Kembali
16
1
2024 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 20 · 1 ISSN 2477-0361

Digitisasi arsip dan doktrin religius pada komunitas Kristen Mormon

Badan Riset dan Inovasi Nasional

Abstrak

Pendahuluan. Penelitian ini mengkaji dua pertanyaan, pertama, bagaimana hubungan antara digitisasi arsip dan doktrin keagamaan pada Komunitas Kristen Mormon? Kedua, bagaimana implikasi hal tersebut terhadap pemaknaan konsep archival spirituality? Komunitas Kristen Mormon mengembangkan lembaga kearsipan sebagai salah satu unit organisasi awal dan membangun situs arsip digital silsilah terbesar di dunia. Situs ini terbuka dan bisa digunakan oleh siapa pun. Namun, riset yang mengeksplorasi hubungan antara digitisasi arsip dan doktrin keagamaan Mormon masih sangat terbatas. Metode penelitian. Penelitian menggunakan metode kualitatif berdasarkan archival studies pada bulan Juli hingga Oktober 2022 di Indonesia. Data analisis. Penelitian menggunakan teknik analisis data teknis seperti seleksi, reduksi, kategorisasi, dan konseptualisasi. Hasil dan Pembahasan. Situs familysearch.org adalah portal arsip silsilah digital yang dikembangkan oleh Komunitas Kristen Mormon. Portal ini merupakan bukti bahwa archival spirituality dalam komunitas ini meliputi keseluruhan pengelolaan arsip yang dilegitimasi dan berorientasikan doktrin keagamaan. Kesimpulan dan Saran. Digitisasi arsip merupakan bagian dari praktik sakral. Dalam kondisi ini, archival spirituality terjadi karena pengelolaan arsip mendapat legitimasi dan berorientasi pada doktrin keagamaan. Maka pengembangan digitisasi arsip pada komunitas keagamaan bisa dilakukan dengan pemanfaatan dalil-dalil religius.

Abstract

Introduction. This research examines two questions: first, what is the relationship between archive digitization and religious doctrines within the Mormon Christian Community? Second, how do these implications affect the interpretation of archival spirituality? The Mormon Christian Community has developed archival institutions as one of the early organizational units and established the world's largest digital genealogical archive site. This site is open and accessible to anyone. However, studies on the connection between archive digitization and Mormon religious doctrines are still relatively scarce. Data Collection Methods. The research used a qualitative method based on archival research and was conducted in Indonesia from July to October 2022. Data Analysis. The researchers used technical data analysis techniques such as selection, reduction, categorization, and conceptualization. Results and Discussion. The familysearch.org site is a digital genealogical archive portal developed by the Mormon Christian Community. This portal evidences that archival spirituality within this community encompasses the comprehensive management of archives legitimized and oriented toward religious doctrines. Conclusion. Archive digitization is a part of sacred practices. In this context, archival spirituality occurs as archive management receives legitimacy and orientation from religious doctrines. Therefore, religious communities can advance archive digitization by employing religious doctrines as a basis.
Keywords: archive digitization · archival spirituality · Christian Mormon community · religious doctrine · sacred practices

Introduction

A. PENDAHULUAN Gelombang digitisasi telah mengubah banyak bidang, termasuk pengelolaan arsip. Organisasi, termasuk komunitas, berlombalomba melakukan digitisasi arsip. Dengan proses digitisasi, arsip menjadi bermanfaat bagi komunitas dan pihak lain. Salah satu contoh organisasi yang aktif dalam digitisasi arsip adalah Komunitas Kristen Mormon. Digitisasi ini berdampak pada pemutakhiran mekanisme pengelolaan arsip. Salah satu proyek signifikan dalam digitisasi arsip di komunitas tersebut adalah familysearch.org. Komunitas Kristen Mormon adalah jemaat Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (Gereja OSZA). Gereja ini berkembang pesat pada abad ke-19 di Amerika Serikat sebelum menjadi komunitas global. Saat ini, terdapat sekitar 17.002.461 anggota Gereja OSZA di seluruh dunia (Frandsen & Lundberg, 2023). Sejak berdirinya, komunitas ini telah menjadikan Unit Pengelolaan Arsip sebagai salah satu organ pertamanya (Bushman, 2023). Pada awal berdirinya, unit ini menangani berbagai jenis arsip terkait gereja, seperti buku, peta, diagram, dokumen kertas, termasuk formulir keanggotaan gereja, pengurapan menjadi imam, arsip nama-nama anak yang diberkati, serta arsip rekomendasi baik untuk kunjungan kuil maupun pemindahan, serta arsip-arsip dari jemaat-jemaat lokal (Nimer, 2022). Unit Pengelolaan Arsip dalam Komunitas Kristen Mormon terus berkembang hingga saat ini. Beberapa penelitian tentang Komunitas Kristen Mormon sudah dilakukan, namun yang membahas masalah doktrin Kristen Mormon tentang arsip masih jarang. Turley dalam risetnya memang mengulas tentang pengelolaan arsip di komunitas Kristen Mormon, tetapi hanya berfokus pada transformasi dari sistem sentralisasi ke desentralisasi dan dampaknya terhadap kemapanan sistem pengelolaan arsip hingga saat ini (Turley, 2015). Lebih lanjut, Wells meneliti Kitab Mormon dari sudut pandang ilmu kearsipan, tetapi mengabaikan hubungan antara doktrin dalam Kitab Mormon dan praktik kearsipan dalam komunitas Kristen Mormon (Wells, 2017). Kemudian, Turley dan Smoot membahas pengelolaan arsip sebagai hasil dari doktrin, tetapi tidak mengungkapkan kebalikannya (Turley & Smoot, 2021). Selanjutnya, meskipun Nimer mengulas tentang pengelolaan arsip, ia berfokus pada proses profesionalisasi kantor sejarawan gereja yang kemudian menjadi bagian dari unit pengelolaan arsip dalam komunitas Kristen Mormon (baca: Church History Library) (Nimer, 2022). Sementara itu, penelitian tentang peran doktrin religius dalam proses pengelolaan arsip, khususnya digitisasi arsip, masih jarang dilakukan. Salah satu studi tersebut, yang dilakukan oleh Garaba, hanya memfokuskan pada menjelaskan digitisasi arsip keagamaan di Afrika Selatan dan menyimpulkan bahwa proses digitisasi harus mengikuti model tertentu agar berhasil (Garaba, 2014). Selanjutnya, Adams dan rekannya menyelidiki sejauh mana sistem digital, sebagai akibat dari kurangnya pemahaman perancang sistem tentang keragaman agama atau teologis, membuat koleksi arsip digital tidak efektif dalam mewakili aspek keagamaan (Adams et al., 2020). Selain itu, ada Warkentin yang dalam risetnya mengonstuksi konsep archival spirituality (spiritualitas arsip) untuk menjelaskan bahwa arsip keagamaan dalam komunitas Kristen bernilai spiritual karena mendukung keperluan spiritual dan kegiatan gereja baik sebagai lembaga maupun komunitas (Warkentin, 2020). Karena sifat spiritual ini maka komunitas tersebut terdorong untuk melakukan preservasi digital agar arsip tersebut tetap lestari (Warkentin, 2020). Namun, Warkentin tidak menjelaskan perihal doktrin religius inheren dalam komunitas Kristen yang Warkentin maksud tentang pengelolaan arsip. Kemudian, Parker dan Maxton meskipun melihat bahwa arsip keagamaan dalam komunitas Katolik Kaldea menjadi refleksi dari sebuah pengelolaan komunitas namun tidak eksplisit mendeskripsikan doktrin komunitas tersebut terhadap pengelolaan arsip (Parker & Maxton, 2022). Berdasarkan latar belakang dan penelitian sebelumnya, penelitian ini mengkaji dua pertanyaan, pertama, bagaimana hubungan antara digitisasi arsip dan doktrin keagamaan pada Komunitas Kristen Mormon? Kedua, bagaimana implikasi hal tersebut terhadap pemaknaan konsep archival spirituality? Komunitas Kristen Mormon dalam penelitian ini merujuk pada The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS) atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (OSZA). Selain itu, penelitian ini difokuskan pada pembahasan portal arsip digital familysearch.org sebagai representasi proyek digitisasi arsip yang dilaksanakan oleh Komunitas Kristen Mormon. Penelitian ini melengkapi pembahasan tentang hubungan antara digitisasi arsip dengan doktrin religius yang sebelumnya tidak terungkap. Selain itu, penelitian ini menghasilkan skema yang mampu menjelaskan hubungan tersebut secara lebih jelas. Skema ini juga dapat berfungsi sebagai alat bantu bagi komunitas keagamaan lain dalam mendorong digitisasi arsip komunitas mereka. Argumen dasarnya adalah bahwa posisi doktrin religius memainkan peran krusial dalam penguatan digitisasi arsip, dan sebaliknya. Hasil yang diperoleh penelitian ini, komunitas keagamaan dapat menggunakan atau mengembangkan perspektif keagamaan untuk mendorong pengelolaan arsip, khususnya digitisasi arsip, di masing-masing komunitasnya. Setiap komunitas keagamaan dapat merasakan manfaat dari digitisasi arsip ketika dilakukan dengan layak. Manfaat ini tidak hanya dirasakan oleh pihak internal komunitas, tetapi juga oleh pihak eksternal. B. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini menggunakan beberapa konsep utama, yaitu arsip, digitisasi arsip, archival spirituality (spiritualitas arsip), Komunitas Kristen Mormon, doktrin religius, dan praktik sakral. Arsip merupakan alat sosioteknologi yang digunakan oleh organisasi untuk melaksanakan kekuasaan administratif melalui penggunaan informasi yang terekam guna mencapai tujuan organisasi (Lupton, 2015; Noriega, 2020; Schyff et al., 2020; Strauss, 2015). Pentingnya arsip di era digital semakin berkembang karena teknologi digital memungkinkan suatu organisasi mengelola informasi yang terekam sebagai cognitive prosthesis. Sebagai sebuah sistem, arsip digital dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori: data transaksional, arsip keseharian, terdiri dari sudut pandang atau komentar opini, arsip crowdsourcing, dan arsip yang dihasilkan oleh lembaga pemerintah (Lupton, 2015, pp. 32–37). Selanjutnya, digitisasi adalah berbagai fenomena dan proses sosioteknis dalam mengadopsi dan menggunakan teknologi ini dalam konteks individu, organisasi, dan masyarakat yang lebih luas (Calderon-Monge & Ribeiro-Soriano, 2023; Legner et al., 2017). Digitisasi berhimpit erat dengan manajemen informasi (Riedl et al., 2017). Dalam konteks ini, pengelolaan arsip menjadi bagian dari manajemen informasi. Hal ini dikarenakan esensi dari arsip adalah informasi itu sendiri, informasi yang terekam (Pratama, 2022). Perubahan dari pengelolaan arsip non-digital menjadi digital merupakan bagian dari digitisasi (Bawono, 2020). Berdasarkan konsep-konsep ini maka digitisasi arsip yang dimaksud dalam riset ini adalah pengadopsian teknologi digital dalam keseluruhan proses pengelolaan informasi terekam (arsip). Terakhir, archival spirituality merujuk pada arsip keagamaan dalam komunitas Kristen bernilai spiritual karena mendukung keperluan spiritual dan kegiatan gereja baik sebagai lembaga maupun komunitas (Warkentin, 2020) Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan Komunitas Kristen Mormon adalah komunitas Kristen yang percaya pada Joseph Smith sebagai penerus nabi otentik untuk memulihkan ajaran Kristus melalui Kitab Mormon. Komunitas Kristen Mormon dalam penelitian ini adalah yang dikelola oleh The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS) atau Gereja Yesus Kristus dari Orangorang Suci Zaman Akhir (OSZA) yang berpusat di Utah, Amerika Serikat. Selanjutnya, doktrin religius adalah kumpulan keyakinan agama yang sistematis (Boyer, 2020). Selanjutnya, praktik sakral adalah tindakan atau aktivitas berbasis kepercayaan agama atau spiritual (de Villiers & Marchinkowski, 2021; Leonhardt et al., 2018; Marks et al., 2017).

Method

Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif melalui penelitian arsip (archival research). Penelitian ini menganalisis arsip digital Komunitas Kristen Mormon yang diperoleh dari sumber resmi gereja atau sumber terpercaya lainnya. Arsip digital tersebut mencakup dokumen resmi atau data transaksional, arsip harian, sudut pandang atau komentar opini, arsip crowdsourcing, dan arsip yang dihasilkan oleh lembaga pemerintah (Lupton, 2015, pp. 32–37). Penelitian dilakukan di Indonesia pada bulan Juli hingga Oktober 2022. Pengumpulan data dilakukan secara digital. Penelitian menggunakan teknik analisis data seperti seleksi, reduksi, kategorisasi, dan konseptualisasi. Penelitian dikelola melalui pemilihan data dengan menentukan relevansi informasi dan kemudian mengurangi informasi yang tidak relevan. Kemudian, mengatur data dalam skema tertentu. Data yang telah dikategorikan kemudian dianalisis menggunakan kerangka konseptual. Akhirnya, dilakukan sintesis data untuk selanjutnya dikonseptualisasi.

Result & Discussion

Sejarah Singkat Kearsipan Komunitas Kristen Mormon Joseph Smith Jr. mendirikan komunitas Kristen Mormon (Stoker & Derengowski, 2018). Ia lahir pada tanggal 23 Desember 1805 di Vermont, Amerika Serikat. Dia percaya bahwa Bapa Surgawi dan putra-Nya, Yesus Kristus, menampakkan diri kepadanya pada tahun 1820 (Hidayat et al., 2021). Berbagai penglihatan spiritual mengikuti hingga suatu hari di tahun 1827, Joseph Smith menemukan arsip emas kuno berisi kumpulan arsip yang disusun oleh Nabi Bangsa Asli Amerika kuno (Blythe, 2019; Morris, 2019). Selanjutnya, kumpulan arsip emas ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1829 dan menjadi Kitab Mormon (Welch, 2018). Komunitas Kristen Mormon meyakini bahwa Kitab Mormon memiliki kedudukan yang setara dengan Alkitab, keduanya merupakan kesaksian kudus tentang Yesus Kristus (Gore, 2021). Selain itu, Komunitas Kristen Mormon juga mengakui adanya kitab suci tambahan, yaitu The Doctrine and Covenants (Ajaran dan Perjanjian) serta The Pearls of Great Price (Mutiara yang Sangat Berharga) (Maulana, 2021). Komunitas Kristen Mormon mempercayai praktik baptisan perwakilan (proxy baptism) bagi individu yang telah meninggal dunia (Bell, 2017, p. 118; Perreault et al., 2017). Dalam proses baptisan perwakilan ini, gereja menginstruksikan anggota masyarakat untuk mendata anggota keluarga prioritasnya, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa pihak lain juga bisa dibaptis menggunakan metode ini (Harvard Divinity School, 2019). Meskipun memiliki perbedaan dengan Kristen arus utama, Komunitas Kristen Mormon meyakini bahwa mereka juga merupakan Kristen yang otentik, sebagaimana Kristen arus utama yang memiliki fokus pada Yesus Kristus (Hardy, 2014). Sejak berdirinya, Komunitas Kristen Mormon telah sangat memperhatikan pentingnya arsip. Unit Sejarah Gereja (Church History), yang bertugas mengelola arsip, menjadi salah satu organ pertama yang dikembangkan oleh Komunitas Kristen Mormon. Unit ini sedari awal memang ditugaskan untuk menjalankan amanat suci yaitu mengelola arsip dan sejarah gereja (Nimer, 2022). Proses pengelolaan arsip dimulai pada tahun 1830, ketika Oliver Cowdery ditugaskan oleh Joseph Smith sebagai pengelola arsip sementara (Erekson, 2019). Kemudian, posisi pengelola arsip atau arsiparis yang diemban oleh Oliver Cowdery secara resmi dipermanenkan pada tanggal 14 September 1835 (Erekson, 2019). Sejak saat itu, lembaga ini terus berkembang. Saat ini, kepala unit organisasi ini adalah seorang sejarawan dan arsiparis Gereja, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Pengelola Arsip Gereja. Ia bertanggung jawab atas pengelolaan Arsip, termasuk preservasi digital dan tata kelola informasi Gereja OSZA di seluruh dunia (Erekson, 2019). Perkembangan kearsipan dalam Komunitas Kristen Mormon secara ringkas dapat dibagi menjadi tiga tahap perkembangan, yaitu: Sejarah-sentris (1830-1881), pelembagaan arsip (1883-1948), dan profesionalisasi pengelolaan arsip (1949-1979) (Nimer, 2022). Meskipun awalnya ditugaskan untuk mengelola arsip dan sejarah, organisasi pengelola arsip ini didominasi oleh kebutuhan untuk menulis sejarah gereja. Kondisi ini berlangsung dalam kurun waktu 1830 hingga 1881. Pada saat itu, sudah banyak dokumen bernilai sejarah yang tersimpan, namun orang-orang yang bekerja pada unit tersebut seakan tidak mengetahui dokumen apa saja yang disimpan, karena belum ada sistem atau mekanisme terkait katalog dan sejenisnya(Nimer, 2022) . Kemudian, pada periode 1883, muncul kesadaran untuk melakukan reformasi administratif terkait pengelolaan informasi. Ide reformasi ini kemudian diwujudkan dengan pembentukan Panitia Arsip Gereja (Committee on Church Records) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas praktik pengelolaan arsip pada tahun 1899 (Nimer, 2022). Pada era ini, reformasi pengelolaan arsip dilakukan dengan pendekatan perpustakaan, bukan kearsipan (Nimer, 2022). Kondisi ini berlangsung dari sekitar tahun 1883 hingga 1948. Selanjutnya, pada periode 1949 hingga 1979, seiring dengan meningkatnya antusiasme terhadap arsip silsilah, pihak gereja membuat instruksi khusus untuk mengelola arsip di unit gereja lokal. Dalam periode ini, juga terjadi pemisahan peran secara profesional antara sejarawan, arsiparis, dan pustakawan yang dikoordinasikan dalam institusi Sejarah Gereja (Historical Department) (Nimer, 2022). Pembedaan khusus antara arsiparis dan sejarawan gereja semakin ditegaskan, di mana arsiparis bertanggung jawab untuk mengelola arsip hingga dapat diakses dan digunakan, sementara sejarawan gereja bertugas menulis sejarah gereja (Nimer, 2022). Selain itu, Komite Arsip Gereja juga dibentuk dan menghasilkan terbentuknya Repositori Arsip Sentral di Utah (Nimer, 2022). Sejak saat itu dan hingga kini, perkembangan pengelolaan arsip dalam Komunitas Kristen Mormon terus berkembang menjadi lebih profesional. Organisasi gereja OSZA yang mengawasi Komunitas Kristen Mormon dikelola secara hierarkis. Saat ini, Russell M. Nelson melayani sebagai Presiden Gereja atau disebut sebagai "Nabi yang Hidup" (2018 - sekarang) (Halford, 2021). Presiden Gereja ini didampingi oleh dua orang penasihat, dan kelembagaan ini dikenal sebagai The First Presidency (Preston, 2014). Di samping itu, The Quorum of the Twelve Apostles merupakan lembaga yang berada di bawah The First Presidency. Salah satu anggota dalam The Quorum of the Twelve Apostles nantinya akan mengisi posisi dalam The First Presidency ketika proses suksesi berlangsung (Preston, 2014). Kedua lembaga ini menjalankan peran kenabian dan memiliki kewenangan untuk menerbitkan hukum gereja, termasuk kebijakan administratif, kanon gereja, dan ajaran resmi gereja (Preston, 2014). Komunitas Kristen Mormon adalah sebuah komunitas global. Indonesia menjadi salah satu lokus berkembangnya Komunitas Kristen Mormon. Komunitas ini sudah berdiri sejak tahun 1969 di Indonesia (Bawono et al., 2017). Saat ini, terdapat sekitar 7.564 anggota Komunitas Kristen Mormon, atau sekitar 0,04% dari total populasi 20,45 juta umat Kristen di Indonesia (Newsroom, 2021). Komunitas ini memiliki kantor pusat di Jakarta Selatan dan 16 Gereja yang tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Bali. Berdasarkan deskripsi pada bagian ini, kelembagaan Komunitas Kristen Mormon didorong oleh keyakinan pada institusi yang memiliki peran kenabian. Salah satu manifestasi dari peran kenabian ini terlihat dalam pengelolaan arsip. Pengelolaan arsip ini menjadi bagian yang tak terpisahkan sejak awal berdirinya komunitas ini, dan merupakan faktor penting dalam perkembangannya. Institusi pengelola arsip ini selanjutnya berperan sebagai instrumen dalam pengelolaan kelembagaan yang tersebar di seluruh dunia. Kesakralan Arsip: Doktrin Kristen Mormon yang berhubungan dengan Arsip Sedari awal, pengelolaan arsip dilembagakan dalam tubuh Komunitas Kristen Mormon lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan agama daripada kepentingan organisasi. Masyarakat menganggapnya sakral karena kaitannya dengan memori. Mereka percaya bahwa ingatan adalah landasan bagi keberlanjutan nilai-nilai agama Mormon lintas generasi. Arsip adalah ekspresi iman, demikian seperti yang dipercayai oleh Komunitas Kristen Mormon (Erekson, 2019). Saat ini, gereja membagi arsip yang disimpan menjadi empat jenis, yaitu laporan tentang catatan partisipasi anggota, arsip keanggotaan, arsip sejarah, dan arsip keuangan (The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints, 2021). Pertama, laporan tentang catatan partisipasi anggota meliputi informasi tentang kehadiran pertemuan, wawancara pelayanan, kegiatan, jabatan imamat anggota baru, dan status rekomendasi bait suci dari anggota yang sudah diberkati. Kedua, arsip keanggotaan meliputi nama dan alamat anggota, serta informasi tentang tata cara dan informasi penting lainnya. Ketiga, arsip sejarah meliputi informasi tentang pencapaian, tantangan, pengalaman membangun iman, dan peristiwa penting lainnya. Terakhir, arsip keuangan meliputi informasi tentang persepuluhan, persembahan lainnya, serta biaya untuk kegiatan dan persediaan. Mengikuti pemahaman tentang jenis-jenis arsip yang dikelola oleh Komunitas Kristen Mormon, perlu ditelusuri akar doktrin terkait pengarsipan dalam berbagai kitab suci yang dimiliki oleh Komunitas Kristen Mormon. Berkaitan dengan hal tersebut, ditemukan doktrin religius Komunitas Kristen Mormon terkait pengarsipan dalam tiga kitab suci: Ajaran dan Perjanjian, Kitab Mormon, dan Mutiara yang Sangat Berharga. Pendeskripsian akan diawali dengan doktrin pada Kitab Ajaran dan Perjanjian karena di dalamnya memuat doktrin yang eksplisit sekaligus berfungsi sebagai pondasi. Selanjutnya, pendeskripsian akan membahas Kitab Mormon dan terakhir adalah Kitab Mutiara yang Sangat Berharga. Penelitian menemukan bahwa dalam Ajaran dan Perjanjian, terdapat Bagian 21 dan 127 yang mengandung doktrin yang berhubungan dengan arsip. Bagian 21 merupakan doktrin utama yang mengatur pengarsipan. Bagian 21, khususnya pada ayat 1–2, menjadi landasan bagi Komunitas Kristen Mormon dalam menjalankan pengelolaan arsip secara berkelanjutan hingga saat ini. Berikut ini adalah petikan dari Bagian 21 ayat 1-2 dalam Kitab Ajaran dan Perjanjian tersebut: “1 Lihatlah, akan ada catatan yang disimpan di antara kamu; dan di dalamnya engkau akan disebut pelihat, penerjemah, nabi, rasul Yesus Kristus, penatua gereja melalui kehendak Allah Bapa, dan kasih karunia Tuhanmu Yesus Kristus, 2 Diilhami oleh Roh Kudus untuk meletakkan landasannya, dan untuk membangunnya bagi iman yang paling kudus (Ajaran dan Perjanjian 21:1–2) ” Selanjutnya, Bagian 127 ayat 5 sampai dengan 8 menegaskan hubungan antara doktrin pengarsipan dengan doktrin baptis bagi orang mati. Bagian dari pasal 21, khususnya pada ayat 5-8 dari Ajaran dan Perjanjian, dapat dilihat sebagai berikut: “5 Dan lagi, saya memberikan kepada Anda sepatah kata sehubungan dengan a pembaptisan bagi Anda yang telah meninggal. 6 Sesungguhnya, demikianlah firman Tuhan kepadamu mengenai orang matimu: Ketika siapa pun darimu adibaptis bagi orang matimu, biarlah ada seorang juru catat, dan biarlah dia menjadi saksi mata untuk baptisanmu; biarlah dia mendengar dengan telinganya, agar dia boleh bersaksi akan kebenaran, firman Tuhan; 7 Agar dalam semua pencatatanmu itu boleh dicatat di dalam surga; apa pun yang kamu ikat di atas bumi, boleh diikat di dalam surga; apa pun yang kamu lepaskan di atas bumi, boleh dilepaskan di dalam surga; 8 Karena Aku akan memulihkan banyak hal ke bumi, berkaitan dengan imamat, firman Tuhan Semesta Alam (Ajaran dan Perjanjian 127: 5–8)” Selanjutnya, Pasal 127 ayat 9 berisi perintah untuk mengelola segala bentuk arsip dalam bangunan khusus yang merupakan bagian dari Bait Suci. Tujuan dari pengelolaan arsip ini adalah sebagai pengingat dari generasi ke generasi. Berikut ini adalah petikan dari Pasal 127 ayat 9: “9 Dan lagi, biarlah semua catatan disimpan dengan tertib, agar itu boleh ditaruh di dalam arsip bait suci-Ku, untuk disimpan sebagai ingatan dari angkatan ke angkatan, firman Tuhan Semesta Alam (Ajaran dan Perjanjian 127: 9)” Kitab Mormon, khususnya 1 Nefi 1 ayat 1–3. Nefi adalah salah seorang putra Lehi, seorang nabi kuno dari Yerusalem. Nefi dan keturunannya menetap di Amerika dan hidup di antara penduduk asli Amerika selama perjalanan mereka. Kisah yang terdapat dalam Kitab Mormon berkaitan dengan kehidupan Yesus Kristus dalam masyarakat Nefi dan penduduk asli Amerika. Sekitar tahun 34 Masehi, setelah kebangkitan-Nya, Yesus mengunjungi Amerika (3 Nefi 11). Pasal 1 Ayat 1 sampai 3 dari Kitab 1 Nefi menjelaskan tentang arsip tulisan Nefi, yang ia pelajari dengan penuh ilmu dari orang tuanya. Arsip ini tertulis dalam bahasa Ibrani dan Mesir, dan dianggap asli. Berikut ini sebagian dari 1 Nefi 1: 1-3: “Aku, Nefi, telah dilahirkan dari orang tua yang baik, oleh karena itu aku diajar sedikit dengan segala pembelajaran ayahku; dan telah melihat banyak kesengsaraan dalam perjalanan hidupku, walaupun demikian, telah sangat berkenan bagi Tuhan di sepanjang hidupku; ya, telah memiliki pengetahuan besar tentang kebaikan dan misteri Allah, oleh karena itu aku membuat sebuah catatan tentang tindakantindakanku pada masa hidupku. 2 Ya, aku membuat sebuah catatan dalam bahasa ayahku, yang terdiri dari pembelajaran orang Yahudi dan bahasa orang Mesir. 3 Dan aku tahu bahwa catatan yang aku buat adalah benar; dan aku membuatnya dengan tanganku sendiri; dan aku membuatnya menurut pengetahuanku. (1 Nefi 1:1-3)” Selain itu, penelitian menemukan pentingnya mengelola arsip dari para pendahulu untuk menjadi berkat bagi generasi berikutnya dalam Kitab Mutiara yang Sangat Berharga, khususnya di Kitab Abraham Pasal 1 Ayat 31. Orang Kristen Mormon percaya bahwa penulis Kitab Abraham adalah Abraham (Ibrahim), bapa dari orang percaya. Abraham menulisnya ketika berada di Mesir. Joseph Smith menerjemahkan Kitab Abraham ini dari arsip Papirus. Berikut adalah sebagian dari Pasal 1 ayat 31 Kitab Abraham: “31 Tetapi catatan para ayah, bahkan para bapa bangsa, mengenai hak Imamat, Tuhan Allahku menyimpannya di tangan saya sendiri; ; oleh karena itu suatu pengetahuan tentang awal penciptaan, dan juga tentang planet-planet, dan tentang bintang-bintang, sebagaimana itu disingkapkan kepada leluhur, telah aku simpan bahkan hingga hari ini, dan aku akan berikhtiar untuk menuliskan beberapa hal ini di atas catatan ini, demi manfaat anak cucuku yang akan datang setelah aku. (Abraham 1: 31)” Tabel 1 disusun untuk menyederhanakan deskripsi doktrin Kristen Mormon tentang pengelolaan arsip atau pengarsipan. Tabel 1 ini menjelaskan kitab suci dan bagian-bagian spesifik dari kitab suci yang secara eksplisit memuat doktrin tentang pengarsipan. Silakan lihat Tabel 1 untuk mengetahui kumpulan doktrin yang berkaitan dengan pengarsipan dalam Komunitas Kristen Mormon. Deskripsi pada bagian ini menjelaskan bahwa Komunitas Kristen Mormon percaya pada kesakralan arsip berdasarkan ajaran Kitab Suci. Dalam komunitas ini, doktrin religius tersebut termasuk doktrin yang secara spesifik mengamanatkan mengenai nilai ibadah dalam pengelolaan arsip, serta doktrin lain yang menjadikan pengelolaan arsip sebagai prasyaratnya. Berdasar hal tersebut, dapat dikatakan bahwa pengelolaan arsip merupakan bagian dari praktik sakral dalam Komunitas Kristen Mormon. Selain itu, konsep spiritualitas arsip (archival spirituality) di Komunitas Kristen Mormon dapat diartikan bahwa arsip memiliki nilai spiritual bukan hanya karena digunakan atau menjadi bagian dari praktek sakral, melainkan arsip juga adalah sebuah kerangka yang termanifestasi dalam sistem terstruktur yang memiliki legitimasi dan berorientasi pada kitab suci atau ajaran lain yang dianggap suci. Praktik Pengelolaan Arsip: Keberlanjutan dari Analog ke Digital Hingga saat ini, Komunitas Kristen Mormon menerapkan pengelolaan arsip secara hibrid. Sistem ini menggabungkan arsip analog dan digital. Garis besar praktik pengarsipan di Komunitas Kristen Mormon dapat ditemukan dalam Buku Pegangan Umum: Melayani di Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints, 2021). Merujuk pada bagian Arsip Suci (Sacred Archives), Komunitas Kristen Mormon mengenal empat kategori arsip: Laporan Catatan Partisipasi Anggota, Arsip Keanggotaan, Arsip Sejarah, dan Arsip Keuangan. Arsip-arsip ini dipindahkan dari unit gereja lokal ke pusat pelestarian yang tersebar di beberapa lokasi atau unit sejarah gereja di Utah. Gereja pusat menetapkan standar manajemen arsip untuk gereja-gereja lokal. Gereja-Gereja Kristen Mormon di seluruh dunia akan mengirimkan semua arsip digital dan audiovisual ke Departemen Sejarah Gereja di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat (The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, 2018, p. 2). Hal ini dilakukan karena lokasi tersebut dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan untuk melestarikan berbagai jenis arsip (The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, 2018, p. 2)(The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, 2018, p. 2). Arsip-arsip ini sebelumnya berupa format analog dan digital, namun sekarang sebagian besar berbentuk arsip digital yang disimpan di tempat penyimpanan yang dikenal sebagai Granite Mountain Records Vault (Erekson, 2019). Struktur ini dibangun pada tahun 1965 untuk melindungi dan melestarikan arsip gereja. Lokasi ini sekarang menampung dalam berbagai bentuk mikrofiche, data digital, dan mencakup lebih dari satu juta gulungan mikrofilm (Hjorthén, 2022). Gereja telah menggunakan mikrofilm, terutama untuk arsip silsilah, sejak tahun 1938 (Hjorthén, 2022).. Namun, gereja tidak lagi menggunakan mikrofilm sebagai media pengarsipan sejak tahun 2017. Gereja kemudian mendigitalkan koleksi mikrofilm dan arsip analog lainnya sebagai langkah menuju keberlanjutan dan kemudahan akses (Hjorthén, 2021). Meskipun begitu, mikrofilm asli masih ada di Granite Mountain Records Vault sebagai cadangan digital. Komunitas Kristen Mormon secara khusus memberikan perhatian pada arsip sejarah dan pribadi, meskipun semua jenis arsip memiliki nilai sakral karena berkontribusi pada kisah gereja. Setiap unit gereja lokal akan mengirimkan arsip sejarahnya ke Pusat Sejarah Gereja di Utah, Amerika Serikat, atau berbagai pusat pelestarian yang tersebar di 24 lokasi (Snow, 2019). Arsip pribadi mencakup Jurnal Pribadi, Tata Cara dan Sertifikat Prestasi, Foto Keluarga, serta Cerita Tentang Diri dan Keluarga (Snow, 2019). Selain itu, arsip pribadi memiliki pentingnya bagi gereja meskipun bukan bagian formal dari arsip Gereja. Gereja pusat merekomendasikan agar setiap jemaat menyimpan arsip sebagai standar pencatatan dan pengelolaan arsip. Lebih dari itu, anggota dapat membagikan arsip mereka melalui familysearch.org (Snow, 2019). Arsip pribadi, terutama arsip keluarga termasuk silsilah, memang mendapatkan perhatian khusus dari Komunitas Kristen Mormon. Komunitas ini tak segan-segan mensponsori penyelamatan arsip keluarga (baca: silsilah) bagi non-anggota. Hal ini dapat dilihat dari upaya komunitas ini dalam menyelamatkan berton-ton Arsip Keluarga Niue di Pulau Cook setelah badai level 5 melanda pulau itu pada tahun 2004, yang menjadi bukti yang jelas (Kenneally, 2014). Keberhasilan gereja dalam memulihkan arsip yang rusak disebabkan oleh langkah gereja yang telah menduplikasi arsip-arsip tersebut dalam bentuk mikrofilm sebelumnya (Kenneally, 2014). Berdasarkan uraian ini, Komunitas Kristen Mormon berupaya untuk mentransformasikan arsip mereka dari format analog ke format digital. Perkembangan zaman dan kebutuhan untuk menjaga kelestarian arsip menjadi pertimbangan utama pihak Komunitas Kristen Mormon. Meskipun didorong oleh kebutuhan internal untuk selaras dengan doktrin religius, pengelolaan arsip termasuk transformasi dari format analog ke digital tidak hanya dikembangkan oleh komunitas ini untuk berdampak secara internal, melainkan juga eksternal. Dampak eksternal dari pengelolaan arsip komunitas ini terlihat dalam kasus sukses pemulihan arsip keluarga di wilayah Niue, Pulau Cook, setelah mengalami kerusakan akibat badai tropis. Familysearch.org: Pengarsipan Digital dan Pemberkatan Leluhur Praktik pengarsipan silsilah telah dilakukan oleh Komunitas Kristen Mormon sejak awal era gereja. Pada tahun 1894, Presiden Gereja Wilford Woodruff menerima wahyu yang menegaskan bahwa anggota Komunitas Kristen Mormon harus melacak baik orang tua maupun anak, termasuk seluruh garis keturunan keluarga (Hjorthén, 2021). Lembaga Silsilah Utah didirikan pada tahun 1894 untuk menerapkan wahyu tersebut (Hjorthén, 2021). Organisasi ini mulai mengelola arsip keluarga dalam bentuk mikrofilm pada tahun 1938 (Hjorthén, 2021). Selanjutnya, pada 24 Mei 1999, organisasi tersebut memelopori portal familysearch.org untuk pengarsipan arsip keluarga atau silsilah (Otterstrom et al., 2021). Meskipun Komunitas Kristen Mormon yang mengembangkan platform ini, pemanfaatannya terbuka untuk umum. Gereja menciptakan familysearch.org untuk mengarsipkan sebanyak mungkin arsip keluarga dari anggota komunitas dan masyarakat umum. Gereja menggunakan teknologi crowdsourcing digital sebagai strategi (Bawono, 2019; Chang et al., 2017; Wittmann et al., 2019). Crowdsourcing adalah jenis praktik kolaboratif kreatif yang dimungkinkan oleh jaringan internet di mana "kerumunan" dapat membantu memvalidasi, memodifikasi, dan meningkatkan nilai program dari suatu kelompok (Ghezzi et al., 2017). Gereja merancang sistem ini dengan tujuan mengumpulkan sebanyak mungkin orang dan data melalui platform crowdsourcing. Sistem ini memberikan kesempatan bagi pengguna untuk berpartisipasi bukan hanya dengan mengarsipkan informasi, tetapi juga untuk menambahkan informasi baru dan membantu pihak lain dalam mengisi data. Sistem ini menawarkan berbagai fitur yang para disebut sebagai fitur untuk bergabung, berkontribusi, dan memberikan bantuan. Fitur masuk dan pembuatan akun tersedia bagi pengguna. Fitur kontribusi mencakup silsilah keluarga, pencarian, memori, pengindeksan, dan aktivitas lainnya. Fitur bantuan memudahkan pengguna dalam mengoptimalkan pengarsipan file serta menghubungkan setiap arsip yang direkam secara global antara pengguna lainnya. Penjelasan singkat ini berfokus pada fitur-fitur yang ada, dengan menekankan bahwa sistem ini nirlaba dan gratis. Untuk melihat tampilan situs familysearch.org, dapat dilihat pada Gambar 1. Situs web familysearch.org. Komunitas Kristen Mormon melakukan pengarsipan keluarga melalui pemanfaatan platform familysearch.org dalam rangka memenuhi kebutuhan internal maupun eksternal. Dampak dari penerapan sistem ini terlihat dalam keberhasilan Komunitas Kristen Mormon dalam mengumpulkan miliaran arsip keluarga. Penggunaan sistem pengarsipan ini tidak hanya bertujuan untuk mengakumulasi arsip keluarga secara kuantitatif, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk memfasilitasi dan menyebarkan berkah kepada leluhur dan pendahulu. Pembahasan Dalam konteks keagamaan, Komunitas Kristen Mormon mengembangkan teknologi pengarsipan. Seperangkat doktrin Kristen Mormon dengan tegas menginstruksikan komunitas ini untuk mengelola arsip (dalam hal ini, arsip keluarga atau silsilah) sebagai komponen penting dalam perkembangan komunitas mereka. Digitisasi arsip melalui platform familysearch.org menjadi salah satu pilihan untuk mengoptimalkan perkembangan komunitas tersebut. Arsip tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi melalui familysearch.org, tetapi juga sebagai seperangkat instrumen sosio-teknologi yang mengubah cara komunitas mengumpulkan, mengarsipkan, dan mengakses arsip keluarga melalui teknologi digital. Lebih lanjut, melalui proses digitisasi ini, keterlibatan masyarakat baik dari internal maupun eksternal berhasil diaktifkan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa arsip bertransformasi dari instrumen sosio-teknologi menjadi sosio-teknologi yang berbasis religius di komunitas Kristen Mormon. Arsip sebagai instrumen sosio-teknologi berbasis religius memiliki arti sebagai "archival spirituality," yang dalam studi Warkentin yang diterbitkan pada tahun 2020, diartikan sebagai arsip (sebagai benda maupun tindakan) memiliki nilai spiritual dalam komunitas keagamaan karena digunakan untuk kebutuhan ibadah dan memberikan sudut pandang baru. Dalam studi ini, arsip sebagai instrumen sosio-teknologi berbasis religius bermakna sebagai "archival spirituality," yang merupakan kerangka sistem karena didasarkan pada doktrin religius yang inheren, baik yang bersifat spesifik maupun yang berkaitan, sehingga melegitimasi sekaligus menjadi orientasi dari praktik pengelolaan arsip tersebut. Situs familysearch.org merupakan bukti bahwa digitisasi arsip yang luas didorong oleh doktrin Kristen Mormon. Lebih lanjut, digitisasi arsip juga memperkuat doktrin Kristen Mormon itu sendiri. Secara ringkas, terdapat hubungan timbal balik antara digitisasi arsip dan doktrin religius dalam konteks ini. Gambar 2 merefleksikan hubungan timbal balik tersebut antara digitisasi arsip dan doktrin religius di dalam Komunitas Kristen Mormon. Memang, hubungan yang terjadi tidak semata-mata seederhana seperti hubungan antara doktrin religius dengan pembentukan praktik kearsipan, terutama dalam praktik pengelolaan arsip keluarga atau genealogi (Hjorthén, 2022). Namun, sebagian besar doktrin agama Kristen Mormon yang mendukung pendirian praktik arsip dalam kasus familysearch.org di Komunitas Kristen Mormon, dengan jelas membuktikan hal tersebut. Konteks sosial juga memiliki peran yang signifikan. Silsilah (genealogy) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Amerika kontemporer (Hjorthén, 2022). Sistem familysearch.org merancang partisipasi publik dalam mengumpulkan dan mengelola arsip keluarga atau silsilah. Akibatnya, pengarsipan silsilah sebagai elemen budaya Amerika kontemporer juga memberikan dampak pada berbagai lokus budaya yang berbeda melalui familysearch.org. Deskripsi pada bagian ini menggambarkan adanya hubungan timbal balik yang jelas antara digitisasi arsip dengan doktrin religius di dalam Komunitas Kristen Mormon. Hal ini memungkinkan komunitas ini mengalokasikan sumber daya mereka untuk mengembangkan sistem pengelolaan arsip melalui digitisasi. Salah satu hasil dari digitisasi ini adalah sebuah portal yang saat ini menjadi pengelola arsip silsilah terbesar di dunia. Upaya ini mendapatkan momentumnya karena memiliki legitimasi religius serta sejalan dengan konteks sosial dan perkembangan zaman. Analisis ini menegaskan bahwa dimensi religius sebagai penggerak pengelolaan arsip, terutama dalam konteks digitisasi arsip, memiliki peran yang signifikan dalam masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga memberikan kontribusi penting dalam memperkaya pemahaman tentang "archival spirituality." Sebelumnya, spiritualitas arsip pada pengelolaan arsip hanya terbatas dipandang karena arsip-arsip tersebut digunakan dalam praktik keagamaan. Dalam penelitian ini, "archival spirituality" merujuk pada sistem pengelolaan arsip secara menyeluruh yang memiliki dimensi sakral karena didasari oleh legitimasi dan orientasi keagamaan.

Conclusion

Dalam Komunitas Kristen Mormon, digitisasi arsip merupakan bagian dari praktik sakral yang didasari dan berorientasi pada doktrin keagamaan. Oleh karena itu, digitisasi pengelolaan arsip berkontribusi dalam memperkuat pelaksanaan praktik sakral dalam Komunitas Kristen Mormon. Komunitas Kristen Mormon mengalami dinamika yang tidak mudah hingga pengelolaan arsip dan digitisasinya menjadi relatif stabil. Kuncinya terletak pada pihak-pihak yang terus mengembangkan gagasan dengan dasar-dasar keagamaan mengenai pengelolaan arsip. Gagasam-gagasan ini kemudian diinstitusionalisasikan dalam suatu organisasi. Belajar dari kasus Komunitas Kristen Mormon, upaya pengembangan digitisasi pengelolaan arsip pada komunitas berbasis agama lainnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan dalil-dalid religius, Sehingga nantinya, kebermanfaatan arsip-arsip tersebut bisa dirasakan selain untuk komunitas internal serta juga bagi komunitas eksternal secara luas.. Riset ini bisa dikembangkan lebih lanjut dengan melakukan perbandingan di beberapa komunitas keagamaan.