Pergeseran Budaya Baca Masyarakat Sampang di Era Digital
Institut Agama Islam Negeri Madura
Abstrak
Budaya membaca telah mengalami transformasi besar di era digital saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari perubahan dalam budaya membaca masyarakat Indonesia, khususnya di Sampang, Madura. Selain itu, penelitian ini juga akan melihat bagaimana teknologi memengaruhi minat dan kebiasaan membaca orang. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang di Sampang tidak terlalu tertarik untuk membaca, terutama anak-anak, yang lebih suka bermain game online daripada membaca buku. Budaya baca dipengaruhi oleh teknologi digital, baik secara positif maupun negatif. Di satu sisi, teknologi membuat informasi lebih mudah diakses dan menyediakan berbagai sumber bacaan digital. Di sisi lain, hiburan digital dan media sosial dapat menjadi hambatan yang mengurangi keinginan untuk membaca. Di era digital, masalah utama dalam membaca termasuk gangguan teknologi, kurangnya pengetahuan teknologi, masalah keamanan dan privasi, distraksi digital, dan kurangnya literasi media. Untuk meningkatkan budaya membaca di Sampang, pemerintah, sekolah, dan orang tua harus berkolaborasi untuk mendorong literasi digital dan tradisional serta menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas membaca.
Abstract
Reading culture has experienced a major transformation in the current digital era. The aim of this research is to study changes in the reading culture of Indonesian society, especially in Sampang, Madura. Apart from that, this research will also look at how technology influences people's reading interests and habits. This research is qualitative with a descriptive approach and uses observation, interviews and documentation. The research results show that people in Sampang are not very interested in reading, especially children, who prefer playing online games rather than reading books. Reading culture is influenced by digital technology, both positively and negatively. On the one hand, technology makes information more accessible and provides various digital reading sources. On the other hand, digital entertainment and social media can be obstacles that reduce the desire to read. In the digital era, major problems in reading include technological distractions, lack of technological knowledge, security and privacy concerns, digital distractions, and lack of media literacy. To improve the reading culture in Sampang, the government, schools and parents must collaborate to encourage digital and traditional literacy and create an environment that supports reading activities.
Keywords:
Reading Culture
· Digital Technology
· Interest in Reading
Introduction
Di era modern ini banyak orang yang memiliki smartphone dan menggunakan media social,seperti aplikasi Instagram, Whatsapps, facebook, tiktok dan sejenisnya untuk mencari informasi dan berkomunikasi. Penggunaan media social memiliki dampak positif dan negative. Teknologi mengalami perkembangan pesat di era modern. Hal ini membawa perubahan signifikan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat mengakses informasi. Perpustakaan sebagai tempat tradisional untuk mencari informasi dan pengetahuan dan saat ini dihadapkan dengan tantangan baru akibat kemudahan akses informasi melalui internet dan perangkat digital. UNESCO melaporkan pada Januari 2020 bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, menempatkannya di urutan kedua terburuk di dunia untuk literasi. UNESCO melaporkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,001% dari populasi. Ini berarti bahwa hanya satu orang dari seribu orang Indonesia yang rajin membaca. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Ranking of World's Most Literate Nations, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara, persis di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, Indonesia berada di atas negara-negara Eropa dalam hal penilaian infrastruktur yang mendukung membaca. Pergeseran budaya baca masyarakat telah menjadi fenomena yang semakin signifikan di era digital yang sangat dinamis dan berubah. Budaya baca telah mengalami perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi karena perubahan dalam teknologi komunikasi dan penggunaan media digital. Cara masyarakat menggunakan dan mengakses informasi telah berubah sebagai akibat dari kemajuan dalam teknologi informasi dan komunikasi di era digital saat ini. Dengan munculnya internet, perangkat digital seperti smartphone, tablet, dan komputer, serta media sosial, penyebaran informasi telah menjadi lebih cepat dan lebih mudah diakses. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota tetapi juga di pedesaan. Masyarakat biasanya bergantung pada media cetak seperti buku, koran, dan majalah untuk mendapatkan informasi. Namun, dengan masuknya teknologi digital, pola konsumsi informasi masyarakat mulai beralih ke media digital. Pergeseran budaya baca ini tidak hanya dialami oleh generasi muda; itu juga dialami oleh generasi tua. Disebabkan kemudahan akses ke informasi melalui perangkat digital, masyarakat mengalami perubahan dalam perilaku membaca dan mencari informasi. Perkembangan budaya membaca memiliki konsekuensi yang berbeda, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, kemampuan teknologi digital memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi secara lebih cepat dan luas, tetapi di sisi lain, konsumsi informasi yang berlebihan dapat mengurangi kebiasaan membaca secara mendalam dan kritis.
Method
Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengumpulkan data secara menyeluruh dan mendalam untuk menjelaskan fenomena.1 Waktu penelitian di lakukan pada 2024. Creswell (2009) menguraikan bahwa proses penelitian kualitatif ini melibatkan sejumlah tindakan penting, seperti mengajukan pertanyaan dan prosedur, mengumpulkan data, dan mengajukan pertanyaan. yang unik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari topik-topik khusus hingga topik-topik umum, dan menafsirkan maknanya.2 Pengumpulan data dilakukan melalui tiga instrumen, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi Observasi adalah pengamatan menyeluruh dan teliti terhadap objek, fenomena, atau keadaan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik. Seseorang secara aktif memperhatikan berbagai detail atau perilaku yang mereka amati selama observasi. Observasi dapat dilakukan di banyak bidang ilmu pengetahuan dan penelitian, serta di kehidupan sehari-hari. Teknik ini sering digunakan dalam penelitian sosial, psikologi, ilmu alam, dan bidang lainnya untuk mendapatkan informasi penting.3 Wawancara Studi ini menggunakan wawancara mendalam. Untuk mendapatkan data secara menyeluruh, wawancara mendalam dilakukan secara langsung dengan informan, menurut Kriyantono. Periset membedakan informan yang diwawancarai beberapa kali dari responden yang diwawancarai sekali. Ini, bersama dengan observasi partisipan, biasanya menjadi alat utama dalam penelitian kualitatif. Selama wawancara mendalam, pewawancara hampir tidak mengontrol apa yang dijawab informan. Akibatnya, informan dapat bertindak sesuai keinginan mereka. Periset harus memastikan informan bersedia memberikan jawaban yang lengkap dan mendalam, serta tidak menyembunyikan informasi apa pun jika diperlukan. Ini dapat dicapai dengan menjamin bahwa wawancara dilakukan secara informal.4 Dokumentasi Ketika kata ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari, itu menunjukkan pemahaman umum tentang dokumentasi. Misalnya, hampir setiap kepanitiaan memiliki bagian dokumentasi. Tujuan ini sebenarnya harus lebih dari itu, tetapi biasanya terbatas pada tugas mengambil foto kegiatan kepanitiaan.5 Ketiga metode ini digunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang masalah yang sedang diteliti.
Result & Discussion
Devinisi Budaya Membaca Membaca adalah bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari karena pola pikir dan kebiasaan membaca yang menjadi bagian integral dari kehidupan kita. Budaya membaca tidak hanya meningkatkan literasi, tetapi juga mempengaruhi cara orang mengakses dan memperoleh pengetahuan.6 Ada dua faktor dapat memengaruhi kebiasaan membaca seseorang: 1.Faktor internal a. Minat membaca: Seseorang yang memiliki minat yang besar dalam membaca cenderung membaca lebih sering dan mengembangkan budaya membaca yang kuat. b.Motivasi: Seseorang dapat didorong untuk membaca lebih banyak dan mengembangkan budaya membaca melalui motivasi yang kuat, baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. c. Kemampuan membaca: Kemampuan membaca yang baik, seperti pemahaman yang kuat, kecepatan membaca, dan kosakata yang luas, dapat mendorong seseorang untuk membaca lebih banyak dan membantu membangun budaya membaca yang lebih kuat. 2.Faktor Eksternal a. Lingkungan: Lingkungan yang mendukung dan memberikan akses ke berbagai sumber bacaan, seperti keluarga, sekolah, atau komunitas, dapat mendorong budaya membaca yang positif. b.Pendidikan: Sistem pendidikan yang menekankan pentingnya membaca dan memberikan program-program yang mendorong budaya membaca dapat membantu mengembangkan kebiasaan membaca sejak dini. c. Budaya masyarakat: Budaya masyarakat yang menghargai dan menjunjung tinggi literasi serta aktivitas yang terkait dengannya dapat membantu mengembangkan budaya membaca yang positif. Budaya membaca seseorang dapat dipengaruhi oleh kombinasi elemen internal dan eksternal ini. Mengembangkan budaya membaca yang kuat dapat dibantu oleh minat dan motivasi yang tinggi, kemampuan membaca yang baik, lingkungan yang mendukung dan memberikan akses ke berbagai bahan bacaan. Di sisi lain, kurangnya minat, motivasi, kemampuan membaca, dan lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat perkembangan budaya membaca yang positif.7 Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan budaya membaca harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Hal ini dapat mencakup program pendidikan, kampanye literasi, penyediaan akses ke bahan bacaan, dan menciptakan lingkungan yang mendorong aktivitas membaca setiap hari. Selain itu, terbentuknya budaya membaca juga dipengaruhi oleh frekuensi dan jumlah bacaan. Orang yang membaca secara teratur dan dengan jumlah yang tinggi lebih cenderung untuk mengembangkan kebiasaan membaca yang menjadi bagian dari budaya mereka. Frekuensi membaca. Jika seseorang membaca secara teratur, seperti setiap hari atau beberapa kali dalam seminggu, membaca menjadi kebiasaan atau rutinitas akan lebih mudah untuk memperoleh pengetahuan dan ide baru. Kemampuan literasi dan pemahaman seseorang meningkat seiring dengan jumlah waktu yang mereka habiskan untuk membaca. Jumlah bacaan. Semakin banyak orang yang membaca, semakin banyak pengetahuan dan wawasan yang mereka peroleh. Membaca banyak bacaan, seperti buku, majalah, koran, atau literatur lainnya, dapat memperluas pengetahuan dan minat seseorang. Dengan membaca banyak bacaan, seseorang akan terpapar dengan berbagai gaya bahasa, sudut pandang, dan topik. Kombinasi frekuensi dan jumlah bacaan: yang kuat akan membentuk budaya baca yang kuat dalam diri seseorang. Ini terjadi ketika seseorang membaca secara teratur dengan frekuensi yang tinggi dan juga membaca banyak jenis bacaan. Budaya membaca yang kuat menunjukkan bahwa membaca telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari dan pola pikir seseorang. Orangorang yang memiliki budaya membaca yang kuat cenderung lebih mudah memahami informasi, memiliki wawasan yang luas, dan berpikir kritis dengan lebih baik. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan minat baca dan mempermudah akses ke sumber bacaan dapat berkontribusi pada pembentukan budaya baca yang lebih kuat di masyarakat. Dengan demikian, interaksi antara minat baca yang meningkat, kemudahan mengakses sumber bacaan, dan frekuensi dan jumlah bacaan yang dilakukan. Budaya pada Masyarakat Sampang Menurut beberapa sumber, berikut adalah budaya baca pada masyarakat Sampang. Achmad Hamzah selaku salah satu masyarakat Sampang mengatakan bahwa: ”Budaya membaca di masyarakat Sampang saat ini masih perlu terus didorong dan di kembangkan apa lagi di era digital seperti saat ini, dan budaya baca masyarakat Sampang kemungkinan mengalami tantangan tersendiri. Salah satu tantangannya yaitu kurangnya minat baca. Ada beberapa alasan mengapa masyarakat Sampang contohnya saya sendiri tidak terlalu tertarik membaca, tidak adanya kebiasaan membaca sejak kecil, dan serangan gadget yang dapat mengganggu kebiasaan membaca. Selain itu, karena kesadaran dan kesiapan masyarakat untuk mengakses bacaan digital masih rendah, sosialisasi tentang literasi digital yang merata diperlukan.” (Wawancara, Ahmad Hamzah, 2024, 15.30 WIB). Dikuatkan lagi oleh pengungkapan salah satu guru MI Islamiyah Sampang yaitu ibu Hermin, beliau menyatakan: “Budaya baca masyarakat Sampang masih kurang dibawah standart. Anak-anak di era digital saat ini lebih tertarik pada game online daripada membaca karena mereka tidak memiliki minat atau keinginan untuk membaca. Hal ini sangat menyedihkan karena membaca memiliki banyak manfaat, seperti menambah wawasan, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, dan meningkatkan kosa kata. Oleh karena itu, upaya dari pemerintah, sekolah, dan orang tua diperlukan untuk menumbuhkan minat baca sejak dini. Misalnya, orang tua mengadakan kegiatan yang menarik minat baca, dan menanamkan kebiasaan membaca buku di rumah.”(wawancara, ibu hermin, 2024, 11.30 WIB). Ungkapan guru tersebut kemudian dikuatkan lagi oleh salah satu pustakawan yaitu ibu Nurul, beliau mengatakan: “Budaya baca masyarakat Sampang pada tahun 2023, berdasarkan hasil survey TGM (Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat) adalah sebesar 50,5 (termasuk kategori sedang), namun berada pada nomer 2 dari bawah di seluruh Provinsi Jawa Timur. Menurut saya pribadi, saat ini membaca belum menjadi sebuah budaya bagi masyarakat Sampang. Sangat sulit menemukan masyarakat membaca saat antri layanan, misalnya di RS, puskesmas dll. Mereka lebih suka bermain gadget. pada tahun 2023 jumlah masyarakat yang berkunjung ke perpustakaan sebesar 3,19% atau 31.352 org dari jumlah penduduk Sampang yaitu 984.162 (Kab. Sampang dalam angka tahun 2023/BPS Sampang)” (Wawancara, Ibu Nurul, 2024, 09.30 WIB) Penulis juga telah menganalisis beberapa karya ilmiah yang serupa untuk mendukung penelitian ini. salah satunya yaitu dengan judul” Dampak Teknologi Informasi terhadap Minat Baca Siswa” Oleh Antuk Putri Idhamani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa tidak lagi membaca buku. sebaliknya, mereka lebih tertarik pada media elektronik karena memiliki fitur yang menarik yang lebih banyak.8 Selanjutnya, penelitian oleh Azeta Fatha dan kawan-kawan tahun 2022 yang berjudul” Dampak Era Digital terhadap Minat Baca Remaja” yang menghasilkan bahwa Dunia digital memiliki dampak yang signifikan terhadap minat baca remaja. Di satu sisi, kemudahan akses ke informasi melalui smartphone mungkin memiliki efek positif, tetapi banyaknya informasi, hiburan, dan game yang tersedia di internet justru membuat minat baca remaja menjadi kurang menarik. Faktor lain yang mempengaruhi adalah penggunaan gadget yang dinormalisasi dan tidak terbatas oleh masyarakat serta tingkat literasi digital yang rendah di kalangan remaja, baik dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat.9 Berdasarkan pernyataan dari beberapa narasumber di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya baca masyarakat Sampang masih perlu terus didorong dan dikembangkan, terutama di era digital saat ini. Untuk meningkatkan budaya baca di Sampang, dibutuhkan upaya bersama dari pemerintah, sekolah, dan orang tua. Misalnya, mengadakan kegiatan menarik yang dapat memancing minat baca sejak dini, menanamkan kebiasaan membaca buku di rumah, dan melakukan sosialisasi literasi digital secara teratur. Peran Teknologi dalam Budaya Baca Peran teknologi dalam budaya baca di Indonesia sangat signifikan. Teknologi telah mempengaruhi cara masyarakat Indonesia membaca dan menulis, serta mempengaruhi minat baca masyarakat, terutama di kalangan siswa. Berikut ini adalah beberapa contoh peran teknologi dalam budaya baca: a. Akses informasi; Dengan kemajuan teknologi digital, orang dapat dengan cepat mendapatkan informasi melalui banyak sumber bacaan online. Perpustakaan digital dan toko buku online menyediakan koleksi e-book dan audiobook yang sangat besar dalam berbagai genre. Ribuan kursus, modul, dan e-book yang ditawarkan oleh institusi terkemuka di seluruh dunia dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Dengan jutaan situs web, blog, dan artikel yang dapat diakses dengan mudah melalui mesin pencari, internet telah menjadi sumber informasi terbesar. Repositori ilmiah dan jurnal online menyediakan akses ke jutaan makalah dan artikel yang telah ditinjau oleh pakar untuk keperluan akademik dan penelitian. Aksesibilitas ini telah mengubah cara kita mengonsumsi dan berbagi informasi, membuka lebih banyak peluang.10 b. Perubahan preferensi membaca; Pilihan masyarakat untuk membaca telah berubah sebagai akibat dari kemajuan teknologi. Format digital seperti e-book dan audiobook memiliki fitur tambahan yang memungkinkan pembaca mengakses informasi dan hiburan kapan saja dan di mana saja. Selain itu, format ini mudah dibawa dan dapat diakses. Meskipun demikian, buku asli masih memiliki banyak kelebihan yang sulit digantikan, seperti pengalaman sensoris yang kaya, estetika yang lebih menarik, kemampuan untuk fokus yang lebih baik, rasa kepemilikan yang lebih kuat, dan rasa hormat terhadap karya sastra atau pengetahuan sebagai koleksi buku. Meskipun setiap orang memiliki preferensi yang berbeda, yang paling penting adalah bagaimana teknologi dapat membantu masyarakat mengakses hiburan dan informasi yang mereka butuhkan, baik secara digital maupun fisik.11 c. Gangguan dari Media Sosial dan Hiburan Digital; Perkembangan teknologi, terutama media sosial dan hiburan digital, telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap minat baca masyarakat. Konten instan dan singkat yang disajikan platform-platform tersebut telah membuat masyarakat terbiasa dengan pola konsumsi informasi yang cepat, sehingga minat untuk membaca buku fisik yang umumnya lebih panjang dan membutuhkan waktu lebih lama menjadi berkurang. Selain itu, kecanduan media sosial dan hiburan digital juga menyita banyak waktu luang yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membaca buku. Pergeseran pola konsumsi informasi ke arah digital serta gangguan fokus dan konsentrasi akibat notifikasi dan konten baru yang terus muncul turut menambah tantangan dalam meningkatkan minat baca buku fisik.12 d. Penggunaan Aplikasi Pembacaan Digital; Penggunaan aplikasi pembacaan digital memberikan banyak keuntungan dan fleksibilitas yang dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Portabilitas yang tinggi memungkinkan pembawa ribuan buku dalam satu perangkat kecil, sehingga memudahkan untuk membaca di mana saja dan kapan saja tanpa harus membawa buku fisik yang berat. Akses yang mudah ke berbagai sumber bacaan online seperti e-book, artikel, majalah, dan surat kabar memperluas pilihan konten bacaan yang beragam, mulai dari fiksi, non-fiksi, buku referensi, komik, hingga jurnal akademik atau majalah khusus. Fitur pencarian dan anotasi membantu menemukan informasi dengan cepat serta membuat catatan penting. Penyesuaian tampilan sesuai preferensi seperti ukuran font, jenis font, dan mode tampilan malam meningkatkan kenyamanan membaca. Selain itu, penggunaan aplikasi pembacaan digital turut melestarikan lingkungan dengan mengurangi produksi buku cetak.13 e. Peran Teknologi dalam Literasi Digital; Di era digital, teknologi telah mengubah cara kita mengakses, memahami, dan berinteraksi dengan berbagai jenis informasi. Mengakses konten multimedia seperti teks, audio, gambar, dan video yang lebih mudah memungkinkan literasi digital yang lebih luas dan beragam.14 Literasi digital membutuhkan keterampilan baru seperti mengevaluasi kredibilitas sumber online, navigasi digital, dan komunikasi efektif melalui media digital. Teknologi juga mengubah cara kita membaca menjadi non-linear melalui tautan hiperteks, dan memfasilitasi menulis kolaboratif secara real-time. Sekarang ada lebih banyak kesempatan bagi orang untuk berkontribusi dan berbagi konten melalui platform online. Selain itu, memiliki kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengkritisi konten secara kritis sangat penting dalam lingkungan yang penuh dengan informasi digital. Oleh karena itu, literasi digital menjadi keterampilan yang sangat penting untuk berpartisipasi secara efektif dalam era komputer dan internet yang terus berkembang pesat. f. Pendidikan dan Promosi; Pendidikan tentang literasi digital dan literasi tradisional serta promosi budaya membaca merupakan kunci untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi tantangan di era digital saat ini. Literasi digital membekali kemampuan untuk menggunakan teknologi digital secara efektif, mencari informasi online secara kritis, memahami etika digital, dan mengikuti perkembangan teknologi terkini. Sementara itu, literasi tradisional menekankan pada keterampilan membaca, menulis, dan memahami teks tertulis serta mengapresiasi karya tulis sebagai warisan budaya. Promosi budaya membaca dilakukan dengan menyediakan akses bacaan yang mudah, mengadakan kegiatan yang menggiatkan minat baca, menciptakan lingkungan kondusif untuk membaca, mengedukasi orang tua dan guru, serta memanfaatkan teknologi digital untuk menarik minat generasi muda. Dengan memadukan ketiga aspek tersebut, masyarakat akan memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi secara bijak, baik dari sumber digital maupun tertulis, sehingga menjadi lebih terdidik, kritis, dan berbudaya dalam menghadapi perkembangan teknologi yang pesat. g. Secara keseluruhan, peran teknologi dalam membaca di era digital sangat penting. Teknologi telah mempengaruhi minat masyarakat dalam membaca dan menulis serta cara masyarakat membaca dan menulis. Namun, teknologi juga dapat menghambat literasi dengan mengurangi minat masyarakat dalam membaca, mempengaruhi kualitas kegiatan literasi, dan mengurangi peran perpustakaan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, peran teknologi dalam mempengaruhi cara kita membaca dan menulis tidak dapat diabaikan. Pendidikan dan promosi budaya membaca sangat penting. Ibu Nurul selaku salah satu pustakawan mengatakan bahwa: “Di era digital, mengakses informasi lebih muda, tidak hanya terpaku pada sumber informasi tercetak. Masyarakat dapat mengakses informasi di manapun kapanpun secara lebih cepat, tidak harus datang ke perpustakaan. Bahkan di era digital ini, perpustakaan yang mendatangi masyarakat, dalam bentuk Perpustakaan Digital (Digital Library). Akan tetapi, masyarakat khususnya anak-anak perlu diberi bekal yang cukup kuat, bagaimana menggunakan teknologi secara bijak untuk mengakses informasi yang tepat. Hal ini mengingat penggunaan teknologi dapat membuat kita terlena dan terjerumus menggunakannya untuk halhal yang kurang baik. Kesehatan mata juga perlu diperhatikan ketika mengakses informasi secara digital. Menurut saya ada banyak keuntungan mengakses informasi dari sumber tercetak (misalnya buku cetak) yang tidak tergantikan dengan ebook. Misalnya bisa diakses secara langsung tanpa perlu bantuan alat/piranti apapun, terasa nyata bisa dipegang, dipeluk terus bisa juga ditandai atau ditambahkan catatan pada hal-hal yg kita anggap penting. (Wawancara, Ibu Nurul, 2024, 09.30 WIB). Penulis menyimpulkan bahwa meskipun era digital memudahkan akses informasi, tetap perlu memperhatikan penggunaan teknologi secara bijak, menjaga kesehatan, dan tidak mengesampingkan keuntungan dari sumber informasi tercetak. Tantangan Dalam Membaca Di Era Digital Tantangan dalam membaca di era digital meliputi beberapa aspek yang signifikan. Berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi: a. Gangguan teknologi. Saat membaca buku, perangkat yang terhubung ke internet seperti komputer, tablet, dan ponsel pintar dapat menjadi sumber gangguan yang signifikan. Menerima notifikasi dari berbagai aplikasi seperti media sosial, email, dan pesan instan dapat mengalihkan perhatian dari aktivitas membaca. Konten media sosial yang terusmenerus juga dapat menarik perhatian. Kemampuan untuk beralih antara berbagai aplikasi dan konten di perangkat digital dapat menggoda pikiran untuk beralih dari buku yang sedang dibaca. Penggunaan perangkat digital yang berlebihan juga dapat menyebabkan kecanduan digital dan kesulitan untuk berkonsentrasi dalam membaca. Mencoba membaca sambil menggunakan perangkat digital sekaligus adalah multitasking yang tidak efektif dan dapat menurunkan pemahaman dan kenikmatan membaca. Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk mematikan notifikasi, membatasi penggunaan perangkat digital, dan menciptakan suasana yang tenang dan fokus. b. Kurangnya Pengetahuan tentang Teknologi. Pelajar modern biasanya hanya menggunakan teknologi untuk keperluan dasar seperti media sosial dan hiburan. Hal ini dapat menyebabkan siswa tidak memperoleh keterampilan digital yang lebih baik, rentan terhadap ancaman keamanan siber, tidak memanfaatkan sepenuhnya potensi teknologi untuk kreativitas dan pembelajaran, dan ketergantungan yang berlebihan. Pendidikan dan pelatihan yang memadai sangat penting untuk mengatasi masalah tersebut. Sekolah dapat meningkatkan kurikulum digital mereka, memberikan pelatihan tentang keamanan siber dan etika, mendorong pemanfaatan teknologi untuk keperluan akademik, meningkatkan kesadaran tentang efek buruk penggunaan berlebihan teknologi, dan meminta orang tua dan guru untuk membantu anakanak mereka menggunakan teknologi dengan cara yang bijak dan produktif.15 c. Keamanan dan Privasi. Keamanan dan privasi saat menggunakan teknologi digital seringkali tidak diperhatikan oleh siswa. Ini membuatnya rentan terhadap ancaman seperti malware yang dapat merusak data atau mencuri informasi pribadi, pencurian data yang terjadi karena membagikan data secara sembrangan, dan privasi yang terkompromikan karena penggunaan aplikasi dan media sosial yang tidak aman. Pelajar harus dididik tentang cara terbaik untuk menjaga keamanan dan privasi, seperti menggunakan antivirus, menghindari berbagi data pribadi, menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda, berhati-hati saat mengunduh aplikasi atau mengunjungi situs web, memperbarui software secara teratur, dan menghapus data sensitif dari perangkat yang akan dibuang atau dijual. Karena semua orang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan dan privasi internet, pelajar harus sadar dan mengambil tindakan preventif yang tepat agar ancaman siber dapat diminimalkan. d. Distraksi Digital. Generasi Z menghadapi kesulitan untuk menyeimbangkan penggunaan media sosial, game online, dan konten digital lainnya dengan aktivitas membaca buku di dunia yang semakin didominasi oleh teknologi digital. Dengan budaya yang sangat terhubung dan stimulasi instan dari konten digital, membaca buku mungkin menjadi kurang menarik. Mereka dapat menganggap buku tidak relevan karena kecenderungan mereka untuk format media yang lebih visual, interaktif, dan singkat, serta metode belajar yang dinamis. Tekanan sosial dan keyakinan bahwa membaca buku tidak "keren" juga berkontribusi. Penting untuk diingat bahwa ini adalah pernyataan umum, dan generasi Z memiliki banyak orang yang masih menghargai membaca buku. e. Kurangnya kesadaran literasi media. Di era digital saat ini, literasi media menjadi sangat penting bagi masyarakat. Sangat penting untuk belajar berpikir kritis saat menerima informasi dari berbagai sumber di media digital.16 Masyarakat harus waspada terhadap informasi yang salah, propaganda, atau berita yang tidak adil. Selain itu, menjadi sulit untuk membuat komentar atau menanggapi informasi. Komentar dapat menyebarkan kebencian dan ujaran tidak bertanggung jawab atau dapat mengarah pada diskusi yang konstruktif dan menghargai perbedaan pendapat. Untuk itu, orang-orang harus belajar literasi media, yang berarti mereka dapat memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis sebelum menerimanya, membuat komentar yang berkualitas, dan mengetahui potensi penyebaran berita palsu atau ujaran kebencian. Masyarakat yang memiliki literasi media yang baik dapat memanfaatkan kemajuan media digital secara bijak dan bermanfaat sekaligus menghindari efek negatifnya. Menurut beberapa sumber, berikut adalah tantangan dalam membaca di era digital. Ibu Irma selaku Ibu rumah tangga mengatakan bahwa : “Membaca menghadapi banyak tantangan di era digital saat ini. Salah satu kendala utama adalah kurangnya literasi digital, yang berarti seseorang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang terbatas tentang teknologi digital. Selain itu, memilah informasi yang tersedia menjadi sulit untuk membedakan mana yang relevan dan valid. Selain itu, kita masih terbatas dalam menggunakan perangkat dan aplikasi digital. Selain itu, akses yang tidak merata terhadap teknologi digital, baik dari segi ketersediaan maupun biaya, merupakan masalah lain.Selain itu, masalah yang harus diperhatikan adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi yang pesat. Terakhir, hal yang tidak boleh diabaikan adalah ancaman terhadap keamanan data dan privasi pengguna di dunia digital. Oleh karena itu, tantangan-tantangan tersebut harus diatasi secara teratur dan berkelanjutan. (Wawancara, Ibu Irma, 2024, 10.30 WIB) Kemudian ungkapan di atas diperkuat lagi oleh saudari Dara, selaku siswi kelas X: “Di era digital, membaca memiliki tantangan unik yang perlu diatasi. Pertama, membaca terlalu lama di layar dapat menyebabkan masalah kesehatan mata seperti kelelahan, sakit kepala, dan gangguan penampilan. Kedua, membaca di layar cenderung membuat pembaca memindai dan mencari informasi dengan cepat daripada membaca secara mendalam dan menyerap semua isi. Ketiga, bergantung pada perangkat digital dapat menyebabkan penurunan kemampuan membaca tradisional, seperti memahami konteks dan membuat anotasi dalam buku fisik. keempat, karena banyak sumber informasi yang tersedia di era digital tidak semuanya kredibel, diperlukan kemampuan khusus untuk mengevaluasi kualitas dan kredibilitas sumber bacaan. Terakhir, membaca di layar dapat membuat pembaca melompat dari satu topik ke topik lain, yang dapat mengganggu mereka untuk berkonsentrasi dan memahami secara menyeluruh bacaan.” (Wawancara, Saudari Dara, 2024, 10.00 WIB). Penulis sangat setuju dengan ungkapan di atas, Di era digital, sulit untuk mengevaluasi kualitas dan kredibilitas sumber bacaan, dan melompat dari satu topik ke topik lain menyebabkan gangguan konsentrasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang konsisten untuk mengatasi masalah-masalah ini agar kita dapat memanfaatkan teknologi digital secara optimal sambil tetap mempertahankan kualitas dan pemahaman bacaan.
Conclusion
Karena mempengaruhi cara kita berpikir dan mendapatkan pengetahuan, membaca sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Faktor internal, seperti minat, motivasi, dan kemampuan membaca, dan faktor eksternal, seperti lingkungan, sekolah, dan budaya masyarakat, memengaruhi kebiasaan membaca seseorang. Jumlah dan frekuensi bacaan juga berkontribusi pada pembentukan budaya baca yang kuat. Teknologi memainkan peran penting dalam budaya baca di era digital. Ini tidak hanya memungkinkan akses informasi dan mengubah preferensi membaca, tetapi juga dapat mengganggu media sosial dan hiburan digital. Penggunaan aplikasi pembacaan digital juga membantu literasi digital dengan memberikan portabilitas dan akses ke banyak sumber bacaan. Namun, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara bijak, pendidikan dan budaya membaca sangat penting. Budaya baca masyarakat Sampang harus terus didorong dan diperluas. Keengganan untuk membaca, keterlibatan dengan perangkat elektronik, dan tingkat literasi digital yang rendah adalah masalahnya. Pemerintah, sekolah, dan orang tua harus berkomitmen untuk meningkatkan minat baca anak-anak dan sosialisasi literasi digital. Beberapa tantangan yang menghalangi membaca di era modern termasuk distraksi digital, gangguan teknologi, kurangnya pengetahuan tentang teknologi, keamanan dan privasi, dan kurangnya kesadaran tentang literasi media. Agar teknologi digital dapat digunakan dengan baik dalam budaya baca, diperlukan upaya terus menerus untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Secara keseluruhan, budaya baca di era digital menghadapi tantangan dan peluang. Budaya baca yang lebih kuat dapat dibentuk oleh minat baca yang meningkat, kemudahan akses ke sumber bacaan, frekuensi dan jumlah bacaan yang tinggi, dan penggunaan teknologi secara bijak.