Kembali
16
1
2019 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 8 · 1 Seri F ISSN 2302-3511

KEMAS ULANG INFORMASI INDIGENOUS KNOWLEDGE TENTANG BATAGAK PANGULU DI NAGARI LUBUK PANDAN KABUPATEN PADANG PARIAMAN (Studi Kasus: Pada Nagari Lubuk Pandan Kabupaten Padang Pariaman)

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

Indigenous knowledge or traditional knowledge of the community regarding batagak penghulu in Nagari Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman. In the procession of matters relating to the following matters: first, minimal local knowledge or traditional knowledge of the community about the course in Nagari Lubuk Pandan, Padang Pariaman Regency. secondly, there are several steps in the repackaging of local wisdom information about: (1) after asking the user, it turns out that the community needs information about the adat procession of batagak pangulu; (2) collecting information in the study area by conducting interviews and also searching for information using several related books and journals, and storing it related to data storage, (3) packaging information, by making editable packaging products using the Canva application, and (4 ) transferring information, i.e. by way of making repackaging information in book form. Third, there are some challenges and efforts made in the making of information packaging, namely: the difficulty of finding informants, by seeking help from the community to find locations to find informants. Furthermore, the language of the informants is difficult to translate, so ask for help from the community to translate language that is not understood. The latest information about the adat procession of Batang Pangang, the efforts made to overcome this problem through the discussion of the culture of the local community.
Keywords: Information · Indigenous Knowledge · Batagak Penghulu

Introduction

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak keunikan budaya. Keunikan budaya tersebut digunakan secara turun menurun melalui pengetahuan tradisional masyarakat atau disebut juga dengan indigenous knowledge. Adelia (2016:5157) mendefinisikan Indigenous knowledge atau pengetahuan tradisional yang lazim disebut dengan kearifan lokal, merupakan hasil interaksi pengalaman manusia dengan pengetahuan yang dimilikinya sebagai salah satu upaya untuk bertahan dalam menjalani kehidupan. Jadi Indigenous knowledge merupakan suatu kekayaan intelektual bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan. Oleh sebab itu perlu adanya pendokumentasian untuk dapat merekam kebudayaan masyarakat agar tidak terjadi plagiarisme terhadap budaya kita. Indigenous knowledge masyarakat tentu saja beragam dalah satunya dari Minangkabau yaitu mengenai prosesi batagak panghulu. Diradjo (2009) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan penghulu adalah orang yang memimpin atau orang yang memerintah kaumnya, dan menurut adat peghulu, dia diangkat menjadi penghulu dengan kata mufakat oleh seluruh kaumnya laki-laki dan perempuan. Jadi batagak penghulu maksudnya adalah mendirikan, mengukuhkan atau melegitimasi keberadaan pimpinan atau kepala suku. Pada zaman yang semakin canggih ini kesadaran masyarakat Minangkabau terhadap sastra dan budaya Minangkabau sudah mulai memudar, hal ini dibuktikan dengan banyaknya generasi muda yang tidak tau bahkan tidak peduli dengan berbagai hal yang termasuk kedalam budaya Minangkabau salah satunya yaitu tradisi batagak penghulu. Jika penyebaran informasi akan pengetahuan tradisional ini diimbangi dengan adanya pendokumentasian secara sah dan legal maka akan berdampak pada perkembangan ekonomi sisio budaya pada masyarakat lokal. Akan tetapi jika tidak, maka akan terjadi klaim atas kepemilikan yang berdampak pada keuntungan komersial (Adelia, 2016:51-57). Dari permasalahan diatas maka penulis tertarik membuat suatu produk kemas ulang informasi. Djamarin (2016:2) mengungkapkan bahwa kemas ulang atau pengemasan informasi merupakan kegiatan yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Informasi dalam produk ini disajikan lebih rinci, sehingga pengguna juga dapat melihat referensi dalam produk kemas ulang informasi ini. Tujuan fungsi dari kemas ulang informasi ini ialah untuk memberikan penafsiran kepada pengguna tentang sesuatu dengan informasi yang lebih lengkap, dengan adanya kemas ulang ini diharapkan dapat mengawetkan budaya. Selain itu kemas ulang ini memberikan efesiensi waktu karna mempercepat seseorang dalam memperoleh informasi maupun berolah informasi. Dalam membuat kemas ulang terdapat beberapa tahapan yang dilakukan agar proses kegiatan kemas ulang dapat dikerjakan dengan baik dan hasil yang maksimal. Menurut Djamarin (2016: 7) pengemasan informasi dilakukan mengikuti tahapan sebagai berikut: “(1) Identifikasi kebutuhan pengguna; (2) Pengumpulan informasi serta pemilihan sumber informasi; (3) Pengemasan informasi; (4) Menentukan sasaran audiens; (5) Menentukan strategi dalam mencari jenis sumber informasi yang dapat menemukan informasi yang dibutuhkan; (6) Menetapkan cara dan sistem penyebarluasan kemasan informasi yang sudah jadi; (7) Mentransfer informasi dalam bentuk tercetak maupun basis data; (8) Mendistribusikan, menyebarkan, mendisemasikan, memasarkan produk informasi dengan cara promosi maupun pendidikan pemakai; (9) Evaluasi produk dan proses pembuatannya.” Tahapan dari kemas ulang dirancang untuk mempermudah dalam proses pembuatan produk kemas ulang. Secara umum tahapan kemas ulang yaitu analisis kebutuhan pengguna, lalu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, setelah itu barulah mengemas kembali informasi yang didapat dari berbagai sumber ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhanDengan adanya informasi ini hendaknya memberi kemudahan dalam penyebaran informasi dan temu kembali informasi. Hasil dari produk kemas ulang informasi merupakan informasi yang sangat dibutuhkan, baik bagi perpustakaan, pemustaka maupun peneliti guna untuk keberhasilan perpustakaan, yang mana produk tersebut dijadikan sebagai alat telusur informasi.

Method

Penelitian dilakukan di Nagari Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah membuat gambaran secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta lapangan. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi. Observasi dilakukan dengan cara melakukan observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung. Dalam teknik ini cara pengumpulan data berdasarkan pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data yang valid. Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung dan pencatatan yang sistematis. Sedangkan untuk teknik pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi, dan diperoleh dari buku, jurnal, yang berkaitan dengan indigenous knowledge tentang batagak penghulu.

Discussion

1. Indigenous Knowledge tentang Batagak Penghulu di Nagari Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman indigenous knowledge atau pengetahuan tradisional di setiap daerah tentu memiliki perbedaan. Begitu juga halnya dengan indigenous knowledge masyarakat Minangkabau. Namun seiring perkembangan zaman saat ini indigenous knowledge atau pengetahuan tradisisional masyarakat tentang pelaksanaan adat batagak penghulu sudah mulai terabaikan, terutama pada generasi muda. Mereka tidak memahami bahkan tidak tau bagaimana proses adat batagak penghulu tersebut. Mereka hanya menyaksikan acaranya tanpa memahami makna dari tahapan yang dilakukan pada acara batagak penghulu. Seperti yang diungkapkan oleh Datuak Tan Majolelo selaku penghulu di Nagari Lubuk Pandan mengatakan bahwa generasi muda pada saat ini tidak mengetahui betul setiap proses dalam tradisi batagak penghulu, bahkan ada juga masyarakat yang tidak peduli terhadap acara adat ini. Mereka hanya sekedar ikut-ikutan dan menyaksikan jalannya acara batagak penghulu di dalam kaum. Hal ini mungkin saja dipicu oleh pengaruh dari modernisasi zaman, yang mana perkembangan zaman yang semakin canggih ini membuat masyarakat terutama generasi muda lebih memilih mengikuti perkembangan-perkembangan zaman. Sehingga hal tersebut membuat masyarakat khususnya generasi muda tidak tertarik kepada tradisi adat. Jika hal itu terjadi secara terus-menerus maka akan berdampak pada pudarnya kebudayaan kita. mengingat bahwa tidak semua kalangan mengetahui dan memahami tentang prosesi adat batagak penghulu dengan tradisi adat yang begitu unik. Oleh sebab itu perlu adanya pembuatan suatu produk yang memaparkan dan menjelaskan tradisi adat batagak penghulu agar tradisi itu dapat terekam didalam dan dapat digunakan untuk pelestarian budaya. Sehingga kebudayaan-kebudayaan yang unik terus dapat diketahui oleh masyarakat . Sebagai generasi penerus kita berperan penting terhadap indigenous knowledge ini. Jangan sampai tradisi-tradisi yang telah diwariskan hilang begitu saja. Dalam dewasa ini penulis akan memaparkan mengenai 1). komponen yang diperhatikan dalam batagak penghulu. Sebelum melakukan prosesi adat batagak penghulu ada beberapa komponen atau hal yang harus diperhatikan diantaranya: a). Sebab dilakukannya batagak penghulu, b) syarat utama menjadi seorang penghulu; c) pemilihan sekaligus pengangkatan urang ampek jinih (dalam pengangkatan penghulu biasanya selalu diiringi dengan pengangkatan urang ampek jinih); d) kewajiban seorang penghulu; e) larangan dan pantangan-pantangan yang harus dijauhi oleh penghulu; dan f) pakaian penghulu. 2). Proses batagak penghulu di Nagari Lubuk Pandan Kabupaten Padang Pariaman. Pada proses batagak penghulu ini dimulai dari a) rapat kaum hingga mencapai kata mufakat, setelah itu menetukan jadwal batagak penghulu tersebut; b) mendirikan pondok jamuan atau batagak pondok (tenpat dilaksanakannya batagak penghulu); c) menyemblih kerbau; d) acara malapah; e) setelah makan dilanjutkan dengan acara pasambahan. Dalam acara ini intinya mendudukkan penghulu disertai dengan pidatopidato adat; dan f) yang terakhir adalah jamuan makan nasi jamba dengan dulang tinggi yang menjadi ciri khas daerah ini, dengan berakhirnya makan bajamba, maka berakhirlah acara batagak gadang dengan satu keputusan diangkatnya penghulu baru di nagari tersebut. 2. Proses Kemas Ulang Informasi Indigenous Knowledge tentang Batagak Panghulu di Nagari Lubuk Pandan Kabupaten Padang Pariaman Kemas ulang informasi merupakan kegiatan penataan ulang informasi dengan cara mendata informasi yang relevan, lalu menganalis data yang diperoleh dan menyajikan informasi kepada pengguna. Proses yang dilakukan untuk kemas ulang informasi Indigenous knowledge entang Batagak Panghulu ini penulis mengadopsi tahapan kemas ulang dari pendapat Djamarin (2016:7) meliputi: (1) Identifikasi kebutuhan pengguna; (2) mengumpulkan informasi; (3) Pengemasan informasi; dan (4) Mentransfer informasi. a. Identifikasi Kebutuhan Pengguna Setelah penulis melakukan analisis kebutuhan pengguna, yaitu dengan mencari dan meneliti langsung kelapangan sehingga menemukan permasalahan yaitu kurangnya informasi mengenai batagak pangulu dan juga permasalahan dalam penelusuran informasi. Masyarakat membutuhkan informasi dan pengetahuan lebih mengenai tata cara adat batagak pangulu, mulai dari awal upacara sampai terbentuknya penghulu baru. Karena informasi mengenai prosesi pengangkatan penghulu ini sudah jarang diketahui oleh masyarakat terutama generasi muda. Oleh sebab itu penulis membuat suatu produk kemas ulang informasi indigenous knowledge mengenai prosesi batagak pangulu. Pembuatan produk kemas ulang informasi ini bertujuan agar masyarakat terutama generasi muda dapat mengetahui dan memahami bagaimana proses pengangkatan penghulu dan dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan batagak pangulu di Nagari Lubuk Pandan Kabupaten Padang Pariaman. Sasaran dari produk kemas ulang informasi ini adalah masyarakat umum terutama generasi muda yang kurang akan pengetahuan budayanya sendiri, tujuannya agar budaya Minangkabau mengenai prosesi batagak pangulu ini tidak hilang seiring dengan berjalannya waktu b. Pengumpulan Informasi Setelah mengidentifikasi kebutuhan pengguna, langkah selanjutnya yaitu mengumpulkan informasi yang falid dari berbagai sumber baik tercetak (seperti buku dan jurnal) maupun tidak tercetak (artikel atau jurnal elektronik), dan menyimpannya kedalam bentuk penyimpanan data. Baik menyimpannya di dalam folder yang ada di komputer maupun menyimpannya ke dalam flasdish. Pengumpulan informasi dilakukan untuk memudahkan dalam melakukan analisis serta menyeleksi berbagai informasi yang dijadikan sebagai bahan kemas ulang informasi indigenous knowledge tentang batagak panghul Semua sumber informasi yang didapat tersebut diseleksi dan dipilih mana yang bisa dijadikan rujukan dan mana yang tidak. Dalam proses pembuatan kemas ulang ini penulis memperhatikan sumber informasi dan melakukan observasi dan tinjauan langsung ke daerah penelitian. Setelah itu mengumpulkan beberapa buku dan artikel yang terpercaya mengenai pengangkatan penghulu. Pemilihan informasi sangat penting dilakukan agar informasi yang ada menjamin kebenaran informasi yang dibuat. c. Pengemasan Informasi Setelah mengumpulkan sumber informasi, penulis selanjutnya melakukan penataan ulang informasi dari berbagai sumber yang didapatkan, mendata informasi yang relevan, menganalisis, lalu menyajikan informasi kepada pengguna atau masyarakat. Ada beberapa tahapan dalam kemas ulang informasi indigenous knowledge tentang batagak penghulu ini, yaitu: Pertama, mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Dalam hal ini penulis mendapatkan informasi dari hasil observasi, wawancara dengan pemuka adat dan untuk kelengkapan dalam pembuatan ini penulis menyeleksi informasi dari buku, artikel ilmiah, jurnal dan lain-lain. Kedua, setelah mendapatkan informasi selanjutnya menganalisis informasi yang telah ada dan mengolah data menjadi informasi. ketiga, menentukan aplikasi untuk pengeditan Kemas Ulang Informasi Indigenous knowledge Tentang Batagak Penghulu, setelah mencari program pengeditan, penulis menemukan satu aplikasi yaitu “Canva”. Canva merupakan Program Design Online yang menyediakan berbagai tools atau alat editing untuk membuat berbagai desain grafis seperti poster, flyer, infografik, banner, card invitation, presentation, cover dan masih banyak lagi. Aplikasi editan online yang bisa digunakan untuk mengedit berbagai macam bentuk. selanjutnya melakukan pengeditan dengan membuka browser, sebelum itu pastikan dulu konektifitas jaringan tidak ada hambatannya. Kedua, Membuka situs “Canva” sebagai program pengeditan produk kemas ulang indigenous knowledge tentang batagak penghulu. d. Mentransfer Informasi Setelah produk kemas ulang informasi indigenous knowledge tentang batagak penghulu ini sudah jadi, maka penulis menentukan produk kemas ulang informasi dalam tercetak berupa kemasan tercetak. Tujuan dari pembuatan produk tercetak ini dimaksudkan agar pengguna dapat membacanya langsung dalam bentuk tercetak. Dalam pembuatan bentuk tercetak ini perlu dibuatkan cover halaman depan dengan desain yang menarik dan tentunya menggambarkan judul tema buku, yaitu dengan desain keminangkabauan. Dalam membuat kemas ulang informasi membuat rencana kerja perlu dilakukan agar proses pengerjaan kerja dapat berjalan secara sistematis sehingga memuat ketentuan-ketentuan pokok dan topik-topik informasi dapat disampaikan secara teratur 3. Kendala dan Upaya dalam Proses Pembuatan Kemas Ulang Informasi Indigenous Knowledge tentang Batagak Panghulu di Nagari Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman Dalam penulisan tugas akhir ini banyak pengetahuan yang penulis dapatan selama proses penggarapan buku tentang batagak penghulu ini. Namun penulis juga memiliki beberapa kendala selama proses penggarapannya. Yang pertama, pencarian data dan pengumpulan informasi. Dalam mencari data penulis menelusuri lokasi langsug lalu mencari kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan mencari Ketua KAN. Dari penelusuran lokasi tersebut penulis menemukan kantor Kerapatan Adat Nagari, akan tetapi penulis tidak menemukan narasumber yang akan penulis wawancarai yaitu ketua KAN tersebut. Kedua, adalah sulitnya memahami bahasa dan istilah dari para narasumber, dari penjelasan narasumber cukup lengkap mengenai tradisi yang ada disana, akan tetapi banyak istilah baru yang penulis temukan, baik itu dari bahasa dan logat yang sampaikan maupun nama-nama tradisi yang informen sampaikan. sehingga penulis sulit untuk memahami maksud dari narasumber tersebut. Hal tersebut membuat penulis kesulitan dalam mengolah informasi yang didapatkan. Ketiga, sedikitnya informasi yang ada di karya cetak maupun terbitan online mengenai tata cara batagak penghulu dari awal proses sampai akhir terbentuknya penghulu. Banyaknya informasi yang ada di buku, artikel, jurnal atau terbitan online lainnya tetapi tidak merangkup proses penyajian tradisi dari awal sampai akhir acara. Informasi yang ada hanya merangkup poin-poin penting saja tanpa ada penjelasan secara rinci. Hal tersebut membuat penulis betul-betul mempelajari adat batagak penghulu yang ada di Nagari Lubuk Pandan Kabupaten Padang Pariaman tersebut agar mendapatkan informasi yang valid. Dalam menghadapi kendala-kendala tersebut, maka ada beberapa upaya yang dilakukan adalah: pertama, menemui dan meminta tolong kepada masyarakat setempat untuk menemani penulis dan menemukan lokasi narasumber (Ketua Kerapatan Adat Nagari dan pemuka adat lainnya); kedua, dalam memahami bahasa narasumber, penulis meminta kepada salah satu pemudi yang ada di daerah tersebut untuk menterjemahkan bahasa yang tidak penulis mengerti, dan yang ketiga, mengumpulkan informasi sebanyakbanyaknya dan mempelajari budaya lokal masyarakat Kabupaten Padang Pariaman.

Conclusion

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa: Pertama, terdapat beberapa proses dalam batagak penghulu di nagari Lubuk pandan yaitu: rapat kaum yang akan menghasilkan suatu keputusan siapa yang akan menjadi penghulu, selanjutnya dilanjutkan dengan acara batagak pondok, menyemblih kerbau, acara malapah, acara pasambahan atau acara jamuan, dan yang terakhir makan bajamba dan jamuan kepala kerbau, dengan hasil terbentuknya penghulu baru. Kedua, proses dan tahapan dalam kemas ulang indigenous knowledge tentang batagak penghulu, yaitu: mengidentifikasi kebutuhan pengguna, selanjutnya mengumpulkan informasi dengan cara mengumpulkan informasi tercetak dan non-cetak dan melakukan wawancara terhadap pemuka adat yang ada di Nagari Lubuk Pandan. Berikutnya melakukan pengemasan informasi dengan mengedit tampilan produk menggunakan aplikasi Canva. Selanjutnya penyebarluasan informasi dengan cara promosi. Yang terakhir mentranfer informasi dalam bentuk tercetak yaitu buku. Ketiga, kendala dan upaya yang dilakukan dalam proses pembuatan kemas ulang yaitu sulitnya menemukan lokasi dan narasumber, sulitnya memahami bahasa masyarakat lokal, dan kurangnya informasi mengenai batagak penghulu. Beberapa upaya yang penulis lakukan agar dapat mengatasi kendala tersebut diantaranya meminta tolong kepada masyarakat lokal mencari narasumber dan menerjemahkan bahasa yang sulit dipahami, dan mendalami budaya lokal masyarakat. adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah: pertama, dalam prosesi adat batagak penghulu seharusnya masyarakat menguasai indigenous knowledge atau pengetahuan lokal tentang batagak penghulu yang sudah turu-temurun,Kedua, dalam proses pembuatan kemas ulang informasi seharusnya lebih memahami metode-metode atau cara dalam pembuatan kemas ulang informasi agar produk kemas ulang informasi yang dihasilkan bagus dan mempunyai nilai informasi yang tingi bagi masyarakat atau pengguna lainnya Ketiga, dalam menghadapi kesulitan-kesulitan baik dalam pencarian informasi, pembuatan produk maupun dalam pengumpulan data hendaknya upaya yang dilakukan dapat memberikan solusi yang secara efektif dapat mengatasi kendala-kendala tersebut sehingga hambatan yang dialami tidak menjadi masalah utama dalam pengerjaan pembuatan kemas ulang informati indigenous knowledge tentang batagak penghulu ini.