetensi pustakawan, maka pada era digital ini kompetensi yang dibutuhkan pustakawan, meliputi: 5. Kemampuan mencari dan menggunakan sumber-sumber informasi Merupakan kemampuan untuk menemukan informasi dengan menggunakan teknologi informasi, seperti internet. Sumber informasi saat ini tidak hanya berupa buku, jurnal, majalah, dan koran dalam bentuk tercetak, tetapi juga termasuk online media, seperti e-book dan e-journal. 6. Kemampuan melakukan pengembangan koleksi Koleksi perpustakaan di era digital tidak hanya berbentuk tercetak, seperti buku teks, majalah, dan jurnal, tetapi juga meliputi koleksi dalam bentuk online, seperti jurnal, buku, dan majalah yang jumlahnya tidak terhitung. 7. Kemampuan mengelola informasi penyimpanan dan temu kembali informasi. Merupakan kemampuan pustakawan dalam mengelola sumber-sumber informasi yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Termasuk juga menyimpan dan menemukan kembali koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan, baik koleksi fi sik maupun koleksi online. Dengan banyaknya informasi yang tersedia di era digital ini, pustakawan dituntut untuk dapat mengelola berbagai jenis informasi tersebut, menemukannya kembali ketika dibutuhkan sekaligus menyajikan sesuai dengan kebutuhan pemustaka 8. Kemampuan berkomunikasi Merupakan kemampuan pustakawan berkomunikasi dengan rekan sejawat, seprofesi, ataupun dengan bidang lain. Di era digital ini, kolaborasi dan networking merupakan hal yang sangat penting. Dengan komunikasi yang baik, maka kolaborasi dan networking akan dapat dilakukan, baik antara pustakawan dengan pustakawan atau pustakawan dengan bidang lain, seperti dosen, IT, dan lainnya. Kemampuan pustakawan meyediakan data, menganalisis, dan menyajikan data ketika presentasi atau kemampuan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan juga termasuk dalam berkomunikasi kemampuan pustakawan. Selain penjelasan di atas, secara keseluruhan perpustakaan juga tetap harus mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan net generation, baik kebutuhan fi sik, seperti fasilitas dan koleksi maupun kebutuhan nonfi sik, misalnya saja menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan net generation.
Conclusion
Tantangan keberadaan perpustakaan di era digital semakin bertambah kompleks. Adapun beberapa tantangan yang dihadapi ,antara lain adanya informasi yang tanpa batas, semakin beragamnya bahan pustaka, semakin kompleksnya sumber-sumber informasi yang ada, serta pengguna perpustakaan pada saat ini adalah para net generation. Agar perpustakaan dapat eksis sebagai pusat informasi, kolaborasi, dan penelitian, perpustakaan haruslah mempunyai sumber daya manusia yang memadai. Pustakawan sebagai salah satu komponen penting di perpustakaan diharapkan memiliki dan meningkatkan berbagai kompetensi. Kreativitas, ide, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh seorang pustakawan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah perpustakaan. Pustakawan yang profesional tentu saja memiliki berbagai kompetensi yang dapat digunakan untuk menjawab berbagai tantangan yang ada. Dengan demikian, perpustakaan dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal di era digital.