PEMBUATAN PAKET INFORMASI LITERASI BUDAYA DI PERKAMPUNGAN NELAYAN KAMPUNG BATU, BATANG ARAU, PADANG SELATAN, KOTA PADANG
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
The purpose of this paper is to describe the process of creating a cultural literacy package in Kampung Batu Fishermen Village, Batang Arau, Padang Selatan, Padang City. This research uses a descriptive method. Data was collected through a literature review as well as direct observation and interviews with the Chairman of the RW, fishermen, and community leaders in Kampung Batu Fishermen Village located in RW II, Batang Arau Sub-District, Padang Selatan District, Padang City. Based on research that has been done can be concluded as follows. Making this information package is done through five stages. First, the culture of fishing communities in Kampung Batu Fishermen Village, Batang Arau, Padang Selatan, Padang City, among others: (1) Gender system; (2) Labor Agent-Fisherman Relations; (3) patterns of resource exploitation; (4) Social leadership. Secondly, the creation of a Culture literacy information package in Kampung Batu Fishermen Village, Batang Arau, South Padang, Padang City is carried out through five stages, namely: (1) Establishing the topic and type of information package packaging; (2) information gathering; (3) Analysis of the results of information gathering; (4) packaging information; (5) Evaluation of information packages. The explanation of the results of the manufacturing process is as follows: Determine the topic and type of information package packaging, the topic raised is Cultural Literacy in the Kampung Batu Fishermen Village, Batang Arau, South Padang, Padang City which is packaged in a printed information package; Information gathering is done by interview and direct observation to the Kampung Batu Fisherman Village. In addition, it is necessary to search the literature so that the data obtained for an information package becomes a product that presents true and relevant information; Analysis of the results of information gathering. From the information gathering, it is known that what is considered important as a cultural identity builder of fishing communities such as gender systems, patron-client relations, patterns of resource exploitation, and social leadership; Packaging information, done by presenting information that has been obtained from gathering information in the form of an information package; Evaluation of the information package is done by submitting a questionnaire to 10 respondents and it is known that 92.4% of respondents strongly agree that the cultural literacy information package is interesting, informative and has benefits for its users.
Keywords:
information package
· cultural literacy
· fisherman
Introduction
Sumatra barat merupakan salah satu wilayah bagian barat Indonesia yang memiliki sejuta keindahan alam. Mulai dari pegunungan hingga lautan yang menyuguhkan keindahan yang tiada hentinya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat mencatat kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu pada Juli 2018 mencapai 5.099 atau naik 12.09% dari Juli 2017 yang tercatat sebanyak 4.549 orang. Salah satunya daerah yang terletak di Sumatra Barat yang memiliki keindahan alam dan juga bisa dijadikan tempat untuk mendapatkan informasi yaitu Istano Pagaruyuang Batusangkar. Yang disuguhkan disana bukan hanya sekedar objek wisata yang terkenal dengan rumah gadangnya yang masih asli, tetapi pada bagian belakang lokasi rumah gadang terdapat tempat untuk kita mendapatkan informasi sekaligus berrekreasi yaitu Rumah Pohon Literasi. Rumah pohon literasi yang ada di Batusangkar tersebut sudah di dirikan selama satu tahun yang lalu. Berawal dari koleksi buku yang dimiliki oleh si pemilik yang hanya menjadi pajangan di rak buku beliau sehingga mendapatkan ide untuk mendirikan Rumah Pohon Literasi tersebut. Pada awal mendiriannya rumah pohon tersebut mendapatkan respon yang baik baik dari masyarakat sekitar maupun lembaga negara yang berada disekitaran sana. Awalnya rumah pohon ini didirikan karena pendiri rumah pohon tersebut memilikik banyak koleksi buku yang tidak dipergunakan secara baik. Buku yang dimilikinya hanya terpajang didalam rak bukunya. Rumah pohon tersebut awalnya hanya menyediakan koleksi memang murni dari sang pendiri rumah pohon tersebut. Karena rumah pohon tersebut terletak sekitaran kawasan pariwisata Istano Pagaruyuang Batusangkar dan berdekatan dengan lingkupan lembaga pemerintah atau masyarakat disana menyebutnya dengan kawasan Kantor Bupati Kab. Tanah Datar maka berita berdiri rumah pohon ini tersebar di kalangan lembaga pemerintah mendapatkan respon yang sangat baik. Pemerintah Bupati Kab. Tanah Datar menyarankan agar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dapat berkonstribusi dalam pengembangan Rumah Pohon Literasi tersebut. Dari kerja sama tersebut maka Perpustakaan Daerah Kab. Tanah Datar ikut membantu dalam melengkapi koleksi yang ada di Rumah Pohon tersebut. Rumah Pohon Literasi yang berada di Nagari Pagaruyuang, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat menyediakan berbagai macam bacaan untuk wisatawan yang berkunjung. Dengan keberadaan Rumah Pohon Literasi tersebut diharapkan bagi wisatawan agar dapat dimanfaatkan secara sebaikbaiknya. Selain itu juga bisa meningkatkan minat baca kepada anak-anak usia dini dan menambah ilmu pengetahuan bagi masyarakat agar dapat lebih memahami apa yang menjadi perbincangan yang sedang hangat-hangatnya. Bukan hanya untuk wisatawan saja tetapi bagaiman rumah pohon tersebut juga memberikan dampak yang baik bagi masyarakat maupun pendudukan sekitar tempat objek wisata tersebut. Menurut Anggraini (2016) literasi adalah suatu simbol, sistem dan tata bunyi yang mengandung makna, berupa suatu kompetensi dasar yang mencangkup 4 aspek kemampuan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Sedangkan menurut Kusmana (2017), literasi adalah (a) kemampuan baca-tulis atau kemelekwacanaan; (b) berdasarkan penggunaannya literasi berarti kemampuan integrasi antara menyimak, berbicara, membaca, menulis dan berfikir; (c) kempuan siap untuk digunakan dalam menguasai gagasan baru atau cara mempelajarinya; (d) piranti sebagai penunjang keberhasilan dalam lingkungan akademik maupun sosial; (e) kemampuan performansi membaca dan menulis selalu diperlukan; (f) kompetensi seseorang akademisi dalam memahami wacana secara profesional. Jadi berdasarkan beberapa pendapat diatas diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan literasi adalah untuk menumbuhkembangkan minat baca masyarakat agar dapat menjadi pembelajaran sepanjang hayat. Menurut Saleh (2017) Literasi informasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dam secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu ataupun masalah yang dihadapi. Menurut Silviana (2017). Literasi informasi merupakan seperangkat kemampuan seseorang dalam mengetahui kapan informasi dibutuhkan, memiliki kemampuan untuk menggunakan, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara efektif. Literasi informasi juga diperlukan untuk meningkatkan kualittas diri dalam rangka belajar seumur hidup. Sedangkan menurut (Yudisrtira, 2017) Literasi Informasi kemampuan akan melek informasi, kemampuan untuk mencari, menggunakan, mengevaluasi, secara cepat dan efisien. Dari beberapa defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa literasi infomasi adalah sebuah keterampilan yang dimilki seseorang guna menentukan kapan informasi tersebut dibutuhkan. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan literasi informasi adalah kemampuan dalam mencari, mengelolah, meggunakan dan mengevaluasi informasi secara cepat, tepat dan juga efisien terhadap informasi yang didapat, serta bisa menentukan kapan informasi tersebut dibutuhkan oleh masyarakat. Menurut Rahayu (2019) taman bacaan masyarakat (TBM) sebenarnya memiliki kesamaan dengan perpustakaan. Namun, ada beberapa hal yang membedakan antara perpustakaan dengan TBM. Taman bacaan masyarakat dibentuk secara mandiri oleh kelompok masyarakat/ pihak tertentu yang memiliki tujuan untuk memberikan fasilitas sarana pembelajaran dan penyedia informasi kepada masyarakat sekitar taman bacaan masyarakat. Menurut Suwanto (2017) TBM adalah sebuah lembaga yang menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai tempat penyelengaraan pembinaan kemampuan membaca dan belajar, sekaligus sebagai tempat untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat. Pengelola TBM adalah mereka yang memiliki dedikasi dan kemampuan teknis dalam mengelola dan melaksanakan layanan kepustakaan kepada masyarakat. Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa taman bacaan masyarakat adalah suatu tempat penyediaan informasi yang bertujuan memberikan fasilitas kepada masyarakat sekitar maupun pengunjung taman bacaan tersebut yang didirikan oleh suatu kelompok masyarakat ataupun suatu lembaga. Lembaga dan kelompok masyarakat tersebut berkerjasama dengan perpustakaan umum yang ada di daerah tersebut agar dapat memberikan informasi secara detail dan memaksimalkan pelayanan yang disediakan. Menurut Diana (2019) manfaat taman bacaan masyarakat adalah menumbuhkan minat baca dan kecintaan membaca untuk memperkaya pengalaman belajar bagi warga dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan menurut Dwiyantoro (2019) taman bacaan masyarakat bermanfaat untuk menumbuhkan minat, kecintaan, kegemaran membaca, dan memberi pengalaman belajar bagi warga. Sedangkan menurut Purmono (2019) taman bacaan masyarakat bagi masyarakat sekitar dalam hal:1) menumbuhkan minta baca, kecintaan dan kegemaran membaca, 2) memperkaya pengalaman pembelajaran dan memperoleh berbagai informasi dan keterampilan bagi masyarakat melalui ketersediaan bahan bacaan, 3) mempraktekan keterampilannya dalam membaca dan menulis. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat taman bacaan masyarakat yaitu untuk menumbuhkan minat baca, kecintaan dan kegemaran membaca guna memperoleh informasi dan keterampilan bagi masyarakat. Menurut Saepudin (2017) Adapun tujuannya dari Taman Bacaan Masyarakat adalah: (1) Meningkatkan kemampuan keberaksaraan dan keterampilan membaca, (2) Menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca, (3) Membangun masyarakat membaca dan belajar, (4) Mendorong mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat, (5) Mewujudkan kualitas dan kemandirian masyarakat yang berpengetahuan, berketerampilan, berbudaya maju, dan beradab. Sedangkan menurut Suwanto (2015) TBM yang diselenggarakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat bertujuan untuk memberi kemudahan akses kepada warga masyarakat untuk memperoleh bahan bacaan. Dari dua pemahaman diatas dapat disimpulkan bahwan tujuan dari taman bacaan masyarakat tersebut adalah mempermudah kepada masyarakat maupun pengguna informasi dalam memperoleh sumber informasi yang diinginkan. Rumah pohon literasi yang berada di Nagari Pagaruyuang, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar yang bergerak dalam bidang literasi dan juga digunakan sebagai tempat atau media pembelajaran tetang adat dan budaya Minang. Rumah pohon literasi yang berada di Istano Pagaruyuang ini adalah satu taman bacaan masyarakat yang dibangun oleh salah satu masyarakat Batusangkar guna memanfaatkan lahan yang tersedia agar tidak kosong begitu saja. Awal mula di dirikannya Rumah Pohon Literasi oleh Bapak Yusril dikarnakan beliau pernah berkerja di cagar budaya yang ada di daerah tersebut. Rumah Pohon Literasi ini berdiri pada bualn Maret tahun 2018. Bapak Yusril sekalu pengurus sekaligus pengelola Rumah Pohon tersebut. Pada awalnya pengurus pernah berkerja di cagar budaya yang ada di daerah tersebut. Namun setelah beliau berhenti berkerja, barulah beliau mendirikan taman bacaan yang bisa disebut dengn Rumah Pohon Literasi. Asal mula berdirinya Rumah Pohon Literasi ini karna buku-buku yang ada ditempat berliau berkerja itu sangat banyak, karna ditempat beliau berkerja tidak dapat menampung buku yang ada maka pengelola cagar budaya tersebut memberikan buku-buku yang tidak tertampung kepada beliau. Maka beliau berinisiatif untuk membangun atau membuat Rumah Pohon Literasi agar buku dan lahan yang beliau kelola bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Method
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu : (1) Observasi merupakan pedoman pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja, melalui pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki. Teknik ini digunakan untuk mengamatan langsung yang menyangkut tentang Pemanfaatan Rumah Pohon Literasi Bagi Penduduk Sekitar dan Pengunjung Istano Pagaruyuang Batusangkar sebagai sumber informasi bagi penduduk dan pengunjung berdasarkan pada aspek yang diamati.(2) Wawancara merupakan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawarancara kepada pengurus maupun pengelolah rumah pohon literasi tersebu. Peneliti menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan diakujan dan kemudian melakukan wawancara langsung dengan bertatap muka. (3) Dokumentasi digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data penelitian melalui catatan, gambar atau foto, rekaman sebagai pendukung hasil penelitian. Dokumentasi digunakan sebagai bukti dan memperkuat hasil penelitian yang dilakukan
Discussion
A. Literasi Informasi Masyarakat Melalui Rumah Pohon Literasi Kegiatan literasi informasi yang ada di Rumah Pohon Literasi tersebut dinilai pada aspek kemampuan untuk tahu kapan kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan mengevaluasi dan secara efektif menggunakan informasi tersebut terhadap isu dan masalah yang dihadapi. Aspek tersebut difokuskan kepada masyarakat yang berkunjung maupun pengurus Rumah Pohon Literasi tersebut. berikut adalah beberapa uraian dari hasi penelitan yang dilakukan. 1. Kemampuan Masyarakat Untuk Tahu Kapan Kebutuhan Informasi. Dari hasil dari wawancara yang dilakukan masyarakat yang berkunjung ke Rumah Pohon Literasi tersebut mengatakan bahwa mereka akan mencari tahu dulu tentang isu atau masalah yang mereka hadapai dengan membaca dan mencari informasi yang sesuai dengan masalah yang mereka hadapi. Contohnya yaitu masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat perdesaan yang pada umunya mereka adalah bertani dan berkebun masalah yang sering mereka hadapi adalah bagaimana padi yang mereka tanam dan buah-buahan yang mereka tanam bisa berbuah dengan cepat dan bisa menghasilkan padi dan buah yang berkualitas baik dan aman dikonsumsi oleh masyarakat lain. Dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini yang menyediakan bahan literasi yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Salah satu koleksi yang mereka sediakan yaitu tentang bagimana agar para petani bisa menghasilkan padi dan buahbuahan yang berkualitas untuk mereka sendiri ataupun masyarakat yang mengkonsumsi. Atau masalah lainnya tentang kebudyaan yang ada. Di Rumah Pohon Literasi tersebut juga menyediakan literasi tentang budaya yang ada di Minangkabau. Dengan seiring berjalannya waktu banyak kebudayaan-kebudayaan yang semakin lama semakin hilang. Maka dengan koleksi yang disediakan oleh Rumah Pohon Literasi tersebut bisa memberikan informasi kepada masyarakat yang berkunjung agar budaya-budaya yang ada di Minangkabau bisa dikenal oleh masyarakat daerah lainnya, dan juga bisa memberi pengalaman kepada anak-anak mereka tentang kebudayaan yang ada di Minangkabau. 2. Masyarakat bisa mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi dan secara efektif menggunakan informasi Mengidentifikasi merupakan salah satu cara yang digunakan dalam kegiatan menemukan dan menelusuri informasi yang dibutuhkan. Masyarakat literasi pada umunya adalah masyarakat yang bisa menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Dan mereka juga bisa menelusuri informasi-informasi yang mereka rasa penting untuk diri mereka sendiri. Salah satu sarana yang digunakan oleh masyarakat adalah bukan hanya sekedar perpustakaan saja tetapi mereka juga menggunakan Rumah Pohon Literasi sebagai salah satu sarana yang bisa digunakan dalam kegiatan mengidentifikasi informasi yang mereka butuhkan. Menemukan merupakan suatu kegiatan bagiamana masyarakat menemukan informasi yang mereka butuhkan. Masyarakat yang ada di sekitaran Istano Pagaruyuang merupakan masyarakat yang melek terhadap informasi yang mereka butuhkan. Rumah Pohon Literasi ini bisa mereka gunakan sebagai alternatif dalam menemukan informasi melalui buku-buku yang disediakan oleh pengurus Rumah Pohon Literasi. Misalnya masalah dihadapi pada umunya untuk masyarakat perdesaan adalah tentang bercocok tanam, di Rumah Pohon Literasi ini pengurus juga menyediakan beberapa buku yang bertemakan tentang bagimana cara bertanam dengan baik dan menghasilkan buah yang bagus. Pada kegiatan mengevaluasi merupakan kegiatan untuk menilai sebuah informasi yang didapat. Menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan pengurus maupun dengan masyarakat sekitar, mereka menilai suatu informasi yang mereka dapat dari mengumpulkan terlebih dahulu fakta-fakta dan informasi-informasi yang ada. Seperti permasalahan tanaman tersebut, yang biasanya masalah yang terjadi yaitu hama yang menganggu dan penggunaan pupuk yang kurang bagus. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu hama apa yang sering menganggu tanaman mereka. Seperti tanaman buah mentimun, hama yang sering menganggu adalah hewan-hewan yang berkeliaran seperti kera. Masyarakat akan mengumpulkan fakta-fakta dan informasi bagaimana cara mengusir kera yang sering mengganggu ataupun pupuk yang digunakan kurang bagus sehingga buah mentimun yang mereka tanam tidak berbuah dengan baik dan banyak mentimun yang rusak. Dengan mengumpulkan fakta-fakta tersebut masyarakat bisa menilai pupuk apa yang bagus untuk tanam mereka atau dengan penyemprotan yang mereka lakukan setiap kali masa panen. Lalu secara efektif menggunakan informasi yang mereka dapat dengan berdiskusi dengan masyarakat sekitar tentang bagaimana cara penanganan masalah yang mereka hadapi. Dengan berdiskusi dan mengumpulkan informasi yang mereka butuhkan. Seperti masalah lainnya yaitu kabut asap kemarin ini ada di beberapa tempat khususnya sekitaran Rumah Pohon Literasi mereka sempat mengadakan diskusi untuk mengurangi kabut asap yang sempat melanda tempat mereka seperti mengurangi pembakaran sampah dangan menggali lobang untuk mengubur beberapa sampah yang mudah hancur. Berdasarkan wawancara dan penelitian yang dilakukan masyarakat yang berkunjung maupun masyarakat yang ada dilingkungan Istano Pagaruyuang ini merupakan masyarakat yang dikatakan melek terhadap informasi yang mereka butuhkan. Mereka yang kunjung ke rumah pohon tersebut mereka bisa mencari informasi-informasi yang mereka buruhkan. Jika dilihat yang berkunjung ke rumah pohon tersebut selain masyarakat yang ingin berwisata mereka juga ingin memperkaya ilmu pengetahuan mereka dengan menelusuri informasi-informasi yang ada. Selain itu mereka juga dapat mengevaluasi atau menilai informasi-informasi yang mereka rasa penting dan juga mereka bisa membandingkan informasi yang satu dengan informasi yang lainnya. Dengan itu mereka merasa masalah yang mereka hadapi ataupun isu yang mereka dapat bisa mereka menemukan titik masalah dan solusi yang dibutuhkan untuk menanggapi masalah ataupun isu tersebut. B. Manfaat Rumah Pohon Literasi Bagi Masyarakat di Istano Pagaruyuang Aspek yang nilai dari Rumah Pohon Literasi ini adalah bagiaman masyarakat yang berkunjung maupun masyarakat yang ada disekitaran Rumah Pohon Literasi ini bisa memanfaatkan rumah pohon tersebut untuk bisa mendapatkan informasi maupun meningkatkan literasi informasi yang berfasilitaskan taman bacaan masyarakat yang mereka buat dan meningkatkan generasi mendatang dengan program-progam yang pernah pengurus maupu pengelola lakukan. Adapun aspekaspek yang nilai sebagai berikut. 1. Rumah Pohon Literasi Sebagai Menumbuhkan Minat Baca, Kecintaan Dan Kegemaran Membaca Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat minat baca masyarakat yang masih rendah, terutama untuk anak-anak. Seiring dengan perkembangannya zaman, anak-anak cenderung menggunakan smartphone untuk mencari kesenangan mereka sendiri seperti bermain video game, nonton film di youtube atau lainnya. Salah satu upaya yang dilakukan agar anak-anak tidak ketergantungan dengan smartphone mereka, salah masyarakat daerah Batusangkar mendirikan Rumah Pohon Literasi guna mengurangi kebiasaan anak-anak dengan smartphone mereka. Upaya yang dilakukan agar anak-anak tidak terlalu fokus dengan smartphone mereka yang memiliki efek negatif yang sangat berbahaya untuk anakanak usia dini, maka salah satu masyarakat Batusangkar berinisiatif untuk mendirikan Rumah Pohon Literasi ini untuk mengurangi kebiasaan buruk anakanak tersebut dengan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik dan menguntungkan bagi diri mereka sendiri. Rumah Pohon Literasi ini selain untuk berwisata juga bagus untuk anak-anak agar bisa meningkatkan minat baca anakanak dan menumbuhkan rasa gemar membaca dan menulis. Bisa juga mengajarkan kepada anak-anak tentang pengetahuan yang baru kepada mereka agar mereka bisa memperluas ilmu pengetahuan yang ingin mereka ketahui. Dengan memanfaatkan buku yang disediakan, program yang dilakukan serta fasilitas lainnya yang bisa meningkatkan minat baca anak-anak usia dini dan meningkatkan kegemaran anakanak akan kegiatan membaca dan menulis. Pada umunya pengunjung yang berkunjung di Rumah Pohon Literasi ini memiliki keinginan untuk membaca guna nembah wawasan maupun informasi mereka. Menurut penurut pendapat pengurus Rumah Pohon Literasi itu sendiri, literasi itu tidak terfokus dengan buku saja. Menurut pengurus juga literasi iu banyak mulai dari literasi tanaman, literasi buah dan lain-lain. Dari sana pengunjung yang datang tidak terfokus dengan buku saja, namun bisa mengenal literasi lain dari fasilitas yang disediakan oleh pengurus maupun pengelola yang disediakan. Tujuan didirikannya Rumah Pohon Literasi ini agar buku-buku yang ada bisa dimanfaatkan dan lahan yang dimiliki oleh pengurus bisa terus dan dapat dimanfaatkan dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan pengurus, beliau mengatakan bahwa lahan yang ada saat sekarang ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan bisa berguna bagi masyarakat banyak. Sedangkan dari pengunjung sendiri tujuan mereka datang ke Rumah Pohon Literasi ini adalah selain untuk berwisata mereka juga ingin mengetahui apa saja yang fasilitas yang disediakan oleh pengurus Rumah Pohon Literasi ini untuk meberikan informasi yang diinginkan. Dan pengujung juga memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pengurus untuk diabadikan dalam bentuk gambar (foto) maupun video. Manfaat didirkannya Rumah Pohon Literasi adalah agar masyarakat sekitar bisa berwisata sekaligus bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk masyarakat yanga ada disekitar Istano Pagaruyuang itu. Dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini masyarakat maupun pengunjung dapat meningkatkan minat baca, pengetahuan serta wawasan yang lebih banyak lagi. Dan juga untuk para wisatawan agar mengetahui budaya-budaya yang ada didaerah tersebut. sedangkan menurut pengunjung yang mengunjungi Rumah Pohon Literasi tersebut manfaat yang di dapat oleh pengunjung adalah pengunjung bisa mengetahui cagar budaya yang ada di Sumatra Barat khususnya untuk suku Minangkabau itu sendiri, dan juga pengunjung bisa menambah wawasan informasi yang disediakan oleh Rumah Pohon Literasi tersebut. Pada dasarnya tujuan awal pengunjung untuk berwisata ke Batusangkar untuk melihat Istano Pagaruyuang saja, dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini informasi yang di dapatkan oleh wisatawan bukan hanya dari Istano Pagaruyuang itu saja. Tetapi informasi juga bisa di dapat dari Rumah Pohon Literasi melalui bukubuku yang disediakan maupun program yang diadakan guna menambah minat baca, kecintaan dan kegemaran membaca bagi wisatawan maupun masyarakat sekitar. Rumah Pohon Literasi ini dibuat dengan menggabungkan antara pariwisata dengan litersi. Dengan kebiasaan masyarakat yang gemar akan berwisata menjadi salah satu alasan di dirikannya Rumah Pohon Literasi ini. Oleh karena itu dengan dirikannya Rumah Pohon Literasi ini masyarakat bisa meningkatkan minat baca, kecintaan dan kegemaran membaca mereka dan juga bisa sekaligus digunakan untuk berwisata. Tidak sedikit masyarakat menggunakan Rumah Pohon Literasi sebagai tempat berfoto. Salah satunya foto keluarga, dengan pemandangan yang masih asli dan cukup jauh dari pusat kota menjadikan Rumah Pohon Literasi sebagai latar untuk mengabadikan setiap moment. Rumah Pohon Literasi ini memiliki satu tempat untuk meletakan koleksi buku yang disediakan tempat ini diberi nama “Pondok Bacaan”. Di pondok bacaan ini terdapat beberapa jenis buku yang disediakan langsung oleh pengelola rumah pohon tersebut. Jenis-jenis buku yang paling banyak disana adalah buku tentang cagar budaya dan museum. Pada dasarnya pengurus Rumah Pohon Literasi tersebut tidak mengadakan kerjasama dengan pemerintahan setempat. Buku-buku yang di peroleh selain dari pengurus sendiri dan juga buku-buku tersebut berasal dari sukarela Perpustakaan Daerah yang meminjamkan buku kepada pengurus Rumah Pohon Literasi tersebut. Tidak hanya itu, buku yang disediakan juga ada berupa jurnal penelitian dan ada pula buku yang di pinjamkan oleh Perpustakan Daerah yang ada di Batusangkar. Buku yang dipinjamkan akan diletakkan di Rumah Pohon Literasi selama waktu yang telah ditentukan oleh pengurus maupun pihak Perpustakaan Derah. Biasanya buku yang dipinjamkan akan diberi waktu selama 1 bulan lamanya. Adapun buku-buku yang di pinjamkan dengan nomor klasifikasi 200-800. 2. Rumah Pohon Literasi untuk memperkaya pengalaman pembelajaran Dari data yang didapat pengunjung Rumah Pohon Literasi ini buku yang sering dibaca oleh pengunjung adalah buku tentang cagar budaya, sosial dan teknologi. Dapat kita lihat dari buku yang dipinjamkan oleh Perpustakaan Daerah Batusangkar dimana buku yang paling banyak dipinjamkan bertema sosial dan teknologi. Sedangkan buku yang bertemakan cagar budaya itu sendiri telah ada atau telah disediakan oleh pengurus Rumah Pohon Literasi itu sendiri, karna pengurus rumah pohon itu sendiri awalnya berkerja di kantor cagar budaya yang ada di daerah itu sendiri. Dengan adanya buku yang disediakan dan juga program yang diadakan baik untuk masyarakat maupun pengunjung rumah pohon itu sendiri, masyarakat dan pengunjung merasa telah terbantu dalam segi memperkaya ilmu pengetahuan dan memperluas informasi yang dibutuhkan. Bukan hanya sekedar berwisata saja tetapi juga menumbuhkan minat baca, kecintaan dan kegemaran membaca masyarakat dan pengunjung. Dengan diukung pula pemandangan alam yang masih terjaga keasliannya. Dari data penelitian yang didapat bahwa masyarakat maupun pengunjung, dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini mereka bisa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dan juga mereka bisa berbagia ataupun bertukar pikiran atas informasi yang mereka peroleh baik dan Rumah Pohon Literasi itu sendiri ataupun saling bertukar informasi baik sesama masyarakat ataupun sesama pengunjung yang ada. Melalui buku yang disediakan maupun program yang dilakukan itu sangat berguna bagi masyarakat karna mengingat sumber informasi bukan hanya dari buku saja tetapi juga dari orang-orang sekitar dan lingkungan sosial yang ada disekeliling mereka. Dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini masyarakat maupun pengunjung lebih bisa mengelolah informasi yang mereka dapatkan maupun yang ingin mereka cari. Mereka bisa membandingkan informasi yang satu dengan informasi yang lain. Selain itu mereka juga bisa mengambil keputusan yang akan mereka ambil dengan membandingan informasi tersebut. Salah satu contohnya adalah masyarakat dengan mayoritas petani yang mengelolah bahan pangan yang ada di sana seperti beras, buah dan sayuran. Dengan adanya taman bacaan masyarakat ini, mereka bisa mendapatkan informasi bagaimana agar bahan pangan yang mereka kelolah bisa mendapatkan kualitas yang baik dan dapat dikelolah dengan baik dan benar. Dengan bersosilisasi dengan sesama masyarakat maupun berbagi pengetahuan dengan pengunjung disana. Dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini baik pengunjung maupun masyarakat sekitar sudah membantu mereka dalam mendapapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi mereka. Walaupun teknologi semakin cangih dizaman sekarang, tetapi tidak mematahkan semangat mereka untuk membaca buku dan memperkaya ilmu pengetahuan mereka dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini. Menurut mereka media digital bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi. Kita boleh saja menggunakan alat elektronik untuk mendapatkan informasi, tetapi kita juga tidak boleh menghilangkan tradisi yang sudah lama dilakukan dalam mendapatkan informasi yaitu dengan membaca dan bersosialisasi sesama masyakat. 3. Upaya yang dilakukan mempraktekan keterampilan baca tulis Rumah Pohon Literasi yang ada di Istano Pagaruyuang ini tidak hanya menyuguhkan keindahan alam dan literasi saja. Demi meningkatkan literasi informasi untuk masyarakat dan membuat masyarakat gemar akan membaca, pengurus pernah melalukan upaya agar bisa mempraktekan keterampilan baca tulis masyarakat. Salah satu program yang dilakuakn adalah dengan mengadakan lomba mewarnai yang diadakan di lokasi Rumah Pohon Literasi tersebut. Program ini dilakukan agar masyarakat bisa mengasah keterampilan baca tulis mereka terutama anak-anak yang berada pada tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Tujuan dari program ini adalah agar anak-anak bisa lebih mengenal cagar budaya yang ada di daerah mereka, agar mereka lebih mengenah budayabudaya yang ada di Indonesia maupun yang ada di derah mereka masing-masing. Nama program yang mereka buat adalah program mewarnai dan program membaca dengan cepat. Program ini dilaksanakan jika salah satu taman kanak-kanak ataupun sekolah dasar ingin mengadakan acara rekreasi yang diadakan oleh sekolah mereka. Biasanya para pihak sekolah mengabari terlebih dahulu kepada pengurus agar pengurus maupun pengelola bisa mempersiapkan apa yang diperlukan oleh sekolah. Dari pihak pengurus maupun pihak pengelola akan meminta uang administrasi sebesar Rp. 10.000,- per orang. Dari uang administrasi tersebut setiap siswa yang mengikuti kegiatan itu akan mendapatkan sebuah buku gambar untuk mewarnai. Sedangkan untuk kegiatan membaca cepat, setiap anak juga di minta uang administrasi sebanyak Rp. 10.000,- per orang. Mereka juga mendapatkan fasilitas yang sama, mereka akan mendapatkan buku gambar untuk mewarnai yang bisa mereka bawa pulang. Sedangkan untuk masyarakat umum biaya yang dipungut untuk bisa masuk ke Rumah Pohon Literasi tersebut sekita Rp 5.000,- untuk anakanak sedangkan untuk dewasa Rp 10.000,-. Buku yang digunakan untuk kegiatan membaca cepat adalah buku bacaan yang ada di Rumah Pohon Literasi tersebut. Biasanya buku yang digunakan untuk kegiatan membaca cepat adalah buku yang bertemakan cagar budaya. Tujuan buku ini digunakan adalah agar para siswa yang mengikuti ketiatan tersebut bisa mengetahui cagar budaya yang ada di indonesia maupun yang ada di daerah mereka. Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang disusun dan dirancang oleh pengurus Rumah Pohon Litterasi itu sendiri, pihak sekolah sangat berterimakasih kepada pengurus yang telah mendirikan dan membangun Rumah Pohon Literasi ini. Degan adanya Rumah Pohon Literasi ini siswa mendapatkan ilmu pengetahuan bukan dari lingkungan sekolah saja tetapi di tempat wisata pun mereka mendapatkan pengetahuan yang tidak kalah pentingnya. Dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini juga siswa lebih giat membaca baik itu buku fiksi maupun buku non fiksi. Dari kegiatan tersebut banyak mendapatkan respon positif dari berbagai pihak. Salah satunya bupati daerah Batusangkat. Pengurus tidak menyediakan hadiah khusus untuk para perserta yang memenangkan kegiatan tersebut, hanya inisyatif masyarakat yang berkunjung saja jika ingin memberikan hadiah kepada perserta yang menang seperti bupati setempat yang kebetulan berkunjung dan memberikan berupa uang tunai kepada perserta yang menang. Banyak dari masyarakat yang berkunjung maupun yang ada disekitar Rumah Pohon Literasi tersebut beranggapan bahwa program yang dilakukan oleh pegurus Rumah Pohon Literasi tersebut sangat bermanfaat untuk anak-anak generasi mendatang. Karna pada saat ini anak-anak sungguh sangat jarang dengan kegiatan membaca maupun bersosialisasi dengan teman-teman seumuran mereka. Dengan adanya kegiatan tersebut dapat membantu orang tua dan memberi tahu kepada anak-anak mereka bahwa dengan membaca kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan di luar dari sekolah mereka. Dan anak-anak tersebut tidak bosan untuk membaca, karna selain membaca mereka juga bisa menikmati pemandangan yang sangat indah dan sejuk dari kaki gunung tempat di dirikannya Rumah Pohon Literasi tersenut. 4. Rumah Pohon Literasi Sebagai Upaya Meningkatkan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Pada saat ini teknologi sudah jauh berkembang dari pada zaman-zaman sebelumnya. Dengan kemajuan teknologi ini kita bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan dengan cepat. Dengan adanya teknologi yang canggih maka kita bisa meningkatkan ilmu pengetahuan kita. Teknologi dan ilmu pengetahuan sebenarnya berjalan beriringan. Dengan teknologi yang bekembang pesat saat ini, kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber informasi. Dengan adanya ilmu pengetahuan juga kita bisa menggunakan teknologi dengan tepat. Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat dengan menambah ilmu pegetahuan tidak hanya dengan memanfaatkan teknologi seperti saat ini. Dengan Rumah Pohon Literasi yang didirikan ini, masyarakat dapat menambah ilmu pengetahuan mereka dengan membaca sambil menikmati pemandangan di bawah kaki gunung yang ada di Batusangkar ini. Dengan adanya Rumah Pohon Literasi masyarakat bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih banyak lagi. Fasilitas yang diberikan oleh pengurus bukan hanya buku dan programprogram yang diselengarakan. Ilmu pengetahuan yang didapat bukan hanya dari buku saja. Di Rumah Pohon Literasi tersebut pengurus juga memanfaatkan lahan yang tersesisa untuk bercocok tanam. Banyak buah-buahan yang ditanam disekita maupun di dalam kawasan Rumah Pohon Literasi tersebut. Buah-buahan yang ada di lahan tersebut yaitu ada buah pokat, mangga, rambutan dan juga cabe. Dengan di tanamnya buah-buahan di lahan tersebut akan menguntungkan baik bagi pengurus maupun bagi masyarakat sekitar. Kenapa dikatankan menguntungkan, karena dengan menanam buah-buahan tersebut ilmu pengetahuan yang baru akan di dapat terutama oleh anak-anak. Dengan itu, anak-anak akan lebih banyak mengenak buah-buahan yang ada di daerah tersebut dan juga bisa sebagai bahan pembelajaran untuk lebih mengenal tempat tersebut. Bukan hanya sekedar mengenal, jika masyarakat berkunjung pada waktu musim buah-buahan tersebut. Masyarakat bisa memetik sendiri buahan-buahan tersebut dan juga bisa mencicipi buah-buahan yang sudah matang tersebut. Selain itu masyarakat bisa membawa pulang buah-buahan tersebut dengan membeli dengan harga yang lebih murah dari harga pasar. Masyarakat pun mendukung adanya Rumah Pohon Literasi ini dan beberapa program yang dilakukan. C. Kendala dan upaya yang dihadapi oleh pihak Rumah Pohon Literasi 1. Kendala Yang Dihadapi Oleh Pengurus Rumah Pohon Literasi Rumah Pohon Literasi merupakan sebuah taman bacaan yang didirikan oleh salah satu masyarakat daerah Batusangkar. Dari penjelasan diatas bahwasanya pengurus Rumah Pohon Literasi ini tidak menjalin kerja sama dengan pihak namapun. Baik dari segi dana, tempat mapun koleksi yang disedikan. Sehingga pengurus kewalahan dalam segi dana yang ada. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan beberapa waktu, dan telah melakukan wawancara dengan pengurus dan mengunjung Rumah Pohon Literasi tersebut. Dari pengamatan tersebut dapat beritahu bahwa kendala yang dihadapi baik pengurus maupun masyarakat yang berkunjung adalah (1) jarak tempuh antara Isatano Pagaruyuang dengan Rumah Pohon Literasi tersebut sangat jauh, waktu yang ditempuh antara pintu masuk Istano Pagaruyuang dengan Rumah Pohon Literasi bisa mencapai 20 menit dengan berjalan kaki; (2) tidak adanya kendaraan bermotor yang sediakan oleh pengurus Rumah Pohon Literasi maupun pihak Istano Pagaruyuang itu sendiri; (3) jalan yang di tempuh pun masih berlumpur dan belum di cor dengan semen, sehingga jika musim hujan jalan akan menjadi licin dan berlumpur; (4) karna tidak ada berkerja sama dengan pihak pemerintah maupun pihak lainnya, dana menjadi salah satu kendala yang terlihat jelas, karna keterbatasan dana pengurus kurang bisa merawat tempat tersebut. Sehingga pengurus akan membersihkan tempat tersebut diwaktu tertentu saja seperti libur libur tertentu; (5) karna kurangnya pembersihaan dan akses yang tidak memadai, sehingga pengunjung enggan untuk berkunjung kembali ke Rumah Pohon Literasi tersebut Selain itu juga kendala yang dihadapi oleh pengurus adalah kurangnya promosi yang dilakukan baik dari pihak pengurus maupun pihak Istano Pagaruyuang untuk mengarahkan masyarakat yang berkunjung untuk singgah ke Rumah Pohon Literasi tersebut. Dan juga, jika ada pengunjung Rumah Pohon Literasi tersebut yang melewati selain dari jalur utama, maka akan ada masyarakat lain yang memungut biaya lain (uang parkir) agar bisa masuk kedalam dan masyarakat yang berkunjung pun menilai biaya yang diminta tidak sesuai dengan fasilitas yang didapat untuk menuju Rumah Pohon Literasi tersebut. Pada saat melakukan wawancara, pengurus juga menuturkan bahwa dampak dari kendala-kendala diatas sangat berpengaruh terhadap potensi masyarakat yang berkunjung ke Rumah Pohon Literasi tersebut. Pengurus juga mengatakan bahwa tingginya tingkat kunjungan masyarakat hanya terlihat pada awal berdirinya Rumah Pohon Literasi itu saja. Selama satu bulan berdirinya Rumah Pohon Literasi tersebut pengunjung cukup antusias dengan adanya rumah pohon tersebut, akan tetapi lama-kelamaan daya tarik pengunjung juga semakin berkurang. Tingkat kinjungan masyarakat akan meningkat kembali pada hari-hari tertentu, seperti hari libur lebaran dan hari libur sekolah saja. Setelah mengetahui beberapa kendala yang dihadapi masyarakat maupuun pengurus Rumah Pohon Literasi tersebut. Masyarakat sangat berharap kedepannya Rumah Pohon Literasi tersebut lebih diperhatikan lagi. Agar akses untuk menuju Rumah Pohon Literasi tersebut diperbaiki lagi, supaya masyarakat tidak kekusahan untuk pergi kesana. Sedangkan dari pengurus, pengurus berharap masyarakat bisa memanfaatkan Rumah Pohon Literasi tersebut. Karna dengan berkunjungnya masyarakat, dan dari dana yang dipungut dari pengunjung tersebut pengurus bisa mengembangkan Rumah Pohon Literasi tersebut. 2. Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Kendala Di Rumah Pohon Literasi Dari beberapa pemaparan kendala diatas hasil wawancara kepada pengurus Rumah Pohon Literasi tersebut. Beliau mengatakan bahwa belum ada satupun upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala tersebut. (1) belum ada yang dilakukan oleh pengurus rumah pohon tersebut maupun pengurus Istano Pagaruyuang untuk mempermudah akses jalan ke Rumah Pohon Literasi; (2) pengurus rumah pohon tersebut belum bisa menyediakan kendaraan bermotor untuk mempermudah akses kesana; (3) belum ada tindakan baik dari pihak manapun untuk melakukan pengaspalan ataupun pengecoran untuk jalan menuju Rumah Pohon Literasi; (4) sampai sekarang pengurus Rumah Pohon Literasi tersebut masih belum mau menjalankan kerja sama dengan pihak lain dan untuk membersihkan tempat tersebut masih menggunakan biaya pribadi dari pengurus rumah pohon tersebut; (5) dari segi promosi pengurus Rumah Pohon Literasi hanya menggunakan spanduk yag diletakkan tidak jauh dari Rumah Pohon Literasi (6) jika masalah pemungutan uang parkir yang diminta oleh masyarakat lain, pengurus sudah sering menegur oknum tersebut akan tetapi tidak ditanggapi oleh oknum yang melakukan kegiatan pemungutan uang parkir oleh oknum tersebut.
Conclusion
1. Simpulan Berdasarkan uraian beberapa bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan literasi informasi masyarakat dengan pemanfaatan Rumah Pohon Literasi di Istano Pagaruyuang sudang berjalan dengan baik diawal pendiriannya. Pertama,dengan literasi informasi yang ada disekililing Rumah Pohon Literasi tersebut sangat baik, karena keinginan masyarakat untuk mencari informasi yang mereka butuhkan dsn menyelesaikan masalah yang mereka dapat sangat baik ditambah dengan adanya Rumah Pohon Literasi ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan literasi informasi masyarakat yang berkunjung maupun masyarakat sekitar Rumah Pohon Literasi tersebut. Kedua, manfaat yang diberikan oleh Rumah Pohon Literasi bagi masyarakat sekitar Istano Pagaruyuang sangat banyak, dengan adanya rumah pohon tersebut bisa neningkatkan minat baca, kecintaan dan kegemaran membaca bagi masyarakat yang berkunjung, selain itu Rumah Pohon Literasi tersebut sebagai salah satu upaya yang dilakukan oleh pengurus untuk memperkaya pengalaman pembelajaran untuk masyarakat yang berkunjung maupun masyarakat sekitar dan juga dengan adanya rumah pohon tersebut bisa mempraktekkan keterampilan baca tulis terutama untuk pelajar yang ada di sekitar Rumah Pohon Literasi tersebut melalui beberapa progam yang pernah dilakukan oleh pengurus rumah pohon tersebut. Ketiga, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh pengurus yang tentu saja beberapa kendala tersebut membuat masyarakat enggan untuk datang ke Rumah Pohon Literasi tersebut. dari beberapa kendala tersebut belum ada satupun upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. 2. SaranD ari kesimpulan yang diperoleh maka penulis akan memberikan beberapa saran agar bisa menjadi bahan pertimbangan oleh pengurus Rumah Pohon Literasi di Istano Pagaruyuang dalam kegiatan literasi informasi masyarakat. Adapun saran tersebut antara lain pertama, untuk pengurus Rumah Pohon Literasi sebaiknya bisa berkerja sama dengan pihak lain agar rumah pohon tersebut bisa terkelola dengan baik dan akses menuju Rumah Pohon Literasi tersebut bisa diperbaiki agar masyarakat lebih mudah ke lokasi tersebut. Kedua, untuk pengunjung Istano Pagaruyuang agar lebih sering lagi untu berkunjung ke Rumah Pohon Literasi tersebut, dengan itu masyarakat yang berkunjung bisa mendapatkan ilmu dan informasi yang baru selain itu pengunjung juga bisa sekalian berwisata dengan memanfaatkan keindahan alam yang disajiakn. Ketiga, untuk pengurus Istano Pagaruyuang agar bisa berkerja sama dengan pengelola Rumah Pohon Literasi tersebut agar akses untuk menuju Rumah Pohon Literasi tersebut bisa di jangkau oleh masyarakat yang ingin berkunjung seperti menyediakan kendaraan bermotor yang bisa mengantar masyarakat ke lokasi tujuan.