Kembali
16
1
2024 Information Science and Library Vol 5 · 1 ISSN 2723-2778

Rancang Bangun Model Diseminasi Informasi pada Situs Gua Pawon

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Pengembangan pariwisata di Kabupaten Bandung Barat penting untuk dilakukan agar dapat bersaing dengan daerah destinasi wisata lainnya. Destinasi wisata juga memiliki dampak positif terhadap perkembangan ekonomi lingkungan sekitarnya. Gua Pawon merupakan salah satu kawasan wisata yang potensial di Bandung Barat karena memiliki atraksi alam dan nilai sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model diseminasi informasi pada kawasan Gua Pawon sebagai bentuk promosi dan pelestarian nilai sejarah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode action research dengan pendekatan Kurt Lewin. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menemukan bahwa media informasi yang sudah tersedia di kawasan Gua Pawon tidak dirawat dengan baik dan memiliki tingkat efektivitas yang rendah. Model diseminasi informasi yang dirancang adalah booklet yang dapat diakses secara online pada tautan bit.ly/BookletGuaPawon.

Abstract

It is important to develop tourism in West Bandung Regency so that it can compete with other tourist destination areas. Tourist destinations also have a positive impact on the economic development of the surrounding environment. Pawon Cave is one of the potential tourist areas in West Bandung because it has natural attractions and historical value. This research aims to design a model for information dissemination in the Pawon Cave area as a form of promotion and preservation of historical values. The method used in this research is action research with the Kurt Lewin approach. The research was carried out in two cycles, each consisting of planning, action, observation and reflection. Data collection techniques were carried out by observation and interviews. The research results found that the information media that is available in the Pawon Cave area is not well maintained and has a low level of effectiveness. The information dissemination model designed is a booklet which can be accessed online at the link bit.ly/BookletGuaPawon.
Keywords: Dissemination · tourism · booklet

Introduction

Pariwisata menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan wisata, yang di dalamnya terdapat juga usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan objek dan daya tarik wisata (Bahiyah, 2018). Pariwisata menjadi sektor yang memiliki potensi besar di Indonesia karena Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan budaya. Hal ini memicu banyaknya wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal yang mengunjungi berbagai lokasi wisata di Indonesia. Perkembangan sektor pariwisata di Indonesia tengah melejit sejak pertengahan tahun 2023 ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah wisatawan yang berkunjung ke dalam negeri naik 11,44 persen pada Juni 2023, dibandingkan dengan tahun lalu. Setelah masa pandemi, sektor pariwisata di Indonesia kembali dipercaya terutama oleh wisatawan mancanegara. Hal ini juga terjadi pada wisatawan lokal, yang kembali menghidupkan destinasi wisata di Indonesia sejak pandemi Covid-19. Namun, terjadi pergeseran tren pariwisata cenderung kepada wisata yang menawarkan atraksi budaya dan alam (Maulana, 2022). Di Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah kawasan yang menawarkan atraksi alam bagi pengunjungnya, yakni destinasi wisata Gua Pawon. Gua yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat ini tidak hanya memanjakan mata pengunjung dengan pemandangan alamnya, tetapi juga memiliki nilai sejarah. Pada tahun 200, sekelompok peneliti dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) menemukan peninggalan tulang manusia prasejarah serta moluska. Penelitian kemudian dilanjutkan oleh Badan Arkeologi Bandung pada tahun 2003 yang berhasil menemukan sisa-sisa peninggalan manusia prasejarah. Namun, penambangan kapur yang masif terjadi di kawasan karst Citatah juga berdampak pada kelestarian situs-situs bersejarah di sekitarnya. Diperlukan perhatian khusus untuk menjaga nilai dan bukti sejarah di kawasan tersebut. Gua Pawon juga sedang berusaha untuk bangkit dan meramaikan kembali kawasan semenjak sepinya pengunjung akibat pandemi Covid-19. Dengan banyaknya nilai sejarah yang dimiliki oleh Gua Pawon ini, memunculkan minat penulis untuk meneliti strategi pengembangan potensi Gua Pawon sebagai destinasi wisata agar semakin banyak orang yang mengetahui sejarah Gua Pawon. Lebih jauh lagi, sebagai upaya untuk melestarikan nilai sejarah Gua Pawon. Gua Pawon mempunyai potensi wisata sejarah yang luar biasa karena nilai dan bukti sejarahnya serta kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat yang terkena dampak kehadiran situs tersebut.Nilai sejarah dan bukti tersebut dibuktikan dengan tinggalan arkeologis berupa kerangka manusia, peralatan terkelupas, gigi ikan, dan gigi yang ditemukan di Gua Pawon. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar Gua Pawon juga terdampak dengan terbukanya lapangan kerja berupa lapak wisata. Kisah-kisah legendaris tentang Gua Pawon juga diwariskan secara turun temurun di masyarakat setempat. Namun, penambangan batu kapur secara besar-besaran di kawasan karst Citatah juga berdampak pada kelestarian situs bersejarah di sekitarnya. Pelestarian nilai sejarah dan bukti kawasan ini memerlukan perhatian khusus. Kawasan Karst Citatah sendiri terbentang sepanjang 6 km dari Tagog Apu hingga Rajamandala dan terdiri dari rangkaian pegunungan berbatu yang terbentuk pada zaman Miosen, 20 hingga 30 juta tahun yang lalu (Yuliana & Lisdianto, 2017). Gua Pawon merupakan gua multi rongga dengan luas 300 meter persegi (Melyanti, 2022). Gua ini terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, menghadap ke utara dan mempunyai ruang memanjang dari barat ke timur (Yondri, 2019). Yondri (2019) juga menjelaskan bahwa Gua Pawon memiliki tiga ruangan utama. Ruangan pertama merupakan ruangan yang cukup sempit di bagian barat, yang oleh penduduk setempat disebut Gua Baron. Ruang kedua memiliki bukaan seperti perapian di bagian atas. Kamar ketiga adalah kamar ketiga kami dan ukurannya cukup besar. Menurut Suhaman, nama Gua Pawon juga berasal dari bentuk bilik kedua yang menyerupai cerobong asap (Wawancara, 1 November 2023). Penelitian yang dilakukan oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) di Gua Pawon pada tahun 2000 menghasilkan beberapa penemuan pecahan obsidian, tulang, dan moluska. Sejak saat itu, penelitian tersebut diambil alih oleh Balai Purbakala Jawa Barat. Pada tahun 2003, fosil tulang manusia purba ditemukan. Para peneliti terus mencari artefak prasejarah di dalam gua dan sejauh ini telah menemukan tujuh tulang manusia, peralatan terkelupas, tulang hewan, gigi hiu, dan moluska (Yondri, 2019). Pihak pengelola Gua Pawon telah melakukan beberapa upaya untuk memastikan bahwa nilai sejarah yang terkandung dapat diketahui oleh pengunjung. Upaya-upaya tersebut diantaranya terdapat infografis yang diletakkan di dinding gua, serta papan informasi yang memuat informasi mengenai sejarah penemuan fosil di Gua Pawon. Sementara itu, Infografis yang diletakkan di dalam gua berisi informasi mengenai jenis manusia purba yang pernah menghuni Gua Pawon. Namun, kondisi infografis tersebut perlu menjadi perhatian khusus, karena letaknya yang berada di dalam gua yang cenderung gelap dan . lembab Hal ini membuat infografis tersebut mudah kotor. Dengan situasi ini, peneliti menganggap perlunya dilakukan diseminasi informasi untuk dapat memastikan bahwa informasi mengenai nilai sejarah di Gua Pawon dapat tersampaikan dengan baik kepada pengunjung Informasi tersebut berupa sejarah ditemukannya fosil kepurbakalaan di Gua Pawon serta macam-macam fosil yang ditemukan di Gua Pawon. Model diseminasi informasi yang dipilih adalah ebook yang dapat diakses pengunjung baik sejarah online maupun offline.

Method

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian action research. Action research merupakan penelitian yang berfokus pada tindakan-tindakan. Tindakan-tindakan tersebut ditentukan berdasarkan hasil penelitian. Tindakan yang dilakukan merupakan tindakan yang bermanfaat untuk lembaga atau organisasi terkait (Sugiono, 2015). dalam action research, peneliti tidak hanya meneliti fenomena yang ada, tetapi juga menentukan tindakan yang tepat guna memberikan perbaikan pada objek penelitian. Peneliti menggunakan pendekatan yang dikemukakan oleh Kurt Lewin. Action research menurut Kurt Lewin ini terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana peneliti merumuskan rencana-rencana awal yang berkaitan dengan tindakan pengambilan data. Rencana-rencana awal yang dirumuskan peneliti berupa penentuan narasumber penentuan hal-hal yang perlu diamati dan didokumentasikan, serta penentuan pertanyaan kepada narasumber. Pada tahap ini peneliti juga mempersiapkan hal-hal teknis terkait wawancara. Tahap berikutnya setelah perencanaan adalah tindakan. Pada tahap tindakan ini, peneliti melakukan pengumpulan data langsung di lokasi penelitian. Teknik pengambilan data yang dilakukan di lokasi penelitian berupa observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan kepada pihak pengelola dan pengunjung. Selain pengambilan data, pada tahap tindakan ini peneliti juga melakukan perancangan dan pembuatan model diseminasi informasi, yakni booklet. Setelah booklet selesai, tahap berikutnya adalah pengamatan yang dilakukan pada berbagai media informasi yang terdapat di Gua Pawon. Tahap terakhir dari pendekatan Kurt Lewin ini adalah refleksi, dimana peneliti berdiskusi dengan pihak terkait mengenai model diseminasi informasi yang sudah dibuat. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2023 di kawasan Gua Pawon yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Pengambilan data dilakukan sejak pertengahan tahun 2023 dengan teknik observasi langsung ke kawasan Gua Pawon, dokumentasi Gua Pawon, wawancara, serta studi pada literatur yang berkaitan dengan Gua Pawon. Peneliti menggali informasi melalui wawancara kepada pengelola serta juru pelihara Gua Pawon. Data yang penulis dapatkan digolongkan ke dalam data primer, yakni observasi langsung dan wawancara, serta data sekunder, yakni data yang dihasilkan dari studi literatur. Semua data yang telah didapatkan kemudian diolah sesuai dengan kepentingan penelitian. Data-data tersebut dipilih kembali agar menghasilkan data yang hanya relevan dengan tujuan penelitian, dianalisis, diuraikan, kemudian ditarik kesimpulan. Data diverifikasi keabsahannya dengan triangulasi sumber data, yakni membandingkan data hasil wawancara dan observasi dengan dokumen-dokumen tertulis mengenai Gua Pawon (Rahardjo, 2010).

Result & Discussion

Siklus I Berdasarkan metode action research yang dikemukakan oleh Kurt Lewin, terdapat dua siklus yang masing-masing terdiri dari 4 tahap yakni perencanaan, tindakan, evaluasi, dan refleksi. Pada tahap pertama di siklus I ini, peneliti melakukan berbagai perencanaan awal sebelum melakukan tindakan pada tahap berikutnya. Perencanaan ini bertujuan agar tindakan-tindakan yang dilakukan sesuai dengan fokus penelitian dan tidak melebar. Perencanaan pertama yang dilakukan adalah menentukan hal-hal yang perlu diamati dan ditanyakan kepada narasumber. Peneliti memilih narasumber dari pihak pengelola Gua Pawon, yakni pemandu wisata, pengelola tugas harian, dan ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) setempat. Selain narasumber dari pihak pengelola, peneliti juga memilih narasumber dari pihak pengunjung. Pemilihan narasumber dari pengunjung dilakukan secara accidental, yakni pemilihan responden yang kebetulan sedang berada di tempat penelitian (Notoatmodjo dalam Okvitasari, 2018). Pertanyaan yang diajukan kepada pengelola terdiri dari sejarah Gua Pawon, penelitian dan penemuan di Gua Pawon, serta fasilitas dan kepengurusan. Adapun kepada pengunjung, peneliti menggali informasi mengenai informasi yang pengunjung dapatkan setelah mengunjungi Gua Pawon, serta harapan mengenai media informasi yang diharapkan ada di Gua Pawon. Penentuan pertanyaan ini didasari oleh komponen diseminasi informasi yang dikemukakan oleh Ordonez dan Serrat (2017) yang terdiri dari komunikator (source), pesan (content), konteks (context), media (medium), penerima (user). Tabel 1 Rencana Observasi dan Wawancara No Kategori Topik Pertanyaan Observasi 1 Sumber Sumber ilmiah yang digunakan oleh pemandu wisata Observasi pada berbagao media informasi yang sudah tersedia 2 Konten Sejarah Gua Pawon Observasi pada media informasi yang tersedia, fasilitas, dan kondisi Gua Pawon. Penemuan-penemuan di Gua Pawon Legenda masyarakat mengenai Gua Pawon Fasilitas bagi pengunjung Tarif tiket dan parkir 3 Konteks Kondisi lingkungan di sekitar Gua Pawon Observasi kondisi dan kelayakan Gua, serta fasilitas di Gua Pawon 4 Pengguna Asal daerah pengunjung Pengamatan pada buku kunjungan periode Agustus s.d. November 2023 Rata-rata usia pengunjung Aktivitas yang bisa dilakukan di kawasan Gua Pawon 5 Media Media informasi yang terdapat di kawasan Gua Pawon Pengamatan pada media informasi yang sudah tersedia serta pada kepuasan pengunjung terhadap media informasi tersebut Efektivitas media informasi yang sudah tersedia Tindakan yang pertama dilakukan adalah melakukan pengambilan data di lokasi penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Setelah pengambilan data, data kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk booklet. Pembuatan booklet dilakukan di platform canva. Tindakan-tindakan yang dilakukan pada siklus I diantaranya sebagai berikut. a. Melakukan pengamatan awal pra penelitian b. Melakukan pengamatan dan wawancara kepada narasumber c. Memilah informasi yang akan dimasukkan ke dalam booklet d. Membuat ebook pada platform canva Gambar 1 Tulisan pada Cover Setelah Diedit Setelah itu, pengamatan dilakukan pada media-media informasi yang sudah terdapat di kawasan Gua Pawon. Pengamatan ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan analisa terhadap jenis informasi yang sudah tersedia, serta melengkapi informasi pada booklet agar semakin lengkap dan bermanfaat. Di kawasan Gua Pawon, terdapat 2 infografis yang ditempatkan di dalam Gua. Infografis ini menyajikan informasi mengenai manusia purba yang ditemukan di Gua Pawon. Selain infografis tersebut, terdapat juga papan informasi yang terletak di dekat pintu masuk. Papan informasi ini berisi informasi singkat mengenai sejarah Gua Pawon, penelitian yang pernah dilakukan di Gua Pawon, serta penemuan-penemuan tulang manusia purba dan berbagai perkakasnya. Namun, sangat disayangkan bahwa media informasi tersebut masih belum terlalu efektif untuk menambah pengetahuan pengunjung mengenai nilai sejarah di Gua Pawon. Infografis yang ditempatkan di dalam Gua memiliki kondisi yang kurang baik karena kondisi Gua yang cenderung lembab sehingga membuat infografis lebih mudah berjamur. Papan informasi memiliki kondisi yang lebih bak dibandingkan infografis karena terletak di luar Gua. Namun, posisinya kurang strategis karena ditempatkan sebelum pintu masuk, sehingga beberapa pengunjung mengaku tidak menyadari keberadaan papan informasi tersebut. Refleksi kemudian dilakukan dengan cara berdiskusi dengan pengelola Gua Pawon. Peneliti meminta saran dan masukan terhadap booklet yang telah dibuat pada tahap tindakan. Berdasarkan hasil diskusi, pengelola memberikan beberapa masukan dan perbaikan. beberapa masukan dan perbaikan tersebut diantaranya sebagai berikut. a. Perbaikan pemilihan kata pada kalimat sub judul di bagian cover b. Perubahan tarif tiket masuk yang semula Rp 5000 menjadi Rp 6000 c. Jenis huruf pada bagian isi dinilai terlalu kaku dan monoton Siklus II Pada siklus II, seluruh tahapnya cenderung lebih sederhana karena merupakan perbaikan dari siklus sebelumnya. Setelah mendapatkan masukan dari refleksi siklus I, peneliti kembali melakukan perencanaan untuk tindakan-tindakan di siklus II. Perencanaan tersebut yakni mendata hal-hal yang perlu dilakukan untuk tindakan siklus II. Sebagaimana yang tercantum dalam refleksi siklus I, tindakan yang dilakukan oleh peneliti yakni mengubah pilihan kata (diksi) yang terdapat pada kalimat sub judul di bagian sampul booklet. Tindakan kedua adalah mengubah tarif tiket yang terdapat di halaman 14 pada booklet. Setelah itu, peneliti melakukan tindakan ketiga yakni mengganti jenis huruf yang digunakan di bagian isi. Jenis huruf yang digunakan sebelumnya adalah open sans. Namun, jenis huruf tersebut dinilai kurang menarik. Oleh karena itu, peneliti mencari jenis huruf yang lain dan memutuskan untuk menggunakan jenis huruf bryndan write. Gambar 2 Paragraf yang Telah Diubah Setelah melakukan seluruh tindakan pada siklus II, peneliti kembali melakukan observasi pada berbagai media informasi yang sudah terdapat di kawasan Gua Pawon. Observasi pada siklus II ini masih sama, yakni dilakukan pada infografis dan papan informasi di Gua Pawon. Peneliti juga melakukan pengamatan pada media sosial instagram Gua Pawon @guhuapawon_official. Namun, informasi yang terdapat pada instagram tersebut hanya berbagai foto pemandangan kawasan Gua Pawon serta foto-foto pengunjung. Terakhir, diskusi dengan pengelola Gua Pawon terkait booklet yang sudah mengalami beberapa perbaikan. Pihak pengelola menilai booklet sudah cukup, baik dari segi penampilan maupun informasi yang termuat di dalamnya.

Conclusion

Diseminasi informasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memberikan informasi kepada individu atau kelompok tertentu agar dapat memanfaatkan informasi tersebut (Kusumajanti et al., 2018). Perancangan model diseminasi informasi pada penelitian ini menggunakan metode Kurt Lewin yang terdiri dari dua siklus. Perbedaan signifikan tindakan pada siklus I dan II adalah adanya perubahan pemilihan kata pada sub judul sampul, tarif tiket yang tercantum, dan jenis huruf yang digunakan dalam isi booklet. Booklet yang sudah dibuat dapat diakses secara online di bit.ly/BookletGuaPawon. Selain itu, peneliti juga menyediakan booklet dalam bentuk hard file yang disimpan di loket tiket Gua Pawon.