Implementasi Metode CREW dalam Proses Penyiangan Koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak
Universitas Tanjungpura
Abstrak
Penyiangan koleksi adalah langkah krusial dalam manajemen perpustakaan untuk memastikan bahan bacaan tetap berkualitas dan relevan. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode penyiangan yang sistematis dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan koleksi. Dalam konteks ini, penelitian proses penyiangan dengan metode CREW (Continuous Review, Evaluation, and Weeding) di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak bertujuan meningkatkan kualitas dan relevansi koleksi dengan menyingkirkan bahan yang usang, tidak relevan, atau kurang diminati, sehingga koleksi yang tersisa dapat lebih efektif mendukung kegiatan belajar mengajar. Metode CREW meliputi continuous review yaitu peninjauan berkala terhadap koleksi untuk memastikan relevansi, evaluation yaitu penilaian kondisi fisik dan frekuensi penggunaan koleksi, serta weeding yaitu penyingkiran bahan yang tidak memenuhi kriteria kualitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi non-partisipan, sehingga data yang diperoleh lebih objektif dan akurat. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum penyiangan, kondisi koleksi perpustakaan masih di bawah standar pengelolaan yang diatur dalam Perka nomor 11 Perpustakaan Nasional RI 2023. Melalui penerapan metode CREW, perpustakaan berhasil menyiangkan hampir 1271 buku mata pelajaran kurikulum 2010, dengan faktor utama penghapusan meliputi kerusakan fisik, informasi yang ketinggalan zaman, dan rendahnya frekuensi peminjaman. Meskipun metode ini terbukti efektif, terdapat kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia yang terlatih dan kebijakan perpustakaan yang belum sepenuhnya mendukung, yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi metode ini dalam jangka panjang.
Abstract
Collection weeding is a crucial step in library management to ensure that reading materials remain high quality and relevant. Research shows that implementing a systematic weeding method can improve the efficiency and effectiveness of collection management. In this context, research on the application of the CREW method (Continuous Review, Evaluation, and Weeding) in SMA Negeri 6 Pontianak Library aims to improve the quality and relevance of the collection by removing obsolete, irrelevant, or less desirable materials, so that the remaining collection can more effectively support teaching and learning activities. The CREW method includes continuous review, which is a periodic review of the collection to ensure relevance, evaluation, which is an assessment of the physical condition and frequency of use of the collection, and weeding, which is the removal of materials that do not meet quality criteria. This research uses a qualitative method with a non-participant observation approach, so that the data obtained is more objective and accurate. The results showed that before weeding, the condition of the library collection was still below the management standards stipulated in National Library Regulation number 11 of the Republic of Indonesia 2023. Through the application of the CREW method, the library successfully weeded out nearly 1271 2010 curriculum subject books, with the main factors for removal including physical damage, outdated information, and low frequency of borrowing. Although the method proved effective, there were obstacles
Keywords:
CREW methods
· school library
· weeding
· collection management
· material evaluation
Introduction
Proses penyiangan di perpustakaan sekolah sangat penting untuk memastikan koleksi buku tetap relevan dan berkualitas. Dengan menyingkirkan bahan bacaan yang sudah usang, tidak terpakai, atau rusak, perpustakaan dapat memberikan akses kepada siswa terhadap informasi yang akurat dan terkini. Penyiangan juga membantu mengoptimalkan ruang penyimpanan, sehingga memungkinkan penambahan koleksi baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan kurikulum dan minat siswa. Selain itu, proses ini meningkatkan pengalaman membaca dan belajar, menjadikan perpustakaan sebagai sumber daya yang lebih efektif dan menarik bagi seluruh komunitas sekolah (Becker, 2024). Koleksi perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak saat ini mencakup sebanyak 804 judul buku yang beragam, dirancang untuk memenuhi permintaan pemustaka serta disesuaikan dengan kurikulum sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka, akan tetapi dari koleksi ini banyak sekali yang sudah tidak terpakai dikarenakan terganti oleh koleksi yang lebih baru dan dipindahkan ke gudang perpustakaan yang menyebabkan penumpukan yang sangat banyak. Perpustakaan sekolah masih banyak yang tidak bisa melakukan proses penyiangan dikarenakan beberapa faktor, yaitu perpustakaan sekolah menghadapi keterbatasan dalam hal anggaran, tenaga kerja, dan waktu, tanpa data yang jelas mengenai peminjaman dan penggunaan koleksi, sulit untuk menentukan koleksi yang tidak lagi relevan. Penyiangan koleksi merupakan bagian penting dari manajemen koleksi karena melibatkan evaluasi dan penyingkiran atau pemusnahan bahan bacaan yang tidak lagi memenuhi kriteria yang dibutuhkan (Kaharudin & Zulaikha, 2022). Sejak berdirinya Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak pada tahun 1985, proses penyiangan koleksi baru pertama kali dilakukan pada bulan Mei tahun 2024 dikarenakan tidak adanya kesadaran dari pihak perpustakaan untuk melakukan penyiangan, Menurut Perka nomor 11 Perpustakaan Nasional RI (2023) anjuran proses penyiangan pada perpustakaan sekolah harus memiliki pedoman tertulis untuk menyiangi koleksinya, termasuk penyiangan berulang setiap lima tahun sekali dengan beberapa tahapan yaitu persiapan, identifikasi kriteria penyiangan, tinjauan koleksi, evaluasi, pelaksanaan penyiangan, dokumentasi dan pelaporan, evaluasi ulang, dan melibatkan staf perpustakaan dan guru dalam proses penilaian. Proses penyiangan menggunakan metode CREW dapat dikatakan belum sepenuhnya sempurna karena koleksi yang sudah disiang masih berada di perpustakaan yang mencakup 72 judul buku mengenai buku mata pelajaran kurikulum 2010 dengan jumlah 1271 buku. Proses penyiangan ini mencakup tahap peninjauan frekuensi peminjaman koleksi, diikuti oleh tahap evaluasi untuk menentukan kondisi dan relevansi koleksi yang ada. Namun, hasil dari penyiangan ini menunjukkan bahwa koleksi yang telah disiang hanya ditempatkan di gudang, yang berpotensi berdampak negatif pada kualitas keseluruhan koleksi perpustakaan. Beberapa masalah yang muncul akibat kondisi ini meliputi banyaknya koleksi yang rusak dan tidak layak pakai, koleksi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka, serta penggunaan koleksi yang jarang, yang semuanya berkontribusi pada penyempitan ruang perpustakaan. Permasalahan yang dihadapi perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak adalah adanya koleksi yang sudah tidak relevan sesuai kurikulum sekolah, rusak dikarenakan halaman yang sobek dan terkena rayap, atau penggunaan koleksinya kurang karena koleksi tidak sesuai dengan kebutuhan informasi yang diinginkan pemustaka. Hal ini menyebabkan kapasitas penyimpanan yang tidak memadai, kesulitan dalam menemukan bahan pustaka, dan menurunnya minat siswa untuk menggunakan perpustakaan. Salah satu cara mengatasi masalah ini, koleksi harus disiangi secara teratur sesuai dengan standar operasional perpustakaan sekolah dalam proses penyiangan yang relevan pada koleksi dengan bantuan penggunaan salah satu metode penyiangan yaitu metode CREW untuk melakukan proses penyiangan koleksi pada perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Penelitian ini memiliki dampak yang signifikan terhadap pengelolaan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Dalam penelitian ini, pada rumusan masalah, yaitu mendeskripsikan penerapan metode CREW dalam proses penyiangan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Pertama, mengetahui bagaimana kondisi koleksi yang ada sebelum diterapkannya proses penyiangan dengan metode CREW. Selanjutnya, analisis dilakukan terhadap proses penyiangan yang dilakukan di perpustakaan tersebut dengan menerapkan metode CREW. Selain itu, penelitian ini juga berupaya untuk mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak dalam menerapkan metode CREW selama proses penyiangan koleksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode CREW dalam proses penyiangan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi koleksi yang ada sebelum penerapan metode CREW, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan yang dihadapi perpustakaan dalam mengelola koleksinya. Selain itu, analisis yang dilakukan akan menggali lebih dalam mengenai proses penyiangan yang diterapkan, termasuk efektivitas dan efisiensinya dalam meningkatkan kualitas koleksi. Penelitian ini juga berusaha untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang mungkin dihadapi selama penerapan metode CREW, dengan harapan dapat memberikan rekomendasi untuk perbaikan dan pengembangan lebih lanjut. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mendorong peningkatan penggunaan perpustakaan oleh siswa dalam mendukung proses belajar mereka. Kennedy (2015) menyatakan <Weeding is a necessary step in the growth of library collections. The process necessitates meticulous preparation, deliberate decision- making, and clear user communication=. Penyiangan yang baik dan efektif memerlukan persiapan yang cermat, pengambilan keputusan yang matang, dan komunikasi yang jelas dengan pemustaka. Ada beberapa metode yang dapat membantu dalam melakukan proses penyiangan koleksi perpustakaan, dan salah satu metode yang sangat dianjurkan adalah metode CREW (Continuous Review, Evaluation, and Weeding), continuous review yaitu, pustakawan melakukan tinjauan koleksi secara teratur. Metode ini memerlukan identifikasi buku atau materi yang harus diperiksa berdasarkan pengumpulan data tentang penggunaan koleksi, seperti frekuensi peminjaman dan relevansi materi dengan kurikulum atau kebutuhan pemustaka (Khan dan Bhati, 2024). Metode ini tidak hanya berfokus pada penyiangan buku-buku yang sudah tidak lagi dibutuhkan, tetapi juga mencakup peninjauan koleksi perpustakaan yang berlangsung secara terusmenerus. Metode ini juga dapat memungkinkan pustakawan melakukan penilaian yang lebih objektif dan berdasarkan data terhadap setiap item dalam koleksi. Hal ini akan memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik tentang buku mana yang harus disimpan atau dihancurkan (Bentil, 2022). Berdasarkan penelitian yang akan dibahas, mengenai proses penyiangan koleksi pada perpustakaan terdapat lima penelitian terdahulu yang dapat menguatkan pembahasan yang apabila dikaitkan secara keseluruhan artikel tersebut memiliki fokus yang sama, yaitu menurut Nur (2021) penelitian ini mengeksplorasi peran penyiangan koleksi dalam pengelolaan perpustakaan sekolah di SMP Negeri 1 Bawen dan bagaimana hal ini mempengaruhi kualitas dan relevansi koleksi. Di sisi lain, penelitian di SMA Negeri 6 Pontianak berfokus pada penerapan metode CREW yang sistematis, yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses penyiangan. Menurut Rapita (2020) penelitian ini berfokus menunjukkan bahwa kegiatan penyiangan bahan pustaka (Weeding) di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dilakukan dalam waktu yang tidak menentu, dari bulan Januari sampai bulan Desember proses penyiangan dilakukan. Jika pustakawan atau pengelola perpustakaan menemukan koleksi yang rusak, tidak up to date, ada koleksi terbaru, maka koleksi-koleksi tersebut akan ditarik dari rak koleksi kemudian nanti digudangkan atau dihibahkan tergantung kondisi koleksi. Pada penelitian di SMA Negeri 6 Pontianak lebih menekankan pada penerapan metode CREW yang sistematis dan terencana. Di SMA Negeri 6 Pontianak, proses penyiangan tidak hanya berfokus pada pengidentifikasian koleksi yang rusak atau tidak relevan, tetapi juga melibatkan analisis mendalam terhadap kondisi koleksi sebelum dan sesudah penerapan metode tersebut. Selain itu, penelitian di SMA Negeri 6 Pontianak bertujuan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi selama proses penyiangan, yang tidak disebutkan dalam penelitian Rapita. Arianti (2017) menyatakan hasil penelitian Perpustakaan Medan Area adalah pedoman yang digunakan dalam penyiangan yaitu tahun terbit koleksi, buku yang hilang bagiannya atau tidak lengkap, dan perpustakaan tidak menggunakan metode CREW dalam penyiangan karena menurut mereka teorinya sulit dan akan berakibat banyak koleksi yang akan disiangi. Dalam penelitian yang peneliti teliti, Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak pada saat melakukan proses penyiangan dengan menggunakan metode CREW masih dikatakan belum sempurna dikarenakan untuk tahapan weeding atau penyiangan, koleksi yang disiang masih tersimpan di gudang perpustakaan. Peneliti Kaharudin (2022) dengan judul <Penyiangan Koleksi Perpustakaan Umum Sebagai Dedikasi dan Tanggung Jawab Pustakawan= penelitian ini berfokus pada penyiangan koleksi yang sangat penting bagi perpustakaan umum untuk membuang bahan koleksi yang sudah ketinggalan zaman, untuk memastikan bahwa pemustaka memiliki akses ke informasi yang relevan dan terkini menggunakan metode CREW. Dalam penelitian yang peneliti teliti, Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak untuk melakukan penyiangan hanya sampai pada tahap evaluasi dari 3 tahapan pada metode CREW dan koleksi yang ada lebih banyak koleksi buku pelajaran. Dalam studi yang dilakukan oleh Delgado (2021) berjudul <Weeding into Outreach: A Case Study using an Urban Community College’s Library,= hasil penelitian ini berfokus pada prosedur penyiangan yang diterapkan di Perpustakaan Urban Community College, di mana saat melakukan pemilihan kriteria koleksi yang akan disiang, perpustakaan tersebut menggunakan metode CREW untuk memastikan bahwa koleksi yang ada tetap relevan dan sesuai dengan kebutuhan pemustakanya yang terus berkembang. Proses penyiangan yang dilakukan di SMA Negeri 6 Pontianak berbeda dengan penelitian Delgado (2021), yang dimana kriteria yang digunakan dalam menentukan koleksi yang akan disiang cenderung terbatas, di mana staf perpustakaan hanya melihat pada kondisi fisik buku, seperti apakah buku tersebut sudah rusak parah atau sangat usang, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti frekuensi peminjaman, relevansi konten, atau umpan balik dari pemustaka. Penerapan metode CREW (Continuous Review, Evaluation, and Weeding) pada proses penyiangan koleksi di SMA Negeri 6 Pontianak membawa keterbaharuan yang signifikan. Metode ini memungkinkan staf perpustakaan untuk secara sistematis mengevaluasi koleksi buku berdasarkan kriteria tertentu, seperti relevansi, kondisi fisik, dan penggunaan. Dengan pendekatan ini, penyiangan menjadi lebih terstruktur dan efisien, sehingga memudahkan staf dalam mengidentifikasi buku-buku yang tidak layak digunakan. Selain itu, metode CREW meningkatkan partisipasi staf dalam proses evaluasi, mendorong kolaborasi dan diskusi yang konstruktif. Hal ini tidak hanya mempercepat proses penyiangan, tetapi juga memastikan bahwa koleksi yang tersisa lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pengguna, sehingga perpustakaan dapat berfungsi secara optimal sebagai sumber belajar. Harapan kontribusi dari penelitian ini bagi peneliti lain dan kalangan praktisi pustakawan adalah untuk memberikan wawasan dan contoh konkret tentang penerapan metode penyiangan dalam konteks perpustakaan sekolah. Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pustakawan lain yang menghadapi tantangan serupa, serta mendorong mereka untuk mengadopsi pendekatan yang sistematis dan berbasis data dalam pengelolaan koleksi.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan secara mendetail suatu permasalahan atau fenomena yang terjadi saat ini (Triyono, 2021). Dengan pendekatan ini, peneliti berusaha untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai konteks, makna, dan dinamika yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Data dikumpulkan melalui berbagai teknik, seperti wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumen, yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan informasi yang kaya dan beragam (Haryono, 2020). khususnya yang berkaitan dengan penerapan metode CREW dalam proses penyiangan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Menyajikan hasil data yang diperoleh dengan cara akurat dan objektif, sesuai dengan kondisi yang ditemukan di lapangan, tanpa adanya manipulasi atau pengubahan data yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Pendekatan deskriptif ini memungkinkan peneliti untuk menangkap nuansa dan kompleksitas situasi yang ada, sehingga hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana metode CREW diimplementasikan dan dampaknya terhadap koleksi perpustakaan, untuk mempermudah pemahaman tentang proses penyiangan menggunakan metode CREW, Ilustrasi ini dapat menunjukkan tiga komponen utama metode CREW: Continuous Review, Evaluation, dan Weeding. Gambar 1. Proses Penyiangan Koleksi dengan Metode CREW Sumber data utama penelitian berasal dari narasumber dan dokumen yang relevan terdiri dari, data frekuensi koleksi, laporan penyiangan tahun 2024, dan data dokumentasi saat penyiangan berlangsung. Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah melaksanakan pra-observasi untuk mendapatkan gambaran awal mengenai kondisi perpustakaan dan proses penyiangan yang berlangsung. Data dikumpulkan melalui berbagai teknik, termasuk wawancara, observasi, dan dokumentasi. Narasumber yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari tiga orang, yaitu kepala sekolah, kepala perpustakaan, dan staf perpustakaan. Masing-masing narasumber diwawancarai dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan proses penyiangan koleksi, sehingga dapat diperoleh pandangan yang beragam mengenai pelaksanaan metode CREW. Selain wawancara, peneliti juga menggunakan observasi non-partisipasi untuk mengamati dan mengetahui penerapan metode CREW dalam proses penyiangan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Metode observasi ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk melihat secara langsung bagaimana proses penyiangan dilakukan, serta interaksi yang terjadi antara staf perpustakaan dan pemustaka dalam konteks tersebut. Dengan cara ini, peneliti dapat mengumpulkan data yang lebih holistik dan menyeluruh. Model teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis fenomenologi dengan pendekatan pengalaman narasumber merupakan metode yang berfokus pada pemahaman mendalam mengenai pengalaman subjektif individu terkait suatu fenomena tertentu. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman pengalaman subjektif narasumber, yaitu kepala sekolah, kepala perpustakaan, dan staf perpustakaan, dengan mengambil sudut pandang mereka sendiri (Creswell, 2016). Dengan memahami bagaimana masing-masing narasumber merasakan dan memaknai pengalaman mereka terkait penerapan metode CREW, peneliti dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam mengenai efektivitas metode tersebut dalam konteks penyiangan koleksi. keabsahan data yang diperoleh untuk memastikan penelitian ini konkrit, peneliti menerapkan tiga macam uji keabsahan, yaitu perpanjangan pengamatan, member check, dan triangulasi. Perpanjangan pengamatan dilakukan dengan memberikan waktu yang cukup untuk mengamati fenomena yang diteliti agar peneliti mendapatkan pemahaman yang mendalam. Member check dilakukan dengan cara meminta narasumber untuk memverifikasi informasi yang telah dikumpulkan, sehingga dapat memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan pandangan mereka. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai sumber dan metode, yang bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas hasil penelitian (Anggito, 2019). Waktu penelitian berlangsung selama 1 bulan, dari Januari hingga Februari 2025, Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Karakteristik demografis populasi mencakup usia, jabatan, dan pengalaman kerja narasumber, yang memberikan konteks tambahan terhadap wawasan yang diperoleh dalam penelitian ini.
Result & Discussion
Hasil temuan dari penelitian mengenai penerapan metode CREW dalam proses penyiangan koleksi di SMA Negeri 6 Pontianak yang menggunakan teori Khan dan Bhati (2024). Mereka menjelaskan bahwa metode CREW adalah pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan untuk manajemen koleksi perpustakaan, khususnya penyiangan yang sesuai dengan manajemen perpustakaan sekolah. Metode ini memiliki tahapan-tahapan dalam proses penyiangan, yaitu peninjauan frekuensi koleksi, evaluasi kondisi koleksi, dan penyiangan. Adapun objek yang diteliti, yakni kondisi koleksi perpustakaan sebelum adanya proses penyiangan, proses penyiangan menggunakan metode CREW dalam meningkatkan kualitas koleksi perpustakaan, dan kendala yang terjadi pada saat melakukan proses penyiangan. Peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan cara yang sistematis, termasuk wawancara mendalam dengan narasumber, observasi langsung di perpustakaan dan dokumentasi. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan terhadap penerapan metode CREW khususnya di perpustakaan sekolah. Kondisi Koleksi Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak Sebelum Proses Penyiangan Menggunakan Metode CREW Kondisi koleksi buku di perpustakaan merupakan aspek yang sangat penting untuk memastikan bahwa pemustaka, baik siswa maupun guru, memiliki akses ke informasi yang berkualitas tinggi dan relevan untuk mendukung proses belajar mengajar. Buku-buku yang layak pakai harus berada dalam kondisi fisik yang baik, tanpa kerusakan besar seperti halaman yang robek, penjilidan yang longgar, atau sampul yang rusak, seperti yang dijelaskan oleh Olubiyo (2023), dalam perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak rata-rata koleksi yang ada 85% sudah mengalami kerusakan seperti robek, terkena rayap, basah, dan halaman yang hilang. Meskipun demikian, buku-buku tersebut masih ada di rak perpustakaan dan beberapa di antaranya masih digunakan oleh siswa dan guru, yang menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak untuk melakukan penilaian dan tindakan yang tepat. Sebagaimana seharusnya, koleksi yang tidak layak pakai harus segera dilakukan penyiangan atau setidaknya mendapatkan perawatan secara berkala agar tidak mengganggu pengalaman belajar dan mengajar, serta memastikan bahwa pemustaka dapat mengakses bahan bacaan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan mereka (Dahlia, 2021). Selain itu, kebersihan buku juga menjadi pertimbangan penting, karena buku yang bersih dan terawat dengan baik tidak hanya lebih menarik bagi pembaca, tetapi juga mencerminkan profesionalisme dan kepedulian perpustakaan terhadap koleksinya. Narasumber pertama menjelaskan kondisi koleksi yang ada di perpustakaan sebelum adanya proses penyiangan (Senin, 21 Januari 2025), yaitu: = Kondisi koleksi sebelum adanya proses penyiangan ya, yaitu koleksi yang sudah rusak masih dipajang di rak, koleksi yang tahun terbitnya lama juga masih di pajang, dan koleksi baru ada kalanya masih terbungkus bagus itu malah disimpan di gudang dan tidak dipakai, dikarenakan terlalu banyak buku yang dibeli. = Gambar 2. Koleksi Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak Selain kondisi fisik, relevansi materi dalam buku merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kelayakannya untuk digunakan dalam proses pembelajaran dan penelitian. Buku-buku yang sudah ketinggalan zaman, baik karena informasi yang disajikan tidak lagi akurat atau tidak sesuai dengan penemuan ilmiah terbaru, maupun karena konten yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pemustaka saat ini, harus ditinjau ulang secara berkala. Jika memungkinkan, buku-buku tersebut perlu diganti dengan versi terbaru yang lebih sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dengan kebutuhan spesifik pemustaka yang terus berubah seiring waktu. Hal ini penting agar perpustakaan dapat terus menyediakan sumber daya yang berkualitas tinggi dan relevan, sehingga dapat mendukung proses belajar yang efektif dan memenuhi harapan serta tuntutan pengguna. Menurut Perpustakaan Nasional RI (2017), peninjauan dan pembaruan koleksi buku merupakan langkah yang sangat penting, karena tidak hanya akan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, tetapi juga memastikan bahwa pemustaka memiliki akses ke informasi terkini yang dapat memperkaya pengetahuan mereka. Akses ini sangat vital dalam mendukung pencapaian tujuan akademik atau profesional para pemustaka, sehingga mereka dapat tetap kompetitif dalam dunia yang terus berubah dan berkembang. Proses Penyiangan di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak dalam proses penyiangan telah dilakukan dengan menerapkan metode CREW, yang dirancang untuk memudahkan pengkategorian koleksi yang layak dan tidak layak melalui beberapa tahap yang sistematis dan mudah dipahami, sehingga memungkinkan staf perpustakaan untuk melaksanakan penyiangan dengan lebih efisien. Namun, perlu dicatat bahwa proses ini dapat dikatakan sebagai proses semi-penyiangan, karena meskipun koleksi yang sudah disiang telah melalui evaluasi dan penentuan kelayakan, buku-buku yang dinyatakan tidak layak tersebut masih tetap berada di dalam perpustakaan. Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk melakukan tindakan lebih lanjut, seperti pemindahan koleksi yang tidak layak ke tempat penyimpanan yang lebih sesuai atau bahkan penghapusan dari rak, agar perpustakaan dapat menyediakan ruang yang lebih baik untuk koleksi yang relevan dan berkualitas, serta menciptakan lingkungan yang lebih optimal bagi pemustaka dalam mencari dan mengakses informasi yang mereka butuhkan. Dalam proses penyiangan di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak ada beberapa tahapan yang dilakukan dengan menggunakan metode CREW (Continuous review, Evaluation, and Weeding) sebagai berikut: Gambar 3. Proses penyiangan koleksi dengan metode CREW pada Perpustakan SMA Negeri 6 Pontianak 1. Continuous review (Pemantauan frekuensi koleksi) Tahapan pertama dalam melakukan peninjauan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak melibatkan langkah-langkah yang sistematis dan terorganisir, di mana staf perpustakaan dengan teliti mencatat buku-buku yang akan dipinjam oleh siswa. Proses ini mencakup pembuatan data peminjaman per kelas untuk koleksi buku yang berkaitan dengan mata pelajaran serta buku non-pelajaran, sehingga informasi yang diperoleh dapat memberikan gambaran yang jelas tentang minat dan kebutuhan siswa. Saat melaksanakan proses ini, setiap transaksi peminjaman didokumentasikan secara akurat dan rinci, mencakup informasi penting seperti judul buku, identitas peminjam, dan tanggal peminjaman, sehingga memudahkan pelacakan dan pengelolaan data. Sesuai dengan penjelasan narasumber ketiga (Kamis, 16 Januari 2025) bahwa: <Proses peninjauan ini yang pertama berawal dari siswa meminjam buku dan staf perpustakaan mencatat buku peminjaman yang dipinjam. Setelah itu data ini dimasukkan ke dalam softfile data untuk di tinjau berkala sesuai kelas siswa dan persemester.= Data yang terkumpul dari setiap transaksi peminjaman tersebut kemudian dikonversi ke dalam format digital, yang tidak hanya mempermudah penyimpanan dan pengelolaan informasi, tetapi juga memungkinkan untuk dilakukan analisis dan peninjauan secara berkala (Rapita, 2020). Data ini diatur berdasarkan klasifikasi kelas siswa dan waktu semester, sehingga staf perpustakaan dapat dengan mudah melacak tren peminjaman, mengidentifikasi buku-buku yang paling banyak diminati oleh siswa, serta mengevaluasi kebutuhan koleksi yang relevan dengan kurikulum yang sedang berjalan. Memanfaatkan pendekatan yang sistematis ini, perpustakaan tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan koleksi, tetapi juga memberikan layanan yang lebih baik kepada pemustaka. Selain itu, proses ini memastikan bahwa koleksi yang ada selalu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, sehingga mendukung pencapaian akademis mereka secara optimal (Lantzy et al., 2020). 2. Evaluation (Evaluasi kondisi koleksi) Tahapan kedua dalam proses penyiangan koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak adalah evaluasi kondisi koleksi yang ada, yang bertujuan untuk menilai secara komprehensif koleksi mana yang layak untuk tetap berada di rak perpustakaan dan mana yang sebaiknya disingkirkan, seperti yang dijelaskan oleh Pebriani dan Jumino (2019). Proses evaluasi ini masih dilakukan secara manual, di mana staf perpustakaan bersama kepala sekolah melakukan penilaian mendetail terhadap kondisi fisik koleksi serta relevansi informasi yang terkandung dalam setiap buku dan bahan lain yang ada. Sesuai penuturan narasumber ketiga (Kamis, 16 Januari 2025), bahwa: <Proses evaluasi ini masih manual, untuk koleksi yang masih layak akan di susun di rak depan. Tetapi koleksi yang kondisinya rusak (sobek, usang, halamannya hilang, tahun terbitnya sudah tua, dan informasinya tidak sesuai dengan siswa) akan diletakkan di dalam kotak atau langsung diletakkan di gudang perpustakaan.= Proses evaluasi yang diterapkan oleh perpustakaan, yaitu mereka menetapkan standar tidak tertulis yang mengkategorikan koleksi yang dianggap layak untuk disingkirkan, mencakup berbagai indikasi seperti buku-buku yang sudah usang dan termakan rayap, buku yang mengalami kerobekan yang signifikan, buku dengan halaman yang hilang, serta buku yang memiliki tahun terbit yang sudah terlalu tua. Menurut Shrauner (2022), proses evaluasi koleksi perpustakaan memerlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi fisik buku, termasuk adanya kerusakan seperti robekan, kehilangan beberapa elemen, dan tahun penerbitan. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa koleksi tersebut memenuhi standar kualitas. Selain itu, relevansi informasi pada buku juga menjadi pertimbangan utama; jika informasi dalam buku tersebut sudah tidak sesuai dengan kebutuhan belajar siswa saat ini, maka buku tersebut dimasukkan ke dalam kategori yang perlu disingkirkan. Adanya pendekatan evaluasi ini, perpustakaan diharapkan dapat menjaga kualitas koleksi dan memastikan bahwa semua bahan bacaan yang tersedia adalah sumber informasi yang bermanfaat, aktual, dan relevan bagi pemustaka, sehingga dapat mendukung proses pembelajaran dengan lebih efektif. 3. Weeding (Penyiangan) Tahapan ketiga, yang merupakan proses utama dalam penyiangan menggunakan metode CREW, adalah proses penyiangan akhir yang dilaksanakan setelah melalui tahapan-tahapan sebelumnya, di mana proses ini berfokus pada pemusnahan bahan pustaka atau koleksi yang tidak lagi memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perpustakaan, sebagaimana diungkapkan oleh Ulayya (2023). Proses penyiangan ini menjadi tahapan paling akhir, di mana semua koleksi yang telah dinyatakan tidak layak untuk disingkirkan dari ruang perpustakaan akan dipindahkan. Hal ini disampaikan oleh narasumber kedua dengan menjelaskan bahwa koleksi yang ada belum bisa disingkirkan dari perpustakaan sekolah (Rabu, 15 Januari 2025), yaitu: <Langkah pertama yaitu di data terlebih dahulu koleksi yang sudah di evaluasi, setelah itu koleksi yang akan disiang di dokumentasi satu persatu sebagai bukti, kemudian masukan data dan dokumentasi tersebut dalam berita acara dan baru diberikan kepada kepala sekolah untuk meminta persetujuan. Jika kepala sekolah setuju, buku yang disiang dimasukan ke dalam kotak dan dipindahkan ke gudang lain.= Pelaksanaan proses penyiangan ini dilakukan secara kolaboratif oleh kepala perpustakaan dan staf Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak. Mereka bekerja sama untuk memastikan bahwa koleksi yang telah melewati proses evaluasi dan dinyatakan tidak layak dipindahkan dengan cara yang sistematis. Buku-buku dan bahan pustaka yang sudah tidak memenuhi kriteria tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kotak-kotak yang telah disediakan, sehingga memudahkan proses pengelolaan dan pemindahan. Selain itu, kepala perpustakaan juga bertanggung jawab untuk menyusun laporan persetujuan yang ditujukan kepada pihak sekolah, yang berfungsi sebagai dokumentasi resmi agar proses pemindahan koleksi yang tidak layak ini dapat dilakukan dengan lancar ke gudang penyimpanan. Dengan demikian, proses penyiangan akhir ini bukan hanya memastikan bahwa koleksi yang ada di perpustakaan tetap berkualitas, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan efisiensi ruang dan pengelolaan koleksi secara keseluruhan, sehingga perpustakaan dapat terus menyediakan sumber informasi yang relevan dan bermanfaat bagi pemustaka. Aswinda (2021) menjelaskan proses penyiangan koleksi perpustakaan dapat dilakukan dengan menyusun catatan yang sistematis mengenai semua item yang tidak memenuhi standar kelayakan. Selanjutnya, koleksi yang telah diidentifikasi untuk disingkirkan didokumentasikan secara menyeluruh sebagai bukti dari prosedur penyiangan yang telah dilaksanakan. Becker (2024) juga mengatakan adanya laporan yang terstruktur, diharapkan proses penyiangan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, sehingga koleksi perpustakaan dapat terus diperbaharui dan relevan dengan kebutuhan pemustaka. Kendala Perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak saat Proses Penyiangan Koleksi Kendala yang paling sering dihadapi pustakawan saat melakukan proses penyiangan adalah kurangnya waktu untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh koleksi. Utari (2019) menyatakan bahwa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan kegiatan penyiangan koleksi lama sering kali disebabkan oleh tidak adanya kebijakan tertulis yang mengatur prosedur dan kriteria penyiangan. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakjelasan dalam pelaksanaan dan standar yang digunakan dalam proses tersebut. Selain itu, keterbatasan ruang fisik untuk melaksanakan kegiatan penyiangan dapat menghambat efisiensi dan efektivitas proses evaluasi koleksi. Dalam lingkungan perpustakaan yang sibuk, pustakawan sering kali dihadapkan pada berbagai tugas lain, seperti layanan pemustaka, penyusunan program, dan pengelolaan koleksi yang terus bertambah. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan untuk menyediakan waktu yang cukup untuk menilai dan mengevaluasi setiap item dalam koleksi secara mendalam. Selain itu, menghadapi penolakan dari pemustaka perpustakaan yang secara emosional terikat pada buku-buku tertentu dapat menyulitkan proses penyiangan (Rodin, 2021). Kendala yang dihadapi perpustakaan SMA Negeri 6 Pontianak merupakan saat staf perpustakaan menerapkan proses penyiangan dengan metode CREW ini sering kali berkaitan dengan terbatasnya waktu yang tersedia untuk melakukan tinjauan menyeluruh terhadap koleksi. Selain itu, resistensi dari pemustaka juga menjadi tantangan signifikan, terutama ketika mereka memiliki keterikatan emosional terhadap koleksi lama yang masih mereka anggap relevan untuk kebutuhan informasi mereka. Ketidakpahaman pemustaka akan pentingnya penyiangan dan pemeliharaan koleksi yang up-to-date sering kali mengakibatkan perdebatan yang tidak produktif dan penghambatan proses penyiangan yang sukses. Lebih jauh lagi, keterbatasan sumber daya, baik dari segi personil maupun pendanaan, juga dapat berkontribusi pada kesulitan dalam melaksanakan penyiangan yang efektif, karena kurangnya staf yang terlatih dan dukungan anggaran yang memadai dapat membatasi kemampuan perpustakaan untuk mengimplementasikan metode yang diperlukan secara optimal. Dengan demikian, faktor waktu, resistensi pemustaka dan keterbatasan sumber daya, baik dari segi personil maupun pendanaan, juga dapat menjadi penghalang bagi penyiangan yang efektif. Hal ini dijelaskan oleh narasumber kedua (Rabu, 15 Januari 2025) sebagai berikut: <Pada saat koleksi yang ada dan sudah dikategorikan tidak layak itu sangat banyak, akan tetapi dari pihak kepala sekolah masih menahan koleksi tersebut dikarenakan merupakan koleksi yang dibiayai oleh pemerintah.= Dan <Kurangnya waktu saat melakukan proses penyiangan, dikarenkan pelayanan perpustakaan tidak boleh ditutup. Hal lainnya yaitu, kurangnya SDM staf perpustakaan yang menjadikan proses penyiangan berlangsung lama dan kadang kala di tunda.= Thangjom (2022) menjelaskan bahwa keterbatasan jumlah tenaga pustakawan yang tersedia juga menjadi faktor signifikan yang mempengaruhi keberhasilan proses penyiangan. Proses penyiangan memerlukan keahlian dan perhatian yang cermat, jumlah tenaga pustakawan yang tidak memadai dapat menghambat kemampuan untuk melakukan evaluasi yang mendalam terhadap koleksi. Proses ini tidak hanya mencakup penyingkiran bahan yang sudah usang atau tidak relevan, tetapi juga memerlukan analisis kritis terhadap nilai informasi dan relevansi setiap item dalam konteks kebutuhan pemustaka. Selain itu, kurangnya alokasi waktu yang memadai untuk melaksanakan penyiangan sering kali mengakibatkan evaluasi yang tidak menyeluruh, yang dapat mengakibatkan bahan-bahan yang seharusnya disingkirkan tetap berada dalam koleksi.
Conclusion
Berdasarkan penelitian mengenai kondisi koleksi perpustakaan dan penerapan metode CREW pada proses penyiangan di SMA Negeri 6 Pontianak, dapat disimpulkan bahwa kondisi koleksi sangat memprihatinkan. Banyak buku yang mengalami kerusakan, seperti terkena rayap dan usang, serta mengandung informasi yang ketinggalan zaman. Temuan ini menegaskan perlunya penanganan segera untuk meningkatkan kualitas dan relevansi koleksi, sehingga perpustakaan dapat berfungsi optimal sebagai sumber informasi bagi pemustaka. Proses penyiangan dengan metode CREW memberikan struktur dan kemudahan dalam memilah koleksi yang layak. Melalui tahapan peninjauan frekuensi peminjaman dan evaluasi kondisi koleksi, perpustakaan dapat mengidentifikasi buku-buku yang perlu disiangkan. Namun, meskipun koleksi yang tidak layak telah diidentifikasi, kendala muncul karena koleksi tersebut tetap berada di gudang menunggu izin dari pihak sekolah untuk dimusnahkan. Ini menunjukkan tantangan dalam pelaksanaan keputusan yang diambil oleh perpustakaan. Selain itu, kebijakan perpustakaan yang kurang mendukung proses penyiangan yang efisien juga menjadi tantangan. Kebijakan yang tidak jelas atau terlalu ketat dapat menghambat pustakawan dalam melaksanakan penyiangan. Keterbatasan sumber daya manusia yang terlatih juga berkontribusi terhadap efektivitas proses penyiangan, di mana staf yang tidak memiliki pengetahuan memadai dapat merugikan kualitas koleksi. Keterbatasan penelitian ini terletak pada fokus yang terbatas hanya pada kondisi koleksi dan penerapan metode CREW tanpa mengkaji faktor eksternal yang memengaruhi proses penyiangan. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan studi yang lebih luas dengan melibatkan lebih banyak perpustakaan sekolah, mengeksplorasi persepsi pengguna terhadap koleksi sebelum dan sesudah penyiangan, serta menganalisis kebijakan yang ada untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki.