Kembali
16
1
2024 Informatio: Journal of Library and Information Science Vol 4 · 1 ISSN 2775-0043

Kegiatan preservasi preventif dan kuratif koleksi di Perpustakaan Universitas Komputer Indonesia

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Preservasi koleksi merupakan faktor penting dalam suatu sistem perpustakaan. Perpustakaan Universitas Komputer Indonesia (Unikom) merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang melakukan preservasi agar koleksi dapat digunakan pemustaka dalam waktu jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan preservasi koleksi di Perpustakaan Universitas Komputer Indonesia melalui analisis kegiatan preservasi preventif dan kuratif. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan preventif di Perpustakaan Unikom meliputi pendidikan kepada pengguna, pengontrolan suhu dan kelembapan ruangan, menjauhkan koleksi dari cahaya matahari, memasang kapur barus di rak koleksi, pemasangan CCTV, flap barrier, penyediaan tabung pemadam kebakaran, smoke detector, dan sprinkler. Kegiatan kuratif yang dilakukan meliputi penyampulan bahan pustaka, fumigasi melalui pihak ketiga, pembersihan ruangan dan koleksi secara berkala, penjilidan bahan pustaka, penggantian sampul atau halaman buku yang rusak dengan yang baru melalui pihak ketiga, dan alih media (digitisasi) pada koleksi skripsi dilakukan menggunakan alat scanner melalui proses scanning. Simpulan penelitian adalah kegiatan preservasi secara preventif dan kuratif di Perpustakaan Unikom sudah berjalan dengan baik.

Abstract

Collection preservation is a crucial aspect of a library system. A higher education library called the University of Computer Indonesia (Unikom) Library uses preservation to make sure that users can access collections in the future. This study aims to examine the collection preservation activities at the Unikom Library, focusing on the analysis of preventive and curative preservation activities. This research uses a qualitative descriptive method. The findings show that preventive preservation activities at the Unikom Library include educating users, controlling room temperature and humidity, keeping collections away from direct sunlight, installing naphthalene balls on bookshelves, and setting up CCTV, flap barriers, fire extinguishers, smoke detectors, and sprinklers. Meanwhile, curative activities include covering library materials, fumigation by third parties, regular cleaning of rooms and collections, binding library materials, replacing damaged covers or pages of books by third parties, and media conversion (digitization) of thesis collections done using a scanner through the scanning process. This study concludes that both preventive and curative preservation activities at the Unikom Library have been carried out effectively.
Keywords: preservasi · preventif · kuratif · digitisasi · perpustakaan perguruan tinggi

Introduction

Perpustakaan merupakan lembaga penghubung antara pemustaka dengan informasi. Perpustakaan memiliki tugas sebagai penyedia koleksi yang memuat berbagai informasi untuk digunakan pemustaka. Salah satu jenis perpustakaan yang mengemban tugas ini ialah perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang berada di lingkup perguruan tinggi, instansi di bawahnya, dan lembaga yang berhubungan dengan perguruan tinggi (Kurniawan, 2016). Perpustakaan sebagai sarana penunjang terwujudnya tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Perpustakaan sering disebut sebagai jantung perguruan tinggi, artinya bahwa perpustakaan akan mengelola pengetahuan sivitas akademika perguruan tinggi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan koleksi yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Koleksi merupakan salah satu faktor penting dalam suatu sistem perpustakaan. Koleksi menjadi sumber informasi bagi pemustaka untuk memenuhi kebutuhannya sehingga koleksi perpustakaan digunakan secara intensif. Apabila koleksi digunakan secara terus-menerus, maka kemungkinan koleksi dapat mengalami kerusakan. Koleksi dapat rusak juga apabila dibiarkan begitu saja tanpa dirawat pustakawan. Terlebih lagi koleksi perpustakaan umumnya berbahan kertas yang mudah robek, berubah warna, terkena noda ataupun rusak karena hal lainnya. Kerusakan koleksi dapat terjadi tergantung kualitas kertas, iklim daerah, maupun perawatan yang dilakukan pada koleksi tersebut (Dini, Saroya, & Indah, 2021). Oleh karena itu, koleksi perpustakaan perlu dilestarikan agar tidak cepat mengalami kerusakan dan bisa terus dimanfaatkan pemustaka dalam kurun waktu lama. Kegiatan preservasi koleksi harus dilakukan perpustakaan. Hal ini mengingat perpustakaan merupakan lembaga yang berperan dalam menghimpun, menyimpan, mengelola, dan menyajikan koleksi agar bisa dimanfaatkan pemustaka secara efektif dan efisien. Preservasi merupakan aktivitas perpustakaan yang sudah terencana dan terkelola guna memastikan koleksi di perpustakaan dapat selalu dimanfaatkan penggunanya dalam kurun waktu panjang (Sari, 2022). Preservasi adalah aktivitas untuk memelihara koleksi dari kerusakan fisik dan kimia agar bentuk fisik koleksi atau informasi di dalamnya dapat terjaga dengan baik (Dini et al., 2021). Koleksi di perpustakaan perguruan tinggi perlu dilestarikan agar dapat terus dimanfaatkan oleh sivitas akademika. Martoatmojo (1993) dalam Nugraha and Laugu (2021) membagi preservasi atau pelestarian koleksi ke dalam tiga kegiatan, yaitu preservesi preventif, kuratif, dan restoratif. Selain itu, pelestarian koleksi juga dapat dilakukan melalui alih media dari bentuk cetak ke bentuk digital dan mikro (Fatmawati, 2018). Perpustakaan Universitas Komputer Indonesia (Unikom) merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang melakukan kegiatan preservasi. Perpustakaan ini memiliki beberapa jenis koleksi yang dihasilkan dari sivitas akademika universitas. Koleksi perpustakaan yang setiap hari dipinjamkan kepada pemustaka rentan terjadi kerusakan. Selain itu, koleksi perpustakaan yang makin bertambah dan memenuhi ruangan perpustakaan dapat mengakibatkan koleksi terkena rayap dan menumpuk. Perpustakaan Unikom melakukan kegiatan preservasi preventif dan kuratif dilakukan pustakawan dan beberapa kegiatan dibantu lembaga lain. Preservasi merupakan salah satu aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari ruang lingkup manajemen perpustakaan yang meliputi aktivitas memelihara, merawat, memperbaiki, dan mereproduksi koleksi perpustakaan (Komalasari, 2020). Preservasi koleksi berbentuk fisik dapat dilakukan melalui kegiatan preventif dan kuratif, sedangkan pelestarian terhadap koleksi dengan kandungan informasinya dapat dilakukan melalui alih media ke bentuk mikro dan digital (Fatmawati, 2018). Preservasi mencakup kegiatan untuk menjaga koleksi dari berbagai faktor perusak koleksi, merawat fisik koleksi misalnya dengan melakukan penjilidan ulang, melaminasi koleksi, maupun mereproduksi koleksi seperti fotokopi dan alih media dari bentuk kertas menjadi mikrofilm, mikrofis, atau bentuk digital (Oktaningrum & Perdana, 2017). Komalasari (2020) menyatakan bahwan koleksi dapat mengalami kerusakan yang disebabkan dua faktor, yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Penyebab faktor internal antara lain, asam yang terkandung di dalam kertas mengakibatkan terjadinya reaksi kimiawi yang memicu kerusakan koleksi, tinta yang mengandung bahan dasar ferro sulphate, bahan ini jika teroksidasi menjadi sulphuric bisa membakar image pada kertas, dan perekat. Faktor eksternal yang dapat merusak koleksi dibagi menjadi delapan penyebab. Pertama, pengaruh cahaya. Sinar matahari jika langsung mengenai koleksi dapat merubah warna sampul dan mempengaruhi ketahanan kertas. Kedua, suhu dan kelembapan udara. Jika kelembapan udara melebihi 65% dapat mempercepat terjadinya kerusakan koleksi. Selain itu, suhu tinggi dalam udara lembab juga dapat merusak koleksi berbahan kertas dan bahan lainnya. Ketiga, polusi udara. Gas SO, NO, H, S jika dalam konsentrasi tinggi bisa menimbulkan asam-asam kuat yang memicu kerusakan kertas, film, dan alat-alat berbahan logam. Keempat, jamur dan cendawan. Jamur mudah tumbuh di tempat yang gelap, lembab, dan buruk sirkulasinya. Kelima, faktor serangga, kecoa, kutu buku, dan binatang pengerat. Keenam, penanganan yang kurang tepat pada koleksi dapat menyebabkan kerusakan fisik koleksi, khususnya koleksi berbahan kertas lebih mudah mengalami kerusakan. Ketujuh, faktor bencana alam, seperti kebakaran, hujan badai, tsunami, banjir, hingga gempa bumi. Kerusakan juga bisa disebabkan oleh faktor lain misalnya keadaan politik dan sosial di daerah perpustakaan berada, seperti terjadinya kerusuhan dan perusakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab (Komalasari, 2020). Kegiatan preventif (pencegahan) bertujuan untuk mengoptimalkan keadaan lingkungan perpustakaan guna memperpanjang usia koleksi (Fatmawati, 2018). Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan mengatur kelembaban dan suhu ruangan yakni suhu normal 20-24 derajat celcius, membuat ventilasi udara yang tepat, memasang CCTV sebagai alat pengawasan, dan menjauhkan cahaya matahari dari koleksi dengan menempatkan koleksi tidak terlalu dekat dengan jendela, atau dapat memasang UV filter film pada kaca jendela ruang perpustakaan. Jika terjadi bencana alam seperti kebakaran, staf perpustakaan dapat melakukan pencegahan dengan selalu memeriksa kebel listrik secara berkala, menjauhkan bahan yang mudah terbakar dari bahan pustaka, memiliki alat pemadam kebakaran, dan memasang alat smoke detector (Amirullah, 2017). Selain itu, pustakawan bisa memasang pengusir serangga, kapur barus, dan silica gel di ruang penyimpanan. Tindakan pencegahan kerusakan koleksi juga dapat dari sisi pustakawan, yaitu mengikutsertakan staf perpustakaan ke dalam pelatihan tentang preservasi koleksi, menumbuhkan kesadaran antar staf untuk bertanggung jawab dalam mencegah kerusakan koleksi, serta membuat regulasi tertulis yang mengatur hal tersebut (Fatmawati, 2018). Kegiatan kuratif merupakan tindakan merawat koleksi dengan melihat keutuhan kandungan informasi dalam koleksi tersebut (Nugraha & Laugu, 2021). Tindakan kuratif dapat dilakukan melalui pembersihan ruangan perpustakaan secara berkala, fumigasi, dan laminasi. Fumigasi merupakan kegiatan pengasapan pada bahan pustaka agar mencegah terjadinya pertumbuhan jamur. Proses ini terjadi melalui pembakaran atau penguapan zat kimia beracun. Laminasi adalah pelapisan koleksi atau bahan pustaka menggunakan kertas khusus agar bahan pustaka tidak cepat rusak. Pelapis ini dapat menahan polusi atau debu yang menempel pada koleksi agar tidak beroksidasi dengan polutan (Nugraha & Laugu, 2021). Kegiatan kuratif lainnya ialah alih media (digitisasi) sebagai tindakan merubah bentuk koleksi cetak menjadi format file. Digitisasi adalah proses mendigitalkan bentuk tercetak seperti koran, majalah, foto, gambar, dan buku menjadi bentuk digital yang bisa direkam, disimpan, dan diakses menggunakan alat elektronik penunjang. Digitisasi bertujuan menjaga nilai kandungan informasi dalam koleksi serta memperpanjang usia koleksi. Perpustakaan melalui digitisasi, dapat mengatasi masalah keterbatasan ruang, mengantisipasi terjadinya kerusakan fisik koleksi, menjaga nilai informasi dalam koleksi langka, serta memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang dapat memberikan pengaruh positif bagi perpustakaan (Fadhlullah & Christiani, 2017). Penelitian tentang kegiatan preservasi koleksi di perpustakaan telah dilakukan beberapa penelitian terdahulu. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Dini, Saroya, and Indah (2021) mengenai preservasi koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 1 Ciwidey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan preservasi di Perpustakaan SMA Negeri 1 Ciwidey di antaranya membersihkan ruangan, menjilid koleksi, mengelem, dan merekatkan bagian buku yang lepas, serta melakukan laminasi. Kegiatan preservasi di Perpustakaan SMA Negeri 1 Ciwidey belum terlaksana secara optimal. Selama pelaksanaannya, masih ditemui kendala-kendala seperti tidak adanya laboratorium atau ruangan yang dikhususkan untuk preservasi, keterbatasan kemampuan pustakawan, dan kurangnya kesadaran pemustaka dalam menjaga koleksi. Kedua, penelitian Setyaningsih and Ganggi (2017) mengenai preservasi koleksi di Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan preservasi di Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang meliputi good housekeeping, kegiatan caretaking, pengaturan cahaya ruang perpustakaan, penjilidan, fumigasi, dan tindakan lainnya untuk mencegah kerusakan bahan pustaka dari faktor biologi, fisika, maupun vandalisme. Selama kegiatan tersebut terlaksana, beberapa kendala yang ditemui di antaranya tidak ada regulasi secara tertulis yang mengatur kegiatan preservasi di perpustakaan, terbatasnya jumlah anggaran, dan minimnya kemampuan pustakawan dalam melakukan kegiatan preservasi secara baik dan benar. Kedua penelitian terdahulu di atas memiliki persamaan dengan penelitian ini yaitu meneliti tentang preservasi koleksi di perpustakaan. Adapun perbedaannya terletak pada objek penelitian. Penelitian Dini et al., (2021) dilakukan di perpustakaan sekolah, sedangkan penelitian Setyaningsih and Ganggi (2017) dilakukan di perpustakaan museum. Pada penelitian ini, peneliti meneliti kegiatan preservasi di perpustakaan perguruan tinggi yakni Perpustakaan Unikom. Perpustakaan Unikom melakukan kegiatan preservasi preventif dan kuratif. Pustakawan melakukan kegiatan preservasi sendiri dan pada kegiatan perbaikan sampul dibantu lembaga lain. Selain itu, Perpustakaan Unikom melakukan kegiatan preventif berupa alih media (digitisasi). Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan penelitian dalam kegiatan digitisasi di perpustakaan perguruan tinggi. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan preservasi koleksi di Perpustakaan Unikom melalui analisis kegiatan preventif dan kuratif.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Peneliti melalui metode kualitatif deskriptif membantu menggambarkan fenomena atau masalah yang diteliti, yakni kegiatan preservasi di Perpustakaan Unikom pada tanggal 31 Oktober 2022. Subjek penelitian berjumlah dua orang, yaitu staf bagian pengembangan koleksi dan pengolahan koleksi serial, staf bagian audio visual, alih media dan eduvacation. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi literatur. Peneliti melakukan observasi secara langsung di Perpustakaan Unikom. Peneliti menghimpun berbagai informasi yang diperoleh dan menyaring informasi menjadi informasi yang memang. Selain itu, peneliti mewawancarai bersama pustakawan Perpustakaan Unikom. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan secara langsung atau secara tidak langsung dengan sumber informasi atau informan (Suyanto, Syahwani, & Rustiyarso, 2015). Peneliti dalam menentukan informan yang diwawancarai menggunakan teknik purposive sampling, yakni informan dipilih sesuai kriteria penelitian yakni pustakawan yang melakukan preservasi di Perpustakaan Unikom. Peneliti melakukan wawancara langsung dan tidak langsung. Wawancara langsung dilaksanakan tanpa perantara bersama informan mengenai segala hal yang berkaitan dengan dirinya guna memperoleh informasi yang dibutuhkan, sedangkan wawancara tidak langsung dilaksanakan terhadap individu yang dimintai keterangan tentang individu lain. Wawancara langsung dilakukan peneliti dengan informan Staf Bagian Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Koleksi Serial, sedangkan wawancara tidak langsung dilakukan pada informan Staf Bagian Audio Visual, Alih Media dan Eduvacation. Adapun studi literatur bersumber dari sumber jurnal, buku, dan skripsi yang membahas tentang kegiatan preservasi koleksi. Teknik analisis data yang dilakukan antara lain reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan bentuk analisis data dengan menyingkat atau menyaring hal inti dan memfokuskan pada bagian yang penting untuk ditelusuri pola dan temanya. Reduksi data memberi kemudahan bagi peneliti dalam menampilkan gambaran yang jelas dan rinci dari banyaknya data yang ditemukan di lapangan. Kemudian peneliti menyajikan data dari hasil yang telah direduksi sebelumnya ke dalam bentuk teks naratif singkat. Tahap selanjutnya adalah simpulan atau verifikasi. Simpulan yang dibuat harus sesuai dengan fokus, tujuan, dan hasil temuan penelitian. Pada bagian ini peneliti membuat simpulan berdasarkan data valid hasil temuan di lapangan sehingga simpulan yang dibuat merupakan simpulan yang kredibel (Pebriati, 2019).

Result & Discussion

Perpustakaan Universitas Komputer Indonesia merupakan perpustakaan yang berada di bawah naungan Universitas Komputer Indonesia. Perpustakaan ini berlokasi di Jalan Dipati Ukur No.102-110 Bandung, SMART Building Lantai 8. Perpustakaan Unikom buka pada hari senin hingga jumat pukul 08.00-18.00 dan pada hari sabtu pukul 08.00-12.00. Perpustakaan Unikom dikelola oleh sepuluh staf dan satu pimpinan. Tujuan yang ingin dicapai perpustakaan yaitu memfasilitasi dan berkontribusi dalam menghasilkan lulusan yang unggul di bidang teknologi informasi & komunikasi, kompeten dan handal di bidang studinya, berjiwa entrepreneur, santun dan berbudi luhur, memiliki komitmen untuk memajukan bangsa dan negara, serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Motto Perpustakaan Unikom adalah Library is your best friend. Perpustakaan Unikom telah terakreditasi “A” oleh lembaga akreditasi nasional Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan Unikom memiliki visi yaitu “menjadi perpustakaan universitas terdepan di bidang layanan informasi publik yang mendukung Tridharma Perguruan Tinggi, pembangunan nasional pada kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara”. Adapun misi Perpustakaan Unikom di antaranya: (1) Mengumpulkan, menyusun, melestarikan dan menyediakan bahan pustaka yang relevan untuk menunjang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat; (2) Menganalisis, mendaftar dan menginformasikan bahan pustaka yang ada kepada semua pengguna di lingkungan Unikom Bandung dan pengguna lain yang membutuhkan; (3) Melayankan bahan pustaka kepada pengguna sesuai kebutuhannya secara tepat dan cepat; (4) Mengikuti perkembangan sistem kepustakaan sesuai perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; (5) Mendorong meningkatkan budaya baca dan menulis menuju terbentuknya manusia akademis yang kritis, mencintai kebenaran dan kebebasan ilmiah, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkepribadian nasional. Sesuai data penelitian, koleksi buku yang dimiliki Perpustakaan Unikom berjumlah 16.530 judul dengan eksemplar sebanyak 30.799 eksemplar. Koleksi yang disediakan berupa koleksi buku, terbitan berkala (jurnal, majalah prosiding, tabloid, buletin, laporan kegiatan, koran, dan kliping), koleksi audio visual, dan koleksi digital (tesis, skripsi, tugas akhir, laporan kerja praktek, e-book, e-journal, e-magazine, e-newspaper, UNIKOM Universiana, UNIKOM jurnal, UNIKOM KTI, dan katalog induk dalam terbitan). Jenis media yang digunakan yaitu media cetak, elektronik, compact disk, kaset, dan disket. Layananan Perpustakaan Unikom meliputi layanan sirkulasi (peminjaman), keanggotaan, administrasi bebas pinjam, deposit skripsi/ tesis/ disertasi/ tugas akhir/laporan kerja praktek, dan layanan daring. Fasilitas yang disediakan Perpustakaan Unikom meliputi internet, eduvacation, BNI corner, Japan corner, Korea corner, pojok Jabar, area membaca, dan representatif ruang. Perpustakaan Unikom telah melaksanakan kegiatan preservasi terhadap berbagai koleksi yang dimiliki antara lain preservasi preventif dan kuratif. Preservasi preventif merupakan tindakan mencegah terjadinya kerusakan koleksi baik kondisi fisik maupun kandungan informasinya. Preservasi preventif yang dilakukan Perpustakaan Unikom meliputi pendidikan kepada pengguna, kontrol lingkungan perpustakaan, keamanan, dan tindakan pencegahan dari bencana. Perpustakaan Unikom melakukan kegiatan preventif berupa pendidikan kepada pengguna yang meliputi pemberlakuan sanksi bagi pengguna yang merusak koleksi, larangan mencoreti buku, dan himbauan untuk menjaga kebersihan selama di perpustakaan. Sivitas akademika yang mencuri dan merobek bahan pustaka akan dikenakan sanksi akademik sampai dengan dikeluarkan. Jika yang melakukannya adalah orang di luar akademik, maka sanksinya berupa pemrosesan secara hukum. Selanjutnya sanksi bagi orang yang menghilangkan koleksi yaitu harus menggantinya dengan koleksi serupa. “Pendidikan kepada pengguna ada saat mahasiswa baru masuk, pada pengenalan orientasi perpustakaan dijelaskan tata cara masuk perpustakaan, kemudian ada sanksi kalau mengembalikan buku terlambat atau merusak dan menghilangkan buku. Namun penyampaian materi preservasi secara detail tidak, tetapi penyampaiannya lebih pada preservasi secara preventif seperti menjaga kebersihan, tidak boleh mencoret koleksi, dan kalau hilang mereka harus mengganti dengan buku yang sama” (S.U. Lestari, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Tindakan preventif selanjutnya yaitu perpustakaan melakukan kontrol lingkungan dengan menjaga suhu dan kelembapan serta mengatur pencahayaan di dalam ruangan perpustakaan. Perpustakaan Unikom menjaga suhu dan kelembapan ruang perpustakaan dengan mengatur suhu AC yakni 23 derajat celcius. Pengaturan suhu ini telah sesuai dengan standar temperatur untuk koleksi buku yang berkisar 20-24 derajat celcius. Selain itu, pada rak-rak koleksi dipasang kapur barus setiap satu bulan sekali agar mencegah datangnya serangga ataupun hewan pengerat pada koleksi. Adapun dari segi pencahayaan, perpustakaan menyalakan lampu selama jam operasional perpustakaan dan meletakkan rak yang berisi koleksi tidak dekat dengan cahaya matahari. Koleksi yang terkena paparan sinar matahari secara langsung dapat mengalami perubahan warna sampul dan berpengaruh pada ketahanan kertas koleksi. Oleh karena itu, penempatan koleksi yang jauh dari jendela perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan koleksi karena faktor cahaya. Perpustakaan Unikom dari segi keamanan, memasang sistem keamanan gedung berupa pemasangan CCTV di setiap ruangan dan flap barrier pada pintu masuk ruang perpustakaan. Selain itu, terdapat seorang staf yang menjaga di pintu masuk perpustakaan. Perpustakaan juga mempersiapkan beberapa alat jika terjadi bencana kebakaran dengan memasang tabung pemadam kebakaran di beberapa ruangan seperti, smoke detector dan sprinkler. Perpustakaan melalui sarana prasarana tersebut diharapkan dapat mencegah potensi kerusakan dan kehilangan koleksi yang disebabkan tindakan manusia maupun bencana. “Jika terjadi bencana seperti kebakaran, kesiapannya di sini kami menyediakan tabung pemadam kebakaran, dan di sini kalau ada asap, ada sirine yang menyala otomatis dan mendeteksi kalau ada asap di gedung ini” (S.U. Lestari, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Preservasi kuratif merupakan tindakan perawatan koleksi dengan melihat keutuhan kandungan informasinya. Preservasi secara kuratif di Perpustakaan Unikom dilakukan melalui fumigasi, pembersihan koleksi dan ruangan secara berkala, penyampulan semua koleksi cetak kecuali majalah, penjilidan, dan alih media (digitisasi). Perpustakaan Unikom melakukan kegiatan fumigasi menggunakan bantuan pihak ketiga. Menurut Martoatmojo (2012) dalam Nugraha and Laugu (2021) menyatakan bahwa fumigasi merupakan upaya melestarikan bahan pustaka melalui pengasapan pada bahan pustaka agar serangga, hewan pengerat mati dan tidak tumbuhnya jamur pada koleksi. Selama kegiatan ini berlangsung ruangan perpustakaan ditutup oleh pustakawan. “Kami pernah melakukan fumigasi satu ruangan menggunakan pihak ketiga. Perpustakaan diliburkan selama fumigasi. Ruangan dikasih cairan kimia, kami tutupi semua lubang-lubang selama 3 hari, lalu baru dibuka” (S.U. Lestari, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Kegiatan kuratif lain yang dilakukan Perpustakaan Unikom berupa pembersihan ruangan secara berkala meliputi pembersihan lantai ruangan setiap hari menggunakan sapu dan pel, pembersihan rak koleksi menggunakan lap, pembersihan karpet menggunakan vacuum cleaner selama dua kali dalam seminggu, dan pembersihan koleksi dengan vacuum cleaner berukuran kecil yang dilakukan sekali dalam seminggu. Pembersihan ini dilakukan seorang petugas cleaning services. “Koleksi dibersihkan menggunakan vacuum atau penyedot debu, setiap kamis ada petugas yang membersihkan buku-buku agar debunya berkurang. Untuk ruangan, setiap hari dibersihkan. Kalau rak koleksi dibersihkan menggunakan lap. Karpet juga dibersihkan menggunakan vacuum cleaner dua kali dalam seminggu” (S.U. Lestari, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Pemeliharaan kebersihan lingkungan penyimpanan bertujuan untuk melindungi koleksi dari debu, kotoran, polusi udara, ataupun partikel perusak lainnya. Debu merupakan partikel padat yang mampu menyerap air sehingga ruangan menjadi lebih lembap. Debu yang menempel pada rak juga dapat menarik perhatian serangga dan kutu untuk berkembang biak (Rachman, 2017). Menjaga kebersihan ruangan merupakan salah satu tindakan yang tepat untuk meminimalisir kerusakan koleksi dari faktor tersebut. Selain koleksi dapat terlindungi, ruangan yang bersih juga dapat memberikan kenyamanan bagi pemustaka yang hendak menggunakan fasilitas perpustakaan. Penyampulan koleksi dilakukan pustakawa menggunakan plastik dan selotip. Koleksi cetak di Perpustakaan Unikom telah semua tersampul kecuali majalah. Pustakawan menyampul buku menggunakan isolasi dan plastik dengan ketebalan sekitar 0,5 mm. Penyampulan ini bertujuan agar koleksi terawat dan tidak cepat rusak. Koleksi-koleksi di Perpustakaan Unikom umumnya rusak karena faktor manusia. Perpustakaan dalam memperbaiki koleksi yang rusak dibantu oleh pihak ketiga, yakni fotokopi yang menyediakan layanan penjilidan. Koleksi di Perpustakaan Unikom biasanya rusak karena jilid yang terlepas atau halaman yang hilang. Pihak ketiga menjahit dan mengelem pada bagian bahan pustaka yang rusak. Selain itu, perbaikan juga dilakukan dengan mengganti cover ataupun halaman buku yang rusak dengan yang baru. “Sering kami temukan ketika shelving koleksi yang rusak sampulnya, copot halamannya, nanti kami pisahkan. Kalau sampulnya rusak kami ganti sampulnya, dan kalau jilidnya yang lepas kami kumpulkan dahulu dalam satu periode misalnya berapa bulan, kami data, nanti diserahkan ke pihak ketiga ke fotokopi untuk dijilid. Biasanya penjilidannya jilid jahit bisa juga di lem. Untuk jenis buku yang tebal bisa dijahit, dan untuk buku yang tipis biasanya dijilid ulang. Kalau ada cover yang sobek sedikit biasanya oleh mereka difotokopi ke cover yang baru, dirapihkan, diperbarui lagi cover-nya agar lebih bagus. Kemudian jika ada halaman buku yang copot, kami minta fotokopi halaman yang copot itu, ada di sini yang lengkapnya. Nanti diselipkan, dibongkar terus dimasukan lagi ke dalam bahan pustaka” (S.U. Lestari, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Perpustakaan Unikom pun menjilid koleksi tabloid dan majalah yang terbit secara berkala. Kegiatan ini dilakukan untuk menyatukan majalah agar halamannya tidak hilang dan tercecer. Menurut Dini et al., (2021), penjilidan merupakan metode perbaikan koleksi dengan menyatukan halaman kertas yang terlepas menjadi satu. Koleksi yang kondisi benang jahitnya terlepas dan lembarannya sudah tidak berurutan lagi perlu dilakukan penjilidan. Penjilidan dapat dilakukan dengan cara membongkar terlebih dahulu atau langsung menjilid koleksi menggunakan metode tertentu. Penjilidan ini bertujuan agar koleksi terlindungi dari potensi kerusakan. “Kami juga ada bundel koleksi tabloid dan majalah, setiap 6 bulan periode terbitan majalah yang kami langgan dibundel agar tidak tercecer. Ini yang melakukan memang bukan kami karena tidak punya alatnya, kami lakukan ke pihak ketiga dengan dijilid jahit.” (S.U. Lestari, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Alih media (digitisasi) merupakan proses mengalih bentuk format tercetak menjadi digital yang dapat direkam, disimpan, dan diakses menggunakan alat elektronik. Alih media merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Perpustakaan Unikom untuk melestarikan koleksi local content (muatan lokal). Koleksi di Perpustakaan Unikom rata-rata sudah berbentuk digital, sehingga perpustakaan melakukan alih media koleksi milik internal saja. Koleksi muatan lokal yang telah dilakukan alih media oleh pustakawan yaitu skripsi mahasiswa Unikom. Alih media dilakukan melalui scanning menggunakan scanner pada skripsi yang akan diubah ke bentuk digital. Alih media dilakukan oleh seorang staf bagian Audio Visual, Alih Media dan Eduvacation. Dalam sehari petugas dapat menghasilkan bentuk digital sebanyak lima judul skripsi. “Alih media skripsi dalam sehari bisa menghasilkan lima judul” (S. Sudrajat, Wawancara, 31 Oktober, 2022). Koleksi yang berbentuk digital akan dimasukkan ke dalam CD dan diberikan label, cover, kemudian ditempatkan ke dalam casing. Setiap bulan petugas akan menghimpun dan menyerahkan CD tersebut kepada kepala perpustakaan sesuai hasil kerjanya selama satu bulan. CD disimpan dan tidak dipublikasikan secara terbuka. File skripsi hasil alih media selanjutnya akan dipublikasikan di dalam website perpustakaan untuk nantinya dapat dibaca dan digunakan mahasiswa Unikom. Berdasarkan kegiatan preventif dan kuratif di atas, Pustakawan Perpustakaan Unikom belum menemukan kendala serius dalam kegiatan preservasi. Kendala tersebut dapat diatasi dengan baik seperti ketika sampul habis, pustakawan akan mengajukan pembelian sampul pada bagian perlengkapan. Biasanya pustakawan akan menunda dahulu penyampulan dan melanjutkannya kembali ketika sampul sudah tersedia. Selanjutnya untuk masalah pembersihan ruangan dan koleksi perpustakaan, ada petugas kebersihan yang menanganinya. Kemudian untuk kegiatan khusus seperti fumigasi dan penjilidan akan dilakukan melalui pihak ketiga. Perpustakaan belum memiliki alat penunjang untuk fumigasi dan penjilidan. Adapun dalam kegiatan alih media tidak ditemukan kendala dari segi alat dan teknis. Dengan demikian, pihak Perpustakaan Unikom telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan koleksi mereka. Beberapa kegiatan preservasi yang sekiranya masih bisa dilakukan, perpustakaan menanganinya sendiri. Adapun untuk kegiatan preservasi yang sulit karena terbatasnya alat dan kemampuan sumber daya manusia, perpustakaan menggunakan pihak ketiga. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan koleksi perpustakaan baik bentuk fisik maupun kandungan informasinya agar awet dan dapat dimanfaatkan dalam waktu selama mungkin.

Conclusion

Kegiatan preservasi di Perpustakaan Unikom sudah berjalan dengan baik. Kegiatan preservasi yang dilakukan Perpustakaan Unikom meliputi preservasi preventif dan kuratif. Tindakan preventif yang dilakukan di antaranya kegiatan pendidikan kepada pengguna (user education), menjaga suhu dan kelembapan ruangan, menjauhkan koleksi dari cahaya matahari, memasang kapur barus untuk mencegah datangnya serangga ataupun hewan pengerat pada koleksi, memasang CCTV dan flap barrier untuk keamanan, serta tindakan pencegahan jika terjadi bencana kebakaran dengan memasang tabung pemadam kebakaran, smoke detector, dan sprinkler. Kegiatan kuratif yang dilakukan meliputi fumigasi, pembersihan ruangan dan koleksi secara berkala, penyampulan bahan pustaka, penjilidan, dan alih media. Kegiatan alih media dari koleksi cetak menjadi digital dilakukan melalui proses scanning pada skripsi menggunakan alat scanner. Hasil alih media tersebut berupa file digital yang disimpan dalam website perpustakaan dan ada juga yang dimasukkan ke dalam CD untuk diserahkan kepada kepala perpustakaan. Untuk penelitian selanjutnya, peneliti akan mengembangkan penelitian mengenai kegiatan preservasi koleksi melalui analisis preventif dan kuratif di perpustakaan khusus.