STRATEGI KEPEMIMPINAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI MENGHADAPI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Abstrak
Perpustakaan perguruan tinggi dihadapkan dengan berbagai tantangan seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Ada lima tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan yakni hubungan antara perpustakaan dengan masyarakat kampus, penggunaan anggaran perpustakaan, menjaga pustakawan mengikuti perkembangan teknologi informasi; dan menjaga keseimbangan antara koleksi digital dan bahan cetak dan berbagai layanan yang ada di perpustakaan. Pemimpin perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk mempunyai visi, harus berintegritas/ kejujuran, dapat diajak untuk bekerja sama, mempunyai keterampilan kepemimpinan dan keterampilan dalam bidang manajemen serta dituntut terampil dalam berkomunikasi. Agar kepemimpinan perpustakaan dapat efektif maka diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Ledakan informasi teknologi, sumber daya dan layanan menuntut peningkatan tingkat layanan. Hal yang demikian tentunya membutuhkan pemimpin perpustakaan yang memiliki kompetensi dan pengetahuan baru yang selalu meningkatkan keahlian profesi untuk kelayakan profesi serta perlunya pengembangan keterampilan.
Keywords:
leadership
· university library
· ICT
Introduction
Perkembangan teknologi informasi dan ledakan informasi yang terjadi saat ini telah mengubah seluruh aspek kehidupan manusia. Perkembangan teknologi informasi memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk mengakses informasi yang terjadi di dunia ini. Hal yang demikian tentunya juga mempengaruhi terhadap kehidupan organisasi salah satunya adalah organisasi perpustakaan. Kehidupan masyarakat global saat ini menjadi tantangan bagi perpustakaan. Perpustakan khususnya perpustakaan perguruan tinggi dengan segenap potensi yang ada seharusnya mampu menempatkan diri dalam konteks lingkungan strategis yang selalu berubah. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat dokumentasi dan informasi serta sumber literatur mendukung Tridharma Perguruan Tinggi dalam pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Perpustakaan adalah yang pertama merasakan dampak dari ledakan informasi, karena untuk menyimpan, mengelola dan menyebarluaskan informasi tersebut menjadi tanggungjawab perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi mempunyai dampak bagi perpustakaan yakni merubah berbagai hal mulai dari tempat penyampaian informasi dari yang berbasis kertas dan cetak menjadi multi media serta berbagai layanan berubah dari manual ke otomatis. Sehubungan dengan itu sudah saatnya suatu perubahan pada organisasi perpustakaan dioptimalkan yang secara spesifik berupa perubahan teknologi dalam bentuk otomasi perpustakaan. Perubahan organisasi bisa berupa perubahan teknologi, struktur, individu dan fisik yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan serta budaya baru. Untuk merubah itu semua perpustakaan memerlukan seorang yang mempunyai keterampilan kepemimpinan. Seorang pemimpin bagi sebuah organisasi ataupun lembaga apapun lainya dapat dikatakan sebagai nahkoda dari organisasi tersebut. Pemimpin merupakan orang yang akan membawa arah organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Begitu pula dengan pimpinan perpustakaan. Pemimpin perpustakaan akan berupaya mengarahkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan termasuk seluruh elemen dalam lembaga akan diberdayakan agar tujuan yang dicita-citakan tercapai. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai lembaga yang mendukung tercapainya visi dan misi perguruan tinggi sudah semestinya memiliki kinerja yang baik. Untuk itu perpustakaaan memerlukan kepemimpinan yang dapat membawa kearah yang akan membawa tujuan sebuah perguruan tinggi. Pada era digital, pemimpin perpustakaaan perguruan tinggi dihadapkan pada lima tantangan utama yakni pemimpin harus dapat membuktikan adanya hubungan yang kuat antara perpustakaan bagi masyarakat kampus (civitas akademika); dalam menjalankan anggaran perpustakaan, pemimpin harus dapat seefesien mungkin dalam penggunaannya; seorang pemimpin selalu menjaga pustakawannya selalu terlatih serta mengikuti perkembangan teknologi informasi; dan menjaga keseimbangan antara pengembangan sumber daya digital dan bahan cetak serta dapat menggantikan fasilitas yang telah usang untuk mengakomodasi teknologi baru perpustakaan digital, sumber daya, dan berbagai layanan yang ada di perpustakaan. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai jantungnya dari universitas perlu menemukan kembali jati diri dengan mempunyai peran dan tanggung jawab baru. Untuk membuktikan perlunya eksistensi perpustakaan, pemimpin perpustakaan harus dapat merubah peran perpustakaan serta mempunyai pustakawan yang mampu dalam memajukan pembelajaran dan penelitian di perguruan tinggi. Selain itu perpustakaan harus dapat menunjukkan kepada masyarakat kampus bahwa adanya hubungan yang kuat antara perpustakaan dengan hasil belajar siswa serta produktivitas fakultas dalam hal penelitian dan mengajar. Selain itu perpustakaan harus dapat bekerja sama dengan bagian-bagian yang ada di akademik untuk posisi pendidikan tinggi yang lebih kompetitif. Pemimpin perpustakaan perguruan tinggi harus dapat memposisikan perpustakaan dalam peran kepemimpinan kampus guna menggeser budaya kelembagaan dalam bidang-bidang seperti komunikasi ilmiah dan belajar. Pemimpin perpustakaan perguruan tinggi harus dapat memainkan peran yang penting dan berpengaruh termasuk dalam hal ini repositori data, publikasi, akses terbuka, hak cipta, kemitraan kolaboratif antar lembaga, dan penyebaran cepat pengetahuan baru. Perpustakaan perguruan tinggi harus menjalin hubungan kerja sama yang lebih erat dengan berbagai fakultas yang ada dalam rangka memproduksi dan penyebaran pengetahuan baru. Pemimpin perpustakaan perguruan tinggi mempunyai peran baru perpustakaan. Sudah banyak pemimpin perpustakaan perguruan tinggi yang berani mengubah peran perpustakaan menjadi sangat menantang. Hal yang paling utama dalam pemimpin perguruan tinggi adalah menciptakan sebuah organisasi yang berusaha untuk adanya perubahan yang terus-menerus. Hal ini merupakan tantangan besar karena banyak orang tidak menyukai perubahan. Berdasarkan pada permasalahan diatas maka perpustakaan perguruan tinggi dihadapkan berbagai tantangan. Untuk itu perpustakaan perguruan tinggi harus mempunyai seorang pemimpin yang dapat mencari solusi untuk menjawab tantangan. Dalam konteks ini timbul pertanyaan bagaimana menyiapkan kepemimpinan yang yang cocok dan dapat membawa organisasi untuk menjawab berbagai tantangan diatas? Sehubungan dengan permasalahan tersebut penulis berupaya memberikan solusi yang berlandaskan pada teori dan konsep kepemimpinan yang dapat membawa perpustakaan menghadapi perubahan
Discussion
1. Kepemimpinan Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang dapat memotivasi dan menginspirasi bawahan untuk mencapai tujuan dan meningkatkan tingkat kepercayaan staff dengan memberikan bantuan untuk mengembangkan standar dan norma yang tinggi. Seperti organisasi lainnya, perpustakaan perguruan tinggi perlu pemimpin yang memiliki kompetensi kepemimpinan yang efektif serta keterampilan untuk kepemimpinan masa depan. Adanya perkembangan yang inovatif menuntut profesi perpustakaan untuk mengidentifikasi kebutuhan perpustakaan perguruan tinggi guna membangun kepemimpinan yang kuat (Ross, 2013). Ditinjau dari perspektif administrasi, kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengubah teori dalam perilaku praktek dan pemimpin memainkan peran penting dalam mengubah ide menjadi dunia nyata, dan kepemimpinan adalah cara mempengaruhi penganut untuk mencapai tujuan mereka. Keterampilan dapat dikembangkan dengan menghadiri lokakarya dan melalui jaringan profesional yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan baru dan kompetensi. Namun, kepemimpinan yang sukses tidak hanya membutuhkan keterampilan tetapi juga latihan yang teratur, yang merupakan elemen penting bagi kepemimpinan yang sukses dan efektif. Sebagaimana Fallo dkk. (2011) menyatakan bahwa kepemimpinan yang sukses membutuhkan latihan yang sistematis dan konstan serta proses yang panjang dan prosedur untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan di abad dua puluh satu. Seorang pemimpin harus menunjukkan semangat, tekad yang kuat, dan kepercayaan diri untuk mencapai tujuan dan terlibat dengan para staffnya sukses serta memberikan kesempatan otorisasi dan kenyamanan di tempat kerja bagi karyawannya. Sedangkan menurut Robert Greenleaf (1977), kepemimpinan adalah tentang “perasaan alami” yaitu ingin melayani. Untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang harus memiliki keinginan untuk melayani. Keinginan untuk melayani mendorong satu ke dalam kepemimpinan. Walaupun ada atribut penting lainnya dari kepemimpinan, tentu keinginan untuk melayani adalah salah satu yang paling penting. Menjadi pemimpin perpustakaan perguruan tinggi, harus memiliki etos layanan yang kuat sehingga dapat membantu untuk merevitalisasi perpustakaan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada pengguna. 2. Kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin Ada beberapa karakteristik yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin perpustakaan. Karakteristik yang paling penting yang dibutuhkan untuk memimpin perpustakaan perguruan tinggi pada saat ini adalah: pemimpin harus mempunyai visi; pemimpin harus berintegritas/ kejujuran; pemimpin harus dapat diajak untuk bekerja sama; pemimpin mempunyai keterampilan kepemimpinan dan keterampilan dalam bidang manajemen dan pemimpin juga harus juga mempunyai keterampilan dalam berkomunikasi. a. Pemimpin mempunyai visi Seorang pemimpin yang mempunyai visi menjadi seorang yang visioner. Visioner berarti secara terusmenerus memperhatikan terhadap lingkungan sekitarnya, menganalisis dan menafsirkan dan mengembangkan visi untuk menuju arah yang jelas bagi perpustakaan. Visibilitas melibatkan banyaknya kegiatan kepemimpinan: mengambil posisi kepemimpinan; dengan tanggung jawab tinggi dan orang mengakui prestasi seseorang. Untuk meningkatkan visibilitas, pemimpin perpustakaan perguruan tinggi harus menemukan cara. Salah satu caranya dengan kegiatan utama yakni beasiswa. Pimpinan perpustakaan dapat melakukan penelitian dan hasil penelitian dipresentasikan di konferensi profesional atau dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Penelitian dan beasiswa tidak hanya meningkatkan keahlian profesional namun dapat meningkatkan visibilitas profesi. Keterlibatan dalam kegiatan perpustakaan yang bersifat nasional maupun internasional akan membantu pemimpin perpustakaan perguruan tinggi meningkatkan visibilitas. Sudah bertahun-tahun, pemimpin perpustakaan perguruan tinggi mendirikan banyak program dan proyek bertaraf internasional yang dirancang untuk memfasilitasi kerjasama perpustakaan. Kegiatan ini meliputi konferensi, seminar, lokakarya, program pertukaran perpustakaan dan lain-lain. Programprogram yang tersebut secara signifikan meningkatkan visibilitas pemimpin perpustakaan baik secara nasional dan internasional. b. Pemimpin harus berintegritas Sedangkan seorang pemimpin yang mempunyai integritas, artinya seorang pemimpin mempunyai kejujuran dan kepercayaan dari orangorang yang ada dalam perpustakaan maupun yang ada diluar perpustakaan. Orang-orang mempercayai terhadap apa yang dikatakan pemimpin serta sesuatu yang dilakukan pemimpin. Seorang pemimpin perpustakaan perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab kepada universitas mengenai kepengurusan keuangan, manusia dan sumber daya yang ada baik fasilitas dan koleksi perpustakaan. Hal ini tentunya menunjukan adanya kepemimpinan moral dalam konsep kepemimpinan. c. Pemimpin mengembangkan keterampilan komunikasi Salah satu tantangan utama dalam mencapai posisi kepemimpinan adalah kemampuan komunikasi, khususnya kemampuan membaca, menulis, dan berbahasa Inggris dengan baik. Kurangnya kemampuan bahasa Inggris telah menciptakan banyak hambatan untuk kemajuan karir. tetapi gaya komunikasi menimbulkan tantangan komunikasi yang lebih besar untuk kemajuan kepemimpinan. Seorang pemimpin juga dituntut untuk mempunyai keterampilan komunikasi yang baik dan keterampilan kolaboratif. d. Pemimpin mengembangkan keterampilan manajemen Namun yang cukup menarik bahwa pentingnya keterampilan manajemen merupakan salah satu aspek utama dari kepemimpinan dikarenakan perpustakaan adalah organisasi yang beragam yang membutuhkan keterampilan manajemen yang baik. Masih adanya manajemen yang kurang baik dari para pemimpin dalam mengelola perpustakaan perguruan tinggi. Sebaiknya pemimpin perpustakaan perguruan tinggi memahami konsep-konsep bisnis dan praktek serta mengetahui cara menggunakan teknik yang paling sukses guna meningkatkan pengalaman perpustakaan. Keterampilan manajemen meliputi pengembangan staf, manajemen personalia, keterampilan penganggaran, keterampilan membangun tim dan keterampilan manajemen waktu. Jadi untuk menjadi pemimpin perpustakaan perpustakaan perguruan tinggi yang efektif, seseorang harus memiliki kedua kepemimpinan dan manajemen keterampilan yang baik. Ada berbagai cara untuk mengembangkan keterampilan dalam kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi yakni menghadiri program pengembangan kepemimpinan, mencari mentor, memanfaatkan self-assessment (self-awareness), mengambil peran kepemimpinan dalam profesional, organisasi dan mendapatkan pengalaman kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi. Bimbingan dan penilaian diri (mengetahui kekuatan dan kelemahan) merupakan atribut yang penting bagi kepemimpinan namun demikian mereka tidak menyadari terhadap dua atribut besar ini secara mendalam. Seorang pemimpin juga harus mempelajari tentang teknik dalam memilih orang-orang yang dapat bekerja dengan baik. Tidak ketinggalan pula membaca literatur kepemimpinan yang merupakan aspek penting untuk memajukan keterampilan kepemimpinan. Dengan banyak membaca akan selalu mencari ideide baru dan praktek kepemimpinan yang lebih baik. Bagi pemimpin perpustakaan yang akan mencari pengalaman kepemimpinan dapat dimulai dengan mencari peran kepemimpinan dengan tanggung jawab terbatas atau dalam unit-unit kecil. Pelayanan di perpustakaan perguruan tinggi dalam bentuk kerja komite atau membantu kelompok-kelompok mahasiswa dapat memberikan pengalaman. Secara bertahap, mereka harus mencari posisi kepemimpinan atau tugas dengan tanggung jawab dan tantangan yang lebih besar di unit yang lebih besar. Pemimpin perpustakaan perguruan tinggi perlu mendapatkan pengalaman kepemimpinan yang beragam. Selain bekerja di berbagai jenis perpustakaan dan lembaga, perlu untuk mendapatkan pengalaman kepemimpinan dari luar bidang perpustakaan (misalnya bisnis, penjualan, teknologi). Perpustakaan adalah organisasi yang beragam dan untuk mengelola secara efektif, pemimpin perpustakaan harus memiliki kepemimpinan yang beragam dan pengalaman manajemen. 3. Efektifitas kepemimpinan Pendekatan yang realistis untuk meningkatkan efektifitas kepemimpinan perilaku, sikap dan sifat akan berdampak langsung pada organisasi dalam arah progresif untuk masa depan. Kolaborasi, pengembangan kepemimpinan, keterampilan kepemimpinan yang efektif dan kualitas adalah komponen yang paling signifikan bagi para pemimpin generasi berikutnya. a. Kolaborasi Kolaborasi adalah kunci keberhasilan. Banyak perpustakaan perguruan tinggi yang mendorong profesional perpustakaan untuk bekerja dengan masyarakat di luar perpustakaan. Kolaborasi merupakan tanggung jawab para pemimpin perpustakaan dan administrator yang lain untuk memahami kedua sifat yang unik dan keseimbangan dari semua peran untuk terlibat dalam kurikulum institusi. Pemimpin harus memiliki pemahaman yang jelas tentang pendidikan yang ada di universitas untuk bekerja sama dengan fakultas guna mengetahui tentang kursus yang ditawarkan oleh lembaga, serta aktif dalam kegiatan penelitian dan mendapatkan umpan balik tentang sumber daya perpustakaan, fasilitas dan harus tahu hasil termasuk dampak dari perpustakaan. Untuk mengukur dampak layanan dan sumber daya memang tidak mudah. Adanya evaluasi terhadap layanan akan berdampak pada masa depan perpustakaan dan mempersiapkan para pemimpin dan staf untuk menjawab tantangan masa depan. Pengguna perpustakaan seharusnya menyadari terhadap aset perpustakaan dan manfaat dari berbagai sumber daya dan jasa; perlunya kerja sama antara perpustakaan dengan fakultas dan kesadaran yang kondusif dari peneliti dan mahasiswa terhadap sumber daya dan jasa perpustakaan. Pengguna perpustakaan juga lebih terlibat dengan perpustakaan apabila pengguna menemukan hubungan kebutuhan informasi. Sebalikya, pustakawan juga terlibat di dalam kelas sehingga akan lebih berguna bagi pengguna daripada hanya memberikan instruksi di meja referensi. Di dalam kelas, pustakawan langsung terlibat memberikan pengajaran khusus yang didasarkan pada kebutuhan kelompok khusus, layanan dan sumber daya berbasis subjek. Perpustakaan profesional memerlukan metode dan pendekatan baru yang mencerminkan dan membantu teknik pengajaran baru. Program penjangkauan dan pendekatan harus aktif diimplementasikan sebagai inisiatif melek informasi dan meningkatkan hubungan antara perpustakaan dan pengguna. Kerja sama antara fakultas, mahasiswa dan peneliti penting bagi perpustakaan perrguruan tinggi, Pemimpin perpustakaan perguruan tinggi harus memiliki pola pikir kolaboratif (Delaney dan Bates, 2015). Pemimpin juga menjalin kerja sama dengan bagian teknologi informasi. Ini berarti bahwa kedua hubungan internal dan eksternal yang penting untuk kepemimpinan masa depan di era digital, dan tanpa kolaborasi tidak mungkin untuk bekerja dengan fakultas dan peneliti. Perpustakaan perguruan tinggi perlu menjalin kerja sama dan mengembangkan hubungan yang baik dengan semua orang-orang di semua tingkatan sebagai berikut: 1) Perpustakaan harus mempunyai keterampilan, pola pikir kolaboratif dan karyawan yang ramah dengan pikiran terbuka termasuk seperangkat keterampilan. Para administrator dan para pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan dan memelihara peluang guna mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota staf. Hal ini perlu direncanakan secara strategis untuk membantu staff meningkatkan keterampilan. Dengan cara ini akan memiliki dampak positif bagi staff dan pimpinan perpustakaan dalam menawarkan informasi yang relevan dengan kebutuhan para peneliti (Le, 2015) 2) Memberikan layanan yang terbaik bagi pengguna perpustakaan dalam mengakses dan mencari informasi pada sumber daya ilmiah komunikasi dan akses terbuka serta perlunya hubungan yang dekat pada tahap awal (Wynne dkk., 2016). 3) Kolaborasi akan memberikan kesempatan bagi kesadaran diri dan kesadaran orang lain untuk mengubah efektivitas seorang pemimpin dalam mengelola perubahan. Pemimpin perpustakaan perlu bekerja sama dengan fakultas, peneliti, dan mahasiswa. Para pemimpin perpustakaan harus tahu tentang dampak perpustakaan, dan umpan balik adalah alat terbaik untuk kesadaran diri. Kesadaran adalah kunci untuk mengelola respon perpustakaan untuk reformasi dan meningkatkan kemampuan dan berpikir kreatif (Schreiber dan Shannon, 2008). 4) Mengadakan kelas literasi informasi tentang menghasilkan dan menggunakan informasi bagi peneliti. Perlu adanya hubungan yang baik serta metode pengajaran yang ramah dalam mengajar dengan pengguna perpustakaan agar tercipta lingkungan belajar yang aktif (Dewey, 2005). 5) Menciptakan peluang untuk mengembangkan hubungan yang baik dengan dosen dan peneliti karena tren baru di perpustakaan adalah untuk mendukung kebutuhan penelitian dan menentukan ruang lingkup dan kebutuhan data. Akibatnya, peran penelitian baru memerlukan pelatihan informal dan dukungan jaringan dan semua ini perlu kerjasama dan kemampuan untuk belajar dan meningkatkan keterampilan baru dan bekerja dengan perubahan. Mengelola perubahan adalah keterampilan kepemimpinan yang paling penting untuk belajar untuk saat ini dan masa depan diprediksi (Brown dkk., 2015). 6) Perpustakaan perguruan tinggi perlu mendukung dalam kegiatan penelitian. Perpustakaan harus terlibat dalam penelitian dan berkolaborasi dengan kebutuhan saat ini. Pemimpin perpustakaan harus memperbaiki persepsi mereka dalam hal mendukung dan berkolaborasi karena kolaborasi diperlukan di semua tingkatan di antara fakultas, peneliti, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi aktif yang dibangun di perpustakaan perguruan tinggi termasuk kemitraan dalam penelitian, pengajaran, dan pengambilan keputusan dengan fakultas, peneliti dan mahasiswa. Kolaborasi akan membantu perpustakaan untuk membangun koleksi yang kuat, pelayanan, dan fasilitas bagi pengguna perpustakaan. Kolaborasi membantu untuk membangun peran sentral dalam pengembangan koleksi, penyampaian informasi, dan melestarikan isi untuk pengguna perpustakaan dan lembaga pada umumnya. Perpustakaan mempunyai strategi guna menyesuaikan pada kebutuhan untuk merespon lingkungan global yang berubah dengan cepat melalui kolaborasi. b. Keterampilan dan kualitas Tidak ada yang dapat mengkliam bahwa pengembangan keterampilan dan kompetensi telah mencapai pada akhir keterampilan dan pengetahuan. Setiap organisasi memiliki arah strategis yang unik dan perencanaan serta lingkungan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, perpustakaan perguruan tinggi perlu penyelarasan pengembangan keterampilan dengan perencanaan strategis organisasi, dan menciptakan motivasi profesional. Ledakan informasi teknologi, sumber daya dan layanan menuntut peningkatan tingkat layanan. Hal yang demikian tentunya membutuhkan pemimpin perpustakaan yang memiliki kompetensi dan pengetahuan baru. Selalu meningkatkan keahlian profesi ini penting untuk kelayakan profesi, serta perlunya pengembangan keterampilan. Namun, pergeseran model pengajaran dan pembelajaran adalah tekanan pada pemimpin perpustakaan untuk mengembangkan keterampilan dan kualitas kepemimpinan yang ada. Pemimpin yang diperlukan untuk menjadi lebih maju dengan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan dan misi perpustakaan. Sejumlah keterampilan dan kompetensi yang diperlukan untuk meningkatkan dalam profesi perpustakaan untuk saat ini dan masa depan. Kepemimpinan selalu penting bagi semua jenis organisasi, meskipun tingkat pendidikan menuntut para pemimpin perpustakaan untuk meningkatkan beragam keterampilan untuk memenuhi tantangan dalam mereformasi praktek pendidikan (Gwyer 2015). Schreiber dan Shannon (2008) menyatakan bahwa profesi perpustakaan telah mengadopsi arah baru di perpustakaan perguruan tinggi seperti berbagi sumber daya, teknologi dan berbagi pengalaman dan komunikasi ilmiah, Kepemimpinan baru perlu keterampilan yang inovatif untuk bekerja ke arah yang baru dan restrukturisasi dari perpustakaan. Selain itu, infrastruktur baru adalah menciptakan kepedulian bagi para profesional perpustakaan jika mereka berharap sebagai kesempatan untuk mengembangkan keterampilan baru dan kompetensi. Pemimpin perpustakaan dapat mempersiapkan diri untuk tantangan besok dan menangani situasi. Pemimpin harus mengetahui posisi perpustakaan dalam mempersiapkan diri untuk bekerja dengan waktu revolusi perpustakaan. Menuru Rooney (2010), perpustakaan perguruan tinggi berubah dengan cepat sehingga diperlukan pemimpin yang dapat meningkatkan fleksibilitas, pendekatan kepemimpinan yang komprehensif, dan kemampuan kepemimpinan staf di semua tingkatan. Pemimpin harus memiliki kapasitas untuk membangun organisasi yang inovatif pada infrastruktur resmi dan informal organisasi dan menciptakan kemitraan dalam kebijakan, dan mengembangkan hubungan dengan para pemangku kepentingan. Selain itu, pemimpin disarankan untuk membuka komunikasi di semua tahap, memecahkan masalah dan mencari solusi, dan menghasilkan ide-ide inovatif untuk kepemimpinan di masa depan (Davis dan Macauley, 2011). Pemimpin harus berusaha untuk berbagi keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan untuk membangun kemampuan organisasi yang efektif ketika akan pensiun dari posisi pemimpin. Mereka harus berpikir tentang hal yang akan mengambil kepemimpinan jika mereka akan meninggalkan. Selain itu, pemimpin harus berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan terhadap keberhasilan organisasi dan mempersiapkan bawahan mereka untuk mengambil posisi kepemimpinan. Schreiber dan Shannon (2008) mendefinisikan kemampuan seorang pemimpin adalah untuk menjelaskan secara ringkas dan menyampaikan rencana konkret dan visi yang penting untuk mencapai tujuan secara efekti. Mengembangkan rasa percaya diri merupakan salah satu yang diperlukan untuk menjadi sukses di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi. Sedangkan menurut Ross (2013), pemimpin harus tahu bagaimana menggunakan pengalaman masa lalu dan menunjukkan kepercayaan sebagai bukti di tempat kerja saat ini. Pengalaman sebelumnya merupakan contoh yang baik untuk mengembangkan kepercayaan diri sendiri dan orang lain. Pemimpin yang berhasil tidak menunjukkan kelemahan mereka secara terbuka, namun melihat ke depan dan menemukan solusi untuk mengembangkan kepercayaan dari jaringan profesional. Di sisi lain, salah satu kualitas yang paling penting dari pengembangan kepemimpinan adalah keinginan untuk bekerja dengan resiko dan memahami resiko yang terjadi. (O’Conner, 2014). Menurut Neigel (2015), dalam masalah pengembangan profesionalisme, pendidikan ilmu pustakaan dan informasi, dan keterampilan profesional pintar dan kualitas untuk bekerja dengan perubahan di perpustakaan dan berubah dengan kebijakan dan prosedur. Pemimpin perpustakaan membutuhkan keterampilan yang efektif dan kualitas yang luar biasa bersama dengan keterampilan kompetensi (Davis dan Macauley, 2011). Perpustakaan akademik telah mengalami perubahan berbagai bentuk seperti , perubahan sumber daya, jasa model pengiriman, teknologi, dan infrastruktur organisasi. Perubahan ini belum berakhir, karena konversi dari sumber daya tradisional ke format digital; meskipun perpustakaan memiliki persaingan dengan internet dan pemasok informasi lainnya. Dengan demikian, kepemimpinan membutuhkan set inovatif kompetensi dan keterampilan motivasi besar untuk menangani perubahan bentuk perpustakaan, dan pemimpin harus memainkan peran penting dalam periode transformasi perpustakaan. Selain itu, keterampilan manajemen keuangan juga sangat penting untuk meningkatkan pemimpin perpustakaan akademik dan mereka harus menetapkan prosedur yang solid dan pedoman pengelolaan keuangan. Pemimpin harus menunjukkan perpustakaan bermanfaat positif dan sebenarnya pada investasi, hal ini membantu untuk mendapatkan melanjutkan dukungan keuangan dari lembaga induknya. Peminpin perpustakaan harus menjelaskan dan mengklarifikasi dukungannya terhadap tujuan dan misi organisasi. (Weiner et al., 2009). Dari perspektif kepemimpinan, masa lalu yang sukses tidak menjamin masa depan yang sukses karena lingkungan akademik cepat bergeser. Gill (2006) menyatakan bahwa pemimpin membutuhkan tujuh keterampilan yakni arah pengaturan, pengambilan keputusan, komunikasi yang efektif, menciptakan keselarasan, pengaturan contoh, membawa yang terbaik dari orang, dan bertindak sebagai agen perubahan. Pemimpin perpustakaan perlu telah memperluas dan melebar pengetahuan dan kompetensi dalam kehidupan profesional mereka. Kualitas kepemimpinan tidak hanya berhubungan dengan orang yang sangat berkualitas, tetapi juga perlu secara teratur berlatih untuk menjadi sukses sebagai seorang pemimpin, dan kualitas transformasional juga diperlukan untuk kepemimpinan masa depan. Sebuah latihan rutin membutuhkan pendekatan yang positif dan sikap, keyakinan diri, dan pikiran yang terbuka. Pemimpin harus membangun etika, nilainilai, memiliki standar tinggi, mampu memotivasi orang lain, membuat keputusan kolektif dan memberdayakan orang lain. 4. Tantangan pemimpin perpustakaan Isu dan tren yang berkembang saat ini dapat dianggap sebagai tantangan bagi pimpinan perpustakaan dan perpustakaan sendiri. Berbagai hal yang menjadi tantangan bagi pemimpin perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai berikut: c. Akses yang terbuka. Bagi perpustakaan dan pustakawan sendiri dalam mengadakan seleksi dan penyediaan akses ke pengguna perpustkaan tidak mudah. Tren akses terbuka memerlukan keahlian dalam browsing isi. Pemimpin perpustakaan perlu selalu menjaga kemampuan dan kompetensi. pada saat penemuan yang sama dan relevansi sumber daya akan ditantang untuk pengguna perpustakaan juga. Perpustakaan perguruan tinggi perlu kebijakan dan prosedur terkait dengan peningkatan layanan untuk mempertahankan dan menawarkan bahan akses terbuka termasuk pemeliharaan repositori kelembagaan yang ada dari disertasi dan naskah penelitian (Wynne dkk., 2016). d. Mengubah komunikasi ilmiah membutuhkan seperangkat keterampilan baru untuk kepemimpinan perpustakaan dan bentuk baru telah menjadi sangat penting untuk perpustakaan. Pengusaha telah meningkat kecemasan untuk menawarkan kepemimpinan yang sukses di bidang akademik perpustakaan karena mereka membentuk kembali lebih cepat dari sebelumnya untuk menjawab tantangan-tantangan dan lembaga perlu mengembangkan strategi baru untuk mendukung metode tradisional komunikasi ilmiah (Dewey, 2005). Peningkatan tuntutan lingkungan digital di perpustakaan akademik perlu rawatan untuk konten digital di semua tingkat. e. Dalam lingkungan yang selalu berubah diperlukan tempat belajar umum untuk mendesain ulang di perpustakaan akademik karena permintaan dari sistem renovasi pendidikan dan akademik perpustakaan (Moropa, 2010). Perpustakaan akademik menghadapi tantangan dari ruang belajar umum karena dibutuhkan berbagai ruang, peralatan dan furnitur, menggabungkan ruang belajar, ruang diskusi kelompok, fleksibilitas dalam penggunaan ruang, santai dan menjadi tempat semua dalam satu untuk kehidupan kampus (Chan dan Spodick 2014); f. Format sumber informasi berdampak pada perilaku pencarian informasi dari pengguna perpustakaan dan pencarian dengan sumber daya perpustakaan dan layanan, pada saat penyampaian informasi yang sama merupakan tantangan bagi perpustakaan (Brown dkk. 2015.) g. Berkembang tren persaingan dari penyedia informasi lain seperti Amazon dan Google adalah penyebab turunnya penggunaan katalog online perpustakaan; telah meningkat tantangan bagi perpustakaan akademik (UU, 2009). h. Penyusutan anggaran perpustakaan adalah tantangan besar bagi masa depan perpustakaan. Dukungan keuangan adalah masalah yang sedang berlangsung untuk perpustakaan dan pemimpin. Pada saat yang sama, seleksi dan pengembangan koleksi juga merupakan tantangan bagi perpustakaan dalam anggaran yang terbatas (Riggs, 2001; Neufeld, 2014). i. Turock (2003) menyatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan memiliki populasi yang lebih beragam dan populasi ini telah tumbuh lebih cepat setiap tahun, dan perpustakaan membutuhkan pemimpin yang lebih beragam untuk bekerja di abad kedua puluh satu. Konsumen mencari sumber informasi dari isi akses terbuka besar karena mereka mengambil kursus online dari jarak jauh dan di kampus juga; karena alasan itu, mereka membutuhkan sumber daya perpustakaan online menggunakan dari kejauhan, 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Ini berarti bahwa pengguna akan jauh dari batas-batas perpustakaan dan perpustakaan harus memenuhi dan mendukung kebutuhan informasi mereka dalam era digital tanpa batasan untuk mengakses informasi (Moropa, 2010). Banyak tren dan tantangan bagi para pemimpin perpustakaan namun juga bagi perpustakaan seperti menyimpan informasi, mengembangkan koleksi yang kuat, perizinan dan mengakses, menyusut anggaran, mengambil dan menggunakan informasi, penyampaian informasi, repositori institusi di semua tingkat di perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama tanggung antara pemimpin perpustakaan, administrator, dan pustakawan. Perpustakaan perguruan tinggi membutuhkan kepemimpinan untuk mengembangkan strategi baru, kebijakan, dan prosedur untuk memenuhi tantangan dan isu-isu dalam restrukturisasi sistem pendidikan. 5. Peluang pengembangan kepemimpinan Pengembangan kepemimpinan penting bagi perpustakaan karena kebutuhan dari profesi perpustakaan yang mendesak. Pemimpin memiliki kesempatan terbatas untuk terlibat dengan pengembangan kepemimpinan, bahkan individu yang berbakat dengan potensi terbesar sering tidak memiliki peluang untuk akses. Ada berbagai macam peluang pengembangan kepemimpinan tersedia untuk perpustakaan akademik yang membantu para pemimpin untuk bersaing dengan keterampilan baru untuk kepemimpinan masa depan. Ada beberapa lembaga dan program di negara-negara maju yang berfokus pada kepemimpinan perpustakaan tetapi hanya beberapa pemimpin dapat mengikuti program ini karena terbatasnya anggaran dan kebijakan organisasi. Perpustakaan Leadership Institute di Snowbird, dan Asosiasi College dan Penelitian Perpustakaan / Harvard Leadership Institute (Riggs, 2001). Lembaga ini menawarkan kesempatan yang sangat baik untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan kompetensi untuk para profesional perpustakaan; mereka mempersiapkan para pemimpin untuk saat ini dan pemimpin masa depan di perpustakaan dan informasi profesi dan menunjukkan keterampilan yang inovatif dan kompetensi (Riggs, 2001). Program dan lembaga yang diperlukan untuk menilai hasil untuk peran menantang kepemimpinan perpustakaan akademik di lingkungan mengubah organisasi. Kepemimpinan harus dievaluasi, yang sangat penting untuk mengukur hasil untuk kepemimpinan yang sukses. Gill (2006) menyatakan bahwa kepemimpinan dapat dievaluasi berdasarkan beberapa criteria yang meliputi sebagai berikut: pemimpin mengembangkan misi, visi dan nilai-nilai dan model budaya keunggulan. Pemimpin secara pribadi terlibat dalam memastikan sistem manajemen organisasi dikembangkan, diimplementasikan dan terus ditingkatkan. Pemimpin yang terlibat dengan pelanggan, mitra dan perwakilan masyarakat. Pemimpin memotivasi, mendukung dan mengenali orang organisasi. Kepemimpinan yang sukses membutuhkan proses yang berkelanjutan pengembangan keterampilan untuk bekerja di abad kedua puluh satu, Profesi perpustakaan membutuhkan keseimbangan dari kedua kepemimpinan tradisional dan modern keterampilan. Namun, beberapa anggota staf dan pemimpin dapat menghadiri program nasional dan internasional; administrator dan pemimpin perpustakaan harus datang dengan strategi untuk mengatur dan ditawarkan di institusi lokal sehingga pustakawan maksimum dapat menghadiri dan manfaat dari programprogram pengembangan kepemimpinan. Meningkatkan keterampilan kepemimpinan harus dimulai di lembaga lokal, itu adalah tanggung jawab para pemimpin dan administrator untuk mengatur pelatihan dan lokakarya di organisasi. Kesempatan ini harus merancang dan mengatur dengan lembaga lain dan kolaborasi perpustakaan pemimpin di wilayah tersebut yang akan memberikan kesempatan untuk jaringan dan berbagi pengalaman. Sears (2014) menyatakan bahwa mentoring merupakan elemen penting untuk menjaga kepemimpinan yang kuat dan kontinuitas hal ini merupakan elemen penting untuk pengembangan profesional. Pemimpin yang menerima dan memahami tantangan sebagai kesempatan belajar dan meningkatkan keterampilan dan mengilhami orang lain. Tantangan dan isu-isu peluang untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan kompetensi. Pemimpin harus tulus terlibat dalam tantangan dan isu-isu untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain. Pemimpin perpustakaan didorong untuk masuk pada jaringan dengan rekan-rekan di tingkat lokal dan internasional karena ini kesempatan yang baik untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi. Menjadi anggota jaringan akan berharga dan bermanfaat bagi kedua pemimpin dan organisasi. Jaringan sosial memberikan kesempatan untuk memperluas kompetensi, berbagi pengetahuan, dan pengalaman. Setiap kali memiliki kesempatan untuk bertemu dalam kelompok, dan terlibatan dengan profesional yang berpengalaman merupakan adalah keuntungan yang luar biasa bagi para pemimpin serta lembaga. Menurut Mierke (2014), program pengembangan kepemimpinan harus ditawarkan dan dirancang di lembaga lokal dengan kolaborasi mitra universitas karena memiliki beberapa manfaat seperti sumber daya keuangan yang bisa dibagi dan mengurangi biaya, kekuatan keahlian lebih lanjut dari mitra kolaboratif dapat hasilnya pengalaman belajar lebih kuat bagi karyawan. Dalam pelatihan pengembangan kepemimpinan peserta akan belajar bersama rekan-rekan mereka di lingkungan yang aman dan nyaman tetapi mereka juga akan memiliki kesempatan untuk mendiskusikan ide-ide, topik dan tantangan yang relevan dengan perpustakaan dan dipahami oleh rekan-rekan. Perpustakaan profesional harus terlibat dalam program-program kesempatan pengembangan kepemimpinan karena keterlibatan pustakawan akan mempersiapkan kepemimpinan masa depan karena mereka adalah pemimpin masa depan perpustakaan. Akhirnya, para pemimpin harus berpartisipasi dalam kesempatan pengembangan kepemimpinan dan kegiatan untuk kepentingan meningkatkan kepemimpinan kaliber tinggi yang akan digunakan untuk kepemimpinan perpustakaan yang akan datang dan mereka akan menangani tantangan masa depan dalam profesi perpustakaan.