Kembali
16
1
2024 Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 4 · 2 ISSN 2827-9107

ANALISIS PENERAPAN GLAM PADA EFEKTIVITAS LAYANAN KOLEKSI F0TO,PETA DAN LUKISAN PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Universitas Udayana; Universitas Udayana; Universitas Udayana

Abstract

This study analyzes the implementation of the Gallery Library Archive and Museum (GLAM) concept in the photo, map, and painting collection services at the National Library of Indonesia. The purpose of this research is to assess the extent to which the GLAMconcept can enhance accessibility, user experience, and public understanding of the available cultural and historical collections. The research method used is qualitative with a case study approach. Data were collected through observation, interviews, anddocumentation.The results show that the implementation of the GLAM concept can expand accessibility and improve user experience in exploring and utilizing photo, map, and painting collections. The integration of various types of collections in a single platform provides a deeper context regarding history and culture, as well as facilitates users in accessing information. Challenges faced in implementing this concept include budget constraints and the need for adequate technological infrastructure. However,there are opportunities to enhance service effectiveness through collaboration with other institutions and the development of innovative digital platforms.In conclusion, the implementation of the GLAM concept at the National Library of Indonesia positively impacts the effectiveness of photo, map, and painting collection services and has the potential to increase information literacy and public appreciation of cultural and historical heritage
Keywords: Gallery Library Archive and Museum (GLAM) · Effectiveness · Accessibility · Photo Collection · Map and Painting Collection · National Library of Indonesi

Introduction

Gallery, Library, Archive and Museum (GLAM) merupakan perpaduan antara konsep yang saling berkesinambungan dan memiliki kesempatan untuk bekerja sama menciptakan Empat kawasan cagar budaya. Menurut Candela (2020), galeri, perpustakaan, arsip dan museum (GLAM) lembaga-lembaga secara tradisional menyediakan akses ke sumber daya dan layanan. Mereka menyediakan lingkungan yang kaya dan unik untuk menyatukan koleksi, layanan dan orang-orang dari berbagai latar belakang. Konsep Gallery, Library, Archive and Museum (GLAM) di Indonesia masih jarang diterapkan karena harus menyesuaikan koleksi yang dimiliki dan konsep tersebut masih asing bagi pemustaka maupun pustakawan. Perpustakan sebagai instansi penyedia informasi mempunyai peran penting dalam kemajuan pengetahuan. Selain perpustakaan, penerapanGallery, Library, Archive and Museum (GLAM) padaperpustakaanadalahsebuahkonsepbaru untuk perpustakaan di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan minat kunjungan pemustaka sekitar, dan mencakup ruang lingkup yang lebih luas. Pada konsep Gallery, Library, Archive and Museum (GLAM) memungkinkan kolaborasi antara galeri, perpustakaan, dan museum dengan memberikan akses dan informasi tentang koleksifoto,peta,danlukisan.Halinidapatmeningkatkanefisiensidanefektivitas layananpengguna.Layanankoleksifoto,peta,danlukisanperpustakaan nasional republik indonesiamerupakansalahsatuupayauntukmengembangkandanmenerapkankonsep tersebut di Indonesia. Hal ini dapat membawa manfaat yang sangat besar bagi pemustaka dan masyarakat umum. Saat ini layanan koleksi foto peta dan lukisan memiliki koleksi yang memadai untuk menerapkan konsep tersebut. Penerapan konsep Gallery, Library, Archive and Museum (GLAM) pada perpustakaan nasional republik indonesia dapat mendorong pemanfaatan teknologi dan meningkatkan akses terhadap koleksi foto, peta, dan lukisan.Hubungan antara (galeri, library,archive and museum)sebenarnya tidak dapat dipisahkan dan setiap lembaganya memungkinkan untuk berkolaborasi, karena jika ditinjau dari ilmu dokumentasi hubungan antara setiap lembaga sangat erat kaitannya dengan dokumentasi dalam arti yang luas, yaitu mengumpulkan, mengadakan, mengelola, merawat serta menyajikannya kepada public. Oleh sebab itu, dapat kita pahami bahwa dalamsebuahperpustakaan,arsip,museumdangaleritersebutsama-samasaling menyediakan, menghasilkan informasi serta pengetahuan. Perpustakaan nasional republik indonesia adalahperpustakaandengan26 lantai perpustakaan terbesar di Indonesia dengan jumlah layanan yang salah satunya adalah layanan koleksi foto, peta dan lukisan. Layanan ini bertujuan untuk memperkaya pengetahuan, penelitiandanliteraturdenganmemberikanaksesterhadapkoleksifoto,petadan lukisan yang langka dan berharga. Perpustakaan nasional republik indonesia tidak hanya menyimpan koleksi buku tetapi juga memiliki banyak fasilitas dan layanan lain seperti ruang teater, layanan audiovisual, layanan koleksi foto, peta dan lukisan.Dapat ditarik kesimpulan dari penulis bahwa Penerapan konsep GLAM pada perpustakaan di luar negeri sudah cukup umum, namun di Indonesia masih jarangditerapkanmaka penerapan Gallery, Library, Archive and Museum (GLAM) padaperpustakaanmenjadi pelopor untuk perpustakaan di Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan minat kunjungan pemustakasekitar, dan mencakup ruang lingkup yang lebih luas. Dimana hubungan antara galeri, perpustakaan, arsip, dan museum sangaterat kaitannya dengan dokumentasi dalam arti yang luas, yaitu mengumpulkan, mengadakan, mengelola, merawat, serta menyajikannya kepada Masyarakat. Dapat dipahami bahwa di perpustakaan, arsip, museum, dan galeri semuanya saling mendukung, menciptakan informasi dan pengetahuan

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menemukan masalah penelitian, hipotesis, konsep-konsep, metodologi, dan alat analisis data. Kusumah (2021), tujuan dari penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif adalah untuk menjelaskan dan meringkas berbagai kondisi, situasi, atau variabel yang memengaruhi masyarakat yang dibahas, serta menampilkan karakter atau representasi dari kondisi, situasi, dan variabel tersebut. Maka peneliti ingin menjelaskan, memaparkan secara objektif mengenai “Analisis Penerapan Gallery, Library, Archive, and Museum (GLAM) Pada Efektivitas Layanan Koleksi Foto, Peta dan Lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia”. Penelitian ini dilaksanakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dengan waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini dimulai dari bulan Februari - Maret 2024. Menurut Handayani (2020), populasi adalah totalitas dari setiap elemen yang akan diteliti yang memiliki ciri sama, bisa berupa individu dari suatu kelompok, peristiwa, atau sesuatu yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah pemustaka yang datang ke layanan koleksi foto, peta, dan lukisan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan juga anggota pemustaka perpustakaan yang sudah terdaftar sebagai anggota. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemustaka yang berkunjung dan memanfaatkan layanan koleksi foto, peta, dan lukisan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebanyak 42 responden. Sampel adalah sebagian populasi yang karakteristiknya akan diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi - jumlah lebih sedikit dari jumlah populasinya. Sampel merupakan bagian yang dipelajari dan hasilnya akan dianggap menjadi gambaran bagi populasi asalnya, akan tetapi bukan populasi itu sendiri. Oleh karena itu, penulis menggunakan seluruh populasi untuk dijadikan sampel sebanyak 42 responden yang disebut dengan teknik sampling jenuh. Sampel yang digunakan dari populasi harus benar-benar representatif atau mewakili. Dalam pemilihan sampel harus menggunakan teknik dan prosedur yang tepat, yang disebut dengan teknik sampling. Teknik sampling adalah proses menyeleksi sejumlah elemen dari populasi yang diteliti untuk dijadikan sampel, dan memahami berbagai sifat atau karakter dari subjek yang dijadikan sampel, yang nantinya dapat dilakukan generalisasi dari elemen populasi. Sampling digunakan untuk menemukan sampel yang akan diteliti. Menurut Sugiyono (2012), "Penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya. Analisis ini hanya berupa akumulasi data dasar dalam bentuk deskripsi". Teknik penyajian data yang digunakan adalah tabel dan narasi. Narasi tersebut akan menjelaskan penelitian yang dilakukan di lapangan secara langsung berdasarkan apa yang ditemukan di lapangan.

Discussion

Diagram 4.1 menunjukkan distribusi jenis kelamin dari suatu populasi atau sampel yang terdiri dari 42 orang. Dari tabel tersebut, diketahui bahwa terdapat 20 orang laki-laki yang mencakup 47,6% dari total sampel. Sementara itu, jumlah perempuan sedikit lebih banyak, yaitu 22 orang, yang mencakup 52,4% dari total sampel. Persentase valid dan persentase kumulatif untuk masing-masing jenis kelamin juga menunjukkan nilai yang sama, di mana persentase kumulatif mencapai 100% setelah menambahkan data perempuan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam populasi atau sampel yang diteliti, jumlah perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Diagram 4.5 menunjukkan distribusi preferensi kunjungan dari suatu populasi atau sampel yang terdiri dari 42 orang. Dari tabel tersebut, diketahui bahwa 9 orang atau 21,4% dari sampel lebih suka mengunjungi galeri seni. Sebanyak 20 orang atau 47,6% memilih perpustakaan sebagai tempat kunjungan favorit mereka. Sementara itu, ada 13 orang atau 31,0% yang memiliki preferensi untuk mengunjungi semua tempat yang disebutkan. Persentase kumulatif menunjukkan bahwa setelah menambahkan setiap kategori preferensi kunjungan, totalnya mencapai 100%, yang menunjukkan bahwa seluruh data telah dihitung. Diagram ini menunjukkan tujuan utama responden dalam menggunakan layanan tersebut. Sebanyak 21 orang (50,0%) menggunakan layanan untuk memperoleh referensi visual untuk proyek atau penelitian. Enam orang (14,3%) tertarik karena ketersediaan berbagai pilihan, 8 orang (19,0%) karena menyukai sejarah, dan 7 orang (16,7%) menghargai nilai seni. Mayoritas responden memanfaatkan layanan ini untuk tujuan penelitian dan proyek visual. Diagram 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (35 orang, 83,3%) percaya bahwa fungsi utama GLAM adalah melestarikan dan menyajikan warisan budaya dan pengetahuan. Lima orang (11,9%) melihatnya sebagai cara untuk meningkatkan penjualan produk seni, dan 2 orang (4,8%) sebagai sumber keuntungan finansial. Fungsi pelestarian budaya adalah yang paling diakui. Penulis menduga bahwa responden mengetahui fungsi GLAM dan dapat diterapkan pada layanan koleksi foto, peta, dan lukisan. Diagram 4.12 memberikan gambaran tentang peran konsep GLAM jika diterapkan di Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan. Mayoritas responden, yaitu 25 orang (59,5%), percaya bahwa konsep ini akan menyediakan akses ke sumber-sumber literatur dan pengetahuan. Selain itu, 12 orang (28,6%) berpendapat bahwa konsep ini akan menyediakan tempat untuk membaca buku-buku terkenal, sementara 4 orang (9,5%) melihatnya sebagai peluang untuk menyelenggarakan pameran baju. Hanya satu responden (2,4%) yang menyebutkan kemungkinan penyelenggaraan bazar buku. Dari data ini, terlihat bahwa mayoritas responden melihat konsep GLAM sebagai cara untuk meningkatkan akses ke sumber pengetahuan dan literatur. Penulis menduga bahwa penerapan GLAM akan memberikan efektivitas pada pengguna karena akan dapat menghemat waktu penelitian serta bermanfaat bagi pengagum seni dan sejarah. **Pembahasan Hasil Penelitian** Penelitian ini menggambarkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan muda dengan latar belakang pendidikan SMA. Mereka sering menggunakan layanan koleksi foto, peta, dan lukisan, terutama untuk tujuan pendidikan dan penelitian. Responden juga menunjukkan kepuasan tinggi terhadap kualitas dan kemudahan akses layanan, serta mendukung penerapan konsep GLAM untuk memperkaya pengalaman dan pemahaman sejarah serta budaya. Kolaborasi antara berbagai institusi GLAM dianggap penting untuk memperluas dan memperkaya koleksi serta layanan yang ada. Berdasarkan karakteristik responden yang telah dijabarkan, terdapat kaitan yang relevan dengan konsep GLAM (Gallery, Library, Archive and Museum). GLAM merupakan pendekatan integratif yang menggabungkan berbagai jenis lembaga budaya untuk memperluas aksesibilitas, meningkatkan pengalaman pengguna, dan memperkaya pemahaman masyarakat terhadap warisan budaya dan sejarah (Pratiwi & Setiawan, 2019). Dalam konteks ini, karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas dari mereka memiliki minat dan preferensi terhadap layanan perpustakaan. Hal ini sesuai dengan konsep Perpustakaan dalam GLAM, di mana perpustakaan merupakan salah satu elemen penting dalam menyediakan akses terhadap berbagai sumber informasi, termasuk koleksi foto, peta, dan lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Preferensi kunjungan yang lebih tinggi ke perpustakaan juga menunjukkan bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam menyediakan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan pengetahuan masyarakat (Bachtiar, 2021). Selain itu, walaupun preferensi kunjungan ke galeri seni tidak sebanyak perpustakaan, namun masih ada sebagian responden yang memilihnya sebagai tempat kunjungan favorit. Hal ini mencerminkan pentingnya peran galeri seni dalam menghadirkan pengalaman seni yang memperkaya bagi masyarakat. Dalam konteks GLAM, galeri seni memainkan peran penting sebagai tempat bagi seniman untuk memamerkan hasil karya seni, yang pada gilirannya dapat meningkatkan apresiasi terhadap seni dan sejarah yang terkandung dalam koleksi foto, peta, dan lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dengan demikian, karakteristik responden yang menunjukkan preferensi kunjungan ke perpustakaan dan sebagian ke galeri seni secara tidak langsung mendukung penerapan konsep GLAM pada layanan koleksi foto, peta, dan lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Integrasi konsep GLAM di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dapat membantu meningkatkan aksesibilitas, meningkatkan pengalaman pengguna, dan memperkaya pemahaman masyarakat terhadap koleksi budaya dan sejarah yang tersedia (Adriyana, 2017). Penerapan konsep Gallery, Library, Archive and Museum (GLAM) pada layanan koleksi foto, peta, dan lukisan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menggambarkan upaya untuk memperluas aksesibilitas, meningkatkan pengalaman pengguna, dan memperkaya pemahaman masyarakat terhadap warisan budaya dan sejarah (Jubaidi, 2021). Langkah pertama dalam analisis adalah memahami layanan yang disediakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam hal koleksi foto, peta, dan lukisan, termasuk proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penyediaan akses terhadap koleksi tersebut bagi pengguna. Integrasi konsep GLAM dilakukan dengan menggabungkan berbagai jenis koleksi untuk memberikan konteks yang lebih dalam tentang sejarah suatu tempat, misalnya, dengan menggabungkan koleksi foto historis dengan informasi geografis dalam peta (Kristina, 2022). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pemustaka tentang masa lampau. Penerapan konsep GLAM juga bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas pemustaka terhadap sumber daya informasi melalui berbagai saluran, termasuk platform digital dan pameran fisik. Selain itu, penting untuk menganalisis bagaimana penerapan konsep GLAM memengaruhi pengalaman pemustaka dalam menelusuri dan memanfaatkan koleksi foto, peta, dan lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Faktor-faktor seperti antarmuka pengguna, ketersediaan informasi, dan kemudahan navigasi dapat memengaruhi tingkat kepuasan dan efektivitas pemustaka dalam mencari informasi yang mereka butuhkan (Maha & Wulan, 2022). Tantangan seperti keterbatasan anggaran dan kebutuhan akan infrastruktur teknologi yang memadai perlu diatasi, sementara peluang seperti kolaborasi dengan institusi lain dan pengembangan platform digital inovatif dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dan dampak penerapan konsep GLAM pada layanan koleksi foto, peta, dan lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai Gallery, Library, Archive and Museum(GLAM), dapat disimpulkan bahwa:1)Penerapan GLAM di perpustakaan nasional republik Indonesia dilakukan dengan menyatukan fungsi-fungsi gallery dalam penyajian visual, library dalam penyimpanan dan pengorganisasian informasi, archive dalam pelestarian dokumen bersejarah, serta museum dalam penyampaian konteks dan interpretasi koleksi.2)Penerapan GLAM memungkinkan perpustakaan nasional republik indonesia untuk meningkatkan aksesibilitasdan pemanfaatan koleksi oleh publik, memperkaya pengalaman pengguna, memfasilitasi penelitian dan pendidikan serta mengoptimalkan potensi koleksi dalam mendukung misi pendidikan, penelitian, dan pelestarian warisan budaya. 3)Terdapat sebagian responden yang memilih galeri seni sebagai tempat kunjungan favorit. Hal ini mencerminkan pentingnya peran galeri seni dalam menghadirkan pengalaman seni yang memperkaya bagi masyarakat. Selain itu, perpustakaan memiliki peran penting dalam menyediakan akses terhadap berbagai sumber informasi, termasuk koleksi foto, peta, dan lukisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hal ini sejalan dengan konsep Perpustakaan dalam GLAM, di mana perpustakaan menjadi elemen penting dalam memenuhi kebutuhan informasi dan pengetahuan masyarakat