Kembali
16
1
2021 Jurnal Al- Ma'arif : Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 1 · 2 ISSN 2797-9393

RANCANGAN KUMPULAN MANTRA DI NAGARI AUR DURI KECAMATAN SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi sulitnya masyarakat mencari informasi tentang mantra yang bersal dari Pesisir Selatan, maka dari itu penulis merancang alat telusur berupa Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan, yang meliputi sinopsis singkat mantra. Penelitian ini bertujuan untuk membantu pengguna dalam mewujudkan sarana untuk menemukan informasi tentang kumpulan mantra di Kabupaten Pesisir Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode pengembangan, untuk menghasilkan sebuah produk yang valid, efektif dan praktis. Dengan tahapan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan uji coba produk yang dihasilkan dan divalidasi oleh validator ahli dan melakukan uji coba secara terbatas melalui perseorangan dan kelompok. Hasil dari pengembangan produk adalah sebuah rancangan kumpulan mantra yang valid, produk yangdirancang sudah valid dan sudah sesuai, dapat digunakan dengan praktis dan efektif. Hasil uji coba kelompok besar juga membuktikan bahwa produk yang dihasilkan praktis dengan nilai yang setuju 60% dan yang sangat setuju 35% juga produk yang dihasilkan efektif dengan nilai setuju 35% dan sangat setuju 62,5%. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan ini dapat memudahkan pengguna dalam mencari informasi mengenai Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan.

Abstract

This research is motivated by the difficulty of the community in finding information about the spell that came from the South Coast, hence the author designing a search tool in the form of a Mantra Collection Design in Nagari Aur Duri Sutera Subdistrict, Pesisir Selatan Regency, which includes a synopsis short spell. This study aims to assist users in materialize the means to find information about the spell collection in South Coast District. The method used in this research method development, to produce a product that is valid, effective and practical. With the stages of needs analysis, design, test development try products that are produced and validated by expert validators and do limited trials through individuals and groups. Result of Product development is a valid set of mantras, product that is designed is valid and appropriate, can be used with practical and effective. The results of large group trials also prove that the resulting product is practical with an agreed value of 60% and strongly agree 35% also the product produced is effective with a value of agree 35% and strongly agree 62.5%. The results of the study concluded that Mantra Collection Design in Nagari Aur Duri, Sutera District, District This South Coast can make it easier for users to find information about Mantra in Nagari Aur Duri, Sutera District, Coastal District South.
Keywords: Local Wisdom · Mantra · Minangakabau · Oral Literature · South Coast

Introduction

Mantra merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mencerminkan kepercayaan masyarakat Minangkabau dengan mengunakan perkataan yang memiliki unsur kekuatan gaib. Menurut Djamaris (2001) mantra merupakan puisi yang tertua dalam sastra Minangkabau dan dalam berbagai bahasa daerah lainnya. Minangkabau memiliki sastra lisan yang masih berkembang sampai saat ini, salah-satunya mantra. Mantra diwariskan secara turun-temurun dari seorang individu ke individu lainya secara lisan. Dalam setiap kegiatan ataupun acara masyarakat tidak terlepas dari mantra, salah satu kegiatan yang menggunakan mantra pada masyarakat Minangkabau terdahulu adalah pengobatan. Mantra mengandung kata-kata sugesti yang mampu membangkitkan semangat, dan rasa percaya diri terhadap pemiliknya jika dilandasi kepercayaan penuh. Dalam masyarakat selalu ada nilai-nilai yang dikeramatkan atau disucikan, sakral dapat berupa simbol utama, nilainilai, dan kepercayaan yang menjadi inti suatu masyarakat. Mantra tergolong ke dalam sastra melayu klasik, hal tersebut terlihat pada ciri- cirinya, mantra bersifat anonim, dengan ini mantra tidak diketahui siapa pengarangnya karena mantra dipercaya oleh masyarakat dan disebarkan secara turun-temurun. Hal inilah yang membuat kedudukan mantra sangat penting pada masyarakat dahulunya, karena mantra berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Minangkabau, mantra menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut terlihat dari berbagai kegiatan yang berhubungan dengan adat akan diikuti dengan pembacaan mantra. Hal ini menunjukan bahwa terdapat suatu kepercayaan di tengah masyarakat tentang suatu yang dapat ditimbulkan dengan pembacaan mantra tertentu. Dalam khazanah kesusastraan Minangkabau, mantra memiliki beberapa jenis seperti mantra paga diri, pengobatan, pakasiah, dan sebagainya. Salah satu mantra yang hampir dikenal seluruh wilayah Minangkabau adalah mantra pakasiah, salah satunya yang terdapat di daerah Langgai Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan, mantra ini sudah dikenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Mantra pakasiah merupakan mantra yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain, agar dia tertarik atau suka kepada orang yang menginginkanya. Contohnya mengoda lawan jenis, atasan, dan lain-lain. Mantra pakasiah maksudnya Jika ada orang yang menghina atau mencaci-maki, maka orang tersebut akan berbalik sayang. Hal tersebut bertujuan untuk menguasai jiwa orang lain agar dirinya terlihat unggul. Salah satu kegiatan yang menggunakan mantra pada masyarakat Minangkabau adalah pengobatan. Pada masa dahulu, masyarakat berobat secara tradisional dengan menggunakan dedaunan ataupun hasil alam lainnya, umumnya masyarakat dahulu berobat ke dukun atau orang pintar, karena tenaga medis dan alat-alat kesehatan belum ada seperti saat sekarang ini. Dalam mengucapkan mantra seorang dukun (orang yang memiliki kelebihan dalam hal supranatural) tidak boleh berbuat kesalahan. Dukun harus betulbetul menjaga apa yang diucapkannya, melihat waktu baik dan waktu buruk serta harus dipatuhinya. Dukun memiliki kewenangan penuh dalam membaca mantra tertentu. Dengan kata lain, mantra merupakan bahasa rahasia yang hanya diketahui oleh dukun saja, bahasa rahasia ersebut mengandung pengertian bahwa bahasa rahasia tersebut berguna untuk menunjukan kedudukan khas seorang dukun. Pada kenyataanya di era globalisasi ini, mantra kurang mendapat perhatian di masyarakat, khususnya generasi muda. Terbatasnya pemahaman terhadap pengetahuan tentang mantra, dan diperparah lagi dengan perkembangan teknologi modern yang semakin pesat, mengakibatkan mantra terkesan kuno sehingga generasi muda tidak tertarik untuk mempelajarinya karena terikat dengan lirik, pantun dan sajak yang digunakan. Fenomena ini tentu akan berpengaruh terhadap eksistensi tradisi sastra lisan dalam kebudayaan Minangkabau hingga masa akan datang. Keterbatasan pengetahuan generasi muda Minangkabau pada saat ini tentang mantra disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan mantra yang dapat dipelajari secara eksplisit. Jika hal ini terus terjadi, mengakibatkan mantra akan hilang di masyarakat. Hal tersebut terlihat dari hasil wawancara Bapak Ujang tanggal 15 Maret 2021 salah seorang masyarakat yang beralamat Koto Baru Surantih Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan beliau memaparkan bahwa penyebab mantra ini sudah terlupakan karena kurangnya sumber informasi yang membahas tentang mantra. Dimana mantra hanya diketahui oleh seorang yang ahli dalam bidang mantra. Jika mantra tersebut tidak dilestarikan dalam bentuk tertulis dan dibukukan, maka mengakibatkan mantra ini akan lenyap begitu saja seiring berjalannya waktu. Selanjutnya wawancara pada tanggal 19 Maret 2021 dengan ahli mantra Bapak Sibuang yang beralamat Pasar Surantih Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan beliau mengatakan bahwa sudah sangat jarang mengunakan mantra dalam kegiatan atau acara adat, karena mantra dianggap kuno dan masyarakat lebih tertarik dengan hiburan modren sehingga mantra ini tidak dilestarikan dalam bentuk tertulis tentunya nanti tidak ada orang yang mengetahui isi, maksud, dari mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Wawancara berikutnya dilakukan 23 Maret 2021 dengan salah seorang pemuka adat Bapak Jalalulldin yang beralamat Nagari Lubuk Batu, Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan beliau mengatakan bahwa kesulitan dalam mencari informasi tentang mantra hal ini mengakibatkan masyarakat atau penduduk yang mencari informasi tentang mantra mengalami kesulitan untuk mengetahui isi atau makna dari mantra tersebut. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu didokumentasikan agar mantra (sastra lisan) ini bisa dilestarikan dan dapat diperkenalkan oleh orang banyak, jika hal tersebut dilakukan mantra (sastra lisan) tidak akan hilang begitu saja karena pengetahuan yang bersifat lisan dari seseorang telah dibukukan. Oleh karena itu maka dalam penelitian ini dibuat “Rancangan kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan”. Produk ini bertujuan menjadi sumber informasi bagi masyarakat untuk mengetahui isi dari mantra (sastra lisan) yang ada di Nagari Aur Duri Pesisir Selatan. Kenagarian Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan merupakan salah satu daerah yang memilki kekayaan sastra lisan yang berupa mantra. Disana masih terdapat banyak mantra, contohnya mantra paga diri, pamanih, pitunduak, pengobatan, dan lainnya. Namun tidak semua masyarakat mengunakan mantra sebagai alternatif untuk kepentingan mereka contohnya saja dalam urusan pertanian masyarakat Aur Duri Kecamatan Sutera masih mengunakan mantra untuk mengusir hama padi, mantra ini Bertujuan agar petanian mereka tidak dimakan oleh hama, kegiatan ini sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Namun masih ada juga mantra yang kurang dapat perhatian dari masyarakat sehingga mantra tersebut terlupakan atau jarang digunakan oleh masyarakat seperti mantra Gayuang (mantra yang biasanya digunakan untuk hal yang buruk/untuk menyakiti seseorang sama seperti santet). Berdasarkan fenomena tersebut pemilihan mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan fokus dalam penelitian ini karena mantra di jumlahnya secara kuantitatif masih banyak. Namun terdapat kendala yaitu tidak semua masyarakat mengetahui tentang mantra tersebut, dengan demikian produk yang dihasilkan menjadi sebuah buku yang nantinya dapat dimanfaatkan. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kemas Ulang Informasi Reitz (2015) mendefenisikan informasi (information) sebagai suatu data yang disajikan dalam bentuk yang mudah dipahami, dalam hal ini terkait dalam conteks pengunaanya. Kemas ulang (repackaging) adalah penerbitan kembali sebuah buku yang diterbitkan sebelumnya dalam format yang berbeda untuk meningkatakan daya tarik dari pembaca. Sedangkan menurut Dongardive ( 2013 ) kemas ulang informasi adalah proses untuk menyeleksi, menganalisis, dan mengkosolidasikan informasi dalam bentuk yang lebih tepat sehingga dapat digunakan oleh penguna perpustakaan. Dalam artikel yang berjudul pengemasan informasi karangan (Djamarin, 2016) juga dijelaskan pengertian kemas ulang informasi yaitu “merupakan kegiatan penataan ulang yang dimulaidari penyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan penguna”. Dapat disimpulkan bahwa kemas ulang informasi adalah proses mengemas ulang kembali informasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain agar bisa menyesuaikan informasi yang tersedia dengan kebutuhan pemustaka. Kegiatan ini meliputi proses seleksi yang dimulai dengan menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan penguna. 2.2 Pengertian Mantra Mantra adalah salah-satu bentuk sastra lisan yang tertua dalam khasana sastra indonesia. Mantra merupakan bagian dari tradisi dan bahkan kepercayaan yang dianut oleh warga masyarakat tradisional (Yusuf, 2001). Pembacaan mantra sebagai salah-satu kegiatan yang bersifat religius dan magis, menghendaki persyaratan dan cara-cara tertentu supaya efek spiritualnya dapat tercapai. Aspek pendukung pembacaan mantra terdiri dari : (1) waktu pembacaan matra, (2) tempat pembacaan matra, (3) peristiwa atau kesempatan dalam membawakan mantra, (4) pelaku membawakan mantra, (5) perlengkapan dalam menggunakan mantra, (6) pakaian dalam membawakan mantra, (7) cara membawakan mantra. Menurut Waluyo (1991) mantra adalah hasil karya sastra lisan yang berhubungan dengan sikap religius manusia yang mempunyai kekuatan, bukan hanya dari struktur katakatanya, namun terlebih dari struktur batinnya.

Method

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yaitu membuat produk berupa Rancangan kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Dalam penelitian ini akan dibuatnya produk berupa Buku Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan yang menggunakan pedoman buku “Sastra Lisan Minangkabau”(1981) yang dikarang oleh Jamil Bakar, Mursal Esten, Agustar Surin, Busri. Dalam buku ini nantinya akan dicantumkan judul mantra, isi mantra serta transkripsi. Analisis kebutuhan yang digunakan berdasarkan hasil yang didapat dari wawancara dan pengisian angket terhadap Dosen dan pengguna potensial (Mahasiswa, Peneliti, dan maupun Masyarakat umum). Adapun teknik pengumpulan data, diantaranya: wawancara, observasi, dan penyebaran angket. Adapun alur penelitian sebagai berikut: Tabel 1. Alur Penelitian (Sumber: Buku Pedoman Penulisan tugas akhir: Program Diploma Tiga (DIII) Ilmu Perpustakaan 2016)

Result & Discussion

Bagian ini menguraikan hasil atau temuan yang diperoleh setelah kegiatan observasi atau penelitian yang dilakukan. Pada tahapan ini terdapat empat tahapan yaitu analisis kebutuhan, rancangan model (produk), pembuatan atau pengembangan model (produk) dan evaluasi atau pengujian model (produk). A. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan merupakan alat untuk menganalisis data sebuah penelitian, hipotesis penelitian dapat dibuktikan dan diuji, dan akhirnya tujuan penelitian dan tercapai. Dengan demikian, teknik atau analisis kebutuhan penelitian ini harus dipersiapkan atau direncanakan secara seksama. Buku Rancangan Kumpulan Mantra ini akan mempermudah dalam menelusuri informasi tentang mantra dan mengetahuinya secara valid efektif dan praktis. Wawancara pertama dilakukan 30 April 2021 dengan Muhammad Nasir, SS, M.A jurusan Sejarah Kebudayaan Islam dosen UIN Imam Bonjol Padang, dalam wawancara tersebut menyarankan dalam pembuatan buku himpunan mantra supaya mencantumkan makna mantra, serta kata kunci dari mantra tersebut. Wawancara selanjutnya dilakukan dengan Arif Purnama Putra mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Sekolah Tinggi keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP PGRI Padang). Dalam wawancara ini Arif Putra menyarankan dalam pembuatan buku himpunan mantra supaya mencantumkan judul mantra, pesan moral serta kata kunci dari mantra tersebut. Wawancara selanjutnya dilakukan dengan Arif Purnama Putra mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Sekolah Tinggi keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP PGRI Padang). Dalam wawancara ini Arif Putra menyarankan dalam pembuatan buku himpunan mantra supaya mencantumkan judul mantra, pesan moral serta kata kunci dari mantra tersebut. Selanjutnya wawancara dengan pustakawan UIN Imam Bonjol Padang, Ibu Evalina menyarankan untuk pembuatan buku himpunan mantra bagusnya dicantumkan judul mantra, identitas mantra (narator & author) serta cantumkan pesan moral dari mantra tersebut. Wawancara juga dilakukan dengan Ibu Zulfitri pustakawan UIN Imam Bonjol Padang, beliau menyarankan untuk pembuatan buku himpunan mantra desainlah cover semenarik mungkin sesuai dengan tema, kemudian cantumkan hikma atau pelajaran yang bisa diambil dari mantra tersebut. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengguna membutuhkan buku himpunan mantra dengan mencantumkan judul mantra, identitas mantra seperti author dan narator. Tabel 2. Analisis Kebutuhan Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengguna membutuhkan judul mantra, makna mantra, kata kunci mantra, identitas mantra (Narator & Author). Dengan dibuatkannya kebutuhan pengguna ke dalam buku Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan akan memudahkan pengguna dalam mencari informasi mengenai mantra serta dapat mempelajarinya. B. Rancangan Model Produk Setelah dilakukan analisis tingkat kebutuhan bagi pengguna, kemudian merancang model himpunan mantra yang akan dibuat. Dalam merancang model produk berupa mantra dilakukan kolaborasi dengan validator ahli untuk mendiskusikan tentang rancangan model produk mengacu pada hasil analisis tingkat kebutuhan dengan menggunakan angket dan wawancara. Rancangan model produk dibuat mengunakan aplikasi Microsoft word 2010, yang akan dicetak dengan kertas HVS dengan ukuran A5 dengan gaya tulisan Monotype Corsiva dengan ukuran 9 dan spasi 2,0 untuk isi mantra. Time New Roman untuk judul mantra dengan ukuran 12. Selanjutnya buku yang sudah dirancang akan divalidasi oleh validator yaitu Ibu Fadhila Nurul Husna Zalmi M.Hum,merupakan dosen jurusan Ilmu Perpustakaan dan informasi Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang. Strategi yang akan digunakan dalam merancang produk berupa buku Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan ini adalah sebagai berikut: a. Mengumpulkan semua data yang berkaitan dengan mantra. Data dikumpulkan dengan cara mendatangi lansung orangahli dalam bidang mantra, dimana semula data tersebut hanya berada didalam kepala atau pemikiran orang yang ahlinya. b. Setelah semua data terkumpul, kemudian penulis mengolah data dan merancang buku kumpulan mantra secara terstruktur, sehingga buku ini dapat digunakan oleh pemakai dengan mudah. Dalam merancang produk ini dilakukan kolaborasi dengan validator untuk mendiskusikan tata cara dan aturan dalam pembuatan produk ini dengan benar. Gambar 1. Rancangan Sketsa Cover Produk Keterangan: a. Judul produk b. Gambar ilustrasi c. Nama penulis produk d. Judul produk, tahun di punggung buku e. Sinopsis produk C. Pembuatan Atau Pengembangan Model (Produk) Rancangan pada produk dibuat dengan mengunakan aplikasi Microsoft word 2010, dengan ukuran kertas A4 dan kemudian dicetak menggunakan kertas HVS A4, dan untuk desain produk disesuaikan dengan rancangan sketsa produk yang sebelumnya telah divalidasi oleh validator ahli ibuk Fadhila Nurul Husna Zalmi M.Hum. Dalam isi produk rancangan kumpulan mantra akan dibuatkan identitas mantra, serta glosarium. Gambar 2 Cover Produk D. Evaluasi atau Pengujian Model (Produk) Pada tahap ini, produk yang telah dibuat kemudian diuji coba kelayakan dan kepraktisannya secara terbatas. Penulis melakukan uji coba kepada kelompok kecil sebanyak 10 orang dan kelompok besar sebanyak 40 orang, masing-masing target responden yang akan diuji cobakan yaitu dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa, budayawan, sastrawan, dan masyarakat. Penulis meminta untuk mengisi atau menjawab angket tentang Produk Rancangan Kumpulan Mantra Di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Setelah data terkumpul, data dianalisis menggunakan metode statistik. Hasil analisis berupa angka dan dijelaskan dalam satu uraian. Perhitungan presentasenya penulis menggunakan rumus. (Sugiyono 2017) sebagai berikut: P = f/n x 100% Ket : P = Presentasi F = Frekuensi N = Jumlah responden 100 % = Bilangan tetap Gambar 3 Grafik Hasil Uji Coba Kelompok Kecil Pemaparan Angket Uji Coba Kelompok Kecil Pemaparan angket uji coba kelompok kecil sebanyak 10 orang dengan subjek uji coba dari berbagai kalangan diantaranya yaitu salah seorang dari dosen, mahasiswa, sastrawan, budayawan, dan masyarakat. Untuk menentukan tingkat keefektifan dan kepraktisan produk, responden diminta untuk menggunakan Rancangan kumpulan mantra Di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan, tersebut dan responden diminta untuk mengisi dan menjawab angket sesuai dengan pernyataan yang berkaitan dengan produk. Berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil yang telah dilakukan diketahui bahwa dari pernyataan pertama, skor tertinggi yaitu 50% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan kedua, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan ketiga, skor tertinggi yang diperoleh seimbang yaitu 40% responden menyatakan “setuju” dan 40% responden mengatakan “sangat setuju”. Pernyataan keempat, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 70% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan kelima, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 50% responden yang menyatakan “setuju”. Pernyataan keenam, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 70% yang menyatakan “setuju”. Pernyataan ketujuh, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 70% responden yang menyatakan “setuju”. Pernyataan kedelapan, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% responden menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan kesembilan, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 70% responden yang menyatakan “setuju”. Gambar 4 Grafik Hasil Uji Coba Kelompok Besar Uji coba kelompok besar terdiri dari 40 orang responden dengan cangkupan 20 orang mahasiswa sastra, 20 orang mahasiswa sejarah. Berdasarkan hasil uji coba kelompok besar yang telah dilakukan diketahui bahwa dari pernyataan pertama, skor tertinggi yaitu 62,5% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan kedua, skor tertinggi yang diperoleh yaitu45% responden menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan ketiga, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 47,5% responden menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan keempat, skor tertinggi yang diperoleh seimbang yaitu 45% responden menyatakan “setuju” dan 45% responden yang menyatakana “sangat setuju”. Pernyataan kelima, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 62,5% responden yang menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan keenam, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 50% yang menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan ketujuh, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% responden yang menyatakan “setuju”. Pernyataan kedelapan, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 50% responden menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan kesembilan, skor tertinggi yang diperoleh seimbang yaitu 50% responden yang menyatakan “setuju” dan 50% responden menyatakan “sangat setuju”. Berdasarkan hasil uji coba kelompok besar diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menjawab sangat setuju dan setuju, serta sebagian kecil yang menjawab tidak setuju. Dari jawaban responden kelompok kecil dan kelompok besar, dapat disimpulkan bahwa Produk Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan, ini sudah valid, dan dapat digunakan sebagai alat telusur informasi yang efektif, praktis dan efesien.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa produk Rancangan Kumpulan Mantra di Nagari Aur Duri Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan dinyatakan valid, efektif dan praktis. Dengan adanya buku rancangan himpunan mantra ini akan memudahkan masyarakat dan mahasiswa, terutama orang yang ingin mendalami tentang mantra.