PERANAN LITERASI GIZI DALAM MENGURANGI STUNTING ANAK USIA DINI DI PUSKESMAS MEDAN HELVETIA
Universitas Sari Mutiara Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisa Peranan Literasi Gizi dalam mengurangi stunting anak usia dini di Puskesmas Medan Helvetia, 2) Menganalisa cara Puskesmas Medan Helvetia dalam tumbuh kembangnya anak usia dini dan mengurangi faktor-faktor penyebab terjadinya stunting. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Tempat penelitian di Puskesmas Medan Helvetia dan waktu penelitian pada bulan Mei sampai dengan pada bulan Juni 2024. Informan yang digunakan peneliti adalah ahli gizi dan orang tua anak yang stunting. Teknik pengumpulan data yang digugunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan penelitia yaitu pengumpulan data, reduksi data dan penyajian kesimpulan. Berikutnya pengecekkan keabsahan data yang digunakan peneliti yaitu menggunakan metode triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Hasil penelitian adalah: 1) Perkembangan anak usia dini di puskesmas Medan Helvetia sudah baik meskipun tidak signifikan, 2) Penurunan angka stunting di Puskesmas Medan Helvetia menunjukkan perkembangan positif dan pemahaman orang tua tentang literasi gizi masih sebatas tentang tinggi dan berat badan saja.
Abstract
This research aims to: 1) Analyze the role of Nutritional Literacy in reducing stunting in early childhood at the Medan Helvetia Community Health Center, 2) Analyzing the way the Medan Helvetia Community Health Center supports the growth ank development of early childhood and reduces the factors that cause stunting. This research method uses qualitative methods. The research locatio is Medan Helvetia Health Center and the reserarch time is from May to June 2024. The informants used by researchears were nutritionsts and parents of stunted children. The data collection techniques used were observasion, interviews and dokumentation. The data analysis used by the research is data collection, data reduction and presentation of conclusions. Next, checking the validity of the data used by researchers is using the source triangulation method, teachnical triangulation and time triangulation. The results of the research are: 1) The development of early childhood at the Medan Helvetia health center is good, although not significant, 2) The reduction in stunting rates at the Medan Helvetia Community Health Center shows positive developments and parents understanding of nutritional literacy it still limited to height and weight.
Keywords:
Nutritional Literacy
· Stunting
· Early Childhood
Introduction
Perkembangan anak usia dini merujuk pada periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak-anak dari lahir hingga usia 6 tahun. Pada masa ini anak-anak mengalami berbagai perubahan perkembangan kognitif, bahasa, fisik motorik, sosial-emosional, dan perkembangan moral yang penting untuk kesejahteraan dan kemampuan mereka di masa depan. Dukungan dan stimulasi yang tepat selama masa perkembangan anak usia dini sangat penting. Orang tua dan pengasuh dapat berperan aktif dengan menyediakan lingkungan yang aman, stimulasi yang sesuai dan dukungan emosional untuk membantu anak mencapai potensi maksimalnya. Anak usia dini sering sekali mengalami permasalahan pada masa tumbuh kembangnya yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang seimbang, sehingga mengakibatkan pertumbuhan mereka terhambat dan menyebabkan stunting. Stunting merupakan kondisi pertumbuhan terhambat yang terjadi pada anak-anak di bawah usia enam tahun. Stunting biasanya diukur menggunakan indeks tinggi badan terhadap usia, dan anak dikategorikan mengalami stunting jika tingginya lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan anakanak menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting bahwa percepatan penurunan stunting dilaksanakan secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi di antar kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, pemerintah desa, dan peangku kepentingan. Stunting disebabkan oleh malnutrisi kronis, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan (dari masa hamil hingga usia 2 tahun), yang merupakan periode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor lain yang dapat berkontribusi pada stunting termasuk infeksi berulang, akses terbatas ke makanan bergizi, dan kurangnya layanan kesehatan yang memadai. Stunting memiliki dampak jangka panjang yaitu pada perkembangan fisik, kognitif anak kesehatan fisik, perkembangan motorik, ganguan emosional dan sosial, risiko penyakit kronis dan produktivitas yang lebih rendah. Pencegahan stunting memerlukan intervensi nutrisi sejak awal kehidupan, termasuk pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, makanan pendamping ASI yang tepat, dan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin. Selainitu, edukasi kepada orang tua tentang pentingnya nutrisi yang baik dan akses ke layanan kesehatan yang memadai juga penting untuk mencegah da mengatasi stunting. Stunting dan literasi gizi memiliki hubungan erat, karena pemahaman yang baik tentang nutrisi dan pola makan yang sehat dapat berperan penting dalam mencegah stunting pada anak usia dini. Literasi gizi merupakan kemampuan seseorang untuk memperoleh, memahami, dan menggunakan informasi gizi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Literasi gizi melibatkan pemahaman tentang berbagai aspek gizi, seperti kandungan nutrisi dalam makanan, panduan diet yang seimbang, pentingnya asupan nutrisi untuk kesehatan, serta dampak makanan terhadap tubuh dan kesejahteraan. Literasi gizi membantu orang tua dan pengasuh memahami kebutuhan nutrisi anak pada setiap tahap perkembangannya, sehingga mereka dapat menyediakan makanan yang seimbang dan bergizi. Dengan meningkatkan literasi gizi, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya memberikan asupan makanan yang tepat untuk pertumbuhan anak, yang pada gilirannya, dapat mengurangi risiko terjadinya stunting. Upaya pendidikan gizi juga dapat mendorong kebiasaan makanan yang sehat dan kesadaran akan pentingnya menjaga pola makan yang seimbang, yang menjadi langkah awal dalam mengatasi masalah stunting dan memastikan anak tumbuh dan berkembang dengan optimal. Berdasarkan hasil observasi awal melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada hari Rabu, tanggal 03 April 2024, pukul 10.00 WIB dengan Ibu Erita selaku ahli gizi yang mengatasi masalah mengenai stunting dan gizi pada anak usia dini. Menyatakan sebagai berikut: 1). Puskesmas Medan Helvetia memiliki beberapa program untuk mengatasi kurangnya stunting dan gizi yaitu dengan cara memberikan penyuluhan, imunisasi kepada anak dan memberikan makanan yang berprotein, 2). Jumlah angka stunting di Puskesmas Medan Helvetia sudah menurun yang berjumlah 6 orang dan gizi kurang berjumlah 3 orang. Hasil wawancara di atas jika dikaitkan dengan hasil penelitian Fathonah, dkk. (2020:1064) tentang literasi gizi, maka gizi dan stunting di Puskesmas Medan Helvetia menyatakan bahwa tingkat gizi kurang maupun stunting di Puskesmas Medan Helvetia sudah menurun. TINJAUAN TEORI Anak Usia Dini Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia yang sangat awal, biasanya dari bayi hingga sekitar usia 6 tahun. Masa ini sangat penting dalam perkembangan mereka karena banyak pembelajaran yang terjadi, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Mengingat pentingnya keberadaan anak usia dini, maka diperlukan adanya pemberian stimulasi yang optimal pada usia tersebut, sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Wicaksono, dkk. (2022:409) mengemukakan bahwa “anak usia dini adalah mereka yang berada dalam proses pertumbuhan serta perkembangan motorik halus dan kasar, kecerdasan, sosio-emosional, bahasa dan komunikasi khusus yang didasarkan pada tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak”. Pekembangan Anak Usia Dini Perkembangan anak usia dini merupakan pengetahuan yang penting untuk diketahui agar kita dapat memahami perkembangan anak dan menyiapkan berbagai strategi untuk menstimulasinya, sehingga perkembangan anak menjadi optimal. Talango (2020:97-105) menyatakan bahwa: “Perkembangan anak usia dini dapat dijelaskan sebagai berikut: a) perkembangan kognitif, b) perkembangan bahasa, c) perkembangan fisik motorik, d) perkembangan sosial-emosional, e) perkembangan moral. Stunting Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang terjadi pada balita. Stunting adalah kondisi di mana pertumbuhan fisik dan perkembangan seorang anak terhambat atau tertinggal, biasanya terjadi pada masa awal kehidupan, terutama gizi buruk atau kurangnya nutrisi yang memadai dalam periode kritis pertumbuhan anak. Hayati (2019:1) menyatakan bahwa “stunting merupakan satu dari masalah gizi global, terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia”. Faktor Penyebab Stunting Stunting merupakan masalah serius yang menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan anak-anak, mengakibatkan dampak jangka panjang pada kesehatan, kualitas hidup, dan produktivitas di masa depan. Berbagai faktor dapat menjadi pemicu stunting, menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk pertumbuhan optimal. Rahayu, Yunariyah, dan Jannah (2022:157) mengemukakan bahwa:“stunting atau pertumbuhan terhambat pada anak, bisa disebabkan oleh berbagai faktor: faktor utama yang menyebabkan stunting pada balita yaitu pernah memiliki riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan. Apabila keadaan ini tidak diatasi dengan pemberian makanan yang bergizi seimbang, dan anak yang mengalami penyakit infeksi, serta dalam mendapatkan perawatan kesehatan tidak baik akan mempercepat terjadinya anak stunting. Sedangkan ASI eksklusif yang diberikan tidak sampai enam bulan juga akan menjadi faktor risiko penyebab terjadinya stunting. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari riwayat BBLR dan pemberian ASI menjadi faktor terjadinya stunting di Semanding Tuban. Faktor risiko yang selanjutnya yaitu pendapatan orang tua. Apabila pendapatan orang tua memiliki pengaruh terhadap kejadian stunting karena dengan pendapatan yang rendah tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan gizi anak dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. Terdapat hubungan pendapatan terhadap kejadian stunting”. Konsep Literasi Literasi merupakan kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi yang terkandung dalam teks. Ginting (2021:35) mengemukakan bahwa “literasi adalah suatu kemampuan seseorang dalam menggunakan keterampilan dan potensi dalam mengelola dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca, menulis, berhitung serta memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari”. Konsep Gizi Gizi merupakan frasa dalam bahasa Indonesia ya yang berarti “Nutrition is” dalam bahasa Inggris. Gizi adalah awal dari sebuah pernyataan atau definisi tentang gizi atau nutrisi, yang kemudian akan diikuti oleh penjelasan atau deskripsi mengenai topik tersebut, misalnya gizi adalah kunci untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh manusia. Sari (2019:174) mengemukakan bahwa “gizi merupakan terjemahan dari kata Nutrition yang disebut sebagai nutrisi. Gizi pun bisa diartikan sebagai sesuatu yang mempengaruhi adanya proses perubahan yang ada pada setiap makanan yang masuk dalam tubuh yang bisa mempertahankan tubuh agar tetap sehat”. Konsep Literasi Gizi Literasi gizi merupakan pengetahuan gizi, keterampilan pangan (food skill) serta kesadaran perilaku makan. Fathonah, dkk. (2020:1064) mengemukakan bahwa “literasi gizi adalah kemampuan memahami informasi gizi dasar yang diperlukan untuk mengambil keputusan gizi yang tepat”. Faktor Penyebab Kurang Gizi dan Prinsip Pencegahan Gizi Buruk Pada Anak Usia Dini Kurang gizi merupakan kondisi di mana seseorang tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Hal ini dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan dan pertumbuhan yang serius, kurang gizi dapat terjadi karena berbagai faktor. Ramlah (2021:14-24) menyatakan bahwa: “faktor penyebab kurang gizi dan prinsip pencegahan gizi buruk pada anak usia dini dapat dijelaskan sebagai berikut: a) pola makan anak, b) pola pengasuhan anak, c) kesehatan dan lingkungan.
Method
Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Adlini, dkk. (2022:975) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berpikir induktif. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat dalam situasi dan seting fenomenanya yang diteliti. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan di Puskesmas Medan Helvetia yang terletak di Jl. Kemuning No.1,Helvetia, Kec. Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara 20124. Waktu penelitian dilaksankan mulai dari bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2024. Informan Penelitian dan Teknik Penentuan Informan Penelitian Penelitian dalam memperoleh sumber informasi yang akurat dan tepat menggunakan informan penelitian. Informasi penelitian adalah individu atau kelompok yang memberikan data, informasi, atau pandangan yang relevan dengan topik penelitian kepada peneliti. Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Ahli Gizi Puskesmas Medan Helvetia dan orang tua anak yang berkunjung di Puskesmas Medan Helvetia yang berjumlah sebanyak 5 orang. Teknik penentuan informan dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Lenaini (2021:33) mengemukakan bahwa “purposive sampling ialah tata cara yang dijalani oleh periset dalam memastikan kriteria menimpa responde mana saja yang bisa diseleksi sebagai sampel”. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian dalam konteks penelitian kualitatif merupakan alat atau metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang relevan dan mendalam tentang fenomena yang sedang diteliti. Rosinda (2021:70) menyatakan bahwa “instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data penelitian kualitatif sangat memerlukan kehandalan peneliti”. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data Teknik pengumpulan data merupakan metode atau alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan topik penelitian. Sidiq (2019:75) menyatakan bahwa ada beberapa teknik pengumpulan data untuk penelitian kualitatif yaitu: 1) observasi, 2) wawancara, 3) dokumentasi. Setelah data terkumpul baik melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi maka peneliti melakukan analisis data. Sa’adah, dkk. (2022:54) menyatakan bahwa analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, dan penyajian kesimpulan. Pengecekan Keabsahan Data Peneliti dalam menjaga keabsahan data dalam penelitian kualitatif menggunakan berbagai teknik. Teknik pengujian keabsahan data menurut Makarisce (2020:150-151) menyatakan bahwa pada penelitian kualitastif, salah satu bentuk pertanggungjawaban atas penelitian yang dilakukan yaitu harus melalui tahapan dalam pemeriksaan keabsahan data yang dapat dilakukan dengan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, maupun konfirmabilitas. Dari beberapa uji yang disampaikan Makarisce, peneliti menggunakan teknik uji kredibilitas dengan metode triangulasi.
Result & Discussion
Hasil observasi di Puskesmas Medan Helvetia dapat ditemukan bahwa, di lingkungan ini makanan yang berprotein memang ada, akan tetapi konsumsi makanan berprotein sering kali terbatas oleh ketersediaan ekonomi orang tua. Rendahnya mengonsumsi makanan yang berprotein mengakibatkan penurunan status gizi anak usia dini, selain mengonsumsi makanan yang berprotein, orang tua juga sering sekali hanya memahami bahwa gizi terkait dengan tinggi dan berat badan anak. Padahal, kekurangan gizi sering disebabkan oleh kurangnya asupan protein yang cukup dalam tubuh anak. Selanjutnya, hasil wawancara mengenai literasi gizi di Puskesmas Medan Helvetia dapat diketahui bahwa, faktor utama yang menyebabkan kurang gizi di Puskesmas Medan Helvetia yaitu ketidakmampuan keluarga untuk menyediakan makanan berprotein secara teratur. Anak usia dini di Puskesmas Medan Helvetia hanya mendapatkan asupan makanan yang berprotein ketika keluarga memiliki ekonomi yang cukup, sehingga konsumsi protein mereka tidak konsisten. Selain itu, kondisi lingkungan rumah yang tidak sehat turut memperburuk masalah gizi. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah gizi di Puskesmas Medan Helvetia ini, diperlukan upaya terpadu yang mencakup peningkatan akses dan keterjangkauan makanan bergizi, pendidikan yang lebih baik bagi orang tua tentang pentingnya gizi seimbang, serta perbaikan kondisi sanitasi dan lingkungan rumah. Brikutnya anak usia dini. Hasil observasi di Puskesmas Medan Helvetia dapat ditemukan bahwa anak usia dini di Puskesas Medan Helvetia telah menunjukkan perkembangan yang sangat baik dalam beberapa aspek kognitif dasar, termasuk kemampuan mengenali bentuk, membedakan berbagai warna, memahami angka, serta kemampuan menyusun puzzle. Selanjutnya, hasil wawancara di Puskesmas Medan Helvetia dapat diketahui bahwa perkembangan anak usia dini di lingkungan menunjukan kemajuan yang signifikan. Hal ini terlihat dari banyaknya anak yang mengalami peningkatan dalam berbaga asek perkembangan, seperti kognitif, bahasa, fisik motorik, sosial-emosional, dan moral. Namun, tidak semua anak mengalami perkembangan yang sesuai dengan usia mereka. berikutnya stunting. Hasil observasi di Puskesmas Medan Helvetia menunjukkan bahwa jumlah angka stunting di Puskesmas Medan Helvetia telah menurun. Selanjutnya, hasil wawancara di Puskesmas Medan Helvetia dapat diketahui bahwa stunting disebebkan oleh beberapa faktor utama, yaitu kurangnya asupan gizi yang memadai, terutama protein, dalam pola makan harian anak tersebut. Hal ini diakibatkan oleh kebiasaan orang tua yang tidak memberikan makanan berprotein kepada anak mereka setiap hari karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Stunting pada anak usia dini juga dipengaruhi oleh perubahan pola makan selama masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Meskipun berat badan anak saat lahir normal, pertumbuhan mereka menurun selama periode MPASI karena kurangnya makanan bergizi yang cukup.
Conclusion
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dokumentasi dan teori yang dilakukan di Puskesmas Medan Helvetia tentang peranan literasi gizi dalam mengurangi stunting anak usia dini di Puskesmas Medan Helvetia, peneliti memberikan kesimpulan sebagai berikut: 1. Perkembangan anak usia dini di Puskesmas Medan Helvetia sudah baik meskipun tidak signifikan 2. Penurunan angka stunting di Puskesmas Medan Helvetia menunjukkan perkembangan positif dan pemahaman orang tua tentang literasi gizi masih sebatas tentang tinggi dan berat badan saja. Saran Saran peneliti untuk Puskesmas adalah sebagai berikut: 1. Memberikan penyuluhan, pengecekkan, sosialisasi dan edukasi tentang perkembangan anak usia dini dan pentingnya literasi gizi 2. Menyediakan ruang baca atau perpustakaan mini di Puskesmas Medan Heletia.