Kontribusi Taman Bacaan Masyarakat “Pondok Baca Puspita” di Kabupaten Wonosobo sebagai fasilitator belajar anak usia sekolah dasar
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Pendahuluan. Keterbatasan masyarakat Dusun Candi, Wonosobo dalam mengakses perpustakaan daerah karena beberapa faktor. TBM “Pondok Baca Puspita” akhirnya menjadi tumpuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi. Penelitian ini membahas kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar anak usia SD. Metode penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data dalam penelitian yaitu wawancara semi terstruktur, observasi, studi literatur dan analisis dokumen. Data analisis. Model analisis interaktif sebagai metode analisis data Milles dan Huberman yaitu dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dan Pembahasan. Kontribusi terjadi karena adanya kendala. Kendala dalam kegiatan belajar yang dihadapi anak usia SD di Dusun Candi, Wonosobo yaitu rendahnya motivasi belajar, keterbatasan ekonomi, keterbatasan sarana pemenuhan belajar berbasis teknologi. Kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” dalam menyediakan sarana belajar anak usia SD dilakukan dalam Program Sedekah Ilmu, sebagai konsep pembelajaran di TBM “Pondok Baca Puspita”, merupakan bentuk kontribusi nonmateri. Pemberian bantuan telepon gengam sebagai bentuk kontribusi materi. TBM “Pondok Baca Puspita” bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mengembangkan layanan dalam skala kecil maupun skala yang lebih luas. Kesimpulan dan Saran. TBM “Pondok Baca Puspita” berkontribusi baik secara materi maupun non materi dalam penyediaan sarana belajar bagi anak usia SD di Dusun Candi, Wonosobo.
Abstract
Introduction. The people of Candi Hamlet, Wonosobo, are limited in accessing local libraries due to several factors. TBM “Pondok Baca Puspita” eventually became the strong foundation of the community in fulfilling information needs. This study discusses the contribution of TBM “Pondok Baca Puspita” as a means of learning for school children. Data Collection Methods. This is a descriptive qualitative research with the data collection techniques such as interviews, observation, literature study, and document analysis. Data Analysis. We used the interactive analysis model by Milles and Huberman's data analysis method. This involves data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Results and Discussion. We identified several challenges in learning activities faced by elementary school-age children in Candi Hamlet, Wonosobo. They were low motivation to learn, economic limitations, and limited means of technology-based learning fulfillment. The contribution of TBM in providing learning facilities is shown in the Sedekah Ilmu Program, as a learning concept, which is a form of non-physical contribution. The provision of mobile phone was to assist in terms of physical contribution. TBM “Pondok Baca Puspita” collaborate with several parties to improve the services. Conclusion. TBM “Pondok Baca Puspita” contributes physically and non-physically in providing learning facilities for elementary school children in Candi Hamlet, Wonosobo.
Keywords:
reading communities contribution
· reading community
· Learning
· School-aged children
Introduction
A. PENDAHULUAN Pendidikan nonformal merupakan pendidikan yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan cara mengembangkan keterampilan di lingkungan lembaga, keluarga dan masyarakat (Ihsani et al., 2019). Menurut Suwanto (2017) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memiliki peran dalam menyediakan akses informasi dari berbagai sumber untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal. Selain itu, dalam kenyataannya perpustakaan tidak sepenuhnya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sedangkan TBM dinyatakan sebagai perpustakaan yang sangat dekat dengan masyarakat. Taman Bacaan Masyarakat juga memiliki tujuan untuk memfasilitasi akses belajar masyarakat dengan cara memberikan layanan bahan bacaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat sebagai dorongan untuk mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat (Saepudin et al., 2017). Kenyataan ini memudahkan TBM untuk menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput (grass root), bahkan TBM sering kali tumbuh dari masyarakat itu sendiri (Jauhari et al., 2021). Pemilihan anak Usia Sekolah Dasar (SD) sebagai subjek penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingkat motivasi dan kemandirian anak usia SD dalam kegiatan belajar masih rendah dibandingkan dengan keinginan mereka untuk bermain (Salsabila et al., 2021), sehingga masih dibutuhkan pendampingan dalam kegiatan belajar. Salah satu contohnya, yaitu selama pandemi Covid-19 kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengharuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang sebelumnya dilaksanakan di kelas dialihkan menjadi pembelajaran daring atau Belajar Dari Rumah (BDR). Kegiatan belajar dari rumah menuntut siswa untuk memenuhi kebutuhan belajarnya secara mandiri dengan menggunakan gadget atau teknologi informasi dan komunikasi sejenis lainnya. Fenomena tersebut menjadi kendala tersendiri bagi anak untuk melakukan pembelajaran daring karena kondisi ekonomi dan psikologis keluarga. Badan Pusat Statistik (2021) menunjukkan data bahwa secara umum mayoritas orang tua di Desa Sawangan bermata pencaharian sebagai buruh tani dan pekerja di sektor jasa lainnya. Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Di samping itu, latar belakang pendidikan orang tua sangat berpengaruh terhadap kemampuan orang tua untuk memotivasi anak ketika mengalami kesulitan belajar (Ernawati et al., 2022). Kondisi rendahnya tingkat penguasaan teknologi dan latar belakang pendidikan orang tua menginspirasi dan menginisiasi sebagian warga masyarakat yang peduli pendidikan untuk melakukan pendampingan proses pembelajaran pada anak usia Sekolah Dasar (SD) melalui TBM “Pondok Baca Puspita”. TBM “Pondok Baca Puspita” berada di Dusun Candi, Desa Sawangan. Masyarakat Dusun Candi, Desa Sawangan memiliki keterbatasan dalam mengakses perpustakaan umum daerah yang berjarak ±12 kilometer dari dusun, minimnya sarana transportasi umum yang masuk ke Dusun Candi serta kondisi topografi Desa Sawangan secara umum berkontur perbukitan menyebabkan hambatan dalam mengakses jaringan internet. Dengan adanya kondisi ini, TBM “Pondok Baca Puspita” menjadi tumpuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti melakukan kajian lebih jauh tentang kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar siswa usia SD. Penelitian mengenai kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” perlu dilakukan karena TBM “Pondok Baca Puspita” menjadi salah satu sumber belajar yang dapat memberikan pendampingan belajar di tengah keterbatasan yang dimiliki oleh anak-anak usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo. Peneliti juga melihat kendala dalam kegiatan belajar di rumah yang dihadapi anak usia Sekolah Dasar (SD) di Dusun Candi, Kabupaten Wonosobo sehingga dapat diketahui kontribusi yang dilakukan TBM dalam menghadapi kendala tersebut. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar anak usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo. Dalam rangka mencapai tujuan penelitian maka pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar anak usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan?. B. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu Terdapat penelitian serupa terkait dengan kontribusi Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Penelitian serupa memiliki fungsi sebagai tolak ukur dan rujukan atas penelitian yang nantinya akan dilakukan. Pertama dilakukan oleh Ardyawin et al. (2021) yang memiliki tujuan untuk mengetahui kontribusi Kampung Baca Asuransi Jasindo dalam memenuhi kebutuhan literasi informasi masyarakat di Taman Sandik. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ardyawin et al. (2021) menunjukan bahwa Kampung Baca Asuransi Jasindo berkontribusi dalam menyediakan sumber belajar dan meningkatkan minat baca dengan cara menyediakan berbagai macam bahan bacaan bagi masyarakat. Penelitian Ardyawin memiliki persamaan dengan penelitian ini, yaitu pada objek penelitian keduanya membahas mengenai kontribusi TBM. Adapun perbedaan dengan penelitian Ardyawin terletak pada subjek penelitian. Subjek dan lokasi dari penelitian yang dilakukan oleh Ardyawin et al. (2021) yaitu masyarakat umum di Desa Sandik, Lombok Barat, sedangkan subjek dan lokasi dari penelitian ini yaitu pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) di Dusun Candi, Desa Sawangan, Kecamatan Leksono yang memanfaatkan fasilitas belajar di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Pondok Baca Puspita”. Kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Lane (2022) yang memiliki tujuan untuk mengetahui peranan perpustakaan di daerah pedesaan negara bagian Arkansas dalam mendukung akses virtual di masa pandemi COVID-19. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa perpustakaan di daerah pedesaan menjadi sumber informasi bagi masyarakat di sekitarnya. Bagi siswa di pedesaan negara Arkansas, perpustakaan desa menjadi harapan saat kebijakan pembelajaran jarak jauh akibat COVID-19 diterapkan. Pada penelitian Lane (2022), terdapat beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaan antara penelitian ini dengan Lane yaitu kedua penelitian membahas mengenai peranan perpustakaan di lingkungan pedesaan dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat di sekitarnya. Adapun perbedaannya yaitu subjek dan lokasi penelitian Lane (2022) yaitu masyarakat pedesaan negara bagian Arkansa tanpa batasan usia tertentu sedangkan pada penelitian ini subjek dan lokasi penelitiannya yaitu pengelola TBM “Pondok Baca Puspita” dan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) di Dusun Candi, Desa Sawangan yang secara rutin memafaatkan sarana belajar di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Pondok Baca Puspita”. Penelitian sejenis selanjutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Cahyani et al. (2021). Hasil dari penelitian ini adalah Perpustakaan Desa ”Leshutama” sebagai sumber belajar dan informasi masyarakat memiliki peranan yang aktif dalam memberdayakan masyarakat di Desa Pakisaji. Bentuk pemberdayaan dengan mengadakan aktivitas keterampilan seperti pelatihan sablon serta pemanfaatan jerami dan kulit ari kedelai sebagai pakan ternak. Dalam penelitian Cahyani et al. (2021) terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaannya yaitu keduanya kedua membahas mengenai sumber belajar dan informasi di lingkungan masyarakat pedesaan. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian Cahyani yaitu terletak pada subjek dan lokasi penelitian. Pada penelitian Cahyani et al. (2021) subjek penelitiannya yaitu seluruh masyarakat Desa Pakisaji tanpa batasan usia. Subjek penelitian ini terbatas pada pendiri dan pengelola TBM “Pondok Baca Puspita” serta anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) yang pernah memanfaatkan sarana belajar di TBM “Pondok Baca Puspita”. Pada penelitian yang dilakukan oleh Cahyani et al. (2021) peneliti berfokus pada peran Perpustakaan Desa “Leshutama” dalam memberdayakan masyarakat dan melindungi lingkungan sedangkan pada penelitian ini peneliti terfokus pada kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar anak usia Sekolah Dasar (SD). Kami telah mereview beberapa penelitian terdahulu dan belum ditemukan penelitian yang membahas mengenai kontribusi TBM khususnya TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar siswa usia SD. Sebagian besar baru membahas mengenai peran, kontribusi dan upaya TBM dalam meningkatkan minat baca dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Belum ditemukan penelitian yang secara spesifik membahas kontribusi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai sarana belajar anak usia SD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar anak usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai Sarana Belajar Anak Usia Sekolah Dasar Taman Bacaan Masyarakat sebagai salah satu sumber edukasi, informasi dan rekreasi yang berbasis pada komunitas memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung pada komunitas tersebut (Septiarti et al., 2020). Taman Bacaan Masyarakat memberikan kontribusi secara langsung dengan cara menerima dan menyalurkan bantuan sesuai dengan tujuan pemberi bantuan. Menurut Aprilia (2016) TBM dapat menerima bantuan dana dari pihak ketiga yang bersifat tidak mengikat sebagai contoh yaitu bantuan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah atau sejenis. Bantuan materi tersebut dapat digunakan TBM untuk pengadaan bahan pustaka maupun peningkatan kualitas layanan. Kontribusi non materi dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan maupun pemikiran seperti kerjasama dengan instansi pihak ketiga seperti penyuluhan kelompok tani, penyuluhan kesehatan, penyuluhan narkoba dan lainnya. Pemberian bantuan tersebut dimanfaatkan oleh TBM untuk memaksimalkan fungsi TBM sebagai sumber edukasi, rekreasi dan informasi bagi masyarakat. Taman Bacaan Masyarakat sebagai sumber edukasi dimanfaatkan oleh pemustaka untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Taman Bacaan Masyarakat sebagai sumber belajar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lintas usia yang berarti seluruh kelompok usia dapat memanfaatkan fasilitas belajar yang dimiliki TBM. Bagi kelompok anak usia Sekolah Dasar (SD), TBM mempunyai kontribusi yang cukup dominan. Anak sering kali menghadapi kendala selama pembelajaran di rumah, beberapa kendala tersebut di antaranya yaitu: (a) rendahnya motivasi belajar, motivasi belajar anak dapat mengalami penurunan apabila anak tidak mendapatkan bimbingan dan arahan orang tua saat proses pembelajaran di rumah (Darmayanti et al., 2020); (b) keterbatasan ekonomi, rendahnya ekonomi keluarga dapat berdampak pada keterbatasan pemenuhan sarana belajar berbasis teknologi (Asadullah et al., 2022); (c) keterbatasan sarana, tidak semua masyarakat memiliki jaringan internet yang bagus sebagai contoh di area tertentu, masyarakat sulit mendapatkan akses jaringan internet bahkan black spot akibat dari perbedaan jaringan ditiap daerah dan keterbatasan kuota internet (Asadullah et al., 2022). Kontribusi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan tempat yang menghimpun bahan bacaan yang secara bebas dimanfaatkan oleh masyarakat umum mulai usia anak-anak hingga dewasa dan dikelola menggunakan dana swadaya sekelompok orang maupun perorangan (Miharja et al., 2021; Pandapotan & Prakoso, 2022). Taman Bacaan Masyarakat dan perpustakaan pada dasarnya memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai pusat informasi masyarakat dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat (Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945). Namun sejatinya terdapat juga perbedaan antara TBM dan perpustakaan. Suwanto (2017) menjelaskan perbedaan antara TBM dan perpustakaan, contoh perbedaan tersebut, yaitu TBM merupakan suatu perpustakaan yang memiliki karakter lebih humanis dan sangat dekat dengan masyarakat, sedangkan perpustakaan memiliki peraturan yang baku sehingga memunculkan kesan formal. TBM memiliki kesan yang lebih informal dibandingkan dengan perpustakaan karena memiliki konsep dari masyarakat dan untuk masyarakat itu sendiri. Kontribusi diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh individu maupun kelompok dalam bentuk bantuan materi atau nonmateri yang dapat meringankan beban orang lain. Definisi lain diuraikan oleh Sigalingging (2016) bahwa kontribusi sebagai pendorong evolusi yang memicu individu untuk membantu orang lain dalam suatu komunitas dan membimbing kesuksesan kelompok walaupun kontributor tidak merasakan manfaat langsung dari apa yang mereka lakukukan. Dari beberapa pengertian tersebut maka kontribusi dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan individu maupun sekelompok orang kepada orang lain baik berupa bantuan materi maupun nonmateri yang dapat membantu kesuksesan dan meringankan beban orang lain. Menurut Anggraeini et al. (2022) terdapat dua bentuk kontribusi, yaitu: (a) kontribusi materi, kontribusi materi dapat diberikan seseorang kepada orang lain dalam bentuk bantuan sumbangan dan bantuan berupa dana atau uang. (b) kontribusi nonmateri, kontribusi nonmateri dapat diberikan seseorang kepada orang lain dalam bentuk selain dana atau uang. Kontribusi nonmateri dapat diberikan dalam bentuk tindakan maupun pemikiran untuk mencapai sesuatu yang direncanakan. Berdasarkan definisi yang telah diuraikan, kontribusi tidak terbatas pada kontribusi materi saja. Kontribusi dapat diberikan dalam bentuk ide, ilmu, atau tindakan lainnya kepada individu atau sekelompok orang yang bersifat membantu dan meringankan beban orang lain. Muslimah et al. (2019) mendefinisikan TBM sebagai salah satu wadah yang bergerak di bidang pendidikan dan memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca di masyarakat secara menyeluruh tanpa membedakan status sosial, ekonomi, budaya, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan dan lain sebagainya. Menurut Jauhari et al. (2021)TBM merupakan suatu lembaga independen di luar perpustakaan yang bertujuan menggerakan dan meningkatan kemampuan literasi masyarakat. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka dapat diartikan bahwa TBM merupakan sentral informasi dan penyedia berbagai macam bahan bacaan yang dapat dengan mudah dijangkau dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Nugrahani (2014) penelitian kualitatif adalah penelitian bertujuan untuk mendalami suatu kondisi dengan cara mendeskripsikan kondisi di lapangan secara jelas dan rinci. Pemilihan metode deskriptif kualitatif dilatarbelakangi oleh lingkup penelitian yang terbatas pada suatu wilayah kecil sehingga diperlukan data yang menyeluruh dan mendalam dari pemangku kepentingan yang berkaitan dengan kontribusi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Pondok Baca Puspita” sebagai sarana belajar anak usia Sekolah Dasar (SD) di Dusun Candi, Desa Sawangan, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo. Penelitian deskriptif kualitatif dipilih untuk penelitian ini karena pandangan, sikap, pengetahuan dan keterampilan pada anak usia SD yang menjadi subjek utama dalam penelitian ini tidak dapat diteliti secara mendalam apabila hanya menggunakan metode kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah pendiri dan pengelola TBM “Pondok Baca Puspita”, sedangkan objek penelitian ini adalah kontribusi TBM sebagai sarana belajar anak usia SD. Penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengambilan data yaitu, wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Wawancara, dalam proses pengumpulan data peneliti akan menggunakan jenis wawancara semi terstruktur. Informan wawancara dalam penelitian ini didapatkan melalui teknik purposive sampling. Menurut Kaharuddin (2020) ciri utama purposive sampling yaitu informan dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, terdapat tujuh informan yang terdiri dari dua informan kunci, tiga informan utama dan dua informan pendukung. Informan kunci yaitu dua orang pendiri dan pengurus TBM “Pondok Baca Puspita”, hal ini dikarenakan pendiri dan pengurus TBM memiliki pengetahuan yang baik terkait kontribusi TBM sebagai sarana belajar. Informan utama yaitu tiga pemustaka anak usia SD di TBM “Pondok Baca Puspita”, hal ini dikarenakan pemustaka anak adalah pihak yang memanfaatkan TBM sebagai sarana belajar. Informan pendukungnya yaitu dua mitra kerja TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai stakeholder terlaksananya program dan kegiatan yang berjalan di TBM. Peneliti melakukan pengamatan atau observasi dan pencatatan hasil pengamatan di TBM “Pondok Baca Puspita”. Objek observasi adalah pengelola dan pemustaka TBM usia SD. Studi dokumen digunakan dengan melihat dokumen peminjaman buku dan daftar hadir kegiatan yang dilakukan oleh TBM “Pondok Baca Puspita” serta studi literatur dengan mencari artikel penelitian yang di dapatkan dari beberapa database seperti Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan Emerald Insight dengan menggunakan beberapa kata kunci seperti “kontribusi TBM”, “TBM dan anak usia sekolah”, “kendala belajar anak usia SD”. Keabsahan data dalam penelitian kualitatif merupakan suatu hal yang penting (Susanto et al., 2023). Penelitian ini menggunakan teknik Lincoln dan Guba (1985) dalam upaya menjaga kualitas data penelitian, yaitu dengan tahapan sebagai berikut: 1) Credibility menggunakan metode triangulasi sumber, peneliti mencari tahu kebenaran data dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. Peneliti juga membandingkan hasil wawancara dengan dokumen milik TBM “Pondok Baca Puspita”. Peneliti menguji kredibilitas penelitian juga dengan melakukan pengamatan dengan tekun (persistent observations). Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara mencatat dan merinci masalah yang akan diteliti untuk nantinya diamati secara lebih mendalam. Proses ini dilakukan secara berulang hingga data sesuai dengan kenyataan yang diperoleh dari hasil pengumpulan data. 2) Transferability, peneliti menyajikan hasil penelitian dalam bentuk uraian yang sistematis sehingga informasi tersampaikan dengan jelas. 3) Dependability, peneliti melakukan dependability audit dengan membuat catatan lapangan penelitian (audit trail). 4) Confirmability, dilakukan dengan cara meminta pendapat informan dan rekan sejawat lain untuk menguji temuan penelitian. Analisis data kualitatif interaktif Miles et al. (2014) memiliki tiga tahapan yaitu melakukan pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan dan pengabstraksian semua informasi yang diperoleh selama melakukan pengumpulan data, kemudian menggabungkan data dan informasi yang digunakan untuk kemudian dilakukan analisis dan penarikan kesimpulan.
Result & Discussion
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Pondok Baca Puspita” merupakan organisasi yang didirikan tahun 2019 dan dikelola secara mandiri oleh penggiat literasi, Wahadi dan Endang Puspitorini. Pendirian TBM “Pondok Baca Puspita” dilatarbelakangi oleh kepedulian pendiri terhadap kondisi anak-anak di Dusun Candi yang mengalami penurunan minat belajar yang diakibatkan terbatasnya sarana belajar. Pendirian TBM “Pondok Baca Puspita” juga dilatarbelakangi kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang mayoritas berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Taman Bacaan Masyarakat “Pondok Baca Puspita” hadir di tengah masyarakat untuk menyediakan akses informasi, rekreasi dan edukasi yang murah dan mudah. Pendirian TBM “Pondok Baca Puspita” juga didasari latar belakang pekerjaan orang tua di Dusun Candi yang mayoritas sebagai buruh dan pekerja serabutan yang memiliki keterbatasan dalam proses pendampingan belajar anak. Akses masyarakat terhadap perpustakaan umum daerah yang jauh dan sulit juga melandasi pendirian TBM “Pondok Baca Puspita”. Kendala Anak Usia Sekolah Dasar (SD) Dusun Candi, Desa Sawangan Dalam Pembelajaran Mandiri Di Rumah Kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” baik secara materi maupun non-materi sebagai penyedia sarana belajar anak usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan dilatar belakangi oleh kendala yang dihadapi anak usia SD saat melakukan kegiatan pembelajaran di rumah. Terdapat faktor yang menjadi penyebab anak usia SD di lingkungan Dusun Candi mengalami kendala dalam kegiatan belajar di rumah. Faktor tersebut yaitu, rendahnya motivasi belajar. Motivasi belajar menjadi salah satu penyebab anak usia SD di Dusun Candi mengalami kendala dalam kegiatan belajar di rumah. Anak usia SD di Dusun Candi memiliki tingkat kemandirian belajar yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan penuturan beberapa informan sebagai berikut: “...kalau di rumah sering kesulitan waktu ngerjain tugas-tugas. Soalnya biasanya kalau ngerjain tugas atau belajar cuma sama kaka aja...” (Faz, Wawancara, 01 April 2023) “... sering kesulitan belajar di rumah, soalnya di rumah cuma sama mbah. Jadi kadang suka bingung kalau belajar di rumah gaada yang bantuin...” (Sis, Wawancara, 01 April 2023) Informan mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mandiri di rumah. Kesulitan yang dihadapi karena ketiadaan dan minimnya pendampingan belajar oleh orang tua di rumah, kebanyakan orang tua bekerja di luar negeri atau bekerja paruh waktu. Kesulitan dalam kegiatan belajar juga dipengaruhi oleh perbedaan zaman antara orang tua dan anak (Grose et al., 2024). Kendala lain yang dihadapi oleh anak usia SD di Dusun Candi dalam proses pembelajaran di rumah yaitu rasa malas yang terkadang timbul saat melakukan pembelajaran di rumah. Rasa malas atau jenuh dalam kegiatan belajar anak usia SD di Dusun Candi menyebabkan penurunan tingkat motivasi belajar. Rendahnya motivasi belajar anak usia SD juga diakibatkan oleh kurangnya dorongan serta pendampingan belajar dari orang tua saat anak mengalami kebuntuan atas permasalahan yang dihadapi. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmayanti et al. (2020) yang menyatakan motivasi belajar anak dapat mengalami penurunan apabila tidak ada bimbingan dan arahan orang tua saat proses belajar di rumah. Motivasi anak juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya (Yildirim, 2020), sehingga keberadaan TBM “Pondok Baca Puspita” memegang peranan penting dalam meningkatkan motivasi belajar anak di sekitar TBM. Faktor ekonomi juga menjadi kendala dalam kegiatan belajar anak usia SD secara mandiri di rumah (Lau & Lee, 2021). Faktor ini berkaitan dengan keterbatasan ekonomi orang tua dalam menyediakan sarana belajar bagi anak usia SD di Dusun Candi. Rata-rata mata pencaharian orang tua informan anak usia SD di Dusun Candi yaitu buruh dan pekerja serabutan. Pernyataan informan mengenai mata pencaharian orang tua diperkuat oleh Data Tingkat Perkembangan Desa dan Kelurahan Sawangan (Badan Pusat Statistik, 2021) yang memuat informasi bahwa terdapat 1790 orang yang bekerja di sektor informal (buruh serabutan, tukang batu, tukang kayu, dan lainnya) atau sekitar 56.07% dari total masyarakat yang bekerja. Kondisi ini mencerminkan bahwa masih banyak penduduk di Desa Sawangan yang memiliki keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Keterbatasan tersebut menyebabkan orang tua belum mampu menyediakan sarana belajar bagi anak khususnya prasarana. Sesuai dengan pernyataan Falah et al. (2022) yang menjelaskan rendahnya ekonomi keluarga dapat berdampak pada keterbatasan pemenuhan sarana belajar berbasis teknologi sebagai contoh ketidakmampuan orang tua dalam penyediaan telepon pintar dan jaringan internet pendukung. Ketidaktersedian telepon genggam secara pribadi bagi beberapa informan mengharuskan informan untuk berbagi penggunaan telepon genggam dengan anggota keluarga lainnya. Informan anak usia SD tidak leluasa atau terbatas dalam menggunakan telepon genggam untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sekolah. Keterbatasan sarana dalam kegiatan belajar anak usia SD di Dusun Candi berkaitan dengan kualitas penerimaan sinyal yang buruk sehingga menghambat proses pembelajaran mandiri di rumah. Beberapa anak usia SD di Dusun Candi memiliki kendala dalam memperoleh materi pembelajaran yang disebabkan oleh penggunaan kuota dan berakibat pada buruknya kualitas penerimanaan sinyal. Anak-anak usia SD membutuhkan waktu yang lama dalam mengakses materi-materi pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan penuturan informan sebagai berikut: “Aku di rumah ngga pasang dan ngga nyambung WiFi mbak jadi biasanya pakai kuota kalau butuh untuk cari pelajaran. Kadang kalau di rumah sinyalnya suka buruk Mbak. Terus kadang kalau untuk cari materi suka lama.” (Sis, Wawancara, 02 April 2023) Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa sering terjadi kondisi buruknya kualitas penerimaan sinyal, lambatnya proses membuka website, putus sinyal hingga kondisi tidak mendapatkan sinyal sama sekali (black spot area). Hal ini sejalan dengan pendapat Falah et al. (2022) yang menyatakan bahwa masyarakat sulit mendapatkan akses jaringan internet bahkan black spot akibat dari perbedaan jaringan ditiap daerah dan keterbatasan kuota internet. Masalah lain yang menyertai keterbatasan sarana adalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berakibat pada sulitnya mencari informasi secara tepat dan akurat. Hasil analisis penelitian diketahui bahwa anak usia SD di Dusun Candisering kali menghadapi kesulitan belajar mandiri di rumah. Hal ini dikarenakan pada anak SD belum tumbuh sifat kemandirian untuk memecahkan masalah. Faktor lain yang menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam pembelajaran mandiri di rumah yaitu keterbatasan ekonomi keluarga yang menyebabkan belum terpenuhinya sarana belajar berbasis teknologi. Faktor keterbatasan sarana berdampak pada pembelajaran anak di rumah. Hal ini disebabkan oleh kualitas penerimaan sinyal dalam pengoperasian telepon genggam sebagai sarana belajar. TBM “Pondok Baca Puspita” berusaha berkontribusi dalam mendukung dan menstimulasi kegiatan belajar di Dusun Candi sehingga anak tidak memandang kendala tersebut sebagai penghalang dalam proses pembelajaran di rumah. Kontribusi TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai Sarana Belajar Anak Usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan Bagi anak usia Sekolah Dasar (SD), keberadaan TBM berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan belajar di rumah. Kontribusi itu diwujudkan dalam bentuk bimbingan belajar, pemberian perangkat penunjang kegiatan belajar seperti alat tulis dan telepon genggam bagi pemustaka yang dianggap membutuhkan. Kontribusi lain yang diberikan, yaitu dalam bentuk gagasan yang mendukung perkembangan TBM seperti pengajuan proposal kepada lembaga tingkat lokal maupun nasional. TBM “Pondok Baca Puspita” memiliki kontribusi yang cukup dominan dalam proses pembelajaran anak di rumah, dikarenakan memiliki kegiatan pembelajaran dengan konsep “Sedekah Ilmu”. Pembelajaran dengan konsep “Sedekah Ilmu” merupakan semangat yang diusung oleh pengelola dalam penyelenggaraan kegiatan belajar bagi anak usia SD di Dusun Candi. Pembelajaran dengan konsep “Sedekah Ilmu” memungkinkan setiap orang dapat berpartisipasi secara sukarela sebagai fasilitator dan peranan lain sesuai kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki. “Sedekah Ilmu” merupakan konsep berbagi tanpa mengharapkan imbalan atau insentif. Konsep tersebut memungkinkan setiap orang yang memiliki kompetensi dalam kegiatan belajar anak usia SD dapat berperan aktif membagikan ilmunya. Konsep “Sedekah Ilmu” ini merupakan tindakan nyata TBM dengan melibatkan masyarakat di lingkungan Dusun Candi dalam penyelenggaraan kegiatan belajar. Hal ini selaras dengan Pakniany et al. (2020), salah satu bentuk dari kontribusi yaitu kontribusi non-materi yang diberikan kepada orang lain dalam bentuk selain dana atau uang. Kontribusi non-materi dapat diberikan dalam bentuk tenaga untuk mencapai sesuatu yang direncanakan (Dulkiah et al., 2023). Pembelajaran di TBM “Pondok Baca Puspita” dengan konsep “Sedekah Ilmu” memungkinkan anak usia SD dapat menikmati pembelajaran di luar pendidikan formal secara gratis dalam bentuk bimbingan belajar dan keterampilan lainnya. Dalam mendukung kegiatan pembelajaran, TBM “Pondok Baca Puspita juga menyediakan fasilitas: panti atau tempat belajar, meja tulis, buku gambar, buku pelajaran dan jaringan internet. Hal ini selaras dengan penelitian Wahono et al. (2020) yang mengatakan bahwa TBM mampu memberikan suasana yang kondusif untuk belajar bagi anak disekitar TBM. Bagi pemustaka anak usia SD kegiatan pembelajaran di TBM “Pondok Baca Puspita” memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan kegiatan lain. Hal ini sesuai dengan penuturan informan anak usia SD sebagai berikut: “Kalau aku sering ke sini setiap hari untuk les pelajaran mbak. Mulai jam tiga sore. Tapi kalau di sini les cuma sampai hari Sabtu aja, minggunya untuk senam” (Nao, Wawancara, 01 April 2023) Informasi ini selaras dengan penuturan informan selaku pengurus dan pengajar di TBM “Pondok Baca Puspita” yaitu sebagai berikut: “Ya kalau di sini paling sering itu les pelajaran Mbak kalau untuk anak SD. Mereka di sini les dari hari Senin-Sabtu biasanya mulai jam tiga sampai jam empat, soalnya mereka jam lima lanjut ngaji di TPQ.” (Par, Wawancara, 02 April 2023) Kegiatan pembelajaran bagi anak usia SD di TBM “Pondok Baca Puspita” memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan kegiatan lainnya. Konsep “Sedekah Ilmu” yang memiliki arti keikhlasan dalam berbagi tanpa mengharap imbalan tidak menyurutkan semangat para fasilitator pembelajaran untuk membagikan ilmu yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan. Semangat berbagi para fasilitator di TBM “Pondok Baca Puspita” dibuktikan dengan frekuensi pembelajaran yang dilaksanakan setiap hari sesuai jadwal yang telah di mulai dari hari Senin hingga Sabtu dengan jam pembelajaran 15.00 – 16.00 WIB (±60 menit). Sedangkan di hari Minggu kegiatan pembelajaran diganti dengan kegiatan rekreatif seperti senam pagi dan kegiatan bermain. Metode pembelajaran di TBM “Pondok Baca Puspita” lebih bersifat individual artinya anak diberikan kebebasan untuk mempelajari dan menyampaikan kesulitan terkait materi pembelajaran yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan penuturan informan sebagai berikut: “Pembelajarannya disesuaikan sama keinginan individu saja mbak. Misal anak hari ini pingin belajar atau mengerjakan PR matematika. Jadi ya belajar matematika. Kadang juga ada anak yang pingin Bahasa Indonesia, ya nanti dia belajar bahasa Indonesia kita damping. Disini kita fasilitasi pembelajaran yang berdiferensiasi merdeka belajar. Selain itu kita juga terapkan sistem tutor sebaya. Kebetulan saya kan pendidik, jadi saya menyesuaikan perkembangan kurikulum juga…” (Par, Wawancara, 02 April 2023) Penuturan informan tersebut diperkuat dengan pernyataan informan pemustaka usia SD di TBM “Pondok Baca Puspita” sebagai berikut: “Ada banyak mbak seminggu hampir setiap hari kesini untuk belajar. Hari senin ada Bahasa Inggris, selasa Bahasa Indonesia, rabu Matermatika, kamis bahasa Inggris, jumat kadang PAI sama sabtu les nari…” (Faz, Wawancara, 11 April 2023) “Contoh belajarnya kalau di sini ada banyak les pelajaran kaya di sekolah. Ada les matematika, les Bahasa Indonesia, les Bahasa Inggris sama nari mbak. Hampir setiap hari ada les sejam sehari” (Sis, Wawancara, 13 April 2023) Berdasarkan dari pernyataan beberapa informan dapat dimaknai bahwa proses pembelajaran di TBM “Pondok Baca Puspita” menggunakan metode berdiferensiasi yang memiliki arti bahwa proses pembelajaran menyesuaikan dengan kebutuhan belajar anak. Penerapan metode berdiferensiasi diterapkan karena pemustaka anak usia SD yang melakukan pembelajaran di TBM “Pondok Baca Puspita” memiliki heterogenitas tingkatan kelas yang mengakibatkan perbedaan kebutuhan belajar. Pembelajaran dengan metode berdiferensiasi juga memungkinkan anak memiliki jadwal pembelajaran yang berbeda-beda tiap harinya (Puzio et al., 2020). Dalam proses pembelajaran itu juga terjadi interaksi pembelajaran tutor sebaya. Pendekatan yang dilakukan TBM “Pondok Baca Puspita” dalam kegiatan belajar anak memotivasi anak untuk senang berkunjung dan belajar di pondok baca tersebut. Hal ini dilihat dari frekuensi rata-rata tingkat kehadiran pemustaka dalam kunjungan dan kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, TBM “Pondok Baca Puspita” tidak hanya sekadar memberikan bantuan penyampaian materi pembelajaran yang dibutuhkan, tetapi juga memberikan bantuan secara meteri bagi keberlangsungan kegiatan tersebut. Bantuan materi tersebut berfungsi sebagai ragi belajar atau stimulan yang meningkatkan semangat belajar anak di Dusun Candi. TBM “Pondok Baca Puspita” berkontribusi secara materi dalam penemuhan kebutuhan belajar anak. Taman bacaan ini memberikan bantuan secara materi berupa peralatan tulis bagi anak-anak. Tak hanya itu, bantuan secara materi sebagai penunjang kegiatan belajar juga diberikan dalam bentuk telepon genggam. TBM “Pondok Baca Pupita” juga mengajak masyarakat untuk menyedekahkan telepon genggam layak pakai. Realisasi dari ajakan tersebut TBM “Pondok Baca Puspita” pernah memberikan bantuan telepon genggam kepada anak usia SD untuk menunjang kegiatan belajar di rumah. Kontribusi materi diberikan dalam bentuk pemberian alat tulis dan telepon genggam kepada anak yang dianggap membutuhkan bantuan tersebut guna menunjang kegiatan belajar. Kontribusi secara materi sejalan dengan pendapat Khoiri (2020) yang menyatakan kontribusi materi dapat diberikan seseorang kepada orang lain dalam bentuk bantuan sumbangan dan bantuan berupa dana atau uang. Sejak didirikan pada tahun 2019, TBM “Pondok Baca Puspita” memiliki ragam kegiatan yang sangat bervariasi mulai dari layanan peminjaman buku, kegiatan olahraga rutin hingga bimbingan belajar secara gratis. Dalam pelaksanaan programnya, Pondok Baca Puspita tidak berjalan sendirian. Taman bacaan sering kali melibatkan pihak-pihak lain yang berasal dari individu, masyarakat dan lembaga terkait (Lusiana et al., 2023). TBM “Pondok Baca Puspita” mendapatkan bantuan berupa dana dari Pemerintah Desa Sawangan untuk mendukung operasional kegiatan di taman bacaan tersebut. TBM “Pondok Baca Puspita” juga melibatkan pendamping perpustakaan Kecamatan Leksono untuk membantu mengelola bahan pustaka yang dimiliki. Pengelolaan tersebut menggunakan bantuan sistem automasi perpustakaan Inlislite. Selain itu, untuk memperkaya koleksi buku fisik tercetak, taman bacaan ini melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Arpusda Wonosobo berupa peminjaman koleksi buku Dinas Arpusda Wonosobo secara berkala sebanyak lima puluh eksemplar setiap tiga bulan sekali. Hal ini selaras dengan pernyataan informan sebagai berikut : “Mulai tahun 2022 ada dukungan dana untuk Pondok Baca Puspita dari Pemerintahan Desa Sawangan sebesar lima juta rupiah untuk operasional Pondok Baca Puspita [….] Setiap tahunnya dibagi jadi tiga tahap yang disalurkan melalui POKJA 2 PKK” (Day, Wawancara, 04 April 2023) “…Jadi saya memberi masukan atas apa yang dirasa kurang meliputi administrasi dari mulai penciptaan buku inventarisasi, buku pengunjung, buku peminjaman. Sekarang juga sudah saya bantu untuk mulai menggunakan Inlislite dalam pengorganisasian bukunya. Ada juga kerja sama antara Pondok Baca Puspita dan Arpusda Wonosobo yang bentuknya itu MoU peminjaman buku.” (Him, Wawancara, 04 April 2023) Dalam skala yang lebih luas, TBM “Pondok Baca Puspita” mengembangkan layanan yang bervariasi dengan mengajukan proposal ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). TBM “Pondok Baca Puspita” berupaya secara aktif untuk mengajukan proposal kepada Kementerian Pemuda terkait pengadaan seperangkat peralatan olahraga outdoor dan satu set perangkat komputer. Realisasi atas proposal tersebut dibuktikan dengan pemberian bantuan satu set perlengkapan komputer, CPU, dan printer serta satu set peralatan olahraga di luar ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar lingkungan Dusun Candi. Realisasi atas gagasan yang dimiliki sebagai contoh penyediaan jaringan internet, peralatan komputer dan alat olahraga tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya anak usia SD sebagai sarana pemenuhan informasi dan rekreasi. Realisasi atas pemikiran pengelola TBM “Pondok Baca Puspita” mendukung keberlangsungan fungsi rekreasi dan informasi dari TBM. Direktorat Jenderal PAUD, Nonformal, dan Informal (2013) juga memberikan pernyataan yang mendukung hasil analisis penelitian ini, bahwa TBM memiliki fungsi rekreasi dan informasi. TBM memiliki fungsi informatif bagi masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan seperti majalah, tabloid, koran, atau jaringan internet yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Taman Bacaan Masyarakat juga digunakan sebagai sarana rekreatif menyediakan tempat bermain untuk menarik minat kunjung anak-anak. Taman Bacaan Masyarakat dapat memfasilitasi para pengunjung dengan menyediakan sarana hiburan sebagai contoh alat-alat permainan tradisional, alat musik dan peralatan menggambar (Dwiyantoro, 2019). Realisasi pengembangan program kegiatan di TBM “Pondok Baca Puspita” dapat terealisasi dan memiliki kebermanfaatan karena adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti yang dijelaskan oleh Aprilia (2016), bahwa TBM dapat melibatkan pihak lain sebagai upaya Kerjasama. Kerjasama atau kemitraan merupakan salah satu upaya TBM untuk dapat berdikari dalam memenuhi kebutuhan penggunanya. Taman Bacaan Masyarakat juga perlu aktif dalam menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, sehingga tidak hanya diam menunggu datangnya bantuan, namun dapat melakukan upaya inisiasi terlebih dahulu (Nursari et al., 2023). Berdasarkan hasil analisis penelitian maka dapat diketahui bahwa TBM “Pondok Puspita” memiliki kontribusi dalam wujud tindakan, materi dan pemikiran. Kontribusi dalam wujud tindakan dilakukan dengan program “Sedekah Ilmu”. Kontribusi dalam bentuk materi diwujudkan dengan program pemberian bantuan telepon genggam bagi anak usia SD. Kontribusi dalam bentuk pemikiran dilakukan dengan ide – ide program yang dapat diterapkan di TBM “Pondok Puspita. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa program “Sedekah Ilmu” sebagai perwujudan kontribusi tindakan memiliki porsi yang dominan dibandingkan dengan bentuk kontribusi materi dan pemikiran. Hal ini karena kontribusi materi dan pemikiran hanya sebagai komplemen atau pelengkap dari kegiatan pembelajaran di taman bacaan tersebut. Kontribusi tindakan yang diberikan merupakan aset yang tidak tergantikan dengan sarana dan prasarana yang tersedia karena ruh dari TBM “Pondok Baca Puspita” adalah interaksi antara fasilitator dan khususnya pemustaka usia Sekolah Dasar (SD) serta masyarakat umum yang mengakses TBM.
Conclusion
Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Pondok Baca Puspita” memiliki kontribusi yang dalam kegiatan pembelajaran anak usia SD di Dusun Candi. Taman Bacaan Masyarakat “Pondok Baca Puspita” sebagai fasilitator belajar anak usia SD di Dusun Candi, Desa Sawangan, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo memberikan kontribusi dalam tiga bentuk, yaitu berupa kontribusi tindakan, kontribusi materi dan kontribusi pemikiran. Kontribusi materi merupakan kontribusi yang dilakukan dengan cara pemberian alat tulis kepada seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran di Pondok Baca Puspita dan pemberian bantuan telepon genggam bagi anak usia Sekolah Dasar (SD) yang dianggap layak menerima. Selain itu, kontribusi diberikan dalam bentuk pemikiran dan tindakan berupa bimbingan belajar dengan konsep “Sedekah Ilmu”. Konsep ini memungkinkan masyarakat yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam pendidikan untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran yang diorganisir oleh pengurus TBM “Pondok Baca Puspita”. Kontribusi lain juga diberikan oleh TBM “Pondok Baca Puspita” dalam bentuk ide atau gagasan untuk mengembangkan keberagaman (diversifikasi) layanan dengan mengajukan proposal kepada pihak terkait baik lokal maupu nasional. Meskipun terdapat tiga bentuk kontribusi yang diberikan oleh TBM “Pondok Baca Puspita” namun sebenarnya kontribusi tersebut memiliki satu tujuan yang sama yaitu untuk meminimalisir kendala yang dihadapi anak usia Sekolah Dasar (SD) saat melakukan pembelajaran mandiri di rumah. Penelitian ini masih terbatas pada kontribusi Taman Bacaan Masyarakat “Pondok Baca Puspita” sebagai fasilitator belajar anak usia SD, tentunya hal ini belum dapat menguraikan bagaimana kontribusi TBM pada pembelajaran anak usia remaja atau bahkan pada masyarakat yang sudah tidak berada pada usia sekolah, sehingga penelitian perlu dilakukan untuk dapat menyempurnakan kajian kontribusi TBM sebagai sarana belajar untuk remaja atau untuk kelompok Masyarakat tertentu sehingga didapatkan hasil yang holistic terhadap kajian kontribusi TBM.