Kembali
16
1
2024 Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 4 · 2 ISSN 2827-9107

FENOMENA HASHTAG SEBAGAI PENCARIAN INFORMASI DALAM PERILAKU BERSOSIAL MEDIA

Universitas Udayana

Abstract

Searching for information on the internet, especially social media, using hashtags is certainly something that is no longer foreign in today's digital era. The role of hashtags as an alternative for searching for information that is quite easy to use can be utilized by all levels of society. Freedom of communication on social media has resulted in the use of hashtags being used frequently as a tool to expand the reach of information dissemination. This article explains how hashtags play a role in the behaviour of internet users in searching for information on the internet. There are many benefits to using hashtags on social media, such as helping to find relevant information, helping to advertise products, and being used as a tool to voice opinions by activists, both individually and publicly. The use of hashtags can also have a negative impact, as caused by social media users lacking ethics in communicating in the internet environment. Hashtags can be ranked based on the number of social media users who use the same hashtag, so that hashtags become one of the benchmarks for how information can be declared as viral or popular information
Keywords: hashtag · information behaviour · social media

Introduction

Saat ini kita hidup di era digital di mana ledakan teknologi telahtersebar secara merata di seluruh sektor kehidupan. Munculnya sistem informasi hingga media sosial merupakan salah satu dampak dari perkembangan teknologi informasi. Manusia sebagai pengguna teknologi yang terhubung ke jaringan internet dapat mencari informasi secara online. Media internet memberi kendali atas komunikasi antara diri sendiri, kontak sosial, dan isi pesan yang ingin disampaikan (Amichai-Hamburger, 2017:22). Pengguna internet dapat menjelajahi web menggunakan laptop, tablet, hingga smartphone, dengan perilaku yang berbeda-beda. Search engine(mesinpencarian) membantu pengguna internet untuk mencari informasi dengan menggunakan keyword(kata kunci). Pengguna memproses informasi yang di mana mental, perilaku, serta kinerjanya dapat diselidiki melalui relevansi pertanyaan, tautan di antara hasil yang diambil, dan tautan yang diakses dari halaman hasil (Naghib et al., 2021).Perilaku seperti ini pada umumnya sering dilakukan pengguna internet ketika ingin mencari informasi melalui search enginepada internet browser.Kemudahan dalam memperoleh informasi akan bergantung pada penulisan keywordyang tepat. Pengguna internet awalnya tidak akan tahu akan menuju ke laman apa, namun ketika mereka memasukkan keyworddi laman pencarian, mereka akan diarahkan ke beberapa laman yang direkomendasikan oleh mesin pencarian. Dalam kehidupan nyata, pencarian informasi biasanya bukan kegiatan yang terisolasi, tetapi didorong oleh beberapa jenis tugas yang ada seperti merencanakan perjalanan liburan, mencari resepmakanan, atau menulis esai (Liu & Albright, 2018). Bahkan ketika kita mencari informasi menggunakan search engine, terkadang hasil pencarian kita diarahkan ke laman media sosial. Kehadiran media sosial di tengah-tengah perkembangan teknologi, mampu diterima baik oleh pengguna internet. Beberapa media sosial telah mendapatkan popularitas yang fenomenal selama dekade terakhir di banyak bagian dunia dan melintasi batas-batas kelas, gender, dan generasi (Drotner & Schroder, 2013:13). Hal ini mendorong banyaknya media informasi mulai beralih ke media sosial dalam menyampaikan informasi

Discussion

Media Online dan Literasi Digital Di dalam kehidupan bermasyarakat, berbagai macam bentuk media telah hadir sebagai asupan informasi. Bahkan sejak era-era sebelumnya, media sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Diawali media berupa teks, hingga media berupa audio visual, kini telah memiliki peran yang luas bagi khalayak. Menurut buku yang ditulis oleh Hartley (2002:142), diperoleh informasi bahwa media adalah industri konten yang ditujukan untuk menjangkau khalayak dan pembaca populer yang sangat besar di media cetak (surat kabar, majalah), layar (bioskop, TV), dan aural (rekaman musik, radio). Dengan hadirnya teknologi, internet berperan besar dalam melakukan mediatisasi dari sumber-sumber yang ada. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Krotz (2007), diperoleh informasi bahwa mediatisasi mengubah cara manusia berkomunikasi dengan kemungkinan terjadinya komunikasi baru, dan dalam penggunaannya, orang mengubah cara mereka membangun dunia mereka secara komunikatif. Maka dari uraian tersebut dapat diartikan bahwa media onlinemerupakan sarana dalam berkomunikasi ataupun pertukaran informasi yang memanfaatkan internet sebagai konektivitas untuk menjangkau sumber media yang lebih luas. Dalam hal ini media cetak atau media berformat analog, akan beralih ke format digital.Media onlinedapat berupa situs berita, situs blog, media sosial, instant messenger(pesan instan), e-commerce(perdagangan elektronik), dan banyak media lainnya. Media onlinedapat mengandung informasi, pelayanan, hiburan, edukasi, diskusi sosial, yang bentuknya dapat berupa teks, gambar, suara, dan video. Media onlinemenyampaikan informasi cenderung lebih up to date(terkini) dibandingkan media cetak, namun terkait akurasi informasinya media onlinetidak sepenuhnya dapat dipercaya. Hal ini disebabkan karena siapa saja dapat menyebarkan informasi melalui media online. Dalam naskah webinar yang diadakan oleh Kemkominfo yang berkolaborasi dengan Katadata Insight Center dan Siber Kreasi terkait peluncuran survei literasi digital 2021 di Indonesia, diperoleh informasi bahwa hasil survei menerangkan hampir separuh responden (45,5%) ragu dalam mengidentifikasi kebenaran suatu berita, dan hampir 12% responden pernah menyebarkan berita bohong, kebanyakan karena lalai (tidak dipikir baik-baik). Oleh sebab itu, dalam memanfaatkan media online perlu memiliki kemampuan literasi digital.Menurut buku yang ditulis oleh Gilster (1997:1), diperoleh informasi bahwa literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika disajikan melalui komputer. Di dalam buku yang sama, Gilster menguraikan literasi digital ke dalam empat kompetensi yakni internet searching(pencarian di internet), hypertextual navigation(pandu arah hypertext), content evaluation(evaluasi konten informasi), dan knowledge assembly(penyusunan pengetahuan). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Farida & Adhi (2020), diperoleh informasi bahwa literasi digital berarti mengetahui tentang berbagai teknologi dan paham dengan cara menggunakannya, serta memiliki kesadaran terhadap dampak bagi individu dan masyarakat. Maka dapat dijelaskan bahwa literasi digital merupakan kemampuan dalammemanfaatkan informasi digital secara bijak dan tepat guna, sehingga kemampuan tersebut harus melekat pada setiap individu dalam menggunakan teknologi. Kemampuan tersebut yakni untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, menilai, dan mempergunakan informasi melalui teknologi digital.Literasi digital perlu ditingkatkan agar terhindar dari kesalahan dalam mencerna informasi yang di dapat dari media online. Literasi digital juga berkaitan dengan etika dalam berkomunikasi ataupun penyebaran informasi secaradigital. Hal ini disebabkan karena setiap individu menentukan sendiri informasi apa yang mereka butuhkan dan bagaimana mereka memanfaatkannya, sehingga informasi digital memberi pengaruh bagi orang yang mengonsumsinya. Menurut buku yang ditulis oleh Dominick (2004:52), diperoleh informasi bahwa organisasi komunikasi massa yang tidak memiliki rasa takut terhadap industri penerbitan, harus menghadapi implikasi dari fenomena ini. Oleh karena itu, literasi digital adalah suatu hal yang penting untuk ditingkatkan pada setiap individu dalam menyongsong era teknologi sekarang ini.2.2Awal Mula Kemunculan HashtagSimbol tagar (#) dari waktu ke waktu memiliki makna yang berbeda beda. Hingga saat ini penggunaan tagar merupakan fenomena yang umum yang digunakan untuk berbagai tujuan tertentu. Umumnya simbol # digunakan untuk menaikkan not sebanyak setengah nada padaistilah musik, untuk menandakan instruksi pengoperasian telepon melalui keypad(tombol) yang tertera pada telepon, untuk digunakaan sebagai salah satu format bahasa pemrograman, untuk menamakan label topik di jaringan IRC (Internet Relay Chat), hingga sekarang banyak digunakan di media dan jejaring sosial.Chris Messina, orang pertama yang menggunakan tagar dalam konteks berbeda menyarankan pada 23 Agustus 2007 agar simbol # juga harus digunakan di Twitter secara khusus (Van den Berg, 2014). Hal tersebut bagi beberapa orang termasuk dari pihak Twitter menganggap itu ide yang baik dan layak digunakan. Saat ini tagar atau yang sering disebut dengan hashtag, biasa digunakan untuk menyebutkan berbagai hal seperti informasi publik hingga komunitas. Penggunaan hashtagsecara resmi diberlakukan pada Juli 2009 oleh platform Twitter, diikuti pada 2011 oleh Google+ dan Instagram, sementara Facebook mulai menggunakannya pada Juni 2013 (Socialmediatoday.com, 2014).2.3Peran Hashtag Dalam Perilaku Informasi di Media SosialPencarian informasi dengan menggunakan hashtaghampir mirip dengan pencarian informasi dengan menggunakan keyword, yakni sama-sama memasukkankata pencarian ke dalam textboxpada fitur pencarian. Hal yang membedakan adalah pada hashtagselalu diawali dengan simbol # dan tidak boleh ada spasi pada tiap katanya. Pencarian informasi dapat dikategorikan ke dalam mode yang berbeda, di antaranya yakni berdasarkan seberapa aktif pengguna terlibat dalam proses pencarian (Berget et al., 2021). Dalam mengukur keaktifan pencarian informasi, konsep hashtagdapat membantu menampilkan informasi yang paling banyak dicari dengan cara melihat penggunaan hashtag yang sama dengan jumlah terbanyak atau peringkat tertinggi. Hal inilah yang membuat penggunaan hashtag jadi lebih menarik untuk digunakan sebagai alternatif pencarian informasi.Penggunaan hashtagselain untuk pencarian informasi, juga dapat digunakan sebagai strategi pemasaran. Pada website e-commerce(perdagangan secara elektronik) yang biasanya menggunakan teknik metadata atau SEO (Search Engine Optimization), kini menjalar ke media sosial dengan cukup menggunakan hashtagsebagai bentuk campaign(penyebaran iklan). Perdagangan menggunakan hashtagmelibatkan pengguna yang menyertakan tagar (#) dalam komunikasi mereka untuk memfasilitasi berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari membuat orang menyadari peluang ekonomi, hingga memulai dan menyelesaikan transaksi(O’Leary, 2019). Hashtagsebagai fasilitas perdagangan pada media sosial tentunya memberi kemudahan dalamaktivitas ekonomi. Berdasarkan data dari Hootsuite (2021), jumlah pengguna media sosial hingga bulan Juli 2021 sebanyak 4,48 miliar pengguna atau sebanyak 56,8% dari total populasi manusia di dunia. Hal ini menjadi wajar untuk para pedagang yang memperluas dagangan mereka hingga ke media sosial.Hashtagpada media sosial dapat digunakan sebagai komunikasi sosial atau politik. Setiap individu dapat melakukan aktivitas melalui berbagai tingkat ekspresi pandangan sosial atau politik mereka yang dapat memengaruhi seberapa kuat mereka terlibat dalam aktivisme sipil secara onlinedi media sosial (Hong & Kim, 2021). Membangun opini hingga kampanye politik melalui hashtagdi media sosial sudah pernah terjadi bahkan hingga saat ini. Contoh yang pernah terjadi di Indonesia adalah hashtag#2019GantiPresiden yang saat itu terjadi menjelang pelaksanaan pemilihan umum presiden di tahun 2019 silam. Keuntungan utama dari aktivisme digital adalah memberikan suara kepada individu dan kelompok yang kurang terjangkau oleh masyarakat atau media populer (Amgott, 2018). Gerakan aktivis melalui hashtagdi media sosial menjadi topik penting dikarenakan fungsi hashtagini menjadi sangat sukses di seluruh dunia dalam menyatukan entitas politik tertentu dalam jaringan secara visual (Jamil et al., 2019).2.4Etika Penggunaan HashtagDalam konteks teknologi, etika menggabungkan elemen budaya dari proses perkembangan teknologi secara serius, karena kode etik itu sendiri dalam konstruksi dan implementasinya bergantung pada diskursif dan persuasi hukum masyarakat (Sarikakis et al., 2018). Seiring kebutuhan informasi, penggunaan hashtaglambat laun menjadi tak terkontrol. Hal ini semata untuk menjangkau publik dengan viewyang tinggi, terlepas informasi tersebut sesuai atau tidak dengan hashtagyang diberikan. Begitu mudah mengetahui hashtagdengan trend topic(topik terpopuler) di media sosial, sehingga siapa saja dapat menggunakan hashtag tersebut pada pesan atau informasi untuk menjangkau publik yang lebih luas. Di media sosial tidak hanya pengguna, melainkan hashtagjuga dapat diikuti atau dilanggan agar informasi yang mengandung hashtagtersebut bisa muncul di timeline(beranda). Namunsayangnya, kebebasan dalam menggunakan hashtagmengakibatkan munculnya informasi yang tidak sesuai, sehingga timbul rasa kecewa bagi pengguna. Seseorang bisa saja menggunakan hashtaguntuk keuntungan pribadi, namun jika dilihat dari etika informasi justrumemberi dampak buruk terhadap reliabilitas informasi.Hashtagdapat digunakan sebagai wadah untuk menyuarakan pendapat. Protes terhadap pemerintah sangat mungkin dilakukan menggunakan hashtagpada media sosial. Sementara solusi e-governmentdiprakarsai oleh pemerintah untuk melibatkan warga, solusi semacam itu biasanya tidak selalu memberikan peluang termudah bagi warga untuk terlibat dengan pemerintah (Pandey et al., 2020). Ketika hashtagmenjadi viral, warga internet atau biasa disebut “netizen” cenderung terbawa opini publik dan mengikuti arus informasi. Hal ini akan menjadi buruk jika informasi yang “viral” dengan menggunakan hashtagtersebut merupakan informasi yang mengandung ujaran kebencian. Viralitas adalah karakteristik penting yang berkaitan dengan proses alur informasi, yang ditentukan oleh kecepatan penyebaran informasi (Wang et al., 2016). Kesadaran akan pengguna internet khususnya pegiat media sosial sangat dibutuhkan dalam mencermati setiap informasi yang ditemui melalui hashtagdengan trending topic, agar tetap mempertimbangkan reliabilitas informasi melalui sumber-sumber terpercaya

Conclusion

Kehadiran fitur hashtag di tengah-tengah maraknya perkembangan teknologi khususnya media sosial, telah memengaruhi perilaku informasi. Hashtagkini menjadi alternatif dalam pencarian informasi sebagaimana disesuaikan dengan algoritma media sosial. Manfaat hashtagsangat dirasakan oleh sektor pemasaran karena dapat digunakan sebagai alat campaignproduk. Hashtagjuga dapat dijadikan sebagai jembatan kaum aktivis untuk membangun relasi antara individu maupun komunitas dalam upaya menyuarakan pendapat. Selain manfaat di atas, hashtagjuga memiliki dampak negatif jika etika komunikasi di media sosial tidak diperhatikan. Hal buruk yang dapat terjadi karena tidak ada kesadaran bersosial media yakni menggunakan hashtagyang tidak relevan dengan karakteristik informasi atau pesan demi mendapat keuntungan pribadi. Penggunaan hashtaguntuk menyebarkan ujaran kebencian juga dapat mengakibatkan perpecahan di antara pengguna media sosial. Pengguna media sosial perlu lebih bijak dalam mencari dan menangkap informasi, tidak perlu ikut terbawa arus viralitas informasi tanpa melakukan validasi mengenai informasi terkait