Kemampuan Literasi Media Siswa di SMAN 1 Lubuk Sikaping Berbasis Individual Competence Framework
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
This research examines the media literacy abilities of students at SMA Negeri 1 Lubuk Suhuing. The aim of this research is to explain students' abilities in using media, understanding media, analyzing, evaluating and producing information in the media. Thelocation of the research was at SMA Negeri 1 Lubuk Suhuing Jl. M Yamin No.2, Lubuk Suhuing, Pauah, Pasaman, Pasaman Regency, West Sumatra.This research uses quantitative research with descriptive methods. The population in this study were students at SMA Negeri 1 Lubuk Suhuing with samples taken using simple random sampling. The main instrument used was a research questionnaire which had been tested for validity and reliability, the sample size was 92 people. Data collection techniques are questionnaire techniques and questionnaire data processing through editing and tabulation stages.The results of the research are: the Use Skill indicator (technical ability) has an average score of 3.41 which is on an interval scale of 3.25 –4.00 so it can be concluded that the technical ability of students at SMA Negeri 1 Lubuk Suhuing is categorized as very good. The Critical Understanding indicator has an average score of 3.47 which is on an interval scale of 3.25 –4.00 so it can be concluded that the critical understanding of students at SMA Negeri 1 Lubuk Suhuing is in the very good category. the Communicative Ability indicator (communicative ability) has an average score of 3.16 which is on an interval scale of 2.50 –3.24 so it can be concluded that students at SMANegeri 1 Lubuk Suhuing have communicative abilities in the good category. The Evaluation and Analysis indicator has an average score of 3.15 which is in the interval score of 2.50 –3.24, so it can be concluded that the ability to evaluate and analyze theinformation of SMA Negeri 1 Lubuk Suhuing students is in the good category.
Keywords:
Literacy
· media literacy
· students at SMAN 1 Lubuk Sikaping
Introduction
Perkembangan media informasi di era digital sudah semakin semakin pesat dan tidak terkendali, baik dari segi teknologi media maupun konten media itu sendiri. Hal itu dapat dilihat dari penyebaran informasi media yang semakin marak di semua kalangan. Era digital kemudian memaksa masyarakat khususnya siswa untuk lebih memahami teknologi media maupun konten medianya terlebih terhadap media baru seperti media sosial. Faktor penggunaan media sosial yang semakin meningkat akan menyebabkan pengguna misinfomasi maupun disinformasi. Sangatlah sulit untuk mengoreksi misinformasi, karena misinformasi sering kali memiliki perhatian lebih dibandingkan informasi yang benar. Sangatlah penting apabila kita dilengkapi dengan kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan salah. Sangatlah penting agar berhati-hati menilai apa yang dilihat dan dibaca, serta menghindari bagian dari misinformasi. Namun tidak sedikit masyarakat yang terjerumus dalam efek negatif media baru, ini disebabkan oleh rendahnya literasi media baru. Dalam era informasi yang semakin terhubung dan digital, kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan berpartisipasi secara kritis dalam media menjadi semakin penting. Literasi media menjadi faktor kunci dalam membantu individu menghadapi tantangan yang dihadirkan oleh lingkungan media yang kompleks dan beragam. Dalam konteks ini, penelitian tentang literasi media memiliki peran yang signifikan dalam memahami sejauh mana individu memiliki keterampilan dan pemahaman untuk mengonsumsi, memproduksi, dan berinteraksi dengan media secara efektif. Sebuah lembaga riset di Eropa bernama European Commission pernah melakukan penelitian terhadap pengukuran literasi media pada negara-negara benua Eropa dengan menggunakan indikator Individual Competences Framework. Individual Competences Framework merupakan alat untuk mengukur tingkat literasi media baru yang terdiri dari: (1) personal competence (kemampuan menggunakan media dan menganalisis informasi). (2) social competence (kemampuan memproduksi informasi). European Comission membagi tingkatan kemampuan literasi media kepada tiga bagian tingkat yaitu basic, medium, dan advance. Penulis menggunakan Individual Competence Framework sebagai indikator penelitian karena pengukuran literasi media baru seseroang diukur dengan akurat dari dua dimensi yaitu, Personal Competence dan Sosial Competence. Demikian juga, indikator Individual Competence Framework ini sudah banyak digunakan oleh para peneliti di berbagai negara untuk menguji atau mengukur literasi media masyarakat. Dari hasil wawancara yang dilakukan di SMAN 1 Lubuk Sikaping tentang penggunaan media sosial Youtube oleh siswa, dapat dikatakan telah menjadi sesuatu hal yang umum bagi setiap siswa. Banyak siswa yang mengakses Youtube untuk mencari informasi, hiburan, dan tutorial tentang berbagai topik. Beberapa permasalahan yang ditemukan diantaranya. pertama, siswa mengalami kesulitan dalam memilah konten media yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mereka, seperti hasil wawancara yang dilakukan kepada 10 orang siswa, didapati 2 orang siswa yang mengakses Youtube guna memenuhi kebutuhan informasi mereka, sedangkan 8 orang lainya mengakses Youtube hanya sebatas mencari hiburan. Youtube merupakan platform media sosial yang sangat luas dan juga menyediakan berbagai macam informasi. Oleh karena itu, diharapkan siswa dapat menggunakan media sosial sebaik mungkin. Bukan hanya sebatas mencari hiburan tetapi juga mencari informasi sebagai media peningkatkan pengetahuan dan wawasan. Kedua, kecemasan akan adanya berita hoax atau informasi yang tidak benar yang tersebar di media sosial, seperti wawancara yang dilakukan pada siswa Indah, ia mendapati banyaknya berita hoax yang tersebar di media sosial, dan ia merasa ragu untuk mencari informasi di media sosial karena ditakutkan informasi yang ia dapatkan merupakan informasi yang tidak benar. Maka dari itu sesorang harus lebih teliti dalam mencari informasi di media sosial. Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui bagaimana cara siswa menganalisis konten media dengan cermat dan bagaimana cara siswa mengevaluasi informasi yang tersebar di media sosial dengan kritis. Berdasarkan latar bekang diatas dengan menggunakan model Individual Competence Framwork (2009) penulis tertarik untuk meneliti mengenai “Kemampuan Literasi Media Siswa di SMAN 1 Lubuk Sikaping Berbasis Individual Competence Framework.”
Method
Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dalam melakukan penelitian peneliti memaparkan dan mendeskripsikan pemecahan suatu permasalahan yang ada berdasarkan perhitungan kuantitatif yang diperoleh saat penelitian, kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan metode yang digunakan untuk mendapatkan informasi ilmiah. Adapun dalam penelitian ini akan mendeskripsikan kemampuan literasi media siswa di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping. Populasi pada penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping dengan pengambilan sample menggunakan simple random sampling. Instrumen utama yang digunakan yaitu kuisioner penelitian yang sudah diuji kevalidan dan kereliabilitasnya, jumlah sampel sebesar 92 orang. Variabel pada penelitian ini yaitu Media Sosial dan Kemampuan Literasi Media siswa di SMAN 1 Lubuk Sikaping. Teknik pengumpulan data dengan cara teknik kuesioner dan wawancara. Uji persyaratan analisis melalui uji normalitas, uji korelasi, uji linearitas, uji hipotesis, uji koefisien. Pengolahan data kuesioner melalui tahapan editing, tabulasi,dan penarikan kesimpulan.
Result & Discussion
Data yang akan dideskripsikan pada bagian ini yaitu data karakteristik responden dengan tujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang responden atau sampel yang digunakan pada penelitian ini. Data diperoleh dari penyebaran kuesioner secara online dengan menggunakan Google Form kepada siswa SMAN 1 Lubuk Sikaping sebanyak 92 orang responden disebarkan melalui via Whatsapp. Waktu pengumpulan data dilakukan selama 4 hari yaitu pada tanggal 28 Oktober –1 November 2023. Berikut akan diuraikan total responden dan rata-rata jawaban responden pada kusioner yang telah disebarkan. Tabel 1. Jawaban KuesionerNo Pernyataan. Skor Jawaban Jawaban 4 3 2 1 1 47 41 4 0 92 2 40 48 3 1 92 3 36 54 2 0 92 4 32 42 9 9 92 5 58 22 1 0 92 6 53 38 1 0 92 7 41 48 3 0 92 8 27 61 4 0 92 9 34 55 3 0 92 10 64 26 0 2 92 11 52 36 3 1 92 12 54 36 2 0 92 13 48 43 1 0 92 14 33 57 2 0 92 15 61 31 0 0 92 16 24 56 12 0 92 17 20 65 7 0 92 18 18 52 19 3 92 19 23 54 15 0 92 20 52 38 2 0 92 21 27 59 6 0 92 22 34 53 5 0 92 23 25 55 12 0 92 24 29 20 30 13 92 25 41 44 7 41 92 Data diatas merupakan deskripsi hasil dari kuesioner yang disebarkan pada siswa di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping. Dengan menggunakan alat ukur kemampuan literasi media Individual Competences Framework menurut European Commission adalah frameworkyang sering digunakan pada penelitian untuk mengukur kemampuan literasi media suatu kelompok. Individual competences merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memanfaatkan media. Beberapa kemampuan menggunakan dan memanfaatkan media diantaranya adalah kemampuan untuk menggunakan, memproduksi, menganalisis, dan mengkomunikasikan pesan melalui media. Berikut ini adalah kemampuan literasi media siswa di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping diantaranya sebagai berikut. 1. Use Skill Use Skill(kemampuan teknis) merupakan keterampilan teknis yang berkaitan antara individu dan media, artinya individu memiliki keterampilan menggunakan media dan memahami intsruksi dalam media. Use skillmemiliki 3 komponen, yaitu kemampuan menggunakan computer dan internet, kemampuan menggunakan media secara aktif, kemampuan menggunakan internet secara advance. Setelah dilakukan penelitian dengan cara menyebarkan kuesioner secara online terhadap 92 responden didapat skor rata-rata jawaban 3,41, skor ini berada pada skala interval 3,25 –4,00 yang artinya tahapan kemampuan teknis siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikapingtergolong sangat baik. Terkait hasil di atas, hal ini juga diungkapkan oleh Karsoni dalam hasil penelitiannya tentang “Analisis Kemampuan Literasi Digital Mahasiswa” yang menemukan fakta bahwa generasi milenial memiliki skill yang sangat baik dalam menggunakan media baru dengan perolehan nilai sebesar 82. Mengingat hamper semua mahasiswa memiliki smartphone dan menghabiskan Sebagian besar waktunya untuk menggunakan internet. a. Kemampuan Mengakses Media Sosial Analisis data yang diperoleh dari kuisioner pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 3,40 yang berada pada skala interval 3,25 –4,00 (sangat baik). Dengan demikian, pada komponen ini sebagian besar siswa telah mempunyai kemampuan dalam mengakses media sosial. Data tersebut membawa kesimpulan bahwa siswa memiliki kemampuan yang mempuni untuk mengakses perangkat yang terkait dengan internet dengan sangat baik seperti mengakses media sosial. Perkembangan teknologi informasi seperti saat sekarang ini yang mempengaruhi cara dan pola hidup masyarakat di semua kalangan. Sudah menjadi hal yang lumrah jika siswa sebagai bagian dari masyarakat memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengakses media sosial. Tetapi terdapat 4,3% yang menyatakan kurang setuju untuk pernyataan merasa mampu mengakses media sosial, yang berarti ada beberapa kendala bagi sebagian kecil siswa untuk mengakses media sosial seperti tidak mempunyai alat akses, tidak memiliki akses internet, dan sebagainya. Ahli Utama PTP Pusdatin Kemendikbud Gogot Suharwoto mengatakan, 16,4% pelajar mendapatkan akses internet, namun kualitasnya kurang memadai. Sedangkan 51,8% lainnya bisa menggunakan internet dengan baik,” dalam diskusi online bertajuk ‘Pintek Edutalk: Tingkatkan Literasi Digital bagi Pendidikan 4.0. Selain itu, masih ada 7,1% siswa yang belum mendapatkan listrik. Sedangkan 7,5% lainnya mendapatkan layanan ini, tetapi kualitasnya kurang memadai. Kemudian, 18,2% tidak memiliki perangkat pendukung belajar online seperti komputer, laptop, atau tablet. Selain itu, 15,7% tidak mempunyai ponsel pintar (smartphone). Dengan demikian, dapat dikatakan masih ada sebagian kecil siswa yang kurang kemampuan dalam mengakses media sosial atau perangkat yang terkait dengan internet. b. Kemampuan Menggunakan Media Secara Aktif Analisis data yang diperoleh dari kuisioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 3,23 yang berada pada skala interval 2,50 –3,24 (baik). Dari data tersebut dapat disimpulkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki kemampuan menggunakan media secara aktif dengan baik. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa menggunakan media sosial secara berkelanjutan atau terus-menerus. Pada pernyataan menggunakan media sosial 3-6 jam sehari terdapat 34,8% menyatakan sangat setuju dan 45,7% menyatakan setuju, yang dimana internet dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi para siswa. Rahman (2020:2) kini sosial media sudah menjadi faktor penting interaksi bagi manusia. Ditambah lagi dengan munculnya smartphone yang menyediakan kebebasan bersosial media dan provider yang menyediakan murahnya layanan media sosial. Hal ini jelas mengakibatkan remaja khususnya para pelajar melupakan akan batasan-batasan pergaulan yang seharusnya mereka ketahui. Besarnya dampak media sosial tidak hanya memberikan dampak postif tetapi juga memberikan dampak negatif kepada manusia terutama dampaknya bagi interaksi sesama manusia yang saat ini telah di pengaruhi media sosial. Dampak negatif media sosial bagi pelajar selanjutnya yaitu anak menjadi malas. Penggunaan media sosial yang berlebihan akan membuat anak menjadi malas untuk berinteraksi atau berkomunikasi di dunia nyata. Tidak hanya itu saja, anak juga akan malas belajardan memilih menghabiskan waktunya untuk membuka media sosial. Media sosial sedikit demi sedikit membawa kita ke suatu pola budaya yang baru dan mulai menentukan pola pikir kita. Media sosial dapat membuat seseorang menjadi ketergantungan terhadap media sosial. c. Kemampuan Menggunakan Internet Secara advance Analisis data yang diperoleh dari kuisioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 3,61 yang berada pada skala interval 3,25 –4,00 (sangat baik). Dengan demikian, dengan skor yang sangat baik dapat disimpulkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki kemampuan menggunakan internet secara advance dan mampu mempergunakan media sosial sebagai media mendapatkan informasi. Pada pernyataan kusioner untuk mampu mencari informasi di media sosial terdapat 1,1% siswa yang menyatakan kurang setuju, yang berarti sebagain kecil siswa kurang mampu dalam mencari informasi dimedia sosial, dan hanya menggunakan media hanya guna mendapat hiburan semata. Media sosial merupakan sebuah aplikasi yang mengizinkan penggunanya berinteraksi dan memberikan timbal balik dengan sesama pengguna; membuat, mengedit dan membagikan informasi dalam berbagai bentuk (Prof. Neil Selwyn,2012:8). Pertumbuhan media sosial selama beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan cara pemanfaatan internet bagi penggunanya dalam dunia pendidikan. Media sosial dalam dunia pendidikan secara fungsinya dikondisikan sebagai bentuk kolaborasi, keramahan, dan kreativitas penggunanya. kondisi yang terjadi kini, banyak kalangan masyarakat belum menyadari pentingnya kebutuhan sosial media dan internet dalam dunia pendidikan. 2. Critical Understanding Setelah dilakukan penelitian dengan cara menyebarkan kuesioner secara online terhadap 92 responden didapat skor rata-rata jawaban 3,47 skor ini berada pada skala interval 3,25 –4,00 yang artinya tahapan Critical Understandingtergolong sangat baik untuk kemampuan literasi media siswa di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping. Critical Understandingmerupakan pemahaman kritis pengguna terhadap media. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki pemahan tentang media. Kemampuan seseorang dalam berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam menerima sebuah informasi, hal tersebut guna menghindari pengguna media sosial terjerumus pada informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. a. Kemampuan Memahami Informasi dan Fungsi Media Analisis data yang diperoleh dari kusioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 3,29 yang berada pada skala interval 3,25 –4,00 (sangat baik). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki kemampuan memahami informasi yang ada di media dan juga mengetahui dengan sangat baik fungsi media sosial. Pada pernyataan kuesioner tentang kemampuan dalam memahami informasi di media terdapat 4,3% yang menyatakan kurang setuju, dan pada pernyataan tentang pemahaman fungsi media terdapat 3,3% siswa yang menyatakan kurang setuju. Dari pernyataan tersebut dapatdilihat, masih ada sebagian kecil siswa yang kurang mampu dalam memahami informasi dan fungsi media dikarenakan kurangnya pemahaman dan wawasan tentang media. Saat kita menerima informasi menarik dari media sosial, jangan langsung percaya. Sebaiknya cek dan ricek kembali validitas informasi. Jangan sampai kita turut menyebarkan informasi palsu (hoax), yang bisa jadi akan menjerat kita pada kasus hukum. Oleh karena itu perlunya pemahaman tentang informasi dan fungsi media agar tidak terpengaruh dampak negative media sosial. b. Memiliki Pengetahuan Tentang Media dan Regulasinya Analisis data yang diperoleh dari kuesioner penelitian pada pernyataan ini didapatakan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 3,58 yang berada pada skala interval 3,25 –4,00 (sangat baik). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki pengetahuan sangat baik tentang media dan regulasinya, seperti pemahaman tentang suatu atauran yang mengatur tentang penggunaan media. Pada pernyataan kusioner pemahaman tentang penyebaran informasi tidak benar merupakan pelanggaran UU ITE terdapat 3,3% menyatakan kurang setuju, dan 1,1% menyatakan tidak setuju. Dengan demikian dapat dilihat masih ada sebagian kecil siswa yang kurang memahami tentang regulasi dan peraturan media yang dapat membuat siswa terkena pidana atau pelanggaran hukum. Sama halnya dengan komunikasi di ranah publik dunia nyata, pada media sosial pun riskan menimbulkan konflik. Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE) dibuat untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan penyebaran informasi transaksi elektronik. UU ITE sebagai payung hukum bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berbicara di dunia maya. Kata-kata yang dituliskan lewat jemari kita, sesungguhnya merupakan cerminan dari kepribadian kita. Jangan sampai status atau komentar yang kita unggahdi media sosial justru menebarkan kebencian, menyinggung orang lain, bahkan menjerat kita ke dalam kasus hukum. c. Perilaku Pengguna Dalam Menggunakan Media Analisis data yang diperoleh dari kuesioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 2,94 yang berada pada skal interval 2,50 –3,24 (baik). Pada bagian ini sebagian besar siswa mampu menggunakan media sosial sebagai media mendapatkan informasi dan sebagai media pembelajaran, tapi masih banyak siswa yang menggunakan media hanya guna mencari hiburan semata. Pada pernyataan kuesioner tentang penggunaan media sosial sebagai media hiburan terdapat 66,3% siswa menyatakan sangat setuju dan 33,7% menyatakan setuju. Dengan demikian dapat dikatakan sebagian besar siswa menggunakan media sosial sebagai media untuk mendapatkan hiburan yang dapat berdampak kecanduan dan pemakaian berlebih terhadap media sosial. Media sosial dapat memengaruhi otak dengan cara yang berbahaya. Pengidapnya akan menggunakan media sosial secara kompulsif dan berlebihan. Mereka asik menggulir postingan, gambar, dan video hingga mengganggu aktivitas lain dalam hidupnya. Penyebab utama dari kecanduan media sosial adalah peningkatan dopamin otak yang memberikan efek kesenangan setelah menggunakan media sosial. Akhirnya, otak mengidentifikasi aktivitas ini sebagai aktivitas bermanfaat dan menyenangkan yang harus diulangi lagi. 3. Comunicative Abillities Kemampuan komunikatif yaitu kemampuan komunikasi dan partisipasi melalui media. Kemampuan komunikatif ini mencakup kemampuan untuk membangun relasi sosial serta berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat melalui media. Selain itu, kemampuan komunikatif ini juga mencakup kemampuan dalam membuat dan memproduksi konten media mengukur tingkat kemampuan literasi media (Hamka 2021:17). Setelah dilakukan penelitian dengan cara menyebarkan kuesioner secara online terhadap 92 responden didapat skor rata-rata jawaban 3,47, skor ini berada pada skala interval 3,47 –4,00 yang artinya tahapan Comunicative Abillitiestergolong sangat baik untuk kemampuan literasi media siswa di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping. a. Kemampuan Membangun Relasi Dengan Pengguna Media lainya Analisis data yang diperoleh dari kuesioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban yaitu 3.13 yang berada pada skala interval 2,50 –3,24 (baik). Dari data tersebut dapat disimpulkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping dapat dengan baik membangun relasi dengan pengguna media sosial lainya melalui media. Pada pernyataan kusioner tentang kemampuan membangun relasi dengan masyarakat luas terdapat 13% siswa menyatakaan kurang setuju, dimana dapat dikatakan sebagian kecil siswa belum mampu untuk membangun relasi dengan masyarakat luas melaui media. Dengan fakta tersebut masyarakat Indonesia sudah dapat dikatakan melek digital dan penguasaan dalam menggunakan media sosial termasuk dalam digital skills yang harus dimiliki saat ini. Pada dasarnya media sosial merupakan tempat untuk berinteraksi, berhubungan dengan orang lain sehingga memiliki jaringan pertemana baru untuk dimanfaatkan maupun dijadikan sebagai peluang. Saat masyarakat menggunakan media sosial, di sanalah terdapat kesempatan untuk membangun relasi, membagikan keahlian, menambah pengetahuan, hingga bisa terhubung kapan pun. Media sosial memungkinkan seseorang untuk membagikan hal yang diketahui dan ingin diketahui. b. Kemampuan Berpartisipasi Dengan Masyarakat Umum Melalui Media Analisis data yang diperoleh pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban pada bagian ini yaitu 3.09 yang berada pada skala interval 2,50 –3,24 (baik). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping mampu berpartisipasi dengan masyarakat umum melalui media, seperti pernyataan kusioner untuk ikut memberi bantuan ataupun doa ketika melihat postingan tentang bencana alam dan sebagainya. Pada pernyataan kuesioner tentang kemampuan berpartisipasi dengan masyarakat luas melalui media terdapat 16,3% siswa menyatakan kurang setuju, yang dapat dikatakan sebagian kecil siswa belum mampu dalam berpartisipasi dengan masyarakat umum melalui media.Dikarenakan kurangnya simpati dan empati dengan masyarakat diluar sana dan ketidak pedulian diantara manusia. c. Kemampuan Memproduksi Informasi Di Media Analisis data yang diperoleh dari kuesioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawaban pada bagian ini yaitu 3,2 yang berada pada skala interval 2,50 –3,24 (baik). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan sebagian siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping mampu memproduksi informasi melalui media sosial dengan baik, seperti pernyataan mampu dalam membuat konten media yang berisikan informasi yang penting melalui media sosial. Pada pernyataan kusioner tentang kemampuan dalam memproduksi konten media yang berisikan informasi terdapat 20,7% menyatakan kurang setuju dan 3,3% menyatakan tidak setuju. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian siswa belum mampu memproduksi konten media yang berisikan informasi dikarenakan kurangnya pemahaman tentang informasi dan media sehingga dapat mengakibatkan siswa terkena pelanggaran peraturan jika mereka menyebarluaskan konten yang melanggar ketentuan dan regulasi media. 4. Kemampuan Analisis Dan Evaluasi Pada tahap ini peneliti ingin melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi informasi yang tersebar di media, apakah siswa mampu menyaring informasi yang mereka dapat melaui media atau tidak. Setelah dilakukan penelitian dengan cara menyebarkan kuesioner secara online terhadap 92 responden didapat skor rata-rata jawaban 3,15, skor ini berada pada skala interval 2,50 –3,24 yang artinya tahapan Kemampuan analisis dan evaluasi tergolong baik untuk kemampuan literasi media siswa di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping. a. Kemampuan Menganalisis Informasi Di media Analisis data yang diperoleh dari kuesioner penelitian pernyataan ini didapatkan bahwa skopr rata-rata total jawaban yaitu 3,24 yang berapa pada skala interval 2,50 –3,24 (baik). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagain besar siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping mampu dengan baik menganalisis informasi yang ada di media sosial, seperti membandingkan informasi yang didapatkan melalui media dan memvalidasi kebenarannya. Pada pernyataan kusioner tentang kemampuan membedakan informasi hoaxmelaui pemeriksaan mendalam terdapat 13% siswa menyatakan kurang mampu. Dapat dikatakan sebagian kecil siswa masih rawan terpapar informasi hoaxkarena kurangnya pemahaman dan wawasan tentang informasi. Penyebaran hoaks bisa membuat masyarakat menjadi skeptis terhadap semua sumber informasi, termasuk media, pemerintah, dan lembaga resmi. Hal ini dapat mengacaukan kemampuan masyarakat dalam membedakan antara fakta dan fiksi. Dalam sebuah studi di University of California San Francisco, para psikolog sepakat bahwa hoax bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti Post-Traumatic Stress Syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sampai kekerasan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan wawasan mengenai informasi yang tidak benar di media sosial agar terhindar dari paparan berita hoax.b. Kemampuan Mengevaluasi Informasi Di Media Analisis data yang diperoleh dari kusioner penelitian pada pernyataan ini didapatkan bahwa skor rata-rata total jawabn yaitu 3,01 yang berarti berada pada skala interval 2,50 –3,24 (Baik). Dari data tersebut dapat disimpulkan sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping mampu dengan baik mengevaluasi informasi yang ada di media sosial, seperti pernyataan mampu mengevaluasi terlebih dahulu informasi yang didapatkan melalui media sosial sebelum memanfaatkan informasi tersebut. Pada pernyataan kuesioner tentang kemampuan mengevaluasi informasi di media terdapat 5,4% siswa menyatakan kurang setuju. Dengan demikian dapat disimpulkan sebagian kecil siswa belum mampu mengevaluasi informasi di media dikarenakan kurangnya wawasan mengenai informasi. Menurut Arikunto dan Cepi (2014: 1) evaluasi adalah To Find Out, decide The Amount Or Value. Artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi harus dilakukan secara baik, bertanggung jawab, menggunakan metode ataupun strategi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan informasi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan fakta atau data yang di organisasikan dengan cara tertentu yang memiliki arti bagi penerimanya. Menurut Hasugian (2009: 5), informasi adalah sebuah konsep yang universal dalam jumlah muatan yang besar, meliputi banyak hal dalam ruang lingkupnya masingmasing dan terekam pada sejumlah media. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi informasi merupakan kegiatan penilaian suatu fakta atau data yang telah di organisasikan dengan menggunakan kriteria standar tertentu dan dilakukan secara baik dan bertanggung jawab.
Conclusion
Berdasarkan hasil penyebaran angket mengenai Kemampuan Literasi Media Siswa Di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pada indikator Use Skill(kemampuan teknis) memiliki skor rata-rata 3,41 yang berada pada skala interval 3,25 –4,00 sehingga dapat disimpulkan kemampuan teknis siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping dikategorikan sangat baik. Yang mana siswa memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengakses internet dan menggunakan media. Kedua, pada indikator Critical Understanding(pemahaman kritis) memiliki skor rata-rata 3,47 yang berada pada skala interval 3,25 –4,00 sehingga dapat disimpulkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki pemahaman kritis yang sangat baik. Yang mana siswa mampu memahami informasi dan fungsi media dengan sangat baik. Ketiga, pada indikator Comunicative Abillitis(kemampuan komunikatif) memiliki skor rata-rata 3,16 yang berada pada skala interval 2,50 –3,24 sehingga dapat disimpulkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping memiliki kemampuan komunikatif dalam kategori baik. Yang mana pernyataan siswa mampu membangun relasi dan berbartisipasi dengan masyarakat luas melalui media sosial, dan juga mampu memproduksi konten media dengan baik. Empat, pada indikator Evaluasi dan Analisis memiliki skor rata-rata 3,15 yang berada pada skor interval 2,50 –3,24 sehingga dapat disimpulkan kemampuan mengevaluasi dan menganalisis infirmasi siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping dalam kategori baik. dengan kemampuan analisis dan evaluasi yang baik siswa dapat terhindar dari pengaruh buruk media seperti berita hoaxdan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis mengajukan beberapa saran kepada pihak terkait dalam penelitian ini yaitu, Pertamadiharapkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping dapat membertahankan kemampuan literasi media pada indikator Use Skilldan Critical Understanding, diharapkan juga siswa dapat meningkatkan kemampuan literasi media pada indikator Comunicative Abillities, Analisis ,dan Evaluasi. Kedua, diharapkan siswa SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping mampu memanfaatkan media sosial sebaik-baiknya, bukan hanya sebagai media mencari hiburan tetapi juga media mendapatkan informasi. Ketiga, berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk penelitian selanjutnya. Kontribusi yang diberikan yaitu hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai latar belakang dan pendukung untuk melakukan penelitian selanjutnya di lokasi tersebut.