Layanan Referensi Sebagai Literasi Informasi Bagi Anak Usia Dini
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Anak usia dini membutuhkan bimbingan dan pendampingan dalam memahami dunia informasi yang semakin kompleks. Dalam dunia perpustakaan layanan yang memiliki peranan penting dalam perpustakaan sebagai penyedia layanan informasi ialah layanan referensi. Pentingnya literasi informasi menjadi sorotan utama dalam konteks pelayanan referensi, yang mencakup informasi terkait koleksi perpustakaan, layanan, dan kegiatan lainnya. Sebagai penyedia layanan informasi, layanan referensi berkaitan dengan literasi informasi bagi setiap kalangan termasuk bagi anak usia dini. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti terkait bagaimana layanan referensi sebagai literasi informasi bagi anak usai dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta membahas layanan referensi sebagai literasi informasi bagi anak usia dini. Metode dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini ialah layanan referensi sebagai literasi informasi bagi anak usia dini bertujuan untuk membimbing anak-anak dalam memahami, menggunakan, dan mencari, dan mengevaluasi informasi secara efektif. Bimbingan langsung yang diberikan oleh pustakawan kepada anak bertujuan untuk membimbing mereka secara langsung dalam mencari informasi, memanfaatkan koleksi buku secara efektif, dan merespons pertanyaan yang diajukan oleh anak.
Abstract
Early childhood needs guidance and assistance in understanding the increasingly complex world of information. In the world of libraries, a service that has an important role in libraries as providers of information services is reference services. The importance of information literacy is highlighted in the context of reference services, which include information related to library collections, services and other activities. As an information service provider, reference services are related to information literacy for every group, including early childhood. Therefore, researchers are interested in researching how reference services serve as information literacy for young children. This research aims to describe and discuss reference services as information literacy for early childhood. The method in this research is qualitative with the type of library research. The results of this research are reference services as information literacy for early childhood aimed at guiding children in understanding, using, searching for, and evaluating information effectively. The direct guidance provided by librarians to children aims to guide them directly in searching for information, using book collections effectively, and responding to questions asked by children.
Keywords:
Layanan Referensi
· Literasi Informasi
· Anak Usia Dini
Introduction
A. Pendahuluan Pada era globalisasi informasi menjadi sebuah kebutuhan di antara banyaknya informasi yang beredar secara cepat dan berlimpah di dunia. Kebutuhan akan informasi terjadi pada setiap kalangan termasuk pada anak usia dini. Masa awal perkembangan anak yakni pada usia dini sangat krusial karena pada saat ini mereka dapat mengambil informasi dari lingkungan sekitarnya (Az-Zahra, 2022). Penting bagi anak, terutama anak usia dini, untuk didorong agar belajar secara mandiri. Hal ini berarti anak harus membangun pemahaman dan aktivitas belajar mereka berdasarkan pada informasi yang mereka peroleh, baik itu melalui bimbingan atau mandiri. Keinginan anak untuk mengetahui lebih banyak dapat terlihat dari kebiasaan mereka yang selalu bertanya tentang berbagai perihal. Pada tahap awal perkembangan, anak-anak cenderung mengajukan pertanyaan kepada orang tua, keluarga, dan bahkan orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu, penting untuk memenuhi kebutuhan informasi anak secara komprehensif dan menyeluruh (P. Putra & Oktaria, 2020). Pada zaman sekarang, penting bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan literasi informasi sejak dini. Hal ini karena anak-anak saat ini berada di sekitar banyak informasi yang terus berkembang, terutama di kanal atau media internet. Oleh karena itu, memahami dan menggunakan informasi dengan baik menjadi suatu kebutuhan yang mendesak (P. Putra & Oktaria, 2020). Anak-anak akan memiliki sarana yang dibutuhkan untuk menjadi konsumen informasi yang pintar dan responsif di masa yang akan dating dengan pengembangan literasi informasi yang kuat (Perpustakaan Universitas Brawijaya, n.d.) literasi informasi menjadi sangat penting dalam pemenuhan akan kebutuhan informasi yang menjadi hak pada setiap manusia. Hal ini di buktikan dengan adanya konferensi internasional di Praha pada tahun 2023 yang di fasilitasi oleh the National Forum on Information Literacy bersama UNESCO dan the National Commission on Libraries and Information Science serta melibatkan perwakilan dari dua puluh tiga negara. Konferensi ini mengkaji terkait pentingnya literasi informasi dalam konteks global. Hasil dari konferensi ini adalah Deklerasi Praha, yang menyatakan bahwa literasi informasi merupakan kunci bagi perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi bangsa serta komunitas, baik di tingkat lembaga maupun individu pada abad ke-21. Deklarasi tersebut juga menegaskan bahwa literasi informasi merupakan bagian dari hak asasi manusia untuk pembelajaran sepanjang hayat (Widyawan, n.d.). Literasi informasi sebagai hak asasi manusia untuk pembelajaran sepanjang hayat juga mencakup hak asasi yang dimiliki oleh anak-anak usia dini. Hak anak usia dini untuk belajar sepanjang hidup didukung oleh perpustakaan, hal ini sesuai dengan Undang-Undang no 43 tahun 2007 pada pasal 2 yang mengemukakan bahwa perpustakaan diatur dengan mempertimbangkan prinsip pembelajaran sepanjang hidup. Anak usia dini sebagai penerus bangsa diharapkan mampu menjadi penerus yang cerdas dan berwawasan dalam berfikir guna mendorong kemajuan peradaban bangsa. Hal ini sejalan dengan fungsi dan tujuan perpustakaan yang terdapat pada undang-undang yang sama dalam pasal 3 dan 4 yakni berfungsi sebagai informasi dan bertujuan untuk memberikan layanan kepada pemustaka guna meningkat kecerdasan kehidupan bangsa. Perpustakaan dengan tujuan sebagai penyedia informasi termasuk kepada perpustakaan umum. Sumitra dalam (Melfan & Batubara, 2023) mendefinisikan perpustakaan umum sebagai sebuah bangunan yang menampung berbagai informasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik dari koleksi maupun layanan yang diberikan untuk umum. Perpustakaan umum menyediakan layanan bagi seluruh masyarakat, termasuk anak-anak dibawah umur atau anak-anak usia dini. Perpustakaan dengan literasi informasi menjadi terhubung dan berlaku pada jenjang anak usia dini. Perpustakaan umum memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kebutuhan informasi dan referensi khusus anak-anak terpenuhi dengan baik. Anak-anak sebagai klien referensi membutuhkan bantuan yang terampil dan dipertimbangkan untuk menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan mereka baik yang dirasakan maupun yang sebenarnya.
Method
B. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penilitian kepustakaan. Informasi dan data yang dikumpulkan dalam penulisan riset ini diperoleh dari beragam sumber literatur seperti buku, artikel ilmiah, catatan, laporan, dan referensi lain yang berkaitan dengan isu yang sedang diteliti (Sari & Asmendri, 2020). Sumber literatur dalam penelitian ini berjumlah 20 literatur yang diperoleh dari e-book, e-journal, dan lain sebagainya. Literatur yang menjadi sumber utama untuk dikaji dan ditelaah dalam penelitian ini terdiri atas dua sumber artikel jurnal nasional dan satu artikel jurnal internasional yang menjadi sumber data primer pada penelitian ini. Artikel tersebut memiliki informasi dan data yang sesuai dengan topik masalah yang dikaji yakni layanan referensi sebagai literasi anak usia dini. Artikel-artikel tersebut ialah artikel dengan judul Urgensi Mengembangkan Literasi Informasi dan Literasi Budaya Pada Anak Usia Dini (P. Putra & Oktaria, 2020), kemudia artikel yang berjudul Pelayanan Perpustakaan Untuk Anak Usia Dini(Az-Zahra, 2022), serta artikel internasional yang berjudul Developing Effective Library Services for Children and Young People in Public Libraries: A Structured Review (Igwebuike et al., 2019). Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif, dimana peneliti memberikan gambaran secara rinci terhadap suatu objek. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman yang melibatkan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Rijali, 2018).
Discussion
C. Pembahasan Layanan Referensi Perpustakaan memberikan pelayanan optimal kepada pengunjung merupakan suatu keharusan sebuah perpustakaan. Layanan perpustakaan mencakup serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk membimbing pengguna dalam menemukan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, baik dalam format cetak maupun elektronik. Layanan ini juga mencakup bimbingan formal dan informal untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya perpustakaan yang tersedia. Penting untuk diingat bahwa layanan perpustakaan adalah salah satu inti dari fungsi perpustakaan dan juga menunjukkan seberapa efektif perpustakaan tersebut. Oleh karena itu, citra dan reputasi perpustakaan dapat berkembang dari pengelolaan meja layanan, dan ini akan membimbing seluruh operasi perpustakaan untuk berfokus pada memberikan layanan yang memenuhi harapan masyarakat pengguna (Silalahi & Primadesi, 2014). Layanan perpustakaan berusaha menyediakan informasi terkini dan tepat sesuai kebutuhan, contohnya adalah layanan referensi (Prasetyawan, 2018). Layanan referensi memiliki peran khusus di dalam suatu perpustakaan, karena bertujuan untuk membantu pengunjung dalam mencari atau mengakses informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna (I. P. Putra & Irawati, 2018). Layanan referensi menjadi salah satu dari tiga layanan utama pada perpustakaan (Fitirani & Harjanty, 2023). Beberapa pendapat terkait layanan referensi mendeskripsikan bahwa layanan referensi memiliki posisi yang penting dalam perpustakaan dengan tujuan untuk memudahkan pengguna perpustakaan dalam melakukan penelusuran dan pencarian informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Literasi Informasi Terjadinya situasi yang dikenal sebagai kebanjiran informasi mengakibatkan adanya kebingungan dalam memilih informasi yang relevan, karena itu, literasi informasi menjadi sangat penting. Literasi informasi berasal dari dua kata yang berbeda yakni Literasi dan Informasi. Menurut Sevima dalam (Novrani et al., 2021) mendefiniskan literasi secara Bahasa yakni, berasal dari kata literacy dari bahasa inggris dengan definisi yakni mengacu pada kemampuan untuk memahami huruf dan angka. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa latin yakni literatus yang menggambarkan seseorang yang terdidik. Sementara itu informasi mengacu pada data yang telah direkam dan diproses menjadi bentuk yang lebih bermanfaat dan bernilai bagi pengguna. Informasi ini diperoleh dari fakta-fakta yang telah dicatat (Gusriani & Masruri, 2023). Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa literasi informasi memiliki makna bahwa penguasaan sistem tulisan atau huruf yang menjadi data serta fakta yang diproses agar menjadi bermanfaat dan memiliki nilai informatif bagi pengguna. Menurut rekam jejak Sejarah yang disampaikan Behrens dalam (P. Putra & Oktaria, 2020), Paul Zurkowski adalah orang yang pertama kali mencetuskan istilah "literasi informasi". Ia mendefinisikan literasi informasi sebagai kemampuan orang yang terlatih dalam menggunakan sumber daya informasi dalam pekerjaannya. Dalam Bahasa Indonesia istilah "literasi informasi" diwakili oleh kata "melek huruf" atau "kemelekan huruf". Cara sederhana yang mudah dipahami, literasi informasi adalah keterampilan dalam menacri, menilai, dan meggunakan informasi dalam berbagai format. Menurut Winaryati dalam (Harefa et al., 2022) Seseorang yang memiliki literasi informasi memahami cara belajar dan berkomitmen untuk terus belajar sepanjang hidup. Setelah menguasai literasi informasi, seseorang akan lebih terampil dalam memanfaatkan informasi dan menerapkan kreativitas karena telah memiliki pengetahuan mandalam tentang berbagai sumber informasi yang mendukung kreatifitas. Umumnya, terdapat empat model literasi informasi yang sering digunakan, yaitu The Big 6, Seven pillars, Empowering 8, dan The Seven Faces of Information Literacy. The Big 6 adalah model literasi informasi yang dibuat di Amerika Serikat oleh Mike Eisenberg dan Bob Berkowitz. Model lainnya dari literasi informasi ialah, The Seven Pillars of Information Literacy yang dikembangkan oleh SCONUL dan memiliki tujuh tahap yang disebut sebagai tujuh pilar literasi informasi, yaitu mengidentifikasi, menentukan ruang lingkup, merencanakan, mengumpulkan, mengevaluasi, mengelola, dan menyajikan. Model berikutnya adalah Empowering 8 yang dikembangkan dalam International Workshop on Information Skill for Learning oleh IFLA/ALP dan NILIS di University of Colombo, Sri Lanka. Model terakhir yang popular dalam literasi informasi yaitu The Seven Faces of Information ILiteracy (Wahyuni, 2016). Literasi Informasi Anak Usia Dini Pada rentang usia 0 hingga 8 tahun, anak-anak mulai mengenali lingkungan mereka dan membentuk cara mereka akan tumbuh, berkembang, hidup, dan beraktivitas. Proses pertumbuhan dan perkembangan berlangsung cepat dengan kapasitas kecerdasan manusia mencapai 50 persen bagian pada usia sekitar 4 tahun, 80 persen pada usia 8 tahun, dan 100 persen saat anak berusia antara 8 hingga 18 tahun (Riady, 2013).anak-anak usia dini berada dalam kelompok usia yang mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan yang sering disebut sebagai masa keemasan. Masa kanak-kanak adalah periode yang ideal untuk membentuk kebiasaan yang akan berlanjut hingga masa dewasa atau Ketika mereka menjadi orang tua. Secara sederhana, jika seseorang diperkenalkan pada kebiasaan membaca sejak kecil, maka kecenderungan ini akan terbawa hingga dewasa (Harefa et al., 2022). Konsep literasi anak melibatkan rangkaian proses yang terus berkembang, dimulai dari minat untuk mengetahui, kemampuan berpikir kritis, komunikasi lisan, hingga keterampilan membaca dan menulis. Peningkatan kemampuan ini mengikuti evolusi zaman dan digunakan sepanjang kehidupan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Literasi anak usia dini secara kuat terhubung dengan perkembangan bahasa anak (Novrani et al., 2021). Menurut Suyadi dalam (Aulinda, 2020) menyatakan bahwa penguasaan literasi dapat dimulai dan diajarkan kepada anak usia dini.upaya untuk memajukan perkembangan literasi pada anak-anak usia dini diterangkan sebagai masa di mana anak berusia 3-6 tahun yang dikenal sebagai fase anak usia dini. Fase ini menandai peningkatan kemampuan kognitif, psikososial, dan motorik fisik pada anak. Kemampuan kognitif anak dimana anak mulai berfikir untuk memecahkan masalah, psikososial anak mulai berinteraksi dan mengetahui identitas diri serta emosi.selama periode ini, minat anak terhadap buku cerita meningkat dengan cepat, terutama terhadapbuku-buku yang berisi beraneka ragam ilustrasi gambar dan menggunakan warna-warna yang cerah. Literasi informasi bagi anak lebih mengarah pada kesadaran akan kebutuhan dan kemampuan dasar anak dalam mengidentifikasi pesan-pesan secara efektif dan efisien (Mustofa, 2015). Sangat penting untuk mempersiapkan kemampuan literasi informasi pada anak usia dini sebagai langkah awal untuk menghadapi tuntutan abad ke-21. Pengenalan literasi informasi sejak dini akan membuka akses kepada setiap anak usia dini untuk memulai sosialisasi, partisipasi, dan mendapatkan pengetahuan awal yang akan membantu mereka di masa depan. Hal ini juga akan meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber belajar mereka, mendukung perkembangan kehidupan mereka di kemudian hari. Akhirnya, tujuannya adalah agar anak-anak dapat mandiri dan memiliki kesadaran untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka, memahami bagaimana mendapatkan informasi, dan memiliki pemahaman yang komprehensif tentang informasi yang dapat dipercaya, berdasarkan fakta, dan bebas dari berita palsu (hoax) (P. Putra & Oktaria, 2020). Memperkenalkan literasi informasi sesuai dengan jenisnya sejak dini memungkinkan setiap anak mendapatkan pengetahuan awal dan kesempatan untuk berinteraksi sosial, berpartisipasi, serta memenuhi kebutuhan belajar dan kehidupan sehari-hari. Anak-anak juga mempelajari cara menyadari dan mengakses informasi. Pentingnya literasi informasi harus diajarkan sejak usia dini, agar anak dapat belajar, memahami, dan melakukan aktivitas berdasarkan informasi yang mereka dapatkan. Kebutuhan informasi anak terus berkembang seiring dengan pertambahan usianya, dan ini terlihat dari tingginya minat anak untuk mengetahui lebih banyak hal yang ada di sekitarnya. Masyarakat di sekitarnya perlu memahami hal ini dan merespon rasa ingin tahu anak dengan baik untuk memastikan kebutuhan informasi anak terpenuhi secara memadai. Layanan Referensi Sebagai Literasi Informasi Anak Usia Dini Layanan anak-anak di perpustakaan merupakan strategi perpustakaan umum untuk meningkatkan minat membaca sebanyak mungkin, dan untuk memperkenalkan perpustakaan sejak dini kepada anak. Layanan perpustakaan anak difokuskan pada pelayanan yang khusus untuk para pengunjung yang sepenuhnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan informasi anak (Az-Zahra, 2022). Anak-anak di perpustakaan berhak untuk: a) Kebebasan intelektual b) Akses yang sama terhadap berbagai sumber daya, layanan, dan program gratis yang tersedia bagi pengguna lain c) Berbagai macam sumber daya, layanan, dan program gratis dikembangkan untuk memenuhi beragam kebutuhan dan kepentingan mereka d) Lingkungan perpustakaan yang melengkapi kebutuhan fisik dan perkembangan mereka. Staf terlatih dan berpengetahuan luas yang berspesialisasi dalam layanan bagi kaum muda. Pelayanan yang ramah, penuh hormat dan suportif untuk segala usia e) Kebijakan yang menangani dan mencakup beragam kebutuhan dan kepentingan generasi muda (Igwebuike et al., 2019). Selain hak anak-anak di perpustakaan, pustakawan juga mempunyai kewajiban publik dan profesional untuk memastikan bahwa semua anggota perpustakaan yang di layani memiliki akses yang bebas, setara, dan merata terhadap seluruh perpustakaan sumber daya terlepas dari konten, pendekatan, format, dan lainnya (Igwebuike et al., 2019). Memberikan layanan untuk anak usia dini adalah salah satu langkah untuk mengembangkan minat membaca dan meningkatkan keterampilan literasi pada anak-anak. Alasan mengapa literasi sangat penting, terutama bagi anak usia dini menurut ALA dalam (Riady, 2013), meliputi hal-hal berikut: (a) membantu anak memahami metode belajar yang efektif, (b) memungkinkan anak untuk mengembangkan kemampuan dasar dan menjadikan proses pembelajaran menyenangkan, (c) membekali anak dengan keterampilan untuk memanfaatkan berbagai jenis informasi sesuai dengan kebutuhan mereka dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, (d) membimbing anak untuk mencapai kemandirian dan kedewasaan, (e) mempersiapkan anak untuk mengatasi perubahan informasi yang terjadi seiring dengan evolusi masa dan kurikulum, serta (f) mempersiapkan anak untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Pada tahun 1998 istilah literasi informasi di lingkungan perpustakaan di perkenalkan oleh Elisabeth Arkin di Denmark yang merupakan seorang warga Amerika dan demisioner kepala layanan perpustakaan di Perpustakaan Universitas Aalborg. Pengenalan ini terjadi dalam sebuah konferensi yang membahas pemasaran dan evaluasi layanan perpustakaan. Transformasi pada layanan referensi dan pengajaran literasi informasi telah berkambang seiring dengn kemajuan teknologi, perubahan dalam masyarakat, dan perkembangan dalam bidang pendidikan (Batubara, 2014). Penerapan literasi informasi dapat dijalankan dengan lebih praktis dan terorganisir melalui penerapan model literasi informasi. Salah satu model yang sering dipakai adalah The Big 6 yang awalnya dikembangkan di Amerika Serikat oleh dua pustakawan yakni Mike Eisdenberg dan Bob Berkowitz. Pendekatan pemecahan masalah digunakan dalam The Big 6 untuk mengajarkan keterampilan informasi dan teknologi (P. Putra & Oktaria, 2020). Enam langkah dalam model literasi informasi The Big 6 meliputi: 1. Menentukan tugas, 2. Strategi pencarian informasi, 3. Lokasi dan akses, 4. Penggunaan informasi, 5. Menyintesis, dan 6. Evaluasi. Selama masa anak usia dini, pemberian pendidikan dan penyampaian informasi sepanjang perkembangan anak usia dini dalam mencari informasi hingga dewasa. Hal ini krusial karena mencari informasi memerlukan keterampilan dan pengetahuan agar informasi yang ditemukan bermanfaat dan dapat berkembang dengan baik. Penerapan model literasi informasi seperti The Big 6, memiliki beberapa aspek yang harus diperhatikan (Riady, 2013) termasuk: a.Keterampilan dalam merumuskan pertanyaan, mengidentifikasi masalah, atau memahami isu-isu di sekitarnya, b.Evaluasi informasi yang diperlukan terkait dengan pertanyaan, masalah, atau isu yang ada, c.Menemukan dan mengetahui sumber informasi yang relevan beserta lokasinya, d.Mengorganisisr informasi secara terstruktur, e.Menganalisis dan mengevaluasi informasi, f.Menyintesis informasi, g. Memanfaatkan beragam teknologi informasi untuk berkomunikasi. Layanan rujukan atau disebut juga layanan referensi ialah layanan perpustakaan yang disediakan untuk memberikan informasi berdasarkan permintaan referensi dari pengguna. Terdapat empat aspek utama yang perlu diperhatikan dalam layanan referensi untuk anak usia dini: a) penyesuaian koleksi referensi dengan usia atau tingkat pendidikan anak, sehingga anak-anak usia dini sebagai pengguna mendapatkan bahan bacaan yang sesuai dengan perkembangan mereka, b) Kualitas koleksi yang disediakan, untuk pemanfaatan bahan bacaan yang digunakan dapat dirasakan secara maksimal, c) Fasilitas ruangan yang terpisah untuk memastikan kenyamanan dan kebebasan anak sebagai pengguna dalam beraktivitas, serta untuk mengurangi gangguan kepada pengguna lain, d) Pendampingan langsung oleh pustakawan kepada anak sebagai pengguna dengan tujuan membimbing mereka secara langsung dalam mencari informasi, memanfaatkan koleksi buku dengan baik, dan memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang mereka ajukan (Az-Zahra, 2022). Empat aspek utama dalam layanan referensi anak usia dini yang meliputi koleksi, fasilitas, ruangan, dan pustakawan memberikan gambaran terkait beberapa bentuk layanan referensi yang tepat bagi anak usia dini ialah berupa : koleksi papan bayi atau balita bagi anak usia dini, koleksi buku bergambar, buku untuk anak-anak belajar membaca, buku cerita anak, buku dalam bentuk audio atau CD, serta bimbingan pustakawan dalam mencari informasi, cara menggunakan buku referens dan menjawab pertanyaan anak-anak (Igwebuike et al., 2019). Perpustakaan sebagai penyedia layanan informasi memiliki peran yang penting. Dalam layanan referensi pada perpustakaan informasi menjadi sangat penting sehingga literasi informasi menjadi fokus utama dalam layanan referensi sebagai penyampaian informasi terkait koleksi perpustakaan, jasa dan aktivitas lainnya (Batubara, 2014). Layanan referensi membantu anak usia dini dalam mengembangkan keterampilan literasi informasi seperti mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan baik. Dalam penerapannya layanan referensi dengan model pemecahan suatu masalah informasi The Big 6 bagi anak usia dini dengan kognitif dan motorik yang sedang berkembang akan memunculkan banyak pertanyaan hal ini dilihat dari tingginya minat anak untuk mengetahui lebih tentang perihal yang terdapat disekitar lingkungannya. Oleh sebab itu, layanan referensi menjadi tempat bagi anak usia dini untuk mengembangkan literasi informasi mereka melalui pendampingan langsung dari pustakawan kepada anak bertujuan untuk memberikan bimbingan langsung kepada mereka dalam mencari informasi dan menggunakan koleksi buku dengan efektif, serta memberikan respon terhadap pertanyaan yang diajukan oleh anak. Penting untuk menciptakan lingkungan dimana anak-anak dan pertanyaan-pertanyaan mereka ditanggapi dengan serius.
Conclusion
D. Kesimpulan Layanan referensi memiliki peranan yang penting dalam perpustakaan sebagai penyedia layanan informasi. Informasi yang diberikan melalui pelayanan referensi mencakup selururh pengguna termasuk anak usia dini. Layanan referensi sebagai literasi informasi untuk anak usia dini bertujuan sebagai suatu bimbingan bagi anak-anak untuk memahami, menggunakan, dan mencari, dan mengevaluasi informasi secara efektif. Bimbingan langsung yang diberikan oleh pustakawan kepada anak bertujuan untuk membimbing mereka secara langsung dalam mencari informasi, memanfaatkan koleksi buku secara efektif, dan merespons pertanyaan yang diajukan oleh anak. Layanan referensi yang tepat bagi anak usia dini dapat mulai mengembangkan literasi informasi mereka dan membimbing perkembangan intelektual untuk mempersiapkan diri dimasa depan serta sebagai pembelajaran sepanjang hayat.