Kembali
16
1
2019 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 8 · 1 Seri D ISSN 2302-3511

PAKET INFORMASI LITERASI BUDAYA DI PERKAMPUNGAN NELAYAN KAMPUNG BATU, BATANG ARAU, PADANG SELATAN, KOTA PADANG

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

This paper discusses the creation of a cultural literacy information package at Kampung Batu Fisheries Village, Batang Arau, Padang Selatan, Padang City. The purpose of this paper is to describe the process of creating a Cultural Literacy Information Package at Kampung Batu Fisheries Village, Batang Arau, Padang Selatan, Padang City. This research uses a descriptive method. Data was collected through literature review and direct observation and interviews with the Chairperson of RW, Fishermen and Community Leaders at Kampung Batu Fisheries Village, located in RW II, Batang Arau Sub-District, Padang Selatan District, Padang City. The information package is made through five stages. (1) Determining topics and types of packaging information packages, the topics raised were Cultural Literacy at Kampung Batu Fisheries Village, Batang Arau, Padang Selatan, Kota Padang; (2) Collection of information carried out by means of literature searches and interviews and direct observations to Kampung Batu Fisheries Village; (3) Analysis of the results of information gathering, it is known that things considered important as builders of the cultural identity of fishing communities such as gender systems, patron-client relations, patterns of resource exploitation, and social leadership; (4) Information packaging, carried out by presenting information that has been obtained from the collection of information in the form of information packages; (5) Evaluation of information packages carried out by submitting questionnaires to respondents and note that 92.4% of respondents strongly agree that information packages on cultural literacy are interesting, are informative and have use values.
Keywords: information package · cultural literacy · fisherman

Introduction

Indonesia merupakan negara yang memiliki begitu banyak ragam suku bangsa yang melahirkan begitu banyak macam budaya. Setiap daerah pasti memiliki budaya yang berbeda sebagai ciri khas dari daerah itu sendiri. Menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia, dan banyak orang-orang berpendapat budaya diwariskan turun temurun, merupakan alasan begitu pentingnya budaya di suatu tempat atau daerah. Menurut Koentjaraningrat (dalam Sumarwanto 2010:16) budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar. Budaya dan kebudayaan seperti sebuah piramida berlapis tiga. Lapisan diatas adalah hal-hal yang dapat dilihat kasat mata seperti bangunan , pakaian, tarian, musik, teknologi, dan barangbarang lain. Lapisan tengah adalah perilaku, gerak-gerik, adat-istiadat yang sering kali juga dapat dilihat. Lapisan bawah adalah kepercayaan-kepercayaan, asumsi dan nilai-nilai yang mendasari lapisan diatasnya. Sementara Menurut Saliyo (2012:26) Kebudayaan adalah segala hal yang dimiliki oleh manusia yang hanya diperoleh dengan belajar dan menggunakan akalnya. Manusia dapat berkomunikasi, berjalan karena kemampuannya untuk berjalan dan didorong oleh nalurinya serta terjadi secara alamiah. Berkomunikasi dengan berbagai bahasa dan berjalan seperti prajurit ataupun peragawati hanya dapat dilakukan dengan belajar dan memanfaatkan akalnya. Oleh karena itu, berkomunikasi dengan bahasa jawa ngoko, krama inggil, bahasa Indonesia, Inggris, dan berjalan bagaikan prajuritataupun peragawati adalah kebudayaan. Budaya juga bisa timbul karena pengaruh lingkungan tempat mereka tinggal. Salah satu lingkungan tersebut adalah pesisir pantai. Masyarakat pesisir merupakan kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan sebagain besar masyarakat bekerja sebagai nelayan. Menurut Ginkel dalam Kusnadi (2014:1) sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, danberkembang diwilayah pesisir pantai. Budaya nelayan menjadi identitas bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Perkampungan Nelayan Kampung Batu berada di RW II Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan Kota Padang adalah perkampungan yang mayoritas penduduknya bermukim di lereng bukit. Jumlah penduduk di Kelurahan batang Arau pada saat ini sudah mencapai 4.293 jiwa. Terdiri dari 1.027 kepala keluarga (KK) laki-laki dan 218 KK perempuan. Rata-rata pendidikan di Kampung Batu adalah tamatan SLTP. Penduduk disana memanfaatkan tempat tinggal mereka yang berada di pesisir pantai dengan berprofesi sebagai nelayan tradisional. Budaya yang dimiliki oleh para nelayan dapat dilihat dari lingkungan sosial, masyarakat, kebiasaan, perilaku dan sebagainya yang harus ditanamkan oleh semua nelayan karena budaya merupakan warisan turun-temurun yang harus dilestarikan. Tetapi kenyataannya dalam era modernisasi saat ini budaya tersebut sudah berangsur pudar bahkan hilang, karena banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia dan mempengaruhi pola pikir masyarakat. Budaya asing ada yang membawa pengaruh positif namun juga ada pengaruh negatif. Namun yang sangat memprihatinkan masyarakat kurang bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Salah satu dampak baiknya adalah nelayan yang dulu hanya menggunakan sampan dan perahu yang menggunakan tenaga manusia, sekarang sudah beralih menggunakan perahu atau kapan yang digerakkan oleh mesin, sehingga dapat menghemat tenaga dan waktu. Sedangkan dampak buruknya seperti menangkap ikan menggunakan pukat harimau yang dapat merusak biota-biota yang ada di laut. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah literasi budaya untuk memperkenalkan kembali identitas budaya yang sebenarnya. Dalam hal ini budaya-budaya yang terdapat dilingkungan nelayan merupakan identitas tersendiri bagi masyarakatnya, adapun bagian atau aspek yang dipandang penting sebagai pembangunan identitas kebudayaan masyarakat nelayan antara lain: sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola eksploitasi sumberdaya, dan kepemimpinan sosial. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2017:3) literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Kemampuan untuk memahami keberagaman dan tanggung jawab warga negara sebagai bagian dari suatu bangsa merupakan kecakapan yang patut dimiliki oleh setiap individu di abad ke-21 ini. Oleh karena itu, literasi budaya penting diberikan di tingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat. Literasi budaya tidak hanya menyelamatkan dan mengembangkan budaya nasional, tetapi juga membangun identitas bangsa Indonesia di tengah masyarakat global. Dalam memperkenalkan sebuah literasi budaya baik ditingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat, upaya yang dapat dilakukan adalah menginformasikan kepada masyarakat dengan cara melalui media cetak maupun noncetak. Adapun salah satu media informasi berbentuk cetak adalah dengan cara menyajikan suatu informasi yang dikemas khusus untuk menjadi bahan bacaaan bagi masyarakat, informasi yang dikemas dapat berupa paket informasi. Menurut Lasa (2009:225) paket informasi ialah penyediaan informasi yang disesuaikan pada kebutuhan kelompok pemustaka seperti guru, kelompok pembaca, peneliti, kelompok informasi masyarakat dan lainnya. Penyusunan paket informasi ini dimaksudkan untuk mendekatkan informasi kepada pemustaka yang tepat. Menurut Agada (dalam Djamarin 2016:5) tujuan kemas ulang informasi adalah untuk menempatkan menemukan kembali, mengevaluasi, menginterpretasikan dan mengemas informasi tentang subjek tertentu dalam rangka efektivitas dan efesiensi waktu, tenaga, biaya yang semua diperuntukkan bagi pengguna. Sementara menurut Fatmawati (2014:2) tujuan kemas ulang informasi adalah untuk menyajikan informasi kedalam bentuk kemasan agar informasi tersebut lebih dapat diterima, lebih mudah dimengerti dan dimanfaatkan pengguna. Sementara menurut Nasihuddin (2016:97) produk kemasan informasi bertujuan dapat memudahkan pemustaka menemukan informasi yang spesifik sesuai dengan topik/ subjek literatur yang diinginkan. Karena informasi yang tercantum dalam kemasan informasi adalah informasi yang siap pakai dan mudah digunakan. Hal tersebut mempercepat pemilihan referensi untuk bahan karya tulis ilmiah dan memperkaya koleksi perpustakaan. Pengemasan sebuah informasi merupakan sebuah inovasi dan tantangan baru bagi pustakawan untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif lagi. Tidak hanya dalam menata dan menyusun buku di perpustakaan serta menarik minat pemustaka untuk datang ke perpustakaan, namun pustakawan diminta juga bisa mengahasilkan suatu produk informasi yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat. Adapun manfaat dari membuat sebuah paket infromasi adalah informasi yang disajikan lebih mengarah kepada satu subjek yang diambil sehingga data yang disajikan lebih rinci dan tepat. Selain itu, juga dapat menghemat waktu dan tenaga dalam mencari sumber informasi karena sudah dipaketkan.

Method

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Menurut Nazir (2011:54) deskriptif adalah metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.Data dikumpulkan melalui tinjauan literatur serta observasi dan wawancara secara langsung dengan Ketua RW, Nelayan dan Tokoh Masyarakat di Perkampungan Nelayan Kampung Batu yang berlokasi di RW II Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan Kota Padang.

Discussion

Adapun tahapan dalam pembuatan paket informasi literasi budaya di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, Batang Arau, Padang Selatan Kota Padang sebagai berikut. 1. Menetapkan Topik dan Jenis Kemasan Paket Informasi Topik merupakan salah satu komponen yang sangat penting ditentukan sebelum membuat sebuah karya tulis atau produk, topik adalah inti utama dari sebuah tulisan atau produk yang akan disampaikan . Tujuan menetapkan topik sebelum pembuatan produk adalah agar suatu tulisan atau produk yang dibuat terarah, memiliki maksud dan tujuan yang jelas dibuatnya suatu tulisan atau produk tersebut. Topik literasi budaya disebuah perkampungan nelayan ditetapkan sebagai inti utama dalam paket informasi ini, karena dengan mengenal literasi budaya, dapat membantu meningkatkan kemampuan dalam memahami identitas dari suatu bangsa atau daerah itu sendiri. Sementara dalam memilih tempat diperkampungan nelayan dapat melestarikan warisan budaya dari para nelayan tradisional yang berada di kampung tersebut, yang dapat diketahui bahwa budaya yang asli tersebut yang sudah mulai pudar dikalangan masyarakat bahkan tidak diketahui oleh generasi milenial saat ini. Dalam memperkenalkan budaya tersebut kepada masyarakat, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyajikan suatu informasi yang dikemas khusus untuk menjadi bahan bacaaan bagi masyarakat, informasi yang dikemas dapat berupa paket informasi. Sebelum membuat kemasan dari sebuah paket informasi, perlu ditetapkan jenis kemasannya terlebih dahulu, dalam hal ini harus ditentukan terlebih dahulu bentuk, struktur, materi, warna dan lain sebagainya. Dalam hal bentuk paket informasi ada yang berbentuk cetak dan noncetak, bentuk yang dipilih dalam pembuatan produk ini adalah paket informasi cetak. Sementara batasan materi dalam paket informasi ini adalah: 1) sekilas mengenal Batang Arau yang menjelaskan tentang asal usul nama-nama kampung di Kelurahan Batang Arau, budaya-budaya unik yang ada disana, sikap demokrasi masyarakat, dan masih banyak lainnya, sebagai informasi yang dapat menambah pengetahuan pengguna paket informasi ini;. 2) Kebudayaan Masyarakat Nelayan, sebagai informasi yang dapat mengingatkan kembali warisan budaya yang dimiliki secara turun temurun oleh para nelayan tradisional; 3) Kepiting katam atau bakau, sebagai informasi tentang hasil alam yang dimiliki Batang Arau; (4) Pesona Batang arau, sebagai informasi untuk memperkenalkan destinasi pariwisata yang ada di Batang Arau Padang Selatan Kota Padang. 2. Pengumpulan Informasi Pengumpulan informasi merupakan kegiatan penelusuran atau pencarian data yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebelumnya dan dapat dijadikan sebuah informasi pada sebuah produk. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan data melalui penelusuran kajian literatur yang terbagi ke beberapa bentuk. Literatur dalam bentuk cetak dapat dicari ke perpustakaan atau ke toko buku, sumber ini dapat berbentuk buku, jurnal, artikel dan lain sebagainya. Sementara, informasi juga bisa didapatkan secara cepat menggunakan penelusuran internet, sumber yang bisa dijadikan literatur di internet seperti buku elektronik, jurnal elektronik dan lain sebagainya. Selain dua cara tersebut, pengumpulan informasi juga bisa didapatkan melalui wawancara langsung dengan narasumber yang dianggap ahli dan mengetahui secara detail mengenai informasi yang berkaitan dengan topik yang telah ditentukan, serta dapat melakukan obeservasi dengan mendatangi tempat dilakukannya penelitian dan meneliti bukti-bukti dan hal yang bisa dijadikan informasi yang autentik dalam sebuah paket informasi. Dalam pembuatan paket informasi ini, cara pengumpulan informasi yang dilakukan oleh penulis antara lain. a. Wawancara dan Observasi Wawancara dan observasi dilakukan di Perkampungan Nelayan Kampung Batu yang berlokasi di RW II Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan Kota Padang. Sebelum melakukan wawancara hal-hal yang harus direncanakan terlebih dahulu adalah menetapkan topik wawancara, menentukan narasumber, dan menyusun daftar pertanyaan. Adapun orang yang dijadikan narasumber dalam wawancara ini adalah Bapak Musran selaku Ketua RW II Kampung Batu Kelurahan Batang Arau, Bapak Khairudin selaku Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Batang Arau, Bapak Anis dan Bapak Izhar selaku agen dan nelayan Buruh di Kampung Batu dan Batang Arau, serta Bapak Alwis Ray selaku tokoh masyarakat Batang Arau. Gambar 1. Persiapan para nelayan sebelum berangkat melaut Sementara, observasi merupakan pengumpulan data dengan cara melihat dan meneliti secara lansung ke tempat yang bersangkutan dan mendokumnetasikan hal-hal yang bisa dijadikan sebuah informasi yang terkait dengan topik. Informasi yang dikumpulkan melalui observasi dapat menentukan ke aslian informasi dalam paket informasi. Gambar 1 merupakan salah satu hasil observasi yang memperlihat persiapan yang dilakukan nelayan tradisional sebelum berangkat melaut menangkap ikan. b. Penelusuran Literatur Setelah melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara dan observasi secara langsung di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, hal yang dilakukan selanjutnya adalah menelusuri literatur agar data yang didapatkan untuk sebuah paket informasi menjadi sebuah produk yang menyajikan informasi yang benar dan relevan. Informasi yang didapatkan berkaitan dengan topik, paket informasi ini bersumber dari jurnal elektronik yang dapat ditelusuri melalui media elektronik yaitu google. Gambar 2. Penelusuran data melalui internet Hal ini terjadi, karena kurang tersedianya informasi tentang kebudayaan nelayan dalam bentuk cetak. Sedangkan seperti yang dilihat pada gambar 2 terdapat 3.010.000 hasil setelah diketikan pada kolom pencarian kalimat “kebudayaan masyarakat nelayan” yang bisa dijadikan sumber informasi yang bisa dikaitkan dengan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. 3. Analisis Hasil Pengumpulan Informasi Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah menganalisis informasi yang telah didapatkan sebelumnya melalui wawancara, observasi dan penelusuraan infromasi melalui internet. Adapun informasi yang didapatkan dari pengumpulan informasi tersebut, hal yang dianggap penting sebagai pembangun identitas kebudayaan masyarakat nelayan seperti. a. Sistem Gender Menurut Kusnadi (2014:2) sistem gender adalah sistem pembagian kerja secara seksual ( the division of labor by sex) dalam masyarakat nelayan yang didasarkan pada persepsi kebudayaan yang ada. Dengan kata lain, sistem geder merupakan konstruksi sosial sari masyarakat nelayan yang terbentuk sebagai hasil evolutif dari suatu proses dialektika antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan. Sebagai produk budya, sistem gender diwariskan secara sosial dari generasi ke generasi. Berdasarkan sistem gender masyarakat nelayan, pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan “laut” merupakan “ranah kaum laki-laki”, sedangkan wilayah “darat” adalah ranah kerja “kaum perempuan”. Setelah dilakukan wawancara dengan Bapak Khairudin selaku Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Batang Arau dapat diperoleh informasi di Perkampungan Nelayan Kampung Batu juga diberlakukan kebudayaan sistem gender, yaitu laki-laki yang bertugas dilaut sebagai nelayan dan para kaum perempuan bekerja di bagian darat. Pekerjaan-pekerjaan dilaut seperti kegiatan penangkapan menjadi ranah bagi laki-laki karena membutuhkan kemampuan fisik yang kuat, kecepatan bertindak dan beresiko tinggi. Sementara, pekerjaan darat yang digeluti oleh para wanita di Perkampungan Nelayan kampung batu berada didarat seperti membuka warung kopi di sepanjang pesisir pantai sebagai persinggahan para melayan yang baru pulang dan akan berangkat melaut. Hal ini dilakukan kaum perempuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dikeluarga mereka. Pekerjaan lain yang bisa dilakukan oleh para perempuan seperti mengolah ikan. Namun tidak ada di Kampung Batu, hal ini dikarenakan lahan atau tempat yang tidak memungkinkan untuk mengolah ikan. b. Relasi Patron-Klien Pengumpulan informasi tentang relasi patron-klien ini sama-sama ditemukan pada saat pengumpulan informasi. Berdasarkan literatur yang bersumber dari jurnal elektronik, menurut kusnadi (2014:3) prinsip-prinsip relasi patron-klein berlaku juga pada masyarakat nelayan. Unsur-unsur sosial yang berfungsi sebagai patron adalah pedagang (ikan) berskala besar dan kaya, nelayan pemilik (perahu), juru mudi (juragan kaut atau pemimpin awak perahu) dan orag kaya lainnya. Mereka yang berpotensi menjadi klien adalah nelayan buruh dan warga pesisir yang kurag mampu sumber dayanya. Demikian halnya dengan penjelasan yang dipaparkan oleh bapak musran selaku ketua RW II Kampung Batu, orang yang berperan sebagai patron adalah orang kaya yang biasa disebut agen ikan, sedangkan yang berperan sebagai klien adalah para nelayan buruh yang berkerja untuk agen kapal. Sama halnya dengan penjelasan Bapak Anis selaku Agen Ikan di Perkampungan Nelayan Kampung Batu. c. Pola-Pola Eksploitasi Sumberdaya Dijelaskan kembali oleh Kusnadi (2014:4) dalam konteks hubungan ekspolitasi sumber daya perikanan, masyarakat nelayan memerankan empat perilaku sebagai berikut: (1) mengeksploitasi terus-menerus sumber daya perikanan tanpa memahami batasbatasnya; (2) mengekspolitasi sumber daya perikanan, disertai dengan merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti menebagi hutan bakau serta mengambil terumbu karang dan pasir laut; (3) mengekspolitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing), seperti kelompok nelayan yang melakukan pemboman ikan, melarutkan potasium sianida, dan mengoperasikan jaring yang merusak lingkungan seperti trawl atau minitrawl; serta (4) mengeksploitasi sumber daya perikanan dipadukan dengan tindakan konservasi, seperti nelayan-nelayan yang melakukan pengangkapan disertai dengan kebijakan pelestarian terumbu karang, hutan bakau, dan mengoperasikan jaring yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumbernya adalah Bapak Izhar selaku Nelayan buruh menjelaskan, karena nelayan di Kampung Batu adalah nelayan yang tradisional, maka cara dan peralatan yang mereka gunakan juga sederhana dan tradisional. Mereka mengekspolitasi sumber daya laut secara-menerus tanpa memahami batasnyabatasnya, transportasi yang digunakan adalah sampan bermesin, serta alat yang mereka gunakan adalah jaring yang ramah lingkungan. Sistem penangkapan ikan yang digunakan oleh masyarakat ini ada dua yaitu “manyongsong” dan “marewa/tonda”. d. Kepemimpinan Sosial Menurut Boelaars (dalam Kusnadi 2014:6) orang pesisir memiliki orientasi yang kuat untuk merebut dan meningkatkan kewibawaan atau status sosial. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka cepat marah, mudah tersinggung, lekas menggunakan kekerasan, dan gampang cenderung balas-membalas sampai dengan pembunuhan. Orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat penting dan sangat peka. Perasaan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pola hidup pesisir memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi. Menurut penjelasan Bapak RW II, orang-orang di Kampung Batu terutama para nelayan memiliki sikap yang ramah meskipun ada sebagian yang memiliki sikap yang keras. Hal ini disebabkan pendidikan mereka yang rata-rata hanya tamatan SLTP. Namun, meskipun mereka tidak punya pendidikan yang tinggi, para nelayan ini memiliki semangat kerja yang tinggi untuk membiaya keluarga dan pendidikan anak-anaknya sampai perguruan tinggi agar tidak bernasib sama seperti mereka. Rasa berorganisasi dan kekeluargaan yang masih kuat terbukti dengan adanya organisasi PRPI (Perhimpunan Rasa Persaudaraan Islam) yang diikuti oleh 250 kepala keluarga, dan masih banyak lagi kebiasaan masyarakat disana yang akan dibahas secara lengkap di paket informasi. 4. Pengemasan Informasi Pengemasan informasi merupakan langkah selanjutnya yang dilakukan setelah pengumpulan informasi melalaui wawancara dan observasi serta penelusuran literatur baik itu melalui media cetak maupun noncetak, lalu dengan informasi yang telah dianalisis sebelumnya, dapat diartikan bahwa informasi yang akan dimasukkan sesuai dengan topik yang telah ditentukan. Informasi dikemas dengan mempertimbangkan bahwa informasi tersebut dapat menambah pengetahuan dan bersifat informatif bagi pembacanya. Pengemasan informasi dilakukan dengan cara menyajikan informasi yang telah didapat dari pengumpulan informasi ke dalam bentuk paket informasi, dengan mendesian paket informasi menjadi suatu produk yang menarik dan bermanfaat. Dalam pembuatan paket informasi ini disajikan dalam bentuk cetak yang dilengkapi dengan sampul, kata pengantar, daftar isi, pembahasan dan daftar pustaka. Pembuatan produk ini menggunakan Microsoft Publisher. Pada Software ini terdapat serangkaian fitur yang dapat membantu pengguna dalam mengatur layout, warna, desain, tulisan dan berbagai macam komponen dari produk yang akan dibuat sehingga dapat menghasilkan sebuah produk yang menarik. Namun, sebelum membuat suatu paket informasi, merancang tahapan pengemasan merupakan hal yang terlebih dahulu dilakukan. Untuk mempermudah dalam proses pengemasan paket informasi tersebut. Merancang tahapan pengemasan merupakan suatu rencana atau rancangan yang memuat pokok-pokok yang akan dikembangkan dan dibahas lebih rinci yang disusun secara terstruktur dan sistematis. Setelah adanya pokok-pokok tersebut, dapat membantu penulis dalam penulisan sehingga teratur dan bahasa yang disajikan sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebelumnya. Apaun tahapan pengemsan paket informasi Literasi Budaya di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, Batang Arau, Padang Selatan Kota Padang sebagai berikut Gambar 3. Tahapan pengemasan paket informasi a. Sampul Sampul atau cover dari suatu produk merupakan bagian paling luar buku atau kulit buku yang memuat judul, nama penulis, gambar yang mewakili pembahasan pokok produk, dan gambaran garis besar yang akan dibahas didalam produk tersebut. Sampul merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh setiap penulis karena sampul merupakan komponen utama yang dilihat oleh pembaca. Sampul yang menarik akan mebuat kesan awal yang bagus dari produk tersebut dan begitupun sebaliknya. Untuk membuat sampul yang menarik, penulis harus bisa mengkombinasikan warna, tulisan, dan layout, sehingga hasil yang ditampilkan menarik. Warna yang digunakan di produk ini lebih dominan warna biru, karena menggambarkan warna laut yang menjadi tempat bekerja bagi masyarakat di Perkampungan Batu yaitu Nelayan. Gambar 4. Sampul Paket Informasi Keterangan: 1. Gambar yang mewakili isi pembahasan 2. Judul Paket Informasi 3. Nama penulis 4. Bagian-bagian penting yang akan dibahas b. Kata Pengantar Kata pengantar berisi ucapan dari penulis atas selesainya produk yang dibuat, ucapan tersebut seperti rasa syukur, serta menjelaskan manfaat dan tujuan dari sebuah produk tersebut. Gambar 5. Kata Pengantar Keterangan: 1. Ucapan rasa syukur 2. Batasan materi 3. Ucapan terimakasih c. Daftar Isi Daftar isi merupakan bagian halaman yang berisi petunjuk dari isi pokok produk yang dibuat. Daftar isi dilengkapi dengan nomor halaman yang dapat mempermudah pengguna mencari bagian-bagian yang dianggap menarik dan diperluka. Sehingga dapat menghemat waktu dan pikiran karena pengguna tidak harus membaca keseluruhan, namun langsung menuju halaman yang dituju. Daftar isi dibagi menjadi tiga bab pembahasan, yaitu. Pertama, sekilas mengenal Batang Arau. Kedua, kebudayaan masyrakat nelayan. Ketiga, pesona Batang Arau. Gambar 6. Daftar Isi Keterangan: 1. Bagian-bagian penting yang akan dibahas dalam paket informasi 2. Anak judul/pembahasan 3. Nomor halaman dari setiap pembahasan d. Isi Isi merupakan bahasan dari materi atau topik yang telah ditetapkan. Dalam menyajikan sebuah isi sebuah karya agar menarik untuk dibaca dan bersifat informatif, hal yang harus dilakukan penulis adalah menelaah terlebih dahulu apakah informasi yang akan disajikan sudah benar dan lengkap. Selain itu, tampilan juga menjadi daya tarik, seperti mengatur tata letak tulisan dan gambar, tulisan yang digunakan, gambar yang jelas, warna yang menarik dan lain sebagainya. Gambar 7. Isi Pembahasan Keterangan: 1. Judul yang akan dibahasa lebih rinci 2. Gambar yang mewakili pembahasan 3. Informasi/ isi pembahasan e. Daftar Pustaka Daftar pustaka merupakan halaman yang berisikan sumber rujukan ynag digunakan penulis dalam menyusun karya. Sumber rujukan dalam paket informasi adalah jurnal elektronik. Gambar 8. Daftar Pustaka 5. Evaluasi Paket Informasi Evaluasi merupakan kegiatan menilai kembali suatu produk yang dihasilkan, salah satunya paket informasi. Tujuan dilakukannya evaluasi untuk mengetahui apakah produk yang telah dibuat memiliki daya tarik dan memiliki nilai guna bagi penggunanya. Selain itu, dengan evaluasi penulis dapat mengetahui apabila produk yang dibuat masih memilki kekurangan atau tidak sesuai dengan fakta, sehingga produk tersebut bisa diperbaiki lagi. Dari suatu evaluasi dapat diketahui bagaimana pendapat seseorang terhadap produk yang telah dibuat. Salah satu cara yang dilakukan dalam evaluasi Paket Informasi Literasi Budaya di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, Batang Arau, Padang Selatan Kota Padang adalah dengan mengajukan kuesioner dalam bentuk skala linkert yang kemudian akan dianalisis tampilan, informasi serta manfaat dari paket informasi tersebut. Adapun langkah-langkah dalam kegiatan evaluasi adalah membuat lembaran kuesioner skala linkert seperti yang tercantum pada lampiran 3, kuesioner berisi sepuluh pernyataan seperti pada tabel berikut. Tabel 2. Penilaian dan Pernyataan Angket Paket Informasi Kategori Penilaian Pernyataan Tampilan 1. Paket informasi menarik untuk dibaca 2. Bahasa yang digunakan mudah diapahami 3. Warna yang digunakan menarik Informasi 1. Gambar yang ditampilkan sesuai dengan materi/ informasi 2. Materi/ informasi yang disampaikan jelas dan mudah dipahami 3. Paket infromasi yang bersifat informatif Manfaat 1. Saya mendapat pengetahuan baru setelah membaca paket informasi ini 2. Saya merasa paket informasi ini memberikan manfaat dan memiliki nilai guna Kuesioner diajukan kepada masyarakat dan staf-staf Kelurahan Batang Arau, serta mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang yang menilai dari berbagai aspek dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Kuesioner yang telah diisi, langkah selanjutnya penulis akan menganilisis data yang didapatkan sehingga dapat mengetahui tanggapan para responden terhadap paket informasi yang elah dibuat. Rekapitulasi hasil penilaian responden terdapat pada lampiran 4. Adapun cara yang dilakukan dalam memberikan penilaian terhadap tanggapan kuesioner adalah sebagai beriku. Contoh: “Paket informasi menarik untuk dibaca” Repsonden diminta untuk memilih nilai atas pernyataan tersebut dengan cara memberi tanda (√) pada kolom yang dibagi menurut rentangan kategori. Adapun rentangan kategori yang diberikan yaitu. 1 = tidak setuju 4 = setuju 2 = kurang setuju 5 = sangat setuju 3 = cukup setuju Hasil dari pernyataan “Paket Informasi menarik untuk dibaca” dari 10 responden adalah 5 orang memilih sangat setuju dan 5 orang memilih setuju. Dari data tersebut diolah dengan mengkalikan setiap poin jawaban responden terhadap pernyataan tersebut sebagai berikut. 1) Sangat setuju: 5 x 5 = 25 2) Setuju: 5 x 4 = 20 Total skor didapatkan dengan cara menjumlahkan semua skor yang telah didapat, 25 + 20 = 45, untuk mendapatkan hasil penilaian responden dari pernyataan tersbut adalah dengan menggunakan rumus indeks % Rumus indeks % = Total Skor/Y 100 Ket: Y adalah skor tertinggi likert x jumlah responden Y = 5 x 10 = 50 Maka penyelesaian akhirnya adalah: Indeks % = 45/50 x 100 = 90% Berdasarkan tabel persentase menurut Arikunto (2009:76), hasil 90% dapat disimpulkan bahwa responden sangat setuju bahwa “Paket informasi menarik untuk dibaca”. Adapun hasil evaluasi penilaian responden terhadap paket informasi dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 3. Hasil Evaluasi Paket Informasi Literasi Budaya di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, Batang Arau, Padang Selatan Kota Padang Kategori Penilaian Tampilan Informasi Manfaat Pernyataan 1 2 3 4 5 6 7 8 Total 45 44 42 47 47 47 47 49 Indeks (%) 90 88 84 94 94 94 94 98 Rata-Rata 87,3 94 96 92,4 Menurut tabel hasil evaluasi paket informasi diatas diambil kesimpulan responden memberikan tanggapan berdasarkan tampilan adalah 87,3%, informasi 94% dan manfaat 96% . Dari data ini dapat diketahui bahwa 92,4% responden setuju paket informasi Literasi Budaya di Perkampungan Nelayan memiliki tampilan yang menarik, informasi yang berguna dan memberikan manfaat bagi para pembacanya. Hal ini sesuai dengan tujuan pengemasan informasi menurut Fatmawati (2014:2) tujuan kemas ulang informasi adalah untuk menyajikan informasi kedalam bentuk kemasan agar informasi tersebut lebih dapat diterima, lebih mudah dimengerti dan dimanfaatkan pengguna. Untuk menjadikan paket informasi memiliki daya guna, penulis terlebih dahulu menganalisis informasi yang akan disajikan dalam pakte informasi tersebut. Sementara, dalam segi tampilan hal yang diperhatika penulis adalah dari segi menentukan gambar yang seseuai dengan informasi, layout yang sesuai, dan warna yang menarik. Adapun warna yang digunakan dalam paket informasi ini adalah sebagai berikut. Gambar 9. Pemilihan warna pada produk Upaya yang dilakukan agar paket informasi menjadi produk yang menarik dilakukan penataan gambar, informasi dan gambar dari paket tersebut. Untuk mengahasilkan karya yang grafis menurut Kusrianto (2009:129-131) perlu diperhatikan masalah komposisi. Komposisi adalah pengorganisasian unsur-unsur rupa yang disusun dalam karya desain grafis. Hal yang diperhatikan dalam paket informasi ini adalah penetapan komposisi warna, penggabungan informasi, dan pemilihan gambar yang tepat agar dapat menghasilkan paket informasi yang menarik dan bersifat informatif.

Conclusion

Berdasarkan pembahasan yang dikemukakan sebelumnya dapat disimpulkan pembuatan Paket Informasi Literasi Budaya di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, Batang Arau, Padang Selatan, Kota Padang dilakukan melalui lima tahap. Pertama, menetapkan topik dan jenis kemasan paket informasi, topik yang diangkat adalah Literasi Budaya di Perkampungan Nelayan Kampung Batu, Batang Arau, Padang Selatan, Kota Padang yang dikemas dalam bentuk paket informasi cetak. Kedua, pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara wawancara dan observasi secara langsung ke Perkampungan Nelayan Kampung Batu. Selain itu, perlu dilakukan penulusuran literatur agar data yang didapatkan untuk sebuah paket informasi menjadi sebuah produk yang menyajikan informasi yang benar dan relevan. Ketiga, analisis hasil pengumpulan informasi. Dari pengumpulan informasi yang dilakukan diketahui bahwa hal yang dianggap penting sebagai pembangun identitas kebudayaan masyarakat nelayan seperti sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola eksploitasi sumber daya, dan kepemimpinan sosial. Keempat, pengemasan informasi, dilakukan dengan cara menyajikan informasi yang telah didapat dari pengumpulan informasi ke dalam bentuk paket informasi. Kelima, evaluasi paket informasi yang dilakukan dengan cara mengajukan kuesioner kepada responden dan diketahui bahwa 92,4% responden sangat setuju paket informasi literasi budaya menarik, besifat informatif dan memilki nilai guna. 2. SARAN Berdasarkan hasil simpulan diatas dapat disarankan sebagai berikut. Pertama, paket informasi literasi budaya ini dapat dimanfaatkan oleh pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai kebudayaan yang dimiliki oleh nelayan tradisional, hasil alam yang masih banyak belum diketahui masyarakat bahkan warga lokal dan destinasi wisata di Batang Arau yang wajib dikunjungi. Oleh karena itu, perpustakaan hendaknya dapat menjadikan paket informasi ini sebagai koleksi sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pemustaka. Kedua, didalam paket informasi terdapat pembahasan mengenai Kepiting Katam/ bakau sebagai hasil alam yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat, disarankan keapada pemerintahan atau tokoh masyarakat Batang Arau dapat membuat budidaya kepiting, sehingga dapat meningkatkan pendapatan warga sekitar. Ketiga, diharapkan masyarakat Batang Arau bisa mempertahankan budaya yang dimiliki oleh nelayan tradisional yang ramah lingkungan sehingga tidak merusak alam sekitar.