Kembali
16
1
2023 Literatify : Trends in Library Developments Vol 4 · 1 ISSN 2723-0953

Tantangan Perpustakaan untuk Menghadapi Pemustaka di Era Modern pada Perpustakaan Universitas Potensi Utama

Universitas Potensi Utama; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Sejak maraknya pemanfaatan internet di tengah-tengah masyarakat, sudah timbul isu bahwasanya suatu waktu tugas pustakawan dan perpustakaan tidak diperlukan lagi dikemudian hari oleh masyarakat. Penelitian ini, peneliti menggunakan metode yaitu penelitian kualitatif, penelitian lapangan merupakan field research yang mempunyai karakter yaitu penelitian kulitatif. Peneliti dengan mengumpulkan data dilapangan mengenai Tantangan Perpustakaan untuk Pemustaka di Era Modern Pada Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Pengunjung perpustakaan menginginkan Perpustakaan Universitas Potensi Utama dengan lingkungan yang sangat nyaman untuk tempat mendapatkan kenyamanan membaca dan mendapatkan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan informasinya. Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Pemustaka merupakan individu unik dengan preferensi, perasaan, dan emosi masing-masing. Dalam hal interaksi dengan penyedia layanan tidak semua pemustaka di Perpustakaan Universitas Potensi Utama bersedia menerima layanan yang seragam (standardized service). Perkembangan dunia perpustakaan menuntut para pustakawan di Perpustakaan Universitas Potensi Utama untuk menguasai penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola informasi yang dibutuhkan oleh para pengunjung Perpustakaan Universitas Potensi Utama

Abstract

Since the widespread use of the internet in society, the issue has arisen that one day the duties of librarians and libraries will no longer be needed by the community. In this research, the researcher uses a method that is qualitative research, field research is a field research which has the character of qualitative research. Researchers by collecting data in the field regarding Library Challenges for Librarians in the Modern Era at the Main Potential University Libraries. Library visitors want the Main Potential University Library with a very comfortable environment for a place to get comfortable reading and get relevant information according to their information needs. Treat all customers the same way at the Main Potential University Library. Users are unique individuals with their own preferences, feelings and emotions. In terms of interaction with service providers, not all users at the Potential Main University Library are willing to receive standardized service. The development of the world of libraries requires librarians at the Main Potential University Library to master the application of information and communication technology to manage the information needed by visitors to the Main Potential University Library.
Keywords: Information · services · Information Technology

Introduction

Sejak maraknya pemanfaatan internet di tengah-tengah masyarakat, sudah timbul isu bahwasanya suatu waktu tugas pustakawan dan perpustakaan tidak diperlukan lagi dikemudian hari oleh masyarakat. Penelitian ini, peneliti menggunakan metode yaitu penelitian kualitatif, penelitian lapangan merupakan field research yang mempunyai karakter yaitu penelitian kulitatif. Peneliti dengan mengumpulkan data dilapangan mengenai Tantangan Perpustakaan untuk Pemustaka di Era Modern Pada Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Pengunjung perpustakaan menginginkan Perpustakaan Universitas Potensi Utama dengan lingkungan yang sangat nyaman untuk tempat mendapatkan kenyamanan membaca dan mendapatkan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan informasinya. Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Pemustaka merupakan individu unik dengan preferensi, perasaan, dan emosi masing-masing. Dalam hal interaksi dengan penyedia layanan tidak semua pemustaka di Perpustakaan Universitas Potensi Utama bersedia menerima layanan yang seragam (standardized service). Perkembangan dunia perpustakaan menuntut para pustakawan di Perpustakaan Universitas Potensi Utama untuk menguasai penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola informasi yang dibutuhkan oleh para pengunjung Perpustakaan Universitas Potensi Utama B. Tinjauan Pustaka Terdapat beberapa penelitian yang berkaitan kaitan dengan Tantangan Perpustakaan untuk Menghadapi Pemustaka di Era Modern Pada Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Penelitian pertama Endang Rifngati Judul Tantangan Pustakawan Perguruan Tinggi dalam Memberikan Layanan Prima dengan Berbasis Teknologi Informasi, 2016. seorang pustakawan yang mengelola perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk bekerja secara professional. Pustakawan harus memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi dengan pemustakanya yang dalam hal ini adalah civitas akademik. Penelitian berikutnya Armen Judul Kesiapan Pustakawan di Era teknologi Informasi, 2019. Puskawan perlu meningkatkan kompetensi dirinya secara profesional dalam pengelolaan e-resources perpustakaan, kepemimpinan manajerial, literasi digital, dan literasi penelitian, kompetensi tersebut sebagai bekal bagi pustakawan untuk melakukan traspormasi perpustakaan untuk mewujudkan pemustaka berpengetahuan. Penelitian ketiga Jamridafrizal Judul Siapkah Pustakawan Menghadapi Era Digital, 2017. Memahami masa sekarang dapat menuju eksplorasi Masa Depan. Kesadaran dan pemahaman tentang tren masa kini dapat membantu kita secara aktif merencanakan pekerjaan kita sendiri untuk pekerjaan dengan masyarakat yang kita layani sehingga terbuka peluang baru untuk berinovasi dan bereksperimen. C. Kerangka Teori 1. Konsep Perpustakaan Pengertian perpustakaan berasasal dari kata “library” dalam bahasa Inggris artinya perpustakaan, yang berasal dari kata dasar “libri” artinya pustaka, buku ataupun kitab. Pengertian perpustakaan terus mengalami perkembangan dari jenis koleksinya. Perubahan perpustakaan tersebut sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Bentuk perpustakaan sebelumnya berupa media kertas kini berubah sebagai pusat sumber ilmu pengetahuan manusia yang direkam dalam bentu digital dan dimanfaatkan dalam berbagai bentuk media komunikasi, tulisan, cetakan, rekaman, serta elektronika. Menurut Sulistyo Basuki (1991) perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan oleh pemustaka bukan untuk dijual. Kemudian definisi perpustakaan menurut International Federation of Library Association and Instituations (IFLA) perpustakaan merupakan kumpulan bahan tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam bentuk komputer yang disusun secara baik ataupun disusun secara sistematis untuk digunakan oleh para pemustaka. Selain perpustakaan muncul padanan istilah bahan pustaka, pustakawan, kepustakawanan. kepustakaan. Kepustakawanan, dan ilmu perpustakaan dapat dijelaskan sebagai berikut yaitu (a) Bahan pustaka (library material), adalah koleksi yang dapat menjadi koleksi untuk perpustakaan, baik dalam bentuk tercetak ataupun tidak tercetak, (b) Pustakawan (librarian). profesi yang peduli terhadap suatu perpustakaan dan isinya: seperti bekerja pada bagian pengadaan buku, peminjaman, dan pengembalian koleksi perpustakaan, (c) Kepustakaan, (references, bibliography, literature) yaitu bahan perpustakaan yang digunakan untuk menyusun karangan baik itu dalam bentuk, makalah, artikel, laporan, dan sejenisnya. Jadi kepustakaan meruapakan daftar buku dan bahan perpustakaan lainnya, (d) kepustakawanan (librarianship), merupakan penerapan ilmu perpustakaan dalam hal pengadaan koleksi, pengolahan, dan penyebaran bahan perpustakaan di perpustakaan, dan perluasan jasa perpustakaan (Sulistyo- Basuki, 1991). 2. Transformasi Perpustakaan dalam Era Digital Munculnya era informasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Walter Wriston dalam Rachmad Hermawan (2006) disebutkan bahwa dalam era industri dan pertanian, bahwa indikator kekayaan seseorang adalah kepemilikan dan penguasaan tanah. Tetapi era industri datang, yang dianggap kekayaan yaitu penguasaan industri. Dengan datangnya era informasi diyakini bahwasanya kekayaan yang sesungguhnya yaitu modal intelektual dan kecerdasan. Di saat ini, terlihat bahwa era tersebut berlangsung secara cepat, namun sebagian besar penduduk di Indonesia masih tergantung pada pertanian, sebagian lagi sudah bergerak dalam bidang industri informasi. Kekayaan alam di Indonesia belum dapat sepenuhnya menjamin kesejahteraan masyarakat, karena keterbatasan penguasaaan ilmu dan teknologi. Kemudian secara teknis, perpustakaan dapat diartikan kumpulan buku ataupun koleksi berbagai bentuk media komunikasi seperti manuskrip, buku, majalah, surat kabar, film, microfilm, CD-ROM, kaset, serta video. Dalam era teknologi informasi saat ini, pangkalan data pada media elektronikpun dapat dianggap sebagai koleksi perpustakaan digital. Berbagai media komunikasi untuk koleksi perpustakaan atau disebut bahan pustaka dikumpulkan dan diatur menurut sistem yang berlaku untuk digunakan seperti keperluan pendidikan, penelitian, dan rekreasi intelektual/rekreasi yang sehat bagi masyarakat. Kecenderungan menuju perpustakaan di era digiatl, merupakan ciri yang ditunjukan terhadap prilaku masyarakat dalam pengelolaan informasi sekarang ini. Secara bertahap telah terjadi polarisasi serta perubahan dari perpustakaan tradisional menuju perpustakaan modern. Kondisi inilah yang mengharuskan perubahan pola pikir (mindset) dalam pengelolaan perpustakaan sekarang ini. Dalam konsep perubahan pola pikir (mindsite) yang telah dikemukakan oleh Stuert and Moran dalam Rachmad Hermawan dan Zulfikar Zen (2006) bahwa terjadi perubahan pengelolaan perpustakaan di era digital, sebagai berikut (1) dari segi sumber daya perpustakaan bahwa koleksi perpustakaan hanya terdiri satu media dan berubah sekarang kedalam koleksi digital. (2) dari segi jasa layanan perpustakaan semula dalam gudang sekarang berubah pada pelayanan model supermarket, (3) dari segi pemustaka maka perpustakaan yang dulu hanya menunggu, sekarang perpustakaan dipromosikan kepada pemustaka)

Method

Menurut Sugiyono (2019:2) metode penelitian yaitu langkah untuk memperoleh data dengan tujuan tertentu. Ada empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data objektif, tujuan, dan kegunaan tertentu. 1. Jenis Penelitian Penelitian ini, peneliti menggunakan metode yaitu penelitian kualitatif, penelitian lapangan merupakan field research yang mempunyai karakter yaitu penelitian kulitatif. Peneliti dengan mengumpulkan data dilapangan mengenai Tantangan Perpustakaan untuk Pemustaka di Era Modern Pada Perpustakaan Universitas Potensi Utama. 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah penting utama pada penelitian, karena tujuan utama dari penelitian yaitu mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan memperoleh data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Adapun teknik pengumpulan data yang diterapkan oleh peneliti yaitu, sebagai berikut; Observasi merupakan dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya mampu bekerja berdasarkan data, yaitu fakta tentang dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Esterberg (2002) wanwancara merupakan pertemuan antara dua orang untuk saling bertukar informasi dan ide dengan melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik untuk pengumpulan data apabila peneliti melakukan studi pendahuluan dalam menemukan permasalahan yang harus ditelitinya, tetapi apabila peneliti ingin mengetahui lebih mendalam dari penelitianya tersebut.

Result

1. Apakah Perpustakaan Universitas Potensi Utama Sudah Memberikan Layanan Terbaik untuk Pemustaka Perpustakaan Universitas Potensi Utama apakah memang akan ditinggalkan oleh para penggunanya bila tidak mau berubah. Di zaman modern sekarang ini, apabila kita tidak dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat akan punah, dengan perkembangan internet serba cepat akan informasinya. Perpustakaan Universitas Potensi Utama tidak dapat mengandalkan lagi pada layanan informasi yang secara konvensional, seperti layanan peminjaman koleksi dan layanan referensi. Berdasarkan hasil penelitian Bracke et al. (2007), pemustaka sekarang ini lebih sedikit membutuhkan bantuan pada layanan meja perpustakaan dan peminjaman buku. Banyak pertanyaan oleh pemustaka dapat dijawab oleh mesin pencari Google Pengunjung perpustakaan menginginkan Perpustakaan Universitas Potensi Utama dengan lingkungan yang sangat nyaman untuk tempat mendapatkan kenyamanan membaca dan mendapatkan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan informasinya. Pengunjung perpustakaan menginginkan Perpustakaan Universitas Potensi Utama sebagai tempat sosial yang nyaman untuk berinteraksi dengan mendapatkan informasi yang relevan dengan kebutuhanya dan juga dengan kawankawannya, oleh karena itu Pengunjung perpustakaan meminta fasilitas seperti ruang diskusi yang menarik dan kafetaria yang ada di Perpustakaan Universitas Potensi Utama, akan tetapi fasilitas di Perpustakaan Universitas Potensi Utama belum cukup memadai dalam penulusaran informasi bagi pemustaka. Untuk dapat bersikap profesional Perpustakaan Universitas Potensi Utama mulai melakukan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengadakan pelatihan untuk sertifikasi tenaga pengelola perpustakaan atau pustakawan dalam bidang layanan informasi perpustakaan yang lebih maju dan mengikuti perpustakaan yang modern. Serta peningkatan kualitas/mutu layanannya dengan pembekalan layanan prima bagi tenaga pegelola Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Dalam meningkatkan kualitas/mutu layanan para pengelola Perpustakaan Universitas Potensi Utama dalam hal ini pustakawan dituntut bersikap profesional dalam kinerja sehingga mampu memberika informasi relevan kepada pemustaka di era modern ini. Untuk menjadi tenaga profesional, yang perlu diperhatikan adalah kepribadian, kompetensi dan kecakapan di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Selain itu, tenaga pengelola perpustakaan dituntut bersikap siap mengutamakan pelayanan yang menyenangkan dan menarik dalam memberikan pelayanan terbaik ke para pemustakanya, antusias atau bangga pada profesinya sebagai tenaga fungsional pustakawan, ramah dan menghargai pemustaka, serta tabah di tengah kesulitan yang dihadapinya. 2. Faktor Penyebab Rendahnya Layanan Prima untuk Pemustaka di Perpustakaan Universitas Potensi Membicarakan perkembangan informasi di dunia internet tidak akan pernah ada habisnya, terutama di negara yang selalu saja berpredikat berkembang saat ini. Jika dengan kemampuan ini, orang akan belajar secara mandiri dan mampu meningkatkan taraf hidupnya masing-masing, maka sudah selayaknya setiap orang memiliki kemampuan ini kemudian berbagi dan memberdayakan orang lain. Pemberdayaan ini mendukung dengan adanya internet. Jika pemberdayaan ini adalah salah satu peran dari pustakawan, maka tinggal bagaimana menggerakkan mereka untuk memberdayakan diri sendiri untuk memberdayakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan informasinya yang relevan sesuai dengan kebutuhan informasinya masing-masing. Tak dapat dimungkiri lagi, bahwa komunikasi merupakan faktor esensial dalam menjalin kontak dan relasi dengan pemustaka di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Bila terjadi kurang komunikasi, maka bisa timbul penilaian atau persepsi negatif terhadap kualitas layanan di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Komunikasi bisa berupa: (1) penyedia layanan tidak mampu memberikan layanan terbaik untuk pemustaka. (2) penyedia layanan tidak bisa selalu menyajikan informasi secara keseluruhan terbaru kepada para pemustaka. (3) pustakawan harus segera menindaklanjuti keluhan dan saran pemustaka di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Pemustaka merupakan individu unik dengan preferensi, perasaan, dan emosi masing-masing. Dalam hal interaksi dengan penyedia layanan tidak semua pemustaka di Perpustakaan Universitas Potensi Utama bersedia menerima layanan yang seragam (standardized service). Sering terjadi ada pemustaka di perpustakaan yang menginginkan atau bahkan menuntut layanan yang sifatnya personal dan berbeda dengan pemustaka lain di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Hal ini memunculkan tantangan bagi pustakawan di Perpustakaan Universitas Potensi Utama dalam hal kemampuan memahami kebutuhan spesifik pemustaka dan memahami perasaaan terhadap penyedia layanan dan layanan spesifik yang mereka terima di Perpustakaan Universitas Potensi Utama.

Conclusion

Perkembangan dunia perpustakaan menuntut para pustakawan di Perpustakaan Universitas Potensi Utama untuk menguasai penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola informasi yang dibutuhkan oleh para pengunjung Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Semua itu tidak akan dapat dihindari oleh para pustakawan tidak ingin menjadi profesi yang akan hilang di masa yang akan datang. Oleh karenanya para Pustakawan Perpustakaan Universitas Potensi Utama harus mampu menguasai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menghasilkan informasi yang mutakhir untuk memberikan layanan prima kepada para pemustaka. Kerja sama antar perpustakaan diharapkan semakin erat, tujuannya sehingga antara perpustakaan yang satu dengan yang lainnya bisa saling bertukar informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustakannya. Dalam era informasi dewasa ini perpustakaan telah mengalami transformasi mengikuti era digital. Kondisi tersebut tak terkecuali perubahan dalam sarana penelusuran informasi di Perpustakaan Universitas Potensi Utama. Dalam konsep organisasi informasi peran dan fungsi Perpustakaan Universitas Potensi Utama adalah menyediakan dan menyampaikan informasi yang dimilikinya kepada para pemustaka yang membutuhkan informasi relevan. Bagaimanapun besarnya koleksi yang dimiliki Perpustakaan Universitas Potensi Utama tidak akan ada artinya jika koleksi/informasi yang relevan tidak diketahui letaknya bila diperlukan oleh pemustaka. Oleh karena itu Perpustakaan Universitas Potensi Utama perlu membangun sarana bibliografi seperti katalog sebagai sarana temu kembali informasi yang disimpannya. Buku ini memberikan jawaban kelangkapan pengetahuan dalam sistem informasi perpustakaan melalu konsep sistem informasi, organisasi informasi, sistem pengindeksan. sistem temubalik informasi dan pengembangan sistem teknologi informasi perpustakaan yang sesuai standar.