Kembali
16
1
2023 Jurnal Literasi Perpustakaan dan Informasi: Jurnal Penelitian Kajian Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 4 ISSN 2775-8761

PRESERVASI KAMPUA (MATA UANG KERAJAAN BUTON) DI MUSEUM NEGERI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses preservasi Kampua (mata uang kerajaan Buton) di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori preservasi koleksi museum oleh George L. Stout pada tahun 1978. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak lima informan, yaitu Kepala Museum dan empat pegawai Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses preservasi yang dilakukan di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu dengan metode perawatan secara fumigasi. Kegiatan fumigasi dilakukan melalui proses pengesapan dengan menggunakan bahan kimia untuk memusnakan mikroorganisme yang dapat merusak koleksi Kampua. Untuk perawatan secara preventif dengan menggunakan silica gel cara penggunaanya dengan menyimpan silica gel didekat koleksi Kampua, fungsi silica gel untuk menjaga kelembaban udara dan mengusir mikroorganisme. Tetapi karena fumigasi di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara masih terbatas sehingga saat ini perawatan dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan baigon.

Abstract

The purpose of this study was to determine the process of preserving Kampua (Buton royal currency) at the State Museum of Southeast Sulawesi Province. The theory used in this study is theory of museum collection preservation by George L. Stout on 1978. This study used a qualitative method. Data collection tecniques were carried out by observation, interviews, and documentation. Data analisys techniques were carried out by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The number of informants in this study were five informants, Namely the head of the Museum and four employees of the State Museum of Southeast Sulawesi Province. The result of this study indicated that the preservation process carried out at the State Museum of Southeast Sulawesi Province is the fumigation treatment method. Fumigation activities are carried out through a vaporization process using chemicals to destroy microorganisms that can damage the Kampua collection. For preventive maintenance using silica gel, how to use it is with storing silica gel near the Kampua collection, the function of silica gel is to keep the air moist and repel microorganisms. But because fumigation at the State Museum of Southeast Sulawesi Province is still limited, so currently the treatment is carried out with spraying using baigon.
Keywords: Preservation · Kampua · Museum collection

Introduction

Museum yang berkembang saat ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan dan merawat benda-benda peninggalan yang bernilai sejarah, sebagai sumber ilmu pengetahuan, pelestarian khazanah budaya bangsa serta memberikan berbagai pelayanan dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Menurut Syahmi dalam Firmansyah, (2022) fungsi museum adalah mengumplkan, memamerkan, merawat dan melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan belajar, meneliti dan menikmati serta menghibur. Sehingga museum memiliki dua fungsi yaitu sebagai sumber informasi dan pelestarian. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2015, museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat (Istina, 2022). Pelestarian atau preservasi terhadap koleksi sangatlah penting dilakukan karena koleksi merupakan nyawa bagi museum itu sendiri, sehingga preservasi di museum harus selalu beriringan, selaras dan selalu berkembang. Museum Sulawesi Tenggara adalah lembaga yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan, merawat, dan memamerkan berbagai artefak dan koleksi yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara. Museum ini menjadi tempat untuk memperlihatkan dan melestarikan koleksi mata uang Kampua dari Kerajaan Buton. Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi destinasi menarik untuk dikunjungi. Ada banyak benda-benda langka yang tersimpan dan masih terjaga. Museum dengan luas hingga 1,85 hektar ini bahkan dikenal menyimpan berbagai macam benda-benda bersejarah. Koleksi benda yang tersimpan akan menambah pengetahuan yang penting. Museum Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki 10 ruang koleksi yaitu ruang koleksi beologika, ruang biologika, ruang etnografi, ruang arkeologi, ruang historika, ruang numismatik, ruang filologika, ruang keramik, ruang kesenian tradisional, dan terakhir ruang teknologika. Preservasi koleksi museum merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga kondisi fisik dan informasi yang terkandung dalam koleksi agar tetap terjaga dengan baik. Preservasi Kampua di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan upaya pelestarian budaya dan bertujuan untuk menjaga dan memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkait dengan mata uang ini kepada masyarakat. Dengan menjaga dan merawat koleksi Kampua ini dengan baik, museum dapat menjadi sumber informasi yang penting bagi peneliti dan akademis yang tertarik untuk mempelajari sejarah dan perkembangan mata uang Kampua tersebut. Cagar budaya yang bersifat kebendaan perlu dilestarikan keberadaanya karena memiliki nilai penting bersejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan serta warisan kepada generasi mendatang. Kampua merupakan mata uang Kerajaan Buton yang terbuat dari secarik kain berbentuk persegi panjang yang dibuat oleh para wanita Kerajaan Buton yang digunakan pada masa Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara. Mata uang ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi karena merupakan simbol kekuasaan dan perdagangan pada masa lalu. Pentingnya pelestarian Kampua ini dilakukan agar Kampua selalu dalam kondisi yang baik dan dapat dipertunjukan secara terus menerus untuk generasi yang akan datang. Penelitian Kampua ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses preservasi Kampua. Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan oleh penulis di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara penulis menemukan ada suatu masalah. Dimana Kampua ini telah mengalami kerusakan, dengan bagian tepi yang sebagian telah koyok dimakan usia dan telah menguning. Maka dari kondisi tersebut menjadi alasan penulis untuk melakukan preservasi terhadap mata uang kerajaan Buton tersebut. Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana proses Preservasi Kampua (mata uang kerajaan Buton) di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses preservasi Kampua di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis, praktis dan metodologis sebagai berikut: Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori preservasi koleksi museum yang dikembangkan oleh George L. Stout pada tahun 1978. Teori preservasi koleksi museum adalah pendekatan yang menggambarkan landasan dan panduan untuk merawat, menjaga dan mempertahankan keberlanjutan fisik, historis, dan estetika koleksi museum. Teori ini bertujuan untuk melindungi dan memastikan kelestarian objek, bahan, dan artefak yang dimiliki oleh sebuah museum agar tetap dinikmati dan dipelajari oleh generasi sekarang dan mendatang

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif. Dengan demikian objek dalam penelitian ini adalah proses preservasi Kampua (mata uang kerajaan Buton) di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Kemudian, yang menjadi subjek dari penelitian ini yaitu pegawai museum yang berada di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis kualitatif. Dalam menganalisis data ini, menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dimana teknik dalam penelitian ini di gunakaan dalam empat tahap yaitu pengmpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan

Result & Discussion

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif. Dengan demikian objek dalam penelitian ini adalah proses preservasi Kampua (mata uang kerajaan Buton) di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Kemudian, yang menjadi subjek dari penelitian ini yaitu pegawai museum yang berada di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis kualitatif. Dalam menganalisis data ini, menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dimana teknik dalam penelitian ini di gunakaan dalam empat tahap yaitu pengmpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan Koleksi Mata Uang Kampua Tabel 1 Koleksi mata uang Kampua No Koleksi Kampua Preservasi Koleksi Kondisi Baik Kondisi Rusak 1 Preservasi Kampua dimulai sejak tahun 1997 sampai sekarang. Preservasi Kampua dilakukan 4 kali setahun. Rusak No Koleksi Kampua Preservasi Koleksi Kondisi Baik Kondisi Rusak 2 Preservasi Kampua dimulai sejak tahun 1997 sampai sekarang. Preservasi Kampua dilakukan 4 kali setahun. Rusak 3 Preservasi Kampua dimulai sejak tahun 1997 sampai sekarang. Preservasi Kampua dilakukan 4 kali setahun. Sumber : Kasubang Tata Usaha, 2023 Panduan preservasi mata uang Kampua di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara, panduan dalam bentuk buku atau catatan tidak ada. Preservasi mata uang Kampua di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara dilakukan dengan skil dan pengetahuan preparator. Total jumlah koleksi mata uang Kampua di museum ada 10 koleksi, 3 koleksi mata uang Kampua disimpan di gedung pameran tetap dan 7 disimpan di gedung storage/gudang. Preservasi Kampua sudah di mulai sejak tahun 1997 sampai sekarang, preservasi Kampua dilakukan 4 kali dalam setahun. Untuk koleksi mata uang Kampua yang berada di gedung storage/gudang tidak bisa di dokumentasi karena mata uang Kampua yang berada di gedung storage dilarang dan tidak untuk dipublikasikan untuk keamanan koleksi Kampua. Koleksi mata uang Kampua yang telah mengalami kerusakan tidak bisa diperbaiki lagi tetapi hanya bisa dilakukan perawatan secara terus menerus perawatan yang dilakukan secara fumigasi, perawatan preventif dan penyemprotan baigon, agar tidak terjadi kerusakan yang lebih lanjut. Untuk informasi terkait data mata uang Kampua di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggarayang mencantumkan bahwa Kampua ini memang benar digunakan sebagai alat pembayaran. Di museum tidak mencantumkan data informasi tentang apakah mata uang Kampua ini memang digunakan sebagai alat pembayaran, literasi yang digunakan hanya berdasarkan pada pendapat-pendapat ahli sejarah dan fakta sejarah secara umum. Petugas Preservasi Tabel 2 Petugas Preservasi No Nama Petugas Preservasi Jabatan Pendidikan 1. Agung Kurniawan, S.Sos Kurator S1 2. Eny Shinda Koty, S.S.,M.Hum Kurator S2 3. Risky Amelia Pabutungan, S.ST Konservator S1 4. Nurdin, S.Sos Konservator S1 5. Hardin, S.Pd Konservator S1 6. Hamzah Nadir, S.Sos Konservator S1 7. Harudin Register SMA Sumber : Agung Kurniawan, S.Sos (pegawai museum), 2023 Proses Preservasi Kampua (Mata Uang Kerajaan Buton) di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara Pelestarian merupakan tugas utama yang harus dilakukan oleh setiap museum. Museum bertanggung jawab dalam memelihara, melindungi, serta melestarikan benda-benda bersejarah. Menurut Sedan et al dalam Fitriana et al., (2022) Pelestarian atau biasa disebut sebagai preservasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dalam perlindungan koleksi dari kerusakan sehingga dapat digunakan secara maksimal oleh pengunjung museum. Proses preservasi yang dilakukan di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu dengan metode perawatan secara fumigasi dan perawatan secara preventif. Langkah perawatan secara fumigasi yaitu, pertama koleksi diturunkan dari tempatnya kemudian dimasukan dalam laboratorium dalam laboratorium sudah disiapkan bahan kimia untuk melakukan fumigasi lalu diadakan proses pengesapan, pengesapan ini berfungsi untuk memusnakan mikroorganisme yang bisa merusak koleksi kampua selanjutnya dikeringkan terlebih dahulu kemudian dikembalikan lagi ke tempatnya. Untuk perawatan secara preventif dengam menggunakan silica gel dilakukan dengan menyimpan silica gel didekat koleksi Kampua fungsi silica gel ini untuk menjaga kelembaban udara dan mengusir mikroorganisme. 1. Pada tahap Identifikasi dan Inventarisasi menurut teori preservasi koleksi museum oleh George L. Stout pada tahun 1978 mengatakan bahwa pada tahap ini melibatkan identifikasi, dokumentasi serta penilaian terhadap kondisi koleksi, serta penilaian kerusakan dan resiko yang mungkin terjadi pada koleksi. Pada hasil penelitian ditemukan bahwa apa yang ada dilapangan itu linear dengan teori tersebut. Dalam hasil penelitian ini Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara juga telah menerapkan identifikasi, dokumentasi, dan penilaian terhadap kondisi koleksi kampua yaitu dengan cara re-inventarisasi koleksi serta penilaian kerusakan yang mungkin terjadi pada koleksi kampua ini. 2. Pada tahap Perencanaan dan pengorganisasian, menurut teori preservasi koleksi museum oleh George L. Stout pada tahun 1978 mengatakan bahwa pada tahap ini melibatkan rencana preservasi jangka panjang untuk koleksi atau proses preservasinya seperti apa, rencana ini mencakup strategi dan kebijakan untuk menjaga, merawat, dan memperbaiki koleksi. Pada hasil penelitian ini ditemukan bahwa apa yang ada dilapangan itu linear dengan teori tesebut. Dalam hasil penelitian, di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara telah melakukan proses preservasi terhadap kampua dengan cara perawatan fumigasi dan perawatan preventif serta penyemprotan baigon untuk koleksi. 3. Pada tahap Perawatan Preventif menurut teori preservasi koleksi museum oleh George L. Stout pada tahun 1978 mengatakan bahwa pada tahap ini fokus pada bagaimana tindakan untuk mencegah dan menjaga koleksi agar terhindar dari kerusakan yang lebih lanjut. Termasuk didalamya itu pengaturan lingkungan seperti memperhatikan suhu dan kelembabanya, penanganan, dan penyimpananya. Pada hasil penelitian ini ditemukan bahwa apa yang ada dilapangan itu linear dengan teori tersebut. Dalam penelitian ini pegawai museum juga telah melakukan upaya pencegahan terhadap koleksi kampua agar terhindar dari kerusakan mulai dari tempat penyimpanannya mereka perhatikan yaitu kampua di masukan ke dalam vitrin agar terhindar dari serangga dan manusia, kelembaban udaranya diatur, suhunya diperhatikan, cahayanya jangan terlalu panas, jangan terkena paparan cahaya matahari langsung. 4. Pada tahap Perawatan Konservasi menurut teori preservasi koleksi museum oleh George L. Stout pada tahun 1978 mengatakan bahwa tahap ini melibatka tindakan memperbaiki dan memulihkan koleksi yang telah rusak atau terdegradasi. Ini bisa mencakup perawatan langsung pada benda seperti membersihkan, mengkonsolidasikan, atau merekontruksi. Tujuannya adalah untuk menjaga integritas dan keaslian koleksi. Pada hasil penelitian ini ditemukan bahwa apa yang ada dilapangan itu tidak linear dengan teori tersebut. Dalam hasil penelitian ini bahwa di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara ternyata belum melakukan tindakan perbaikan atau memulihkan koleksi kampua yang telah rusak, mereka hanya mengadakan perawatan terhadap koleksi kampua ini. 5. Pada tahap Pemantauan dan Evaluasi menurut teori preservasi koleksi museum oleh George L. Stout pada tahun 1978 mengatakan bahwa pada tahap ini melibatkan pemantauan secara terus-menerus terhadap koleksi untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas setelah dilakukan tindakan preservasi. Evaluasi terhadap kondisi, perubahan, atau kebutuhan perawatan tambahan juga perlu dilakukan secara berkala. Pada hasil penelitian ini ditemukan bahwa apa yang ada dilapangan linear dengan teori tersebut. Dalam hasil penelitian ini diketahui bahwa di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara selalu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kondisi koleksi kampua setelah dilakukan tindakan preservasi, mereka selalu mengecek apakah kampua ini sudah aman ditempatnya. konservator dan prevarator ini tugasnya memantau atau mengecek koleksi kampua, mereka melakukan pemantauan rutin setiap seminggu sekali atau bahkan setiap hari.

Conclusion

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa proses preservasi Kampua yang dilakukan di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu dengan metode perawatan secara fumigasi dan perwatan secara preventif. Proses preservasi dengan metode fumigasi dilakukan karena untuk menjaga koleksi Kampua agar tehindar dari kerusakan yang disebabkan oleh kelembaban udara, paparan cahaya matahari, cuaca, suhu, pencahayaan, usia, rayap, bakteri, dan kutu buku. Kegiatan fumigasi dilakukan melalui proses pengesapan dengan menggunakan bahan kimia untuk memusnakan mikroorganisme yang dapat merusak koleksi Kampua dilakukan sebanyak empat kali setahun agar terhindar dari faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pada koleksi. Untuk perawatan secara preventif dengam menggunakan silica gel dilakukan dengan menyimpan silica gel didekat koleksi Kampua fungsinya untuk menjaga kelembaban udara dan mengusir mikroorganisme. Namun proses fumigasi sekarang sedang terbatas jadi sekarang perawatan dilakukan dengan penyemprotkan baigon pada koleksi. Proses preservasi yang paling singnifikan yang terjadi di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara adalah proses preservasi secara fumigasi.