Kembali
16
1
2024 Information Science and Library Vol 5 · 1 ISSN 2723-2778

RANCANGAN VIDEO TUTORIAL GERAK TARI TOPENG LENGGER SONTOLOYO GAGRAG NJANTINAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR LITERASI BUDAYA DAN KEWARGAAN (STUDI PARTICIPATORY ACTION RESEARCH DI DUSUN GIYANTI, DESA KADIPATEN, KECAMATAN SELOMERTO, KABUPATEN WONOSOBO)

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Untuk memaksimalkan transmisi pengetahuan, menyediakan sumber pembelajaran budaya penting dilakukan untuk memenuhi kebutuhan literasi budaya dan kewargaan bagi masyarakat. Adanya urgensi tersebut menjadi langkah awal untuk memicu partisipasi masyarakat dalam menghasilkan dokumen budaya yang dapat dipelajari dan diaplikasikan. Maka dari itu dibuatlah rancangan video tutorial Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan yang juga menjadi dasar observasi awal yang dapat digunakan untuk ahli dalam bidangnya ataupun peneliti selanjutnya dalam membuat dokumentasi yang lebih baik. Fokus penelitian sebagai berikut: bagaimana rancangan materi video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan; bagaimana rancangan teknis video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan; serta bagaimana rancangan pedagogis video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan. Penelitian ini disusun dengan pendekatan kualitatif dengan metode participatory action research model Stringer. Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Rancangan materi dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam menyusun materi ragam gerakan dengan rincian per bagian gerakan mulai gerakan kaki, gerakan tangan, dan gerakan kepala dari Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan; (2) Rancangan teknis memperhatikan kualitas gambar, kualitas audio, teknis, dan kualitas pemeran dengan menggunakan kaidah videografi. ; dan (3) Rancangan pedagogis tersusun dengan memperhatikan aspek beban kognitif dan keterlibatan audiens dalam penyajian informasi melalui rancangan video tutorial . Kesimpulan penelitian adalah Rancangan Video Tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan tersusun atas rancangan materi, rancangan teknis, dan rancangan pedagogis yang dapat digunakan menjadi observasi awal dalam menghasilkan dokumentasi yang lebih baik. Selain itu rancangan inipun dapat menjadi pendamping bagi guru tari dalam mentransmisikan pengetahuan budaya yang dimuat dalam rancangan video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan.

Abstract

To maximize knowledge transmission, providing cultural learning resources is important to meet the needs of cultural and civic literacy for the community. The urgency is the first step to trigger community participation in producing cultural documents that can be learned and applied. Therefore, a video tutorial of the Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Dance was designed, which is also the basis for initial observations that can be used by experts in their fields or future researchers in making better documentation. The research focus is as follows: how to design the basic motion tutorial video material for the Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Mask Dance; how the technical design of the basic motion tutorial video of Lengger Sontoloyo Mask Dance gagrag Njantinan; and how the pedagogical design of the basic movement video tutorial of the Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Mask Dance. This research was prepared with a qualitative approach with the participatory action research Stringer model method. The results of this research are as follows: (1) The material design was carried out collaboratively by involving community participation in compiling various movement materials with details per part of movements ranging from foot movements, hand movements, and head movements from the Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Mask Dance; (2) Technical design takes into account image quality, audio quality, technical, and cast quality using videography rules. ; and (3) Pedagogical design is structured by taking into account aspects of cognitive load and audience involvement in presenting information through video tutorial design. The conclusion of the research is that the basic movement Video Tutorial Design of Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Mask Dance is composed of material design, technical design, and pedagogical design that can be used as initial observations in producing better documentation. In addition, this design can also be a companion for dance teachers in transmitting cultural knowledge contained in the basic motion tutorial video design of Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Mask Dance. Keywords : Video tutorial design; Basic Move; Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan Mask Dance; Cultural and Civic Literacy.
Keywords: Rancangan Video Tutorial · Gerak Dasar · Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan · Literasi Budaya dan Kewargaan

Introduction

Topeng Lengger merupakan kesenian rakyat yang memiliki beberapa sumber asal, salah satunya dari zaman Majapahit. Salah tarian dari Tari Topeng Lengger, yakni tari Sontoloyo, identik dengan zaman tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Kusumawardani (Kusumawardani, 2013) , Tari Sontoloyo merupakan tari berkarakter gagahan (gagah) sebagai perwujudan sindiran kepada Prabu Brawijaya yang sudah tua renta namun masih memegang kekuasaan. Sang Raja harus kehilangan dua “gembalaannya”, yaitu agama Hindu dan agama Buddha karena derasnya arus ajaran agama Islam. Sindiran ini merujuk pada etimologi nama “Sontoloyo” itu sendiri. “Sonto” berarti “tua”, sedangkan “Loyo” berarti “tiada berdaya”. Eksistensi Tari Topeng Lengger di masyarakat Wonosobo dapat dipahami dalam aspek kebudayaan dan pendidikan. Aspek kebudayaan melihat dari sudut pandang bagaimana seni tari ini tumbuh dan berkembang di masyarakat. Sedangkan aspek pendidikan dimulai dari proses latihan dan berlanjut pada proses pementasan. Proses latihan diwujudkan dalam membentuk fondasi dalam pembelajaran tari. Setiap unsur kecil dalam gerakan tari yang disebut “nama proses” dipelajari betul - betul hingga dapat mencapai tahapan merangkai gerakan tari. Eksistensi pengetahuan lokal, dalam hal ini seni pertunjukkan tari perlu dijaga karena sekalipun kita tidak bisa memastikan apakah pengetahuan itu masih bertahan atau tidak. Berdasarkan wawancara peneliti dengan Bapak Dwi Pranyoto selaku budayawan dan seniman Tari Topeng Lengger, menyatakan bahwa adanya perbedaan pandangan mengenai pemahaman dan pengetahuan Tari Topeng Lengger menimbulkan kekhawatiran kaburnya akar asli seni Tari Topeng Lengger. Muncul kebutuhan bahwa masyarakat, khususnya pelaku seni Tari Topeng Lengger, perlu membekali diri dengan sumber - sumber pembelajaran budaya, baik kepada siswa ataupun kepada seniman tari. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu adanya upaya menyediakan sumber literasi sebagai media pembelajaran budaya. Sumber literasi budaya ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan untuk kelestarian dan/atau setidaknya untuk menjaga bagian tertentu dari budaya tersebut supaya bisa terselamatkan. Perpustakaan berperan dalam mendukung pembelajaran budaya. IFLA Statement on Indigenous Traditional Knowledges (IFLA, 2019) menjadi salah satu acuan bagi perpustakaan dalam mengimplementasikan program untuk menngumpulkan dan menyebarluaskan pengetahuan tradisional. Konteks ini termasuk pada menyediakan dan mempromosikan sumber informasi budaya untuk mendukung penelitian dan pembelajaran. Penegasan pada konteks literrasi dan pembelajaran dijelaskan oleh IFLA di Guidelines for Professional Library and Information Science (LIS) Education Programmes (IFLA, 2021) Pada pedoman ini terdapat area fondasi pengetahuan literasi dan pembelajaran yang mana menganjurkan ahli perpustakaan dan sains informasi mengembangkan pengetahuan pedagogis yang dapat membantu setiap elemen masyarakat untuk belajar dalam berbagai lingkup pengetahuan. Hal ini termasuk dalam konteks sosiokultural termasuk pengetahuan tradisional dan oral. Literasi budaya dan kewargaan, sebagaimana dalam dimensi masyarakat juga menekankan konteks penyediaan sumber belajar dan penelitian kembali kebudayaan. Menyediakan sumber pembelajaran berimplikasi besar terhadap keberlangsungan kebudayaan suku bangsa (Kemendikbud, 2017) . Terdapat beberapa penelitian yang menjadi tinjauan pustaka dalam penelitian ini. Penelitian mengenai media pembelajaran pernah dilakukan oleh Guo et al. (Guo et al., 2014) berjudul How Video Production Affect Student Engagement: An Empirical Study of MOOc Videos. Penelitian ini menunjukkan bahwa video pembelajaran memberikan pengaruh signifikan pada pembelajaran dan keterlibatan siswa dalam kelas. Adapun rekomendasi dalam penelitian ini adalah memperhatikan aspek beban kognitif, keterlibatan siswa, dan pembelajaran secara aktif. Penelitian sejenis dilakukan oleh Park (Park, 2022) yang berjudul Expanding Reference through Cognitive Theory of Multimedia Learning Video. Penelitian ini menerapkan CTML dalam peningkatan kualitas video instruksional dalam perpustakaan akademik. Penelitian ini menekankan pentingnya integrasi dukungan referensi ke dalam pengalaman belajar siswa. Penelitian mengenai Tari Topeng Lengger dilakukan oleh Purwanti (Purwanti, 2016) dengan judul Bentuk Penyajian Tari Topeng Lengger di Dusun Giyanti, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Penelitian menjelaskan mengenai penyajian gerakan tari di setiap ragam gerakan yang dilihat dari sisi seni pertunjukkan maupun ritual.

Method

Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode participatory action research. Adapun model penelitian yang dipakai adalah model penelitian tindakan Stringer yang mencakup look, think, dan act. Pemilihan metode ini didasarkan pada partisipasi aktif masyarakat dalam menerapkan praktik pada permasalahan di suatu fenomena. Penelitian tindakan memungkinkan penyelidikan untuk menemukan solusi efektif atas permasalahan di kehidupan sehari - hari (Stringer) (Stringer, 2014) . Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Stringer (Stringer, 2014) Pada tahap look, peneliti melakukan pengumpulan data dan deskripsi situasi. Tahap pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data serta informasi yang relevan dengan topik penelitian. Penyusunan rancangan video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo dimulai dengan mengumpulkan data dengan wawancara, diskusi kelompok terpumpun, observasi, dan studi dokumen. Seluruh metode tersebut mengacu pada fokus penelitian yakni rancangan materi, rancangan teknis, dan rancangan pedagogis. Adapun fokus penelitian berdasarkan Instructional Video Creation Rubric (University at Buffalo, n.d.) yang mana merupakan interpretasi atas penerapan teori kognitif pembelajaran multimedia. Subjek penelitian merupakan informan yang memiliki pemahaman mengenai fenomena seni Tari Topeng Lengger. Dalam menentukan informan, peneliti menggunakan purposive sampling. Data rancangan materi bersumber dari wawancara dengan Bapak Dwi Pranyoto (seniman dan budayawan Tari Topeng Lengger), rancangan teknis dengan Bapak Ahnaf Kustanto (pemerhati budaya; kreator konten), M. Praja Dhana Perwira (kreator konten), dan Mas Tatag Taufani Anwar (Seniman Tari Topeng Lengger), sedangkan rancangan pedagogis dengan Mbak Adhina Eska Riyana (Guru pengampu Eksrakurikuler Seni Tari SMPN 1 Selomerto). Selanjutnya adalah deskripsi situasi. Peneliti melakukan penggalian informasi mengenai eksistensi sumber pembelajaran dari tari Sontoloyo yang berada di Dusun Giyanti . Ditemukan bahwa pembelajaran masih dilakukan pengajaran lisan dan praktik. Sedangkan sumber belajar berupa media pendukung seperti video belum tersedia. Pada tahap think, peneliti melakukan analisi dan interpretasi. Ada tiga pertanyaan yang perlu dijawab pada fase ini, yakni, “apa yang terjadi?”, “bagaimana?”, dan “mengapa?”. Fase think bertujuan untuk menyaring informasi yang muncul pada fase look . Masalah penelitian diidentifikasi kemudian disaring menjadi elemen - elemen penting yang memiliki pengaruh signifikan terhadap fokus penelitian. Adanya urgensi untuk melakukan perekaman budaya gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan berdasarkan alasan pemahaman akan filosofi dan eksistensi seni tari ini di mata seniman tari yang masih kurang. Tahap act merupakan fase bertindak dimana fase ini dimulai berdasarkan perencanaan dari hasil analisis dan interpretasi fase sebelumnya, yang kemudian dilanjutkan dengan implementasi. Pada fase ini peneliti melakukan tindakan dilanjutkan dengan evaluasi sebagai penilaian akan efektivitas atas tindakan yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger. Pengumpulan data digunakan sebagai wacana awal dalam penyusunan rencana perekaman rancangan video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo. Setelah perekaman dan pengeditan maka langkah selanjutnya adalah evaluasi dan penilaian atas tindakan yang sudah dilakukan. penilaian dilakukan bersama para narasumber, triangulator netral yakni Bu Mulyani (Guru Seni Budaya dan Budayawan), dan siswa - siswi ekstrakurikuler seni tari SMPN 1 Selomerto. Jika hasil luaran terdapat kekurangan, maka dapat dilakukan pengkajian ulang dengan rangkaian fase yang sama.

Result & Discussion

Tahap Look Pada tahap ini, permasalahan ditemukan ketika melakukan wawancara pra penelitian bersama Pak Dwi Pranyoto. Beliau mengemukakan bahwa terdapat perbedaan pandangan terhadap pemahaman dan pengetahuan Tari Topeng Lengger antar seniman tari di Wonosobo. Ada kekhawatiran bahwa akar asli seni Tari Topeng Lengger bisa kabur apabila tidak diluruskan. Adanya hal tersebut memunculkan kebutuhan untuk mengarsipkan pengetahuan tersebut sekaligus membekali seniman dengan sumber - sumber pembelajaran budaya. Berdasarkan temuan di lapangan, belum adanya sumber belajar seni Tari Topeng Lengger dalam bentuk media. Selama ini hanya diberikan pengetahuan mengenai lisan dan praktik. Maka dari itu peneliti bersama dengan partisipan, dalam hal ini adalah informan, merancang video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo. Pemenuhan tujuan penelitian menerapkan model berpikir yang diadaptasi dari teori kognitif pembelajaran multimedia. Berdasarkan literatur dari Instructional Video Creation Rubric (University at Buffalo, n.d.) aspek - aspek tersebut meliputi materi, kualitas teknis, dan kualitas pedagogis. Aspek materi tersusun dari ragam gerakan yang terdiri Lampah Sekar dan Mincek, Jinjitan, Golekan, Ngencek , dan Sindiran. Setiap ragam gerakan tersebut dipecah kembali menjadi per bagian gerakan yang dijelaskan mulai dari gerak tangan, gerak kaki, dan gerak kepala. Kualitas teknis terdiri dari kualitas gambar, kualitas audio, pertimbangan teknis, dan kualitas pemeran. Sedangkan kualitas pedagogis terdiri dari beban kognitif dan keterlibatan siswa. Tari Sontoloyo dipilih sebagai perwakilan dari setiap jenis tari dari Topeng Lengger. Sontoloyo merupakan karakter tari yang menjadi embrio dasar dari seluruh pengembangan jenis tarian di Tari Topeng Lengger Wonosobo. Pengumpulan data mengenai objek tersebut dilakukan dengan wawancara dan diskusi kelompok terpumpun. Data mengenai materi Tari Topeng Lengger Sontoloyo diperoleh dari wawancara dengan Bapak Dwi Pranyoto. Data mengenai teknis perekaman video tutorial diperoleh dari wawancara dengan Bapak Ahnaf Kustanto, M. Praja Dhana Perwira, dan Mas Tatag Taufani Anwar. Sedangkan data mengenai pedagogis muatan video instruksional diperoleh dari wawancara dengan Mbak Adhina Eska Riyana. Langkah selanjutnya adalah melaksanakan diskusi kelompok terpumpun setelah sebelumnya memperoleh data sebagai wacana awal. Tahap Think Tahap think merupakan tahapan penyaringan informasi yang diperoleh dari tahap look. Pada tahapan ini dilakukan analisis data. Tahap think menganalisis masalah yang berguna untuk penyelesaian yang lebih efektif dan berkelanjutan dari pengambilan keputusan. Hasil data wawancara dan diskusi kelompok terpumpun dianalisis kemudian dibuat rumusan - rumusan materi yang nantinya akan dicantumkan dalam rancangan video tutorial. Adapun hasil dari analisis data adalah sebagai berikut: (1) penambahan foto pendukung untuk mempertegas penyampaian informasi, (2) perekaman dilakukan per bagian gerakan, dan (3) Tarian menggunakan kekhasan gaya/ gagrag Njantinan dan tari Sontoloyo. Keputusan atas hasil tersebut digunakan sebagai acuan dalam penyusunan tata adegan dan narasi penyampaian materi pada rancangan video tutorial. Langkah selanjutnya adalah menyusun tahapan kegiatan instruksional. Penyusunan yang dilakukan peneliti bersama dengan para informan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan ide dan gagasan kepada sasaran. Adapun yang berperan sebagai tutor dari rancangan video tutorial ini adalah Bapak Dwi Pranyoto. Sedangkan peraga tari adalah Ocha Saputra dan Putri Harza Febriany, siswa sanggar tari Ciptaning yang diampu oleh Bapak Dwi Pranyoto. Tujuan yang dirumuskan adalah audiens mampu memahami dan mempraktikkan gerakan dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan. Singkatnya tahapan kegiatan instruksional terdiri dari pendahuluan, penyajian materi, dan penutup. Pendahuluan berisi penyampaian pengantar materi oleh tutor mengenai gagrag Njantinan disertai dengan penjelasan singkat ragam gerakan dasar Tari Topeng Lengger. Adapun ragam tari yang akan dipelajari adalah Lampah Sekar dan Mincek, Jinjitan , Golekan , Ngencek , dan gerakan penghubung yakni Sindiran . Selanjutnya pada tahapan penyajian materi, tutor mempersilahkan audiens untuk terlebih dahulu menonton gerakan utuh dari setiap ragam gerakan. Selanjutnya tutor akan memberikan penjelasan dimana dijelaskan secara detail dari gerak kaki, gerak tangan, dan gerak kepala. Terakhir pada tahapan penutup akan ditampilkan gerakan gabungan dari setiap ragam yang dipraktikkan oleh penari putra dan penari putri. Materi berlanjut pada evaluasi berupa reviu materi dan tutorpun menutup sesi tutorial. Rancangan video tutorial terbagi menjadi tujuh video yang masing - masing terdiri dari: (1) pengantar materi, (2) tutorial gerakan Lampah Sekar dan Mincek, (3) tutorial gerakan Jinjitan , (4) tutorial gerakan Golekan , (5) tutorial gerakan Ngencek , (6) tutorial gerakan Sindiran , dan (7) Penutup materi. Pembagian video ini bertujuan untuk mengurangi beban kognitif dan meningkatkan keterlibatan audiens sehingga audiens bisa lebih fokus terhadap pecahan materi yang lebih kecil. Adapun naskah disusun berdasarkan tahapan kegiatan instruksional sehingga menyesuaikan dengan bahasa tutor. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa informal untuk menghindari kesan kaku. Langkah selanjutnya adalah penyusunnan storyboard. Storyboard inilah yang menjadi acuan alur tahapan kegiatan instruksional. Tahap Act Penelitian ini bersifat partisipasi aktif sebab peneliti terlibat langsung bersama dengan para informan dalam merancang video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan. Tahap pelaksanaannya meliputi persiapan, perekaman, pengeditan, dan penilaian. Persiapan Hal - hal yang dipersiapkan sebelum melakukan perekaman adalah mempersiapkan Call Sheet, Shot List, dan Continuity Log. Call Sheet merupakan pedoman yang berisi tinjauan informasi, waktu pengambilan gambar, pemeran, dan jadwal pengambilan gambar. Gambar 2. Call Sheet Shot list merupakan matriks pemetaan pengambilan gambar yang bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam menentukan sudut pandang pengambilan gambar ketika perekaman. Gambar 3. Shot List gerakan tari putra dan putri Sedangkan Continuity Log merupakan matriks pencatatan adegan yang berguna untuk menjaga kontinuitas antar adegan. Gambar 4. Continuity Log Perekaman Perekaman dilakukan sebagai tiga kali. Sebelum memulai perekaman, peneliti mempersiapkan alat - alat yang dibutuhkan. Alat - alat tersebut terdiri dari kamera Canon EOS M100, Tripod, dan telepon genggam sebagai alat perekam suara. Perekaman pertama adalah gerakan dasar baik gerakan tari putra dan tari putri. Tujuan perekaman pertama adalah memperoleh rekaman gerakan utuh dan gerakan per bagian gerakan dari setiap ragam gerakan Tari Topeng Lengger Sontoloyo. Tempo dan ketukan diatur oleh Bapak Dwi Pranyoto sebagai pendamping ketika perekaman ini. Penyelarasan dilakukan dengan rengeng - rengeng atau menyuarakan suara gamelan menggunakan suara dari mulut. Narasi penyampaian materi diawali dengan tutor memberikan keterangan nama tarian dan ragam gerakan. Gambar 5. (dari kiri ke kenan) pelaksanan perekaman gerakan tari dan narasi penyampaian materi. Perekaman kedua adalah rekaman narasi penyampaian materi gerak tari putra dan putri oleh tutor. Perekaman dilakukan dengan tutor menyampaikan pengantar umum mengenai gaya tari Topeng Lengger yang akan dibawakan. Kemudian tutor menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Perekaman pun berlanjut dengan penyampaian secara detail mulai dari gerakan kaki, gerakan tangan, dan gerakan kepala. Setiap detail penyampaian per bagian gerakan disampaikan di setiap ragam gerakan pula. Perekaman ketiga adalah perekaman penutup materi. Tutor menyampaikan evaluasi berupa reviu materi disertai dengan ajakan untuk belajar seni Tari Topeng Lengger Sontoloyo kepada audiens. Terakhir tutor menyampaikan penutup materi dengan salam penutup. Peneliti menggunakan pencatat adegan untuk menjaga kontinuitas antar adegan. Hal ini perlu dilakukan peneliti dikarenakan perekaman dilakukan pada waktu dan tempat yang berbeda - beda. Pengeditan Pengeditan dilakukan untuk menggabungkan seluruh materi yang sudah dalam bentuk rekaman. Penggabungan materi yang terdiri dari rekaman gerakan utuh dan per bagian gerakan, Narasi penyampaian materi, dan elemen - elemen tambahan yang menyesuaikan dengan kriteria teknis dan pedagogis. Perangkat lunak yang peneliti gunakan untuk mengedit adalah CapCut Desktop. Untuk memperbaiki suara dan mengurangi kebisingan, peneliti menggunakan Adobe Podcast. Berikut merupakan previu hasil edit rancangan video tutorial pada tabel 1. Dibawah ini. Tabel 1. Previu hasil rancangan video tutorial Keterangan Implementasi Tahapan Kegiatan Instruksional Pengantar Keterangan Implementasi Tahapan Kegiatan Instruksional Penyajian Materi Penutup Materi Pembahasan Sajian materi dalam rancangan video tutorial ini berdasarkan urutan ragam gerakan Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan. Setiap ragam gerakan berisi detail gerakan dan penjelasan mulai dari gerakan kaki, gerakan tangan, dan gerakan kepala. Kemasan materi tersampaikan melalui visual, audio, dan lisan. Hal ini berkenaan dengan konsep - konsep dalam teori kognitif pembelajaran multimedia (Mayer, Moreno, 2003) (Mayer & Moreno, 2003) . Pertama, dual channel , dimana saluran informasi manusia terdiri dari gambar dan kata - kata. Kedua , limited capacity , dimana konsep ini menyatakan kemampuan manusia yang terbatas dalam memproses informasi. Oleh karena itu, rancangan video tutorial ini terbagi menjadi satu ragam gerakan satu video. Penyusunan materi seperti ini berguna untuk mengurangi beban kognitif karena durasi video yang singkat. Ketiga, active processing , merepresentasikan pembelajaran dengan pengalaman belajar sebelumnya. Sasaran audiens rancangan video tutorial ini adalah audiens yang mempunyai pemahaman dan pengetahuan akan seni Tari Topeng Lengger. Bila dilihat dari sudut pandang literasi, rancangan video tutorial ini adalah langkah konkret dari konsep strategi literasi budaya dan kewargaan di dimensi masyarakat. Konsep pertama adalah penguatan pelaku. Keterlibatan pelaku seni tari dalam pembuatan rancangan video tutorial ini menjadi langkah penanaman kesadaran kolektif untuk memastikan keberlanjutan budaya. Konsep kedua adalah peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu. Rancangan video tutorial ini bertujuan untuk menambah sumber pembelajaran budaya yang dapat digunakan oleh tutor atau guru untuk mempermudah pemahaman materi. Selain itu, bila dikaitkan dengan konsep ketiga, yakni perluasan dan penguatan publik, penulisan kembali kebudayaan dalam konteks media audiovisual merupakan acuan dalam pembuatan rancangan video tutorial gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan ini. Konteks rancangan teknis dan rancangan pedagogis terdiri dari beberapa aspek. Pertama dari rancangan teknis terdiri dari beberapa acuan yakni, kualitas gambar, kualitas audio, pertimbangan teknis, dan kualitas pemeran. Masing - masing acuan tersebut memiliki rincian - rincian yang menjadi kriteria untuk memenuhi rancangan teknis dari perekaman rancangan video instruksional. Pertama dari acuan kualitas gambar terdiri dari pencahayaan, komposisi, dan pengaturan latar belakang. Pencahayaan menggunakan cahaya alami selama perekaman dimulai dari pagi hingga siang hari. Posisi subjek berada di tengah - tengah grid kamera serta tidak membelakangi cahaya. Komposisi dari peraga tari disesuaikan dengan sudut pandang pengambilan gambar. Ketika melakukan gerakan utuh, posisi peraga tari berada di tengah - tengah. Sedangkan ketika gerakan per bagian gerakan difokuskan pada masing - masing gerakan. Adapun tutor berada ditengah dengan pengambilan gambar setengah badan dengan duduk bersila. Latar belakang dipilih yang minim perabotan sehingga meminimalisasi gangguan. Acuan kualitas audio terdiri dari perekaman naratif dan tingkat audio. Perekaman naratif merujuk pada perekaman narasi penyampaian materi yang dihasilkan dengan kualitas audio yang jernih dan minim kebisingan. Implementasinya adalah pengeditan suara menggunakan perangkat lunak yakni Adobe Podcast untuk menjaga kualitas suara. Selanjutnya tingkat audio yang merujuk pada kenyamanan pendengaran suara akan volume dari audio. Penyesuaian suara diimplementasikan antara suara peraga tari dan tutor yang dikombinasikan dengan suara musik latar. Acuan berikutnya adalah pertimbangan teknis yang mencakup format perekaman dan takarir. Format perekaman yang dipilih adalah format FHD beresolusi 1920x1080 piksel. Dalam video juga diberikan takarir sebagai cara untuk membantu audiens memahami apa yang disampaikan oleh tutor dengan pemberian kata - kata dibawah tengah frame video. Acuan terakhir dalam rancangan teknis adalah kualitas pemeran. Kualitas pemeran ini memperhatikan konsep materi yang disampaikan, kecepatan dan kejelasan ketika menyampaikan materi, dan penampilan dari tutor. Selanjutnya adalah rancangan pedagogis. Rancangan pedagogis memperhatikan beban kognitif dan keterlibatan siswa terhadap rancangan video tutorial tersebut. Adapun acuan dari rancangan pedagogis ini terdiri dari signaling, segmenting, weeding, durasi video, dan penggunaan petunjuk. Implementasi dari signaling dalam rancangan video tutorial adalah menggunakan simbol pada video yang berfungsi untuk mempertegas penyampaian informasi. Penerapannya pada warna untuk mempertegas font dan penggunaan sorotan warna. Implementasi segmenting terdapat pada pembagian informasi untuk mempermudah pemahaman pada pembagian - pembagian informasi. Penerapannya pada pembagian materi yang tersusun atas video part yang dengan pembagian masing - masing ragam gerakan baik untuk putra maupun putri. Selanjutnya pada weeding adalah menyajikan informasi yang sesuai dengan konteks pembelajaran yang ditentukan. Menghindari informasi yang tidak relevan akan mempermudah pemahaman audiens terhadap materi. Acuan aspek keterlibatan siswa terdiri dari durasi video dan penggunaan petunjuk. Durasi video adalah kurang dari atau sama dengan 6 menit untuk masing - masing ragam gerakan. Sedangkan penggunaan petunjuk diimplementasikan pada penggunaan teks grafis dan menampilkan poin - poin materi pada sesi evaluasi. Penilaian Tahapan penilaian dilakukan dengan menguji dan menilai video terhadap para informan, triangulator netral, dan siswa - siswa ekstrakurikuler tari SMPN 1 Selomerto. Kriteria penilaian yang diujikan adalah rancangan materi, rancangan teknis, dan rancangan pedagogis. Rancangan materi terdiri dari materi ragam gerakan disertai dengan per bagian gerakannya. Rancangan teknis terdiri dari kualitas gambar, kualitas audio, pertimbangan teknis video, dan kualitas pemeran. Sedangkan rancangan pedagogis terdiri dari beban kognitif pada muatan video dan keterlibatan siswa terhadap video. Pada pengujian dan penilaian pertama bersama para informan, rancangan video tutorial dinilai bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk mendukung pembelajaran dan latihan. Terdapat catatan perihal teknis terkait latar belakang video yang terlalui beragam sehingga dikhawatirkan mengganggu fokus audiens. Pengujian dan penilaian kedua dilakukan kepada Ibu Mulyani, S.Pd. selaku triangulator netral pada penelitian ini. Berdasarkan penilaian beliau, diperoleh tanggapan bahwa rancangan video tutorial ini cukup untuk dijadikan bahan pembelajaran namun dalam konteks sebagai pendamping guru tari. Selain itu beliau menambahkan catatan perlu memperjelas instruksi tutor terhadap bahasan suatu gerakan tari. Pengujian dan penilaian ketiga dilakukan kepada siswa - siswa ekstrakurikuler tari SMPN 1 Selomerto. Siswa - siswa mempraktikkan apa yang disampaikan oleh tutor dan menilai bahwa rancangan video tutorial bisa dipahami dengan baik.

Conclusion

Rancangan materi tersusun atas elemen gerak dasar Tari Topeng Lengger Sontoloyo gagrag Njantinan. Aspek khusus pada rancangan materi ini adalah gerakan dasar dalam ragam gerakan yang dijelaskan per bagian gerakan mulai dari gerakan kaki, gerakan tangan, dan gerakan kepala. Pada aspek ini, peneliti memperoleh respon positif dari para informan, triangulator netral, dan siswa - siswa ekstrakurikuler seni tari SMPN 1 Selomerto setuju bahwa materi rancangan video tutorial mudah dipahami dan dipelajari. Rancangan teknis terdapat pertimbangan mulai dari kualitas gambar, kualitas audio, pertimbangan teknis, dan kualitas pemeran digunakan untuk menghasilkan produksi yang baik dan menjadi rekomendasi untuk dipelajari. Unsur - unsur tersebut merupakan unsur minimal yang digunakan dalam perekaman rancangan video tutorial. Pada aspek ini, peneliti memperoleh respon positif dari para informan, triangulator netral, dan siswa - siswa ekstrakurikuler seni tari SMPN 1 Selomerto setuju bahwa teknis rancangan video tutorial sudah sesuai dengan kriteria baik dari kualitas gambar, kualitas audio, pertimbangan teknis, dan kualitas pemeran. ada sedikit catatan mengenai latar belakang pengambilan gambar yang perlu diperbaiki karena dikhawatirkan mengganggu fokus audiens. Rancangan pedagogis diimplementasikan peneliti untuk menghasilkan rancangan video tutorial yang terfokus agar materi yang diserap audiens lebih sederhana namun relevan serta dalam durasi yang singkat. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi beban kognitif yang tidak mendukung pembelajaran dan untuk membangun atensi audiens. Pada aspek ini, peneliti memperoleh respon positif dari para informan, triangulator netral, dan siswa - siswa ekstrakurikuler seni tari SMPN 1 Selomerto setuju bahwa pedagogis rancangan video tutorial sudah sesuai dengan kriteria pengurangan beban kognitif dan membuat siswa merasa terlibat karena penyampaian yang mudah dimengerti. Ada sedikit catatan untuk memperjelas instruksi yang bersifat minor dan catatan bahwa rancangan video tutorial ini digunakan sebagai materi pendamping tutor atau guru tari ketika pembelajaran Tari Topeng Lengger. Dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian menghasilkan bahwa rancangan video tutorial dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar pendamping tutor atau guru tari.