Literasi informasi generasi x, y, dan z dalam penyusunan karya tulis ilmiah Universitas Diponegoro
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Universitas Diponegoro (UNDIP) memiliki visi yang berbunyi “Universitas Diponegoro menjadi universitas riset yang unggul.” Hal ini dapat diartikan bahwa setiap civitas academica di UNDIP dituntut mampu meningkatkan penelitian melalui karya tulis ilmiah. Karya Tulis ilmiah adalah karya yang harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral ataupun intelektual. Untuk itu, perlu adanya kegiatan pengamatan, perencanaan pencarian, pencarian langsung, menemukan informasi, penggunaan informasi, dan evaluasi informasi melalui literasi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui literasi informasi generasi x, y, dan z dalam penyusunan karya tulis ilmiah di UNDIP. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa literasi informasi memiliki peran yang penting bagi generasi x, y, dan z dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Kegiatan literasi informasi merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban seseorang ketika berhadapan dengan informasi untuk kebutuhan penulisan karya tulis ilmiah. Ketiga generasi ini telah melakukan kegiatan literasi informasi selama penyusunan karya tulis ilmiah. Hal ini terlihat dari kegiatan yang dilakukan melalui identifikasi kebutuhan informasi ilmiah, penelusuran informasi ilmiah, pemanfaatan informasi ilmiah, dan komunikasi informasi ilmiah. Di era perkembangan teknologi sekarang ini, generasi x, y, dan z memiliki ciri khas dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Untuk itu, literasi informasi digunakan sebagai standar dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Setiap generasi memiliki keahlian literasi informasi agar dapat mempertanggungjawabkan karya tulis ilmiah yang telah ditulis.
Abstract
Diponegoro University (UNDIP)’s vision is “Diponegoro University Becoming a Superior Research University," which implies that every academician at UNDIP requires improving research through scientific papers. Scientific writing is a work that the author must account for morally or intellectually. Consequently, it needs to conduct observation, planning, directed search, finding information, using information, and evaluating information through information literacy. This study aimed to determine the information literacy generation x, y, and z in the preparation of scientific papers at UNDIP. The research used a qualitative method with a phenomenological approach. The data collection technique used deep interview and observation. The analysis showed that information literacy had an essential role for generation x, y, and z in the preparation of scientific papers. Information literacy activities are a form of one's accountability when dealing with information for the needs of scientific writing. The three generations conducted information literacy activities during the scientific paper preparation. This can be seen from the activities carried out, namely the identification of scientific information needs, scientific information retrieval, scientific information utilization, and scientific information communication. In the current era of technological development, generation x, y, and z, which have unique characteristics in the preparation of scientific papers. Hence, information literacy is used as a standard. Each generation have skill information literacy so must account scientific writing have been written.
Keywords:
Literasi informasi
· Karya tulis ilmiah
· Generasi x
· y
· dan z
· Universitas Diponegoro
Introduction
Universitas Diponegoro (UNDIP) adalah salah satu universitas negeri yang ada di Indonesia. Universitas negeri yang terletak di kota Semarang ini memiliki visi yang berbunyi “Universitas Diponegoro menjadi universitas riset yang unggul.” Untuk itu setiap civitas academica yang berada di UNDIP harus menjalankan dan memaksimalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat. Salah satu tri dharma perguruan tinggi adalah penelitian. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap civitas academica di UNDIP mampu meningkatkan penelitian melalui karya tulis ilmiah. Karya ilmiah merupakan sebuah karya tulis yang ditulis dengan cara ilmiah dan metode ilmiah yang baik dan dituangkan dalam sebuah media ilmiah. Kurnadi (2017) menyatakan bahwa, “Karya ilmiah adalah hal yang tidak asing bagi mahasiswa. Sejak baru menyandang status mahasiswa saja, mereka sudah dihadapkan dengan berbagai tugas seperti observasi, menganalisis, mengkritisi, dan lainnya yang pada akhirnya adalah pembuatan karya ilmiah sebagai laporan.” Karya tulis ilmiah contohnya skripsi, tesis, disertasi, makalah, artikel, dan jurnal. Informasi ilmiah pada dasarnya adalah jenis informasi yang sulit untuk diperoleh, sebab untuk mendapatkannya diperlukan suatu proses tertentu. Hal tersebut dikarenakan, penulis harus mempertanggungjawabkan karya tulis ilmiah secara moral dan intelektual. Seseorang, ketika menulis karya tulis ilmiah pasti memiliki kebutuhan informasi. Namun, seiring berjalannya waktu, informasi yang dibutuhkan mudah ditemukan tanpa ada batasan waktu, tempat, biaya, atau batasan lainnya yang dapat menghambat upaya pencarian informasi. Perkembangan teknologi informasi di era millennial membuat masyarakat bisa mengakses informasi secara mudah dan cepat tanpa batasan waktu (Pratiwi, 2019). Kebutuhan informasi juga dialami oleh lintas generasi. Lintas generasi adalah sekelompok orang yang memiliki perbedaan karakteristik, dan perbedaan tahun kelahiran antara satu kelompok dengan kelompok lain. Perbedaan tahun kelahiran merupakan salah satu penyebab antar generasi memiliki perilaku informasi yang berbeda, sebab setiap generasi hidup pada era perkembangan jaman yang berbeda, termasuk perkembangan teknologi informasi. Penggolongan tiga generasi adalah generasi x, generasi y, generasi z, yang disebabkan perkembangan teknologi dan internet. Hal ini sesuai pernyataan Djamasbi, Siegel, Skorinko, and Tullis (2011) yang mengatakan perbedaan generasi terlihat dari periode waktu, sifat dan ruang lingkup tentang teknologi dan globalisasi yang secara signifikan berbeda. Laju perubahan dan kemajuan dalam globalisasi terlihat nyata pada tiap generasi. Generasi yang masih produktif dalam bidang akademik di Indonesia yaitu generasi x yang didominasi oleh dosen, generasi y didominasi oleh magister (S2), sedangkan generasi z didominasi oleh mahasiswa diploma dan mahasiswa sarjana. Kalangan akademisi menjadikan teknologi informasi seperti gadget dan internet sebagai sarana efektif untuk memenuhi kebutuhan informasi ilmiah. Selain itu, perkembangan internet dan teknologi juga memiliki dampak besar. Adanya internet dan teknologi informasi menyebabkan persebaran informasi menjadi luas, bebas dan banyak, sehingga akan terjadi ledakan informasi (information overload). Ledakan informasi membuat bingung. Hal ini disebabkan banyaknya informasi yang datang tanpa mengetahui mana informasi yang efektif untuk digunakan. Literasi informasi memiliki peran penting untuk menuntun individu kepada informasi yang akurat. Namun, kenyataannya kesalahan dalam kegiatan literasi informasi baik pemahaman dan praktik masih banyak dilakukan. Kehadiran internet dengan berbagai sumber elektronik dan digital membuat orang semakin menyadari pentingnya information skills, untuk dapat membantu menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhan serta memberdayakan informasi yang didapatkan (Pattah, 2014). Literasi informasi idealnya menjadi keterampilan yang dikuasai masing-masing individu. Literasi informasi menjadi modal diri yang perlu dimiliki karena keterampilan ini membantu manusia untuk mencapai hidup yang lebih berkualitas dan lebih produktif. Seseorang memiliki pengalaman literasi informasi yang berbeda-beda sesuai karakteristik individu. Pengalaman tersebut mengakibatkan seseorang mempraktikkan berdasarkan informasi yang mereka peroleh, dan menggunakan literatur yang ada dalam penyelesaian permasalahan penelitian. Penelitian ini berfokus pada perilaku informasi dengan mengeksplorasi cara individu dalam mencari informasi selama penyusunan karya tulis ilmiah. Pengalaman tersebut menjadikan seseorang bertindak saat penyusunan karya tulis ilmiah sesuai informasi yang diperoleh, dan penggunaan literatur yang ada sebagai penyelesaian permasalahan penelitian. Pengalaman generasi x, y, dan z terutama kalangan akademisi yang mereka peroleh pada saat mengerjakan karya tulis ilmiah akan menciptaka pengetahuan individu seseorang. Pengalaman merupakan realitas dalam kesadaran (ide) yang terbentuk melalui akumulasi dari interaksi sosial dalam realitas sosial (Prasetyawan, 2019; Maybee, 2014). Pengalaman informasi dalam praktik informasi bersinggungan dengan tindakan yang dilakukan. Tindakan tersebut termasuk mengumpulkan informasi melalui kegiatan seperti pengamatan, perencanaan pencarian, pencarian langsung, penemuan informasi, penggunaan informasi, dan evaluasi informasi. Kegiatan tersebut adalah literasi informasi. Literasi informasi adalah kemelekan informasi yang dihubungkan dengan kemampuan dalam penggunaan perpustakaan dan penggunaan teknologi (Pattah, 2014). Mereka membentuk sikap literate dari kebiasaan sehari-hari, yaitu kebijaksanaan dalam pemanfaatan informasi dan kritis dalam pengambilan keputusan (Suwanto, 2015). Literasi informasi dalam perspektif perilaku mengarah pada pengukuran literasi informasi. Adapun literasi informasi sesuai pendekatan relasional mengamati pengalaman literasi informasi. Adapun Penelitian ini menganut model perspektif relasional literasi informasi, yang menekankan pada pengalaman literasi informasi individu. Menurut Yates and Partridge (2014), literasi informasi dari perspektif relasional menjelaskan bahwa orang yang melek informasi adalah orang yang mengalami literasi informasi dalam berbagai cara, dan mampu menentukan sifat pengalaman yang perlu diambil ke dalam situasi baru. Literasi informasi dalam perspektif relasional berfokus pada pengalaman orang bukan pada kemampuan yang dimiliki individu. Seseorang yang berinteraksi dengan informasi akan mendapatkan pengalaman informasi (Bruce, Somerville, Stoodley, & Partridge, 2012). Literasi informasi perspektif relasional berfokus pada pengalaman seseorang bukan pada kemampuan yang dimiliki individu. Pada penelitian kali ini peneliti menganalisis pengalaman literasi informasi individu dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Literasi informasi ini disebut literasi informasi yang menggunakan konsep belajar informasi, yang bertujuan menganalisis karakter individu saat menggunakan literasi informasi untuk belajar. Literasi informasi sebagai pengalaman seseorang yang berbeda dalam menggunakan informasi untuk belajar (Yates & Partridge, 2014). Pada penelitian kali ini peneliti akan menganalisis pengalaman literasi informasi individu dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Penelitian ini mengkaji literasi informasi melalui perspektif relasional dengan mengeksplorasi pengalaman informasi generasi x, y, dan z dalam penyusunan karya tulis ilmiah di perguruan tinggi. Pendekatan ini bisa dilakukan untuk riset. Responden menceritakan pengalaman yang mereka alami melalui bahasa sendiri pada saat proses pembelajaran. Peneliti berfokus pada pengumpulan pengalaman informasi pada saat penyusunan karya tulis ilmiah di perguruan tinggi. Pengalaman informasi secara efektif akan menghubungkan literasi informasi dan pengetahuan individu. Subjek penelitian yang akan diteliti yaitu generasi x, y, dan z pada saat penyusunan karya tulis ilmiah di Universitas Diponegoro (UNDIP). Perbedaan pengalaman informasi generasi x, y dan z saat mengerjakan karya tulis ilmiah dapat berdampak pada kegiatan literasi informasi. Subjek dalam penelitian ini adalah generasi x (43 – 58 tahun) yang didominasi profesi dosen, generasi y (25 – 44 tahun) didominasi mahasiswa magister (S2), dan generasi z (9 – 24 tahun) didominasi oleh mahasiswa sarjana (S1) dan mahasiswa diploma (D3). Karya tulis ilmiah dalam penelitian ini adalah karya tulis ilmiah berupa artikel, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Adapun perguruan tinggi yang terpilih sebagai tempat penelitian adalah Universitas Diponegoro (UNDIP). Hal tersebut disebabkan penelitian dengan tema literasi informasi dengan subjek tiga generasi belum pernah diteliti. Hal ini merupakan keterbaruan untuk penelitian bertema literasi informasi.
Method
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi melalui wawancara semi terstruktur. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengamati fenomena secara rinci dari sudut pandang dirinya sendiri (Rahayu, 2012). Sesuai penelitian pendidikan, penelitian ini menggunakan thematic analysis untuk menganalisis data. Fenomenologi digunakan untuk mendapatkan makna tentang pengalaman individu manusia dan investigasi fenomena sosial. Permasalahan yang ingin dipecahkan dapat ditemukan ketika menggunakan strategi fenomenologi. Pengalaman seorang individu menjadi fokus dan prioritas peneliti. Pengalaman bukanlah bersumber dari pendapat atau penjelasan, tetapi berdasar dari apa yang dialami individu. Pendekatan fenomenologi termasuk ke dalam metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan yang dideskripsikan melalui kata-kata. Metode kualitatif untuk meyelidiki pengalaman dan perilaku manusia yang dialami dalam satu fenomena. Menurut Gumilang (2016), “Fenomenologi adalah memahami esensi (hakikat) tentang pengalaman dunia terdalam individu (inner world) tentang suatu fenomena berdasarkan perspektif individu itu sendiri.” Pendekatan ini pun digunakan untuk mengkaji studi awal pengalaman informasi (information literacy dan informed learning) (Prasetyawan, 2019). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman literasi informasi pada generasi x, y, dan z mengenai penulisan karya tulis ilmiah, dan melihat interaksi individu saat menggunakan informasi dalam fenomena yang sama. Berdasarkan hal ini, maka metode penelitian fenomenologi sesuai untuk meneliti penelitian ini. Adapun dalam metode pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara semi terstruktur pada sebelas informan civitas akademika UNDIP, terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa program pasca sarjana, dan mahasiswa program sarjana. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Peneliti mengambil teknik sampling yaitu purposive sampling, adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu diambil dari beberapa hal, misalnya informan tersebut dianggap paling mengetahui tentang apa yang peneliti harapkan, atau mungkin informan sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti. Sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya yang memenuhi beberapa kriteria. Pertama, informan menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi sehingga pengetahuan tersebut tidak hanya sekedar diketahui namun dihayati. Kedua, informan yang tergolong masih berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti. Ketiga, peneliti dapat memintai informasi pada informan yang mempunyai waktu yang memadai. Keempat, informan tidak cenderung menyampaikan informasinya sendiri. Kelima, informan pada mulanya tergolong asing dengan peneliti sehingga peneliti dapat terdorong untuk dijadikan semacam guru atau narasumber. Adapun data informan penelitian dapat dilihat pada tabel 1. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis menurut Braun and Clarke (2006). Adapun tahapan thematic analysis terdiri dari pemahaman data, penyusunan kode, dan penentuan tema. Pertama, pemahaman data. Peneliti mendeskripsikan fenomena yang dialami subjek. Fenomena dalam penelitian ini ialah saat penyusunan karya tulis ilmiah. Seluruh rekaman hasil wawancara mendalam dengan subjek penelitian ditranskripkan ke dalam bahasa tulisan. Peneliti mengumpulkan rekaman dan data wawancara, lalu dituliskan ke dalam bentuk percakapan. Peneliti pun membandingkan hasil wawancara dengan praktik yang dilakukan oleh informan. Peneliti kemudian menginventarisasi hasil transkrip dari pernyataan subjek sesuai topik. Pada tahap ini, peneliti harus bersikap netral dalam merinci poin penting dari hasil wawancara. Peneliti mendengarkan kembali hasil rekaman dan membaca hasil transkrip wawancara, kemudian mengambil kata kunci dari setiap jawaban yang diberikan informan. Peneliti bersikap netral terhadap data yang telah terkumpul. Kedua, penyusunan kode. Peneliti dalam hal ini menentukan data mana saja dari transkrip wawancara yang perlu diberikan kode. Peneliti membuat label atau kode pada data transkrip wawancara, berupa coretan pada setiap pernyataan yang disampaikan informan. Selanjutnya adalah mencari kode yang sama untuk dikelompokkan dalam satu grup. Ketiga, penentuan tema. Peneliti mengklasifikasikan kelompok yang telah diberikan kode sesuai tema, dan peneliti menyisihkan pernyataan-pernyataan yang berulang. Ada pun kelompok yang telah memiliki tema diberikan coding berdasarkan kesamaan (Heriyanto, 2018). Kemudian, peneliti mencari makna dari informasi yang terkumpul. Makna yang memiliki kesamaan arti akan dijadikan dalam satu tema. Selanjutnya hasil temuan diuji dengan keabsahan data menurut Gunawan (2013) meliputi kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Kredibilitas atau derajat kepercayaan merupakan ukuran kebenaran data yang dikumpulkan peneliti. Transferabilitas, peneliti melakukan konfirmasi data yang didapatkan agar ada kesesuaian data dan kesamaan pemahaman antara peneliti dengan informan. Hasil yang didapatkan pun dapat diaplikasikan ke dalam data sehingga terjadi kesamaan antara konteks penelitian dengan penerapan informan. Dependabilitas adalah peneliti melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Peneliti melakukan pengujian terhadap data, interpretasi, dan rekomendasi yang didapatkan dari informan dengan mengaitkan temuan dengan tujuan penelitian dan rumusan masalah penelitian. Konfirmabilitas, yakni sikap peneliti dalam menjaga objektifitas penelitian dan menjamin peneliti bersifat netral. Peneliti dapat melakukan pelbagai cara agar konfirmabilitas tetap terjamin melalui pengamatan dan pengumpulan data yang tekun, penginterpretasian data yang diperoleh sesuai data informan, dan pelibatan dosen pembimbing dalam mengulas data yang telah terkumpul. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu satu tahun, di Universitas Diponegoro (UNDIP), Jl. Prof. Soedarto, Tembalang Semarang.
Result & Discussion
Penelitian ini membahas literasi informasi generasi x, y, dan z dalam penyusunan karya tulis ilmiah di UNDIP. Subjek yang diteliti adalah generasi x, y dan z. Generasi x di UNDIP didominasi profesi dosen. Ada pun generasi x adalah generasi yang lahir pada tahun 1961-1976. Generasi y atau generasi millennial (lahir 1977- 1994) yang didominasi mahasiswa magister. Generasi z (lahir 1995-2010) didominasi mahasiswa diploma dan mahasiswa sarjana. Peneliti dalam penelitian ini menyajikan hasil penelitian yang diperoleh dari metode analisis tematik berupa identifikasi kebutuhan informasi ilmiah generasi x, y, dan z, penelusuran informasi ilmiah generasi x, y, dan z yang efektif dan efisien, pemanfaatan informasi ilmiah generasi x, y, dan z, dan komunikasi informasi ilmiah generasi x, y, dan z. Kebutuhan informasi ilmiah generasi x adalah informasi berbentuk hasil penelitian. Generasi x membutuhkan hasil penelitian dari penelitian terdahulu yang sejenis. Generasi x yang berprofesi sebagai dosen memiliki pengalaman dalam mengenali kebutuhan informasi ilmiah melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Berbeda dengan generasi x lainnya, narasumber mengenali kebutuhan informasi dari permasalahan yang muncul di lapangan. Adapun kendala yang dihadapi generasi x dalam mengenali kebutuhan informasi ilmiah ialah keterbatasan dalam pengoperasian teknologi Informasi, sehingga narasumber dituntut belajar dalam menggunakan teknologi informasi. Kebutuhan informasi ilmiah generasi y adalah konsep dan teori penelitian. Teori penelitian yang dibutuhkan generasi y bersumber dari artikel dan jurnal ilmiah. Artikel dan jurnal ilmiah digunakan sebagai referensi teori yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah oleh generasi y. Pengalaman generasi y dalam mengenali kebutuhan informasi ilmiah dipengaruhi dosen pembimbing. Generasi y pun dapat mengenali kebutuhan informasi ilmiah lain melalui rumusan masalah penelitian. Selain itu, generasi y pun memiliki kendala dalam pengenalan kebutuhan informasi ilmiah, seperti, kendala bahasa dan ketersediaan sumber informasi. Maka, solusi yang dilakukan adalah memaksimalkan pencarian kebutuhan informasi ilmiah narasumber. Generasi z mempunyai kebutuhan informasi yang berkaitan dengan topik penelitian yang mereka teliti. Kebutuhan tersebut berupa data administrasi dan data objek penelitian. Pengalaman generasi z dalam mengenali kebutuhan informasi ilmiah pada umumnya didapatkan dari dosen pembimbing dan dari rumusan masalah yang ada. Namun, dalam praktiknya, generasi z mengalami kendala ketika mengenali kebutuhan informasi ilmiah. Narasumber mengalami kesulitan dalam menemukan kebutuhan informasi ilmiah sehingga narasumber melakukan konsultasi kepada dosen pembimbing untuk memaksimalkan pencarian sumber informasi yang dibutuhkan. Setelah mengidentifikasi kebutuhan informasi ilmiah, narasumber melakukan proses pencarian informasi ilmiah yang efektif dan efisien. Hal ini dilakukan agar pencarian informasi ilmiah yang didapatkan sesuai dengan kebutuhan, misalnya saat narasumber mengakses informasi ilmiah pada sumber yang disediakan. Saat ini terdapat banyak sumber informasi ilmiah sehingga narasumber harus pandai dalam memilih informasi. Generasi x yang berprofesi sebagai seorang dosen memiliki kegigihan dalam mencari informasi. Para narasumber memikirkan beberapa pilihan lokasi pencarian informasi ilmiah untuk menemukan Informasi, yaitu melalui perpustakaan dan internet. Generasi x yang berprofesi sebagai dosen memiliki intensitas interaksi lebih tinggi dalam lokasi pencarian informasi ilmiah. Pada umumnya, generasi x dapat melakukan penelusuran informasi ilmiah secara efektif dan efisien, contohnya generasi ini dapat menyebutkan strategi pencarian informasi ilmiah. Adapun kendala yang dihadapi generasi x selama proses penelusuran informasi ilmiah, yaitu kemampuan penguasaan teknologi informasi yang masih terbatas. Selain itu, generasi y dapat menjelaskan secara detail lokasi pencarian informasi ilmiah. Pada umumnya, lokasi pencarian informasi yang dipilih adalah google, karena generasi y lahir pada perkembangan teknologi informasi dan telah beradaptasi melalui teknologi. Dapat diketahui bahwa generasi y memiliki perbedaan dengan generasi x dalam merumuskan langkah-langkah penelusuran informasi. Strategi penelusuran informasi yang digunakan generasi y menggunakan boolean operator. Mereka juga menggunakan tanda petik (“). Generasi y juga membatasi informasi yang didapatkan melalui cara mengalihbahasakan kata kunci. Hal ini bertujuan agar informasi yang didapatkan lebih spesifik. Selain itu, generasi ini pun mengidentifikasi kendala dan mencari solusi ketika proses pencarian informasi ilmiah. Generasi z telah dapat memetakan lokasi pencarian informasi. Generasi ini mengetahui lokasi pencarian yang dipilih saat membutuhkan informasi tertentu, seperti mereka menggunakan pencarian di google dalam memilih lokasi pencarian jurnal ilmiah dan teori untuk penelitian. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Atmi (2014), yaitu seseorang yang lahir pada generasi z saat sekolah dasar sudah mampu mengoperasikan komputer, melakukan pencarian informasi dengan perangkat penelusur kemudian internet, berbagi kabar dengan menggunakan media sosial dan email. Perilaku pencarian informasi generasi ini sudah terbilang bagus, karena generasi z telah mampu menggunakan lokasi pencarian sesuai fungsi yang dimiliki. Pada pencarian informasi, mereka merencanakan proses pencarian informasi hingga penggunaan informasi yang diperoleh. Penelusuran informasi ilmiah generasi x, y, dan z ialah generasi yang memiliki pilihan dalam mencari lokasi informasi ilmiah. Ketiga generasi ini dapat menjelaskan strategi yang efektif dalam penelusuran informasi ilmiah. Generasi x, y dan z dalam proses pencarian informasi ilmiah dapat mengenali kendala yang dihadapi. Generasi ini pun telah memikirkan langkah-langkah yang ditempuh untuk mengatasi kendala tersebut. Penelusuran informasi ilmiah adalah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sumber informasi sesuai kebutuhan. Ketika individu menemukan informasi ilmiah yang relevan, individu tersebut dapat memanfaatkan informasi ilmiah yang didapatkannya. Ketika informasi yang didapatkan bermanfaat maka hal ini mencerminkan kebijaksanaan dalam kehidupan. Generasi x dapat menemukan informasi ilmiah sesuai kebutuhan informasi. Pemilihan bentuk informasi generasi x cenderung pada karya tercetak. Ketika generasi ini menggunakan bentuk digital, mereka akan memilih karya yang memiliki kredibilitas. Perilaku tersebut mencerminkan bahwa generasi x selektif terhadap sumber informasi ilmiah. Untuk mempermudah temu kembali informasi, generasi x melakukan pengelolaan informasi. Narasumber Haryono dan Heru, mengelola informasi yang didapatkan secara konvensional, sedangkan narasumber Nina dan Fitri menggunakan komputer ketika mengelola informasi ilmiah yang didapatkan. Generasi x menerapkan pemanfaatan informasi ilmiah di kehidupan sehari-hari. Hal ini terbukti dari informasi yang ditemukan dapat bermanfaat bagi orang lain. Sumber informasi yang dipilih oleh generasi y adalah jurnal ilmiah yang telah terakreditasi internasional. Selain itu, generasi y juga memilih sumber informasi yaitu buku. Narasumber dapat mengevaluasi informasi yang ditemukan dengan baik. Hal tersebut dibuktikan pada generasi y yang hanya memilih sumber informasi ilmiah yang kredibel dan memiliki reputasi. Ketika pengelolaan informasi ilmiah, narasumber memiliki penyimpanan informasi cadangan. Hal ini dilakukan generasi y dalam memaksimalkan teknologi informasi dan mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Narasumber menggunakan informasi yang didapatkan secara arif dalam pemanfaatan informasi. Generasi z memiliki kebutuhan informasi primer dan sekunder. Informasi primer didapatkan melalui wawancara dan observasi pada objek penelitian. Hal tersebut berpengaruh pada sumber informasi yang dipilih. Generasi z memiliki kemampuan dalam menemukan sumber informasi sesuai tempatnya, misalnya, saat generasi z membutuhkan informasi mengenai data maka sumber informasi yang dipilih berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS). Sesuai hal ini, generasi z telah mampu mengidentifikasi sumber informasi yang tepat untuk penelitian. Generasi z dapat mempertanggungjawabkan informasi yang diperoleh karena telah dilakukan evaluasi pada sumber informasi ilmiah yang ditemukan. Narasumber ini memanfaatkan informasi yang didapatkan untuk menambah pengetahuan baru bagi diri sendiri dan juga orang lain. Generasi z memiliki kesamaan pengelolaan informasi ilmiah dengan generasi y, karena kesamaan latar belakang perkembangan teknologi informasi. Selain pemanfaatan informasi yang telah disebutkan, generasi x, y, dan z memanfaatkan informasi yang didapatkan untuk yang lain, seperti penulisan kutipan. Generasi x, y, dan z telah mampu menuliskan kutipan dan sumber pada karya tulis ilmiah sesuai pemahaman isu hukum dalam menggunakan akses informasi. Ketiga generasi ini cenderung memiliki pola yang sama dalam pengutipan informasi, yaitu pada penulisan kutipan dan sumber yang sama. Penulisan kutipan dan sumber dipraktikkan generasi x, y, dan z sesuai gaya sitasi yang berlaku. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari plagiat dan menghargai karya tulis ilmiah seseorang. Informasi yang sudah didapatkan dapat diolah dan digabungkan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Sesuai dengan pendapat tersebut, generasi x, y, dan z dapat memanfaatkan informasi yang didapatkan secara arif dan bijaksana. Ketiga generasi ini pun mengembangkan informasi yang didapatkan melalui penggabungan pengetahuan yang dimiliki sehingga memunculkan pengetahuan baru dalam menambah wawasan bagi generasi x, y, dan z. Komunikasi informasi ilmiah adalah pemberitahuan sebuah karya kepada publik dalam bentuk cetak atau dalam bentuk digital. Ketiga generasi dalam mengomunikasikan ilmiah melakukan penyebaran informasi ilmiah tidak hanya pada kalangan pelajar atau akademisi. Penyebaran informasi karya tulis ilmiah dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Generasi x adalah generasi yang memiliki bentuk karya ilmiah yang beragam, seperti penelitian, artikel, skripsi, dan karya tulis ilmiah yang terpublikasi. Karya tulis ilmiah yang sedang dikerjakan generasi x beragam, seperti artikel ilmiah, jurnal ilmiah, skripsi, dan proposal penelitian. Generasi x memublikasikan karya tulis ilmiah melalui cara yang berbeda. Generasi x yang berprofesi sebagai dosen memublikasikan karya tulis ilmiah ke jurnal ilmiah, sedangkan generasi x lainnya memublikasikan hasil penelitian dalam bentuk tercetak di perpustakaan. Adapun narasumber di generasi ini memiliki motivasi mengomunikasikan informasi ilmiah pada teman sejawat, dan teman di luar lingkungan universitas melalui seminar. Generasi x yang berprofesi sebagai dosen memiliki keunikan, yakni mereka memublikasikan karya tulis ilmiah pada jurnal ilmiah nasional. Ada pun generasi y menghasilkan bentuk karya tulis yang dikerjakan berupa tesis. Generasi y juga telah memublikasikan karya tulis ilmiah, yang terpublikasi di digital library universitas. Pada generasi z, bentuk karya tulis ilmiah berupa tugas akhir dan skripsi dan belum memiliki karya tulis ilmiah yang terpublikasi di luar universitas. Para narasumber mengomunikasian karya tulis ilmiah melalui media elektronik atau media cetak. Generasi x, y, dan z memiliki kemampuan dalam menentukan media publikasi informasi. Generasi x, y, dan z pun mengetahui media apa saja yang harus dihindari dalam memublikasikan karya tulis ilmiah karena harus mempertanggungjawabkan karya ilmiah tersebut, seperti pada jurnal ilmiah dan media perpustakaan. Generasi y sedang mengerjakan karya tulis ilmiah dalam bentuk tesis. Narasumber ini pernah memublikasikan hasil karya tulis ilmiah ke media jurnal yang terdiri dari jurnal ilmiah nasional, jurnal ilmiah universitas, dan jurnal ilmiah internasional. Selain itu, narasumber ini pun mengomunikasikan informasi ilmiah dengan dosen pembimbing dan teman. Pada generasi z, narasumber sedang mengerjakan penelitian tugas akhir dan skripsi. Generasi ini telah mempunyai beberapa karya tulis ilmiah karena beberapa kali telah mengikuti lomba karya tulis ilmiah pada jurnal ilmiah, artikel ilmiah, dan proposal penelitian. Namun, ada beberapa generasi z yang belum memiliki karya tulis ilmiah yang terpublikasi. Narasumber ini memiliki pilihan media publikasi untuk memublikasikan karya tulis ilmiah melalui website, seminar nasional dan internasional, repository UNDIP, dan jurnal ilmiah yang memiliki reputasi. Ada pun langkah mengomunikasian informasi ilmiah yang dilakukan generasi z melalui seminar, diskusi dengan dosen pembimbing, dan teman sejawat. Untuk melihat gambaran literasi informasi yang dimiliki oleh ketiga generasi dapat dilihat pada tabel 1. Literasi informasi perlu dimiliki oleh generasi yang sedang menyusun karya tulis ilmiah. Langkah-langkah seperti identifikasi kebutuhan informasi ilmiah, penelusuran informasi yang efektif, pemanfaatan informasi, dan komunikasi informasi merupakan seperangkat kemampuan yang menjadi indikator individu dalam melakukan kegiatan literasi informasi selama penyusunan karya tulis ilmiah. Sesuai pelaksanaannya, generasi x, y, dan z menggunakan beberapa indikator sehingga kegiatan literasi informasi dapat tercapai. Literasi informasi pun mendukung untuk penyusunan karya tulis ilmiah, sehingga tiap generasi dapat mempertanggungjawabkan nilai ilmiah pada karya tulis ilmiah. Literasi informasi bersifat dinamis, sehingga di beberapa penelitian literasi informasi mengalami perkembangan. Penelitian ini mendapatkan hasil berupa identifikasi kebutuhan informasi ilmiah, penelusuran informasi ilmiah, pemanfaatan informasi ilmiah, dan komunikasi informasi ilmiah. Literasi informasi yang diteliti menggunakan perspektif relasional yang dikembangkan oleh Bruce (1995), yang terdiri dari 7 konsep indikator literasi informasi, di antaranya konsepsi teknologi informasi, konsepsi sumber informasi, konsepsi proses informasi, konsepsi pengendalian informasi, konsepsi konstruksi pengetahuan, konsepsi perluasan pengetahuan, dan konsepsi kearifan. Ketujuh konsepsi tersebut mengandung empat sub bab yang menjadi hasil penelitian ini, di antaranya konsepsi teknologi terkandung dalam tahapan identifikasi kebutuhan informasi ilmiah. Adapun konsepsi sumber informasi, konsepsi proses informasi, dan konsepsi pengetahuan muncul dalam penelusuran informasi ilmiah. Konsepsi konstruksi pengetahuan dan konsepsi perluasan pengetahuan masuk ke dalam pemanfaatan informasi ilmiah, dan konsepsi kearifan ada dalam tahapan komunikasi informasi ilmiah.
Conclusion
Literasi informasi memiliki peran yang penting bagi generasi x, y, dan z dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang bertujuan agar nilai ilmiah dari karya tulis dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga generasi ini telah melakukan kegiatan literasi informasi selama penyusunan karya tulis ilmiah. Hal ini terlihat dari kegiatan identifikasi kebutuhan informasi ilmiah, penelusuran informasi ilmiah, pemanfaatan informasi ilmiah, dan komunikasi informasi ilmiah. Generasi x, y, dan z mampu mengidentifikasi kebutuhan informasi ilmiah yang relevan dan sesuai kebutuhan. Para narasumber melakukan penelusuran informasi dengan efektif dan efisien. Generasi ini dalam teknologi informasi telah memanfaatkan informasi ilmiah yang didapatkan agar bermanfaat bagi masyarakat. Berdasarkan hasil temuan penelitian, peneliti menemukan faktor utama yang memengaruhi kegiatan literasi informasi generasi x, y, dan z selama penyusunan karya tulis ilmiah. Faktor tersebut adalah perkembangan teknologi (faktor eksternal) dan profil profesi (faktor internal). Hal ini menjadi pembuka peluang bagi penelitian selanjutnya dalam melakukan kajian dengan domain serupa namun berfokus pada kedua faktor tersebut.