Strategi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (Studi Kasus di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak)
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan yang digunakan ialah Penanggung Jawab Program, Pengelola dan Pelaksana transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Siak, actual user, serta master trainer program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Data diperoleh melalui observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini ialah Dispusipda Kabupaten Siak dalam menjalankan strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial melalui empat. Pertama, analisis lingkungan dengan melakukan analisis kebutuhan masyarakat, melihat tren, dan diskusi bersama. Kedua melakukan tahapan perumusan strategi meliputi adanya misi sebagai landasan untuk mencapai tujuan, perencanaan strategi dengan tiga aspek yaitu peningkatan layanan TIK, pelibatan masyarakat, dan advokasi, serta adanya kebijakan yang mengatur transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Ketiga, melakukan implementasi strategi terdiri dari pembentukan program transformasi perpustakaan, promosi melalui agenda kegiatan dan media, anggaran, dan SOP. Keempat, evaluasi strategi yang dilakukan dengan melakukan wawancara secara langsung terhadap peserta kegiatan dalam program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan kemudian melakukan evaluasi bersama.
Abstract
The purpose of this study was to determine the library transformation strategy based on social inclusion by the Regional Library and Archives Service of Siak Regency. To achieve this goal, this research uses qualitative research methods with a case study approach. The informants used were the Program Manager, Manager and Implementer of social inclusion-based library transformation at the Regional Library and Archives Service of Siak Regency, actual users, and master trainers for social inclusion-based library transformation programs. Data were obtained through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The results of this study are the Dispusipda of Siak Regency in carrying out a library transformation strategy based on social inclusion through four. First, environmental analysis by analyzing community needs, looking at trends, and discussing together. The second stage of strategy formulation includes the existence of a mission as a basis for achieving goals, strategic planning with three aspects, namely improving ICT services, community involvement, and advocacy, as well as the existence of policies that regulate the transformation of libraries based on social inclusion. Third, implementing the strategy consists of establishing a library transformation program, promotion through activity agendas and media, budgets, and SOPs. Fourth, the evaluation of the strategy was carried out by conducting direct interviews with the activity participants in the social inclusion-based library transformation program and then conducting a joint evaluation.
Keywords:
Strategi Transformasi Perpustakaan
· Iklusi Sosial
· Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Siak
Introduction
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak menjadi penggerak bagi perpustakaan-perpustakaan desa untuk menjalankan peran perpustakaan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Siak. Bahkan bisa dikatakan Dispusipda kabupaten Siak menjadi perpustakaan yang paling aktif dalam menjalankan program perpustakaan untuk pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Siak. Oleh karena itu perpustakaan perlu melakukan transformasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Sehingga dengan transformasi yang dilakukan, perpustakaan menjadi wadah ataupun sarana bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan mengembangkan pengetahuan dengan berbagai kegiatan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Pada saat ini model transformasi yang banyak dilakukan dan dikembangkan di berbagai perpustakaan ialah transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, yaitu dengan memanfaatkan program penguatan literasi sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan masyarakat ¹. Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadi bentuk dukungan perpustakaan dalam mewujudkan program pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG'S). Sebagaimana disebutkan dalam keputusan kepala perpustakaan Nasional RI No. 92 Tahun 2017 tentang rencana strategis Perpustakaan Nasional Tahun 2015- 2019. Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten Siak mulai melakukan implementasi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi pada tahun 2019 hingga saat ini. Dispusipda Kabupaten Siak melakukan berbagai kegiatan yang merupakan implementasi dari program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dalam menarik minat masyarakat untuk ikut serta dalam pelaksanaan program ini perpustakaan melakukan dengan berbagai kegiatan mulai dari rekreasi seperti melakukan senam bersama masyarakat, mengadakan berbagai pelatihan seperti memasak, membatik, wirausaha dan lain sebagainya. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menimbulkan ketertarikan masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan dan mengikuti berbagai kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak. Kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dispusipda Kabupaten Siak dilakukan untuk berbagai golongan masyarakat mulai dari anak kecil hingga orang tua mendapatkan dampak dari pelaksanaan program ini. Pelaksanaan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi yang terlaksana dengan baik oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak dan memberikan dampak positif terhadap masyarakat. Dispusipda Kabupaten Siak mendapat penghargaan nasional dalam implementasi program tersebut. Tiga tahun berturut-turut mulai dari 2019, 2020, dan 2021 Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak mendapatkan penghargaan dari Perpusnas sebagai perpustakaan terbaik dalam implementasi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dengan demikian, penulis tertarik untuk meneliti mengenai strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak dengan metode penelitian studi kasus. Metode penelitian ini dipilih karena membantu peneliti untuk menganalisis strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten Siak.
Method
Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak. Untuk mengungkapkan fenomena strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu tipe penelitian yang bersifat menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten Siak. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengungkap fenomena yang terjadi dan dialami oleh subjek penelitian secara holistik, yang kemudian akan digambarkan dan dijelaskan dalam bentuk tulisan dan bahasa dengan konteks khusus alamiah yang menggunakan berbagai metode alamiah. Hal ini sesuai dengan apa yang paparkan oleh Bogdan dan Taylor dalam Moleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah: "Penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar belakang individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu keutuhan". ³ Metode penelitian kualitatif digunakan oleh peneliti agar dalam penelitian dapat menjawab pertanyaan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan dengan melakukan berbagai tahapan hingga pada akhirnya penelitian ini dapat dipaparkan dengan jelas, juga diharapkan dengan metode ini memperoleh informasi dan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini juga digunakan dalam membantu mencari, mengumpulkan, mengelola, dan serta menganalisis data hasil penelitian secara mendalam sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, dalam memahami strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak secara menyeluruh, penelitian melakukan pendekatan studi kasus. Studi kasus adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, secara rinci serta mendalam fenomena yang terjadi dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Menurut Creswell sebagaimana dikutip oleh Kusmarni mengemukakan pendekatan studi kasus sebagai berikut: “Pendekatan studi kasus merupakan pendekatan yang menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan (program, even, proses, institusi atau kelompok sosial) serta mengumpulkan informasi secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode tertentu”. ⁴ Metode penelitian studi kasus digunakan oleh penulis, karena dapat membantu dalam memahami strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial secara menyeluruh di Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten Siak. Untuk mengumpulkan data, penulis melakukan pengamatan secara berkelanjutan, tentang kondisi di Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten Siak. Dalam melakukan penelitian ini, prosedur pengumpulan data menjadi salah satu langkah yang sangat penting dan harus dilakukan peneliti untuk memperoleh data. Menurut Sugiyono dalam prosedur pengumpulan data di penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi.⁵ Dalam menguji validitas dan reliabilitas data penelitian ini dilakukan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi yaitu proses pengecekan data yang diperoleh dengan melakukan pengecekan kebenaran data. Adapun teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi dengan memanfaatkan sumber. Triangulasi dilakukan kepada peserta program transformasi perpustakaan dan pemustaka di Dispusipda Kabupaten Siak. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara untuk melakukan triangulasi kepada Master Trainer program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Result & Discussion
Analisis lingkungan merupakan tahap dasar dari pembentukan suatu strategi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pada tahap ini terbagi dua cara dalam melakukan analisis lingkungan, yaitu analisis internal dan eksternal yang di dalamnya terdapat SWOT atau strength, weaknesses, opportunity, dan threat. Analisis tersebut dilakukan untuk mempermudah suatu perusahaan atau lembaga dalam mencapai tujuan. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak melakukan cara lain dalam membentuk strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial terutama dalam melakukan analisis lingkungan. Dispusipda Kabupaten Siak tidak melakukan analisis SWOT atau strength, weaknesses, opportunity, dan threat, melainkan melakukan analisis kebutuhan masyarakat. "iya, ada ya tapi kita itu lebih ke analisis kebutuhan masyarakat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, kemudian kita rundingkan ide-ide apa saja yang bisa membantu dalam merancang program Tpbis ini. jadi ya itu kita biasanya diskusikan idenya bersama tim pelaksana. Kira-kira kita ada ide apa ni, atau dari boleh brainstorming, atau boleh juga ide dari pihak lain, atau ide yang kita adopsi melihat perpustakaan lain, ya kita saling sharing gitu". (Wawancara dengan Ibu Anita pada Rabu, 23 Februari 2022) Perumusan kegiatan yang akan dilakukan Dispusipda Kabupaten Siak melihat terlebih dahulu apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat. Selanjutnya dilakukan diskusi bersama atau brainstorming dengan tim pengelola kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Berdasarkan analisis dan diskusi tersebut Dispusipda Kabupaten Siak juga melihat tren terkini, sehingga dalam merumuskan kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman saat ini. Selanjutnya setelah tahap analisis lingkungan, tahap kedua ialah perumusan strategi. Strategi merupakan hal penting untuk dirumuskan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, sebagaimana disebutkan oleh Bapak Dede Herwin selaku master trainer program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial sebagai berikut. "Justru sangat penting ya, karena ketika perpustakaan ingin melakukan sebuah program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini sangat perlu untuk memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan nantinya. Akan jelas perbedaan nantinya ketika sebuah perpustakaan memiliki strategi yang baik dan terencana dengan baik maka kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di dalam program ini akan lebih mudah dilaksanakan dan tujuan akan lebih tercapai dengan maksimal juga.” (Wawancara triangulasi dengan Bapak Dede Herwin pada Rabu, 2 Maret 2022). Dispusipda Kabupaten Siak melakukan tiga perencanaan strategis dalam transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu sebagai berikut: 1. Melakukan peningkatan layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dalam peningkatan layanan digital di Dispusipda Kabupaten Siak membuka layanan Pojok baca digital disingkat dengan Pocadi dengan menyediakan beberapa komputer beserta dengan layanan internetnya, dan Dispusipda Kabupaten Siak juga membuat aplikasi E-Pusdasiak guna untuk memaksimalkan layanan digital perpustakaan. 2. Melakukan pelibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan. Dispusipda kabupaten siak dalam strategi pelibatan masyarakat memiliki perbedaan sebelum adanya program ini, kalau sebelumnya Dispusipda Kabupaten Siak hanya melakukan kegiatan yang hanya melibatkan satu kelompok umur saja seperti anak sekolah, sementara ketika akan pelaksanaan program ini Dispusipda kabupaten siak melibatkan berbagai kelompok umur masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, pemuda-pemudi, petani hingga ibu-ibu. 3. Melakukan advokasi. Dalam Advokasi, Dispusipda Kabupaten Siak melakukan tiga strategi yaitu: a. Promosi, dilakukan dengan memanfaatkan media sosial sebagai media yang efektif untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait pelaksanaan kegiatan, Dispusipda Kabupaten Siak melakukan promosi kegiatan dan perpustakaan melalui facebook, Instagram, dan juga melalui grup atau story whatsapp. b. Kemitraan, Dispusipda Kabupaten Siak memiliki menjadikan advokasi yaitu kemitraan menjadi salah satu strategi utama dalam terlaksananya berbagai kegiatan. Kemitraan ini dilakukan dengan melakukan pendataan terhadap Dispusipda Kabupaten Siak itu sendiri untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan serta menentukan mitra sesuai dengan kebutuhan tersebut, kemudian juga melakukan pendataan dengan kemitraan apa yang mitra butuhkan ketika sesudah mengetahui data tersebut maka akan bisa melihat potensi mitra mana yang bisa diajak untuk melakukan kerjasama. Karena dengan adanya pendataan tersebut program yang diinginkan oleh di Dispusipda Kabupaten Siak berjalan, dan target program dari mitra juga tercapai. c. Publikasi, Dispusipda Kabupaten Siak melakukan publikasi setiap kegiatan yang ingin dilakukan dan setiap dokumentasi dari kegiatan dilakukan. Hal ini sebagai bentuk mendukung promosi yang akan menarik masyarakat semakin antusias dalam mengikuti kegiatan di Dispusipda Kabupaten Siak. Kemudian terkait kebijakan khusus mengenai pelaksanaan Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, Dispusipda Kabupaten Siak merujuk kepada Peraturan Presiden RI No. 72 tahun 20218 tentang rencana kerja pemerintah tahun 2019, Peraturan Presiden No. 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, dan Dispusipda Kabupaten Siak memiliki kebijakan yang dihasilkan dari kerja sama yang dikonsultasikan dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung sehingga lahir Peraturan Bupati Siak No. 21 tahun 2021. Dengan adanya berbagai kebijakan yang mengatur program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat membantu Dispusipda Kabupaten Siak dalam pelaksanaan program tersebut. Setelah melewati tahapan yang cukup panjang pada perumusan strategi, tahap selanjutnya ialah implementasi strategi yang dibagi lagi menjadi tiga aspek, yaitu program, anggaran, dan prosedur. Pelaksanaan kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dispusipda Kabupaten Siak dinilai berhasil. Adapun kegiatan implementasi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dispusipda Kabupaten Siak sebagai berikut: 1. Kegiatan Kebutuhan dan Pelibatan Masyarakat Dispusipda Kabupaten Siak melakukan perubahan kegiatan yang dilaksanakan, sebelum ada program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial Dispusipda Kabupaten Siak jarang melaksanakan kegiatan pelibatan masyarakat. Adapun kegiatan yang dilaksanakan hanya ditujukan untuk anak sekolah, Dispusipda kabupaten siak belum berkegiatan secara inklusi sosial. Dengan adanya program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial Dispusipda mulai merancang dan aktif untuk berkegiatan dan melibatkan masyarakat. Analisis kebutuhan masyarakat menjadi Langkah awal untuk menentukan pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dispusipda Kabupaten Siak melakukan kegiatan mulai dari Bimbingan Belajar untuk anak sekolah mulai dari tingkat SD-SMA hal ini berdasarkan keluhan dan saran dari orang yang kesulitan untuk mengajarkan pelajaran yang diajarkan di sekolah. Berbagai kegiatan pelatihan seperti komputer, memasak, membatik, merajut, kesenian, dan lainnya. Kegiatan pelatihan banyak sekali diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat anak sekolah, pemuda-pemudi, umum, petani, peternak, serta ibu-ibu rumah tangga juga sangat antusias terutama ketika adanya pelatihan memasak dan merajut. 2. Kegiatan Replikasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Terdapat tiga kegiatan replikasi dalam program transformasi perpustakaan yang dilakukan oleh Dispusipda Kabupaten Siak, sebagai berikut ini: a. Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dispusipda Kabupaten Siak melakukan kegiatan sosialisasi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial kepada perpustakaan desa di Kabupaten Siak. Dalam melakukan sosialisasi Dispusipda Kabupaten Siak melakukanya dengan melaksanakan kegiatan dengan masyarakat desa di Perpustakaan desa tersebut, sebagai bentuk langkah awal untuk mengajak perpustakaan desa untuk ikut melaksanakan implementasi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di perpustakaannya. Setelah sosialisasi tersebut Dispusipda Kabupaten Siak akan melakukan bimbingan teknis terhadap perpustakaan desa bagaimana upaya dan pelaksanaan program tersebut. b. Stakeholder Meeting Salah satu agenda penting yang dilaksanakan oleh Dispusipda Kabupaten Siak ialah mengundang dan melakukan pertemuan dengan pemangku kepentingan. Dispusipda Kabupaten Siak melakukan pertemuan dengan stakeholder di Kabupaten Siak baik dari instansi pemerintahan dan pihak swasta lainnya dengan misi perpustakaan untuk kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari agenda stakeholder yang dilakukan oleh Dispusipda Kabupaten Siak untuk menyamakan persepsi antar stakeholder serta untuk mendapatkan dukungan dan jalinan kerjasama untuk mendukung pelaksanaan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan oleh Dispusipda Kabupaten Siak. c. Peer Learning Meeting (PLM) Sama dengan Perpusnas, Dispusipda Kabupaten Siak juga melaksanakan agenda peer learning meeting (PLM) untuk semua perpustakaan desa yang dibimbing dalam melaksanakan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dalam agenda tersebut Dispusipda Kabupaten akan memimpin setiap perpustakaan desa untuk saling berbagi cerita mengenai apa saja dan bagaimana pelaksanaan kegiatan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Desa masing-masing. Sehingga, setiap perpustakaan akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru untuk memperbaiki dan lebih bersemangat dalam pelaksanaan di tahun selanjutnya. Kemudian diakhir agenda peer learning meeting Dispusipda juga akan memberikan penghargaan terhadap perpustakaan-perpustakaan desa yang berhasil dan terbaik dalam melaksanakan implementasi dari Program tersebut. d. Evaluasi Dispusipda Kabupaten Siak tidak lupa untuk melakukan evaluasi dengan perpustakaan desa yang melaksanakan kegiatan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial karena ini menjadi tanggung jawab dari Dispusipda Kabupaten Siak. Evaluasi ini dilakukan dengan mengundang setiap pengelola perpustakaan desa tersebut dan memberikan gambaran kegiatan apa saja yang telah dilakukannya. Evaluasi dan pengendalian strategi merupakan tahapan terakhir sekaligus awal dalam pembentukan strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dispusipda Kabupaten Siak dalam melakukan evaluasi setiap kegiatan dalam program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial melakukan wawancara kepada beberapa peserta kegiatan. Ketika selesai kegiatan Dispusipda Kabupaten Siak menghampiri peserta dan melakukan wawancara untuk mengetahui respon dan penilaian peserta terhadap kegiatan yang telah diselenggarakan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dilakukan rapat/diskusi bersama dengan membahas evaluasi, kritik dan saran yang diberikan oleh peserta kegiatan.
Conclusion
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak melakukan empat tahapan dalam strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pertama, melakukan analisis kebutuhan masyarakat, kemudian dilakukan diskusi bersama dengan melihat tren terkini dalam merumuskan kegiatan dalam program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kedua, Dispusipda Kabupaten Siak memiliki tiga strategi dalam melakukan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu: Peningkatan Layanan TIK, Pelibatan masyarakat, dan Advokasi yang terdiri dari promosi, kemitraan, dan publikasi. Ketiga, Dispusipda Kabupaten Siak dalam Implementasi kegiatan terdapat dua konsep kegiatan yang dilakukan yaitu: kegiatan pemberdayaan masyarakat dan melakukan agenda replikasi yang terdiri dari sosialiasasi dan bimbingan teknis, stakeholder meeting, peer learning meeting, dan evaluasi. Keempat, Dalam melakukan evaluasi Dispusipda Kabupaten Siak melakukan wawancara secara langsung kepada peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, kemudian dilakukan diskusi bersama terkait hasil wawancara dan pelaksanaan setiap kegiatan dalam program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.