KETERSEDIAAN KOLEKSI MUATAN LOKAL DI PERPUSTAKAAN SMA/SMK DALAM MENINGKATKAN LITERASI BUDAYA SISWA DI KOTA PEKANBARU
Institut Seni Indonesia Padangpanjang; Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning
Abstrak
Artikel ini membahas tentang ketersediaan koleksi perpustakaan terkait dengan adanya kurikulum muatan lokal budaya melayu. Kurikulum muataan lokal budaya Melayu Riau sudah dimulai sejak lama di Riau dan khususnya di Pekanbaru. Setiap tahun kualitas kurikulum dan tenaga pengajar juga terus ditingkatkan. Hal ini juga seharusnya didukung dengan ketersediaan koleksi di perpustakaan sekolah untuk menunjang pembelajaran dan menunjang keberhasilan penerapan kurikulum muatan lokal di jenjang Sekolah Menengah Atas. Sampel penelitian ini berasal dari 15 sekolah yang dipilih secara acak, yakni 9 SMA dan 6 SMK yang tersebar di kota pekanbaru. Hasil menunjukkan bahwa untuk kategori SMA, untuk tiap jenjang kelas yakni kelas X, kelas XI dan kelas XII, perpustakaan memiliki semua buku pegangan berupa buku pegangan wajib mata pelajaran Budaya Melayu. Namun untuk SMK, tiap sekolah berbeda, pada umumnya hanya kelas X dan Kelas XI yang masih mempelajari Budaya Melayu. Untuk kelas XII sudah tidak lagi dikarenakan siswa fokus pada mata pelajaran kejuruan sekolah. Untuk koleksi pendukung, masih didominasi oleh koleksi buku. Dari segi jumlah koleksi secara umum belum memenuhi kebutuhan, sehingga perpustakaan menjadikannya sebagai koleksi referensi. Dari segi judul sudah terlihat keberagamannya, hanya saja beberapa sekolah hanya memiliki buku paket/ buku pegangan untuk guru dan murid tanpa memiliki buku referensi penunjang mata pelajaran
Abstract
This article discusses the availability of library collections related to the local content curriculum of Malay culture. The Riau Malay culture local content curriculum has been started for a long time in Riau and especially in Pekanbaru. Every year the quality of the curriculum and teaching staff also continues to be improved. This should also be supported by the availability of collections in school libraries to support learning and support the successful implementation of the local content curriculum at the Senior High School level. The sample of this study came from 15 randomly selected schools, namely 9 high schools and 6 vocational schools spread across the city of Pekanbaru. The results show that for the high school category, for each grade level, namely class X, class XI and class XII, the library has all the handbooks in the form of compulsory handbooks of Malay Culture subjects. But for SMK, each school is different, in general only class X and Class XI are still studying Malay Culture. For class XII it is no longer because students focus on school vocational subjects. For supporting collections, it is still dominated by book collections. In terms of the number of collections in general, it does not meet the needs, so the library makes it a reference collection. In terms of titles, it has seen diversity, it's just that some schools only have package books / handbooks for teachers and students without having reference books to support subjects.
Keywords:
Collection development
· Local Collection
· Local Culture
· Malay Culture
Introduction
Kebijakan pemerintah provinsi untk menerapkan muatan lokal di sekolah-sekolah tentunya dapat meningkatkan pemahaman siswa-siswa dalam memahami budaya lokal. Dalam hal ini pemerintah Provinsi Riau menetapkan budaya Melayu sebagai muatan lokal yang harus dipelajari di sekolah-sekolah, khususnya di Pekanbaru. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau secara resmi me-launching penguatan muatan lokal (Mulok) budaya Melayu Riau di Provinsi Riau, pada tanggal 25 Agustus 2018 di Kantor Gubernur Riau. Pencanangan penguatan Mulok Budaya Melayu Riau di Riau ini mengisyaratkan bahwa selama ini pun, muatan lokal budaya Melayu Riau di daerah ini sudah dimulai. (Arman, 2018) Perwujudan komitmen juga ditandai dengan ditandatanganinya Keputusan Gubernur Riau nomor: Kpts.92 terkait penerapan kurikulum tersebut di sekolah. Kurikulum muatan lokal budaya Melayu Riau 2019 ini dihadirkan mengacu kepada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 79 tahun 2014. Regulasi ini difokuskan untuk Sekolah Menengah Atas, dimana pengelolaannya merujuk pada keputusan gubernur, sedangkan untuk tingkat SD dan SMP merupakan kewenangan Kabupaten/Kota dalam pengelolaannya. Kebijakan ini tentunya mendapatkan dukungan dari semua pihak yang terkait. Dukungan ini tentunya menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan literasi budaya Melayu siswa-siswa SMA di Pekanbaru. Penerapan kurikulum muaatan lokal budaya Melayu ini penting bagi generasi muda karena bisa menumbuhkan rasa cinta kepada tunjuk ajar dan kebudayaan Melayu. Selain itu kurikulum muatan lokal budaya Melayu Riau ini juga bertujuan agar para peserta didik memiliki perilaku yang mencerminkan ketaatan kepada ibu bapak, taat dan setia kepada pemimpin, persebatian dan gotong royong. Tidak hanya itu, nilai edukasi positif lainnya adalah makna memiliki sifat generasi penerus yang pemaaf, dermawan, berpandangan jauh ke depan dan sederhana. Salah satu elemen untuk meningkatkan literasi budaya Melayu adalah perpustakaan yang menyediakan koleksi-koleksi tentang budaya melayu tersebut. Koleksi adalah unsur penting bagi perpustakaan maupun lembaga informasi lainnya untuk selalu dijaga dan dirawat, karena didalam koleksi memiliki nilai informasi yang tinggi. Oleh karena itu, menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan memudahkan pemustaka dalam mencari informasi merupakan hal yang perlu diupayakan oleh perpustakaan. Upaya yang dilakukan oleh perpustakaan yaitu mengembangkan koleksi. Pegiat Literasi, Desmawati mengatakan bahwa akar masalah literasi bukan dari sisi hilir melainkan dapat dilihat dari sisi hulu terlebih dahulu. Menurutnya, banyak buku yang terbit tetapi buku yang tersedia belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Merdeka, 2022). Perpustakaan perpustakaan sekolah seharusnya memiliki ketersediaan tentang budaya Melayu yang mencakup dan memadai agar transfer pengetahuan budaya Melayu lebih cepat berlangsung dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Menurut Liauw, Toong Tjiek (2015) dalam sebuah perpustakaan, koleksi yang memuat mengenai informasi kearifan lokal tergolong dalam koleksi local content (koleksi muatan lokal), yaitu koleksi yang mengandung informasi mengenai entitas lokal (perorangan, institusi, kegiatan, geografi dan budaya). Koleksi muatan lokal yang terdapat di perpustakaan umum daerah berkaitan mengenai budaya dan lingkungan sosial dari suatu daerah, pengetahuan mengenai koleksi muatan lokal dari suatu daerah merupakan hal yang harus dipelajari dan perlu dikembangkan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal dan memahami budaya lokal yang sudah berkembang atau yang masih berkembang hingga saat ini. (Tjiek, 2005). Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik dan merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul “Ketersediaan Koleksi Muatan Lokal di Perpustakaan SMA Dalam Meningkatkan Literasi Budaya Siswa di Kota Pekanbaru.
Method
Metode penelitian ini yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif merupakan adalah suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Metode penelitian kuantitatif adalah upaya seorang peneliti menemukan pengetahuan dengan memberi data berupa angka. Angka yang diperoleh digunakan untuk melakukan analisa keterangan, sederhananya penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang disusun secara sistematis terhadap bagian-bagian dan untuk menemukan kausalitas keterkaitan. (Sumanto, 1995). Kajian ini melihat dari variable subjek buku yang dimiliki oleh perpustakaannsebagai buku penunjang dan pendamping dalam pelajaran budaya melayu sebagai kurikulum muatan lokal. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian dalam penulisan ini menggunakan instrumen : No 13 Aspek Budaya Melayu Riau Subjek 1. Nilai-nilai asas jati diri melayu riau; Filsafat, sosiologi, antropologi, 2. Alam dan kearifan ekologis melayu riau; Lingkungan, 3. Bahasa dan sastra melayu riau; Bahasa, Sastra 4. Adat dan adab melayu riau; Adat, tradisi, adab, budaya 5. Sejarah melayu riau; Sejarah, Melayu 6. Pakaian melayu riau; Pakaian, 7. Kesenian melayu riau; Seni 8. Makanan melayu riau Makanan 9. Permainan rakyat melayu riau; Permainan, olahraga 10. Perubatan melayu riau; Medis, obat-obatan 11. Teknologi melayu riau; Teknologi, mesin, alat 12. Ekonomi dan mata pencarian melayu riau; Ekonomi, 13. Kepemimpinan dalam budaya melayu riau.Kepemimpinan, administrasi,
Result & Discussion
Seperti yang diketahui, koleksi local content yang dimaksud dalam penelitian ini adalah koleksi perpustakaan yang merupakan karya yang berhubungan dengan Budaya Melayu baik yang ditulis oleh penulis di Riau maupun di luar Riau. koleksi yang dimaksud bersifat cetak ataupun non cetak. Adapun data yang didapatkan pada penelitian ini berasal dari 15 sekolah yang dipilih secara acak yakni 9 SMA dan 6 SMK yang tersebar di kota pekanbaru. Dari 13 sekolah ini didapat hasil, untuk kategori SMA, untuk tiap jenjang kelas yakni kelas X, kelas XI dan kelas XII, perpustakaan memiliki semua buku pegangan berupa buku pegangan wajib mata pelajaran Budaya Melayu. Namun untuk SMK, tiap sekolah berbeda, pada umumnya haya kelas X dan Kelas XI yang masih mempelajari Budaya Melayu. Untuk kelas XII sudah tidak lagi dikarenakan mereka lebih focus pada mata pelajaran kejuruan sekolah. Untuk koleksi pendukung, untuk jenis koleksi ada keberagaman, namun masih didominasi oleh koleksi buku. Dari segi jumlah koleksi secara umum belum memenuhi kebutuhan, sehingga perpustakaan menjadikan koleksi local content ini sebagai koleksi referensi, yakni koleksi yang hanya boleh dibaca di tempat. Dari segi judul sudah terlihat keberagamannya, hanya saja beberapa sekolah hanya memiliki buku paket/ buku pegangan untuk guru dan murid tanpa memiliki buku referensi penunjang mata pelajaran. Perpustakaan di tingkat Sekolah Menengah Atas menjadi salah satu bagian pendukung dalam menjalankan kegiatan akademik. Di Riau yang telah dicanangkan kurikulum muatan lokal berupa mata pelajaran tambahan tentang Budaya Melayu tentunya harus mendapat perhatian penuh dari phak sekolah. Perhatian tidak hanya pada pemenuhan guru yang sesuai dengan bidangnya namun juga pada sumber belajar salah satunya koleksi perpustakaan. dalam penelitian ini akan di bahas kondisi ketersediaan koleksi perpustakaan yang akan disesuaikan dengan 13 aspek budaya melayu yang menjadi sorotan dalam mata pelajaran Budaya Melayu Riau yang akan dibahas dari 15 sekolah yang menjadi objek penelitian yang dibagi menjadi 2 jenis yakni SMA dan SMK. 1. Perpustakana SMK Di tingkat SMK, pada umumnya sekolah hanya menyediakan mata pelajaran ini untuk kelas X dan kelas XI. Untuk kelas XII tidak lagi memiliki mata pelajaran ini karena sudah focus pada pelajaran kekhususan. Hal ini mempengaruhi keberadaan koleksi sumber informasi di perpustakaan SMK. SMK yang menjadi objek penelitian ini yakni SMKN 1, SMKN 2, SMKN 5, SMKN 7, SMK Labor, SMK PGRI. Dari 6 SMK ini yang memiliki koleksi penunjang mata pelajaran Budaya Melayu dalah SMK labor. 2. Perpustakaan SMA Dari 7 SMA yang menjadi objek dalam penleitian ini, semua jenjang kelas masih memiliki mata pelajaran Budaya Melayu, yakni kelas X, kelas XI dan Kelas XII. Jumlah buku pegangan muris / buku paket sesuia dengan jumlah murid yang ada disekolah tersebut. setiap guru memiliki buku pegangan guru untuk masing –masing kelas. Selain buku wajib muatan lokal untuk setiap kelas, perpustakaan juga memiliki koleksi-koleksi buku sebagai penunjang pembelajaran muatan lokal budaya Melayu yang dijabarkan dalam 13 Aspek Budaya Melayu yang di klasifikasikan dalam beberapa subjek No. 13 Aspek Budaya Melayu Riau Subjek Ketersediaan 1. Nilai-nilai asas jati diri melayu riau; Filsafat, sosiologi, antropologi, Ada 2. Alam dan kearifan ekologis melayu riau; Lingkungan, Ada 3. Bahasa dan sastra melayu riau; Bahasa, Sastra Ada 4. Adat dan adab melayu riau; Adat, tradisi, adab, budaya Ada 5. Sejarah melayu riau; Sejarah, Melayu Ada 6. Pakaian melayu riau; Pakaian, Ada 7. Kesenian melayu riau; Seni Ada 8. Makanan melayu riau Makanan Ada 9. Permainan rakyat melayu riau;Permainan, olahraga Ada 10 Perubatan melayu riau; Medis, obat-obatan Ada 11. Teknologi melayu riau; Teknologi, mesin, alat Ada 12. Ekonomi dan mata pencarian melayu riau; Ekonomi, Ada 13. Kepemimpinan dalam budaya melayu riau. Kepemimpinan, administrasi, Ada Dari data yang disajikan, yang didapat dari 15 sekolah yakni 6 SMK dan 9 SMA, perpustakaan telah mengoleksi keseluruhan subjek budaya melayu, hanya saja proposi jumlah koleksi yang belum memadai dibandingkan dengan jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. Adapun buku yang banyak di koleksi di Perpustakaan di Tingkat SMA seperti buku Tunjuk Ajar Melayu Karya Tenas Effendi, Corak Dan Ragi Tenun Melayu Riau karya Abdul Malik, Tenas Effendi, Hassan Junus, Dan Auzar Thaher, Judul: Senarai Upacara Adat Perkawinan Melayu Bengkalis, Pengarang: Siti Khairani dan Umar, Judul: Pakaian Melayu Riau, karya Encik Zulkifli Penerbit: Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2006., Pakaian Tradisional Melayu Riau, pengarang: Lembaga Adat Melayu Riau , penerbit: Pekanbaru: LPNU Press, 2005, dll.
Conclusion
Ketersediaan koleksi lokal bermuatan melayu di 13 sekolah yang menjadi sampel dalam penelitian ini secara umum perpustakaan sudah memiliki koleksi tersebut baik untuk buku pegangan guru, buku untukpegangan murid dan buku penunjang. Hanya saja untuk buku penujang untuk tiap sekolah masih bervariasi baik dari sisi judul maupun jumlah koleksi Kajian ini masih dapat dikembangkan menjadi lebih maksimal karena sampel sekolah yang masih sedikit mengingat seluruh sekolah menggunakan kurikulum muatan lokal Budaya Melayu. Selain itu perpustakaan hendaknya terus memperbaharui koleksi-koleksi budaya melayu baik dari segi jumlah judul maupun eksamplar .