Kembali
16
1
2020 Jurnal Ilmu Perpustakaan (JIPER) Vol 2 · 2 ISSN 2716-0432

REORIENTASI PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN DI ERA MILENIAL (Studi Peran UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Mataram dalam Meningkatkan Literasi Informasi Bagi Generasi Milenial)

Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram

Abstrak

Penelitian ini didasarkan pada masalah yang dihadapi generasi milenial yang dihadapkan pada ledakan informasi yang melimpah ruah di internet. Perpustakaan sebagai lembaga pegiat literasi memiliki andil yang cukup besar dalam menjawab tantangan bagi setiap generasi agar informasi yang diperoleh bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana orientasi pengembangan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Mataram di era milenial dan peran perpustakaan dalam meningkatkan literasi informasi bagi generasi milenial. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari sumber primer yaitu pustakawan dan pemustaka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil dari penelitian ini yaitu, pertama orientasi pengembangan perpustakaan saat ini menitikberatkan pada peningkatan literasi informasi pemustaka yang dilandasi tri dharma perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat dengan tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman. Peningkatan literasi ini direalisasikan dengan cara pelatihan, kerjasama, dan penyediaan sumber-sumber informasi. Peran Perpustakaan UMMAT antara lain; pertama memberikan research skill sebagai modal pemustaka menghadapi ledakan informasi yang disediakan internet. Berperan sebagai pendidik yang diwujudkan dalam user education (pendidikan pemustaka). Ketiga, menyediakan link-link jurnal online. Keempat, memberikan bimbingan melalui media sosial.
Keywords: Perpustakaan · Literasi Informasi · Generasi Milenial

Introduction

1. Latar Belakang Konsep literasi informasi bermula dari pendidikan pemakai di perpustakaan dan literasi informasi lebih luas dari pada pendidikan pemakai. Literasi informasi mencakup hal yang lebih luas tidak hanya yang berada di dalam perpustakaan. Akan tetapi berkaitan erat dengan literasi lainnya, seperti literasi media, literasi jaringan, literasi komputer, tetapi harus dibedakan dengan literasi informasi. Bahkan literasi masuk dalam berbagai bidang seperti literasi pendidikan, literasi budaya, literasi politik, literasi ekonomi dan literasi-literasi lainnya. Hal ini mengindikasikan akan pentingnya literasi sebagai sebuah kebutuhan dalam menghadapi dasar pokok dari era milenial ini yaitu informasi. Literasi informasi berkembang karena adanya keberagaman format informasi (tercetak, digital, non buku: film, magnetik, optikal, keberagaman saluran informasi (surat kabar, internet, telepon), serta jumlah informasi yang berkembang dari waktu ke waktu (Septiyantono, 2015: 2.64). Menarik untuk dipikirkan bahwa pada saat ini, informasi digital melimpah ruah, maka para mahasiswa, pengajar, dan peneliti akan menjadi pustakawan bagi diri mereka sendiri dan pengetahuan mereka akan berkembang seumur hidup sesuai kehendak bebas mereka. Program perpustakaan seharusnya menyediakan prosedur yang sedemikian rupa membantu mereka berkembang dari pihak yang hanya bisa memakai koleksi yang tersedia di perpustakaan, menjadi pihak yang punya kemampuan menyusun strategi pencarian informasi sesuai dengan bidang pengetahuan yang didalaminya. Dengan kata lain, di dalam konsep keberaksaraan informasi (information literacy) terkandung harapan bahwa semakin lama perpustakaan benar-benar adalah mitra, dan bukannya semata-mata pihak yang menyediakan apa yang diminta. Para pengguna perpustakaan benar-benar dapat menjadi penentu dari apa yang tersedia (Pendit, dkk, 2007:54) Di saat inilah pustakawan lebih berperan penting karena informasi yang tersedia di internet beserta situs-situsnya adalah informasi yang sifatnya variatif. Sulit menentukan mana yang valid, mana yang akurat, otoritatif, dan mana yang bersifat provokatif, rasis, atau mengandung iklan, dan lain sebagainya. Orientasi perpustakaan yang masih terkonsep pada pengolahan dan pelayanan perlu dikembangkan ke arah yang lebih kompleks dan mendukung era kini. Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Mataram sebagai lembaga pengelola informasi juga ikut menjadi penggerak literasi informasi baik bagi civitas akademika maupun masyarakat milenial secara umum. Penguatan literasi informasi ini dilihat dari berbagai program yang ditetapkan perpustakaan baik yang bersifat individual kelembagaan maupun kerjasama antar lembaga. Program pengembangan research skill, gemar membaca, gemar menulis, gemar seleksi sumber-sumber otoritatif merupakan program yang mendukung penguatan literasi informasi. Seleksi koleksi berdasarkan kebutuhan dan kekinian juga adalah bentuk upaya penguatan literasi informasi di lembaga perpustakaan. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik meneliti lebih dalam mengenai “Reorientasi Pengembangan Perpustakaan di Era Milenial (Studi Peran Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Mataram Dalam meningkatkan Literasi Informasi Bagi Generasi Milenial)”

Method

Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang memanfaatkan teori-teori dengan menggali fenomena sosial di lapangan melalui kegiatan observasi, wawancara, cacatan lapangan dan dokumentasi (Lexy J. Moleong 2007: 11). Kerangka kerja yang dijadikan acuan dalam kegiatan penelitian ini adalah menampilkan informasi-informasi yang diperoleh di lokasi penelitian dengan menggali setiap fenomena secara komprehensif dan mendalam. Tiap fenomena yang ditemukan dicatat dengan cermat dan teliti, kemudian dilakukan analisis secara teliti. Sumber data dalam penelitian ini adalah para tenaga perpustakaan di UPT perpustakaan Universitas Muhammadiyah Mataram yang meliputi kepala perpustakaan dan koordinator bidang. Selain itu beberapa perwakilan dari generasi milenial yang memanfaatkan Perpustakaan UMMAT juga menjadi sumber data dalam penelitian ini. Data yang peneliti peroleh, dikategorikan ke dalam : (1) data primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung dari lapangan, baik dengan menggunakan teknik observasi, metode wawancara maupun teknik dokumentasi. (2) data sekunder yaitu data yang peneliti peroleh dari penelitian terdahulu, dokumen-dokumen atau berupa literatur yang ada kaitannya dengan fokus penelitian (Sumadi Suryabrata, 2003:39). Adapun prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sementara teknik analisis data dilakukan mengelompokkan, mengurutkan dan menjabarkan data hasil penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif model Miles dan Huberman yaitu: 1. Reduksi Data Mereduksi data berarti memilih halhal yang pokok dengan fokus pada tujuan dari kegiatan penelitian yang dilakukan. 2. Display Data/penyajian Data Penyajian data merupakan upaya menjabarkan data secara terorganisir yang disusun dalam pola hubungan yang saling berkaitan sehingga mudah dipahami. 3. Verifikasi data/ kesimpulan awal Verifikasi data yaitu upaya membuat kesimpulan awal yang didasarkan pada pemahaman dan penemuan fenomena sosial yang menjadi batasan masalah dalam penelitian (Sugiyono, 2010: 90). Fenomena yang terjadi akan dapat disimpulkan melalui data yang diperoleh di lapangan.

Result & Discussion

1. Orientasi Pengembangan UPT Perpustakaan Muhammadiyah Mataram Setiap perpustakaan memiliki arah pengembangan yang khas sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau pengguna informasi. Pengembangan UPT Perpustakaan UMMAT didasarkan pada tuntutan era informasi yang menuntut masyarakatnya lebih kompetitif namun tidak melupakan nilai-nilai agama sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Hal ini sesuai dengan visi Perpustakaan UMMAT yaitu mengembangkan perpustakaan sebagai pusat kegiatan akademik yang lebih unggul berbasis keilmuan dan keislaman. Kemudian dituangkan dalam beberapa misi antara lain: a. Mendukung UMMAT dengan menyediakan akses informasi pustaka yang diperlukan untuk bidang pengajaran, penelitian, maupun pengabdian masyarakat b. Mendukung seluruh sivitas akademika dalam mengembangkan karakter akademik yang luhur dan mulia berdasarkan nilai-nilai ke-Islaman c. Mengembangkan sumber-sumber belajar yang unggul dalam bidang keislaman dan keilmuan d. Menciptakan suasana akademik yang nyaman dan Islami dengan menjunjung tinggi kejujuran e. Mengembangkan kemampuan mengelola informasi guna mendukung pengembangan IPTEKS yang Islami dan memberi arah perubahan. Dalam pengembangan perpustakaan, sebagaimana wawancara penulis pada tanggal (28 Oktober 2020) dengan Ridwan selaku divisi teknologi dan informasi bahwa UMMAT sebagaimana visi misi di atas memusatkan pengembangan perpustakaan pada penguatan pemahaman dan pengetahuan pemustaka pada informasi dengan cara menyediakan akses sumbersumber informasi sebagai bahan pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Penyediaan sumber informasi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi informasi pemustaka baik dari kalangan mahasiswa, dosen, karyawan, maupun masyarakat di luar kampus yang datang untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Iskandar selaku kepala Perpustakaan UMMAT mengatakan bahwa literasi informasi saat ini sangat dibutuhkan terutama generasi milenial, generasi ini dihadapkan pada informasi yang membludak dan sangat variatif. Jikalau mereka tidak pandai memilah, mengolah, dan memanfaatkan informasi tersebut maka hasilnya adalah kebanyakan termakan berita atau informasi hoaks. Oleh karena itu, pengembangan perpustakaan yang awalnya lebih berpusat pada pengumpulan dan penyediaan bahan informasi kini mengarah pada penguatan literasi informasi. Menjawab hal ini, UPT Perpustakaan UMMAT kemudian melakukan sinergi literasi informasi melalui kerjasama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (PUSDA) NTB dalam upaya penguatan literasi informasi baik untuk pemustaka di lingkungan universitas Muhammadiyah Mataram maupun masyarakat luar. Kerjasama yang berlangsung pada tanggal 22 April 2019 ini bertujuan untuk menguatkan literasi informasi dan dalam rangka mendukung program Gubernur NTB dalam hal penguatan literasi informasi masyarakat. Kegiatan ini juga berkaitan dengan penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan untuk programprogram pelatihan tenaga perpustakaan serta pengelolaaan perpustakaan. Iskandar menjelaskan bahwa kerjasama pengembangan ini merupakan realisasi orientasi lembaga perpustakaan yang samasama memiliki tugas meningkatkan literasi masyarakat. Sebagaimana yang tertuang dalam visi misi dan hasil wawancara penulis di atas, penulis memandang bahwa arah orientasi UPT perpustakaan UMMAT sekarang ini yaitu mengarah pada peningkatan literasi informasi pemustaka. Hal ini didasarkan pada dua hal. Pertama, sebagai upaya mendukung secara maksimal tri dharma perguruan tinggi. Kedua, menjawab permasalahan-permasalahan informasi yang dihadapi para generasi milenial. Kedua dasar ini diformulasikan dan dijawab dengan berbagai pengembangan perpustakaan melalui peningkatan literasi, kerjasama, dan dukungan penuh pada civitas akademika. Tidak lupa, nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri khas UMMAT juga dimanifestasikan dalam visi misi perpustakaan. 2. Peran UPT Perpustakaan UMMAT dalam Meningkatkan Literasi Informasi Bagi Generasi Milenial Dalam sejarahnya, umat manusia sudah melewati beberapa tahapan budaya yang berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan komunikasi. Tahap pertama adalah zaman pra-aksara, yaitu suatu tahap kehidupan yang ditandai dengan belum adanya budaya tulis menulis. Komunikasi dilakukan dengan bahasa verbal atau lisan, yang kemudian masih terus berkembang hingga tahap sekarang (Walter J. Ong, 2013:7). Tahap kedua adalah zaman aksara. Ditandai dengan adanya budaya baca dan tulis menulis, serta komunikasi dengan berbagai media yang dapat diekspresikan melalui simbol-simbol visual. Tahap ketiga adalah zaman informasi. Suatu tahapan kehidupan yang masih berlangsung hingga saat ini. Ditandai dengan berkembanganya teknologi informasi dan pemanfaatan informasi dari media internet yang tak terbatas. Namun saat ini umat manusia juga memasuki sebuah tahapan yang disebut era milenial. Era ini ditandai dengan berbagai kemewahan teknologi, kehidupan yang serba cepat dan instan, dan kecenderungan besar terhadap media sosial dalam mendapatkan informasi. Penamaan generasi milenial dipopulerkan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe pada beberapa bukunya. Millennial Generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Para pakar, menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi milenial terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya (Pusat Data Republika dalam https://www.kominfo.go.id, 2019). Generasi milenial memiliki kecenderungan memanfaatkan teknologi secara berlebih dan memungkinkan setiap aktivitasnya tidak terlepas dari media teknologi dan informasi. Internet merupakan salah satu media yang menjadi kebutuhan paling besar bagi generasi milenial. Informasi-informasi yang berhubungan dengan pembelajaran, penelitian, dan tugas-tugas lain seperti laporan seringkali diperoleh melalui internet. Internet seolah-olah menjadi sumber informasi utama dibandingkan yang lain. Dalam lingkungan perguruan tinggi, tidak hanya mahasiswa yang mengandalkan internet sebagai sumber informasi, akan tetapi dosen maupun karyawan juga menjadikan internet sebagai bagian penting dalam pencarian informasi. Dalam hal ini mahasiswa UMMAT saat ini adalah generasi milenial, lahir dari awal 1980/1990an. Dosen maupun karyawan juga sebagiannya adalah generasi milenial yang lahir berkisar awal 1980-an. Media sosial seperti WA, Instagram, Twitter, FB, blog, dan lain-lain ikut secara intens mewarnai dan menemani aktivitas generasi milenial. Watak generasi milenial yang tidak terlepas dari internet dan kecenderungan dalam mencari dan mendapatkan informasi secara cepat dan instan menjadi perhatian besar bagi pegiat informasi. Internet memang menyediakan berlimpah ruah informasi namun informasi yang tersedia tidak disaring sesuai kebutuhan. Dalam hal ini, Perpustakaan UMMAT sebagai lembaga pegiat literasi informasi berperan penting dalam membimbing dan mengarahkan pemustaka di lingkungan UMMAT untuk memperoleh dan memanfaatkan informasi dari sumbersumber yang ada baik yang disediakan perpustakaan maupun yang tersedia secara bebas di internet atau media sosial lainnya. Menjawab hal ini, peran Perpustakaan UMMAT dalam meningkatkan literasi informasi bagi generasi milenial sebagaimana yang dijelaskan oleh Ridwan selaku divisi Teknologi dan informasi adalah Memberikan pelatihan Research Skill bagi pemustaka Putu Laxman Pendit sebagaimana yang ia kutip dari Shapiro dan Huges (1996) menjelaskan bahwa salah satu hal yang harus dimiliki pustakawan adalah Research literacy, yaitu kemampuan menggunakan internet sebagai lapangan penelitian, memanfaatkan perangkat lunak statistik sebagai bahan analisis, ataupun perangkat lunak khusus untuk kegunaaan penelitian. Apabila pustakawan sudah memiliki kemampuan ini maka diharapkan dapat memberikan keterampilan research tersebut kepada para pemustaka. UPT perpustakaan pada tahun ini mengembangkan perpustakaan melalui pelatihan research skill. Research skill yang dilakukan oleh UPT Perpustakaan UMMAT ini adalah kegiatan pelatihan keterampilan bagi mahasiswa terutama mahasiswa akhir yang sedang proses dalam tahap pengerjaan skripsi atau laporan akhir untuk jenjang D3. Research skill bertujuan untuk memberikan pemahaman dan penguasaan pemustaka dalam mencari dan menemukan informasi yang real dari internet atau media online dengan strategi pencarian yang cepat dan mudah agar terciptanya generasi milenial yang literate. Informasi real yang dimaksud adalah informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Pelatihan Research skill juga bertujuan memberikan pengetahuan tentang bagaimana informasi yang valid dan aotritatif sehingga apapun yang diperoleh dari internet tidak mengandung hoaks atau kebohongan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pencarian informasi di internet antara lain: 1) Situs atau website yang dipilih Kepandaian dalam memilih situs atau website resmi akan memberikan perlindungan kepada para pemustaka dari informasi yang tidak benar atau tidak valid. Oleh karena itu research skill memberikan pemahaman bahwa pemilihan situs tersebut perlu dikuasai. 2) Pengarangnya otoritatif atau tidak Pengarang yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya akan memberikan artikel/tulisan akan informasi yang lebih akurat dibandingkan dengan artikel yang tidak sesuai dengan bidang keahlian pengarangnya. Pengarang yang otoritatif bisa dilihat dari latar belakang pendidikan pengarang yang tercantum pada biodata pengarang. 3) Konten atau isi dari tulisan Ketika pengguna internet sudah menemukan situs atau website yang sesuai, pengarang yang sesuai, maka perlu memperhatikan konten dari artikel yang dimuat. Inilah yang disebut Pendit (2007) sebagai critical literacy. Jangan sampai ketika sudah menemukan informasi kemudian langsung disimpan dan digunakan tanpa menganalisis dahulu isi dari informasi tersebut. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konten tersebut adalah, pertama informasi tersebut tidang mengandung SARA yang memicu konflik antar ras, suku, dan agama. Kedua, informasi tersebut tidak berisi ujaran kebencian atau halhal yang bersifat provokatif dalam pengertian negatif. Ketiga, isi dari informasi tersebut tidak mengandung iklan yang merusak makna dari informasi yang sebenarnya. 4) Referensi atau sumber yang menjadi acuan Referensi yang semakin banyak dan sesuai dengan informasi dapat memperkuat keakuratan dari konten sebuah artikel. Oleh karena itu bagi pengguna informasi terutama mahasiswa yang dalam proses pengerjaan skripsi, tesis, maupun disertasi perlu memperhatikan aspek referensi yang dikutip atau dijadikan acuan dalam artikel yang dimuat. a. Peran dalam Pendidikan Pemustaka Pendidikan pemustaka merupakan kegiatan memberikan pendidikan atau bimbingan kepada pemustaka tentang bagaimana memanfaatkan perpustakaan dengan baik. Pendidikan pemustaka meliputi pengenalan terhadap perpustakaan mulai dari SDM, sarana dan prasarana, koleksi yang dimiliki, layanan, dan cara menelusur informasi yang ada di perpustakaan. UPT Perpustakaan UMMAT memberikan pendidikan pemustaka dalam bentuk yang belum terstruktur dengan baik. Hanya dilakukan secara tidak formal yang melibatkan sedikit pustakawan di dalam memberikan informasi terkait bagaimana memanfaatkan Perpustakaan UMMAT. Pendidikan pemustaka dilakukan secara internal antara pustakawan dengan pemustaka secara individual. Secara berkelompok kegiatan ini diselipkan pada acara orientasi mahasiswa baru yang menurut penulis hanya dalam bentuk sosialisasi ringkas mengenai perpustakaan secara umum. UPT Perpustakan UMMAT Perlu peningkatan lebih dalam kegiatan pendidikan guna memaksimalkan peran perpustakaan sesuai dengan visi misi yang dimiliki. b. Peran Sebagai Penyedia Link Jurnal Online Banyak perpustakaan perguruan tinggi yang mewajibkan perpustakaannya menyediakan link-link jurnal online untuk memudahkan pengguna mencari sumber informasi yang valid dan akurat. Tidak terlewatkan Perpustakaan UMMAT. Link jurnal online yang disediakan antara lain EBSCO, Jurnal online Universitas Gadjah Mada, jurnal Garuda, jurnal.ummat.ac.id. Link ini bisa dimanfaatkan oleh pemustaka dalam menemukan sumber informasi yang beragam guna mendukung proses penelitian dan laporan akhir. c. Peran dalam Bimbingan Online Pihak UPT Perpustakaan UMMAT menyadari bahwa generasi milenial memiliki kecenderungan yang kuat terhadap penggunaan media sosial dalam aktivitas sehari-hari. Kecenderungan untuk mendapatkan informasi yang cepat dan instan memungkinkan pemustaka akan bertanya pada pustakawan melalui media sosial seperti FB, WA, Instagram, dan media sosial lainnya. Menurut Ridwan sebagaimana yang penulis wawancarai bahwa pemustaka sering juga menanyakan masalah koleksi atau informasi tentang kartu anggota melalui WA ataupun FB. Oleh karena, itu perpustakaan ummat menyediakan FB yang diberi nama Perpustakaan ummat. Mahasiswa bisa menggunakan untuk melihat informasi terkini ataupun tanya jawab bebas seputar perpustakaan.

Conclusion

1. Kesimpulan Dari hasil pembahasan penulis tentang peran UPT Perpustakaan UMMAT dalam meningkatkan literasi informasi bagi generasi milenial, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut. a. Orientasi pengembangan perpustakaan saat ini menitikberatkan pada peningkatan literasi informasi pemustaka Universitas Muhammadiyah Mataram dalam rangka mendukung tri dharma perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai keislaman. Peningkatan literasi informasi direalisasikan dalam bentuk penyediaan sumber-sumber informasi dan berbagai pelatihan dan bimbingan. Peningkatan literasi ini dinilai sangat potensial dalam mewujudkan generasi yang kuat secara keilmuan dan kuat secara keislaman. b. Dalam meningkatkan literasi informasi bagi generasi milenial, UPT Perpustakaan UMMAT memberikan andil yang cukup besar terhadap generasi ini. Peran Perpustakaan UMMAT antara lain; pertama memberikan research skill sebagai modal pemustaka menghadapi ledakan informasi yang disediakan internet. Kedua, berperan sebagai pendidik yang diwujudkan dalam user education (pendidikan pemustaka). kegiatan ini meskipun belum formal dan masih bersifat parsial, akan tetapi sudah menunjukkan peran lembaga yang sejatinya berperan sebagai pegiat literasi. Ketiga, menyediakan link-link jurnal online yang bisa diakses oleh pemustaka dalam proses kegiatan perkuliahan, penelitian, dan laporan akhir yang dikerjakan. Keempat, memberikan bimbingan secara online melalui media sosial seperti FB, WA, dan Instagram. Bimbingan ini menunjukkan kesadaran dari pihak UPT Perpustakaan UMMAT bahwa generasi milenial tidak bisa terlepas dari Handphone atau smartphone dengan kecenderungan memperoleh informasi yang cepat dan instan. Berkompromi terhadap watak milenial ini diharapkan kegiatan bimbingan melalui online ini memberikan pemahaman kepada pemustaka untuk mencari dan mendapatkan informasi yang sesuai dan akurat dari sumbernya. 2. Saran a. Dalam pengembangan perpustakaan perlu menambah koleksi yang memperkaya referensi bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti terutama jurnal-jurnal terakreditasi baik nasional maupun internasional. b. Memaksimalkan peran perpustakaan sebagai pegiat literasi melalui pendidikan pemustaka yang formal dan terkonsep dengan matang, bisa dilakukan sekali setahun terutama untuk pemustaka potensial dan pemula seperti mahasiswa baru.