The Impact of Digital Technology on the Role of Librarians in Higher Education (A Challenge, Opportunity, and Transformation)
Universitas Brawijaya
Abstract
Digital cultural preservation is becoming increasingly important in the digital 4.0 era, where the digital native generation has a central role in the use of digital technology. Libraries and librarians as custodians of knowledge and culture must engage the digital native generation in cultural digital preservation efforts. However, effective strategies and approaches need to be developed to ensure their active participation in this preservation. This study takes a qualitative approach to data collection, including in-depth interviews and a literature review. Data analysis was conducted using thematic techniques to identify strategies and approaches used in engaging the digital native generation. In this study, several strategies and approaches were found to be effective in engaging the digital native generation in cultural digital preservation. Firstly, libraries should provide easy and intuitive access to cultural digital resources for the digital native generation. Second, a collaborative and participatory approach involves them in the process of curating and determining the direction of cultural digital preservation. Third, training and educational programs should be organized to improve digital literacy and understanding of the importance of digital cultural preservation. This study concluded that engaging digital native in digital cultural preservation requires a holistic and multifaceted approach. Libraries and librarians need to adopr strategies that arc responsive to the needs and preferences of digital native. In the digital cra 4.0, digital cultural preservation is not just a task for libraries, but a shared responsibility to ensure the sustainability and accessibility of digital cultural heritage for current and future generations.
Keywords:
Digital Technology
· University Librarian
· Role Change
· Librarian Innovation
· Innovation
Introduction
Pergeseran ke teknologi digital sangat memengaruhi peran pustakawan universitas. Sebelumnya, tugas utama mereka adalah mengelola koleksi buku dan jurnal fisik. Namun, sckarang mercka juga harus mengurusi sumber daya elektronik seperti e-book, jurnal online, dan database. Ini membuat mereka harus mengembangkan keterampilan baru dalam teknologi, manajemen data, dan pelestarian digital. Selain itu, pustakawan perlu bisa berjalan di lanskap informasi digital yang kompleks yang berisi berbagai jenis format, platform, dan alat. Mereka juga harus pandai mempromosikan sumber daya ini kepada mahasiswa dan dosen dengan memahami kebutuhan mercka dan berkomunikasi dengan baik tentang manfaatnya. Pergeseran ini mendorong pustakawan untuk mengambil tanggung jawab dalam mengelola jumlah informasi yang besar yang tersedia untuk mahasiswa dan fakultas. Untuk menavigasi lanskap informasi digital yang kompleks ini secara efektif, pustakawan universitas perlu: Pustakawan harus memahami berbagai perangkat lunak dan platform yang digunakan untuk penyimpanan dan pengambilan informasi. Misalnya, penelitian yang dilakukan Lafleur dan Vassilieva menyoroti pentingnya pengalaman belajar dalam membuat koleksi online menggunakan perangkat lunak manajemen koleksi digital.' Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan: Pertama, memperoleh keterampilan teknologi, informasi dan kominikasi dimana di era digital, pustakawan harus berusaha untuk memperoleh keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) melalui pelatihan pribadi. Hal ini akan membantu mereka tetap relevan dan mempertahankan profesi mereka, seperti yang disebutkan dalam sebuah studi tentang tantangan pemberian layanan di universitas-universitas Nigeria.” Menemukan kembali teknologi, layanan, dan fasilitas yang ada: Perpustakaan akademik harus memikirkan kembali dan menemukan kembali teknologi, layanan, dan fasilitas yang ada untuk memenuhi permintaan pengguna. Hal ini dapat dilakukan melalui inovasi teknologi, yang dianggap scbagai solusi penting bagi kelangsungan perpustakaan selama krisis.®> Kedua, berkolaborasi dengan pengguna dalam desain dan pengembangan sumber daya digital: Pendekatan desain tradisional tidak cukup untuk mengembangkan alat pengelolaan informasi dan penciptaan pengetahuan yang memungkinkan dalam lingkungan perpustakaan pengajaran digital kontemporer. Pustakawan harus melibatkan pengguna dalam produksi sumber daya pengajaran dan pembelajaran perpustakaan digital serta infrastruktur yang mendukung teknologi, seperti yang ditunjukkan oleh pendekatan desain bersama kolaboratif di California Polytechnic State University.* Selain keterampilan teknis, pustakawan perguruan tinggi juga harus bisa berpikir kreatif dan inovatif dalam era digital. Mercka perlu mencoba hal-hal baru, seperti teknologi atau pendekatan baru, dan siap mengambil risiko. Penting juga bagi mereka untuk memahami kebutuhan komunitas mereka dan mencari solusi yang sesuai. Misalnya, studi sebelumnya menekankan pentingnya inovasi di perpustakaan akademik dan kemampuan pustakawan untuk fokus pada pengguna dalam mengembangkan layanan digital.
Method
Selama penclitian, serangkaian metode digunakan untuk menganalisis dan mensintesis informasi yang berkaitan dengan topik. Metode yang digunakan antara lain: (1) (2) (3) 4 Analisis teoretis dapat diterapkan pada topik penelitian kompetensi profesional pustakawan pada perguruan tinggi. Metode ini membantu dalam memahami kerangka teori di mana penelitian akan dijalankan. Analisis literatur adalah metode penelitian yang melibatkan tinjauan komprehensif terhadap literatur terkait kompetensi profesional pustakawan di suatu lembaga pendidikan tinggi. Metode ini membantu peneliti memperoleh pemahaman komprehensif tentang topik dengan menganalisis berbagai publikasi, termasuk buku, artikel jurnal, dan prosiding konferensi. Perbandingan adalah metode penelitian yang dapat digunakan untuk membandingkan berbagai pendekatan dan gagasan terkait kompetensi profesional pustakawan di suatu perguruan tinggi. Dengan membandingkan perspektif yang berbeda, peneliti dapat mengidentifikasi persamaan dan perbedaan serta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang topik tersebut. 4) ) (5) G It seneralisasi adalah dalah berdasark: lisis lic tod libatka penelitian metode yang melibatkan penarikan kesimpulan umum kan erdasarkan analisis literatur. literatur. D t fc k I Dengan mensintesis informasi dari berbagai sumber, dari berb: by peneliti dapat mengidentifikasi tema umum dan tren terkait kompetensi profesional pustakawan di perguruan tinggi. Sistematisasi adalah metode yang digunakan untuk mengorganisasikan informasi dari literatur ke dalam kerangka yang runtut dan logis. Dengan mensistematisasikan informasi, peneliti dapat mengidentifikasi hubungan antara berbagai konsep dan gagasan topik, seperti kompetensi profesional scorang pustakawan suatu lembaga pendidikan tinggi.
Discussion
Relevansi penelitian terkait kontradiksi yang timbul dalam proses pelatihan ulang dan pelatihan lanjutan pustakawan sangat signifikan dan beragam. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa penelitian ini relevan: (1) Peran Pustakawan yang Berkembang: Pustakawan memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan pengetahuan. Dengan adanya perkembangan teknologi digital dan perubahan cepat dalam dunia informasi, peran pustakawan telah berubah secara signifikan. Penelitian dalam bidang ini memiliki potensi besar untuk mengidentifikasi masalah dan hambatan yang dihadapi pustakawan dalam beradaptasi dengan peran dan teknologi baru. Relevansi penelitian dalam ilmu perpustakaan tergantung pada kemampuannya untuk menyoroti konflik dalam pelatihan ulang dan pelatihan berkelanjutan pustakawan. Kontradiksi tersebut antara lain: a. b. 5 Meningkatnya tuntutan terhadap sistem pendidikan dan meningkatnya tingkat serta laju perkembangan masyarakat informasi Kontradiksi antara potensi sumber daya informasi dan cara penggunaannya c. Kontradiksi antara perlunya kerja pustakawan yang aktif dan terus-menerus dengan peluang yang ada untuk mewujudkan aktivitas kreatif, kemandirian, dan individualitas ketika menggunakan pendekatan dan teknologi standar.® (2) Integrasi Teknologi: Perpustakaan semakin mengadopsi teknologi dalam layanannya, seperti katalog digital, database online, dan e-book. Tantangan yang muncul adalah dalam melatih pustakawan agar dapat menggunakan dan mengelola teknologi ini dengan efekrif. Mengatasi konflik dalam proses ini dapat menghasilkan peningkatan dalam pelayanan perpustakaan. Berikut beberapa contoh penclitian yang membahas masalah ini: a. b. c. d. e. Integrasi I'cknologi Metadata di Perpustakaan.’ Peran Kepemimpinan Pustakawan Guru dalam Integrasi Teknologi.? Integrasi Teknologi untuk Pendidikan Literasi Informasi dan Digital Siswa di Perpustakaan Akademik.” Pembahasan Intensi Membaca E-book Siswa Dengan Integrasi Theory of Planned Behavior dan Technology Acceptance Model."” Teknologi 3D di Perpustakaan.' Dalam integrasi tcknologi, penclitian di bidang ini dapat membantu meningkatkan layanan perpustakaan dan memberdayakan pustakawan untuk menggunakan dan mengelola teknologi baru secara efekif. (3) Literasi Informasi: Pustakawan seringkali memiliki peran krusial dalam mendidik pengunjung mengenai keterampilan literasi informasi. Dalam konteks meningkatnya keragaman dan kompleksitas sumber informasi, penelitian dapat membantu mengungkapkan ketidaksesuaian dalam metode pengajaran pustakawan terkait keterampilan ini, serta bagaimana pemahaman dan penggunaannya oleh pengunjung. Berikut beberapa contoh penelitian yang membahas masalah ini: a. b. c. d. e. Literasi Informasi di Era Digital Literasi Informasi dan Perpustakaan Umum Literasi Informasi dan Peran Perpustakaan Umum Literasi Informasi dan Perpustakaan Akademik Literasi Informasi dan Peran Perpustakaan Sekolah Dalam cara pustakawan mengajarkan keterampilan literasi informasi dan bagaimana pemustaka memahami dan menggunakannya, penelitian di bidang ini dapat membantu meningkatkan layanan perpustakaan dan memberdayakan pemustaka untuk mengakses dan menggunakan informasi secara efektif di era digital. (4) Alokasi sumber daya: Perpustakaan seringkali harus beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, dan oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pelatihan ulang dan pelatihan lanjutan dilakukan secara efisien demi penghematan biaya. Penclitian dapat membantu mengidentifikasi tempat terbaik untuk mengalokasikan sumber daya serta potensi konflik yang mungkin muncul dalam proses alokasi sumber daya tersebut. Berikut beberapa contoh penelitian yang membahas masalah ini: a. b. c. Alokasi Sumber Informasi Perpustakaan.'? Database Biaya untuk Alokasi Sumber Daya Perpustakaan Cabang dan Evaluasi Kinerja.”® Realitas Multikultural di Era Informasi.' d. Alokasi Sumber Daya Perpustakaan Umum Pedesaan untuk Berjalan Bersamaan Secara Intensif menuju Perubahan.' (5) Pembelajaran Berkelanjutan: Dalam era informasi yang terus berubah dengan cepat, pustakawan harus terlibat dalam pembelajaran sepanjang hayat. Penclitian mengenai perbedaan dan tantangan dalam pembelajaran berkelanjutan dapat memberikan panduan untuk pengembangan profesional yang berkelanjutan. Pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci penting bagi pustakawan dalam mengikuti perkembangan pesat di dunia informasi. Penelitian mengenai kontradiksi dalam proses pembelajaran berkelanjutan dapat memberikan wawasan yang berguna dalam pengembangan strategi profesional yang berkelanjutan. Berikut beberapa contoh penelitian yang membahas masalah ini: a. b. c. d. e. Berbicara tentang Pembelajaran Berkelanjutan Pustakawan Jurusan Layanan Pembaca di Perpustakaan Universitas.'® Berbicara tentang Perpustakaan Tipe Pembelajaran dan Pendidikan Berkelanjutan Pustakawan.'” Mendorong Pembelajaran Berkelanjutan bagi Pustakawan dan Staf Perpustakaan.' Poin penting pembelajaran informal bagi pustakawan keschatan dalam krisis ckonomi."” Peran Komunitas Praktik Virtual (VCoP) dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan Pustakawan.? Dalam proses pembelajaran berkelanjutan, penelitian di bidang ini dapat membantu pustakawan mengembangkan strategi pengembangan profesional berkelanjutan yang hemat biaya dan disesuaikan untuk memenuhi beragam kebutuhan komunitas mereka. (6) Harapan Pengguna: Pengguna layanan perpustakaan memiliki harapan yang tinggi terkait aksesibilitas, kenyamanan, dan kualitas layanan. Pustakawan perlu beradaptasi untuk memenuhi harapan ini, dan penelitian dapat membantu mengungkap konflik yang mungkin muncul ketika mencoba menyeimbangkan keinginan pengguna dengan sumber daya yang ada. Harapan pengguna adalah faktor kunci yang harus dipertimbangkan olch pustakawan, karena mereka berupaya menyediakan layanan yang mudah dijangkau, nyaman, dan berkualitas tinggi. Penelitian tentang konflik dalam upaya memenuhi permintaan pengguna dengan sumber daya yang tersedia dapat membantu mengidentifikasi area di mana alokasi sumber daya dapat dilakukan secara efisien Berikut beberapa contoh penelitian yang membahas masalah ini: a. b. c. Harapan Pengguna dan Penerimaan Layanan Perpustakaan di Pengadilan Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Uni Afrika.?! Harapan Pengguna dalam Layanan Perpustakaan Pendidikan Tinggi di Nigeria: Pandangan Pustakawan.? Evaluasi Kepuasan Pengguna terhadap Layanan Perpustakaan di Universitas Limpopo, Kampus Medunsa (Universitas Kedokteran Afrika Selatan.” d. Apa yang Anda Lakukan Saat Perpustakaan Ditutup? Mengukur Kepuasan Pengguna terhadap Koleksi dan Layanan Perpustakaan selama COVID-19.2 Dalam memenuhi permintaan pengguna dengan sumber daya yang tersedia, penelitian di bidang ini dapat membantu pustakawan mengembangkan strategi yang hemat biaya dan disesuaikan untuk memenuhi beragam kebutuhan komunitas mereka. (7) Kebijakan dan Tata Kelola: Perpustakaan seringkali beroperasi dalam kerangka kebijakan dan struktur tata kelola yang mungkin tidak selalu sejalan dengan perkembangan kebutuhan pustakawan dan pengguna. Penclitian di bidang ini dapat membantu mengidentifikasi konflik dalam kebijakan dan tata kelola serta memberikan masukan untuk kemungkinan reformasi. Berikut beberapa contoh penelitian yang membahas masalah ini: Dua Puluh Tahun Kerjasama Perpustakaan.” b. c. 2 2 Penyediaan Informasi Bisnis Berbasis Pelanggan di Perpustakaan Instansi Pemerintah Malaysia.2® Merencanakan Perpustakaan Digital Berbasis Komunitas untuk Pendidikan Sistem Kebumian.”” d. e. Menggantikan Keuangan Konvensional dengan Keuangan Islam.? Mengamankan Big Data di Era AL* Dalam kebijakan dan tata kelola, penclitian di bidang ini dapat membantu menginformasikan potensi reformasi yang lebih selaras dengan kebutuhan pustakawan dan pengguna yang terus berkembang. (8) Dampak terhadap Komunitas: Perpustakaan adalah institusi sentral di banyak komuniras, dan kualitas layanan perpustakaan dapat memiliki dampak signifikan pada pendidikan, akses informasi, dan perkembangan komunitas. Mengatasi konflik dalam pelatihan pustakawan dapat menghasilkan peningkatan layanan yang berdampak lebih besar pada masyarakat. Penelitian tentang relevansi pelatihan ulang dan pelatihan berkelanjutan bagi pustakawan menjadi sangat penting karena menyoroti perbedaan dan tantangan yang muncul dalam prosesnya. Kontradiksi tersebut dapat diamati dalam berbagai aspek kepustakawanan, antara lain: a. b. ¢. d. e. f. g. h. 2 Memenuhi tuntutan sistem pendidikan yang semakin meningkat dan laju perkembangan masyarakat informasi (Campana et al., 2022). Menyeimbangkan kebutuhan akan kerja aktif dan terus-menerus dengan peluang yang ada uncuk kreativitas dan individualitas (Campana et al., 2022). Mengatasi beragam kebutuhan pengunjung (Campana et al., 2022). Mengintegrasikan teknologi ke dalam layanan perpustakaan (Trussell, 2004). Mengajarkan keterampilan literasi informasi (Wojciechowska & Topolska, 2021). Alokasi sumber daya (Ugstad et al., 2023). Pembelajaran berkelanjutan (Cahill, 2010). Harapan Pengguna Kebijakan dan tata kelola Dampak terhadap komunitas B. Kompetensi Pustakawan di Era Perkembangan Teknologi & Informasi Kompetensi fungsional adalah kemampuan untuk menggali pengetahuan baru dari berbagai sumber, termasuk aktivitas diri sendiri di bidang pekerjaan. Keterampilan berikut ini penting untuk mengembangkan kompetensi fungsional: (1) Kompetensi komunikasi bisnis.*® (Borzova, 2021). (2) Kesiapan psikologis.’! (3) Keterampilan guru pendidikan kejuruan.’ (4) Kompetensi komunikatif bahasa asing.*® (5) Kompetensi profesional antarbudaya.’* (6) Kompetensi hukum.* Mengembangkan kompetensi fungsional sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan untuk kompetensi fungsional. Kompctensi pribadi adalah kesiapan untuk terus mengembangkan, mengakrtualisasikan, dan merealisasikan potensi pribadi dan profesional sescorang. Kompetensi tersebut diwujudkan dalam kemampuan berpikir analitis dan menerapkan pendekatan terpadu dalam pelaksanaan tugas kedinasan. Keterampilan berikut ini penting untuk mengembangkan kompetensi pribadi: (1) Kesadaran diri (2) Penetapan tujuan (3) Manajemen waktu (4) Pemecahan masalah (5) Pembelajaran berkelanjutan (6) Kemampuan beradaptasi Mengembangkan kompetensi pribadi sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan yang berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan uncuk kompetensi pribadi. Kompetensi komunikatif adalah kemampuan dan kesiapan nyata untuk berkomunikasi dalam berbagai tujuan, bidang, dan situasi komunikasi. Ini melibatkan kesiapan interaksi verbal dan saling pengertian, baik antarpribadi maupun antarbudaya. Keterampilan berikut ini penting untuk mengembangkan kompetensi komunikatif: (1) Keterampilan komunikasi verbal (2) Keterampilan komunikasi nonverbal (3) Keterampilan komunikasi interpersonal (4) Keterampilan komunikasi antarbudaya (5) Keterampilan komunikasi tertulis (6) Keterampilan komunikasi digital Mengembangkan kompetensi komunikatif sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan untuk kompetensi komunikatif. Kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Contoh penelitian berikut menunjukkan pentingnya mengembangkan keterampilan komunikasi: (1) Pendekatan Terpadu untuk Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Teknis pada Mahasiswa Teknik. (2) Kolaborasi Pengajaran Komunikasi Melalui Teks.? (3) Keterampilan Komunikasi dalam Pelayanan Kesehatan dan Sosial 3 (4) deLearyous: Melatih Keterampilan Komunikasi Interpersonal Menggunakan Input Teks Tanpa Kendala.”” (5) Slide Tiga Menit sebagai Alat Efekdif untuk Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Lisan.* Studi-studi ini menunjukkan pentingnya mengembangkan keterampilan komunikasi di berbagai bidang dan perlunya penclitian berkelanjutan untuk mengidentifikasi dan menyempurnakan keterampilan ini. Kompetensi berbahasa Inggris merupakan ciri pribadi dan profesional seorang pustakawan yang menunjukkan tingkat kepatuhan terhadap persyaratan kegiatan profesional perpustakaan dalam masyarakat informasi. Ini melibatkan kemampuan dan kemauan untuk menggunakan bahasa Inggris untuk memecahkan masalah kegiatan perpustakaan. Keterampilan berikut ini penting untuk mengembangkan kompetensi berbahasa Inggris: (1) Keterampilan komunikasi lisan (2) Keterampilan komunikasi tertulis (3) Kosakata dan tata bahasa (4) Kesadaran budaya (5) Terminologi profesional Mengembangkan kompetensi berbahasa Inggris sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan untuk kompetensi berbahasa Inggris. Kompetensi Digital adalah kesiapan, kemampuan, dan tanggung jawab untuk memilih dan menerapkan teknologi informasi secara efektif untuk memecahkan masalah produksi. Itu dianggap sebagai kombinasi dari tiga komponen: (1) Komponen informasional (2) Komponen komputer (3) Komponen aplikasi Mengembangkan kompetensi digital sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan untuk kompetensi digital. Kompetensi sosial adalah kesediaan untuk mengambil tanggung jawab, bekerja dalam tim, mengembangkan solusi bersama, dan berpartisipasi dalam implementasinya. Ini adalah karakteristik penting dari scorang pustakawan, karena mercka bekerja sama dengan rekan kerja, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya di masyarakat. Keterampilan berikut ini penting untuk mengembangkan kompetensi sosial: (1) Kolaborasi (2) Kepemimpinan (3) Komunikasi (4) Resolusi konflik (5) Empati Kompetensi umum yang bersifac ctika dan budaya merupakan prioritas di antara kompetensi utama pustakawan. Hal tersebut merupakan indikator sekaligus hasil kesiapan profesional dan pribadi pustakawan dalam bekerja, karena pelaksanaan tugas profesionalnya mempunyai muatan moral. Mengembangkan kompetensi etika dan budaya umum sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan untuk kompetensi sosial. Kompetensi etis mewakili dan mengatur tindakan utama yang terkonsolidasi dalam keterampilan, tradisi, prinsip hidup dan aktivitas profesional, keadaan mental, tindakan, perbuatan, dan kualitas seorang pustakawan universitas. Ini adalah karakeeristik penting dari seorang pustakawan, karena mereka bekerja sama dengan rekan kerja, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya di masyarakat. Keterampilan berikut ini penting untuk mengembangkan kompetensi etis: (1) Integritas (2) Profesionalisme (3) Tanggung jawab (4) Rasa Hormat Kompetensi budaya umum dipahami sebagai pembentukan kualitas spiritual dan moral seseorang, yang paling berharga adalah humanisme, daya tanggap, kejujuran, kebaikan, dan keadilan. Mengembangkan kompetensi budaya umum sangat penting untuk keberhasilan di berbagai bidang dan memerlukan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Keterampilan yang tercantum di atas hanyalah beberapa contoh kompetensi yang diperlukan untuk kompetensi etis. C. Tugas Sebenarnya Tugas sebenarnya perpustakaan meliputi integrasi sistem untuk otomatisasi perpustakaan dengan infrastruktur informasi universitas dan pelaksanaan layanan perpustakaan virtual. Tugas-tugas ini penting untuk menyediakan layanan perpustakaan yang efektif di era digital. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana tugas-tugas ini dapat diselesaikan: (1) Integrasi sistem untuk otomasi perpustakaan (2) Implementasi layanan perpustakaan virtual Untuk menyelesaikan tugas-tugas ini, perpustakaan dapat bekerja dengan departemen teknologi informasi, perancang pembelajaran, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan dan menerapkan sistem dan layanan yang efektif. Pelatihan dan pengembangan berkelanjutan bagi pustakawan dan staf perpustakaan juga penting untuk memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menyediakan layanan perpustakaan yang efektif di era digital.
Conclusion
Peran staf perpustakaan telah mengalami perubahan signifikan, dengan tugas, fungsi, dan jabatan baru yang mencerminkan perubahan ini. Pustakawan sekarang harus mengelola koleksi elektronik, akses terbuka, pengelolaan arsip digital, dan kurasi data, sementara penyebar informasi harus menggunakan berbagai saluran digital untuk berbagi informasi. Manajer proyck bertanggung jawab atas proyek digitalisasi, pengembangan koleksi, dan inisiatif penjangkauan, sementara penyelenggara acara merencanakan dan melaksanakan berbagai acara perpustakaan. Fasilitator informasi membantu pelanggan menemukan dan menggunakan sumber informasi secara efektif. Untuk memenuhi kebutuhan masa depan, pengembangan kompetensi staf perpustakaan sangat penting. Perpustakaan perlu memeriksa kembali sumber daya mercka dan bekerja sama dengan penyedia pelatihan untuk mengembangkan program pelatihan guna memastikan sta memiliki keahlian yang sesuai. Pengembangan kompetensi staf perpustakaan, baik melalui pelatihan formal atau pengalaman, merupakan kunci untuk menyediakan layanan perpustakaan yang efektif di era digital. Penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi staf perpustakaan memiliki dampak positif pada kualitas layanan perpustakaan dan keunggulan akademik. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan berkelanjutan bagi pustakawan dan staf perpustakaan harus menjadi elemen penting dalam pengembangan perpustakaan di era digital. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna di era digital, perpustakaan harus terus-menerus memastikan bahwa stafnya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Hal ini penting agar perpustakaan tetap relevan dan efektif dalam menyediakan sumber daya dan layanan kepada pengguna mereka.