Kembali
16
1
2023 Jurnal Literasi Perpustakaan dan Informasi: Jurnal Penelitian Kajian Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 2 ISSN 2775-8761

RUANG BACA SEBAGAI INFORMAL LEARNING SPACE: ERA NEW NORMAL PASCA COVID-19

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Keadaan new normal membuat kembali masyarakat untuk memulai kegiatan seperti sebelum pandemic covid-19. Seperti ruang baca fakultas yang memulai kembali membuka layanan tatap muka.Tujuan dari ruang baca Faukultas Sains dan Teknologi sendiri digunakan sebagai ruang belajar informal bagi Fakultas Sains dan Teknologi.Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui bagaimana ruang baca di Fakultas Sians Dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga menghadapi tantangan dan mengembangkan peluang dalam membuka layanan tatap muka serta menjadikan ruang baca Fakultas Sains dan Teknologi sebagai ruang belajar informal. Peneltian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi. Selama proses pengamatan dan menarik kesimpulan dari wawancara yang dilakukan di ruang baca Fakultas Saintek, bahwa beberapa hal perlu di perhatikan yaitu; pemangku kebijakan Fakultas Saintek memberikan Air Conditioner (AC) dan tempat baca yang memadai, untuk memebrikan kenyamanan bagi mahasiswa yang datang berkunjung; hal yang perlu diperbaiki oleh ruang baca Fakultas Saintek, yaitu belum maksimalnya penggunaan koleksi oleh mahasiswa dan tidak maksimanya sistem informasi ruang baca Fakultas Saintek.

Abstract

Social restrictions due to the covid 19 pandemic have been going on for more or less two years. After the restriction regulations ended, the Faculty of Science and Technology reading room returned to normal activities. The reading room for the Faculty of Science and Technology itself is to be used as an informal learning space for the Faculty of Science and Technology. This study aims to find out how the reading room at the Faculty of Science and Technology at UIN Sunan Kalijaga faces challenges and develops opportunities in opening face-to-face services and making the reading room of the Faculty of Science and Technology an informal learning space. This research uses qualitative methods, collecting data using interview and observation techniques. During the process of observing and drawing conclusions from interviews conducted in the reading room of the Faculty of Science, several things need to be considered, namely; Stakeholders of the Faculty of Science provide Air Conditioner (AC) and good reading places, provide comfort for students who come to visit; things that need to be improved by the Faculty of Science and Technology reading room, namely the use of collections by students is not optimal and the information system for the Faculty of Science reading room is not optimal.
Keywords: Informal Learning Space · New Normal · Reading Space

Introduction

Pandemic covid-19 telah berlangsung selama dua tahun. Seluruh Indonesia mengalami kelumpuhan di berbagai sektor. Ditambah lagi Pemerintah Indonesia mengeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2021 mengenai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) (Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2021, 2021). Akibat dari PPKM membuat lembaga pendidikan banyak yang membatasi kegiatan tatap muka. Sebagian besar kegiatan di kampus beralih, dari offline menjadi online, sehingga unit-unit yang berada di lingkungan perguruan tinggi mulai beradaptasi dengan situasi tersebut. Pada tahun 2022, setelah pandemic covid sudah mulai mereda, pemerintah Indonesia mulai melonggarkan PPKM,dengan begitu lembaga pendidikan dapat kembali melakukan pembelajaran tatap muka. Memulai kembali pembelajaran tatap muka setelah dua tahun terjebak pandemic tentu tidak mudah, perlu adanya adaptasi kembali mengadapai keadaan “new Normal”. New normal merupakan fase pembatasan sosial bersekala besar dengan pengetatan protokol kesehatan (Guridno & Guridno, 2020). Salah satu unit pendidikan pergurutan tinggi yang menghadapi era new normal yaitu ruang baca fakultas. Adaptasi yang perlu dilakukan adalah kesiapan ruang baca melayani kebutuhan belajar mahasiswa (Fa’atin, 2017). Dimana Ruang baca fakultas merupakan tempat mahasiswa belajar secara mandiri dan tidak di batasi oleh pengajar ataupun kurikulum tertentu (Jizat & Sulong, 2021). Layanan yang terdapat pada ruang baca fakultas merupakan layanan peminjaman buku, menyediakan tempat membaca dan belajar. Ruang baca fakultas memiliki peran sebagai tempat belajar secara mandiri dapat di kategorikan sebagai informal learning spaces. Informal learning spaces menurut Colley kegiatan belajar yang tidak memiliki keterikatan terhadap belajar formal (Manuti et al., 2015). Informal learning spaces penting dalam jenjang pendidikan perguruan tinggi, yaitu memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi mahasiswa dibandingkan dengan belajar dalam kelas(Informal Learning Spaces – Future Learning Spaces, n.d.). Dengan pengelaman yang berbeda tersebut mahasiswa dapat lebih ekspolratif dalam belajar dan tidak hanya belajar akan satu hal saja. Keberhasilan dalam menyediakan informal learning spaces menurut Harrop (2013) ada sembilan indikator yaitu, destination, identity, retreat, resources, community, conversation, timely, resources, refreshment. Kesembilan indikator tersebut bertujuan agar informal learning spaces dapat efisen dan tepat sasaran. Fakultas sains dan teknologi (Saintek) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki ruang baca fakultas yang cukup memadai sebagai informal learning spaces. Beberapa fasiltas disediakan untuk kenyaman belajar mahasiswa, diantaranya ruangan menyediakan pendingin ruangan, koleksi buku yang cukup, dan tempat baca. Namun setelah masa pandemic covid-19 ruang baca fakultas saintek harus kembali melakukan pelayanan secara tatap muka dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai untuk belajar. Kajian mengenai ruang belajar informal telah banyak dilakukan. Beberapa kajian mengenai informal learning space dilakukan oleh Deborah Harrop (2013) berjudul “A Study Exploring Learners’ Informal Learning Space Behaviors, Attitudes, and Preferences”. Tujuan penelitian ini mengeksplorasi mengenai sikap, prilaku dan preferensi dari mahasiswa Universitas Sheffield Hallam. Hasil dari penelitian tersebut mengidikasikan bahwa Universitas Sheffield Hallam mencoba mengembangkan kemampuan belajar mahasiswa dengan lingkungan belajar, sehingga mahasiswa tersebut dapat menerjemahkan sendiri tipe belajar yang mereka sukai. Penelitian lainya yaitu dari Nor Atikah dan Suhaimi Sulong (2021) berjudul “Lecturer Perspective on Informal Learning Activities” serta Amelia Manuti dkk (2015) yang berjudul “Formal and informal learning in the workplace: a research review”. Kajian dari Nur Atikah lebih menekankan kepada aktifitas informal learning dengan merujuk metode apakah yang sesuai bagi perguruan tinggi dalam melakukan informal learning. Penelitian dari Amelia, bertujuan bagaimana di tempat kerja dapat melakukan pembelajaran informal learning dan formal learning. Penelitian terakhir yaitu dialakukan oleh Jayasakera dan Fernando yang berjudul “Reopening the academic library in the post-pandemic season: a lessonlearned from the COVID-19 pandemic”. Membahas pengalaman perpustakaan universitas yang membuka kembali layanan pasca pendemi Kajian-kajian mengenai informal learning spaces telah banyak dilakukan namun disini peneliti mengkaji bagaimana ruang baca fakultas dapat digunakan sebagai informal learning spaces. Penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana ruang baca Fakultas Saintek mampu menjawab tantangan sebagai ruang belajar informal setelah masa pandemic covid-19.

Method

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tantangan dan peluang dari ruang baca fakultas setelah pandemic covid 19. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan dengan lima informan. Pemelihan informan ditentukan melalui random sampling, memilih secara acak pemustaka yang berada di ruang baca. Informan lainya yaitu Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Sains dan Teknologi serta pengelola Ruang Baca Fakultas. Pertanyaan yang diajukan untuk mahasiswa mengenai, pengelaman belajar di ruang baca dan apakah ruang baca membantu mahasiswa dalam belajar. Sementara pertanyaan untuk Kepala Bagian Tatausaha dan Pengelola yaitu apa saja kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemangku kebijakan di Fakultas sains dan teknologi perihal menjadikan ruang baca fakultas sebagai ruang belajar informal. Observasi dilakukan selama dua bulan yaitu bulan Oktober-Desember. Selama tiga bulan tersebut peneliti melakukan observasi, dengan acuan wawancara yang dilakukan oleh kepada Kepala Bagian Tatausaha dan Pengelola ruang baca. Mencocokan keadaan sebenarnya dengan apa yang didapat dari wawancara

Result & Discussion

Informal learning spaces sudah di utarakan Harrop (2020; 2013) terdapat Sembilan kriteria agar learning spaces tersebut memberikan kenyamanan dalam belajar. Namun dalam pengamatan dan pengambilan data yang peneliti lakukan hanya terdapat enam kretiria yang terdapat di ruang baca fakultas saintek. Kriteriakriteria yang terdapat pada ruang baca antara lain: destination, identity, retreat, timely, human factor, dan resources. Destination Destination berfokus menjadikan ruang baca fakultas sebagai tempat yang tepat bagi mahasiswa untuk belajar. menjadikan ruang baca mahasiswa sebagai tempat yang tepat untuk belajar harus memiliki keunggulan dari tempat lainya (Hendarsyah et al., 2022). Ruang baca fakultas saintek merupakan salah satu tempat tujuan belajar bagi mahasiswa. Mahasiswa memilih ruang baca fakultas saintek karena tempat tersebut menyediakan beberapa fasiltas yang membuat nyaman, seperti pendingin ruangan dan koleksi buku yang memadai. Beberapa informan mahasiswa menambahkan bahwa di Fakultas Saintek terdapat beberapa pilihan untuk belajar diantaranya loby fakultas saintek dan taman fakultas saintek, namun tempat tersebut tidak nyaman jika digunakan untuk belajar. Mempertimbangkan ruang belajar saintek sebagai tempat belajar, menunjukan tempat yang tepat untuk belajar. Bisa saja mahasiswa menggunakan tempat lain, seperti café atau warung internet sebagai tujuan belajar. Identity Merupakan bagaimana ruang baca mempertahankan identitasnya sebagai ruang baca. Tidak direduksi dengan hal-hal lain yang dapat mengaburkan ruangan tersebut sebagai informal learning spaces. Ketika di dalam informal learning spaces terdapat fasilitas kantin, maka kantin tersebut merupakan alat pendukung agar mahaiswa semakin nyaman berada di perpustakaan. Tidak menjadikan mahasiswa alasan utamanya berkunjung ke informal learning spaces untuk datang ke kantin karena kantin disana lebih murah (Kumar & Bhatt, n.d.). Ruang baca fakultas saintek memilki fasilitas yang benar-benar sesuai kebutuhan mahasiswa. Fasilitas pendingin ruangan dan meja-meja baca yang ada di hadirkan sesuai dengan kegunaanya. Terlihat ketika menggunakan ruanga baca tidak berlebihan. Mahasiswa fakultas saintek setelah selesai membaca dan mengerjakan tugas, mereka segera meninggalakan ruang baca fakultas saintek. Tidak melakukan kegitan berdiam di ruang baca fakultas saintek dari pada masuk kelas formal. Jika seperti hal tersebut ruang baca fakultas saintek telah berlebihan digunakan oleh mahasiswa. Retreat Terdapat macam-macam tipe belajar mahasiswa, ada yang senang ketika belajar tidak terdengar suara bising sehingga dapat berkonsentrasi penuh ketika belajar. Ada pula yang suka belajar dengan teman, agar dapat mengembangkan konsep belajar yang ada pikiran mahasiswa tersebut. mengedepankan privasi dari mahasiswa tentu sangat penting karena perbedaan cara belajar dari mahasiswa yang menjadi pengguna ruang belajar (Hasfera, n.d.). Oleh karena itu ruang baca fakultas saintek sendiri terdapat pilihan dalam menggunakan ruang baca fakultas saintek. Mahasiswa dapat menggunakan meja belajar dengan sekat atau meja tanpa sekat. Meja belajar dengan sekat dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang tidak suka dilihat orang ketika belajar. Dan meja belajar tanpa sekar dimanfaatkan untuk mahasiswa yang sengan belajar dengan lingkungan yang ramai. Menyediakan pilihan bagi mahasiswa ruang baca fakultas Saintek telah menerapkan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan mahasiswa. Timely Penggunaan ruang baca tentunya berhubungan dengan waktu yang dialokasikan oleh ruang baca untuk mahasiswa. Semakin panjang waktu yang diberikan akan semakin bermanfaat ruang belajar tesebut, karena pengguna dapat mempergunakan tempat tersebut di waktu yang mereka inginkan. Ruang baca fakultas saintek memang tidak membuka jam layanan selama 24 jam penuh. Jam buka layanan ruang baca fakultas mengikuti jam buka fakultas saintek, yaitu pukul 07.30 WIB-16.00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut terdapat beberapa waktu yang ramai dikunjungi oleh mahasiswa, yaitu pukul 09.30 WIB dan 12.30 WIB. Waktu-waktu tersebut ramai karena meruapakan jeda waktu setelah pemebelajaran di fakultas. Pihak ruang baca fakultas saintek telah memperkirakan hal tersebut sehingga, sebelum jam tersebut mempersiapkan kelengkapan dengan baik, seperti menghidupkan lampu dan mengecek hal-hal lainya. Ketika keadaan sudah ramai, maka ruangan telah siap untuk digunakan. Human factor Human faktor merupakan aspek ergonomis sebuah ruangan. Dalam kegiatan belajar tentunya aspek ergonomis penting guna meningkatkan kenyamanan. Aspekaspek yang dinlai seperti pencahayaan, kualitas pendingin ruangan, meja baca, penataan ruangan. Pertama, pencahayaan di ruang baca fakultas saintek cukup baik, karena memiliki delapan lampu raungan. Delapan lampu ruangan tersebut terus dinyalakan, dari buka sampai tutup layanan. Kedua, pendingin ruangan juga cukup memadai, di atur sesuai dengan kenyamanan dari mahasiswa. Ketiga, meja baca diatur dengan jarak yang cukup, sehingga tidak mengganggu mahaiswa yang lain belajar. Resources Sumberdaya yang ada di ruang baca fakultas saintek sudah cukup memenuhi kebutuhan belajar. Mayoritas koleksi buku berisikan modul-modul dan bahan belajar dasar bagi setiap jurusan di fakultas siantek. Karena memang dikhususkan untuk penunjang belajar selain di kelas. Kekurangan dari sumberdaya ruang baca fakultas adalah koleksi fiksi yang masih minim. Hal tersebut juga disampaikan oleh beberapa pengguna program studi Matematika, bahwa untuk buku belajar matematika sudah cukup memadai, beberapa kali mahaiswa tersebut menyelesaikan tugas dari dosen meminjam buku dari ruang baca. Akan tetapi mahasiswa juga butuh koleksi fiksi untuk menambah hiburan

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa Pemangku kebijakan fakultas saintek telah mewujudkan ruang baca Fakultas Saintek sebagai ruang berlajar informal (informal learning spaces). Beberapa upaya guna menjadikan ruang baca Fakultas Saintek sebagai ruang belajar informal yaitu telah menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung kenyamanan belajar, seperti menyediakan koleksi buku yang memadai, menyediakan meja baca, serta mengoptimalisasikan sistem otomasi. Meski ruang baca fakultas telah mampu menjadi ruang belajar informal bagi mahasiswa, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki agar ruang baca fakutas saintek dapat meningkatkan pelayanan. Beberapa hal yang diperbaiki oleh ruang baca Fakultas Saintek, yaitu: 1. Kurangnya sumber daya manusia dalam mengelola ruang baca, seperti pustakawan yang terampil dalam mengelola ruang baca. Karena ruang baca berisi beberapa koleksi buku. 2. Perlu peningkatan sistem informasi peprustakaan. Sistem yang digunakan memakai SLIMs, yaitu sistem informasi perpustakaan yang dapat melakukan peminjaman secara otomatis, tetapi terkadang tidak mengalami kerusakan, sehingga perlu adanya perbaikan. 3. Kurangnya ruangan untuk dapat menampung banyak mahasiswa. Ruang baca Fakultas Saintek masih sangat kecil, dan hanya dapat manampung sekitar 20 mahasiswa, sehingga perlu adanya perluasan ruangan agar dapat menampung lebih banyak mahasiswa.