Manajemen pengetahuan dalam melestarikan tradisi Seren Taun di Cigugur Kuningan
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Seren Taun merupakan upacara adat penting di Cigugur, Kabupaten Kuningan, yang sarat akan nilai budaya dan kearifan lokal. Namun, keberlanjutan tradisi ini menghadapi tantangan di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang manajemen pengetahuan dalam melestarikan Seren Taun di Cigugur Kuningan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan masyarakat adat, panitia Seren Taun, dan tokoh masyarakat, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek manusia (pengetahuan dan keahlian dari para tetua adat, keterlibatan generasi muda), organisasi (peran Yayasan Tri Mulya Tri Wikrama, pembentukan panitia), dan teknologi (media sosial, platform digital) berperan penting dalam mengelola dan mewariskan pengetahuan tentang Seren Taun. Namun, terdapat juga tantangan seperti kurangnya dokumentasi sistematis dan partisipasi generasi muda. Penelitian ini merekomendasikan strategi untuk meningkatkan manajemen pengetahuan dalam Seren Taun, seperti pengembangan sistem dokumentasi digital, program pendidikan budaya bagi generasi muda, dan pemanfaatan teknologi informasi untuk promosi dan diseminasi.
Abstract
Seren Taun is an important traditional ceremony in Cigugur, Kuningan Regency, rich in cultural values and local wisdom. However, the continuity of this tradition faces challenges in the modern era. This study aims to examine knowledge management in preserving Seren Taun in Cigugur, Kuningan. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through observations, interviews with indigenous people, the Seren Taun committee, and community leaders, as well as document studies. The results showed that human aspects (knowledge and expertise of traditional elders, youth involvement), organizational aspects (the role of the Tri Mulya Tri Wikrama Foundation, the formation of committees), and technology (social media, digital platforms) play an important role in managing and passing on knowledge about Seren Taun. However, there are also challenges, such as the lack of systematic documentation and youth participation. This study recommends strategies to improve knowledge management in Seren Taun, such as developing a digital documentation system, cultural education programs for youth, and utilizing information technology for promotion and dissemination.
Keywords:
Manajemen pengetahuan
· proses manajemen pengetahuan
· upacara adat
· tradisi
· Seren Taun
Introduction
Indonesia, dengan kekayaan budaya dan tradisinya, menyimpan segudang kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang sarat makna dan nilai luhur adalah upacara adat Seren Taun, yang diselenggarakan oleh masyarakat Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Seren Taun bukan sekadar perayaan panen biasa, melainkan sebuah manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah alam semesta. Lebih dari itu, Seren Taun merupakan wujud nyata penghargaan terhadap alam, simbol harmoni antara manusia dan lingkungannya. Kearifan lokal terpancar jelas dalam setiap prosesi dan simbol yang mengiringi Seren Taun. Tradisi gotong royong, di mana seluruh elemen masyarakat bahu-membahu demi kesuksesan upacara, menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian yang tinggi. Upacara ini juga sarat dengan pesan-pesan pelestarian lingkungan, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam untuk keberlanjutan kehidupan. Tak hanya itu, penghormatan kepada leluhur yang tersirat dalam setiap ritual juga menunjukkan kuatnya akar budaya dan tradisi yang mengikat masyarakat Cigugur. Istilah "Seren Taun" sendiri berasal dari bahasa Sunda, di mana "Seren" berarti menyerahkan dan "Taun" berarti tahun. Penamaan ini merefleksikan siklus tahunan alam dan penyerahan diri masyarakat kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Seren Taun merupakan pengingat bahwa manusia hidup di dunia ini bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta (Amalia & Haryana, 2023). Seren Taun dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 22 Rayagung dalam perhitungan kalender saka sunda yang bertempat di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Di Cigugur Kabupaten Kuningan, awal mula diadakannya upacara adat Seren Taun pada saat kepemimpinan ketokohan masyarakat yang bernama Pangeran Sadewa Madrais Alibasa Kusuma wijayaningrat. Pangeran Sadewa Madrais Alibasa Kusuma wijayaningrat atau yang dikenal dengan Pangeran Madrais merupakan putra dari Pangeran Alibasa (Pangeran Gebang ke-9) dan R. Kastewi. Pada tahun 1901 dalam kondisi perang upacara adat Seren Taun dilaksanakan dengan melakukan banyak ritual mensyukuri nikmat Tuhan dengan berpuasa dan ritual menyatukan harmonisasi antara alam raga dengan alam raya. Sampai pada tahun 1980 upacara adat Seren Taun hanya diikuti oleh masyarakat Cigugur dan murid-murid Pangeran Madrais yang tersebar di Jawa Barat. Rangkaian pembukaan Upacara Seren Taun ditandai dengan menyalakan damar sewu diseluruh wilayah Kelurahan Cigugur. Damar sewu adalah salah satu prosesi sebagai tanda bahwa pelaksanaan Seren Taun akan segera dimulai. Damar sewu dinyalakan oleh 4 orang penanggung jawab yang mengambil inti api dari Paseban Tri Panca Tunggal, kegiatan ini merupakan simbol dari istilah bahasa sunda “Orang Sunda Ulah Pareumeun Obor” yang artinya orang sunda jangan sampai kehilangan arah kehidupan. Adanya kita saat ini karena adanya masa lalu atau “kiwari ngancik bihari seja ayeuna pikeun jaga”. Atau bahwa kita hidup dalam setiap zaman dalam setiap era bukan untuk menikmati zaman itu tapi untuk menjalankan tugas dari Tuhan yang Maha Esa dan memberikan manfaat untuk keberlangsungan hidup diri sendiri, lingkungan sekitar dan sesama manusia. Tarian dadung (tali tambang pengikat ternak) merupakan ritual penyeimbangan alam agar hama dan unsur lain tidak mengganggu manusia. Tarian dadung adalah salah satu rangkaian dalam pelaksanaan upacara adat Seren Taun. Tarian dadung (tali tambang pengikat ternak) merupakan sebuah tarian yang dimainkan oleh anak laki-laki, bapak-bapak dan beberapa penyanyi kidung, tarian ini menggunakan tali tambang dengan melakukan tarian-tarian khas anak gembala. Tarian dadung ini menggambarkan seorang penggembala atau dalam bahasa sunda disebut dengan budak angon (anak gembala). Setelah menari-nari, para pemangku adat dan ketua adat berdoa bersama di hadapan kain putih kecil yang menyimbolkan itu hama, dan dilanjut dengan penanaman pohon. Penanaman pohon tersebut adalah bentuk ikhtiar masyarakat untuk melestarikan alam. Dengan harapan setelah membuang hama tadi tanaman dapat menjadi subur, selanjutnya ditutup dengan menabuh seribu kentongan. Kendati Seren Taun tetap lestari hingga kini dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Cigugur, arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin masif menghadirkan tantangan tersendiri. Nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang terkandung dalam Seren Taun perlu terus menerus ditransmisikan agar tetap relevan dan dihayati oleh generasi muda, di tengah gempuran budaya global yang serba praktis dan instan. Keberadaan Seren Taun merupakan aset tak ternilai bagi warisan budaya Indonesia. Melestarikan Seren Taun berarti menjaga agar rantai kearifan yang telah diwariskan secara turun-temurun tetap terjaga, memperkuat identitas budaya bangsa, dan melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Seiring berkembangnya zaman upacara adat Seren Taun tidak hanya menggelar kegiatan ritual saja, terdapat pementasan kesenian sebagai pertunjukkan pagelaran pesta rakyat, perlombaan olahraga, pentas kesenian, pelayanan pengobatan dari RSU KMC Kuningan, seminar, festival manuskrip serta penampilan kreativitas memeron yang dibuat oleh masyarakat yang ditampilkan pada helaran budaya dan prosesi puncak Seren Taun. Hasil bumi yang digunakan dalam pelaksanaan upacara adat Seren Taun sebagai tanda syukur hasil panen yang melimpah yakni meliputi padi, sayur-sayuran, umbi-umbian, buah-buahan dan hewan ternak seperti ayam dan ikan. Hasil bumi atau hasil panen ini akan diarak pada prosesi acara puncak yaitu pada saat ngajayak. Dari kegiatan tradisi upacara Seren Taun, masyarakat Cigugur dan masyarakat yang datang pada kegiatan tersebut bisa mengetahui kegiatan dan aktivitas terdahulu yang masih dilestarikan sampai saat ini. Kegiatan pelaksanaan upacara adat Seren Taun perlu dilestarikan untuk menjaga warisan leluhur, selain itu pelaksanaan upacara adat Seren Taun merupakan bagian dari melestarikan alam dan menjaga keseimbangan alam. Dalam konteks inilah, urgensi pelestarian Seren Taun menjadi semakin mengemuka. Salah satu upaya krusial yang perlu dilakukan adalah melalui penerapan manajemen pengetahuan yang efektif. Manajemen pengetahuan dapat menjadi jembatan penghubung antara generasi masa kini dengan kearifan masa lalu, memastikan bahwa Seren Taun tetap hidup dan lestari di masa depan. Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji Seren Taun dari berbagai perspektif, seperti kajian antropologi oleh Indratno et al. (2021), yang menyoroti pentingnya upacara Seren Taun sebagai manifestasi dari konservasi alam dan identitas budaya masyarakat Cigugur. Selain itu, kajian nilai-nilai kearifan lokal oleh Hasybullah, (2019) juga menunjukkan bagaimana manajemen acara dalam upacara tersebut mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya yang mendalam. Dalam konteks etnopedagogi, menggarisbawahi pentingnya ritual tersebut dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya lokal sebagai identitas bangsa (Suhaedi & Nurjanah, 2023). Selain itu, Subiantoro (2017)juga memberikan wawasan tentang estetika dan nilai-nilai yang terkandung dalam Seren Taun, menunjukkan bagaimana seni dan ritual tersebut berfungsi sebagai panduan dalam mencapai harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Kajian nilai-nilai kearifan lokal oleh Qomarrullah, (2024) menekankan peran masyarakat adat dalam pendidikan berbasis lingkungan, yang relevan dengan konteks pelestarian budaya melalui pendidikan. Sementara itu, penelitian oleh Tohani dan Sugito (2019) menunjukkan pentingnya penguatan literasi budaya bagi pelaku seni budaya, yang dapat berkontribusi pada pelestarian tradisi seperti Seren Taun. Namun, kajian yang secara khusus dan komprehensif mengkaji tentang bagaimana penerapan manajemen pengetahuan dalam melestarikan Seren Taun masih terbatas. Penelitian yang ada lebih banyak berfokus pada aspek budaya dan ritual tanpa mengintegrasikan pendekatan manajemen pengetahuan yang dapat meningkatkan efektivitas pelestarian budaya tersebut. Sebagai contoh, penelitian oleh Latuperissa (2020) mengenai model konseptual pengelolaan pengetahuan di institusi pendidikan menunjukkan bahwa pendekatan sistematis dalam pengelolaan pengetahuan dapat meningkatkan efektivitas dalam menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menitikberatkan fokus pada bagaimana aspek manusia, organisasi, dan teknologi berperan dalam mengelola dan mewariskan pengetahuan tentang Seren Taun di Cigugur. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pelestarian budaya, tetapi juga memberikan wawasan baru dalam penerapan manajemen pengetahuan dalam konteks budaya lokal. Penerapan manajemen pengetahuan yang efektif menjadi krusial untuk menjembatani kearifan masa lalu dengan generasi masa kini, memastikan Seren Taun tetap hidup dan lestari. Manajemen pengetahuan berperan penting dalam menjaga dan melindungi pengetahuan agar tidak hilang, terutama dari risiko terlupakan dan terputusnya transmisi antar generasi. Berkes (2009) menekankan bahwa pengelolaan pengetahuan yang baik dapat membantu dalam proses pembelajaran sosial dan kolaboratif, yang esensial dalam menjaga warisan budaya. Lebih lanjut, masyarakat adat Cigugur dapat memanfaatkan manajemen pengetahuan untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mentransmisikan pengetahuan tentang Seren Taun kepada generasi mendatang. Terdapat tiga tahapan penting dalam manajemen pengetahuan, yaitu penciptaan, berbagi, dan pemanfaatan pengetahuan. Ketiga tahapan ini sangat relevan dalam konteks Seren Taun, mulai dari pendokumentasian yang sistematis untuk mencegah hilangnya pengetahuan berharga, hingga transmisi pengetahuan yang tepat sasaran agar generasi muda memahami dan menghargai warisan budaya mereka. Pentingnya pendokumentasian dan transmisi ini berakar pada hakikat pengetahuan dan budaya itu sendiri. Pengetahuan lahir dari akumulasi pengalaman, nilai-nilai, informasi, dan wawasan, yang dipelajari dan dibentuk melalui interaksi sosial dan budaya. Oleh karena itu, melestarikan Seren Taun berarti juga menjaga kelangsungan pengetahuan dan budaya yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan relevan di masa depan (Madonsela, Semenya, & Shale, 2024). Upaya pelestarian ini dapat dioptimalkan dengan menitikberatkan fokus pada bagaimana aspek manusia, organisasi, dan teknologi berperan dalam mengelola dan mewariskan pengetahuan tentang Seren Taun di Cigugur. Aspek manusia mencakup peran vital para tetua adat sebagai pemegang pengetahuan, keterlibatan generasi muda dalam proses regenerasi budaya, serta peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam melestarikan tradisi ini. Keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat ini menjadi kunci dalam menjaga keberlanjungan Seren Taun. Selanjutnya, aspek organisasi meliputi peran lembaga adat, kelompok masyarakat, dan institusi pendidikan dalam merumuskan strategi pelestarian yang terstruktur dan berkelanjutan. Dukungan dan sinergi antar berbagai organisasi ini sangat krusial dalam menciptakan ekosistem pelestarian budaya yang kondusif. Lembaga adat dan kelompok masyarakat dapat bekerja sama dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Seren Taun, sementara institusi pendidikan dapat mengintegrasikan pengetahuan tentang Seren Taun ke dalam kurikulum mereka. Di era digital ini, aspek teknologi juga memegang peranan yang sangat penting. Aspek ini mengeksplorasi bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi katalis dalam pendokumentasian, diseminasi, dan pelestarian Seren Taun. Platform digital dapat digunakan untuk membangun basis data digital yang komprehensif tentang Seren Taun, sementara media sosial dapat menjadi wadah untuk mempromosikan dan menyebarluaskan informasi tentang Seren Taun kepada khalayak yang lebih luas. Teknologi multimedia, seperti video dan animasi, dapat digunakan untuk mendokumentasikan dan mempresentasikan Seren Taun dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda. Penelitian ini sendiri bertujuan untuk: (1) Menganalisis secara komprehensif aspek manusia, organisasi, dan teknologi dalam manajemen pengetahuan Seren Taun di Cigugur. (2) Mengidentifikasi secara mendalam tantangan dan peluang dalam mengelola dan mewariskan pengetahuan tentang Seren Taun di era modern. (3) Merumuskan strategi yang inovatif dan aplikatif untuk meningkatkan efektivitas manajemen pengetahuan dalam melestarikan Seren Taun.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk menggali secara mendalam aspek manajemen pengetahuan dalam tradisi upacara adat Seren Taun di Cagar Budaya Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Pilihan ini didasarkan pada sifat penelitian yang ingin memahami secara holistik bagaimana rangkaian kegiatan dalam tradisi Seren Taun merepresentasikan elemen-elemen manajemen pengetahuan, seperti yang dijelaskan oleh Yin (2018). Melalui pendekatan ini, penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan makna dan proses yang terjadi dalam pelestarian Seren Taun, sejalan dengan definisi penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Creswell (2014), sebagai metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang terkandung dalam suatu fenomena sosial. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan subjek penelitian. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu individu-individu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mendalam terkait manajemen pengetahuan dalam tradisi Seren Taun. Subjek penelitian ini meliputi: (1) Penghayat Kepercayaan Adat Karuhun Urang (AKUR) yang memiliki peran sentral dalam pelestarian tradisi; (2) Pengurus atau panitia Upacara Seren Taun yang terlibat langsung dalam pengelolaan dan pelaksanaan upacara; (3) Warga Kelurahan Cigugur yang memiliki pengetahuan dan pengalaman turun-temurun tentang Seren Taun; dan (4) Tokoh masyarakat atau budayawan yang dipandang memiliki pengetahuan dan wawasan luas tentang Seren Taun dan manajemen pengetahuannya. Objek penelitian ini adalah aspek manusia, organisasi, dan teknologi dalam manajemen pengetahuan pada tradisi dan budaya upacara Seren Taun di Cagar Budaya Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan di Cagar Budaya Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang merupakan lokasi dilaksanakannya upacara adat Seren Taun. Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data: (1) Data primer, diperoleh secara langsung melalui observasi partisipan dalam pelaksanaan upacara Seren Taun untuk mengidentifikasi pola dan proses manajemen pengetahuannya, dan wawancara mendalam dengan subjek penelitian untuk menggali pengetahuan, pengalaman, dan perspektif mereka terkait aspek manusia, organisasi, dan teknologi dalam pengelolaan Seren Taun. (2) Data sekunder, diperoleh dari studi kepustakaan seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dokumen resmi, dan sumber informasi daring yang relevan untuk mendukung dan memperkaya analisis data primer. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui: (1) Observasi partisipan dalam pelaksanaan upacara Seren Taun untuk mengidentifikasi pola dan proses manajemen pengetahuannya. (2) Wawancara mendalam dengan subjek penelitian yang dipilih untuk menggali pengetahuan, pengalaman, dan perspektif mereka terkait aspek manusia, organisasi, dan teknologi dalam pengelolaan Seren Taun. (3) Dokumentasi untuk memperoleh data-data tertulis dan visual yang relevan dengan penelitian. (4) Studi kepustakaan untuk memperoleh data sekunder dari berbagai sumber. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, (2014) yang meliputi: (1) Reduksi data, yaitu meringkas, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya, dan membuang yang tidak perlu. (2) Penyajian data, yaitu menyusun informasi yang didapat dari lapangan ke dalam bentuk teks naratif, bagan, diagram, atau matriks untuk memudahkan dalam memahami data. (3) Penarikan kesimpulan atau verifikasi, yaitu menginterpretasikan data dan merumuskan kesimpulan yang kredibel dan valid. Untuk meningkatkan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dengan membandingkan data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan studi kepustakaan (Sugiyono & Lestari, 2021). Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang didapatkan dari berbagai sumber. Misalnya, data hasil observasi tentang peran AKUR dalam Seren Taun, dibandingkan dengan hasil wawancara dengan AKUR (Ibu Juwita Djatikusumah, putri dari Pangeran Djatikusumah dan ketua pelaksana upacara adat Seren Taun) dan informasi dari studi kepustakaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan konsistensi dan keabsahan data yang diperoleh (Dzwigol, 2022; Meydan & Akkaş, 2024).
Result & Discussion
Penelitian ini mengkaji aspek manajemen pengetahuan dalam upaya pelestarian tradisi upacara adat Seren Taun di Kelurahan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Fokus penelitian ini adalah menganalisis bagaimana elemen manusia, proses, dan teknologi berperan dalam mengelola dan mewariskan pengetahuan terkait Seren Taun. Pemahaman holistik terhadap ketiga elemen ini penting untuk memastikan keberlanjutan tradisi Seren Taun di tengah dinamika sosial budaya masyarakat. Aspek manusia merupakan elemen krusial dalam manajemen pengetahuan Seren Taun. Sebagaimana dijelaskan oleh Astuti, Rachmawati, & Rusmana (2023), manusia adalah aktor utama yang membawa, mewariskan, dan mengembangkan pengetahuan. Dalam konteks Seren Taun, terdapat beragam individu dan kelompok yang terlibat, seperti pendiri, generasi penerus, Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR), tokoh masyarakat, hingga masyarakat luas. Peran aktif dan interaksi antar aktor ini membentuk sistem pengetahuan yang dinamis dan berkelanjutan. Peran sentral dalam pelestarian Seren Taun dipegang oleh para penerus Pangeran Madrais Alibasa Kusuma Wijayaningrat, pendiri tradisi ini. Pangeran Madrais berperan sebagai "Rama Panyipta" yang menciptakan ajaran dan nilai-nilai luhur Seren Taun. Pengetahuan ini kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya, di mana Pangeran Tedja Buana, sebagai "Rama Pangwedar", menafsirkan dan memperjelas makna simbolis Seren Taun. Selanjutnya, Pangeran Djatikusumah, sebagai "Rama Panyusun", mengembangkan pola-pola penghayatan dan ekspresi budaya Seren Taun. Keterlibatan aktif tiga generasi pemimpin ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang visioner dalam memastikan keberlanjutan pengetahuan Seren Taun (Ignasius Herry Subiantoro, 2019). Selain peran pemimpin, partisipasi aktif masyarakat juga menjadi kunci pelestarian Seren Taun. Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) memiliki peran vital dalam memelihara dan meneruskan nilai-nilai luhur Seren Taun secara turun-temurun. Keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang, baik sebagai peserta aktif maupun penonton, menunjukkan bahwa Seren Taun bukan hanya sebuah ritual keagamaan, namun juga menjadi identitas kolektif dan sarana mempererat ikatan sosial. Hal ini sejalan dengan pendapat Juwita Djatikusumah (Wawancara, 29 November 2023) yang menyebutkan bahwa Seren Taun melibatkan tokoh agama dan masyarakat dari berbagai latar belakang, menciptakan semangat kebersamaan dan toleransi. “Meskipun penyelenggara upacara adat Seren Taun adalah masyarakat akur sunda wiwitan tetapi dalam kepanitiaan Seren Taun kita melibatkan dari tokoh-tokoh agama seperti tokoh muslim, pastor, katolik dan kristen mereka terlibat aktif dalam Seren Taun. Kami kan di sini upacara adat Seren Taun dilaksanakan di bulan terakhir dalam tanggalan Saka Sunda, Nah belum tentu juga setelah panen, karena ini syukuran. Simbol padi dan lain sebagainya itu adalah simbol yang menggambarkan bahwa kita adalah masyarakat agraris, simbol-simbol wujud syukur tersebut yang kita bisa tampilkan di Seren Taun mengingatkan bahwa karena kita adalah tanah yang subur dan hasil buminya. Sebagai dari apa yang masyarakat kumpulkan itu kan akhirnya dikembalikan lagi ke masyarakat.” (J. Djatikusumah, Wawancara, 29 November 2023). Elemen proses dalam manajemen pengetahuan Seren Taun tercermin dalam mekanisme dan struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan tradisi ini (Astuti et al., 2023). Yayasan Tri Mulya Tri Wikrama, sebagai organisasi pengelola Seren Taun, memiliki peran penting dalam mengkoordinasikan berbagai aktivitas, mulai dari perencanaan, pengumpulan sumber daya, hingga pelaksanaan upacara. Keterlibatan berbagai pihak, seperti Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR), masyarakat Cigugur, pemerintah daerah, sejarawan, budayawan, dan seniman, menunjukkan adanya sistem yang terstruktur dalam mengelola pengetahuan Seren Taun. Proses pengorganisasian dalam Seren Taun mencerminkan upaya aktif dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Pembentukan kepanitiaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat menunjukkan adanya proses pewarisan pengetahuan secara horizontal, yaitu antar sesama anggota masyarakat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Gunadi (Wawancara, 19 Maret 2024) bahwa panitia inti Seren Taun adalah masyarakat adat yang memahami seluruh prosesi adat, sementara elemen masyarakat lainnya turut berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Yang pertama masyarakat adat AKUR yang terbagi di beberapa wilayah masuk seperti Garut Bandung Ciamis dan sekitarnya. Kemudian masyarakat Cigugur juga yang di sini dan sekitar (lintas kepercayaan) semua membantu”. (Gunadi, Wawancara, 19 Maret 2024). Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) adalah masyarakat yang masih memegang teguh ajaran leluhur sunda yang dinamakan dengan budaya spiritual yang berisikan ajaran dalam cara berperilaku sebagai manusia serta tujuan manusia hidup di dunia ini untuk menghayati Tuhan Yang Maha Esa karena itu sebagai bukti kodrat manusia, kesadaran hidup dalam beragama, bermasyarakat dan berkelompok bagi para penghayat. Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) berada di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan, di Kelurahan Cigugur terdapat beberapa kepercayaan yang hidup berdampingan dengan adanya sikap toleransi dan saling menghargai sesama. Keterlibatan pemerintah daerah, meskipun belum terlalu signifikan, menunjukkan adanya potensi dukungan dari sektor publik dalam pelestarian Seren Taun. Peran pemerintah dalam hal ini dapat dioptimalkan, misalnya dengan mengintegrasikan Seren Taun ke dalam program pengembangan pariwisata dan kebudayaan daerah. Dukungan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan promosi Seren Taun kepada masyarakat luas. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Gunadi, beliau mengatakan bahwa: “Pemerintah Daerah (PEMDA) kuningan ada keterlibatan tapi belum terlalu signifikan untuk respon terhadap Seren Taun walaupun sudah menjadi kalender hitamnya kabupaten kuningan. Kemungkinan kedepannya bakal kerjasama sama dinas-dinas tapi sebelumnya Seren Taun lebih fokus pada peran masyarakatnya sendiri, malah cenderung lebih keterlibatan dalam sektor sejarawan, budayawan, seniman mereka bisa lebih terlibat secara aktif di Seren Taun, belum terlalu signifikan sih respon dari dinas sebetulnya. Semakin kesini semakin kita bisa melibatkan seluruh elemen, secara tujuan dan fungsi kan bukan hanya sekedar melestarikan nilai leluhur warisan adat dan budaya tetapi ini bakal berdampak juga kepada destinasi wisata, positioning branding kabupaten, kunjungan wisata juga yang menjadi besar untuk kabupaten dan nasional” (Gunadi, Wawancara, 19 Maret 2024). Pelaksanaan upacara adat seren juga bekerjasama dengan pihak sejarawan, budayawan dan seniman, karena organisasi tersebut lebih terlibat secara aktif dalam Seren Taun. Seperti pada kegiatan seminar atau pada pameran benda-benda pusaka sesuai dengan temanya. Karena setiap tahunnya pelaksanaan upacara adat Seren Taun memiliki tema yang berbeda, akan selalu ada hal yang menarik di setiap tahunnya namun tetap tidak menghilangkan ritual adat inti. Hal tersebut yang juga menjadikan upacara adat Seren Taun di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan. Aspek ketiga adalah aspek teknologi, hadirnya perkembangan teknologi menjadi landasan utama dalam peningkatan pengelolaan pengetahuan serta menjadi sarana penunjang dalam melancarkan proses distribusi pengetahuan agar lebih optimal (Astuti et al., 2023). Aspek teknologi dalam manajemen pengetahuan Seren Taun mengalami pergeseran dari model tradisional menuju platform digital. Dahulu, penyebaran informasi mengenai Seren Taun mengandalkan komunikasi lisan dan jejaring koordinator wilayah. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan YouTube dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan audiens dan mendokumentasikan Seren Taun secara digital. Penyebaran informasi yang digunakan untuk memberikan informasi mengenai pelaksanaan upacara adat Seren Taun yaitu melalui jejaring koordinator wilayah. Dengan melakukan pembuatan surat permohonan kepada instansi Dinas Pariwisata dan Budaya (DISPARBUD), tentu saja Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) memiliki jejaring seperti Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan lainnya melalui komnas HAM dengan begitu maka informasi mengenai pelaksanaan upacara adat Seren Taun akan tersampaikan dengan merata. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Gunadi, beliau mengatakan bahwa: “Sebetulnya perkembangan Seren Taun dengan masyarakat akur sunda wiwitan ini juga punya jejaring koridor budaya adat dan sejarah ini kan ada jejaringnya, baik itu lewat aliansi misalnya ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika), AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) dan sebagainya lewat komnas HAM karena ada juga dari kita yang menjadi bagian komnas HAM, jejaring-jejaring pergerakan untuk eksistensi adat ini juga otomatis menyentuh ke beberapa wilayah di Indonesia. Kan masyarakat adat ada banyak, dimana-mana, termasuk beberapa pemerhati adat tuh ada sebetulnya ada kelembagaan-kelembagaan tertentu, nah lewat mereka-mereka ini kita berbagi informasi, berbagi data istensi” (Gunadi, Wawancara, 19 maret 2024). Sesuai dengan perkembangan teknologi, panitia menggunakan media WhatsApp yang tujuannya agar dapat mempermudah dalam koordinasi mengenai persiapan Seren Taun. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Yadi, beliau mengatakan bahwa: “Ada grup WhatsApp, grup WhatsApp dibuatkan oleh ketua pelaksana. Biasanya sih grup ini dipake buat ngasih tau arahan teknis pelaksanaan” (Yadi, Wawancara, 13 maret 2024). Selain itu panitia juga membuat akun official media sosial Instagram dan YouTube yang dibuat untuk mengenalkan salah satu warisan budaya yang ada di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan. Akun Instagram dengan username @serentauncigugur, berisikan konten dokumentasi yang meliputi foto maupun video mengenai pelaksanaan upacara adat Seren Taun. Sedangkan akun YouTube dengan username @pasebantripancatunggal1351 berisikan konten video pelaksanaan upacara adat Seren Taun dengan durasi 10-60 menit. Penelitian ini juga menganalisis proses manajemen pengetahuan pada tradisi upacara adat Seren Taun. Dalam perspektif manajemen pengetahuan Saini, Jain, dan Jain (2023), mengemukakan bahwa terdapat tiga tahap proses manajemen pengetahuan yaitu tahap penciptaan pengetahuan (knowledge creation), berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dan pemanfaatan pengetahuan (knowledge utilization). Pertama adalah tahap penciptaan pengetahuan (knowledge creation) didefinisikan bahwa Proses dan kemampuan organisasi untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang ide, gagasan, dan solusi baru disebut penciptaan pengetahuan. Proses ini berlangsung secara dinamis dan interaktif, dan tujuan dari penciptaan pengetahuan adalah untuk membangun hubungan yang melibatkan penciptaan pengetahuan. Pengetahuan dapat dibuat dan diubah dari pengetahuan eksplisit menjadi pengetahuan tacit, dan dari pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit melalui empat proses SECI yang terdiri dari sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi (Kianto, Shujahat, Hussain, Nawaz, & Ali, 2019). Penciptaan pengetahuan mengenai upacara adat Seren Taun tercipta pada saat masa kepemimpinan ketokohan Pangeran Madrais Alibasa Kusumah Wijayaningrat atau dikenal dengan Pangeran Sadewa Madrais. Pangeran Madrais merupakan putra dari Pangeran Alibasa keturunan 9 kepangeranan gebang yang menikah dengan Ratu Kastewi yang merupakan keturunan kelima dari Tumenggung Jayadipura dari susukan. Untuk menyelamatkan keturunan gebang selanjutnya maka putra Pangeran Alibassa dilahirkan di Desa Susukan Ciawi Gebang Kabupaten Kuningan. Pada tahun 1825 Pangeran Madrais diasuh dan dibesarkan oleh Ki Sastrawardana, untuk menyamarkan identitasnya Pangeran Madrais menggunakan nama samaran yakni Taswan. Berbeda dengan anak keturunan darah biru lainnya sejak kecil beliau mengalami tempaan dengan kemandirian mulai dari menjadi anak gembala kerbau dan beliau sempat bekerja pada kuwu Sagarahyang. Setelah beranjak dewasa beliau meninggalkan Sagarahyang dengan alasan ingin berpetualang menekuni ilmu spiritual. Sebelum mendirikan ajarannya beliau mengembara ke beberapa tempat di Jawa Barat untuk mencari makna hidup. Pengembaraan yang dilakukan oleh Pangeran Madrais merupakan babak penting bagi Sejarah dari kepercayaan sunda wiwitan, karena dari pengembaraan tersebut melahirkan pokok-pokok ajaran kepercayaan Agama Djawa Sunda (ADS) (Sutarno, Samho, & Yasunari, 2023). Pada tahun 1840 nama Madrais mulai dikenal karena atas keberhasilannya dalam pertanian yang ditekuninya, Madrais merupakan petani bawang merah yang cukup sukses. Melalui pendekatan dengan membina sistem pertanian bawang kepada masyarakat, beliau juga menanamkan semangat nasionalisme. Dalam perkembangannya, kepercayaan ini menyebar ke beberapa tempat dan daerah seperti Majalengka, Indramayu, Ciamis, Bogor, Bandung dan Jakarta (Indrawardana, 2014). Dalam masa penjajahan, ketika Jepang berhasil mengusir Belanda, Jepang akhirnya menguasai Nusantara. Pada saat itu, kepercayaan ini sudah memiliki pengikut yang lebih banyak dari sebelumnya. Perjuangan untuk mengembangkan kepercayaan ini tentu saja tidaklah mudah, Pangeran Madrais sering berseteru dengan pemerintah kolonial Belanda. Spirit perlawanan terhadap para penjajah selalu beliau tanamkan melalui kegiatan kebudayaan tidak hanya di Cigugur beliau juga berkeliling ke daerah parahyangan hingga Jawa Timur dengan identitas yang disamarkan. Perjuangan dalam mengembangkan kepercayaan ini tidak mudah, hingga pangeran madrais harus berseteru dengan kolonial Belanda hingga pangeran madrais meninggal dunia pada tahun 1939. Tugas kepemimpinan tersebut dilanjutkan oleh putranya yang bernama Pangeran Tedjabuana. Pada masa kepemimpinan Pangeran Tedjabuana, mengalami banyak tekanan dari kelompok sosial yang berseberangan paham dan dari pihak yang berkuasa. Khususnya pada pendudukan jepang dan dan masa orde lama karena kepercayaan ini pernah dibubarkan pada periode tersebut. Tahun 1964 kepercayaan sunda wiwitan mendapatkan tekanan yang berat sehingga membuat Pangeran Tedja buana menyerah dan membubarkan kepercayaan lokal ini. Sekitar tahun 1981 Pangeran Djatikusumah berinisiatif untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh kakek dan ayahnya. Pangeran Djatikusumah mulai kembali dan merangkul lagi penganut ADS dengan membuat organisasi Paguyuban Cara Karuhun Urang (PACKU). Berdirinya komunitas atau Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) tidak terlepas dari ajaran ADS yang dicetus dan dikembangkan oleh Pangeran Madrais. Pada masa kepemimpinan Pangeran Djatikusumah keberadaan PACKU ini untuk menegaskan kembali beberapa ajaran ADS mengenai penyadaran kembali akan tumbuhnya manusia sebagai adikodrati yang dimiliki bangsa (Wulandari, Gunawan, & Bandarsyah, 2019). Saat kepemimpinan ini, Pangeran Djatikusumah mengalami kendala jatuh bangun pada masa penyebarannyA. PACKU dilarang oleh pengadilan negeri tinggi karena dianggap kepercayaan ini adalah kepercayaan yang tidak sesuai atau menyimpang dan dianggap telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat, pihak pemerintahan setempat dan kelompok agama tertentu. Mereka memandang bahwa PACKU merupakan kelanjutan dari ADS yang jelas sudah dilarang penyebarannya sejak tahun 1964 (Wulandari et al., 2019). Narasumber menyampaikan bahwa: “Padahal yang dilakukan oleh kepercayaan ini hanya sebuah tradisi dimana manusia bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan”. (J. Djatikusumah, Wawancara, 29 November 2023). Pada tahun 1982 melalui Surat Keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat no. Kep-44/K.2.3/8/1982 yang berisikan melarang tegas kegiatan dan penyebaran ajaran PACKU. Setelah secara resmi dibubarkan, selama 17 tahun PACKU mengalami jatuh bangun pada sekitar tahun 1982-1999 dilarang oleh Kejaksaan Tinggi, namun pada saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur kepercayaan ini mendapatkan izin, penganut kepercayaan tersebut memberikan nama dirinya dengan sebutan kelompok penghayat. Sesuai dengan dengan yang disampaikan oleh Juwita Djatikusumah, beliau mengatakan bahwa: “Seren Taun pernah mengalami kendala kalau tidak salah dari tahun 1982-1999 Seren Taun dilarang oleh Pengadilan Negeri Tinggi karena dianggap ini adalah upacara aliran sesat. Padahal ini adalah sebuah tradisi dimana manusia bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan. Namun ada sekelompok yang tidak suka dengan hal tersebut, tanpa mengkaji terlebih dahulu atau dengan bukti-bukti apa mereka bisa menyimpulkan bahwa ini aliran sesat. 17 tahun kita dilarang namun pada saat pemerintahan Gus Dur kami diperbolehkan kembali, akhirnya mereka bisa membuktikan sendiri bahwa tidak ada hal-hal negatif dari spirit pelestarian budaya Seren Taun dan justru pada akhirnya Seren Taun bisa menjadi pengikat kebersamaan dan kebersatuan masyarakat yang beragam agama serta beragam suku. Seren Taun bisa mempersatukan elemen manapun untuk Bersatu dan bergotong royong”. (J. Djatikusumah, Wawancara, 29 November 2023). Kata “Penghayat” disini memiliki arti sebagai pelaku adat yang berdasarkan pada aspek budaya spiritual yang menghayati kebesaran sang pencipta. Sebagai penghayat yang sekarang lebih dikenal dengan masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) mereka memiliki pandangan bahwa semua agama harus menghayati keesaan Tuhan dengan pandangan kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Dan pada akhirnya sampai saat ini masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) hidup dengan damai bersama penganut kepercayaan lain di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Kedua adalah tahap proses berbagi pengetahuan (Knowledge Sharing) Berbagi pengetahuan adalah transfer pengetahuan antara berbagai bagian dan anggota organisasi. Olander et al. (2016) menyatakan bahwa berbagi pengetahuan dapat dibagi menjadi kategori formal dan informal. Berbagi pengetahuan terdiri dari dua aspek: pengumpulan pengetahuan dan sumbangan pengetahuan. Konsultasi dengan karyawan perusahaan adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan, dan mengkomunikasikan pengetahuan seseorang kepada orang lain (Kianto et al., 2019). Proses berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dalam pelaksanaan upacara adat Seren Taun terdiri beberapa proses. Ketua adat akan mentransfer pengetahuan mengenai pelaksanaan upacara adat Seren Taun dan rangkaiannya dengan mengajak langsung anak-anak sebagai generasi penerusnya ikut berkontribusi dalam pelaksanaan upacara adat Seren Taun. Sesuai dengan yang disampaikan oleh narasumber bahwa: “Dengan kita ajak langsung anak-anak kecil belajar menari, senanglah mereka karena bisa eksis menarik ditonton banyak orang dari situ perlahan mereka akan merasa senang ya apalagi ada teman baru, mereka juga melihat bagaimana orang-orang dari luar datang mengapresiasi itu juga yang menjadi spirit buat mereka untuk mempertahankan tradisi ini. Apalagi 2 tahun kemarin mereka bisa melihat anak-anak muda tampil menarik tampil dengan luar biasa dan akhirnya ada keinginan untuk lebih mau belajar mengenal tarian-tarian Sundanya. dengan begitu saja Saya pikir itu sudah meregenerasi nilai untuk mempertahankan tradisi” (J. Djatikusumah, Wawancara, 29 November 2023). Peneliti melihat adanya upaya yang dilakukan ketua adat yaitu dengan mengajak anak-anak tampil di pelaksanaan Seren Taun, yang terbagi dalam beberapa penampilan kesenian dan beberapa rangkaian dari pelaksanaan upacara adat seren taun, seperti di libatkan dalam prosesi siraman baleg kembang, ritual pesta dadung atau budak angon, tari buyung, helaran budaya, seminar dan pameran, serta proses berbagi pengetahuan (knowledge sharing) bagi seseorang yang ingin mengetahui upacara adat Seren Taun dapat dilihat di akun sosial media yang tersedia di Instagram dan YouTube. Proses berbagi pengetahuan (knowledge sharing) juga dapat dilihat dari prosesi siraman baleg kembang. Prosesi siraman baleg kembang adalah prosesi yang dilakukan sebagai simbol bahwa anak-anak baleg kembang sudah akil baligh (dalam muslim). Dengan tujuan dapat mensugesti anak tersebut bahwa mereka telah diberkati atau di sucikan agar dapat menjadi generasi yang bisa membanggakan orangtuanya dan secara simbolis ketua adat menitipkan kepercayaan sunda wiwitan dan Seren Taun kepada mereka sebagai generasi penerus (J. Djatikusumah, Wawancara, 29 November 2023). Peneliti melihat adanya proses berbagi pengetahuan (knowledge sharing) lainnya yaitu dalam ritual pesta dadung (tali tambang/pengikat ternak) atau budak angon (anak gembala). Ritual pesta dadung (tali tambang/pengikat ternak) atau budak angon (anak gembala) digelar di Situ Hyang atau Taman Mayasih, pesta dadung (tali tambang/pengikat ternak) terbagi dalam tiga rangkaian yaitu (1) doa atau rajah siliwangi, tari budak angon (anak gembala) (2) pembuangan hama dan penanaman pohon dan (3) Seribu Kentongan (Amalia & Haryana, 2023) Ritual pesta dadung (tali tambang/pengikat ternak) dilakukan oleh para penyanyi, penari dan pemain musik yang berperan sebagai budak angon (anak gembala), tarian dadung ini diperankan oleh anak laki-laki dan bapak-bapak dengan menggunakan tali tambang. Ritual pesta dadung ini diartikan sebagai bentuk hiburan bagi budak angon (anak gembala) saat menggembala hewan ternaknya di ladang. Adapun rangkaian penghijauan dengan melakukan penanaman pohon di Kawasan tersebut sebagai bentuk usaha masyarakat adat untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan menjadi pengingat bagi masyarakat adat bahwa mereka telah mengambil banyak dari alam namun minimnya kontribusi imbalan untuk alam (Respati, Narawati, & Nugraheni, 2023). Ketiga adalah tahap proses pemanfaatan pengetahuan (knowledge creation) adalah Pengetahuan disimpan, diambil, diakses, dan digunakan secara efektif untuk tujuan strategis melalui mekanisme organisasi yang dikenal sebagai pemanfaatan pengetahuan. Faktor-faktor yang mendorong pemanfaatan pengetahuan termasuk penghargaan, kepercayaan, keterbukaan, orientasi jangka panjang, alokasi dan pengembangan sumber daya dan dana, teknologi informasi, tingkat pengetahuan yang ideal, berbagi, asimilasi, dan penciptaan pengetahuan, keinginan dan motivasi, dan basis pengetahuan (Kianto et al., 2019). Pengetahuan mengenai upacara adat Seren Taun dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan baik itu dari panitia, tamu undangan, masyarakat adat dan penonton yang menghadiri pelaksanaan upacara adat Seren Taun maupun yang melihat melalui media sosial Instagram dan youTube. Dengan menonton secara langsung maupun tidak langsung mereka akan mendapatkan pengetahuan baru, pengetahuan baru tersebut dapat dimanfaatkan kembali serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pengetahuan baru yang akan di dapatkan adalah mengenai adat, tradisi dan kebudayaan yang ada di Kelurahan Cigugur serta masih terjadi sampai saat ini, lalu masyarakat juga akan mendapatkan pengetahuan baru mengenai masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR). Sesuai dengan yang disampaikan Nanda, beliau mengatakan bahwa: “Karena itu pertama kali saya nonton Seren Taun, saya jadi tau kalau di kuningan ada Seren Taun teh, saya juga jadi tau Seren Taun itu merupakan kegiatan syukuran atas panen. Saya juga jadi tau ternyata pelaksanaan Seren Taun ini dilaksanakan setiap tahun. Pengetahuan barunya ya saya jadi tau Seren Taun itu warisan tradisi dan budaya kuningan yang ada sampai saat ini” (Nanda, Wawancara, 20 Maret 2024). Peneliti menganalisis adanya masyarakat Adat yang berasal dari luar Kelurahan Cigugur yang memanfaatkan pelaksanaan upacara adat Seren Taun sebagai tempat untuk mereka bersilaturahmi. Masyarakat Adat dari luar Kelurahan Cigugur sengaja menghadiri undangan pelaksanaan upacara adat Seren Taun untuk membantu demi kelancaran acara dan menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi sesame masyarakat adat. Momen sangat ditunggu oleh masyarakat adat karena merupakan momen langka yang hanya terjadi satu tahun sekali. Peneliti menganalisis adanya peran dari masyarakat AKUR dalam pelestarian budaya dan tradisi, dapat dilihat dari adanya pelaksanaan upacara adat Seren Taun yang merupakan salah satu kegiatan ritual yang dilaksanakan setiap tahunnya. Pelaksanaan upacara adat Seren Taun memberikan manfaat kepada masyarakat Kabupaten Kuningan dan masyarakat umum karena dengan adanya pelaksanaan upacara adat Seren Taun dapat mengenalkan dan mencintai budaya lokal di wilayah Jawa Barat khususnya di Kabupaten Kuningan. Dengan itu, manajemen pengetahuan berperan penting dalam pelestarian tradisi dan budaya karena tanpa adanya manajemen pengetahuan tradisi upacara adat Seren Taundi Kelurahan Cigugur akan mengalami kepunahan.
Conclusion
Penelitian ini menunjukkan bahwa pelestarian tradisi Seren Taun di Kelurahan Cigugur, Kabupaten Kuningan, bertumpu pada sistem manajemen pengetahuan yang holistik, melibatkan aspek manusia, proses, dan teknologi. Aspek manusia menjadi pondasi utama, di mana berbagai aktor, mulai dari penerus Pangeran Madrais, Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR), hingga masyarakat luas, berperan aktif dalam mewariskan dan mengembangkan pengetahuan Seren Taun. Peran sentral para penerus Pangeran Madrais sebagai "Rama Panyipta", "Rama Pangwedar", dan "Rama Panyusun" menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang visioner dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Aspek proses tercermin dalam mekanisme organisasi dan kegiatan yang mendukung pelaksanaan Seren Taun. Yayasan Tri Mulya Tri Wikrama, kepanitiaan, dan keterlibatan aktif masyarakat menunjukkan adanya sistem yang terstruktur dalam mengelola dan mewariskan pengetahuan Seren Taun. Sementara itu, pemanfaatan teknologi, khususnya media sosial, memiliki peran krusial dalam mendokumentasikan, mempromosikan, dan mendiseminasikan pengetahuan Seren Taun kepada generasi muda dan masyarakat luas. Integrasi antara aspek manusia, proses, dan teknologi inilah yang menjadi kunci keberhasilan pelestarian tradisi Seren Taun di tengah arus modernisasi dan dinamika sosial budaya.