MPLEMENTASI BIG DATA PADA MANAJEMEN PENGETAHUAN KOMODITAS PERTANIAN
Kementerian Pertanian
Abstrak
Peneliti sebagai komunitas pencipta dan pengguna pengetahuan ilmiah berperan penting dalampenelitian/pengkajian ilmiah. Peneliti BB Biogen memiliki kemampuan menulis KTI untuk mengekplorasi pemikiran, gagasan/ide agar dapat diketahui serta dimanfaatkan masyarakat luas dansebagai sarana komunikasi formal antara peneliti dengan lembaga induknya. Peneliti memilikiproduktivitas tinggi apabila peneliti banyak menghasilkan KTI yang diterbitkan di jurnal Semakin banyakdibaca dan dimanfaatkan sebagai referensi nasional dan internasional akan menghasilkan informasi/teori baru. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut khususnya mengukur produktivitas penulis di jurnaljurnal. Metode pengkajian mengunakan rancangan analisis dokumen pendekatan bibliometrik deskriptifdengan data kuantitatif publikasi yang telah diterbitkan tahun 2016-2020. Teknik pengumpulan datamengumpulkan publikasi peneliti. Pengkajian dilakukan di Bogor pada bulan Januari – Mei 2021. Berdasarkan hasil kajian didapat bahwa jumlah KTI peneliti BB Biogen kategori subjek tertinggi padasubjek tanaman pangan (269 naskah) yang diterbitkan nasional sebanyak 402 tulisan dengan tahun terbittahun 2016 (124 tulisan) melalui kolaborasi 4 penulis. KTI dengan jumlah judul terbanyak tahun 2016(129/25,75%) yang diterbitkan di jurnal dengan peneliti produktif Puji Lestari (71 judul) dari Kelompok Peneliti Biomolekuler. Sebaiknya peneliti BB Biogen lebih meningkatkan lagi dalam penebitanbereputasi internasional untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas KTI yang dihasilkan.
Abstract
Big data in the era of the industrial revolution can be an important source of information in various fields includingagriculture. Agricultural commodity data from upstream to downstream becomes important information that willbecome knowledge in increasing productivity. Knowledge management can be an option in managing variousagricultural commodity information. This study aims to describe the big data of agriculture which is the source ofknowledge management in agricultural commodities. Agricultural commodities that can be managed big data inaccordance with the Echelon I unit that oversees it can be in the form of food crops, horticultural crops, livestock andplantations. Bigdata management requires technology support and human resources management. Through knowledge management of agricultural commodities, various knowledge both tacit and explicit from within theinstitution itself will be well documented and beneficial to the institution. The implementation of knowledgemanagement for agricultural commodities will go through a process of creating, storing knowledge, sharing knowledgeand applying knowledge. The implementation of knowledge management must be supported by human resources(people), processes (processes) and technology (technology). Through the implementation of knowledge management inagricultural commodities will increase the role of libraries within the Indonesian Ministry of Agriculture insupporting agricultural development. If so far the role of the library has not been taken into account, throughknowledge management will become a reference in the development of agricultural commodities.
Keywords:
produktivitas
· karya tulis ilmiah
· peneliti
· BB Biogen
· bibliometrik
Introduction
Perkembangan teknologi saat ini telah membawa dunia memasuki era revolusi industri 4.0. Revolusi ini disebutjuga sebagai revolusi digital yang ditandaioleh pesatnya penggunaan komputer danotomatisasi pencatatan di semua bidang. Munculnya era revolusi industri saat initelah mengubah segala bidang kehidupanmenjadi tergantung pada teknologi,sehingga metode konvensional yang masih banyak tergantung pada manusiamulai ditinggalkan. Revolusi Industri 4.0 merujukpada gambaran situasi perubahan gayahidup dan perilaku individu maupunorganisasi. Kondisi ini disebabkan olehrevolusi teknologi sehingga berimplikasibesar terhadap masyarakat. Wujud darirevolusi industri 4.0 pada kehidupan,misalnya dalam perubahan cara penggunaan data, teknologi yang semakin terotomatisasi dan terdigitalisasi,dan berbagai hal yang seringkali kitakenal saat ini dengan istilah “Internet of Things” (IoT). Pemanfaatan teknologidigital yang lebih optimal dalam eraindustri 4.0 diantaranya Big Data,Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. (Dalimunte dkk, 2018). Big data yang muncul di era revolusi industri karena terotomatisasinyadata dari berbagai sumber melalui internet, dapat menjadi sumber informasipenting dalam berbagai bidang. Erl et al(2015) menyampaikan bahwa big datamerupakan suatu bidang yang mempelajari, menganalisis, memprosesdan menyimpan data – data besar yangberasal dari sumber yang terpisah. Big Data menyediakan setiap kebutuhan,seperti menggabungkan data – data yangbelum terintegrasi, memproses data besaryang belum terstruktur dan mengoleksiinformasi tersembunyi. Karakteristik utama dari Big Data menurut Marr (2015) yaitu : (1) Volume,dengan meningkatnya data yang tersedia;(2) Velocity, berkenaan dengan frekuensipembuatan atau pengiriman data; (3)Variety, big data berisikan data yangberbentuk data terstruktur, semistruktur, maupun tidak terstruktur. Variety juga dapat diartikan sebagaiatribut penting lainnya karena Big Datatersebut dihasilkan dari banyak jenissumber maupun format meliputi teks,web, tweet, suara, video, click-stream, filelog, dll. Oleh karena banyak jenis inidibutuhkan model analisis dan prediksiyang berbeda yang dapat membuat informasi tersebut dapat digunakan; (4)Veracity, menghasilkan otentikasi dandata yang relevan untuk dapat menyaringdata yang tidak baik; (5) Value, mengacupada kemampuan mengubah data menjadi nilai. Bidang pertanian pada era revolusiindustri dengan hadirnya internet saat initelah menghasilkan big data dari prosesnya dari hulu sampai hilir untukberbagai komoditas pertanian yang dapatdimanfaatkan bersama oleh berbagaistakeholder yang ada. Berbagai data yangtersedia tersebut akan menjadi informasipenting yang pada akhirnya akan menjadipengetahuan bagi penggunanya. Secara umum, pengetahuan merupakan perpaduan dari pengalaman,nilai, informasi kontektual, pandanganpakar dan intuisi mendasar yang memberikan suatu lingkungan dan kerangka untuk mengevaluasi dan menyatukan pengalaman baru dengan informasi. (Saide dan Rozanda, 2015). Berbeda dari data & informasi, pengetahuan berada pada tingkat tertinggi dalam hierarki dengan informasidi tingkat menengah, dan data berada ditingkat terendah (Nonaka dan Takeuchi,1995 dalam Saide dan Rozanda, 2015). Pengetahuan terbagi menjadi tacit dan eksplicit knowledge, pengetahuantacit adalah pengetahuan yang masihtersembunyi, masih dibatinkan olehorang, masih dalam bentuk ide, pemikiran, dan sifatnya masih personal. Sementara itu, pengetahuan ekplisitadalah pengetahuan yang sudah dalamformat dokumentasi, sudah direkam dalam berbagai bentuk alat perekam, bisaditransmisikan, bisa berbagi dan dihitungsecara tertentu jika sudah diwadahidalam bentuk tertentu. Buku, makalah,majalah, rekaman digital, rekaman audio,rekaman di memory card, flast disk, harddisk, dan lain-lain, adalah bentuk-bentukmedia untuk menyimpan pengetahuan yang berjenis eksplisit (Pawit, 2012). Secara umum manajemen pengetahuan (Knowledge Management/KM) dapat dipahami sebagai suatu langkah-langkah sistematis dalam mengelola asset intelektual/pengetahuan dan berbagai informasi dari individu/perorangan (personal) dan organisasiuntuk menciptakan keunggulan dalambersaing dan memaksimumkan nilai tambah serta inovasi (Praharsi,2016). Komoditas pertanian merupakan bagianpenting dalam pembangunan pertanian,sehingga pengetahuan mengenai berbagaikomoditas tersebut menjadi daya dukungdalam meningkatkan produktivitasnya. Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) sebagai pemegang kebijakan pembangunan pertanian sudah saatnya mengelola pengetahuan pertanian yang ada terkaitdengan komoditas dalam sistem manajemen pengetahuan. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan bigdata pertanian yang menjadi sumbermanajemen pengetahuan pada komoditas pertanian. METODE Penelitian dilakukan secara kualitatif. Somantri (2005) menjelaskan bahwa “gaya” penelitian kualitatif berusahamengkonstruksi realitas dan memahamimaknanya. Sehingga, penelitian kualitatifbiasanya sangat memperhatikan proses,peristiwa dan otentisitas. Pada penelitiankualitatif kehadiran nilai peneliti bersifateksplisit dalam situasi yang terbatas,melibatkan subjek dengan jumlah relatifsedikit. Peneliti kualitatif biasanya terlibatdalam interaksi dengan realitas yangditelitinya. Pengambilan data dilakukan melaluiobservasi terlibat dengan melibatkanseorang peneliti kualitatif langsung dalamsetting sosial. Peneliti mengamati, secaralebih kurang “terbuka”, di dalam anekaragam keanggotaan dari peranan-peranansubjek yang ditelitinya (Gubrium et.al.,1992: 1577 dalam Somantri,2005). Selainitu dilakukan juga wawancara dan studipustaka untuk melengkapi data penelitian. Analisa data dalam penelitian ini terdiridari pengumpulan data (data collection),reduksi data (data reduction), penyajiandata (data display) serta penarikankesimpulan/verifikasi (conclusion/verification)
Result & Discussion
Sumber Bigdata Komoditas Pertanian Pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh Kementan RI dapatmenjadi sumber data komoditas pertanian. Unit Eselon I di Kementerian Pertanian sampai dengan unit kerja yangdibawahnya merupakan penghasil datapertanian. Diantara Eselon I yang ada,yang terkait langsung dengan komoditaspertanian diantaranya Direktorat Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan,Dirjen Hortikultura, Dirjen Peternakandan Kesehatan Hewan, Dirjen Perkebunan, Badan Penelitian danPengembangan Pertanian, Badan Ketahanan Pangan dan Badan Karantina Pertanian. Sedangkan Eselon I lainbeserta unit kerja dibawahnya yaitu dapatmenyediakan data dukung terkait denganbigdata pertanian yaitu Sekretariat Jenderal, Inspektorat Jenderal, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Hal ini berartisalah satu sumber bigdata komoditaspertanian berada di dalam institusi Kementan itu sendiri. Big data yangtersedia tersebut harus dikoordinasikanpengelolaannya sehingga memudahkanpeman-faatannya. Perpustakaan pada masing-masing unit kerja Kementan RI dapat mengambil peran penting sebagai pengelola data pada masing-masing unitkerjanya, sebelum data tersebut dipusatkan menjadi satu bigdata komoditas pertanian. Peran pustakawanmenjadi penting dalam hal ini sebagaipenggerak pengumpulan data terkaitkomoditas di masing-masing unit kerja. Kerjasama antar perpustakaan lingkup Kementan RI menjadi bagian pentingdalam rangka menghimpun big datakomoditas pertanian tersebut. Sumber bigdata komoditas pertanianyang berasal dari dalam negeri dapatberasal dari kementerian ataupunlembaga lain baik pemerintah dan swastamisalnya Kementerian Perindustrian,Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,SEAMEO Biotrop dan lain-lain. Olehkarena itu penting di jalin kerjasama agardapat bersama-sama menghimpun datauntuk dapat digunakan membentuk pengetahuan bersama. Sedangkan sumber bigdata dari luar negeri dapatdiperoleh melalui jurnal-jurnal pertanianinternasional yang telah dilanggan baikoleh Kementan RI maupun lembaga lain. Kegiatan melanggan jurnal ini sebaiknyadiikuti dengan mengunduh jurnal-jurnalyang telah dilanggan tersebut sebagaisumber big data komoditas pertanian. Bigdata komoditas pertanian yangdapat dikelola merupakan berbagai datadari kegiatan hulu sampai hilir padasetiap komoditas. Kegiatan yang dimaksud tersebut dapat dimulai daribudidaya, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen, sampaipada kegiatan pemasarannya. Komoditaspertanian yang dapat dikelola bigdatanyasesuai dengan unit Eselon I yangmembawahinya dapat berupa tanamanpangan (padi,jagung, kedelai, dansebagainya), tanaman hortikultura (anekabuah, sayur dan tanaman hias), peternakan (misalnya sapi,ayam,kambingdan sebagainya) dan perkebunan (kelapasawit,karet, tebu tanaman rempah dansebagainya). Apabila perpustakaan mampu mengelola berbagai sumber bigadatakomoditas pertanian tersebut, maka akansangat membantu berbagai stakeholderterkait dalam pengambilan keputusanterkait berbagai kebijakan tentangkomoditas, membantu menyediakan informasi dalam pembangunan peertanian. Pengelolaan Bigdata Komoditas Pertanian Deskripsi dasar dari data menunjuk pada benda, event, aktivitas,dan transaksi yang terdokumentasi,terklasifikasi, dan tersimpan tetapi tidakterorganisasi untuk dapat memberikansuatu arti yang spesifik. Data yang telahterorganisir sehingga dapat memberikanarti dan nilai kepada penerima, disebutinformasi. (Rainer, Kelly, & Cegielski.,2009 dalam Sirait, 2016). Lebih lanjut hubungan antara data,informasi dan pengetahuan menurut Bergeron (2003 dalam Yuniar, 2013)yaitu data adalah angka atau atribut yangbersifat kuantitas yang berasal dari hasilobservasi atau eksperimen dan informasiadalah kumpulan data yang telah diolahyang terkait dengan penjelasan daninterpretasi. Sedangkan pengetahuanadalah informasi yang telah diorganisasiuntuk meningkatkan pengertian danpemahaman. Selanjutnya pengetahuanterbagi menjadi pengetahuan tacit yaituyang masih berada dalam diri seseorangbaik berupa tindakan, pengalaman danidealisme, sedangkan pengetahuan explicitmerupakan pengetahuan yang telahterdokumentasikan. Kegiatan perpustakaan di Kementan RI selama ini lebih tepat dikatakan sebagaipengumpulan pengetahuan explicit dalambentuk cetak maupun elektronik yangtelah disimpan menjadi koleksi perpustakaan maupun pada repositoryinstitusi. Sedangkan pengetahuan tacityang dimiliki oleh SDM (Sumber DayaManusia) belum ada sistem pengelolaannya. Oleh karena itu pentingdilakukan pengelolaan pengetahuan tacitagar dapat dimanfaatkan oleh organisasiuntuk meningatkan daya saing. Dalam rangka mendukung pengembangan sistem manajemen pengetahuan komoditas pertanian, makabigdata sebagai sumber awal daripengetahuan itu sendiri harus dikeloladengan baik sehingga akan bermanfaatlebih luas bagi pengetahuan. Aryasa(2015) dalam Sirait (2016) menyampaikan bahwa mengimple-mentasikanteknologi Big Data di suatu organisasi,ada 4 elemen penting yang menjaditantangan, yaitu data, teknologi, proses,dan SDM. Ketersediaan data menjadi kunciawal bagi teknologi Big Data. Adabeberapa organisasi yang memilikibanyak data dari proses bisnisnya yangdilakukan, baik data terstruktur maupuntidak terstruktur. Teknologi terkaitdengan infrastruktur dan tools dalampengoperasian Big Data, seperti teknikkomputasi dan analitik, serta mediapenyimpanan (storage). Dalam prosesmengadopsi teknologi Big Data dibutuhkan perubahan budaya organisasi. Misalnya, setelah adanya teknologi Big Data, pimpinan mampu bertindak “datadriven decision making” artinyamengambil keputusan berdasarkan datayang akurat dan informasi yang relevan. Dalam mengaplikasikan teknologi Big Data dibutuhkan SDM dengan keahliananalitik dan kreativitas yaitu kemampuan/keterampilan untuk menen-tukan metodebaru yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan, menginterpretasi danmenganalisis data, keahlian pemrogramankomputer, dan ketrampilan bisnis yaitupemahaman tentang tujuan bisnis. Berdasarkan hal tersebut, dapat disampaikan bahwa dalam pengelolaanbigdata membutuhkan dukungan teknologi agar bigdata yang tersediadapat menjadi informasi penting selanjutnya menjadi dasar terbentuknyapengetahuan. Selain itu SDM pengelolanya harus memiliki kompetensidalam analisa big data. Oleh karena itujika perpustakaan akan mengelolabigdata harus membekali pustakawandengan kompetensi ang dibutuhkan ataubekerjasama dengan bagian TI (teknologiinformasi) di organisasinya. Manajemen Pengetahuan Pada Komoditas Pertanian Pengetahuan merupakan perpaduan dari pengalaman, nilai, informasikontekstual, pandangan pakar dan intuisimendasar yang memberikan suatu lingkungan dan kerangka untuk mengevaluasi dan menyatukan pengalaman baru dengan informasi (Saide dan Rozanda, 2015). Secara sederhana dapatdisampaikan bahwa pengetahuan merupakan akumulasi pengetahuan yangtelah ada dalam diri seseorang denganinformasi baru yang diterima. Berkaitandengan pengetahuan komoditas pertanianyang dimiliki berbagai stakeholder bidangpertanian harus dikelola dengan baikdalam manajemen pengetahuan. Manajemen pengetahuan memiliki tiga pilihan peran yang bisa dilakukan,yaitu (1) manajemen pengetahuan mempunyai peran mengelola pengetahuan,mengosentrasikan diri dalam kodifikasipengetahuan dan menempatkannya dalamreposisi pengetahuan yang dapat diaksesoleh karyawan sesuai dengan otoritasnya;(2) manajemen pengetahuan diarahkanuntuk mempertemukan antara orangyang memiliki pengetahuan denganorang yang membutuhkan pengetahuandengan identifikasi sesuai dengankebutuhannya masing-masing; (3) manajemen pengetahuan mengkombinasikan antara pilihan pertama danpilihan kedua, menumbuhkan sumberdaya yang lebih besar, karena jika sumberdaya tidak cukup maka pengelolaanpengetahuan bisa menjadi stagnan dantidak fokus (Nawawi 2012 dalam Mufidah, 2016). Kaitannya dengankomoditas pertanian, manajemen pengetahuan juga dapat diarahkan untukdapat menempati ketiga peran tersebut,yaitu pengelolaan pengetahuan komoditas pertanian agar dapat diakses olehberbagai stakeholeder pertanian yangmembutuhkan, mempertemukan orangorang yang memiliki pengetahuandengan yang membutuhkan pengetahuansehingga akan dihasilkan pengetahuantacit dan explicit, kemudian manajemenpengetahuan akan mampu menghasilkansumber daya manusia yang memilikipengetahuan lebih untuk dimanfaatkandalam pembnagunan pertanian. Manajemen pengetahuan untuk komoditas pertanian harus menjadiperhatian penting bagi perpustakaan lingkup Kementan RI agar mampumendukung tercapainya visi misi lembaga, dimana salah satu misinya yaitumeningkatkan nilai tambah dan dayasaing komoditas pertanian. Melaluimanajemen pengetahuan komoditas pertanian, berbagai pengetahuan baiktacit maupun explicit dari dalam lembagasendiri yang merupakan pengetahuanpara pegawainya akan terdokumentasikan dengan baik, sehingga tidak akankehilangan pengetahuan ketika adapegawai yang pensiun dengan berbagaipengetahuan yang dimilikinya. Selain itupengetahuan dari lembaga dapat dikembangkan melalui berbagai pengetahuan dari luar lembaga melaluikerjasama untuk mendapatkan pengetahuan tacit dan explicit maupunpengadaan pengetahuan dalam bentukexplicit. Proses Manajemen Pengetahuan Komoditas Pertanian Pustakawan Kementan RI sebagai pengelola (manajer) pengetahuan harusmemahami tahapan dalam melakukanmanajemen pengetahuan. Berkaitandengan pengetahuan komoditas pertanian, harus memahami berbagaiaspek terkait dengan proses dalammanajemen tersebut. Mufidah (2016)menyampaikan bahwa manajemen pengetahuan dapat diartikan sebagaisebuah upaya menumbuhkembangkan pengetahuan melalui proses pengelolaanpengetahuan yang mencakup penciptaan,pengumpulan, penyimpanan, menyebarkan, dan menggunakan pengetahuanmelalui koordinasi dan sinergi berbagaikomponen-komponen organisasi untukmenghasilkan inovasi dan diubah kedalam bentuk yang lebih mudah digunakan. Hal ini berarti agar dapatdilakukan manajemen pengetahuan untuk komoditas pertanian harus diperhatikan tahapan dalam prosesnyamulai dari penciptaan,pengumpulan,penyimpanan, penyebaran dan penggunaan pengetahuan. Penciptaan dan pengumpulan pengetahuan biasa disebut juga sebagaiakuisisi pengetahuan, yaitu upayamengumpulkan pengetahuan baik dariinternal maupun eksternal lembaga. Kegiatan akuisisi pengetahuan inidilakukan terhadap pengetahuan tacitdan eksplisit. Perpustakaan dapatmelakukan akuisisi pengetahuan tacitdengan menyediakan tempat yang nyaman untuk melakukan diskusi, melakukan knowledge sharing bagi parastakeholder pertanian, dan mendokumentasikan kegiatan tersebut sehingga dapatmenjadi pengetahuan eksplisit yang akanmenambah pengetahuan tacit bagi oranglain. Akuisisi pengetahuan eksplisit dapatdilakukan melalui peran aktif pustakawanuntuk mengumpulkan berbagai karyadalam bentuk terbitan oleh para stakeholder pertanian. Selain itupustakawan sudah terbiasa melakukanakuisisi pengetahuan eksplisit melaluipembelian, hadiah dan tukar menukarpublikasi dengan lembaga lain. Pustakawan berperan dalam penyediaanbigdata komoditas pertanian sehinggaakan mendorong terbentuknya pengetahuan tacit dan eksplisit yang baru. Melalui penyediaan bigdata komoditaspertanian tersebut diharapkan dapatmembantu para stakeholder menambahpengetahuan tacit yang pada akhirnyadapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pengetahuan eksplisit. Penyimpanan pengetahuan yang telah diakuisisi dapat dilakukanmelalui database organisasi. Kegiatanperpustakaan yang berkaitan denganpenyimpanan pengetahuan ini dimulaipada kegiatan registrasi, pengolahanberbagai bahan perpustakaan (pengetahuaneksplisit) pada database lembaga, sehinggamudah untuk dapat digunakan kembali jikadibutuhkan. Melalui pemanfaatan teknologiinformasi proses penyimpanan pengetahuan dalam bentuk database sangatmembantu dalam pengelolaan dan pemanfaatan pengetahuan tersebut. Selainpenyimpanan pengetahuan dalam bentukdatabase, harus dilakukan penyimpanan secara fisik untuk mengantisipasi apabilaterjadi hambatan dalam melakukan aksesterhadap database yang tersedia. Kegiatan penyebaran pengetahuan merupakan upaya memberikan informasisecara luas terhadap pengetahuan yangtelah disimpan baik terhadap internalmaupun eksternal. Berkaitan denganpenyebaran pengetahuan, Prihadyanti dkk,2018 menyampaikan konsep knowledgetransfer yang pada dasarnya merupakankegiatan penyebaran pengetahuan itusendiri. Knowledge Transfer (KT)merupakan proses yang melibatkan pihakyang menjadi sumber pengetahuan danpenerima pengetahuan dengan tujuanmenambah stock of knowledge yangdimiliki, baik yang terjadi searah maupundua arah. Perpustakaan lingkup Kementan RI dapat berperan dalammemfasilitasi knowledge transfer diperpustakaan, sehingga akan menjadikankegiatan perpustakaan lebih bervariasidan perpustakaan tidak lagi di pandangsebagai tempat membaca buku tetapidapat lebih dari itu dapat mendorongberkembangnya pengetahuan. Penggunaan pengetahuan merupakan upaya untuk mengintegrasikan,menggabungkan dan menginternalisasikanpengetahuan yang sudah ada pada diriseseorang dengan pengetahuan baru yangdi dapatkan dari luar. Pengetahuanmerupakan sumber inovasi sehinggaimplementasi manajemen pengetahuanmembantu organisasi untuk menciptakaninovasi baru. Bigdata komoditas pertanian akan menghasilkan berbagaipengetahuan baru yang akan mendukungterciptanya berbagai inovasi baru dalampengembangan komoditas pertanian. Berkaitan dengan proses manajemenpengetahuan tersebut Ranjbarfard (2014)dalam Ceptureanu et.al (2018) menjelaskansetiap tahapan proses kegiatan-kegiatanyang dapat dilakukan pada setiap prosestersebut. Penciptaan pengetahuan berupakegiatan menghasilkan atau menemukanpengetahuan baru dengan berbagai caradiantaranya penelitian dan pengembangan,inovasi atau pembelajaran. Penyimpananpengetahuan melibatkan penyimpananselektif dari pengetahuan yang ada,diperoleh, dan dibuat dalam berbagairepositori pengetahuan yang sesuai. Berbagipengetahuan melibatkan distribusipengetahuan yang ada dalam organisasi,baik di tingkat organisasi dan individu. Aplikasi pengetahuan melibatkan pengambilan dan penggunaan pengetahuanuntuk mendukung keputusan, memulaitindakan, memecahkan masalah, secarakeseluruhan untuk menggunakan pengetahuan secara produktif. Implementasi Sistem Manajemen Pengetahuan Komoditas Pertanian Implementasi manajemen pengetahuan melibatkan beberapa komponenpenting. Bhatt (2009) dalam Mufidah(2016) menyebutkan bahwa dalam manajemen pengetahuan terdapat tigakomponen penting, yaitu (1) manusia(people) sebagai faktor utama dalampenerapan manajemen pengetahuan, (2)proses (process) berhubungan dengan alurkerja dan struktur dalam organisasi sertatransformasi pengetahuan, dan (3)teknologi yang berperan serta sebagaienabler dalam manajemen pengetahuandengan berfungsi sebagai alat yangmembantu terjadinya akuisisi, penyimpanan, diseminasi, dan penggunaanpengetahuan. Implementasi sistem manajamen pengetahuan untuk komoditas pertanianharus didukung sumber daya manusia(SDM) salah satunya pustakawan yangmemiliki kompetensi unggul untukmengelola berbagai pengetahuan komoditas pertanian. Selain itu harus adaSDM pendukung untuk mewujudkan manajemen pengetahuan tersebut misalnya ahli teknologi informasi dantentunya harus didukung dengan kebijakan pimpinan. Kedua, dalam implementasi manajemen pengetahuan harus memperhatikan proses yang sebelumnya telah dijelaskan yaitu penciptaan, penyimpanan, berbagi pengetahuan dan aplikasipengetahuan. Apabila proses tersebuttidak dijalankan dengan baik maka tidakakan terbentuk manajemen yang baik. Ketiga, teknologi dapat menjadi pendukung dalam implementasi manajemen pengetahuan komoditas pertanian. Melalui teknologi yang ada, prosesmanajemen pengetahuan dapat dilakukandengan lebih baik dan semua data dapattersimpan secara rapi. Terkait dengan kesiapan organisasidalam implementasi manajemen pengetahuan Rao (2005) dalam Hernikawati dan Andriariza (2014) mengklasifikasikan levelkesiapan dari KM menjadi lima (5) yaitu:tidak siap (not ready), awal (preliminary/menjelajahi KM), siap (ready/diterima),receptive (advokasi dan pengukuran), danoptimal (institutionalized Knowledge Management). Not ready yaitu apabilaorganisasi belum memahami KM dan visimisi nya serta tidak menggambarkanpermasalahan KM. Preliminary (exploringknowledge management) yaitu organisasiyang sudah mengenal pentingnya kegiatan KM. Proses yang terjadi di organisasisudah memperlihatkan kegiatan KM. Sudah ada individu yang menggerakkan Knowledge Management System. Ready(accepted) yaitu organisasi yangkondisinya sudah stabil dan individupada organisasi sudah melaksanakanaktifitas untuk mendukung KM. Kegiatan KM sudah dilakukan setiapwaktu oleh individu di setiap kegiatanpekerjaan. Sudah ada sistem pendokumentasian pengetahuan. Receptive (advocatingand measuring) yaitu sudah ada prosesefisiensi dari KM. Kegiatan pada levelsebelumnya dilanjutkan dan sudah mampumenghasilkan standard pedoman danaturan. Optimal (institutionalized knowledge management) yaitu organisasimampu beradaptasi dan memenuhi persyaratan ditentukan untuk mencapaiKM Readiness. Untuk mengetahui kesiapan penerapan manajemen pengetahuan komoditas pertanian di lingkup Kementan RI harus dilakukan kajianlebih lanjut, sehingga dapat menjadiinformasi penting dalam pengambilankebijakan berikutnya. Implementasi manajemen pengetahuan komoditas pertanian menjadimenjadi bagian penting dalam organisasilingkup Kementan RI. Hal ini karenamelalui manajemen pengetahuan maka(1) pengetahuan dapat disimpan denganbaik dan mudah ditelusur jika dibutuhkan baik itu yang berupa tacitmaupun ekplisit, (2) pengetahuanmenjadi mudah diakses dengan bantuanteknologi maka stakeholder pertaniandapat dengan mudah mendapatkan aksespengetahuan, misalnya melalui internet,(3) peningkatan pengetahuan didukungorganisasi, maksudnya yaitu denganadanya manajemen pengetahuan makapengembangan pengetahuan dapat didukung oleh organisasi, (4) pengelolaan pengetahuan menjadi aset,ini merupakan hal penting karenapengetahuan yang tidak diperlakukansebagai aset akan mudah hilang karenatidak dipedulikan oleh organisasinya. Dengan demikian dapat disampaikanbahwa dengan implementasi manajemenpengetahuan komoditas pertanian
Conclusion
Revolusi indsutri 4.0 yang telahmenghasilkan bigdata berdampak jugapada bidang pertanian. Pembangunanbidang pertanian salah satunya bertumpupada komoditas pertanian. Pengembanganpengetahuan komoditas pertanian dapatdidukung melalui pengelolaan bigdatasecara baik. Manajemen pengetahuankomoditas pertanian yang didukung olehbigdata dapat menjadi alternatif dalammengembangkan pengetahuan yang ada. Manajemen pengetahuan komoditas pertanian dapat dilakukan denganmenjalankan proses manajemen pengetahuan yang terdiri dari penciptaan,penyimpanan, berbagi pengetahuan danaplikasi pengetahuan. Implementasimanajemen pengetahuan harus didukungoleh sumber daya manusia (people), proses(process) dan teknologi (technologi). Implementasi manajemen pengetahuan komoditas pertanian akan meningkatkanperan serta perpustakaan lingkupKementan RI dalam mendukung pembangunan pertanian. Jika selama iniperpustakaan perannya belum diperhitungkan, melalui manajemen pengetahuan akanmenjadi rujukan dalam pengembangankomoditas pertanian.