Knowledge sharing dalam komunitas Global Empowerment Steps
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Global Empowerment Steps adalah sebuah komunitas sosial yang memiliki tiga pilar utama, yakni pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Komunitas tersebut bertujuan melakukan program sosial yang dilakukan di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Untuk mempertahankan tiga pilar utamanya, Global Empowerment Steps selalu melakukan transfer pengetahuan di antara anggotanya untuk membuat inovasi program melalui penciptaan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui knowledge sharing dalam penciptaan pengetahuan yang dilakukan oleh komunitas Global Empowerment Steps dan mengetahui kunci keberhasilan kegiatan knowledge sharing di Komunitas Global Empowerment Steps. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling dengan memilih empat anggota komunitas yang sesuai dengan kriteria. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas Global Empowerment Steps menerapkan knowledge sharing dengan metode penyampaian pendapat melalui kegiatan rapat koordinasi dan diskusi informal. Faktor keberhasilan knowledge sharing disebabkan oleh adanya kebebasan berpendapat, adanya budaya organisasi yang bersifat kekeluargaan, serta pembauran pada perbedaan latar belakang pengalaman. Knowledge sharing yang diterapkan oleh Global Empowerment Steps diawali dengan penyampaian pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki setiap anggota, mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan, dan diakhiri dengan penyerapan pengetahuan untuk dipraktekkan dan disebarkan menjadi pengetahuan tacit kembali sehingga menghasilkan pengetahuan baru.
Abstract
Global Empowerment Steps is a social community with three main pillars: education, health, and the environment. The community aims to conduct social programs around Integrated Waste Disposal Sites (TPST). To maintain its three main pillars, Global Empowerment Steps always transfers knowledge among its members in making program innovations through knowledge creation. This research aims to discover knowledge sharing in knowledge creation carried out by the Global Empowerment Steps community and the key to the success of knowledge-sharing activities in the Global Empowerment Steps Community. The research method used is qualitative with a case study approach. Data collection was obtained through observation, interviews, documentation, and literature study. Informants were selected through a purposive sampling technique by selecting four community members who fit the criteria. The results of this study show that the Global Empowerment Steps community implements knowledge sharing with the method of expressing opinions through coordination meetings and informal discussions. The success factor of knowledge sharing is due to the freedom of to state opinion, a family-like organizational culture, and the blending of different background experiences. Knowledge sharing applied by Global Empowerment Steps begins with the delivery of knowledge and experience possessed by each member, documenting and disseminating knowledge, and ends with the absorption of knowledge to be practiced and disseminated into tacit knowledge again so as to produce new knowledge.
Keywords:
Knowledge sharing
· Penciptaan pengetahuan: Global Empowerment Steps
Introduction
Global Empowerment Steps (selanjutnya disebut GPS sebagai nama yang dibuat oleh komunitas) adalah komunitas sosial yang kegiatannya berfokus pada pemberdayaan masyarakat yang tinggal di daerah pemukiman kumuh, salah satunya pada daerah Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Tujuan utama dari pembentukan komunitas ini adalah untuk memberdayakan masyarakat dan membantu menciptakan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik. Dalam menjalankan visi dan misinya, GPS memiliki tiga pilar utama yang menjadi dasar dari program-program yang dijalankannya, yaitu pendidikan (education), kesehatan (health), dan lingkungan (environment). Komunitas ini dibentuk pada tahun 2018 dengan lokasi pemberdayaan di daerah Cibubur-Cileungsi-Bekasi, Jawa Barat. Pada tahun 2020 GPS sudah memiliki dua lokasi pemberdayaan utama, yaitu TPST Bantargebang Bekasi dan TPST Piyungan Yogyakarta (Pratiwi et al., 2021). Program yang dijalankan dalam setiap kegiatan GPS di kedua lokasi utama tersebut ditujukan untuk memberdayakan perempuan dan anak-anak yang tinggal di sekitar TPST dengan total mencapai 82 anak-anak yang terbantu dengan kegiatannya (Global Empowerment Steps, 2021) Global Empowerment Steps terbentuk karena adanya kesamaan minat dan tujuan. Anggota komunitas GPS memiliki minat dalam bidang sosial dengan tujuan memberdayakan masyarakat di daerah TPST dengan pengetahuan yang dimilikinya. Pembentukan GPS sendiri diinisiasi oleh adanya permasalahan sosial masyarakat di sekitar TPST yang memiliki banyak kekurangan terutama pada bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Dalam memenuhi tujuan tersebut, GPS membuat kegiatan pemberdayaan yang dilaksanakan oleh anggota dan volunteer yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat TPST. Hingga kini, program yang dibentuk oleh GPS meliputi Waktu Belajar, Waktu Berbagi, Project Entrepreneur byGPS, dan Pembuatan Pupuk Organik Cair Sidomukti (POC Sidomukti). Peran penting anggota komunitas di GPS dalam memberdayakan masyarakat harus didukung dengan keahlian dan pengetahuan yang selalu relevan dan aktual. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuannya mereka selalu mengikuti pelatihan, seminar, belajar mandiri dengan mengakses berbagai sumber informasi, dan berdiskusi dan berbagi pengetahuan dengan sesama anggota komunitas. Dalam proses berbagi pengetahuannya, mereka selalu bergantung kepada penyebaran, pengelolaan, pengumpulan dan pengorganisasian pengetahuan yang tepat. Melalui proses berbagi pengetahuan maka potensi diri anggota komunitas dapat dikembangkan secara optimal dan bermanfaat pada masyarakat terutama masyarakat yang berada di sekitar tempat pembuangan sampah terpadu. Pada setiap program pemberdayaan yang dilaksanakan, GPS memberikan pemahaman kepada masyarakat berupa pengetahuan dengan lingkup pendidikan, lingkungan, dan kesehatan yang sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat di TPST. Dalam proses berbagi pengetahuan kepada masyarakat, GPS melakukan pengelolaan pengetahuan melalui knowledge sharing secara internal maupun eksternal. Pengetahuan ini yang kemudian dijadikan dasar dalam setiap pelaksanaan program pemberdayaan. Dalam komunitas, pengetahuan juga turut hadir sebagai aset (Anwar, 2020). Pengetahuan dalam organisasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni tacit dan explicit. Tacit knowledge merupakan pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan terdapat pada diri seseorang sehingga tidak nampak wujudnya. Sedangkan explicit knowledge adalah pengetahuan yang sudah tersimpan dalam dokumen sehingga mudah dalam penyebarannya. Kedua jenis pengetahuan ini bersifat saling melengkapi sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain (Yusup, 2019). Setiarso dalam (Rodin et al., 2015) menyebutkan hasil riset Delphi Group tentang komposisi pengetahuan dalam organisasi, yaitu tersimpan pada 42% pikiran karyawan, 26% dalam dokumen kertas, 20% dalam dokumen elektronik, dan 12% dalam knowledge-base elektronik. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sebagian besar pengetahuan dalam organisasi tersimpan di dalam benak karyawan atau anggota organisasi dibandingkan dengan bentuk pengetahuan lainnya. Pengetahuan dalam pikiran karyawan ini kemudian disebut dengan pengetahuan tacit, sedangkan sisanya tersebar dalam pengetahuan explicit. Hal ini menjadi menarik mengingat tacit knowledge bersifat personal yang didasarkan dari pengalaman seseorang, sehingga pengetahuan yang dimiliki setiap orang tentunya berbeda-beda. Pengetahuan dalam organisasi ini perlu dikelola agar baik pengetahuan tacit maupun explicit dapat dipergunakan demi perkembangan organisasi. Pengelolaan pengetahuan tersebut kemudian disebut dengan manajemen pengetahuan (knowledge management). Dalam manajemen pengetahuan, terdapat salah satu proses yang juga dikenal dengan istilah knowledge sharing. Gurteen dalam (Yusup, 2019) mendefinisikan knowledge sharing atau berbagi pengetahuan sebagai suatu konsep yang menggambarkan kondisi interaksi antar individu bisa terdiri dari dua atau lebih, dalam bentuk proses komunikasi yang bertujuan untuk peningkatan dan pengembangan diri setiap anggotanya. Berdasarkan definisi ini, berbagi pengetahuan menunjukkan komunikasi yang mengandung pengetahuan dilakukan dengan tujuan peningkatan dan pengembangan anggota organisasi. Pengetahuan dalam bidang tertentu dibutuhkan dalam membentuk komunitas yang dapat memberdayakan masyarakat, agar dapat melahirkan inovasi pada program yang dijalankan. Adanya kegiatan knowledge sharing memberikan kesempatan bagi para anggota untuk berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan yang dimilikinya. Komunitas ini melakukan knowledge sharing untuk mendapatkan ide dan gagasan mengenai konsep kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh GPS dapat dilihat pada kegiatan rapat koordinasi, hingga diskusi secara informal pada group chat. Kegiatan ini mencakup perencanaan program untuk masa mendatang. Pembahasan yang dilakukan pada kegiatan ini mengenai materi pemberdayaan, pelatihan menjadi komunikator pada program waktu belajar, serta rencana kolaborasi dengan pihak eksternal dalam program pemberdayaan. Untuk mewujudkan knowledge management yang tepat, dibutuhkan peran anggota komunitas yang diharapkan memiliki pengetahuan dan wawasan yang berkaitan dengan tema komunitas. Berdasarkan teori Konversi Pengetahuan oleh Nonaka and Takeuchi (1995) perubahan pengetahuan dapat terjadi melalui empat tahapan yaitu Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi, dan Internalisasi. Perubahan pengetahuan diawali dengan proses transfer pengetahuan dari satu orang ke orang yang lain dan menghasilkan tacit knowledge. Kemudian memasuki tahapan eksternalisasi yaitu mengartikulasikan pengetahuan tacit menjadi eksplisit. Pengetahuan eksplisit tersebut melalui proses pengelompokkan pada tahapan kombinasi. Proses perubahan pengetahuan ini diakhiri dengan adanya proses internalisasi di mana pengetahuan yang sudah diolah kembali dibagikan kepada orang lain dalam bentuk tacit. Proses perubahan pengetahuan ini dapat terjadi secara berulang-ulang sehingga sering disebut juga sebagai Spiral Pengetahuan Nonaka. Huysman and Wit (2003) dalam (Kurniawan & Prasetyawan, 2017) bahwa korelasi antara knowledge sharing dengan inovasi terlihat dalam efektivitas dari knowledge sharing yang dapat diketahui akhir prosesnya pada penciptaan pengetahuan, yakni inovasi yang dihasilkan. Hal serupa didukung oleh penelitian (Retno & Nurisani, 2020) yang mengatakan bahwa perbaikan dan pengembangan organisasi merupakan dampak dari adanya kegiatan berbagi pengetahuan yang dilakukan secara terus menerus. Proses berbagi pengetahuan ini dilakukan pada proses berbagi informasi dari berbagai sumber, hingga menyebabkan penciptaan pengetahuan, pemahaman dan informasi baru. berbagi pengetahuan mengacu pada proses berbagi informasi dari berbagai sumber dan akhirnya dapat mendorong penciptaan pengetahuan, pemahaman dan informasi baru. Knowledge sharing dapat dikatakan berhasil dan efektif dilakukan jika suatu organisasi yang menerapkannya terus-menerus memiliki inovasi sehingga berdampak pada perkembangan yang pesat pada organisasi yang menerapkannya. Seperti yang dituturkan oleh Tobing (2007) dalam (Fatimah, 2020), bahwa budaya knowledge sharing merupakan kunci kesuksesan dalam penerapan manajemen pengetahuan. Seseorang yang mau berbagi pengetahuannya tidak akan kehilangan pengetahuan yang dimiliki olehnya, melainkan dapat melipatgandakan nilai dari pengetahuan tersebut apabila dibagikan dan dimanfaatkan oleh orang lain . Penelitian mengenai knowledge sharing sebelumnya sudah beberapa kali dilakukan. Peneliti menggunakan beberapa penelitian terdahulu yang digunakan sebagai rujukan. Penelitian pertama menggunakan penelitian yang membahas mengenai proses knowledge sharing yang menggunakan teori Konversi Pengetahuan menurut Nonaka and Takeuchi (1995). Penelitian pertama ditulis oleh Khoyrudin, Komariah, and Rizal (2020), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas berbagi pengetahuan yang dilakukan oleh para guru terdiri dari kegiatan formal dan non-formal. Perilaku guru dalam berbagi pengetahuan bergantung kepada kepribadiannya masing-masing, yaitu terdapat guru yang aktif dan terdapat pula guru yang pasif. Kendala pada aktivitas knowledge sharing adalah belum adanya keseimbangan antara waktu pelaksanaan berbagi pengetahuan secara formal dengan waktu mengajar, sikap guru yang pasif dalam forum berbagi pengetahuan yang formal, dan kurangnya dana (Khoyrudin et al., 2020). Penelitian kedua berjudul Knowledge sharing Pelayanan Anak di Pelkat Pelayanan Anak GPIB Gloria oleh Sulardja, Lusiana, and Rohman (2021), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada proses knowledge sharing dilakukan dalam empat tahap, yaitu sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. Perilaku knowledge sharing diterapkan berdasarkan subject norms, attitude, perceived behavioral control, dan social network ties. Kendala yang dihadapi pada saat knowledge sharing yaitu lack of time, benefits to oneself and other, fear and uncertainty, serta technological context (Sulardja et al., 2021). Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah menggunakan teori yang sama serta fokus penelitian yang sama, sehingga penelitian terdahulu dapat dijadikan acuan oleh peneliti dalam melakukan penelitian sejenis. Adanya penelitian sebelumnya yang juga melakukan penelitian serupa belum menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kegiatan knowledge sharing dapat berhasil dilakukan pada komunitas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh komunitas GPS, yang mana GPS dalam melakukan pemberdayaan memiliki program-program menarik dan para anggotanya memiliki latar belakang pendidikan dan keterampilan yang berbeda-beda. Sehingga tujuan peneliti mengkaji penelitian ini untuk mengetahui metode knowledge sharing yang dilakukan di GPS dan faktor keberhasilan kegiatan knowledge sharing dari aspek Sosialisasi.
Method
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus Menurut Guba and Lincoln (1987) dalam (Sahliani, 2021) studi kasus merupakan studi yang menguji secara lengkap dan intensif isu-isu, segi-segi, dan peristiwa tentang latar geografi secara berulang-ulang. Dengan menggunakan penelitian studi kasus dapat mengungkapkan gambaran secara mendetail mengenai situasi atau objek tertentu. Pendekatan studi kasus dalam penelitian ini digunakan agar dapat mengkaji lebih mendalam dan rinci ke dalam konteks penelitian. Menurut Yin (2015) studi kasus merupakan strategi yang cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena. Dalam penelitian ini fenomena yang diteliti adalah kegiatan berbagi pengetahuan dalam komunitas Global Empowerment Steps. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini ialah pengurus dan volunteer di Komunitas Global Empowerment Steps. Adapun objek yang diteliti pada penelitian ini adalah kegiatan knowledge sharing di Komunitas Global Empowerment Steps. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria yaitu anggota yang memahami kegiatan knowledge sharing di GPS dan anggota yang berpartisipasi dalam kegiatan knowledge sharing. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, peneliti menentukan empat orang informan yang sesuai dengan kriteria. Informan tersebut terdiri dari Chief Executive Officer, Human Resource Development, Chief Marketing Officer, dan volunteer yang berjumlah empat orang. Adapun jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan cara semi terstruktur, peneliti mempersiapkan pertanyaan namun dalam pelaksanaannya peneliti dapat mengajukan pertanyaan tambahan yang relevan dengan jawaban sebelumnya, tujuannya adalah agar dapat menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan memberikan pernyataan secara lebih detail (Sugiyono, 2013). Observasi dilakukan dengan cara mengamati setiap kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh GPS. Studi dokumentasi dan studi kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari dokumen dan sumber kepustakaan lainnya sebagai literatur pendukung. Penelitian ini melalui tahap pengujian data yang terdiri dari tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan cara mengelompokkan data hasil pengamatan berdasarkan kategori dan fokus penelitian. Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk teks narasi deskriptif.
Result & Discussion
Kegiatan “berbagi pengetahuan adalah suatu konsep yang menggambarkan kondisi interaksi antar orang, bisa dua orang atau lebih, dalam bentuk proses komunikasi yang bertujuan untuk peningkatan dan pengembangan diri setiap anggotanya.” (Yusup, 2012). Sebagai contoh, seseorang menyampaikan ide-ide kreatifnya pada suatu kegiatan diskusi ilmiah di dalam kelas, dan di pihak lain orang-orang mendengarkan dengan seksama, menerima gagasan-gagasan orang tersebut untuk kemudian disimpan dalam memori sebagai hasil belajar. Setiap anggota dalam forum diskusi tadi bisa saling memberi dan menerima informasi dan pengetahuan dari anggota lainnya. Kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh Global Empowerment Steps (GPS) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing anggota yang terlibat. Tujuan dari kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh GPS adalah untuk memperkaya pengetahuan yang dimiliki oleh komunitas serta untuk memunculkan ide dan gagasan baru untuk pembuatan suatu program baru yang akan dilaksanakan. Dalam menerapkan kegiatan knowledge sharing, GPS menerapkan metode tersendiri yang terdiri atas bentuk kegiatan knowledge sharing dan faktor pendorong keberhasilan knowledge sharing yang dilakukan oleh GPS sehingga dapat berpengaruh pada inovasi serta perkembangan komunitas. Knowledge sharing yang diterapkan oleh GPS terdiri dari kegiatan rapat koordinasi dan diskusi informal. Pada saat pelaksanaan rapat koordinasi, setiap anggota sudah mengetahui apa saja yang akan dibahas dalam rapat, karena ketua sudah membuat daftar pembahasan yang akan dibahas dalam rapat. Daftar pembahasan ini disebarkan terlebih dahulu melalui grup WhatsApp yang bertujuan agar pembahasan rapat tidak melebar dan pembahasan rapat hanya pada intinya saja. Sebelum adanya Pandemi Covid-19 terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan kegiatan rapat koordinasi, yaitu waktu dan tempat kegiatan. Rapat koordinasi biasanya dilakukan di suatu tempat yang telah ditentukan dan waktu yang ditentukan pula. Namun pada prakteknya, hal ini menjadi kendala tersendiri karena adanya kemungkinan anggota yang tidak hadir karena terkendala waktu dan jarak. Setelah adanya Pandemi Covid-19, rapat koordinasi dilakukan secara daring melalui berbagai platform, seperti Zoom Meeting, Google Meet, dan fitur telepon di WhatsApp. Penggunaan platform online untuk kegiatan rapat koordinasi sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri bagi GPS, diantaranya dapat menghemat waktu, biaya, dan tidak terkendala jarak sehingga rapat bisa dilakukan tanpa adanya kendala dari ketiga aspek tersebut. Rapat koordinasi dilakukan dengan cara brainstorming yang diawali dengan pernyataan ketua mengenai pembahasan rapat, kemudian semua anggota saling memberikan tanggapan dengan mengajukan ide dan gagasan. Semua ide yang diajukan dicatat oleh notulensi. Walaupun dilakukan secara informal, namun pembahasan rapat tetap dicatat oleh notulen agar pembahasan yang didokumentasikan dapat dilihat kembali pada saat dibutuhkan. Pada saat rapat berlangsung, anggota yang hadir sering kali melontarkan candaan ringan agar rapat dapat berjalan dengan santai. Setelah mendapatkan hasil akhir, hasil dari diskusi di-review oleh notulen, agar tidak ada pembahasan yang terlewat. Rapat diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu anggota yang bersedia untuk memimpin doa. Setelah doa selesai, masing-masing anggota yang hadir meninggalkan room. Setelah rapat berakhir, hasil notulensi rapat kemudian disebarkan ke dalam WhatsApp group untuk dipelajari dan dipahami oleh anggota lainnya. Jika ada hal yang belum jelas maupun hal yang belum dimengerti, dapat dilakukan diskusi kembali melalui group chat tersebut. Knowledge sharing juga terjadi pada saat diskusi. Diskusi ini dilakukan secara informal untuk membahas berbagai hal yang sedang terjadi di komunitas. Biasanya diskusi ini dilakukan di sela-sela kegiatan lain tanpa adanya agenda khusus. Diskusi informal dapat dilakukan secara langsung melalui pertemuan tatap muka, group chat, bahkan telepon. Diskusi ini dilakukan dengan cara brainstorming, dalam hal ini para anggota tidak dibatasi dalam penyampaian pendapat. Sering kali diskusi ini membahas hal-hal di luar keperluan komunitas, namun pada anggota komunitas mengakui pembahasan mengenai hal-hal yang tidak berkaitan dengan komunitas membantu mereka menambah pengalaman dan pengetahuan yang tidak didapatkan sebelumnya. Selain itu, anggota juga mengakui kegiatan diskusi yang bersifat informal ini mampu menyatukan masing-masing dari mereka sehingga tetap bekerja sama dengan baik. Diskusi informal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa komunitas ini masih berkelanjutan hingga saat ini. “Kadang kita teleponan terus calling something happen with this yang memang kayanya this need to be fixed gitu loh, kaya “nggak bener nih harus diginiin nih” akhirnya kita discuss kaya gitu sih jadi adanya awareness tentang something we run gitu ya something that we run itu tuh ada awareness gitu tentang self-evaluation tentang program yang kita jalankan. Ketika itu happen itu ada proses knowledge sharing juga yang terjadi person to person maupun in forum gitu” (K. A. Putri, wawancara, 21 Juli 2022). Perbedaan kegiatan diskusi informal dengan rapat koordinasi terletak pada waktu pelaksanaan dan anggota yang terlibat. Diskusi informal dilakukan secara situasional dan tidak memiliki agenda yang direncanakan sebelumnya. Anggota yang terlibat pun bervariasi, bisa hanya dilakukan oleh dua orang atau lebih, melalui personal chat, maupun melalui telepon. Kunci keberhasilan dari kegiatan knowledge sharing pada tahap sosialisasi yang dilakukan oleh GPS terletak pada faktor pendukung munculnya keinginan berpendapat. Berdasarkan hasil pengamatan, peneliti menemukan terdapat empat faktor pendukung keinginan berpendapat dalam tahap sosialisasi, yaitu: Sosialisasi merupakan proses di mana setiap anggota yang tergabung saling memberikan ide dan gagasannya secara langsung. Dalam proses sosialisasi yang terjadi, para anggota GPS membagikan pengetahuan yang dibutuhkan oleh organisasi yang dilakukan secara informal, hal ini dilakukan untuk menghindari adanya jarak antar anggota pada saat berdiskusi. Pada kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh GPS, setiap anggota secara leluasa menuangkan ide dan gagasannya dalam setiap kegiatan diskusi. Para anggota dapat menuangkan semua idenya dengan leluasa karena dipengaruhi oleh asas kekeluargaan yang diterapkan oleh GPS. GPS membangun kedekatan antar anggotanya dengan cara melakukan bonding dan menjaga komunikasi antar anggota, baik di dalam maupun di luar komunitas. Pada saat kegiatan, tidak jarang setiap anggota juga melakukan pembahasan non-kontekstual, sehingga semakin mempererat hubungan antar anggota. Sifat kekeluargaan yang diterapkan memunculkan pemikiran positif anggota mengenai komunitas dengan anggapan bahwa komunitas tersebut layaknya keluarga sehingga memunculkan perasaan yang optimal antar anggota komunitas. Adanya fungsi kekeluargaan dan keterlibatan komunitas tersebut akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab pada organisasi sehingga dapat meningkatkan kinerja para anggotanya (Khuddami 2015). Kohesifitas merupakan kunci dalam keberlangsungan kegiatan knowledge sharing oleh GPS. Kohesifitas dalam kegiatan sosialisasi menjadi faktor keberhasilan knowledge sharing GPS yang akhirnya menjadikan anggota GPS sebagai anggota yang dengan senang hati membagikan pengalaman dan pengetahuannya untuk saling memperkaya pengetahuan yang dimilikinya. Dengan begitu, kegiatan knowledge sharing dapat terus berjalan dan ilmu yang didapatkan oleh komunitas dan masing-masing anggota terus bertambah. Hubungan keanggotaan yang kohesif mampu meningkatkan kepercayaan dan keterbukaan di antara para anggota sehingga membentuk kerjasama tim yang baik. Dalam knowledge sharing, dibutuhkan kepercayaan antar anggota yang terlibat agar memiliki kesediaan untuk menyampaikan pendapat dalam berbagi pengetahuan. Hal ini sesuai dengan Saepudin, Rusmana, and Budiono (2016), bahwa proses transfer pengetahuan yang efektif pada sebuah organisasi setidaknya harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu terbangunnya kepercayaan dan keterbukaan, tersedianya fasilitas, serta adanya kerjasama tim. Sejalan dengan pernyataan di atas, Maki-Komsi et al. (2005) dalam (Iskoujina & Roberts, 2015), menyatakan bahwa faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan berbagi pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, utamanya berasal dari komunikasi yang baik mengenai informasi yang dibutuhkan dalam suatu organisasi. Dalam menjalankan kegiatan berbagi pengetahuan dibutuhkan partisipasi anggota yang secara sukarela dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapat berdasarkan dengan pengalaman. Untuk itu dibutuhkan keterbukaan, kerja sama tim, dan praktek kerja sama dalam suatu organisasi. Faktor lain yang berkontribusi dalam keberhasilan knowledge sharing terdapat pada tanggung jawab anggota dan kepemimpinan tim yang baik dalam mengkoordinasikan komunikasi. Global empowerment steps dalam menerapkan knowledge sharing tidak membatasi anggotanya untuk berpendapat. Kebebasan berpendapat di GPS ditandai dengan tidak memandang adanya posisi anggota dalam GPS. Latar belakang anggota yang berbeda-beda tidak menjadi penghalang bagi setiap anggota untuk memberikan pendapatnya mengenai suatu hal yang sedang dibahas. Pendapat yang diajukan oleh masing-masing anggota berkaitan dengan isu yang sedang dibahas oleh GPS. Dari topik tersebut, setiap anggota dengan bebas memberikan ide-idenya. Dalam kegiatan sosialisasi, setiap anggota diberikan kebebasan untuk mengemukakan ide dan gagasan yang dimilikinya terkait topik yang sedang dibahas. Kintan mengatakan dalam diskusi ini setiap anggota tidak memandang apakah seseorang lebih pintar atau tidak, melainkan dari latar belakang pengetahuannya. Perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman anggota menjadi kelebihan yang dimiliki oleh komunitas GPS, karena GPS percaya bahwa setiap anggota memiliki keahlian yang berbeda dalam latar belakangnya masing-masing, sehingga memiliki pengalaman dan koneksi yang luas. Pengalaman dan koneksi yang dibawa oleh anggota GPS membantu GPS pada saat proses pengumpulan ide pada saat penyusunan program kegiatan. “Justru malah lebih dari gimana karena kita ga membatasi. Makanya sekalinya ngumpul mereka membawa pengalaman dan koneksinya masing masing” (K. A. Putri, Wawancara, 31 Juli 2022). Kebebasan berpendapat pada setiap kegiatan yang dimiliki masing-masing anggota meningkatkan kesediaan anggota untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya masing-masing. GPS memberikan kebebasan berpendapat pada setiap anggotanya tanpa memandang posisi atau jabatan dari masing-masing anggota. Kebebasan berpendapat ini membantu setiap anggota untuk menuangkan ide, gagasan, serta pengetahuannya kepada anggota lainnya. Adanya kebebasan berpendapat dalam GPS meningkatkan kesediaan para anggota untuk aktif dalam mengikuti knowledge sharing. Tidak jarang terjadi diskusi secara non-kontekstual yang dikarenakan oleh kebebasan berpendapat ini. Pembahasan non-kontekstual ini juga disukai oleh para anggota karena bisa mendapatkan pengetahuan lain di luar topik pembahasan komunitas. Budaya organisasi yang diterapkan oleh komunitas GPS ini adalah sifat kekeluargaan. Sifat kekeluargaan ini diterapkan pada setiap kegiatan di GPS, khususnya pada saat kegiatan sosialisasi. Dengan penerapan sifat kekeluargaan yang sudah tertanam, menjadikan setiap anggota dapat dengan bebas mengemukakan pendapatnya layaknya mengemukakan pendapat kepada keluarganya sendiri. Anggota merasa lebih leluasa memberikan pendapatnya mengenai apa yang telah diketahui oleh setiap anggota dan kemudian membagikannya kepada anggota yang lain. Sifat kekeluargaan inilah yang membuat komunitas GPS masih terus berlangsung hingga kini, dengan adanya siklus pengetahuan antar anggota yang terus berlangsung sehingga memunculkan banyak ide baru untuk rancangan program pemberdayaan GPS. Sifat kekeluargaan yang diterapkan memunculkan pemikiran positif anggota mengenai komunitas dengan anggapan bahwa komunitas tersebut layaknya keluarga sehingga memunculkan perasaan yang optimal antar anggota komunitas. Adanya fungsi kekeluargaan dan keterlibatan komunitas tersebut akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab pada organisasi sehingga dapat meningkatkan kinerja para anggotanya (Khuddami, 2015). Sifat kekeluargaan pada komunitas GPS terjadi karena adanya kedekatan dan keakraban pada setiap anggota. Sifat kekeluargaan ini dibangun dengan adanya bonding yang terjadi pada setiap anggota. Untuk membangun kedekatan antar anggota, GPS sering kali mengadakan acara-acara nonformal untuk menjaga kedekatan setiap anggota. Sifat kekeluargaan dalam setiap kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh GPS diterapkan untuk mengurangi adanya ketimpangan antar anggota dan melatih agar setiap orang memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat. “Jadi kalau culture organization-nya itu lebih ke kekeluargaan karena memang disini orang-orangnya kita saling akrab jadi knowledge sharing-nya tuh entah kaya nanti ada yang nge-share sesuatu, terus kita komen bareng kaya gitu gitu kalau internal” (K. A. Putri, wawancara 21 Juli 2022). Budaya kekeluargaan yang telah ditanamkan di setiap kegiatan komunitas GPS dapat mempengaruhi kelancaran kegiatan. Tidak adanya paksaan dalam setiap kegiatan membuat para anggota mau melakukan pekerjaannya dengan sukarela dan senang hati. Dengan adanya sifat kekeluargaan dalam GPS, setiap anggota tidak merasa diasingkan sehingga dapat melakukan pekerjaannya dengan optimal. Selain itu, para anggota juga tidak segan dalam bertanya maupun memberikan pendapatnya pada saat diskusi, karena telah menganggap organisasi sebagai keluarganya. Setiap anggota yang terlibat di GPS, baik pengurus maupun volunteer, memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, yang tentunya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang juga berbeda-beda. Perbedaan latar belakang yang dimiliki oleh setiap orang yang terlibat memudahkan GPS dalam mendapatkan pengetahuan baru, terutama pengetahuan yang berada di luar bidang yang telah ditekuni sebelumnya. Dalam setiap kegiatan knowledge sharing para anggota tidak memandang apakah seseorang dari kepintarannya, melainkan dari latar belakang pengetahuannya. Perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman anggota menjadi kelebihan yang dimiliki oleh komunitas GPS, karena GPS percaya bahwa setiap anggota memiliki keahlian yang berbeda dalam latar belakangnya masing-masing, sehingga memiliki pengalaman dan koneksi yang luas. Pengalaman dan koneksi yang dibawa oleh anggota GPS membantu GPS pada saat proses pengumpulan ide pada saat penyusunan program kegiatan. “Dan juga antar bagian itu nggak yang “oh gue paling pinter nih disini” itu engga, tapi lebih ke kaya oh background dia hukum atau background dia misalnya psikologi gitu dia ada ide untuk gimana sih kita teach anak kaya gitu, padahal position dia di situ itu adalah di bagian desain gitu misalnya” (K. A. Putri, wawancara, 21 Juli 2022). Informan setuju bahwa para anggota bisa mendapatkan pengetahuan baru karena adanya perbedaan latar belakang keahlian. Perbedaan latar belakang keahlian ini memungkinkan para anggota mendapatkan pengetahuan dari luar bidang yang ditekuni. “Iyess betul. Dapat pengetahuan baru khususnya di luar bidang yang pernah ku pelajari. Misal kita sharing sama anak farmasi dan kedokteran, kita bisa sharing cara cuci tangan seperti apa. Atau missal di kampus volunteer lain ada program apa, mereka suka sharing juga sehingga dari sana aku dapat insight baru” (S. Muroqobatullah, wawancara, 31 Agustus 2022). Seperti yang dituturkan oleh Tobing (2007) dalam (Fatimah, 2020) bahwa budaya knowledge sharing merupakan kunci kesuksesan dalam penerapan manajemen pengetahuan. Seseorang yang mau berbagi pengetahuannya tidak akan kehilangan pengetahuan yang dimiliki olehnya, melainkan dapat melipatgandakan nilai dari pengetahuan tersebut apabila dibagikan dan dimanfaatkan oleh orang lain. Peneliti menemukan bahwa perbedaan latar belakang ini merupakan salah satu faktor keberhasilan kegiatan knowledge sharing. Perbedaan latar belakang mendorong setiap anggota memiliki keinginan untuk berbagi dan bertukar pengalaman maupun pengetahuan dengan harapan bisa mendapatkan pengetahuan baru dari orang dengan latar belakang yang berbeda. Adanya perbedaan latar belakang pendidikan, keahlian, dan pengalaman dapat memungkinkan munculnya ide dan gagasan yang lebih variatif. Para anggota pun bisa mendapat berbagai pandangan baru melalui pertukaran pengetahuan dengan antar anggota.
Conclusion
Komunitas Global Empowerment Steps menerapkan knowledge sharing yang dilakukan antar anggota sebagai upaya dalam perkembangan komunitas melalui penciptaan pengetahuan. Metode knowledge sharing yang diterapkan oleh GPS terdiri atas bentuk kegiatan serta faktor keberhasilan knowledge sharing oleh GPS. Bentuk knowledge sharing yang diterapkan oleh GPS meliputi kegiatan rapat koordinasi dan diskusi informal. Dalam kegiatan tersebut terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar anggota yang menghasilkan pengetahuan baru bagi anggota lainnya. Dalam kegiatan knowledge sharing yang dilakukan oleh GPS, terdapat tiga faktor yang mendorong keberhasilan kegiatan knowledge sharing di GPS, yaitu adanya kebebasan berpendapat yang diberikan kepada setiap anggota yang ingin mengemukakan pendapatnya, adanya penerapan budaya organisasi yang bersifat kekeluargaan sehingga setiap anggota merasa nyaman dalam memberikan pendapatnya, dan pembauran pada perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang dapat memperkaya pengetahuan dalam komunitas.