PERANGKAP HAMA UNTUK ARSIP DI KANTOR UNIT PENGELOLA KEGIATAN (UPK) KECAMATAN KOTO IX TARUSAN
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
The purpose of this paper is to explain the process of making the trap pests in the maintenance of the archive against the head and members of the Office Unit Manager (UPK) Activity Sub Koto XI Tarusan. The creation of this pest trap aimed at keeping the archives from damage caused by insects.The method used is descriptive method. Data collected through direct research, based on the facts that happened on the field Unit Office Manager (UPK) Activity Sub Koto XI Tarusan. Observations were made during 10 days.Based on the results of the study it was concluded that to prevent insects breeding there is no longer carried out fumigation, simply by mounting the trap pests in archives. The materials and tools used in pembutan this pest trap is a simple tool and material. This is because there are a lot of advantages derived from the making of this pest traps, traps the pest has no effect against damage to archives, and does not require special treatment because once created enough placed on shelves hung way archives that have been given a nail, a distance which is not far from the surface of the floor then the insects will go by itself.
Keywords:
Manufacture Of Trap Pests
Introduction
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 Pasal 1 Angka 2 Tentang Kearsipan, arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga, negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Arsip merupakan setiap catatan, baik tertulis maupun tercetak yang dijadikan bahan pertanggung jawaban mengenai suatu pokok persoalan yang dibuat dan dijadikan bukti. Sesuai dengan UndangUndang tersebut salah satu bentuk arsip, yaitu ijazah. Arsip-arsip di Kantor Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Koto XI Tarusan telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh berbagai faktor perusak arsip. Faktor perusak arsip yang besar disebabkan oleh faktor biota seperti serangga. Serangga semakin mudah berkembang biak disebabkan suhu pada ruangan penyimpanan arsip lembab, gelap, dan sirkulasi udara yang tidak sempurna. Kepala Kantor Unit Pengelola Kegiatan Kecamatan Koto XI Tarusan memelihara dan merawat arsip dengan menggoreskan kapur ajaib di dinding ruangan arsip. Hal ini telah dilakukan untuk menyelamatkan arsip dari hama perusak arsip. Selama pemakaian kapur ajaib yang digoreskan di dinding ruangan arsip, tindakan ini tetap tidak mempengaruhi perkembangan hama yang ada di ruangan arsip. Jadi berbagai tindakan untuk mencegah datangnya kembali hama sangat diperlukan. Olehkarenaituperlu dirancang dan dikembangkanperangkap hama untuk arsipdengan bahan dan alat yang sederhana, serta biaya yang relatif lebih murah. Jika serangga perusak arsip dapat dibasmi, maka arsip akanaman dari kerusakan yang disebabkan oleh serangga, sehingga arsip dapat digunakan untuk kepentingan jangka panjang. Dalam tulisan ini dibahas tentang perangkap hama untuk arsip di Kantor Unit PengelolaKegiatan (UPK) Kecamatan Koto XI Tarusan. Menurut Pracaya (2008:295) perangkap prinsip dasarnya adalah menjebak hama menggunakan pemikat tertentu. Jadi, perangkap adalah suatu cara yang digunakan untuk menjebak hama menggunakan pemikat tertentu agar jebakan berhasil menarik perhatian mangsa untuk mendekatinya. Perangkap dapat dibuat dengan memberi umpan sesuatu yang disukai hama. Perangkap ada yang dibuat berdasarkan warna, cahaya, aroma, dan rasa yang disukai hama. Menurut Dewiimas (2011:2) cairan yang ditambahkan dalam pembuatan perangkap hama adalah air gula merah. Air gula merah yang bertujuan untuk menarik serangga. Gula merah dimanfaatkan agar fungus barselyang dihasilkan dari proses fermentasi ragi akan mudah bekerja bila ditambahkan dengan gula merah dan kondisi suhu yang hangat. Gas karbon dioksida yang dihasilkan dari gula merah dan fermentasi ragi merupakan senyawa kimia yang paling menarik serangga. Semakin banyak karbon dioksida, semakin banyak pula serangga yang terperangkap. Jadi, gula merah dianggap tepat dalam pembutan perangkap hama kerena jika telah dicampur dengan karbon dioksida maka gula merah akan mengeluarkan aroma yang sangat disukai serangga. Aroma dari gula merah akam membuat serangga tertarik untuk masuk dalam perangkap hama. Warna gula merah kecoklatan juga disukai oleh serangga. Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2010:115) madu memiliki efek sedatif sehingga dapat menyebabkan tidur nyenyak. Di dalam tubuh, madu dimetabolisasi seperti halnya gula sehingga menyebabkan kadar snotonin (suatu senyawa yang dapat meredakan aktivitas otak) dalam otak meninggi yang menginduksi pada relaksasi dan keinginan untuk tidur. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahawa madu merupakan nektar bunga yang dihasilkan oleh lebah. Madu mempunyai aroma serta rasa manis yang khas. Walaupun madu memiliki rasa manis, tetapi madu sangat berbeda dengan gula. Jika madu dipanaskan aroma madu akan menjadi lebih kuat. Hal ini tetap tidak akan mengubah bentuk madu dari warna aslinya meskipun madu telah dipanaskan hingga mendidih dan madu juga dapat membuat tidur menjdi lebih nyenyak. Kapur ajaib merupakan racun insektisida kontak. Menurut Untung (1996:198) racun insektisida kontak memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan di atas permukaan tanaman yang telah terkandung insektisida. Insektisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. Jadi, apabila tubuh serangga menyentuh serbuk kapur ajaib maka sistem syarafnya akan kehilangan fungsi dan dalam waktu 4 jam, tubuh serangga tidak akan dapat bergerak dan setelah 10 jam serangga akan mati. Jadi, kapur ajaib termasuk jenis insektisida yang dapat membunuh serangga seperti lipas, semut dan sebagainya tanpa mengakibatkan polusi meskipun telah dipotong-potong dan dihancurkan.
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian pada makalah ini adalah metode deskriptif dan pengumpulan data melalui pengamatan langsung atau observasi. Observasi dilakukan dengan cara mengamati proses pembuatan perangkap hama hingga mengamati hasil akhir dari manfaat perangkap hama. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang akan dibuat.
Discussion
Perangkap hama untuk arsip digunakan untuk menjebak serta membunuh serangga perusak arsip yang ada di dalam ruangan arsip. Wadah yang digunakan untuk membuat perangkap hama, yaitu botol plastik. Cairan yang digunakan untuk mengisi botol perangkap hama adalah cairan yang memiliki rasa manis, dan aroma yang disukai oleh serangga. Aroma yang keluar dari dalam botol perangkap dapat menarik perhatian serangga untuk masuk dalam perangkap. Pembuatan perangkap menggunakan insektisida kontak dapat membunuh serangga yang masuk ke dalam perangkap. 1. Alat dalam Pembuatan Perangkap Hama untuk Arsip Alat yang digunakan dalam pembuatan perangkap hama untuk arsip, yaitu: (1) wajan merupakan salah satu alat masak yang berbahan baja yang digunakan sebagai wadah untuk memasak larutan perangkap hama; (2) kompor; (3) saringan merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan antara zat cair dan zat padat yang masih tersisa dalam larutan; (4) botol plastik; (5) pisau merupakan alat yang digunakan untuk membuat celah yang berbentuk lancip pada botol plastik; (6) tali merupakan alat yang digunakan untuk mengikat botol plastik di bagian leher botol; (7) paku merupakan alat yang digunakan untuk menggantung botol pada rak arsip; dan (8) palu merupakan alat yang digunakan untuk menghaluskan kapur serta memasangkan paku pada rak arsip. 2. Bahan dalam Pembuatan Perangkap Hama pada Arsip Takaran bahan yang digunakan dalam pembuatan perangkap hama untuk arsip, yaitu (1) gula merah 1 ons;(2) air bersih250 ml; (3) madu 2 sendok makan; (4) air tapai 150 ml;(5) kapur ajaib 2 batang. 3. Proses Pembuatan Perangkap Hama untuk Arsip Proses pembuatan perangkap hama tidak membutuhkan waktu yang lama. Proses atau cara dalam pembuatan larutan untuk merangkap hama yang dapat merusak arsip yaitu: (1) panaskan gula merah dengan air 250 ml aduk hingga gula merah mencair dan larut dengan air; (2) Jika gula merah telah benar-benar larut dengan air, masukkan madu dua sendok makan dan campurkan air tapai 150 ml ke dalam larutan tersebut sambil diaduk hingga mendidih; (3) sementara menunggu larutan dingin, haluskan kapur ajaib hingga benar benar halus; (4) jika larutan telah benar-benar dingin, masukkan kapur ajaib yang telah dihaluskan ke dalam larutan tersebut; (5) kemudian saring larutan dengan saringan agar sisa-sisa larutan dapat dibuang; (6) siapkan botol yang telah diberi jendela dengan ukuran panjang 4 cm dan lebar 2 cm dengan potongan lancip ke arah bawah sebanyak 3 jendela; (7) selanjutnya masukan larutan ke dalam botol sebanyak 50 ml dan tutup bagian atas botol yang telah diberi jendela; (8) beri tali pada bagian kepala botol agar botol dapat digantungkan pada rak arsip yang telah dipasang paku; (9) jika telah selesai perangkap hama untuk arsip telah siap untuk di letakkan pada ruangan arsip. Perangkap hama diletakkan tidak jauh dari permukaan lantai, kurang lebih berjarak 30cm dari permukaan lantai ruangan arsip. Setelah pemasangan perangkap pada rak arsip, perhatikan jangan sampai celah untuk masuk serangga yang ada pada botol tertutup agar serangga dapat masuk dalam perangkap hama dengan mudah. 4. Pemasangan Perangkap di Ruangan Penyimpanan Arsip Arsip-arsip di Unit Pengelola Kegiatan Kecamatan Koto IX Tarusan disimpan pada ruangan yang kurang baik. Selain ukuran ruangan yang kecil, ruangan penyimpanan arsip juga gelap. Suhu pada ruangan arsip kurang diperhatikan, lembabnya suhu ruangan arsip pada Unit Pengelola Kegiatan Kecamatan Koto IX Tarusan ini dapat dengan mudah membuat serangga berkembang biak. Pemasangan perangkap hama di ruangan arsip perlu dilakukan guna mencegah perkembangbiakan hama serangga perusak arsip. Pemasangan perangkap hama cukup mudah. Perangkap cukup digantung pada rak arsip. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1 Pemasangan Perangkap Hama Perangkap dipasang dengan cara digantung pada paku yang telah dipasangkan pada rak arsip. Setelah perangkap hama diletakkan pada rak arsip, perangkap dibiarkan hingga serangga perusak arsip masuk dengan sendirinya. Larutan perangkap dapat diganti seminggu sekali. Larutan lama yang telah dimasuki serangga dapat dibuang lalu masukkan larutan yang baru dalam botol perangkap hama. Kemudian letakkan kembali perangkap hama pada tempat yang sama. 5. Hasil Pengamatan Perangkap Hama di Ruangan Penyimpanan Arsip Pengamatan perangkap hama untuk arsip dilaksanakan selama sepuluh hari. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama sepuluh hari, pemasangan perangkap hama untuk arsip di Kantor Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Koto IX Tarusan. Diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut. Pertama, pengamatan pertama dilakukan setelah lima hari pemasangan perangkap hama di ruangan arsip. Selama lima hari pemasangan perangkap hama serangga yang masuk dalam perangkap hama, yaitu semut dan nyamuk. Semut dan nyamuk yang masuk dalam perangkap hama telah mati. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2 Hasil Pengamatan Pertama Kedua, pengamatan kedua dilakukan setelah sepuluh hari pemasangan perangkap hama di ruangan arsip. Selama sepuluh hari pemasangan perangkap hama serangga yang masuk dalam perangkap hama, yaitu semut, nyamuk, dan lipas. Serangga yang masuk dalam perangkap mati. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 3 Hasil Pengamatan Kedua Alat dalam pembuatan perangkap hama sangat sederhana. Pembuatan perangkap hama menggunakan botol plastik ukuran 600 ml. Perangkap dapat juga dibuat menggunakan botol yang ukurannya lebih besar. Penggunaan botol perangkap yang besar ini membuat serangga lebih mudah masuk dalam perangkap. Hal ini disebabkan oleh botol perangkap yang besar, celah pada botol dapat dibuat dengan ukuran yang besar pula. Aroma dari botol perangkap akan mudah dicium oleh serangga jika pembuatan perangkap menggunakan botol yang tidak terlalu tinggi. Penggunaan kapur ajaib pada larutan perangkap hama untuk arsip digunakan karena kapur ini merupakan insektisida kontak. Insektisida kontak masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. Apabila serangga menyentuh maupun memakan racun kontak ini maka racun tersebut akan memasuki tubuh serangga melalui saluran pencernaan. Lama kelamaan serangga yang terperangkap akan mati. Proses pembuatan perangkap hama ini tidak membutuhkan tenaga khusus (ahli). Perangkap hama dapat dibuat oleh arsiparis manapun. Proses pembuatan perangkap hama juga tidak menggunakan waktu yang lama dalam pembuatannya. Pembuatan larutan perangkap hama akan lebih cepat masak apabila api kompor tetap stabil. Selama proses pembuatan larutan perangkap hama, larutan tersebut cukup diaduk hingga semua bahan larut dan mendidih, serta mengeluarkan aroma yang khas dari bahan-bahan yang digunakan tersebut. Perangkap hama dipasang dengan cara digantung menggunakan tali pada rak arsip. Penempatan perangkap dengan cara digantung ini bertujuan agar larutan tidak tumpah mengenai arsip. Perangkap digantung dengan jarak yang tidak terlalu tinggi dari permukaan lantai. Pemasangan perangkap yang tidak terlalu tinggi bertujuan agar serangga tidak sulit masuk dalam perangkap hama tersebut.
Conclusion
Bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan perangkap hama merupakan bahan dan alat yang sederhana serta mudah didapatkan. Pembuatan perangkap hama juga tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuatnya. Penempatan perangkap hama cukup dengan cara digantung pada rak arsip yang telah diberi paku dengan jarak yang tidak jauh dari permukaan lantai maka serangga akan masuk dengan sendirinya. Untuk mencegah berkembangbiaknya serangga tidak perlu lagi dilakukan fumigasi tapi cukup dengan pemasangan perangkap hama di ruangan arsip. Hal ini disebabkan oleh keuntungan yang didapatkan dari pembuatan perangkap hama ini di antaranya, perangkap hama tidak berpengaruh terhadap kerusakan arsip, dan tidak memerlukan perlakuan khusus karena setelah dibuat cukup ditempatkan pada rak arsip. Berdasarkan simpulan tersebut, disarankan kepada Kepala Kantor Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Koto IX Tarusan agar: (1) menanamkan arti penting arsip bagi semua anggota; (2) penggunaan ruangan tempat penyimpanan arsip harus lebih diperhatikan lagi; (3) pemeliharaan dan perawatan arsip hendaknya lebih diperhatikan agar arsip dapat terhindar dari kerusakan, terutama kerusakan yang disebabkan oleh serangga; (4) hendaknya pemasangan perangkap hama perlu dilakukan untuk melindungi arsip dari kerusakan yang disebabkan oleh serangga.