Kembali
16
1
2024 Baca: Jurnal Dokumentasi dan Informasi Vol 45 · 1 ISSN 2301-8593

Pemanfaatan teknologi Scispace untuk meningkatkan layanan literature review di perpustakaan

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Layanan informasi perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi berbasis artificial intelligent (AI), seperti layanan literature review yang terkait erat dengan proses penelusuran dan pencarian sumber bacaan atau informasi ilmiah, menjadi sangat relevan dewasa ini. Di Indonesia, salah satu perpustakaan yang telah mengimplementasikan teknologi berbasis AI dalam layanan literature review-nya adalah Perpustakaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Scispace, sebuah platfrom bertenaga AI yang digunakan untuk menyederhanakan proses pemahaman terhadap papers ilmiah, telah dimanfaatkan oleh Perpustakaan BRIN sejak November 2023. Scispace menarik untuk dikaji karena potensinya masih belum banyak tergali. Berdasarkan ulasan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Scispace dalam menunjang layanan literature review di perpustakaan. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang optimasi layanan literature review menggunakan teknologi Scispace di Perpustakaan BRIN, baik kelebihan maupun kekurangannya. Ruang lingkup objek kajian ini adalah Perpustakaan BRIN, yakni perpustakaan khusus di bawah naungan yang menjadi induk pembina seluruh peneliti dalam skala nasional. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif berupa analisis dokumen, observasi dan wawancara. Dokumen yang dianalisis adalah proses bisnis (SOP) Layanan Literature Review di Perpustakaan BRIN. Observasi dan wawancara dilakukan terhadap dua orang pustakawan yang memiliki kapasitas dalam bidang layanan informasi di Perpustakaan BRIN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Scispace mampu mengakomodasi kebutuhan layanan literature review di sebuah perpustakaan, utamanya dalam tahap pencarian dan pemilihan literatur. Abstraksi, akselerasi (percepatan) waktu, dan akurasi merupakan keunggulan yang diperoleh dari pemanfaatan Scispace. Selain itu, Scispace juga memiliki kekurangan meski tidak terlalu mendasar, seperti fitur import di fitur reference manager (Zotero) yang sempat tidak efektif jika dioperasikan menggunakan akun bersama (sharing account). Dengan demikian, teknologi Scispace ini sangat mungkin untuk dimanfaatkan oleh para pengelola perpustakaan dalam menunjang layanan literature review-nya, utamanya perpustakaan khusus dan perguruan tinggi dengan pemustaka yang sangat dekat dengan kegiatan penelitian serta penulisan artikel ilmiah.

Abstract

Library information services utilizing artificial intelligence (AI)-based technology, such as literature review services that are closely related to the process of searching and finding reading sources or scientific information, are becoming very relevant today. In Indonesia, one of the libraries that has implemented AI-based technology in its literature review service is the BRIN Library. Scispace, an AI-powered platform used to simplify the process of understanding scientific papers, has been utilized by the BRIN Library since November 2023. Scispace is interesting to study because its potential has not been widely explored. Based on this review, this study aims to examine the role of Scispace in supporting literature review services in libraries. The benefit of this study is to provide an overview of the optimization of literature review services using Scispace technology at the BRIN Library, both its advantages and disadvantages. The scope of this study object is the BRIN Library, a special library under the auspices of the National Research and Innovation Agency (BRIN) which is the parent of all researchers on a national scale. The research was conducted using a qualitative approach in the form of document analysis, observation and interviews. The documents analyzed were the business process (SOP) of Literature Review Services at the BRIN Library. Observations and interviews were conducted with two librarians who have capacity in the field of information services at the BRIN Library. The results of the study indicate that Scispace is able to accommodate the needs of literature review services in a library, especially in the stages of searching and selecting literature. Abstraction, acceleration (speeding up) time, and accuracy are the advantages obtained from utilizing Scispace. In addition, Scispace also has shortcomings although not too fundamental, such as the import feature in the reference manager feature (Zotero) which was ineffective when operated using a shared account. Thus, the Scispace technology is very possible to be utilized by library managers to support their literature review services, especially special libraries and universities with users who are very close to research activities and writing scientific articles.
Keywords: Literature review services · Scispace · Library

Introduction

Kegiatan menulis dan menerbitkan artikel ilmiah merupakan salah satu upaya untuk mendongkrak daya saing bangsa melalui peningkatan jumlah publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional (Mahelingga, 2020). Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset mendorong agar para peneliti di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian lainnya aktif dalam menerbitkan publikasi, khususnya jurnal ilmiah, sebagai tolok ukur kemajuan sains dan riset di Indonesia (Wisnubroto, 2021). Hal ini senada dengan peraturan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mewajibkan seluruh hasil riset dan pengembangan untuk dipublikasikan serta didiseminasikan oleh sumber daya manusia (SDM) iptek dan/atau kelembagaan iptek (Nurmaini, 2021). Kebutuhan penulisan atau pemroduksian artikel jurnal ini tentu tidak terlepas dari peran sumber informasi, salah satunya perpustakaan. Dalam lingkup pendidikan tinggi, perpustakaan diselenggarakan dengan tujuan untuk menunjang pelaksanaan program perguruan tinggi sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Perpus Unusa, 2016). Sementara itu, bagi peneliti—yang berada dalam satu payung institusi bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)—perpustakaan juga menjadi bagian yang sangat vital dalam mengembangkan potensi Indonesia melalui penelitian, penyediaan, pengolahan, dan pelayanan bahan pustaka untuk mendukung hasil-hasil riset (PPID BRIN, 2022). Perpustakaan merupakan sumber utama informasi sehingga keberadaannya harus mendukung layanan informasi yang kian mengglobal. Untuk menyikapi hal ini, diperlukan perpustakaan dengan dukungan teknologi yang mumpuni agar dapat beradaptasi dengan perkembangan yang ada (Noprianto, 2018). Dinamika kecepatan informasi ini tentu berpengaruh terhadap proses pencarian sumber informasi yang tersebar dengan sangat banyak dan cepat. Meskipun demikian, masih ditemukan kendala terkait pencarian sumber bacaan. Kajian yang dilakukan oleh Budhyani dan Angendari (2021) menunjukkan bahwa satu dari empat hambatan terbesar dalam menulis artikel ilmiah adalah kemampuan dalam mencari dan memperoleh sumber bacaan. Persoalan pencarian informasi ilmiah bukanlah disebabkan oleh kurangnya sumber bacaan, tetapi lebih kepada keterampilan dalam mencari sumber bacaan di tengah ketersediaan sumber bacaan yang melimpah ruah (Masyarakat Literasi Indonesia, 2020). Keterampilan mencari informasi yang tidak memadai ini tidak jarang membuat masyarakat masa kini bagaikan berenang di lautan informasi dan mungkin juga menjadi tenggelam di dalamnya. Artinya, mereka terjebak dalam kesia-siaan akibat tidak mampu memilih, menemukan, atau mengolah informasi secara tepat. Selain itu, persoalan bahasa terkadang turut menghambat proses pencarian referensi ilmiah. Beberapa publikasi jurnal ilmiah ditulis menggunakan bahasa Inggris, sementara sebagian peneliti dan mahasiswa pascasarjana merasa kurang cakap dalam memahami tulisan berbahasa Inggris. Akibatnya, sebisa mungkin mereka hanya mencari artikel-artikel ilmiah yang ditulis dalam bahasa Indonesia (Nasution, 2017). Hal ini membuat proses pencarian referensi ilmiah menjadi terbatas dan tidak maksimal karena ada beberapa tema dan topik penelitian yang masih jarang dilakukan di tingkat nasional. Menyikapi fenomena ini, perpustakaan perlu mencari terobosan atau inovasi baru untuk memaksimalkan layanannya. Pemerintah melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (Pasal 17 tentang Layanan Perpustakaan) mendorong perpustakaan untuk mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka mengoptimalkan layanan bagi pemustakanya. Di era teknologi informasi dan komunikasi, layanan informasi perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi berbasis artificial intelligent (AI) khususnya dalam hal layanan literature review yang terkait dengan proses pencarian sumber bacaan ilmiah menjadi sangat relevan. Teknologi dapat dipandang sebagai tantangan sekaligus tools yang akan sangat berguna dan membantu pustakawan dalam menjalankan aktivitas profesionalnya (Nurhayati & Wijayanti, 2023). Layanan literature review berbasis AI ini belum banyak dikembangkan oleh perpustakaan dalam skala nasional. Berdasarkan komunikasi berbasis teks (chat WA dan surel) yang dilakukan penulis dengan beberapa pihak perpustakaan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, seperti Perpustakaan Universitas Indonesia (25 Maret 2024), Perpustakaan Prasetya Mulya (6 Maret 2024), dan Perpustakaan Universitas Pakuan (21 Februari 2024), diperoleh informasi bahwa perpustakaanperpustakaan tersebut belum membuka layanan literature review serta otomatis belum menerapkan teknologi Scispace. Salah satu perpustakaan yang telah mengimplementasikan teknologi berbasis AI dalam layanan literature review-nya adalah Perpustakaan BRIN. Perpustakaan BRIN telah memanfaatkan Scispace, sebuah platfrom bertenaga AI yang digunakan untuk menyederhanakan proses pemahaman terhadap papers ilmiah, sejak November 2023. Keberadaan Scispace sangat membantu pustakawan dalam memperoleh sumber bacaan ilmiah. Ketersediaan puluhan bahasa yang dapat diakomodasi oleh Scispace menjadikan para pustakawan lebih mudah untuk menelusuri dan memperoleh literatur yang sesuai dari sekian sumber bacaan dan bahasa. Pengimplementasian Scispace rupanya juga sangat membantu pustakawan layanan Perpustakaan BRIN dalam melakukan pekerjaan mereka dengan hasil yang lebih baik. Dengan alokasi waktu layanan sekitar seminggu (di luar waktu antrian layanan), kini hasil layanan literature review oleh Perpustakaan BRIN dengan memanfaatkan aplikasi Scispace sudah mampu menghasilkan sebuah narrative literature review. Sebelumnya, dengan alokasi waktu yang sama, layanan literature review tanpa menggunakan Scispace hanya dapat menghasilkan descriptive literature review dalam bentuk MS Excel. Artinya, dengan alokasi waktu layanan yang sama, penerapan Scispace ini membantu terjadinya peningkatan hasil layanan literature review yang lebih baik di Perpustakaan BRIN. Scispace menarik untuk dikaji karena potensinya belum banyak tergali. Hal ini tetjadi karena minimnya informasi terkait best practice dari tool tersebut. Di Indonesia, belum ditemukan penelitian terkait Scispace ataupun implementasinya dalam mendukung proses pencarian informasi. Sementara itu, dalam skala global belum banyak penelitian yang mengkaji tentang penerapan Scispace. Meskipun demikian, tulisan McKenna et al. (2023) cukup menginformasikan kepada kita semua bahwa penggunaan Scispace sangat bermanfaat untuk mendukung pemerolehan informasi yang akurat dan mutakhir serta mempercepat proses kinerja pencarian literatur bagi pengguna di wilayah Asia dan Afrika, khususnya dengan adanya dukungan fitur bahasa yang beragam. Berdasarkan ulasan tersebut, muncul satu pertanyaan penelitian yang mendasari keseluruhan ide dari tulisan ini, yakni bagaimanakah peran Scispace dalam menunjang layanan literature review di perpustakaan? Dalam hal ini, penulis membatasi ruang lingkup objek kajian hanya pada Perpustakaan BRIN, yakni perpustakaan khusus di bawah naungan instansi pemerintah yang menjadi induk pembina seluruh peneliti dalam skala nasional. Pemilihan Perpustakaan BRIN ini didasari oleh pertimbangan bahwa Perpustakaan BRIN telah mengembangkan layanan alur hidup penelitian, salah satunya adalah layanan literature review (Untari, 2021). Terlebih lagi, Perpustakaan BRIN juga telah melanggan Scispace untuk menyederhanakan proses layanan literature review-nya sehingga eksplorasi terhadap fitur-fitur yang ditawarkan oleh Scispace menjadi lebih maksimal (Perpustakaan BRIN, 2024). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Scispace yang dimanfaatkan oleh pustakawan Perpustakaan BRIN dalam menunjang layanan literature review. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji kelebihan dan kelemahan Scispace. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang optimasi layanan literature review menggunakan teknologi Scispace di Perpustakaan BRIN, baik kelebihan maupun kekurangannya. Dari penelitian ini diharapkan Scispace menjadi sistem yang familiar untuk diterapkan oleh perpustakaan, khususnya perpustakaan khusus dan perpustakaan perguruan tinggi, dalam menunjang layanan literature review bagi kebutuhan kegiatan penelitian atau penulisan artikel ilmiah para pemustakanya. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Layanan Literature Review di Perpustakaan BRIN Pada dasarnya, perpustakaan khusus hampir sama dengan perpustakaan pada umumnya, yakni institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Kekhususan mendasar dari perpustakaan khusus menurut Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Perpustakaan Khusus adalah penekanan pada aspek target pemustakanya. Perpustakaan khusus diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain (Perpustakaan Nasional, 2022). Menurut Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022, penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan khusus harus memperhatikan kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian dan rekreasi pemustakanya. Untuk setiap pemenuhan kebutuhan pemustaka ini, termasuk kebutuhan penelitian pemustaka, perpustakaan khusus wajib mengacu pada standar nasional perpustakaan khusus sebagaimana ditetapkan. Penelitian yang dilakukan oleh Setyowati (2018)memperlihatkan bahwa satu dari enam standar nasional perpustakaan khusus, yakni standar pelayanan perpustakaan, dinilai dapat menjadi satu layanan strategis yang dapat dikembangkan oleh perpustakaan dalam membantu meningkatkan pengembangan riset bagi pemustakanya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa research support services yang ditawarkan tercermin melalui layanan yang diberikan dengan mempertimbangkan siklus hidup riset, mulai dari pengembangan gagasan sampai dengan tahap diseminasi hasil riset. Perpustakaan BRIN dipilih dalam penelitian ini karena merupakan perpustakaan khusus yang telah mapan dalam memfasilitasi kebutuhan para pemustakanya yang telah berpengalaman dalam kegiatan penelitian, penulisan, penerbitan karya tulis ilmiah, baik publikasi berskala nasional maupun internasional. Perpustakaan BRIN menjadi rujukan utama para sivitas peneliti nasional dalam mencari sumber-sumber informasi yang kredibel dan mutakhir untuk menunjang kegiatan penelitian dan penulisan hasil penelitian yang dilakukan. Perpustakaan BRIN juga memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan pustaka/informasi di lingkungan BRIN dalam rangka mendukung pengembangan dan peningkatan lembaga maupun kemampuan sumber daya manusia. Hal ini diperkuat oleh hasil kajian yang telah dilakukan oleh Maha et al. (2023) yang mengemukakan bahwa peneliti merupakan profesi jabatan fungsional yang paling banyak menggunakan layanan riset di Perpustakaan BRIN dengan persentase sebesar 82,2%. Alasan lain penentuan Perpustakaan BRIN sebagai objek dalam kajian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa Perpustakaan BRIN telah mengembangkan jasa layanan pendampingan penelitian berdasarkan daur hidup penelitian sejak tahun 2019. Layanan literature review sendiri mulai dikembangkan pada tahun 2020 dan Scispace baru diterapkan di Perpustakaan BRIN sejak November 2023. Kajian yang dilakukan oleh Untari (2021) menyebutkan bahwa Perpustakaan PDDI LIPI—cikal bakal Perpustakaan BRIN—yang termasuk dalam perpustakaan khusus berkembang menjadi layanan data penelitian. Salah satu layanan yang dikembangkan adalah layanan literature review pada tahun 2020. Literature review atau tinjauan pustaka ialah ringkasan komprehensif dari penelitian sebelumnya tentang suatu topik. Berdasarkan alur daur hidup riset yang terdiri dari tiga tahapan—sebelum penelitian, selama penelitian, dan selesai penelitian—layanan tinjauan pustaka ini mendukung penelitian selama tahap pelaksanaan. Ini dikarenakan layanan literature review ini berfungsi menyurvei artikel ilmiah, buku, dan sumber lain yang relevan dengan bidang penelitian tertentu. Tinjauan harus menyebutkan, menggambarkan, meringkas, mengevaluasi secara objektif dan mengklarifikasi penelitian sebelumnya (Untari, 2021). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maha et al. (2023) diketahui bahwa layanan literature review menduduki peringkat ketiga layanan di Perpustakaan BRIN yang paling banyak diminta oleh pemustaka setelah layanan penelusuran informasi dan literasi informasi. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa layanan literature review merupakan layanan yang sangat dibutuhkan oleh pemustaka peneliti untuk menunjang proses penelitian dan penulisan karya ilmiah mereka. Guna menstabilkan seluruh kinerja layanannya, Perpustakaan BRIN mendasarkan operasional setiap layanannya berdasarkan proses bisnis yang telah dibuat dan disepakati bersama. Proses bisnis merupakan sekumpulan aktivitas yang dilakukan oleh sumber daya yang mengubah input menjadi output (Azhari et al., 2021). Khusus untuk layanan literature review, standard operating procedure (SOP) yang diacu ialah SOP Layanan Literature Review Perpustakaan BRIN yang dibuat pada tanggal 12 Juli 2022 dan efektif per 5 September 2022. Dalam SOP tersebut tergambar dengan jelas tiap tahapan yang harus dilakukan dari mulai proses awal hingga akhir, yakni mulai dari usulan permintaan oleh pengusul (pemustaka) hingga narrative literature review yang dibuat oleh pustakawan. 2.2 Scispace Scispace merupakan alat (teknologi) bertenaga AI yang saat ini banyak digunakan untuk menyederhanakan dan mengembangkan proses pembacaan serta pemahaman artikel-artikel dalam jurnal penelitian (Jain et al., 2023). Masih menurut Jain et al. (2023), platform yang dikembangkan oleh Typeset ini muncul sebagai terobosan baru asisten peneliti sebab mampu melampaui alat penelitian standar dengan memberikan penjelasan real-time, mengurangi bahasa teknis, dan mendorong pembelajaran interaktif. Selain itu, alat ini juga menyediakan pemformatan, kolaborasi, cepat balasan dari wawasan berbasis AI, serta publikasi makalah penelitian. Semua fitur yang ditawarkan oleh Scispace dapat diperoleh atau diakses dengan cara berbayar (premium). Scispace yang tidak premium atau tidak berbayar juga masih dapat diakses, namun tentu saja tidak terlalu lancar dan sangat terbatas. Mengutip dari laman pengantar Scispace pada laman resminya, typeset.io, sistem kerja Scispace ini sangat mengandalkan kekuatan AI. Sesuai dengan tagline yang tertera dalam laman tersebut, “Do hour worth of reading in minutes”, layanan yang dilakukan oleh Scispace dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit atau bahkan detik, mulai dari pengetikan kata kunci (query) hingga pencarian hasil yang akurat dan relevan. Melalui layanan ini, pengguna dapat memahami isi dari sebuah tulisan, membandingkan ataupun mengontraskan pemikiran dari dua tulisan ilmiah, mengidentifikasi gap dari topik/tema penelitian, serta mendasarkan kajian-kajian dari sumber fondasi yang cukup solid dan kredibel (Sucheth, 2023). Scispace dapat diunduh dan di-install di hampir semua perangkat komputer. Jasa layanan yang terkait dengan literature review yang ditawarkan oleh Scispace pun cukup serius. Sucheth (2023) menyebutkan beberapa kelebihan Scispace dibanding tool/perangkat lain, seperti 1) Comprehensive repository: Scispace telah dibekali dengan lebih dari 200 juta artikel ilmiah hasil penelitian dari lintas domain atau disiplin ilmu; 2) Customizable and advanced search options: dengan sangat mudah dapat menyortir hasil pencarian berdasarkan tahun publikasi, nama penulis, tipe, dan kriteria yang lain. Terlebih lagi, hasil penyarian isi artikel dapat dispesifikkan berdasarkan kebutuhan pengguna, misalkan abstrak, metode, penelitian, atau rangkuman; 3) Smart summarization and in-depth analysis: Pengguna dapat memperoleh ringkasan yang sangat valid dan wawasan terperinci dari setiap makalah dari setiap keyword/query yang diketikkan. Dari situ pengguna dapat memutuskan apakah menginginkan ikhtisar singkat tersebut atau menyelam lebih jauh mencari informasi yang detail dan spesifik. Selain itu, Copilot selalu tersedia untuk membantu pengguna, memberi pengguna fleksibilitas untuk mengajukan pertanyaan lanjutan dan mengklarifikasi keraguan secara instan.

Method

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif berupa analisis dokumen, observasi dan wawancara. Dokumen yang dianalisis adalah standard operating procedure (SOP) proses bisnis layanan literature review di Perpustakaan BRIN. Sementara observasi yang dilakukan mencakup bagaimana implementasi SOP proses layanan literature review yang dilakukan oleh pustakawan Perpustakaan BRIN dengan memanfaatkan platform Scispace. Dalam hal ini, penulis terjun langsung mengamati bagaimana pustakawan Perpustakaan BRIN mengoperasikan Scispace untuk menunjang proses layanan literature review-nya. Observasi dilakukan dua kali secara daring menggunakan aplikasi Zoom. Dari observasi tersebut, penulis juga mendokumentasikan beberapa tampilan tangkapan layar yang dianggap perlu untuk mendukung analisis data. Selain itu, juga diamati apa saja kelebihan dan kekurangan ataupun kendala penggunaan Scispace ini dalam menunjang pelaksanaan layanan literature review. Selanjutnya, ditarik kesimpulan terkait saran dan pengembangan Scispace dalam mendukung layanan literature review ke depannya. Selain observasi, metode wawancara juga dilakukan untuk memperdalam analisis terhadap hasil atau temuan yang didapatkan. Adapun informan yang dipilih dalam penelitian ini berjumlah dua orang, yakni seorang Pustakawan Ahli Madya yang saat ini menjabat sebagai Subkoordinator pengelolaan informasi Perpustakaan BRIN (P1) serta seorang Pustakawan Utama (P2). Keduanya merupakan pustakawan yang terjun langsung menangani proses layanan literature review dengan memanfaatkan aplikasi Scispace. Dua informan tersebut memiliki kapasitas dalam bidang layanan informasi di Perpustakaan BRIN sehingga informasi, penjelasan, serta jawaban-jawaban yang diberikan sudah sangat cukup dan sesuai dengan kebutuhan analisis data dari hasil penelitian ini. Wawancara dilakukan melalui chat WA serta Zoom Meeting selama dua kali, masing-masing pada 25 Maret 2024 (P1) dan 29 April 2024 (P2). Ada tiga hal utama yang dilakukan dalam mengolah data, yakni mengondensasi data, menyajikan data, serta menarik kesimpulan (Miles et al., 2018). Dari data yang diperoleh, dijelaskan proses bisnis layanan literature review di Perpustakaan BRIN, siapa saja pihak yang terlibat, serta tahapantahapan yang dilakukan dari proses awal hingga akhir. Kemudian berpijak dari proses bisnis layanan tersebut, dijelaskan langkah-langkah sistematis yang dilakukan oleh pustakawan Perpustakaan BRIN dalam menjalankan proses layanan literature review dengan memanfaatkan aplikasi Scispace. Dari uraian tersebut tergambar bagaimana peran Scispace dalam mendukung layanan literature review di Perpustakaan BRIN. Selanjutnya, dijelaskan kelebihan dan kekurangan dari pengoperasian Scispace dalam menunjang kegiatan layanan literature review di Perpustakaan BRIN.

Result & Discussion

4.1 Proses Bisnis Layanan Literature Review di Perpustakaan BRIN Suatu kegiatan yang dijalankan oleh perusahaan ataupun organisasi pasti memiliki proses bisnis. Proses bisnis tersebut penting dimiliki dan dijalankan agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan luaran yang optimal. Menurut Setiyani dan Setiawan (2021), proses bisnis merupakan serangkaian kegiatan dalam lingkungan organisasi dan teknis yang bersama-sama mencapai tujuan bisnis. Dengan demikian, proses bisnis mencakup inisiasi input, transformasi dari suatu informasi, dan menghasilkan output. Jika proses bisnis berjalan baik, kegiatan operasional akan berjalan lebih efisien dan efektif. Demikian pula dengan yang dilakukan oleh Perpustakaan BRIN. Setiap layanan pada Perpustakaan BRIN mempunyai proses bisnisnya sendiri-sendiri, termasuk layanan literature review sebagai salah satu layanan yang mendukung alur hidup penelitian yang dilakukan oleh pemustakanya. Untuk mendukung kelancaran dan keberhasilan layanan literature review, para pelaksana layanan melandaskan aktivitasnya pada proses bisnis layanan literature review Perpustakaan BRIN yang tertuang dalam SOP Layanan Literature Review. Hal ini sejalan dengan kajian yang dilakukan oleh Taufiq (2019) yang menyatakan bahwa SOP berfungsi untuk membentuk sistem kerja dan aliran kerja yang teratur, sistematik, dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, SOP juga digunakan sebagai kebijakan dan peraturan yang berlaku umum untuk menjelaskan proses pelaksanaan akivitas yang berlangsung. SOP Layanan Literature Review Perpustakaan BRIN bertanggal 12 Juli 2022 dan efektif per tanggal 5 September 2022 (Gambar 1). Menurut keterangan informan (P1) via chat WhatsApp tanggal 15 Mei 2024, akan segera dilakukan revisi atau pembaruan untuk SOP layanan tersebut. Dalam SOP tersebut, tergambar dengan jelas tiga pihak yang terlibat, yakni 1) pemustaka, 2) Koordinator Pelaksana Layanan Kepustakaan Kawasan yang sejak tahun 2024 nomenklatur Koordinator Pelaksana Layanan Kepustakaan Kawasan tidak diberlakukan lagi dan hanya ada satu koordinator perpustakaan yang disebut sebagai Koordinator Perpustakaan (wawancara dengan informan (P1) via chat WhatsApp tanggal 15 Mei 2024, dan 3) pustakawan/pelaksana layanan. Selain itu, dari SOP tersebut juga terlihat tahapan aktivitas dari mulai inisiasi input, yakni usulan layanan dari pemustaka, hingga hasil akhir berupa hasil literature review. Hingga Mei 2024 Perpustakaan BRIN hanya membuka layanan literature review khusus bagi pemustakanya saja (sivitas BRIN) dan belum membuka layanan perpustakaan untuk pemustaka non-BRIN. Gambar 1. Proses Bisnis Layanan Literature Review Perpustakaan BRIN Sumber: Data Primer, SOP Layanan Literature Review di Perpustakaan BRIN Proses bisnis tersebut diawali dari usulan permintaan layanan literature review oleh pemustaka yang dilakukan melalui fitur Layanan Kawasan pada sistem internal BRIN (Gambar 2). Usulan ini akan diterima dan diverifikasi oleh Koordinator Perpustakaan. Jika tidak sesuai atau belum lengkap, usulan dikembalikan lagi ke pengusul (pemustaka). Namun apabila diterima, usulan akan diteruskan ke Pelaksana Layanan untuk ditindaklanjuti. Pelaksana Layanan (pustakawan yang bertugas mengerjakan layanan literature review) akan mempelajari berkas usulan tersebut, lalu menentukan kata kunci sebagai bahan penelusuran informasi. Sebelum dilakukan penelusuran informasi, kata kunci tersebut akan disampaikan terlebih dahulu ke pengusul (melalui komunikasi pribadi/chat WA) untuk dilakukan klarifikasi oleh pengusul. Kemudian klarifikasi kata kunci oleh pemustaka akan disampaikan kembali ke pelaksana layanan. Apabila kata kunci tidak disetujui oleh pemustaka, pelaksana layanan harus mencari kata kunci baru dan menyampaikannya kembali ke pengusul. Namun, jika kata kunci sudah sesuai, pelaksana layanan akan mulai melakukan penelusuran informasi menggunakan kata kunci untuk mencari literature yang sesuai berdasarkan usulan pemustaka. Selanjutnya, pelaksana layanan akan melakukan review dari beberapa pustaka atau literature yang didapat. Review yang dilakukan oleh pelaksana layanan terdiri dari dua tahap. Pertama, pelaksana layanan melakukan review terhadap sejumlah literature yang muncul, dan memilih literature yang dinilai relevan atau sesuai dengan permintaan pemustaka. Hasil penyusunan literature review tersebut dituangkan dalam bentuk deskripsi melalui MS Excel. Kemudian review kedua yang dilakukan oleh pelaksana layanan adalah pembuatan narrative literature review berdasarkan olah pikir pelaksana layanan dari descriptive literature review sebelumnya. Ketika sudah selesai, finalisasi hasil penyusunan narrative literature review disampaikan oleh pelaksana layanan ke Koordinator Perpustakaan melalui unggahan di sistem internal BRIN. Terakhir, hasil final dari layanan literature review tersebut disampaikan oleh Koordinator Perpustakaan kepada pengusul layanan. Gambar 2. Fitur Layanan Perpustakaan pada Sistem Internal BRIN Sumber: Tangkapan layar pada 7 Mei 2024 4.2 Peran Scispace dalam Tahapan Layanan Literature Review Dari data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa penggunaan Scispace dimulai pada tahap pelaksana layanan mendapatkan persetujuan klarifikasi kata kunci dari pemustaka hingga tahap pencarian dan pemilihan literatur (Gambar 3). Sebetulnya terdapat dua cara bagi pustakawan pelaksana layanan dalam mencari sumber literature dari kata kunci yang didapat, yakni langsung melalui Scispace atau melalui sejumlah e-resources yang sudah dilanggan oleh Perpustakaan BRIN, seperti Web of Science, Spinger Nature, JSTORE, ProQuest, Elsevier, Emerald, dan American Society of Mechanical Engineers. Gambar 3. Peran Scispace dalam Proses Bisnis Layanan Literature Review Sumber: Diolah dari proses bisnis layanan literature review Perpustakaan BRIN Apabila mencari sumber literature langsung dari Scispace, database literatures yang muncul adalah sumber-sumber referensi yang sudah ada atau sudah tertanam dalam Scispace. Namun, jika penelusuran informasi dilakukan melalui e-resources di luar Scispace, sejumlah literature yang nantinya dipilih harus dimasukkan ke dalam Scispace agar dapat diproses lebih lanjut. Dari sumber referensi yang sudah dipilih berdasarkan query dari kata kunci yang dimasukkan, referensi-referensi tersebut akan diolah menggunakan Scispace untuk membantu analisis terhadap isi literatures. 4.2.1 Mencari Literatur Penentuan kata kunci yang akan menjadi query pencarian di sini bukan hanya didasarkan pada kata kunci yang tertulis di formulir permohonan oleh pengusul. Kata kunci yang diusulkan oleh pemustaka itu adalah salah satu aspek dari sekian banyak aspek yang ditulis oleh pengusul dalam formulir usulan, seperti abstrak dan tujuan penelitian. Kombinasi dari keseluruhan aspek yang tertera dalam formulir usulan layanan literature review tersebut akan menjadi landasan bagi pelaksana layanan untuk menentukan kata kunci yang lebih sesuai. Proses pemahaman terhadap formulir usulan dari pemustaka ini dilakukan melalui komunikasi pribadi antara pemustaka dan pelaksana layanan. Tak jarang, pustawakan juga sering mengonfirmasi ulang tujuan penelitian dan hasil yang ingin dicapai oleh pemustaka sehingga komunikasi tersebut tidak hanya terjadi pada saat kata kunci sudah ditentukan, tetapi juga pada saat kata kunci final yang akan menjadi query pencarian belum ditetapkan. Setelah memperoleh persetujuan tentang kata kunci seperti yang dimaksud oleh pemustaka, pustawakan mulai mencari literatur. Inilah tahap paling awal dari Scispace yang dapat dioperasikan oleh pelaksana layanan/pustakawan. Sekali lagi, tahap pencarian literatur menggunakan sicspace ini opsional. Menurut informan, jika kata kunci yang dimaksud oleh pengusul layanan dirasa kurang familiar maka pustawakan biasanya langsung memasukkan kata kunci ke Scispace atau mencarinya terlebih dahulu dalam Tesaurus dengan terminologi yang lebih luas (broader term) atau similar. Namun, apabila kata kunci oleh pelaksana layanan dinilai sudah cukup familiar, biasanya pustakawan akan mencarinya terlebih dahulu ke e-resources. “Selain mencarinya terlebih dahulu dalam Tesaurus dengan terminologi yang lebih luas atau similar, pencarian (literatur) ke Scispace ini biasanya dilakukan kalau kata kunci yang dimaksud oleh pemustaka tidak terlalu familiar. Namun, kalau kami agak paham dengan kata kunci, ya kami biasanya ke e-resources dulu.” (P1, wawancara, 25 Maret 2024) Pencarian literatur oleh pustawakan ke e-resources biasanya juga dilandasi oleh keinginan pemustaka yang menyarankan agar pencarian literatur dilakukan melalui e-resources tertentu. Hal ini rupanya cukup dipahami oleh pustakawan mengingat tiap-tiap e-resources memiliki ceruk disiplin ilmu sendiri-sendiri. Seperti pepatah “alah bisa karena biasa”, maka pelaksana layanan literature review di Perpustakaan BRIN sudah terbiasa dan hafal dengan7 disiplin ilmu tiap-tiap e-resources. Dalam konteks penelitian yang hendak mengetahui informasi tentang peran Scispace, pencarian literatur oleh pustakawan dilakukan melalui Scispace. Query yang menjadi landasan pencarian literatur merupakan kata kunci yang sudah disetujui oleh pengusul layanan. Pustakawan dapat memanen data literatur menggunakan seluruh database dari Scispace sebab Scispace yang digunakan oleh Perpustakaan BRIN merupakan Scispace premium. 4.2.2 Mencari dan Memilih Literatur Setelah memasukkan query ke dalam kotak pencarian literatur Scispace, akan muncul beberapa literatur yang dinilai sesuai (Gambar 4). Uniknya, terdapat narasi singkat beberapa kalimat semacam prolog sebelum sampai ke daftar literatur. Terdapat footnote di beberapa kalimat yang jika diklik, tampilan Scispace akan bergerak ke daftar literatur sesuai nomor footnote tersebut. Namun, ini tidak berarti bahwa semua daftar literatur memiliki footnote (dalam prolog). Narasi singkat tersebut merupakan insight dari literatur yang dinilai paling paling relevan oleh Scispace yang biasanya muncul di lima deret bagian paling atas. Senada dengan Jain et al. (2024) yang menyatakan bahwa salah satu tantangan terbesar dari komunitas riset ilmiah ialah mencari artikel yang tepat di antara banyaknya literatur ilmiah, kehadiran Scispace ini tentu sangat membantu dalam mencari artikel yang sesuai di tengah banyaknya sumber informasi ilmiah yang tersedia. Gambar 4. Proses pencarian literatur menggunakan Scispace Sumber: Data primer, rekaman observasi dan wawancara (25 Maret 2024) Daftar literatur yang dihasilkan oleh Scispace tidak hanya berupa judul saja, melainkan juga dilengkapi dengan pencarian beberapa kolom spesifikasi penelitian, seperti ringkasan abstrak, tinjauan literatur, metode penelitian, hasil, simpulan, batasan, saran, dan rekomendasi. Hal yang menarik, kolom-kolom ini bisa ditentukan sendiri oleh pengguna. Terdapat fitur pemilihan kolom di kiri atas daftar literatur yang dapat dipilih. Selain itu, jika bagian penelitian yang dikehendaki oleh pustakawan tidak sesuai dengan pilihan kolom dalam fitur tersebut, pustakawan dapat membuat kolom yang dikehendaki pada bagian “my columns” di sisi paling kanan di deretan literatur. Ada lagi cara yang dapat dilakukan oleh petugas layanan untuk memperoleh informasi lebih mendetail terkait satu literatur, yakni melalui bantuan co-pilot Scispace. Pelaksana layanan dapat mengetik apapun terkait informasi yang ingin diketahui lebih lanjut dari artikel yang ditampilkan oleh Scispace. Co-pilot dalam Scispace bertindak layaknya pustakawan referensi dalam sebuah perpustakaan. Ia ibarat AI assistant yang ditanam dalam Scispace untuk membantu pustakawan menyarikan/mengabstraksi lebih jauh lagi terkait bagian dari suatu artikel (McKenna et al., 2023). Hasil atau jawaban dari co-pilot ini pun juga real time. Dari sejumlah literatur yang ditampilkan dalam Scispace, beberapa di antaranya akan dipilih oleh pelaksana layanan berdasarkan kecocokan atau kesesuaian isi artikel dengan kata kunci atau penelitian yang hendak dilakukan oleh pemustaka. Melalui Scispace, pustakawan tidak perlu lagi membaca kata demi kata dalam satu artikel untuk mengetahui isi dari artikel tersebut. Ini karena informasi mengenai isi artikel mulai dari abstrak, tinjauan literatur, metode, hasil dan pembahasan serta kesimpulan sudah disarikan secara langsung oleh Scispace sehingga pustakawan tinggal melihat inti sari dari tiap-tiap artikel. Berdasarkan SOP untuk satu kegiatan layanan pustaka, tahap mencari dan memilih literatur ini dikerjakan dalam waktu 5,5 jam atau kurang lebih satu hari kerja. Hal ini sejalan dengan pernyataan kedua informan yang membutuhkan waktu satu hari untuk mencari dan memilih artikel dari satu kegiatan layanan literature review. Menurut mereka, saat ini tahap untuk mencari dan memilih literatur sudah sangat cepat dengan aplikasi Scispace. “Kalau sekarang sudah lebih cepat, (mencari dan memilih artikel) bisa dikerjakan hanya dalam waktu satu hari. Kalau dulu sebelum Scispace digunakan, (tahap mencari dan memilih artikel) bisa sampai satu minggu (lima hari kerja).” (P2, wawancara, 29 April 2024) Berdasarkan pengalaman dan perspektif tersebut, dapat dikatakan bahwa Scispace sangat membantu pelaksanaan layanan literature review di Perpustakaan BRIN. Hal ini sesuai dengan konsep Scispace yang saat ini banyak digunakan untuk menyederhanakan dan mengembangkan proses pembacaan serta pemahaman artikel-artikel dalam jurnal penelitian (Jain et al., 2023). Setelah muncul beberapa artikel dalam Scispace terkait query yang dimasukkan, pelaksana layanan akan memilih sejumlah artikel untuk ditelaah. Tidak ada standard khusus untuk jumlah artikel yang dipilih. Namun menurut informan, rata-rata sekitar 20 jurnal, kecuali jika ada permintaan khusus dari pengusul terkait jumlah artikel. Selanjutnya, artikel dari Scispace yang sudah dipilih tersebut akan diekspor dalam bentuk csv dan diambil menggunakan Microsoft Excel untuk menampilkan data-datanya dalam bentuk descriptive literature review serta diekspor ke reference manager seperti Mendeley atau Zotero sebagai data dukung pembuatan sumber referensi dalam narrative literature review. 4.3 Kelebihan dan Kekurangan Scispace Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat dikatakan bahwa Scispace memiliki beberapa kelebihan, khususnya jika dikaitkan dengan proses pencarian dan pemilihan literatur dalam layanan literature review. Pertama, Scispace telah menyediakan abstraksi dari setiap artikel yang ia tampilkan berdasarkan query yang diketikkan oleh pustakawan yang bertindak sebagai pelaksana layanan. Abstraksi tersebut berisi tentang bagian dari tiap-tiap sistematika artikel mulai dari abstrak, tinjauan literatur, metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan, batasan penelitian hingga rekomendasi yang diberikan oleh tiap artikel. Bahkan dengan bantuan co-pilot yang sudah disematkan dalam Scispace, pustakawan juga dapat mencari tahu tentang abstraksi dari suatu informasi yang lebih mendetail mengenai spesifikasi khusus dalam satu artikel (McKenna et al., 2023). Sebagai contoh, menjelaskan data temuan berdasarkan perhitungan rumus tertentu yang digunakan dalam sebuah artikel. Kedua, Scispace dapat mempercepat layanan literature review di Perpustakaan BRIN, khususnya pada saat pencarian dan pemilihan papers yang sesuai dengan penelitian yang hendak dilakukan. Hal ini senada dengan tulisan Jain et al. (2023) yang mengungkapkan bahwa hasil pencarian artikel ilmiah oleh Scispace sangatlah real-time sehingga pencarian literatur yang sesuai dapat dilakukan dengan lebih cepat ketimbang cara tradisional. Akselerasi dari segi waktu ini terjadi karena adanya pemangkasan waktu dalam hal pembacaan terhadap semua artikel secara keseluruhan oleh pelaksana layanan. Hal ini sesuai dengan tagline Scispace yang tertulis dalam laman resminya (typeset.io pada 28 Juni 2024), “Do hours worth of reading in minutes”. Scispace telah menyediakan abstraksi informasi mengenai substansi artikel dalam kolom-kolom yang dapat dikustomisasi berdasarkan sistematika artikel ilmiah, mulai dari abstrak hingga kesimpulan sehingga pustakawan dapat langsung mengetahui isi paper dari abstraksi ini. Berbeda dengan layanan literature review sebelumnya oleh Perpustakaan BRIN pada saat Scispace belum diterapkan. Pada saat itu, pustakawan harus membaca satu per satu artikel yang ditemukan lalu melakukan abstraksi atau rangkuman secara manual dari bagian artikel mulai dari abstrak hingga kesimpulan. Tahap pencarian dan pemilihan literatur tanpa menggunakan Scispace memerlukan waktu lima hari kerja. Dengan Scispace, tahap ini bisa dilakukan hanya dalam waktu 5,5 jam atau kurang lebih satu hari kerja. Itulah sebabnya Scispace sangat membantu akeselerasi waktu layanan literature review di Perpustakaan BRIN, khususnya dalam tahap pencarian dan pemilihan literatures. Ketiga, informasi mengenai substansi artikel yang telah disediakan oleh Scispace sangat membantu dalam memahami isi artikel dengan lebih akurat. Akurasi ini dipengaruhi oleh sisi pengguna, dalam hal ini pustakawan, yang memiliki latar belakang pendidikan serta tingkat kemahiran berbahasa Inggris yang berbeda-beda. Pustakawan yang memiliki keilmuan tentang perpustakaan terkadang juga agak kewalahan untuk mencari literatures dengan keilmuan yang berbeda, seperti ekonomi, biologi, ataupun fisika. Dengan menggunakan tool Scispace ini upaya untuk mencari literatures yang berbeda dengan latar belakang keilmuan pustakawan menjadi dapat tertangani. Di samping itu, diakui oleh salah seorang informan bahwa durasi waktu yang dihabiskan untuk membaca satu artikel secara manual terkadang dapat memengaruhi level konsentrasi pustakawan. Hasilnya, lama-kelamaan bisa jadi pembacaan terhadap artikel pun menjadi kurang fokus. Scispace mampu mengatasi persoalan ini dengan menyediakan hasil rangkuman yang tetap stabil walau banyak artikel yang telah ia “baca”. Begitu juga dengan tingkat kemahiran berbahasa Inggris tiap pustakawan yang bertugas sebagai pelaksana layanan yang juga berbeda-beda sehingga proses pemahaman yang dilakukan terhadap artikel asing yang sama oleh beberapa pustakawan pun hasilnya bisa berbeda pula. Fitur pemilihan bahasa yang dapat di-setting dalam Scispace dapat mengurai persoalan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh McKenna et al. (2023) menyimpulkan bahwa terdapat dukungan beberapa bahasa yang disematkan dalam Scispace. Pemilihan bahasa Indonesia pada Scispace pada akhirnya sangat membantu para pelaksana layanan untuk membaca hasil abstraksi suatu artikel dengan level pemahaman yang sama sebab disajikan dalam bahasa native pustakawan. Itulah mengapa masih menurut (McKenna et al., 2023) Scispace ini sangat membantu pengguna yang merupakan nonnative English speakers, seperti warga negara Asia dan Afrika, dalam meningkatkan produktivitas penelitian. Meski demikian, Scispace masih memiliki beberapa kekurangan walau tidak mendasar. Pertama, fitur import di fitur reference manager (Zotero) tidak efektif jika menggunakan akun bersama (sharing account). Menurut penuturan informan, proses import yang dilakukan ke Zotero akan selalu gagal jika menggunakan akun bersama sebab metadata artike-artikel tersebut tidak bisa dipanggil kembali/tidak muncul. Metadata artikel-artikel tersebut sepertinya malah tersimpan ke akun pribadi yang sebelumnya pernah digunakan sehingga untuk Scispace yang digunakan dengan menggunakan akun bersama sebaiknya proses import ke Zotero ini dihindari. Kedua, proses abstraksi dari database yang berasal dari e-resources lain (tidak dari Scispace) ke Scipace yang dilakukan secara serentak perlu dibaca ulang sebab hasilnya berpotensi untuk tidak selalu valid. Mengetahui hal ini, pelaksana layanan sedapat mungkin menghindari proses abstraksi seluruh artikel—yang diambil dari database lain—secara bersamaan. Sebaliknya, prosesnya harus dilakukan satu demi satu.

Conclusion

Scispace mampu mengoptimasi kebutuhan layanan literature review, terutama dalam tahap pencarian dan pemilihan literatur. Di Perpustakaan BRIN, pemanfaatan Scispace sangat membantu para pustakawan memperoleh informasi guna keperluan penelitian dan penulisan artikel ilmiah yang dilakukan oleh para pemustakanya. Pemanfaatan fitur-fitur utama pada Scispace yang mampu mengabstraksi bagian-bagian dari sistematika sebuah paper, seperti abstrak, latar belakang penelitian, tinjauan literatur, metode, hasil dan pembahasan hingga kesimpulan, sangat membantu pustakawan yang bertindak sebagai pelaksana layanan literature review dalam melakukan pekerjaannya. Abstraksi otomatis yang dilakukan oleh Scispace tersebut terbukti mampu memangkas waktu pencarian dan pemilihan literatur. Pelaksana layanan tidak perlu lagi membaca satu per satu artikel secara keseluruhan untuk mengetahi isi dan bagian spesifik suatu literatur sebab informasi mengenai hal tersebut telah dilakukan oleh Scispace dan hasilnya tinggal dibaca oleh pustakawan. Akurasi yang disediakan oleh Scispace juga sangat membantu pustakawan dalam melaksanakan proses layanan literature review. Perbedaan latar belakang pendidikan pustakawan serta perbedaan tingkat kemahiran berbahasa asing (Inggris) sudah tak menjadi soal dalam upaya mencari tahu informasi mengenai isi dari setiap literatur. Scispace adalah solusi untuk persoalan ini sebab bahasa dalam Scispace dapat di-setting sesuai kebutuhan para penggunanya. Sebagai sebuah teknologi hasil dari olah pikir manusia, Scispace juga memiliki kekurangan meskipun tidak terlalu mendasar. Hal ini tentu menjadi satu pertimbangan khusus ke depan bagi produsen dan konsumen Scispace dalam memproduksi serta memanfaatkan teknologi ini. Sebagai sebuah produk yang pasti tak luput dari kekurangan maka pengguna harus terus berhati-hati dan waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi sebagai dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan teknologi Scispace ini. Menilik dari hasil kajian, pemanfaatan teknologi Scispace sangat mungkin untuk dimanfaatkan oleh para pengelola perpustakaan dalam menunjang layanan literature review-nya, utamanya perpustakaan khusus dan perguruan tinggi dengan pemustaka yang sangat dekat dengan kegiatan penelitian serta penulisan artikel ilmiah. Fitur-fitur pada Scispace yang dapat dimanfaatkan secara maksimal ini diharapkan dapat membantu terwujudnya tulisan ilmiah dengan kualitas yang lebih mumpuni. Kegiatan ini diharapkan akan mampu memacu akselerasi jumlah publikasi ilmiah yang berkualitas sehingga dapat mendongkrak peningkatan daya saing bangsa. Selain itu, spektrum pemanfataan Scispace ini sangatlah luas. Di samping untuk layanan literature review di perpustakaan, Scispace ini juga sangat sesuai jika dimanfaatkan oleh lembaga informasi lain yang bergerak di bidang penelitian, akses informasi, serta penulisan dan publikasi. Dengan berbagai fitur dan fungsi yang ditawarkan, Scispace dapat membantu memperluas akses informasi, meningkatkan efisiensi dalam manajemen referensi, dan mendukung kolaborasi serta berbagi pengetahuan di antara peneliti. Dalam rangka menumbuhkembangkan proses kreasi dan inovasi di bidang layanan perpustakaan serta untuk memperluas jangkauan pengetahuan dalam bidang layanan perpustakaan yang mampu menunjang kebutuhan para pemustakanya di bidang riset dan penulisan ilmiah, diperlukan banyak sekali kajian. Kegiatan penelitian semacam ini selain dapat memberi manfaat dari segi praktik, juga akan memperkaya khazanah akademik melalui penyediaan literatur nasional di bidang terkait yang hingga saat ini jumlahnya masih sangat terbatas. Hal ini, pada akhirnya, tidak hanya berpeluang untuk meningkatkan produktivitas penelitian, tetapi juga mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan dan inovasi.