PRESERVASI PENGETAHUAN UPACARA TRADISI TINGKEBAN MASYARAKAT JAWA TRANSMIGRASI DI SITIUNG 2 KABUPATEN DHARMASRAYA SUMATERA BARAT
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna upacara tradisi tingkeban alat dan bahan yang digunakan dalam upacara tradisi tingkeban prosesi upacara tradisi tingkeban dan kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pengabsahan data menggunakan triangulasi yaitu triangulasi sumber data, triangulasi teori, dan triangulasi metode. Teknik pengabsahan datanya menggunakan model Miles dan Hubermen yang terdiri reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan yaitu sebagai sarana mendoakan bayi dan ibunya supaya sehat dan selamat, sebagai tolak bala, ajang silaturahmi tetangga, saudara, dan masyarakat sekitar, memperkuat persaudaraan, dan melestarikan upacara tradisi yang dibawa oleh nenek moyang Kedua, alat dan bahan yang digunakan dalam upacara tradisi tingkeban cukup banyak dan masing-masingnya serat akan makna dan simbol. Ketiga, prosesi upacara tradisi tingkeban merupakan ritual sakral dan masing-masingnya memiliki makna. Keempat, kegiatan preservasi pengetahuan yang dilakukan yaitu sosialisasi dan eksternalisasi. Kegiatan sosialisasi dilakukan dengan penyampaian langsung secara tatap muka, imitasi, dan penyampaian melalui media pewayangan. Kegiatan sosiasisasi menjadi lebih mudah karena masyarakat sudah memiliki kesadaran untuk melaksanakan upacara tradisi tingkeban. Selain itu, kegiatan eksternalisasi dalam preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban dilakukan dengan pendokumentasian yang berupa buku, video, artikel, dan jurnal. Dalam kegiatan eksternalisasi, masyarakat masih minim mengakses informasi dan pengetahuan dari dokumen upacara tradisi tingkeban.
Abstract
This study aims to describe the meaning of traditional ceremonies tingkeban, tools and materials used in the tingkeban traditional ceremony, tingkeban traditional ceremonial procession; and ceremonial knowledge preservation activities the tingkeban tradition of the Javanese transmigration community in Sitiung 2 District Dharmasraya, West Sumatra. This research is a type of descriptive qualitative research with a case study approach. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation studies. Data validation technique using triangulation, namely data source triangulation, theory triangulation, and method triangulation.The data validation technique uses the Miles and Hubermen models consisting of data reduction, data presentation, drawing conclusions and verification. The results of this research are as follows. First, the traditional ceremony tingkeban Jawa transmigration has a very important meaning in life, namely as a means of praying so that the baby and mother are healthy and safe, as a rejection of reinforcements, a gathering place for neighbors, relatives and friends surrounding communities, strengthen brotherhood, and preserve traditional ceremonies brought by the ancestors. Third, the series of processions that are carried out are sacred rituals and full of meaning. Fourth, knowledge preservation activities carried out namely socialization and externalization. Socialization activities are carried out with face-to-face direct delivery, imitation, and delivery through the medium of wayang. Outreach activities become easier because the community already has awareness to carry out traditional ceremonies tingkeban. In addition, externalization activities in the preservation of ceremonial knowledge the tingkeban tradition is carried out by documenting it in the form of books, videos, articles and journals. In externalization activities, the community is still minimal accessing information and knowledge from tingkeban traditional ceremony documents.
Keywords:
Knowledge Preservation
· Local Knowledge
· Tingkeban
Introduction
Pengetahuan lokal merupakan suatu pengetahuan yang di dalamnya memuat tentang tradisi, budaya, nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan hidup masyarakat lokal yang membedakannya dengan pengetahuan ilmiah barat. Pengetahuan lokal tersebut merupakan produk dari pengalaman langsung masyarakat yang berada di wilayah tersebut. Sehingga pengetahuan lokal terkesan lebih tertutup dan hanya berlaku bagi sebagian kelompok masyarakat dan termasuk pengetahuan tacit karena terinternalisasi dalam diri dan pikiran seseorang sehingga tidak mudah untuk dikodifikasi, ditulis, dan disebarluaskan. Pengetahuan lokal hanya dapat dijadikan sebagai pengetahuan eksplisit oleh pemiliknya karena pengetahuan ini berada di dalam pikiran seseorang. Pelestarian pengetahuan lokal perlu dilakukan agar pengetahuan tidak hilang dan tergeser oleh perkembangan zaman dan teknologi informasi serta perubahan personal yang memiliki pengetahuan tersebut. Selain itu, pengetahuan lokal juga dapat terlupakan karena tidak ada lagi kegiatan yang membutuhkan dan mengaplikasikan pengetahuan lokal tersebut sehingga berpengaruh terhadap keberlangsungan generasi selanjutnya dalam penerimaan informasi. Karsono (dalam Besthari, 2022: 416) berpendapat bahwa preservasi pengetahuan membahas mengenai bagaimana proses pengetahuan dapat dipertahankan keutuhannya hingga dapat terus utuh, dilestarikan, dan diwariskan ke generasi selanjutnya. Nonaka dan Takeuchi (1995: 176) mengemukakan suatu teori yang dikenal dengan model spiral pengetahuan yang menyatakan bahwa terdapat beberapa model dalam kegiatan preservasi pengetahuan yaitu. Pertama, sosialisasi merupakan model preservasi pengetahuan yang berupa perubahan pengetahuan dari pengetahuan tersembunyi menjadi pengetahuan tersembunyi kembali. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan interaksi tatap muka, komunikasi dialogis, imitasi, dan kegiatan pelatihan. Kedua, eksternalisasi merupakan perubahan pengetahuan dari pengetahuan tersembunyi menjadi pengetahuan yang telah terdokumentasikan. Ketiga, kombinasi merupakan perubahan pengetahuan dari pengetahuan yang bersifat telah terdokumentasikan ke dalam bentuk pengetahuan yang bersifat eksplisit juga. Keempat, internalisasi merupakan perubahan pengetahuan dari pengetahuan yang bersifat eksplisit menjadi pengetahuan tacit atau tersembunyi. Tahun 1976 merupakan tahun awal masuknya transmigran asal Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah ke daerah Sitiung Kabupaten Dharmasraya yang akhirnya dikenal dengan istilah transmigrasi nasional Sitiung. Masyarakat suku Jawa transmigrasi sampai saat ini masih menjaga, melaksanakan, dan melestarikan pengetahuan lokal dan salah satunya adalah upacara tradisi tingkeban. Upacara tradisi tingkeban merupakan upacara tradisi yang dilakasanakan untuk ibu hamil yang kehamilannya merupakan kehamilan pertama dan kandungannya telah berusia tujuh bulan. Upacara ini juga dikenal dengan istilah mitoni yang berasal dari kata dasar “pitu” yang artinya tujuh. Tujuan dari dilasanakannya upacara tradisi tingkeban ini adalah untuk memohon keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi yang ada di kandungan ibunya sehingga bayi tersebut sehat dan selamat sampai proses persalinan. Makna dari upacara tradisi tingkeban adalah untuk memperingati dan memberikan selamatan bahwa bayi yang ada dalam kandungan ibunya sudah berusia tujuh bulan dan organ tubuhnya sudah lengkap dan sempurna. Upacara tradisi tingkeban merupakan salah satu wujud kearifan lokal mengalami perubahan dan perkembangan yang disebabkan oleh perubahan pola pikir dari masyarakat pemangku adat, perkembangan zaman, dan pengaruh budaya lain. Adanya arus globalasi dan pengetahuan luar atau western knowledge membawa pergeseran, salah satunya adalah pergeseran rangkaian prosesi dan peralatan yang digunakan. Pergeseran tersebut akhirnya mendorong adanya perkembangan dan perubahan sarana maupun prosesi dalam upacara tradisi tingkeban. Misalnya perubahan pada segi prosesi pemandian ibu hamil dan suaminya yang dilakukan lebih cepat dari biasanya yaitu biasanya prosesi pemandian ini dilakukan setelah tengah malam, namun sekarang dilakukan sebelum tengah malam. Sesajen yang digunakan juga lebih disederhanakan sehingga lebih instan dengan tidak meninggalkan inti dari upacara tradisi tingkeban. Hal ini menyebabkan ikut hilangnya beberapa makna simbol dari masing-masing sesajen atau peralatan dalam upacara tradisi tingkeban secara perlahan dan sangat disayangkan jika generasi mendatang melestarikan sebuah budaya tanpa mengetahui makna simbol yang terkandung dalam budaya itu. Upacara tradisi tingkeban yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa transmigrasi di Sitiung 2 merupakan upacara tradisi tingkeban murni yang dibawa dari Jawa Tengah sebelum dilaksanakannya program transmigrasi. Setelah sampai di Sumatera Barat, upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi mengalami akulturasi budaya terutama dengan perkembangan agama Islam di Sumatera Barat karena upacara tradisi tingkeban yang dilaksanakan di Jawa Tengah masih mengandung unsur kebudayaan Hindu Budha. Selain itu, terjadi perubahan pemahaman terhadap makna pelaksanaan upacara tradisi tingkeban oleh masyarakat, hal ini dibuktikan dengan hilangnya hal-hal yang berbau syirik dan bersifat simbolik bagi masyarakat Jawa seperti prosesi ngobong menyang dan ngobong dupo atau membakar kemenyan dan dupa yang berasal dari kebuadayaan animisme masyarakat Jawa dahulu menjadi pelantunan zikir, yasin, tahmid, dan tahlil dalam tirakatan atau brokohan upacara tradisi tingkeban karena masuknya nilai-nilai ajaran Islam. Peneliti tertarik untuk meneliti preservasi pengetahuan bagi keberlangsungan pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban masyarakat suku Jawa transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat karena generasi muda juga masih merasa awam terhadap istilah-istilah yang dipakai dalam upacara tradisi tingkeban baik itu dari segi makna, tata cara, dan sarana dan prasarana yang digunakan karena hanyadiketahui oleh orang tua. Sehingga dibutuhkan preservasi pengetahuan agar upacara tradisi tingkeban masyarakat suku Jawa transmigrasi dapat dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi secara utuh sehingga upacara tersebut tetap dapat bertahan dan tidak dilupakan begitu saja. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Preservasi Pengetahuan Upacara Tradisi Tingkeban Masyarakat Jawa Transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat”.
Method
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Sidiq (2019: 10) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainya dalam konteks yang dialami tanpa ada campur tangan manusia dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah yang lazim digunakan. Adapun dalam penetuan sampel atau informan, peneliti menggunakan teknik snowball sampling atau dikenal ebagai teknik bola salju. Sugiyono (2019: I34) menjelaskan bahwa snowball sampling merupakan teknik penentuan sampel yang awalnya berjumlah kecil kemudian menjadi banyak. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua jenis informan yaitu informan kunci dan informan utama. Yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Ki Dalang Gondo Sumarno yang merupakan Anggota Persatuan Pedalangan Provinsi Jambi yang dari awal transmigrasi tinggal di Sitiung 2. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari informan kunci maka diperoleh informan utama yaitu Pak Sutimin, S.Pd., Mbah Kamidin, dan Kyai Sukerno. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pengabsahan data yang digunakan peneliti yaitu triangulasi yang terdiri dari triangulasi sumber data, triangulasi teori, dan triangulasi metode. Untuk teknik penganalisaan data, peneliti menggunakan model Miles dan Hubermen yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Result & Discussion
Berikut ini uraian pembahasan yang didasarkan pada temuan penelitian yang dilakukan peneliti. 1. Makna Upacara Tradisi Tingkeban bagi Masyarakat Jawa Transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat Upacara tradisi tingkeban merupakan upacara tradisi turun temurun yang diwariskan dari zaman nenek moyang masyarakat Jawa pada zaman dahulu dan asal muasalnya dari kebudayaan keprcayaan Hindu Budha. Upacara tradisi tingkeban biasa disebut juga dengan mitoni yang berasal dari kata “pitu” yang berarti tujuh. Upacara tradisi tingkeban didefinisikan sebagai upacara tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan untuk wanita yang hamil anak pertama dan kandungannya sudah berusia tujuh bulan. Tujuan dari diadakannya upacara tradisi tingkeban pada ibu hamil adalah untuk memohon kesehatan, kebaikan, keberkahan, dan keselamatan bayi yang sedang dikandung oleh ibunya kepada Yang Maha Kuasa sehingga bayi tersebut dijauhkan dari bahaya dan hal-hal negatif, ajang silaturahmi tetangga, saudara, dan masyarakat sekitar, memperkuat persaudaraan, dan melestarikan upacara tradisi yang dibawa oleh nenek moyang. Masyarakat Jawa transmigrasi Sitiung memaknai upacara tradisi tingkeban sebagai bentuk doa agar ibu hamil dan bayi yang dikandungnya mendapatkan keberkahan, sehat dan selamat sehingga dalam pelaksanaannya dilakukan slametan. Selain itu, juga terdapat perubahan pemahaman terhadap makna prosesi dan ritual dalam pelaksanaan upacara tradisi tingkeban oleh masyarakat Jawa transmigrasi Sitiung 2 yang dibuktikan dengan hilangnya hal-hal yang bersifat syirik dan simbolik bagi masyarakat Jawa transmigrasi Sitiung 2 dan masuknya nilai-nilai agama Islam. Selain itu, masyarakat Jawa transmigrasi Sitiung 2 juga memaknai upacara tradisi tingkeban sebagai doa yang dipanjatkan kepada Allah Swt. sehingga upacara tradisi tingkeban ini boleh dilakukan karena tidak bertentangan dengan agama Islam dan dapat menciptakan kerukunan, kesejahteraan, dan gotong royong dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Upacara tradisi tingkeban masyarakat suku Jawa memiliki nilai-nilai yang sangat kental dan menjadi ciri khas masyarakatnya yaitu nilai religi, nilai sosial, nilai ekonomi, dan nilai estetika. Pertama, nilai religi yaitu upacara tradisi tingkeban merupakan bentuk permohonan dan doa yang ditujukan kepada Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan, kesehatan, kelancaran, dan keberkahan kepada bayi dan ibu yang mengandungnya. Kedua, nilai sosial tercermin dari pelaksanaan upacara tradisi dimana para tetangga dan saudara datang untuk membantu persiapan upacara tradisi sehingga dapat meringankan pekerjaan tuan rumah. Ketiga, nilai ekonomi terlihat dari saat saudara dan tetangga memberikan bantuan sumbangan berupa bahan masakan yang sesuai dengan kemampuannya kepada tuan rumah maka tuan rumah akan membantu hal serupa kepada tetangga dan saudara lainnya. Keempat, nilai estetika dalam upacara tradisi tingkeban merupakan rasa keindahan yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan kasih sayang yang dirasakan oleh sesama manusia yang diwujudkan dari berbagai ritual dan peralatan yang serat akan makna. Namun, upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi mengalami pergeseran karena perlu penyesuaian dan adabtasi dengan budaya yang ada di Sumatera Barat dan agama terutama agama Islam. Penyebab dari pergeseran tersebut adalah perkembangan zaman dan ketidaksesuaian antara keadaan zaman dahulu dengan keadaan zaman sekarang apalagi jika dikaitkan dengan agama Islam. 2. Alat dan Bahan dalam Upacara Tradisi Tingkeban Masyarakat Jawa Transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat Masing-masing alat dan bahan yang digunakan dalam upacara tradisi tingkeban memiliki makna yang kental dan ada juga yang hanya berguna untuk simbolis saja. Alat dan bahan tersebut diantaranya yaitu: a. Kembang Setaman Digunakan sebagai syarat yang menyimbolkan kandungan ibu hamil telah berusia tujuh bulan. b. Air Tujuh Sumur Maknanya kurang lebih sama dengan kembang setaman yang digunakan sebagai syarat dan melambangkan kehamilan ibu hamil telah berusia tujuh bulan. c. Tumpeng Pitu Melambangkan bahwa bayi yang ada dalam kandungan ibunya sudah genap tujuh bulan dan agar anak yang lahir akan menadapatkan berkah dan rahmat pada setiap harinya dari Yang Maha Kuasa. d. Jenang Procot Bentuk jenang procot yang terdiri dari bubur sumsum yang bagian tengahnya diberi pisang. Maknanya adalah agar saat proses persalinan nanti dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan. e. Rujak Rujak ini dijadikan sebagai simbol yang menandakan jenis kelamin bayi yang dikandung oleh calon ibu. Jika bumbunya asin maka biasanya anaknya perempuan, dan jika tidak asin maka biasanya anaknya laki-laki. f. Jajanan Pasar Jajanan pasar yang paling sering digunakan dalam upacara tradisi tingkeban adalah cenil dan klepon karena bahan bakunya berasal dari tepung ketan atau tepung terigu yang lengket sehingga diharapkan dapat mempererat hubungan dan harapan keluarga kepada ibu dan bayi yang ada di kandungannya. g. Telur Ayam Kampung Bertujuan memberi tahu kepada ruh yang ditiupkan kepada janin tersebut bahwasanya setiap insan yang hidup atau manusia yang hidup itu mempunyai ruh yang dimasukkan oleh Allah ke dalam janin tersebut sehingga janin tersebut dapat hidup, tumbuh, dan berkembang. Telur ayam kampung diibaratkan dengan kandungan ibu sehingga telur akan menetas pada waktunya. h. Gudhangan Gudhangan terdiri dari sayuran rebus dan bumbu urap. Sayuran yang digunakan terdiri dari tujuh jenis dan harus ada kangkung dan kacang panjang. Tujuannya adalah sebagai harapan agar bayi yang akan dilahirkan ke dunia nanti berumur panjang. Gudhangan bermakna untuk menghilangkan hal-hal negatif agar bayi yang ada di kandungan ibunya tersebut bisa lahir dengan selamat. i. Cengkir Kelapa Cengkir merupakan kelapa muda yang ukurannya lebih kecil. Maknanya yaitu jika bayi yang dikandung berjenis kelamin laki-laki maka akan berparas tampan seperti Kamayana, sedangkan jika bayi yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan maka akan berparas cantik seperti Dewi Kamaratih. j. Tumpeng Kuat atau Tumpeng Jejeg Makna dari tumpeng kuat atau tumpeng jejeg ini adalah agar bayi yang ada di dalam kandungan ibunya kuat dan tidak keguguran serta agar bayi yang dilahirkan kelak memiliki sifat yang lurus atau akhlak yang baik. k. Ingkung dan Ayam Panggang Ingkung dan ayam panggang merupakan ayam kampung utuh yang dimasak dan diikat dengan cara khusus yang digunakan sebagai sesaji dan perlengkapan upacara tradisi tingkeban. l. Nasi Brok Bentuk nasi brok adalah nasi yang hanya diletakkan di atas piring bersama lauk pauk dan gudhangan yang digunakan untuk perlengkapan selametan upacara tradisi tingkeban. Maknanya adalah agar keluarga yang akan mendapatkan anak diberikan rezeki yang berlimpah dari Yang Maha Kuasa. m. Nasi Rogoh Nasi rogoh merupakan nasi dan lauk pauk lainnya diletakkan di dalam wadah kuali atau kendhi yang kemudian dirogoh yang bermakna agar bayi yang ada di dalam kandungan sehat dan menandai bahwa segumpal darah sudah menjadi bayi. n. Takir Takir merupakan wadah terbuat dari daun pisang. Maknanya adalah menandakan bahwa terdapat macam-macam jalan kehidupan dan takir ini digunakan untuk perlengkapan upacara tradisi tingkeban. o. Dawet Dawet memiliki berbagai macam jenis dan warna sehingga diharapkan bayi yang lahir nantinya memiliki saudara yang banyak. p. Jenang Sengkolo Penggunaan jenang sengkolo adalah agar menghilangkan segala macam gangguan dan kejahatan yang akan mengganggu bayi yang ada dalam kandungan ibunya sampai bayi itu dilahirkan. q. Lauk Pauk Terdapat berbagai macam lauk pauk yang digunakan dalam upacara tradisi tingkeban seperti oseng-oseng, bacem, sambal goreng, dan masih banyak lagi. Selain itu, juga terdapat lauk pauk seperti ayam yang digunakan untuk berkatan saudara atau tetangga yang membantu menyiapkan semua kebutuhan upacara tradisi tingkeban. r. Pring Sedapur Pring sedapur merupakan bambu serumpun yang terdiri dari beberapa batang yang merupakan bagian dari sesajenya yang melambangkan harapan agar terciptanya hubungan yang erat antara keluarga, saudara, tetangga dan masyarakat luas dari adanya bayi yang akan dilahirkan tersebut. s. Kupat Penggunaan ketupat dalam upacara tradisi tingkeban adalah sebagai bahan perlengkapan sesajen yang melambangkan lahir dan batin manusia. t. Anak-anakan Anak-anakan terbuat dari nasi yang berbentuk seperti manusia yang terdiri dari kaki, tangan, dan kepala. Tujuannya untuk perlengkapan sesajen upacara tradisi tingkeban yang melambangkan bayi yang akan dilahirkan dengan harapan jika bayi berjenis kelamin laki-laki memiliki paras yang tampan dan bayi yang berjenis kelamin perempuan memiliki paras yang cantik. u. Jarum Maknanya agar bayi yang dilahirkan memiliki penglihatan yang bagus dan tidak buta huruf. Fungsi dari jarum ini adalah sebagai perlengkapan sesaji dalam upacara tradisi tingkeban. v. Bathok Bathok merupakan tempurung kelapa yang digunakan sebagai gayung saat prosesi siraman atau pemandian ibu hamil. w. Bokor Bokor merupakan wadah atau bejana yang digunakan untuk mencampur air dan bunga tujuh rupa yang akan digunakan dalam prosesi pemandian ibu hamil. x. Jarik Terdapat tujuh buah jarik atau kain panjang dengan motif yang berbeda-beda. Motif tersebut diantaranya Dringin, Lasem, Parang Kusuma, Sidomukti, Sidoluhur, Truntum, dan Udan Riris. Masing-masing dari motif tersebut memiliki makna yang baik untuk ibu dan bayi yang dikandungnya. y. Tikar Kecil Saat jenang procot sudah bunyi procot maka tikar yang ada di tengah pintu rumah ditarik ke luar dekat jalan dan orang yang menariknya langsung pulang dan tikarnya ditinggal di pinggir jalan, makna prosesi itu juga agar proses persalinannya cepat dan lancar. z. Jenang-jenang Dalam upacara tradisi tingkeban terdapat empat macam yaitu warna putih, merah, kuning dan hitam yang menggambarkan hawa nafsu si janin tersebut yaitu lauwamah (nafsu biologis), supiah (nafsu duniawi), amarah (nafsu emosional), dan mutmainah (nafsu spiritual). 3. Prosesi Upacara Tradisi Tingkeban Masyarakat Jawa Transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat Upacara tradisi tingkeban juga terdiri dari berbagai rangkaian ritual atau prosesi diantaranya yaitu: a. Menentukan Hari Baik Dalam pelaksaaan upacara tradisi tingkeban, hal yang pertama kali dilakukan adalah mencari hari yang baik untuk beradasarkan perhitungan kalender Jawa. Tujuan dari mencari hari yang baik berdasarkan perhitungan dan kalender Jawa yaitu agar acaranya dapat berjalan dengan baik tanpa halangan apapun dan sesaji-sesaji yang dibutuhkan juga disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan untuk rangkaian upacara. b. Tirakatan Tirakatan adalah prosesi mendoa yang dilakukan oleh para sesepuh, tokoh masyarakat, saudara, dan masyarakat sekitar. Prosesi tirakatan dihadiri oleh para sesepuh dan masyarakat sekitar yang diisi dengan zikir, tahlil, tahmid, dan pengikraran atau pengujudan syarat dan sesaji untuk upacara tradisi tingkeban yang bertujuan sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar bayi yang ada dikandungan ibunya dapat lahir dengan sehat dan selamat serta proses persalinannya lancar tanpa kendala apapun. Dalam prosesi ini juga diikrarkan segala jenis sesaji, syarat, dan sesaji yang digunakan dalam upacara tardisi tingkeban. c. Siraman atau Pemandian Ibu Hamil Ibu hamil dan suaminya dimandikan oleh dukun tingkeban dan ibu dan saudara perempuannya yang jumlah semuanya ada tujuh orang. Pemandian atau siraman ini menggunakan air yang diambil dari tujuh mata air atau tujuh sumur yang dimasukkan telur ayam kampung dan kembang setaman atau bunga tujuh rupa. Dan proses pemandiannya dilakukan di dalam kamar mandi. Tujuan pemandian atau siraman adalah untuk membersihkan diri ibu hamil dan menjauhkan hal-hal yang negatif. d. Memasukkan Telur Ayam Kampung Telur ayam kampung dimasukkan ke dalam kain basahan yang digunakan oleh suaminya dari bagian atas dada hingga jatuh ke bawah dan telurnya pecah. Tujuannya yaitu agar proses persalinan dapat berjalan dengan lancar serta ibu dan bayinya selamat. e. Ganti Jarik 7 Kali Ibu hamil akan dipakaikan jarik atau kain panjang sebagai kain pengganti yaitu jarik yang berjumlah tujuh dan motifnya berbeda-beda. Pemakaian jarik ini biasanya dilakukan di tempat tertutup atau di kamar. Semua motif jarik dicoba dan dipakaikan bergantian oleh orang yang mengikuti prosesi penyiraman atau pemandian. Motif yang paling cocok tesebut akan diartikan sesuai dengan makna motif yang ada di jarik. f. Disuapi Ingkung dan Tumpeng Prosesi selanjutnya yaitu ibu hamil dan suaminya akan disuapi ayam panggang dan tumpeng pitu oleh dukun tingkeban atau sesepuh yang memimpin upacara tradisi tingkeban yang sebelumnya tumpeng pitu dan ingkung atau panggang ayam tersebut dilekatakkan di atas tempat tidur ibu yang sedang hamil. g. Membelah Cengkir Kelapa Calon bapak harus membelah cengkir menjadi dua bagian menggunakan parang. Jika hasil belahannya lurus maka kemungkinan anaknya perempuan, dan jika hasil belahannya tidak lurus maka kemungkinan anaknya laki-laki. Penggunaan cengkir ini adalah hanya sebagai prediksi saja, untuk ketetapannya terserah kepada kekuasaan Allah Swt. h. Menarik Tikar Kecil dan Memberikan Berkat ke Tetangga Tuan rumah akan memberikan berkatan yang isinya nasi dan lauk pauk yang dibawa pulang sebagai tanda terima kasih karena telah membantu semua persiapan dan rangkaian prosesi tingkeban hingga selesai. Selama proses tingkeban berjalan, disiapkan satu buah tikar kecil yang diletakkan di tengah pintu depan. Setelah semua syarat diikrarkan maka tikar tersebut langsung ditarik sampai ke pinggir jalan dan orang yang menarik langsung pulang ke rumahnya agar proses melahirkannya lancar dan tidak ada kendala. 4. Kegiatan Preservasi Pengetahuan Upacara Tradisi Tingkeban Masyarakat Jawa Transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat Kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban ini merupakan suatu langkah dan upaya dalam melestarikan pengetahuan lokal yang dimiliki oleh individu agar pengetahuan lokal tersebut tetap ada di tengah masyarakat walaupun zaman semakin berkembang sehingga generasi berikutnya bisa meneruskan dan mempertahankan pengetahuan lokal tersebut agar tidak hilang tergerus oleh zaman. Adapun dalam kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban yang dilakukan oleh masyarakat Jawa transmigrasi berdasarkan teori Nonaka adalah sosialisasi dan eksternalisasi. a. Sosialisasi Kegiatan preservasi pengetahuan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa transmigrasi tidak dilakukan setiap hari. Budayawan seperti dalang melakukan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban kepada masyarakat luas dengan menggunakan media pewayangan. Pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban diselipkan ke dalam cerita pewayangan yang sedang dibawakan. Belum ada acara khusus yang digunakan untuk kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban ini. Saat kegiatan perkumpulan dengan sesepuh dan masyarakat bisa dijadikan sebagai sarana pengetahuan upacara tradisi tingkeban. Bahkan saat acara wiridan atau yasinan yang dilakukan di rumah masyarakat terkadang dijadikan sebagai tempat untuk membicarakan atau membagikan pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban kepada generasi muda yang mengikuti acara tersebut. Kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi di Sitiung 2 dilakukan secara turun temurun tanpa dipelajari karena masyarakat Jawa sudah tahu upacara tradisi tingkeban tersebut. Sehingga setiap wanita hamil yang kehamilannya itu merupakan kehamilan pertama dan kandungannya sudah berusia tujuh bulan maka otomatis keluarganya akan menyelenggarakan upacara tradisi tingkeban demi keselamatan bayi yang dikandung ibunya dan proses persalinannya lancar tanpa ada kendala. Semua kegiatan sosialisasi pengetahuan dilakukan secara langsung melalui lisan dan tatap muka. Masyarakat Jawa juga langsung meniru, mengikuti, dan menyelenggarakan upacara tradisi tingkeban apabila ada anggota keluarganya yang hamil pertama dan kandungannya sudah berusia tujuh bulan atau disebut dengan imitasi kebudayaan (peniruan langsung). Cara pengetahuan upacara tradisi tingkeban diturunkan dari generasi ke generasi adalah dengan membagikan pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban kepada masyarakat secara langsung terutama generasi muda. Kemudian saat generasi muda menghadari upacara tingkeban, mereka juga akan mengamati secara langsung rangkaian prosesi yang dilakukan dalam upacara tradisi tingkeban. Sehingga generasi juga dapat mengikuti dan menyaksikan upacara tradisi tingkeban tersebut. Cara pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban diturunkan dari sesepuh ke anak cucunya yaitu sesepuh budayawan tersebut yaitu membaca buku primbon tinggalan leluhur dan dijelaskan langsung dari leluhur tersebut. Ada juga yang mendapat wahyu tentang pengetahuan tradisi untuk memiliki pengetahuan yang lebih tentang tradisi dan pemilihan hari yang baik untuk acara. b. Eksternalisasi Kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa terdapat pendokumentasian dalam bentuk buku, artikel, dan video. Pendokumentasian dalam bentuk buku yaitu salah satunya buku yang berjudul Upacara Tingkeban yang ditulis oleh Suwarna Pringgawidagda. Selain itu juga terdapat pendokumentasian upacara tradisi tingkeban dalam bentuk buku buku primbon Jawa yang dimiliki pada tahun 1922. Buku primbon tersebut tidak dipinjamkan kepada orang lain dan diturunkan ke anak cucu sesepuh budayawan dan tidak dipinjamkan atau dilihatkan ke orang lain. Bukuprombon tersebut bernama buku primbon Jawa Joyoboyo. Tulisannya menggunakan tulisan Jawa Kuno Gundul atau huruf Honocoroko. Buku tersebut dimiliki oleh almarhum Mbah Sono Dikromo alias Mbah Mogol dan buku tersebut sekarang disimpan oleh salah satu keturunan mbah sesepuh budayawan Jawa. Belum ada pengelolaan terhadap buku primbon Jawa tersebut, dan buku tersebut hanya disimpan di dalam lemari di salah seorang anak Mbah Sono Dikromo alias Mbah Mogol. Sedangkan pendokumentasian upacara tradisi tingkeban masyarakat transmigrasi dalam bentuk jurnal dan artikel yang dapat diakses di Google atau Google Scholar. Kemudian untuk vidionya juga ada yang dapat diakses di YouTube. Proses transfer pengetahuan dalam preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi sebagian besar dilakukan secara langsung dan menggunakan lisan melalui acara kumpul bersama dengan para sesepuh dan tokoh masyarakat. Sampai saat ini belum ada kegiatan khusus untuk proses transfer pengetahuan karena pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban ini hanya diketahui pasti oleh sesepuh saja. Langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat dalam rangka mempreservasikan pengetahuan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi di Sitiung 2 yaitu dengan cara terus menjaga, memelihara, dan melaksanakan upacara tradisi tingkeban sehingga upacara tradisi tingkeban ini tidak hilang dan musnah dalam kehidupan masyarakat Jawa terutama masyarakat Jawa transmigrasi Sitiung. Tindakan yang seharusnya dilakukan oleh generasi Jawa transmigrasi terutama di Sitiung 2 terhadap upacara tradisi tingkeban generasi muda harus ikut serta dalam upacara tradisi tingkeban dengan membantu sebisanya seperti meyiapkan makanan dan minuman kepada masyarakat yang hadir dalam upacara tradisi tingkeban. Selanjutnya, generasi Jawa transmigrasi terutama di Sitiung 2 juga tidak boleh memiliki pandangan yang negatif terhadap upacara tradisi tingkeban karena upacara tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat suku Jawa. Selain itu, juga diperlukan preservasi pengetahuan secara personalisasi untuk membangun tandon pengetahuan berbasis manusia karena sebagian besar pengetahuan tentang upacara tradisi tingkeban adalah pengetahuan tersembunyi. Dengan demikian, generasi yang akan datang memiliki tanggung jawab untuk tetap terus mempertahankan dan menjaga preservasi pengetahuan yang telah dilakukan masyarakat sebelumnya agar kebudayaan yang sudah ada tidak punah.
Conclusion
Simpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian mengenai preservasi upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat suku Jawa, diadakannya upacara tradisi tingkeban pada ibu hamil adalah untuk memohon kesehatan dan keselamatan bayi yang sedang dikandung oleh ibunya kepada Yang Maha Kuasa sehingga bayi tersebut dijauhkan dari bahaya dan hal-hal negatif, ajang silaturahmi tetangga, saudara, dan masyarakat sekitar, memperkuat persaudaraan, dan melestarikan upacara tradisi yang dibawa oleh nenek moyang. Kedua, dalam pelaksanaan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi, terdapat beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan. Masing-masing alat dan bahan tersebut memiliki makna yang kental dan ada juga yang hanya berguna untuk simbolis saja. Ketiga, upacara tradisi tingkeban juga terdiri dari berbagai rangkaian ritual atau prosesi. Prosesi yang dilakukan tersebut juga serat akan makna untuk mendoakan kebaikan, keselamatan, dan kesehatan bayi yang ada di kandungan ibunya. Keempat, kegiatan preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban masyarakat Jawa transmigrasi di Sitiung 2 Kabupaten Dharmasraya dilakukan dengan menggunakan dua kegiatan berdasarkan teori Nonaka yaitu sosialisasi dan eksternalisasi. Kegiatan sosialisasi dilakukan dengan penyampaian langsung secara tatap muka dalam perkumpulan masyarakat atau saat dilaksanakan upacara tradisi tingkeban. Selain itu, dalang juga berperan aktif dalam kegiatan sosialisasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban melalui cerita pewayangan yang dibawakan. Kegiatan eksternalisasi dalam preservasi pengetahuan upacara tradisi tingkeban dilakukan dengan pendokumentasian dalam bentuk buku, artikel, dan video. Pendokumentasian dalam bentuk buku yaitu salah satunya buku yang berjudul Upacara tingkeban yang ditulis oleh Suwarna Pringgawidagda. Selain itu juga terdapat pendokumentasian upacara tradisi tingkeban yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam bentuk buku primbon Jawa yang dimiliki pada tahun 1922. Buku primbon tersebut bernama buku primbon Jawa Joyoboyo. Sedangkan pendokumentasian upacara tradisi tingkeban masyarakat transmigrasi dalam bentuk jurnal yang dapat diakses di Google atau Google Scholar. Kemudian untuk vidionya juga ada yang dapat diakses di YouTube.