Kembali
16
1
2019 Maktabatuna : Jurnal Kajian Kepustakawanan Vol 1 · 2 ISSN 2723-0171

KESIAPAN PUSTAKAWAN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Kajian ini untuk menjelaskan dan mengetahui, upaya tantangan dan peluang pustakawan dalam era teknologi informasi, jenis data kajian ini adalah kualitatif dengan sumber data literature review kemudian di analis isinya berdasarkan pokok kajian. Hasil kajian ini menunjukkan pustakawan, diberbagai jenis institusi perpustakaan, sebaiknya meningkatkan kompetensi diri dan melakukan transpormasi perpustakaan untuk menghadapi era teknologi informasi. Puskawan perlu meningkatkan kompetensi dirinya secara profesional dalam pengelolaan e-resources perpustakaan, kepemimpinan manajerial, literasi digital, dan literasi penelitian, kompetensi tersebut sebagai bekal bagi pustakawan untuk melakukan traspormasi perpustakaan untuk mewujudkan pemustaka berpengetahuan. Selain itu juga pustakawan harus memandang isu dan fenomena informasi sebagai tantangan dan peluang yang positif bagi karier profesinya dimasa mendatang. Sebagai rekomendasi pustakawan perlu mengikuti perkembangan konektivitas dan berorientasi kepada kebutuhan komunitas. Hal tersebut dilaksanakan agar pustakawan siap menghadapi teknologi informasi dan pelayanan perpustakaan yang diberikan kepada pemustaka.

Abstract

This study aims to explain and to know the competencies, efforts, challenges and oppurtunities of librarian for enconnter the profeccion information tecnology. The type of study data is qualitative with literature review as data sources. The literature that has been reviewed then analyzed based on the subject matter. The Ressuts of this study indicate that librarians (in various types of library institutons) schould improve their competences and conduct the library transpormations to distruption prepation. Librarians need to increase their profeccional comptence in terms of library e-resouces management, managerial leadhersip, digital literacy, and risearch literacy. These competecies as the librarian asset at transform the library and realize the knowlegdeable community. In adittion. Librarians must look at disruption issue and phenomena as positive challenges and opportunities for professional carrer development n the future. As the recomedation, librarian need to keep up of informations tecnology, nomely knowlegde strengthening, connectivity bulding, and oriented to the comunnity needs. This is done sho thad librarians are ready to acounter the disruption and library services provided to users.
Keywords: pustakawan · library · competention · transformation · Technologi Information Era · Pustakawan · Teknologi Informasi · Kompetensi Pustakawan · Transformasi Perpustakaan

Introduction

Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan tempat layanan sumber informasi yang menunjang sukses tidaknya proses belajar mengajar disuatu perguruan tinggi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi modern, perpustakaan dapat memberikan layanan informasi yang tidak terbatas, layanan ini memanfaatkan, internet, program otomasi, digital library dan lain sebagainya. Sumber daya manusia dalam hal ini pustakawan sebagai salah satu profesi yang berhubungan dengan manajemen informasi (perpustakaan) harus dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi agar dapat mengambil peran yang lebih besar sehingga dapat memberikan pelayanan kepada pemustaka dengan baik. Tantangan pustakawan di era informasi adalah siap tidak menerima perubahan dan beraktualiasi diri untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi informasi, kesiapan untuk bekerja sama dengan sesama profesi serta meningkatkan budaya dan motivasi kerja yang tinggi. Seiring dengan perkembangan teknonologi informasi, seorang pustakawan pada perpustakaan merupakan salah satu media penyampai informasi dapat menggunakan bermacam program kemasan informasi dengan beragam penyajian. Dalam pendidikan dan pengajaran perpustakaan masih menjadi kebutuhan bagi para pendidik dan peneliti. Pustakawan dibutuhkan agar informasi sampai kepada pemustaka. Aneka informasi diolah oleh pustakawan agar bermanfaat bagi pemustaka, sehingga seorang pustakawan menjadi tolok ukur apakah informasi yang disampaikan bermanfaat atau tidak, sesuaikah dengan kebutuhan para pemusataka atau pengunjung perpustakaan. Pustakawan merupakan komponen yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan layanan perpustakaan, oleh karena itu pustakawan harus memenuhi kebutuhan pelayanan dan program yang dikembangkan diperpustakaan perguruan tinggi. Pustakawan perpustakaan perguruan tinggi setidaknya lulusan Diploma Tiga atau Strata Satu (D3/S1) Ilmu Perpustakaan. Permenpan RB Nomor 9 tahun 2014 Pasal 4 menyebutkan bahwa tugas pokok pustakawan yaitu melaksanakan kegiatan bidang kepustakawanan yang meliputi pengelolaan perpustakaan, pelayanan perpustakaan dan pengembangan sistem kepustakawanan. Pada Bab V tentang Unsur dan Sub Unsur Kegiatan, Pasal 8 yang menyatakan bahwa Jabatan Fungsional Pustakawan yang dapat dinilai angka kreditnya, terdiri dari: a. Pendidikan, meliputi: 1. Pendidikan sekolah dan memperoleh ijazah/gelar; 2. Diklat fungsional/ teknis di bidang kepustakawanan dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) atau sertifikat dan 3. Diklat Prajabatan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 32 ayat 3 menyebutkan bahwa Pustakawan, tenaga teknis perpustakaan, tenaga ahli dalam bidang perpustakaan, dan kepala perpustakaan memiliki tugas pokok, kualifikasi dan atau kompetensi. Pada pasal 34 disebutkan bahwa (1) Pustakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompetensi personal, (2) Kompetensi profesional sebagaimana dimaksud di ayat (1) mencakup aspek pengetahuan, keahlian dan sikap kerja, (3) Kompetensi personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup aspek kepribadian dan interaksi sosial. Tugas pokok dan fungsi pustakawan yang termaktub di dalam regulasi regulasi tentang pustakawan menjadi rujukan Pedoman Pustakawan Berprestasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi. Pustakawan secara prosentase jumlah memang lebih banyak ada di Perguruan Tinggi, sehingga pustakawan dalam Pedoman Pustakawan Berprestasi 2015 didefinisikan dengan tenaga profesional yang merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat (tridharma perguruan tinggi). Keberadaan seorang pustakawan sangat membantu pemustaka dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Diharapkan pustakawan bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi pemustaka, sehingga pemustaka akan selalu merindukan keberadaan serta termotivasi untuk kembali ke perpustakaan. 2. Literature Review: KAJIAN TEORI Kajian Pustakawan Pustakawan berasal dari kata “Pustaka” penambahan kata “wan” diartikan sebagai orang yang pekerjaan atau profesinya terkait erat dengan dunia pustaka atau bahan pustaka. Dalam bahasa Inggris pustakawan disebut sebut librarian yang juga terkait dengan kata “Library”. Dalam perkembangan selanjutnya istilah pustakawan diperkaya lagi dengan istilah-istilah lain, meskipun hakekat pekerjaan sama, yaitu sama-sama mengelola informasi, diantaranya pakar informasi, pakar dokumentasi, pialang informasi, manajer pengetahuan dan sebagainya. Poerwadarminta dalam Aziz (2006:44) menambahkan bahwa, “Pustakawan adalah ahli perpustakaan. Dengan pengertian tersebut berarti pustakawan sebagai tenaga yang berkompeten dibidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi”. Selanjutnya Aziz (2006:44) menambahkan bahwa, “Pustakawan merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, khususnya informasi publik, informasi yang disediakan merupakan informasi publik melalui lembaga kepustakawanan yang meliputi berbagai jenis perpustakaan”. Kajian Informasi Menurut Estabrook (Yusup, 2009), dalam sudut pandang dunia kepustakaan dan perpustakaan, informasi adalah suatu rekaman fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusanputusan yang dibuat seseorang. Sepanjang sejarah informasi, satu hal yang paling ditunggu penikmat informasi adalah kemudahan menelusur informasi yang dibutuhkannya. Asumsinya adalah semakin mudah menelusur sebuah informasi, maka akan semakin mudah pula menciptakan informasi baru. Informasi di dunia ini sangat banyak, tinggal bagaimana pelaku ini mendapatkannya, mengelolahnya dan akhirnya mengemas informasi itu sehingga siap saji dan dinikmati oleh peminat yang lain (Wiji Suwarno: 2014). Berdasarkan besar dan banyaknya informasi yang ada di alam ini, hanya sebagian kecil saja yang berhasil dirasakan, didengar, dilihat dan direkam oleh manusia. Informasi lisan lebih banyak dikembangkan oleh studi komunikasi. Orang pun tahu bahwa jenis informasi lisan jumlah sangat banyak, dan tentu saja lebih banyak dari jumlah manusia yang pernah ada. Akan tetapi informasi yang sempat direkam dalam berbagai bentuk alat perekaman inilah yang kelak bisa dikembangkan menjadi komoditas yang unggul dalam pola kehidupan menusia. Informasi merekam ini banyak dicari dan dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan kepentingannya. Meskipun telah dibatasi hanya pada jenis informasi terekam, namum itu ternyata jumlah masih sangat banyak karena menyangkut segala aspek kehidupan manusia yang semakin kompleks. Dewasa ini informasi meupakan sumber daya yang sangat strategis. Apalagi bagi negara berkembang seperti indonesia. Bila kita membaca surat kabar atau majalah, mendengarkan radio, melihat tayangan televisi maka istilah informasi atau teknologi informasi sudah sering terdengar. Istilah tersebut sering dikaitkan dengan istilah globalisasi karena informasinya mencapai seluruh dunia. Informasi merupakan hal yang tak dapat diterpisahkan oleh pembangunan nasional terutama yang diperlukan dalam dunia pendidikan, penelitian dan pengajaran dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Sebuah contoh yang sangat sederhana, saat kita menghadapi komputer yang berhubungan dengan internet, disini kita dapat mengetahui berbagai bidang informasi dari seluruh dunia. Selain kita juga dapat berhubungan secara langsung dengan fasilitas Yahoo Mesenger (YM) dan berkirim surat secara elektronik yang kita kenal istilah e-mail, fasilitas ini hanya memerlukan waktu beberapa menit meskipun lokasinya berbeda kota,propinsi banhkan antar negara. 2. Jenis-jenis Informasi Informasi harus dibedakan antara yang ilmiah dan yang tidak ilmiah. Yang pertama hanya berupa informasi biasa yang banyak tersedia dimana-mana. Informasi yang mengandung makna sejarah ini sangat penting dalam waktu yang akan datang karena merupakan data dan fakta sejarah. Dengan mengetahui jenis-jenis Informasi secara lebih jelas seperti buku, surat kabar, majalah, televisi, radio, komputer dan internet semua termasuk kedalam jenis sumber-sumber informasi, maka hal ini sangat berarti bagi para pencari informasi pada umumnya dalam memilah-milah atau mengklasifikasikan informasi sesuai dengan kelompoknya. Dengan demikian, hal ini dapat memperlancar pemanfaatan. Di perpustakaan dan kelembagaan lainnya organisasi informasi sangat menentukan keberhasilan pemanfaatannya. Misalnya melalui indeks kita bisa dengan cepat menemukan informasi yang kita cari di suatu tempat di perpustakaan atau disitus-situs internet. 3. Fungsi Informasi Informasi itu sangat beragam, baik dalam jenis, tingkatan, maupun bentuknya. Dengan demikian, maka fungsinya pun beragam pula karena akan bergantung pada manfaat bagi setiap orang informasinya berbeda-beda. Fungsinya bagi suatu organisasi, ia akan disesuaikan dengan jenis organisasi yang bersangkutan. Informasi yang bermanfaat adalah yang banyak mendukung tugas tugas tersebut, semua jenis informasi yang mempunyai aspek edukatif, riset dan rekreatif. Informasi jenis lain juga diperlukan tetapi tidak menonjol. Untuk suatu lembaga yang berorientasi perdagangan (profit orinted) disini sangat diperlukan segala jenis informasi yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas organisasi, misalnya informasi yang tepat untuk pengambilan keputusan para manajer, dengan aspek peningkatan pemasaran produk-produknya dan juga informasi tentang peramalan harga pasar. Didalam lingkungan keluarga informasi sangat berguna keberadaannya. Buku, majalah, koran, radio, televisi, komputer, bahkan internet semuanya bermanfaat bagi pengembangan wawasan anggota keluarga. 4.Sumber-Sumber Informasi Informasi itu ada dimana-mana, dipasar, sekolah, rumah, lembaga-lembaga suatu organisasi komersial, buku-buku, majalah, surat kabar, perpustakaan, dan tempat-tempat lainnya, di mana suatu benda atau peristiwa berada, disana bisa tercipta informasi (Yusup: 2009). Semua jenis informasi tersebut, terutama yang sudah disimpan dalam rekaman seperti tersebut di atas, sebagian besar disimpan dilembaga-lembaga informasi seperti perpustakaan, baik perpustakaan yang berada pada lembaga-lembaga formal maupun perpustakaan pribadi. Sebagaimana diketahui, konsep perpustakaan adalah lembaga pengelolaan informasi yang tampak dalam kegiatan penghimpunan, pengolahan, dan penyebarluasan informasi untuk kepentingan bagi masyarakat. Karena unsur pemanfaatannya dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus maka dari segi keawetan dan pemerataannya sangat diperhatikan oleh perpustakaan. Oleh karena itu, disini berlaku fungsi pelestarian informasi dari perpustakaan. Fungsi untuk melestarikan hasil-hasil budaya bangsa. Melalui perpustakaan, segala jenis informasi mengenai hasil karya manusia dari suatu daerah terekam, wajib disimpan Hardcopy (kopiannya) di perpustakaan nasional. Perpustakaan sebagai sumber informasi bisa dikelompokkan ke dalam beberapa jenis yang masing-masing mempunyai ciri dan penekanan fungsi yang berbeda. Ada yang berfungsi untuk melayani kebutuhan informasi bagi segenap anggota masyarakat luar secara menyeluruh ada yang berfungsi melayani kebutuhan informasi bagi kelompok masyarakat khusus, seperti masyarakat peneliti atau ilmuwan saja dan masyarakat sekolah saja ada yang bertugas khusus melayani kebutuhan informasi masyarakat dalam lingkungan khusus. Tidak ketinggalan juga adalah perpustakaan keluarga atau perpustakaan pribadi yang ada dirumah kita sendiri. Hanya karena sifat dan tujuan pengelolaannya yang bukan untuk pemanfaatan oleh umum maka sering disebut sebagai koleksi pribadi, bukan perpustakaan pribadi. Dalam beberapa tahun terakhir, tampak adanya kemunculan perpustakaan komunitas yang bentuknya bisa terintegrasi dengan tokoh buku. Pada pengelola model perpustakaan seperti ini berusaha menggabungkan fungsi-fungsi pendidikan, pencerahan, sosial. Perkembangan Teknologi Informasi mengakibatkan semua bidang pekerjaan perpustakaan tidak ada lagi yang tidak mendapat sentuhan ”keajaiban” Teknologi Informasi. Keilmuan perpustakaanpun saat ini dituntut mampu mengikuti perubahan sosial pemakainya. Perubahan dalam kebutuhan informasi, perubahan dalam berinteraksi dengan orang lain, dan dalam berkompetisi. Hanya dengan sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini tenaga pengelola perpustakaan dan tenaga fungsional pustakawan yang berkualitaslah (melalui keilmuannya) kita bisa membangun paradigma kepustakawanan Indonesia. Perubahan teknologi informasi yang terjadi, pustakawan harus menjadi pendukung dari kebebasan informasi. Teknologi informasi memberikan harapan besar untuk memberikan akses tak terbatas kepada mereka yang mencari informasi. Sejalan dengan perkembangan dunia modern kekuatan sumber daya manusia merupakan modal yang penting dalam peningkatan pengetahuan dan akses informasi di mana salah satu sarananya adalah perpustakaan. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan, seperti tersebut di atas bahwa perpustakaan merupakan tempat terakumulasinya ilmu pengetahuan. Pustakawan dalam hal ini sebagai pengelola informasi sudah seharusnya melakukan inovasi dalam berbagai bidang untuk bisa memanfaatkan akumulasi ilmu pengetahuan yang dimilikinya sebagai suatu kekuatan. Betapa besarnya sebuah perpustakaan, namun tidak ada satupun yang mampu memiliki semua informasi yang dihasilkan oleh ilmuwan dan penulis di seluruh dunia. Bahkan untuk disiplin ilmu yang paling spesifik. Dalam hal ini profesionalisme pustakawan perlu mengeksplor pilihan untuk memperluas akses pemustaka ke sumber informasi dengan membangun kerjasama dengan perpustakaan atau pusat-pusat informasi yang lain (Syawqi, 2017).

Discussion

Perpustakaan dan Informasi di Era informasi, perpustakaan merupakan salah satu lembaga penyedia informasi. Apabila dikaitkan dengan adanya lembaga-lembaga yang bergerak dalam pengemas informasi atau information broker, seharusnya pustakawan dapat mengambil peran di era informasi ini. Antara lain penelusuran, pencarian artikel dan lain-lain, dan menjadi menjadi pesaing yang handal sebagai information broker. Untuk mengambil kesempatan di era informasi, ada berbagai rintangan atau tantangan yang mesti dihadapi oleh pustakawan. Rintangan dan tantangan itu berupa kemajuan teknologi informasi tersebut. Pada era globalisasi saat ini yaitu kemampuan menghadirkan informasi yang mencakup seluruh dunia tanpa batas ruang dan waktu, utnuk itu pustakawan harus mampu membangun tim yaitu dengan berkolaborasi antara sesama profesi atau atau bahkan dengan profesi lainnya. Tantangan atau rintangan tersebut dapat diatasi apabila pustakawan memiliki budaya dan motivasi kerja yang tinggi, yang tumbuh dari hati nurani masing-masing pustakawan serta lingkungan kerja yang mendukung, kemudian beraktualisasi diri, dalam hubungan dengan peningkatan profesionalnya sebagai pustakawan. Pustakawan masa kini harus aktif serta dapat memyesuaikan diri dan harus care terhadap kebutuhan pemustaka. Pustakawan harus menekankan pada kebutuhan (user oriented), tidak hanya sibuk dengan dunia sendiri (tecnical oriented), seperti sibuk mengumpulkan kredit point. Rintangan dan Tantangan pustakawan kemajuan di dalam teknologi informasi dan komunikasi telah mempegaruhi perkembangan perpustakaan demikian juga bagi pustakawan perguruan tinggi. Kemajuan ini akan membawa perubahan-perubahan pada layanan perpustakaan, sehingga kehadiran informasi yang mengglobal itu harus dapat diterima. Perkembangan teknologi informasi tersebut menjanjikan adanya kecepatan mendapatkan informasi, dimana hal tersebut merupakan salah satu faktor tuntutan dalam pengelolaan informasi (perpustakaan). Terhadap fenomena yang terjadi, seorang pustakawan harus dapat menjawab tantangan tersebut, sehingga pustkawan dapat mengikuti perkembanganya. Tuntutan pemustaka terhadap pelayanan perpustakaan semakin tinggi dan beraneka ragam. Dengan demikian pustakawan yang bertugas harus dipersiapkan. Pustakawan harus memiliki dan memperhatikan hal-hal yang prinsip yaitu skill, kecakapan, terampil, (kepandaian dalam bidang teknologi informasi), knowlege (pengetahuan) mempunyai wawasan yang luas, – knowledge, pengetahuan (mempunyai wawasan yang luas), kecakapan kemampuan dapat memberikan pelayanan, kedewasaan psikologi, upaya meningkatkan profesionalitas pustakawan yang berkaitan dengan era teknologi informasi. Menurut Blasius Sudarsono (2006:103) semakin terbuka informasi bagi masyarakat berkat dukungan jaringan internet, beberapa kalangan meragukan perlunya peran pustakawan, sama halnya dengan perpustakaan. Semakin banyak informasi yang dapat diakses melalui internet, akses terhadap koleksi bahan pustaka di perpustakaan terasa semakin payah. Keadaan tersebut mendorong proses alih media bahan pustaka ke format digital secara masif, kemudian menaruh ke situs web virtual library). Setiap orang dengan dukungan komputer pribadi (PC) yang tersambung ke internet dapat berpartipasi dibelatara internet. Pengetahuan dalam ini sumber daya manusia dari pustakawan merupakan faktor penting. Selain itu pustakawan melakukan bimbingan pemakai dalam teknik penelusuran informasi online dan mengevaluasi informasi yang diperoleh melalui internet. Kesiapan pustakawan dalam masyarakat informasi dimulai dari analisis simbolik sampai berbagai dengan perkembangan mutakhir. Perkembangan dampak keberadaan internet merupakan hal yang harus diperhatikan pustakawan sekurang-kurang tiga hal : 1. Karena internet memungkinkan perpustakaan menyediakan lebih beragam informasi dalam lingkungannya, tetapi sekaligus mengevaluasi secara kritis atas informasi yang terkandung di internet. 2. Pustakawan dalam melayani penggunanya, sangat beragam. Misalnya pada perguruan tinggi sebagai dosen dapat pula sebagai peneliti. 3. Pustakawan adalah “Manejer Informasi” mengelola informasi, Kebutuhan informasi pemustaka merupakan dasar pengelolaan informasi. Bila dikaitkan dengan lembaga jasa lainnya, maka pustakawan memiliki kedudukan yang sama dengan manejer sebuah tokoh buku, restoran, hotel dan sebagainya. Pustakawan dalam perannya sebagai manejer juga harus mengoptimalkan semua sumber daya tersedia di perpustakaan, baik yang berupa sumber daya manusia, sumber daya informasi, dana, termasuk sarana dan prasarana. Kesiapan pustakawan dalam mengelola dan memberikan informasi yang baik bagi pemustaka sebagai berikut : 1. Pustakawan harus profesional dalam memberikan layanan. 2. Sebagai pustakawan yang menguasai teknologi informasi diharapkan bisa melayani pemustaka dengan cepat dan akurat. Seorang pustakawan harus bisa menyediakan berbagai informasi dengan cepat sesuai dengan kebutuhan pemustaka, bukan berarti ketika teknologi informasi sudah berkembang seorang pustakawan harus lebih cermat dan tanggap dalam menyediakan informasi. Misal dalam hal menyediakan alamat-alamat web, Situs-situs dan katalog online, (e-books), ORS, Moraref, dalam berbagai macam bidang yang dibutuhkan oleh pemustaka, menyediakan alamat-alamat jurnal online di perpustakaan. 3. Sebagai pustakawan yang menguasai teknologi informasi diharapkan bisa melayani pemustaka dengan cepat dan tepat. Seorang pustakawan harus bisa menyediakan berbagai informasi dengan cepat. Hal tersebut berguna untuk memudahkan dan mempercepat pemustaka dalam pencarian informasi yang dibutuhkan. 4. Pustakawan harus berpenampilan yang rapi dan bersih, murah senyum serta melayani dengan sepenuh hati. 5. Pustakawan harus inovatif yaitu mampu berinovasi. 6. Pustakawan harus mampu mengelola perpustakaan secara efektif dan efisien. 7. Pustakawan untuk bisa bekerjasama meskipun tugas masing-masing berbeda beda. Tujuannya sama adalah untuk memberikan kepuasan kepada pemustaka. 8. Pustakawan harus mempunyai prinsip User Oriented (Berorientasi pada pemustaka). 9. Pustakawan harus bersifat santun dan tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemustaka. 10. Pustakawan harus bisa memberikan perhatian yang lebih kepada penggunanya. Dengan adanya pertanyaan atau obrolan yang membuat pengguna tidak tegang saat datang ke perpustakaan, misalnya dengan menanyakan nama dan alamat akan membuat pengguna cukup diperhatikan. Kendala dalam Pengelolaan Perpustakaan Sampai saat ini masih banyak terdengar keluhan dan sulitnya mendapatkan informasi yang tepat, akurat, murah dan cepat. Pemustaka menginginkan informasi yang dibutuhkan akurat dan efisien, baik dari segi waktu dan biaya. Tingkat kenyaman pemustaka dalam menikmati layanan informasi juga masih belum terpenuhi. Semuanya ini merupakan tantangan yang perlu segera dipikirkan dan disiasati dengan model pembaharuan dalam etos kerja dan kinerja pustakawan ke arah yang lebih “proaktif dan inovatif”. Konsekuensi logis dari tuntutan pembaharuan tersebut adalah melakukan pembenahan yang menyeluruh. Pustakawan dituntut agar dapat mengeksplorasi cara baru guna mengembangkan produk yang dapat ditawarkan ke pengguna untuk memperoleh akses informasi serta meningkatkan kualitas layanan untuk kepentingan pemustaka. Saatnya pustakawan yang profesional menyediakan jasa layanan prima. Perpustakaan, dalam upaya mendukung perguruan tinggi yang bertaraf internasional, masih menghadapi kendala yang cukup kompleks dan beragam, mulai dari birokrasi yang rumit, sumber daya manusia yang tidak profesional hingga pendanaan yang macet atau tersendat-sendat dalam setiap kegiatan pengembangan perpustakaan.

Conclusion

1. Teknologi informasi di perpustakaan membawa dampak perubahan peran pustakawan dalam menjalankan tugasnya. Pustakawan dalam era teknologi informasi (digitalisasi) dituntut untuk bekerja secara profesional, selalu meningkatkan kemampuan diri dalam bidang teknologi informasi baik melalui seminar, diskusi, pelatihan, maupun workshop. Perpustakaan wajib memberikan perhatian terhadap hal ini dengan selalu mendorong pustakawan untuk senantiasa meningkatkan profesionalisme dengan meningkatkan berbagai skill bidang pelayanan dan teknologi informasi. Di samping itu perpustakaan juga harus memberikan alokasi dana yang cukup untuk implementasi sistem informasi di perpustakaan. 2. Pustakawan sebagai pengolah dan pendistribusi informasi sudah selayaknya memanfaatkan teknologi informasi untuk didayagunakan secara maksimal. Perpustakaan akan lebih dikenal oleh masyarakat apabila dalam setiap layanan dan aktivitasnya dapat memberikan kepuasan untuk selalu memanfaatkannya. Merupakan suatu tantangan bagi pustakawan adalah untuk memahami dan menentukan posisinya dalam proses perubahan dan beralih dari pemikiran perpustakaan sebagai ruang fisik semata ke suatu kenyataan baru perpustakaan sebagai organisasi yang harus mengembangkan jenis layanan informasi digital. Teknologi informasi ini memberikan kemudahan luar biasa kepada pengguna/pemustaka untuk mengakses informasi lintas batas. Di sisi lain teknologi informasi, juga memberikan kemudahan bagi pengelola informasi/pustakawan untuk mengolah, menyimpan dan menyebarkan informasi yang dimilikinya. SARAN Penerapan teknologi informasi di perpustakaan akan membawa kepada layanan informasi yang berkualitas. Tentunya yang diimpikan adalah layanan informasi yang tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Kapan dan di mana saja perpustakaan siap menemani serta memuaskan pelanggannya. Di era teknologi informasi pustakawan harus bersifat positif dan inovatif dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Pustakawan harus bisa mencari pemecahan masalah terhadap setiap persoalan yang dihadapi, jangan pernah berkata bahwa sesuatu tidak dapat dikerjakan. Pustakawan harus selalu berinovasi. Pustakawan harus mengadopsi teknologi sebagai alat yang memungkinkan untuk mendapatkan gagasan untuk pengembangan perpustakaan seperti layanan informasi baru, kemudahan dalam akses informasi.