Penggunaan buklet dalam meningkatkan literasi perilaku hidup bersih dan sehat kader posyandu
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui rancangan buklet yang efektif serta penggunaannya dalam meningkatkan literasi PHBS kader posyandu di Kecamatan Jatinangor. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kaji tindak. Pembuatan buklet dilakukan melalui empat tahap sesuai teori kaji tindak, yaitu dimulai dari merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan diakhiri dengan merefleksi. Informan dalam penelitian ini yaitu delapan orang kader dari dua posyandu di Kecamatan Jatinangor. Delapan kader tersebut merupakan kader dari Posyandu Nuri 3 (Desa Cikeruh RW 03) dan Posyandu Nuri 4 (Desa Cikeruh RW 04). Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, FGD, dan juga studi pustaka. Hasil penelitian ini adalah syarat buklet yang efektif mencakup berorientasi pada pengguna, kredibel, mudah dipahami, dan tampilannya menarik. Sumber informasi yang digunakan dalam buklet merupakan sumber terpercaya yaitu Puskesmas Jatinangor, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta jurnal kesehatan. Bahasa yang digunakan dalam buklet adalah Bahasa Indonesia yang jelas, lugas, sederhana sehingga mudah dipahami oleh kader. Buklet dibuat dengan warna-warna terang dan juga disertai dengan gambar-gambar pendukung sehingga tampilannya menjadi lebih menarik. Penggunaan buklet yaitu untuk meningkatkan pengetahuan kader dalam hal merawat diri sendiri dan orang lain, melakukan tindakan pencegahan penyakit, serta membujuk masyarakat untuk menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Kesimpulannya adalah buklet dapat digunakan untuk meningkatkan literasi PHBS kader posyandu.
Abstract
This study was conducted to determine the effective booklet design and its use in enhancing the literacy of PHBS cadres at Posyandu in Jatinangor Sub-district. The method used is qualitative with an action research approach. The booklet creation followed four stages based on the action research theory: planning, implementing, observing, and reflecting. The informants in this study consisted of eight cadres from two community health posts in Jatinangor Sub-district. These eight cadres are from Posyandu Nuri 3 (Cikeruh Village, RW 03) and Posyandu Nuri 4 (Cikeruh Village, RW 04). Data were collected through interviews, observations, FGDs, and literature studies. The results of this study indicated that the criteria for an effective booklet include being user oriented, credible, easily understandable, and visually appealing. The information sources used in the booklet come from trusted sources such as the Jatinangor Health Center, the Indonesian Ministry of Health, and health journals. The language used in the booklet is clear, straightforward, and simple in Indonesian, making it easily understandable for the cadres. The booklet has a colorful design and supporting images to make it more appealing. The booklet aims to enhance the cadres' knowledge of self-care, caring for others, preventing diseases, and persuading the community to apply these principles in daily activities. In conclusion, the booklet can be used to improve the PHBS literacy of Posyandu cadres.
Keywords:
Buklet
· Literasi PHBS
· Kader posyandu
· Booklet
· PHBS literacy
· Posyandu cadres
Introduction
Kader posyandu merupakan kelompok masyarakat yang bertugas dalam membantu pelaksanaan pelayanan posyandu serta berperan sebagai perpanjangan tangan dari puskesmas dalam melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat di sekitar wilayahnya masing-masing. Setiap posyandu biasanya memiliki lima orang kader yang membantu dalam pelaksanaan pelayanannya. Anggotanya dipilih oleh masyarakat sendiri dan bersifat sukarela. Jadi, siapapun yang ingin membantu di posyandu maka dipersilahkan untuk bergabung menjadi kader baik laki-laki atau perempuan, muda ataupun tua, semua dapat bergabung menjadi kader selama mampu untuk melakukan tugas-tugas yang ada. Kader mempunyai peran yang sangat besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat dengan cara membina dan membantu masyarakat dalam meningkatkan kemampuannya dalam bidang kesehatan (Wulandari & Kusumastuti, 2020). Beberapa tugas atau peran kader berdasarkan penelitian terdahulu adalah membantu dalam pencegahan stunting dengan melakukan pencatatan Tinggi Badan (TB) dan Berat Badan (BB) bayi serta balita di KMS (Kartu Menuju Sehat), memberikan vitamin A dan tambahan makanan, dan melakukan penyuluhan gizi kepada ibu balita maupun ibu hamil (Mediani, Nurhidayah, & Lukman, 2020); memotivasi ibu balita untuk berkunjung ke Pos Pelayanan Terpadu (posyandu) (Widyaningsih, Windyastuti, & Tamrin, 2020); membantu meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga (Amelia, 2016); dan masih banyak lagi. Selain itu, kader juga dianggap sebagai pihak yang paling memahami masyarakat di wilayah kerjanya (Widyaningsih et al., 2020), sehingga penyampaian program kesehatan ataupun kegiatan promosi kesehatan menjadi lebih efektif. Tugas kader dapat dikatakan cukup banyak. Selain banyak, tugas kader juga berhubungan dengan istilah-istilah di bidang kesehatan yang beberapa di antaranya tidak diketahui oleh anggota kader. Hal ini membuat pengetahuan serta kemampuan kader di bidang kesehatan harus ditingkatkan sehingga mampu memahami dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Untuk melaksanakan tugasnya, kader memerlukan informasi mengenai sistem layanan dalam posyandu; informasi mengenai kesehatan ibu dan anak; informasi mengenai kesehatan lingkungan, dan informasi lainnya yang harus disampaikan kepada masyarakat dalam upaya membantu pembangunan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, Puskesmas Jatinangor yang terletak di Jl. Raya Cirebon - Bandung, Desa Hegarmanah, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat sebagai sumber informasi utama bagi kader di Kecamatan Jatinangor, rutin mengadakan pelatihan dan juga sosialisasi dalam upaya peningkatan pengetahuan dan juga kemampuan kader terkait masalah kesehatan. Salah satu materi yang diberikan dan penting untuk diketahui oleh para kader adalah materi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS diartikan sebagai semua perilaku individu, keluarga, atau kelompok masyarakat lainnya dalam hal kesehatan yang dilakukan secara sadar sebagai hasil pembelajaran sehingga mampu untuk menyelamatkan diri sendiri dan juga mampu berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. PHBS dapat dibagi menjadi empat tatanan dengan didasarkan kepada tempat diterapkannya, yaitu PHBS di lingkungan keluarga, PHBS di lingkungan pendidikan, PHBS di wilayah kerja, PHBS di wilayah umum, dan yang terakhir adalah PHBS di lingkungan fasilitas kesehatan. Meskipun PHBS terbagi menjadi empat tatanan, namun yang dijadikan ukuran keberhasilan PHBS adalah dilihat dari penerapan PHBS di keluarga. Suatu keluarga dapat dikatakan sudah ber-PHBS apabila mampu menerapkan 10 perilaku yang mencakup: 1) melahirkan di fasilitas kesehatan dan dibantu medis; 2) memberi ASI kepada bayi secara eksklusif; 3) rutin mengukur berat bayi dan balita setiap bulan; 4) menggunakan air yang bersih; 5) mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir; 6) tidak BAB di sungai melainkan di jamban; 7) membasmi sarang dan jentik nyamuk; 8) konsumsi sayur dan buah setiap hari; 9) rajin bergerak/olahraga setiap hari; 10) serta merokok tidak di dalam rumah (Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Materi PHBS sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat karena mencakup informasi-informasi dasar dalam membangun kesehatan masyarakat. Namun, tidak semua masyarakat mengetahui atau mau untuk menerapkan perilaku tersebut ke dalam dalam pola hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kader sebagai bagian dari masyarakat yang mendapatkan sosialisasi dan juga pelatihan terkait penerapan PHBS diharapkan mampu untuk mengajak masyarakat lainnya untuk bersama-sama menerapkan PHBS dalam rumah tangganya masing-masing. Literasi kesehatan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengolah informasi untuk menjaga serta meningkatkan kesehatan tubuh. Namun, literasi kesehatan tidak hanya berupa kemampuan membaca dan menulis tapi juga mampu dalam hal pemecahan masalah, komunikasi efektif, dan berperan serta dalam kehidupan masyarakat (Mananohas, Rachmawati, & Anwar, 2023). Konsep literasi kesehatan organisasi adalah tingkat kemampuan organisasi dalam membantu individu untuk mencari, mengerti, dan memanfaatkan informasi serta layanan kesehatan untuk mengambil keputusan terkait kesehatan dirinya sendiri dan orang lain (Health Gov, 2021). Berdasarkan konsep literasi tersebut, maka jika diterapkan ke dalam konsep literasi PHBS dapat diartikan sebagai kemampuan kader dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan, memahami, dan dapat memanfaatkannya, serta menggunakan layanan kesehatan untuk kepentingan kesehatan dirinya sendiri dan orang lain. Sosialisasi kesehatan secara lisan memang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan para kader di bidang kesehatan. Namun, selain sosialisasi, diperlukan juga suatu media yang dapat dipelajari di rumah sehingga peningkatan pengetahuan para kader akan lebih optimal. Hal ini didasarkan pada penelitian yang mengkaji mengenai seberapa efektif media pendidikan buklet, selebaran, dan poster dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri terkait anemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para remaja yang memiliki media (buklet dan poster), pengetahuannya meningkat lebih besar dibandingkan kelompok siswa yang tidak diberikan media (hanya ceramah saja) (Muwakhidah, Fatih, & Primadani, 2021). Selanjutnya, terdapat penelitian mengenai perbandingan efek sosialisasi dengan selebaran dan tanpa selebaran terhadap pengetahuan masyarakat tentang perubahan pembatasan sosial menjadi pembatasan jarak fisik yang. Hasil penelitiannya adalah prosentase masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan baik mengalami peningkatan sebanyak 12,5% setelah diberikan selebaran (Haikal, Handasari, & Prasetya, 2022). Penelitian lainnya adalah penelitian mengenai penggunaan buklet sebagai media edukasi untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai kesehatan mental. Hasil penelitiannya yaitu ibu hamil yang diberikan media buklet, peningkatan pengetahuan ibu hamil yang diberi buklet lebih besar daripada yang tidak diberi buklet (Kusumawati & Zulaekah, 2021). Pemanfaatan buklet sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia, salah satunya India. Terdapat satu penelitian yang membahas mengenai efektivitas buklet tentang perawatan diri pasien kemoterapi di Rumah Sakit terpilih di Wardha dan Nagpur, India. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien kemoterapi yang mendapatkan informasi dalam buklet mengalami peningkatan pengetahuan yang signifikan (Panbude et al., 2021). Berdasarkan uraian di atas, maka peningkatan pengetahuan dari target sosialisasi menjadi lebih besar ketika dipadukan dengan pemberian media. Dengan adanya media, maka para target sasaran yang disini adalah kader tidak perlu kesulitan untuk mencatat informasi-informasi yang disampaikan saat sosialisasi dan tidak perlu khawatir apabila tertinggal pada saat penyampaian materi karena mereka diberikan media yang dapat dibaca ulang dan dipelajari di rumah. Media yang dapat digunakan pun ada berbagai macam, salah satunya yang sering digunakan adalah buklet. Buklet dapat diartikan sebagai media komunikasi yang berbentuk seperti buku dengan ukuran yang lebih kecil. Pemilihan buklet dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu mudah dalam pembuatan, mudah diperbanyak, dan yang paling penting mudah digunakan oleh kader. Namun, untuk menghasilkan suatu buklet yang efektif, terdapat beberapa aspek terkait desain buklet yang harus diperhatikan. Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Rancangan dan Penggunaan Buklet dalam Meningkatkan Literasi PHBS Kader Posyandu di Kecamatan Jatinangor?” Penelitian mengenai buklet maupun perancangannya telah banyak dilakukan sebelumnya, namun demikian terdapat beberapa perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini. Salah satu penelitian terdahulu yang sama-sama membahas penggunaan buklet adalah penelitian Kusumawati and Zulaekah (2021), perbedaannya adalah fokus penelitiannya kepada efektivitas dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan mental ibu hamil, sedangkan penelitian ini fokus kepada proses perancangan buklet yang efektif untuk meningkatkan literasi PHBS kader posyandu. Perbedaan lainnya terletak pada metode penelitian. Penelitian Kusumawati and Zulaekah (2021) menggunakan metode Study Quasi Experiment dengan desain pretest-posttest dengan kelompok kontrol, sedangkan penelitian ini menggunakan metode kaji tindak. Penelitian mengenai rancang bangun buklet sudah banyak dilakukan sebelumnya, salah satunya oleh Wahyuni, Gayatri, and Rachmawati (2022), perbedaan penelitiannya adalah menggunakan metode R&D sedangkan penelitian peneliti menggunakan metode kaji tindak. Berdasarkan hasil pencarian di Google Scholar, terdapat banyak sekali penelitian terdahulu yang meneliti kader posyandu di Kecamatan Jatinangor. Adapun topik yang banyak dibahas adalah mengenai pelatihan kader untuk deteksi dini stunting (Junianto, Zahidah, & Haetami, 2021), peran kader terhadap kunjungan posyandu (Didah, Astuti, & Arfina, 2021), serta pemberdayaan kader (Junianto et al., 2021). Namun, penelitian yang membahas perancangan buklet untuk kader posyandu di Kecamatan Jatinangor masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, dapat dikatakan penelitian mengenai perancangan dan penggunaan buklet untuk meningkatkan literasi PHBS kader posyandu di Kecamatan Jatinangor merupakan suatu kebaruan. Harapan peneliti dengan adanya penelitian ini adalah dapat menyumbangkan gagasan bahwa buklet juga dapat digunakan untuk meningkatkan literasi kesehatan kader di Kecamatan Jatinangor. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan referensi kepada peneliti selanjutnya bahwa perancangan buklet tidak harus menggunakan metode R&D tapi dapat juga menggunakan pendekatan kaji tindak. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rancangan buklet yang efektif serta penggunaannya dalam meningkatkan literasi PHBS kader posyandu di Kecamatan Jatinangor. Fokus penelitian ini adalah (1) Bagaimana syarat buklet yang layak dan efektif? (2) Bagaimana tahapan pembuatan buklet? (3) Bagaimana rancangan materi buklet? (4) Bagaimana rancangan tampilan buklet? (5) Bagaimana penggunaan buklet untuk meningkatkan literasi PHBS kader Posyandu di Kecamatan Jatinangor? Harapan peneliti melalui buklet ini adalah agar kader memiliki sebuah media komunikasi yang dapat dijadikan pedoman terkait informasi PHBS apa saja yang dapat disampaikan kepada masyarakat dan kegiatan apa saja yang dapat dilakukan kader dalam penerapan PHBS di masyarakat. Dengan adanya penelitian ini, hasil akhirnya adalah derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan karena kader memiliki pengetahuan yang cukup dari membaca buklet PHBS ini.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kaji tindak (action research). Suharsaputra (2014), menyebutkan definisi penelitian tindakan sebagai penelitian yang menganut prinsip aksi-refleksi dari para partisipan dalam situasi tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki praktek yang mereka lakukan sendiri. Adapun langkah-langkah ataupun tahapan dalam penelitian kaji tindak adalah berurutan mulai dari perencanaan (plan), tindakan (action), observasi (observe), dan yang terakhir adalah refleksi (reflect) (Suharsaputra, 2014). Berbeda dengan model kaji tindak lain yang memiliki tahap refleksi awal atau identifikasi masalah sebagai tahapan tersendiri, pada model spiral ini, tahap identifikasi masalah sudah termasuk ke dalam tahap perencanaan. Identifikasi masalah dilakukan baik melalui wawancara maupun observasi langsung. Setelah didapatkan permasalahan, tahap selanjutnya adalah menyusun rencana berdasarkan masalah yang ditemukan. Kemudian, rencana dilaksanakan. Setelah rencana direalisasikan, maka tahap berikutnya adalah melihat apakah efek dari tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan tujuan awal. Tahap inilah yang disebut dengan tahap observasi. Setelah diobservasi, dilakukan penilaian antara efek tindakan dengan tujuan awal. Apabila efek tindakan sudah sesuai dengan tujuan awal, maka langkah berikutnya adalah penyusunan laporan. Akan tetapi, apabila efek tindakan belum sesuai, maka dilanjutkan kepada siklus berikutnya dengan tahapan yang sama namun diberikan beberapa modifikasi agar efeknya menjadi sesuai dengan tujuan awal. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan mulai dari Oktober 2022 – Maret 2023. Informan dalam penelitian ini adalah kader posyandu di Kecamatan Jatinangor dan salah satu petugas kesehatan di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Jatinangor yang membawahi bidang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Data penelitian merupakan data yang didapatkan dari FGD (Focus Group Discussion), wawancara, observasi, dan studi pustaka. Wawancara dilakukan dengan salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Jatinangor untuk mengumpulkan data terkait kegiatan apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan literasi kesehatan para kader; sistem pelaksanaan sosialisasi kesehatan bagi para kader; informasi mengenai para kader di Jatinangor; serta media komunikasi kesehatan yang diberikan kepada para kader. Tahap selanjutnya observasi, dilakukan dengan mendatangi puskesmas untuk melihat media apa saja yang disediakan oleh puskesmas. Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan teori pendukung dalam penelitian ini. Terakhir, FGD dilakukan bersama empat orang dari Posyandu Nuri 3 (Desa Cikeruh RW 3, Kecamatan Jatinangor) dan empat orang dari Posyandu Nuri 4 (Desa Cikeruh RW 4). FGD ini dilakukan untuk membahas mengenai buklet seperti apa yang diinginkan oleh para kader. Delapan kader yang dijadikan sebagai informan dipilih karena dianggap memiliki karakteristik yang sama dengan seluruh kader di Kecamatan Jatinangor. Mulai dari pekerjaannya sebagai kader, yaitu membantu pelaksanaan layanan posyandu; mengisi buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak); mencatat penerapan PHBS di masyarakat; mencatat penerapan STBM di masyarakat; dan juga menjalankan layanan posbindu. Kemudian, latar belakang pekerjaan kader selain menjadi kader yaitu ibu rumah tangga. Selain itu, karakteristik usia kader, yaitu di atas 30 tahun serta latar belakang pendidikan kader yang rata-rata tamat SMA/Sederajat menjadi alasan delapan kader tersebut dipilih menjadi informan dalam penelitian ini. Proses analisis data dalam penelitian kaji tindak adalah dengan melihat hasil yang ingin dicapai dari suatu tindakan (Suharsaputra, 2014). Salah satu caranya adalah dengan membandingkan kondisi sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan sebuah media komunikasi yang dapat dibaca kapan pun dan di mana pun sehingga literasi kader posyandu di Kecamatan Jatinangor dapat lebih ditingkatkan. Tindakan yang dilakukan berupa pembuatan buklet dengan tema Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah tangga. Kondisi sebelum tindakan adalah kader tidak memiliki media komunikasi yang dapat dibaca kapan pun dan di mana pun. Sesudah tindakan, kader memiliki media komunikasi yaitu buklet PHBS yang dapat dibaca kapan pun dan di mana pun.
Result & Discussion
Buklet merupakan salah satu jenis brosur yang hanya dilipat satu kali namun memuat lebih dari satu lembar kertas sehingga serupa dengan buku kecil yang tidak dijilid (Fitriansyah, 2021). Sedangkan, pendapat lain mendefinisikan buklet sebagai sebuah media cetak yang berbentuk buku kecil dengan jumlah halaman tidak lebih dari 50 halaman (Rahmawati, 2019). Fungsi buklet dalam penelitian ini adalah sebagai media komunikasi kesehatan. Penggunaan media komunikasi biasanya bertujuan untuk memperluas jangkauan penyebaran informasi atau membantu komunikan dalam memahami suatu informasi yang disampaikan secara lisan. Pernyataan tersebut didukung oleh sebuah penelitian yang membahas mengenai penggunaan media komunikasi dalam pencarian informasi kesehatan bahwa media komunikasi merupakan sebuah perantara yang mendukung proses komunikasi di kehidupan manusia (Prasanti, 2018). Untuk dapat memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi, maka dalam membuat buklet, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Beberapa faktor yang dapat membuat penggunaan media dalam penyampaian informasi menjadi lebih efektif adalah (1) Tampilannya menarik, baik dari segi warna maupun gambar yang digunakan; (2) Bahasanya mudah dipahami, tidak terlalu panjang, jelas, dan sesuai dengan informasi yang ingin disampaikan; (3) Disesuaikan dengan target sasaran, artinya pemilihan warna, huruf, bahasa, dan gambar harus mengacu pada target sasaran sehingga penerimaan dan pemahaman pesan dari komunikator kepada komunikan menjadi lebih mudah (Muwakhidah et al., 2021). Kemudian, dalam penelitian yang membahas tentang pengembangan buklet sebagai media promosi kesehatan terkait pengendalian masalah kekerasan seksual pada perempuan, disebutkan bahwa kelayakan media buklet itu dapat dilihat dari segi materi (kredibilitas dan mudah dipahami) dan tampilan (gambar, warna, huruf) (Wahyuni et al., 2022). Berdasarkan dua pernyataan di atas, maka rancangan buklet yang baik adalah disesuaikan dengan target sasaran, kredibilitas (dapat dipercaya), mudah dipahami, dan tampilannya menarik. Suharsaputra (2014), menyatakan bahwa penelitian kaji tindak terdiri dari empat tahapan yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan di akhiri dengan refleksi. Tahap pertama adalah perencanaan. Tahap perencanaan sendiri terdiri dari identifikasi masalah dan juga penyusunan rencana. Identifikasi masalah dilakukan melalui wawancara dengan penanggung jawab bidang promosi kesehatan di Puskesmas Jatinangor. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan fakta bahwa peningkatan literasi kader posyandu dilakukan melalui seminar kesehatan dan juga pelatihan. Sosialisasi biasa dilakukan sebanyak 3-4 kali dalam setahun atau bisa juga lebih, sesuai dengan kebutuhan materi yang ingin disampaikan oleh Puskesmas Jatinangor kepada kader. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah tidak adanya media komunikasi yang diberikan kepada kader posyandu untuk dipelajari di rumah. Sebuah media sangatlah penting untuk diberikan kepada kader peserta sosialisasi. Hal ini dikarenakan dengan adanya media, maka kader dapat mempelajari kembali materi yang telah disampaikan kapan pun dan di mana pun. Selain itu, pemberian media juga memiliki pengaruh yang besar dalam meningkatkan pengetahuan peserta sosialisasi. Pernyataan ini didasarkan pada hasil penelitian Muwakhidah et al. (2021), Haikal et al. (2022), serta penelitian Kusumawati and Zulaekah (2021) yang menunjukkan bahwa peningkatan kelompok subjek penelitian yang mendapatkan media mengalami peningkatan pengetahuan yang lebih besar. Oleh karena itu, tidak adanya media dalam peningkatan literasi kader menjadi masalah yang harus ditemukan solusinya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka solusi atau rencana yang tepat adalah dengan membuatkan suatu media komunikasi. Media komunikasi sangatlah banyak macamnya. Namun, untuk membantu meningkatkan pengetahuan kader, media yang dibutuhkan adalah media yang dapat menampung banyak materi dengan ukuran yang efisien. Berdasarkan kebutuhan tersebut, maka buklet dianggap sebagai media yang paling cocok. Oleh karena itu, rencana yang disusun adalah membuat sebuah buklet kesehatan untuk kader posyandu mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Tahap berikutnya yaitu tindakan. Tahap tindakan dilakukan dengan mendesain buklet menggunakan aplikasi Canva. Aplikasi Canva dipilih dikarenakan mudah dalam penggunaannya dan fitur-fitur yang disediakan cukup lengkap untuk dapat menghasilkan desain yang baik. Setelah menentukan aplikasi yang digunakan, maka langkah selanjutnya adalah mulai mendesain buklet sesuai syarat kelayakan buklet, yaitu berorientasi pada pengguna, dapat dipercaya, mudah dipahami, dan memiliki tampilan yang menarik. Berorientasi pada pengguna artinya semua aspek yang digunakan dalam desain buklet adalah didasarkan kepada keinginan kader posyandu di Kecamatan Jatinangor. Kredibilitas artinya informasi yang digunakan sebagai dasar penyusunan buklet berasal dari sumber yang terpercaya. Buklet ini adalah buklet kesehatan, maka informasi yang digunakan bersumber dari kementerian kesehatan, jurnal-jurnal kesehatan, atau sumber informasi kesehatan lainnya. Kredibilitas sangatlah penting dalam pembuatan sebuah buklet. Menggunakan sumber yang dapat dipercaya artinya kebenaran informasinya sudah tidak diragukan lagi sehingga akan menghindari kemungkinan adanya penyebaran informasi palsu atau tidak benar di kalangan masyarakat. Syarat ketiga adalah mudah dipahami. Buklet di sini digunakan sebagai media komunikasi antara puskesmas dan juga kader yang mana akan memuat informasi-informasi yang harus diketahui dan dipahami oleh kader. Oleh karena itu, penyajian informasi mulai dari penggunaan bahasa, pemilihan diksi, ataupun susunan informasinya harus mudah dipahami sehingga pesan dapat tersampaikan dan diterima dengan baik. Adapun urutan informasi yang disajikan dalam buklet ini dimulai dari pengertian dan tugas kader posyandu, pengertian PHBS, pengertian PHBS Rumah Tangga, pengertian persalinan dibantu tenaga kesehatan, alasan pentingnya persalinan dibantu tenaga kesehatan, peran kader dalam penerapan persalinan dibantu tenaga kesehatan, dan masalah kesehatan pada ibu. Bahasa yang digunakan dalam buklet ini adalah Bahasa Indonesia yang disusun berdasarkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) serta tidak menggunakan kata-kata yang terlalu ilmiah sehingga lebih mudah untuk dipahami oleh kader. Syarat yang keempat adalah tampilannya menarik. Adapun aspek yang termasuk ke dalam tampilan adalah gambar, warna, dan huruf. Peran gambar dalam buklet adalah sebagai penambah daya tarik. Namun, lebih dari itu, penggunaan gambar memiliki peran yang cukup penting bagi pemahaman pembaca. Informasi atau materi dalam buklet sebagian besar disajikan dalam bentuk tulisan. Namun, seperti yang kita ketahui bahwa komunikasi melalui tulisan atau teks memberikan ruang lebih besar untuk terjadi kesalahpahaman. Hal ini disebabkan karena setiap orang memiliki persepsi yang terhadap suatu kata atau kalimat. Dengan adanya gambar atau ilustrasi terutama pada kalimat-kalimat yang membutuhkan keterangan lebih lanjut, maka perbedaan pemahaman antar pembaca dapat diminimalisir. Contoh penggunaan gambar sebagai daya tarik dan penjelas kalimat adalah seperti di bawah ini. Pada Gambar 1., disajikan gambar dua merk garam yang ada di sekitar masyarakat dengan lingkaran merah pada kata “Beryodium”. Gambar ini berfungsi agar kader mengetahui maksud dan juga letak tulisan “Garam Beryodium” yang dijelaskan pada kalimat sebelumnya. Kemudian, pada Gambar 2., terdapat beberapa gambar yang sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan gambar ini berfungsi untuk mengisi ruang kosong pada desain sehingga terlihat lebih menarik. Selanjutnya adalah warna. Warna merupakan elemen penting dalam merancang sebuah buklet. Jika warna-warna yang dipilih tepat dalam artian tidak menyakiti mata, tidak membuat tulisannya sulit dibaca, maka pesan dapat diterima dengan baik oleh target sasaran yaitu kader. Adapun warna-warna yang digunakan dalam buklet ini adalah warna biru, putih, kuning, dan juga jingga. Pilihan warna ini didasarkan pada hasil diskusi dengan kader yang menginginkan buklet dengan warna-warna yang cerah. Kemudian, terkait penggunaan huruf dalam buklet, tentu buklet yang baik adalah buklet yang mudah untuk dibaca. Kemudahan untuk dibaca ini berhubungan dengan ukuran serta jenis huruf yang digunakan. Jika ukuran huruf terlalu kecil, rumit, atau bahkan terlalu besar bagi pembaca, maka pesan pun tidak dapat diterima dengan baik. Pada saat diskusi, kader juga menekankan bahwa huruf yang digunakan tidak boleh terlalu kecil. Berikut adalah penuturan salah satu kader posyandu: “Sebetulnya, yang utamanya mah ukuran hurufnya jangan terlalu kecil. Neng, sekarang itu misalnya ada STBM dari puskesmas yang tulisannya kecil-kecil, ibu kerjakan pakai kaca pembesar. Jadi, ya disesuaikan lah dengan usia. Mayoritas kan banyak kader yang sudah seusia ibu. Jadi, hurufnya jangan terlalu kecil tapi juga jangan terlalu besar. Yang sedang-sedang saja” (Lilis, wawancara, 12 Desember 2022). Berdasarkan hasil diskusi tersebut, maka ukuran huruf yang digunakan adalah 28 pt untuk sub judul dan 22 pt untuk teks isi. Selain itu, jenis huruf juga dapat mempengaruhi keterbacaan buklet. Semakin rumit jenis huruf yang digunakan, maka pesan akan semakin sulit dibaca dan dipahami oleh kader. Oleh karena itu, dalam buklet ini digunakan perpaduan antara huruf Alegreya (untuk sub judul) dan juga Arimo (untuk teks isi). Penggunaan dua jenis huruf yang berbeda ini bertujuan untuk menambahkan variasi sehingga tulisan dalam buklet tidak membosankan saat dibaca. Selain ukuran dan juga jenis huruf, warna huruf juga harus diperhatikan dalam membuat buklet ini. Pemilihan warna huruf disesuaikan dengan warna latar belakang tulisan. Dalam buklet ini, latar belakang tulisannya adalah warna putih, sehingga warna hitam dipilih sebagai warna huruf. Pemilihan warna hitam dikarenakan warna hitam memiliki kontras yang yang tinggi dengan warna putih sehingga huruf lebih mudah untuk dibaca dan pesan dapat diterima dengan baik. Setelah buklet sudah jadi, maka langkah selanjutnya adalah observasi. Observasi dilakukan untuk melihat apakah efek tindakan sudah sesuai dengan tujuan awal. Tujuan awal penelitian adalah untuk menghasilkan rancangan buklet yang efektif dalam meningkatkan literasi PHBS kader posyandu. Untuk menghasilkan buklet yang efektif maka perancangannya harus didasarkan pada syarat kelayakan buklet yaitu disesuaikan dengan target sasaran, kredibilitas (dapat dipercaya), mudah dipahami, dan tampilannya menarik. Adapun rancangan buklet dalam penelitian ini sudah didasarkan pada syarat-syarat tersebut. Tahap terakhir dalam proses pembuatan buklet adalah refleksi. Refleksi dilakukan dengan menilai apakah efek sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan observasi maka efek tindakan yaitu perancangan buklet sesuai syarat kelayakan sudah sesuai dengan tujuan awal yaitu menghasilkan rancangan buklet yang efektif. Setelah proses perancangan buklet selesai, selanjutnya perlu dilihat bagaimana penggunaannya dalam meningkatkan literasi PHBS kesehatan kader posyandu. Telah disebutkan sebelumnya bahwa yang dimaksud literasi PHBS adalah kemampuan kader dalam membantu masyarakat untuk menemukan, paham, dan dapat memanfaatkan informasi kesehatan serta menggunakan layanan kesehatan untuk kepentingan kesehatan dirinya sendiri serta orang lain. Berdasarkan uraian tersebut, maka penggunaan buklet dalam meningkatkan literasi PHBS kader posyandu adalah menyediakan informasi sehingga kader tahu dan mampu untuk mencapai poin-poin literasi tersebut. Judul buklet yang dibuat adalah “Pedoman Peran Kader dalam Penerapan PHBS Rumah Tangga: Persalinan dibantu Oleh Tenaga Kesehatan”. Sesuai judulnya, maka informasi yang dipaparkan dalam buklet ini adalah mengenai apa saja yang dapat dilakukan oleh kader untuk membantu menerapkan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan di lingkungan masyarakat. Pada buklet disajikan informasi terkait peran kader untuk mendorong ibu hamil periksa kandungan selama kehamilan dan juga periksa selama masa nifas di fasilitas kesehatan. Dengan adanya buklet ini, maka kader dapat mengetahui bahwa pemeriksaan rutin itu sangat penting untuk dilakukan ibu hamil baik saat hamil maupun setelah melahirkan, yaitu untuk menjaga kesehatan ibu dan juga bayinya. Setelah mengetahui informasi tersebut, maka kader dapat menyampaikannya kembali kepada ibu hamil atau ibu bayi di wilayah kerjanya sehingga para ibu tersebut tahu, mampu, dan mau untuk rutin memeriksakan kandungannya ataupun kondisinya pasca persalinan. Dengan informasi tersebut, maka kader telah membantu menjelaskan kepada masyarakat bahwa sumber informasi kesehatan yang terpercaya adalah tenaga kesehatan. Oleh karena itu, jika ingin mengetahui kesehatan ibu hamil atau pun bayi, masyarakat harus periksa di fasilitas kesehatan. Yang kedua, buklet menyajikan informasi kesehatan secara terperinci sehingga kader dapat dengan mudah menjelaskannya kembali kepada masyarakat dan masyarakat pun mudah untuk memahami penjelasan kader. Salah satu contohnya adalah adanya penjelasan mengenai Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dan kurang darah (anemia) di dalam buklet. GAKY dan anemia merupakan masalah kesehatan pada ibu yang sering dijumpai. Pada buklet dijelaskan mengenai definisi masalah kesehatan tersebut, apa dampaknya dan bagaimana cara mencegahnya. Dengan mengetahui informasi ini, maka kader dapat menyebarkannya kembali kepada ibu hamil sehingga dapat mencegah ibu hamil dari terjangkit masalah kesehatan tersebut selama masa kehamilan. Selain itu, di dalam buklet juga dijelaskan mengenai fasilitas apa saja yang ada di fasilitas kesehatan terkait persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. Dengan informasi ini, maka kader dapat membantu masyarakat untuk tahu dan dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk kepentingan kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan atau pun pasca kehamilan. Informasi lain yang diberikan berupa dampak dan juga manfaat apa yang didapatkan dengan menerapkan atau tidak menerapkan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan. Penyampaian informasi ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian kader akan keselamatan ibu hamil dan juga calon bayinya. Dengan kepedulian ini, maka dengan sendirinya kader akan secara sukarela mengajak ibu hamil untuk menerapkan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan. Selain informasi dampak dan manfaat, informasi mengenai contoh-contoh kegiatan yang dapat dilakukan kader untuk melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat juga disajikan di dalam buklet. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa anggota kader berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan biasanya ibu rumah tangga memiliki kegiatan-kegiatan yang mengharuskan seluruh ibu di desa berkumpul seperti kegiatan pengajian atau arisan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan tersebut memberikan peluang besar bagi kader untuk melakukan promosi kesehatan secara langsung kepada para ibu. Buklet ini juga menjelaskan mengenai pentingnya menjalin sebuah kerjasama dengan tokoh masyarakat. Kerjasama dengan tokoh masyarakat merupakan hal yang sangat penting mengingat bahwa jumlah kader yang ada di setiap posyandu tidak banyak. Selain itu, dengan adanya arahan dari tokoh masyarakat, maka akan lebih mudah bagi kader untuk mengajak masyarakat turut serta dalam mempromosikan dan menerapkan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan. Informasi lain yang disajikan di dalam buklet adalah sub kegiatan yang masih berhubungan dengan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan. Promosi kesehatan terkait persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan tidak hanya membahas mengenai pencegahan dan perawatan pada saat hamil ataupun saat melahirkan. Informasi mengenai tindakan pencegahan atau perencanaan kehamilan atau biasa dikenal dengan program Keluarga Berencana (KB) juga perlu untuk disampaikan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan karena penerapan program KB memiliki tujuan yang sejalan dengan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan, yaitu mengurangi resiko kematian ibu dan anak serta meningkatkan kesehatan mereka. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh kader posyandu untuk mempromosikan penerapan KB adalah menyediakan layanan KB, seperti penyediaan alat kontrasepsi dan pil KB di Posyandu.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rancangan buklet yang efektif adalah informasinya dapat dipercaya, mudah dipahami, tampilannya menarik, dan disesuaikan dengan target sasaran. Target sasaran dalam penelitian ini adalah kader posyandu di Kecamatan Jatinangor. Materi yang disajikan bersumber dari sumber yang terpercaya yaitu Puskesmas Jatinangor. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang sederhana dan tidak banyak menggunakan istilah ilmiah yang tidak umum sehingga memudahkan kader dalam memahaminya. Hal ini menyesuaikan dengan latar belakang pendidikan kader yang rata-rata tamat SMA/Sederajat. Kemudian, untuk tampilan buklet mulai dari warna, gambar, atau pun huruf disesuaikan dengan karakteristik kader posyandu di Kecamatan Jatinangor sehingga pesan dapat diterima dengan lebih baik. Saran peneliti yang pertama untuk Puskesmas Jatinangor adalah untuk mencetak buklet ini secara masal dan dibagikan kepada seluruh kader posyandu di Kecamatan Jatinangor. Selain itu, peneliti juga menyarankan agar Puskesmas Jatinangor melanjutkan produksi buklet ini dengan materi-materi berbeda, sesuai dengan yang disampaikan di sosialisasi. Saran untuk peneliti berikutnya adalah untuk meneliti efektivitas dari penggunaan buklet ini.