Analisis Kompetensi Pustakawan Menuju World Class University: Studi Kasus Perpustakaan Universitas Negeri Padang
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstrak
Dalam upaya mewujudkan visi sebagai World Class University, Perpustakaan Universitas Negeri Padang telah mengalami berbagai transformasi positif, terutama dalam aspek perubahan fisik berupa renovasi gedung dan lokasi perpustakaan. Transformasi fisik tersebut diiringi oleh perubahan nonfisik, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, yakni pustakawan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi pustakawan dalam mendukung pencapaian World Class University di lingkungan Perpustakaan Universitas Negeri Padan g. Metode yang diguna kan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sedangkan informan dipih secara selektif menggunkan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) kompetensi inti pustakawan mencakup kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Kompetensi ini mencakup berbagai aspek yaitu aspek manajemen, pengembangan, dan organisasi; (2) kompetensi profesional mencakup pengetahuan tentang sumber informasi, teknologi, manajemen dan penelitian serta kemampuan untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam layanan informasi; (3) kompetensi induvidu meliputi sikap dan nilai yang menunjang efisiensi kerja, kemampuan komunikasi, semangat pembelajaran berkela njutan, serta kesiapan menghadapi tantangan; dan (4) kriteria pustakawan menegaskan bahwa profesi pustakawan menuntut persyaratan khusus sesuai dengan bidang tugas yang diemban.
Abstract
In an effort to realize the vision of becoming a World Class University, the Universitas Negeri Padang Library has undergone various positive transformations, especially in terms of physical changes in the form of building construction and library locations. The physical transformation was caused by non - physical changes, especially in improving the quality of human resources, namely librarians. This study aims to describe the competence of librarians in supporting the achievement of a World Class University in the Universitas Negeri Padang Library environment. The method used in this study is qualitative with a descriptive approach, while informants were selected spectrally using the purposive sampling method. Data collection was carried out by observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that: (1) the core competence of librarians includes the basic abilities and skills that must be possessed by a librarian in order to carry out their duties and responsibilities professionall y. This competence covers various aspects, namely management, development, and organizational aspects; (2) professional competence which includes knowledge of information sources, technology, management and research and the ability to implement this knowle dge in information services; (3) individual competence includes attitudes and values that support work efficiency, communication skills, a spirit of continuous learning, and readiness to face challenges; and (4) the criteria for librarians state that the librarian profession demands special requirements in accordance with the field of work carried out.
Keywords:
Librarian C ompetencies
· College Libraries
· World C lass University
Introduction
Dalam upaya menjadi World Class University (WCU), setiap perguruan tinggi dituntut memenuhi standar global, baik dari segi mutu akademik, riset, kolaborasi internasionnal, maupun pengelolaan sumber daya informasi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusa t sumber daya informasi. Perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi memilki peran strategis dalam mendukung pencapaian ini. Pustakawan dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknis dan administratif, tetapi juga literasi digital, penguasaan bahasa a sing, kemampuan riset, serta keterampilan komunikasi dan kolaborasi global. Oleh karena itu, kompetensi pustakwan perlu dianalisis utuk mengetahui sejauh mana mereka siap dan mampu berkontribusi terhadap visi universitas sebagai WCU. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan representasi dari sebuah lembaga formal pendidikan yang dalam hal ini adalah perguruan tinggi. Dalam rangka mendukung realisasi dan tercapainya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berfokus pada tiga hal, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian, perpustakaan perguruan tinggi diusung sebagai “jantung” perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi bertugas untuk memberikan pelayanan yang dalam hal ini adalah informasi bagi seluruh sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, staf pengajar, hingga masyarakat sekitar yang berada di dalam dan sekitar lingkungan universitas. Adanya perubahan fungsi baik untuk perguruan tinggi maupun perpustakaan perguruan tinggi sekarang ini menciptakan istilah baru yang dikaji dalam sebuah pandangan WCU . Pandangan baru terkait WCU ini muncul akibat adanya tuntutan zaman yang terus berubah dan berkembang. Yuen - hsien dalam Faricha (2017) berpendapat bahwa melalui perpustakaan bertaraf internasional, maka akan memberikan dampak pada peningkatan kualitas universitas sebagai instansi pendidikan yang menau ngi perpustakaan. Sebagai unit kerja yang masih terikat dengan instansi yang menaunginya, maka dibutuhkan koordinasi dari banyak pihak dalam menciptakan sebuah perguruan tinggi bertaraf internasional. Sebagai sebuah unit kerja dalam sebuah lembaga, perpustakaan perguruan tinggi memiliki standar yang harus terpenuhi untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Salah satu parameter perpustakaan bertaraf internasional adalah Sumber Daya Manusia (SDM) perpustakaan yang dalam hal ini adalah pustakawan sebagai tenaga profesional yang memberikan pelayanan dan berkontribusi secara langsung dalam berjalannya sebuah perpustakaan. Sebagai SDM yang memiliki peranan penting dalam perpustakaan, pustakawan perlu memenuhi kebutuhan pelayanan dan program yang ada untuk mencapai keberhasilan layanan perpustakaan (Julianti, 2022). Adanya perkembangan teknologi dan informasi yang tidak pernah berhenti, pustakawan per lu untuk memperkuat kompetensinya, sehingga mampu memberikan inovasi - inovasi positif untuk perkembangan perpustakaan. Hal tersebut sejalan dengan Lebih lanjut, Sahidi et al. (2024) menyebutkan bahwa salah satu standar yang perlu dipenuhi dan dimiliki oleh perpustakaan perguruan tinggi adalah aspek SDM yang dalam hal ini adalah pustakawan. Hal tersebut sejalan dengan banyaknya hal yang perlu diperhatikan untuk perpustakaan bertransformasi menuju WCU, salah satunya pustakawan yang perlu meningkatkan kompetensinya untuk dapat beradaptasi dengan kebaruan yang ada. Berdasarkan observasi dan wawancara awal di Perpustakaan Universitas Negeri Padang , ditemukan bahwa mayoritas pustakawan meliki kompetensi dasar yang baik dalam layanan teknis dan pengelolaan informasi. Namun, tantangan muncuk dari aspek kompetensi global, seperti keterampilan komunikasi internasional dan pengelolaan basis data ilmiah b erskala internasional dan pemanfaatan Teknologi digital berbasis kecerdasan buatan. Di satu sisi diketahui bahwa pustakawan adalah tenaga profesional yang tidak bisa sembarang orang untuk menjalankan tugas dan fungsi tersebut, karena seorang pustakawan harus memiliki kemampuan khusus melalui baik pendidikan formal maupun pendidikan nonfor mal. Meskin terdapat program pelatihan internal dan pengembangan SDM, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi pustakwan dengan kebutuhan perguruan tinggi yang sedang bergerak menuju WCU. Perpustakaa n UNP telah melakukan berbagai inovasi seperti digitalisasi koleksi, pengembangan layanan berbasis teknologi dan pelatihan pustakaan. Namun, efektivitas dari upaya tersebut perlu dikaji secara mendalam. Belum adanya kajian sistematis mengenai kesenjangan ko mpetensi pustakwan dan kebutuhan institusi menjadi celah yang perlu diisi melalui penelitian ini.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang kompetensi pustakwan dalam mendukung visi UNP sebagai WCU. Studi Kasus dilakukan secara khusus di lingkungan Perpustakaan UNP sebagai representasi dari paraktik nyata pengemabangan kompetensi pustakwan dalam konteks perguruan tinggi menunju standar global. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendapat mengenai kompetensi pustakawan dalam mendukung transformasi UNP menuju WCU. Penelitian ini dilaksanakan di Perpustakaan UNP, dengan subjek penelitian adalah kepala perpustakaan, dan 4 pustakawan yang betugas sebagai koordinator layanan teknis, layanan sirkulasi, layanan tata usaha, dan layanan digital dan alih media. Teknik pengumpulan data yang yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Observasi partisipatif terhadap kegiatana layanan dan pengembangan perpustakaan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara semiterstruktur terhadap kepala perpustakaan dan pustakwan untuk menggali pemahaman dan pengalaman mereka mengenai kompetensi profesiona, teknis, dan sosial budaya yang dimiliki dalam kerangka mendukung WCU yang lebih mendalam dan fleksibel sesuai dangan tujuan penelitian. Studi dokumen dilakukan dengan mempedomani standar kompetensi pustakwan, program pelatihan, rencana startegi perpustakaan UNP dan dokumen pendukung lainnya. Analisis data dilakukan secara interaktif dan terus menerus sesuai dengan model Miles, Huberman dan Saldana (2014) yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan kriteria credibility, transferability, dependendability, dan confirmability .
Result & Discussion
Temuan penelitian mengenai kompetensi pustakawan menuju World Class University di Perpustakaan Universitas Negeri Padang merupakan temuan yang diperoleh ketika melakukan penelitian dan masih berupa informasi dan jawaban dari informan. Temuan penelitian yang didapat oleh peneliti yaitu kompetensi inti, kompetensi professional, kompet ensi individu, dan kriteria pustakawan. 1. Kompetensi Inti Kompetensi inti merupakan seperangkat kemampuan yang wajib dimiliki oleh pustakawan, yang mencakup kegiatan seperti pengadaan bahan pustaka, pengkatalogisasian, layanan sirkulasi, penelusuran informasi, promosi perpustakaan, dan literasi informasi. Standar pelaksaan perpustakaan yang di gunakan oleh Universitas Negeri Padang adalah standar peraturan yang berlaku di Indonesia, termasuk Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2021. Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada perpustakaan Universitas Negeri Padang sebagai berikut. “Standar perpustakaan yang digunakan di Universitas Negeri Padang dengan menetapkan dasar pengelolaan yang dapat memfasilitasi proses pembelajaran dan juga sesuai dengan peraturan yang ada di Indonesia termasuk Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2021” (Informan 1 22/1/2025) ”. Kompetensi inti ini menunjukkan bahwa pustakawan sudah memiliki fondasi peran strategis dalam ekosistem akademik. Akan tetapi, untuk mendukung WCU, kompetensi inti tersebut harus dikembangkan kearah global engagement, pemanfaatan teknologi, dan kemampuan kepemimpinan dalam manajemen informasi akademik. 2. Kompetensi Profesional Secara profesional, sebagian besar pustakwan memiliki pemahaman memadai terhadap sumber daya informasi, akses ke informasi, teknologi, manajemen, dan penelitian, serta kemampuannya dalam memanfaatkan pengetahuan tersebut sebagai dasar dalam penyedian layanan perpustakaan dan informasi merupakan bagian dari kompetensi profesional. Pustakawan juga aktfi dalam pelatihan dan seminar, meskipun belum banyak yang berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional atau menulis publikasi ilmiah. Syarat kompetensi profesional untuk pustakawan, yaitu: (a) mempunyai pengetahuan atas isi sumber daya informasi, termasuk kemampuan untuk menilainya secara kritis dalam kasus di mana penyaringan diperlukan ; ( b ) menguasai subjek yang relevan dan dibutuhkan oleh organisasi induk atau pengguna layanan; (c) mampu menciptakan dan mengelola layanan informasi yang nyaman, mudah diakses, dan terjangkau sesuai dengan arah strategis organisasi; (d) memberikan panduan dan dukungan ya ng efektif kepada pengguna layanan; dan (e) melakukan kajian terhadap kebutuhan informasi serta mengevaluasi nilai tambah dari produk dan layanan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada kesempatan ini, peneliti bertanya kepada informan tentang keterlibatannya dalam mendukung organisasi informasi melalui kerja sama dengan pihak berwenang. Berikut ini adalah hasil wawancaranya. “ Stakeholder dapat mencakup berbagai pihak, baik internal maupun eksternal, seperti manajemen perpustakaan, staf perpustakaan, pengguna, pemerintah, penyedia layanan, hingga komunitas atau organisasi terkait. Kerjasama ini seperti penyusunan kebijakan dan perencanaan, kemudian koordinasi operasional dan sebagainy a” (Informan 4 21/1/2025) . Kompetensi professional pustakawan merupakan indicator utama dalam transformasi perpustakaan perguruan tinggi menuju WCU. Namun, pendekatan kompetensi harus diperluas dari fungsi pengelolaan ke fungsi pengembangan konten akademik, dukungan riset, da peran pustakawan sebagai research supports dan knowledge manager . 3. Kompetensi Individu Kompetensi individu yaitu ketrampilan atau keahlian, sikap dan nilai yang memungkinkan pustakawan bekerja secara efisien, menjadi komunikator yang baik, selalu mempunyai semangat untuk terus be l ajar sepanjang karirnya. Dalam hal kompetensi individu terdapat subindikator tentang keterampilan . B agaimana pustakawan menjalin komunikasi dengan pengguna maupun dengan rekan kerjanya . “Komunikasi dengan rekan kerja biasanya dilakukan dengan koordinasi dan rapat tim hal ini dilakukan untuk berdiskusi tentang perkembangan terbaru, masalah apa saja yang perlu ditangani ataupun program perpustakaan yang sedang berjalan” (Informan 3, 22/1/20 25). Dari segi kompetensi individu, ditemukan adanya keberagaman Tingkat motovasi, kreativitas, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi dan perubahan organisasi. Beberapa pustakawan menunjukkan semangat belajar tinggi dan keterbukaan terhadap perubahan, nam un sebagaian lainnya masih pasif dalam mengikuti perkembangan literasi digital dan teknologi terbaru. Faktor usia, latar belakang Pendidikan, dan budaya kerja turut mempengaruhi perbedaan ini. Untuk mendukung pencapaian WCU, setiap pustakwan perlu memiliki karakter pembelajar, mampu beradaptasi dengan perubahan global, serta proaktif dalam pengembangan diri. 4. Kriteria Pustakawan Kriteria pustakawan menuju world class university adalah memiliki kompetensi yang memadai untuk melayani peneliti dan mendukung fasilitas penelitian. Kompetensi inti pustakawan merujuk pada kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Kompetensi ini mencakup berbagai aspek yaitu aspek manajemen, pengembangan, dan organisasi. Dalam wawancara yang dilakukan di P erpustakaan UNP untuk mengetahui bagaimana kompetensi pustakawan menuju World Class University adapun sebagai berikut yaitu kompetensi manajemen, kompetensi pengembangan, dan kompetensi organisasi. Di Perpustakaan Universitas Negeri Padang ini tentunya memiliki para pustakawan, disini peneliti berkesempatan untuk wawancara langsung dengan informan terkait dengan jumlah pustakawan yang telah menempuh pendidikan S1, S2, maupun S3. Berikut hasil wawancara yang telah peneliti lakukan:“Pustakawan yang telah menempuh pendidikan S1 berjumlah 14 orang, dan untuk pustakawan yang telah menempuh pendidikan S2 berjumlah 1 orang, dan untuk pustakawan yang telah menempuh S3 belum ada” (informan 4, 21/1/2025). Berdasarkan studi literatur dan temuan lapangan, kriteria pustakwan yang sesuai dengan visi WCU meliputi berwawasan global dan berorientasi riset, mampu berkomunikasi dalam Bahasa internasional, mampu memanfaatkan dan mengembangkan Teknologi informasi, ber etika, kolaboratif, dan inovatif, dan mampu mengembangkan layanan berbasis kebutuhan akademik dan kebijakan terbuka. Dari hasil penelitian, belum semua kriteria itu terpenuhi secara merata oleh pustakawan UNP. Tantangan utama terletak pada penguasaan Bahasa asing, keterlibatan dalam kegiatan akademik internasional dan integrasi antara kompetensi personal dengan tujuan st rategis institusi.
Conclusion
Dari hasil dan pembahsan sudah diuraikan dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Pertama , kompetensi inti pustakwan di Perpustakaan UNP telah mencakup pengelolaan informasi ilmiah, pelayanan akademik, dan digitalisasi koleksi. Namun kompetensi ini belum sepenuhnya diarahkan pada pemenuhan indikator WCU seperti kolaborasi internasional. Kedua , kompetensi profesional pustakwan mencerminkan kemampuan teknis dan fungsional yang cukup baik, khususnya dalam pengelolaan koleksi dan layanan referensi. Namun, peran pustakwan sebagai mitra strategis dalam penelitian da publikasi ilmiah masih terbatas. Ketiga , kompentensi individu menunjukkan adanya disparitas anatra pustakwan yang adaptif dan aktif dengan yang masih pasif dalam mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan organisasi. Faktor usia, motivasi, dan dukungan instutis turit mempengaruhi hal ini. Keempat , kriteria pustakwan menuju WCU belum sepenuhnya terwujud. Masih diperlukan peningkatan dalam penguasaan bahasa asing, keterlibatan dalam forum akademik internasional, serta kompetensi manajerial dan literasi data.