Kembali
16
1
2024 Jurnal Pustaka Budaya Vol 11 · 2 ISSN 2442-7799

EVALUASI PENGEMBANGAN KOLEKSI PADA PERPUSTAKAAN UMUM

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Artikel ini melakukan perbandingan antara dua artikel jurnal yang relevan dalam konteks pengembangan koleksi di perpustakaan umum Australia dan Amerika Serikat. Tujuan dari perbandingan untuk mengetahui tantangan dan peluang perpustakaan umum dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan pengembangan koleksi yang efektif. Metode yang digunakan adalah melakukan tinjauan literatur yang mencakup artikel jurnal dan sumber bacaan lainnya yang relevan dengan topik tantangan dan peluang pengembangan koleksi perpustakaan umum. Hasil yang diperoleh dari perpustakaan umum di Australia menunjukkan adanya tantangan dalam mengimplementasikan kebijakan pengembangan koleksi, seperti sumber daya manusia yang terbatas, perubahan kebutuhan pengguna, evaluasi koleksi yang sudah ada dan evolusi teknologi informasi. Sementara tantangan pada kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan umum di Amerika melibatkan identifikasi kebutuhan pengguna, alokasi sumber daya yang terbatas, perubahan teknologi informasi, penggunaan data dan analitik, serta kolaborasi antara departemen pengembangan koleksi dan sistem informasi. Dengan memanfaatkan sistem informasi secara efektif, perpustakaan dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang untuk meningkatkan kualitas dan relevansi koleksi.

Abstract

This article compares two relevant journal articles in the context of collection development in Australian public libraries and the United States. The purpose of this comparison is to determine the challenges and opportunities for public libraries in formulating and implementing effective collection development policies. The method used is to conduct a literature review that includes journal articles and other reading sources relevant to the topic of challenges and opportunities for public library collection development. The results obtained from public libraries in Australia show that there are challenges in implementing collection development policies, such as limited human resources, changing user needs, evaluation of existing collections and the evolution of information technology. While the challenges to collection development policies in American public libraries involve identifying user needs, allocating limited resources, changes in information technology, using data and analytics, and collaboration between collection development departments and information systems. By effectively utilizing information systems, libraries can overcome challenges and capitalize on opportunities to improve collection quality and relevance.
Keywords: Pengembangan koleksi · Tantangan dan peluang · Perpustakaan umum

Introduction

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat pada saat ini telah mempengaruhi kebutuhan masyarakat akan informasi yang kian beragam. Informasi pada saat ini telah menjadi salah satu kebutuhan dalam kehidupan. Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pengguna, perpustakaan melakukan pengembangan koleksi berdasarkan kebijakan yang telah ditentukan. Koleksi dipilih setelah dilakukan kegiatan identifikasi pada koleksi yang akan diadakan dengan tujuan yang ingin dicapai adalah dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Pengembangan koleksi adalah sutau kegiatan seleksi, mengadakan, dan menyiangi bahan pustaka (Ginting, 2018). Bahan pustaka yang dikembangkan beragam seperti buku, koran, majalah, dan yang lainnya. Hal hal yang dapat diperhatikan dalam pengembangan koleksi dengan memperhatikan keterbaruan koleksi, keutuhan isi dan kerja sama sebagai solusi kepada pengguna dalam pemenuhan kebutuhan informasi (Ardyawin, 2018). Pemenuhan kebutuhan koleksi pada perpustakaan umum dilakukan serangkaian proses untuk menganalisis kebutuhan informasi agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara umum tanpa membedakan umur, ras, kelamin, dan sebagainya. Perpustakaan dikatakan berhasil apabila koleksinya telah banyak digunakan oleh masyarakat umum. Maka dari itu, perpustakaan memiliki tugas untuk dapat mengadakan koleksi yang lengkap dan terbaru demi kepentingan masyarakat umum. Berdasarkan alasan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan perbandingan antara artikel yang berhubungan dengan pengembangan koleksi pada perpustakaan umum di Australia dan perpustakaan umum di Amerika. Pemilihan kedua artikel tersebut didasari pada pembahasan menarik yang memiliki fokus pada tantangan pengembangan koleksi yang akan membantu dalam memahami isu-isu yang dihadapi oleh perpustakaan umum dan memberikan sudut pandang yang beragam. Artikel pertama dengan judul “Collection development policies in public libraries in Australia : a qualitative analysis” (2015) menjelaskan berbagai aspek kebijakan pengembangan koleksi seperti kriteria seleksi materi, proses pengadaan, pembaruan koleksi, alokasi anggaran dan evaluasi koleksi. Sedangkan artikel kedua berjudul “Information system and collection development in public libraries” (2001) membahas penggunaan sistem informasi yang efektif dapat mendukung pengambilan keputusan yang tepat dalam pengembangan koleksi. TINJAUAN PUSTAKA Pengembangan koleksi perpustakaan umum adalah proses yang melibatkan seleksi, akuisisi, pengelolaan dan pemeliharaan bahan bacaan sumber daya informasi yang disediakan untuk pengguna perpustakaan. Tujuan utama dari pengembangan koleksi adalah memenuhi kebutuhan informasi, pendidikan dan hiburan pengguna dengan menyediakan koleksi yang berkualitas, relevan, dan sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Proses pengembangan koleksi biasanya diatur oleh Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Prinsip kepustakawanan menjadi landasan dalam menjalankan prosedur pengembangan koleksi dengan tujuan untuk mengembangan koleksi yang memadai bagi pemustaka dan mengembangakan layanan perpustakaan. Oleh karena itu, prosedur pengembangan koleksi berfungsi sebagai panduan bagi para pustakawan perpustakaan umum dalam merencanakan kebijakan pengadaan dan seleksi bahan pustaka. Pengembangan koleksi merupakan proses yang berkelanjutan dan melibatkan tahapan yang membutuhkan waktu yang cukup panjang. Selain mengikuti SOP yang telah ditetapkan, pustakawan sebagai profesional juga mengandalkan pengetahuan kepustakawanan yang tercermin dalam tugas pokok dan fungsinya dalam pengembangan koleksi. Kegiatan pengembanga koleksi dianggap sebagai bagian integral dari tugas pokok dan fungsional pustakawan yang dihitung dalam pengakuan prestasi kerja berupa angka kredit kegiatan (Irsan & Amar Sani, 2018). Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan koleksi menurut Peggy Jhonson (2009) dalam bukunya Fundamentals of Collection Development and Management meliputi : 1. Seleksi bahan : proses pemilihan bahan dalam berbagai format untuk pengadaan dan akses oleh pengguna perpustakaan. 2. Negosiasi kontrak : melibatkan peninjauan dan negosiasi kontrak untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya elektronik, seperti jurnal elektronik atau database online. 3. Manajemen koleksi: melibatkan kegiatan seperti pengelolaan koleksi termasuk weeding (pemutusan bahan yang tidak relevan atau usang), pembatalan, penyimpanan dan preservasi koleksi. 4. Penulisan dan revisi kebijakan pengembangan koleksi : melibatkan proses menulis dan merevisi kebijakan pengembangan koleksi yang menjadi pedoman dalam pengadaan, pengembangan, dan pemeliharaan koleksi perpustakaan. 5. Promosi dan pemasaran koleksi : meliputi kegiatan promosi, pemasaran dan interpretasi koleksi kepada pengguna perpustakaan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan penggunaan koleksi yang tersedia. 6. Evaluasi dan penilaian koleksi : melibatkan kegiatan evaluasi dan penilaian terhadap koleksi dan layanan terkait untuk menilai efektivitas, relevansi, dan kebutuhan pengguna. Hal ini membantu dalam pengambilan keputusan terkait pemeliharaan dan pengembangan koleksi. 7. Kolaborasi dan kemitraan : berkolaborasi dengan pustakawan atau perpustakaan lain untuk pertukaran koleksi, berbagi sumber daya atau berpartisipasi dalam program bersama. 8. Pemasaran dan promosi : memasarkan dan mempromosikan koleksi kepada pengguna untuk meningkatkan kesadaran dan penggunaan koleksi yang tersedia. 9. Pemeliharaan dan perawatan : melakukan pemeliharaan fisik, perbaikan, dan perlindungan terhadap bahan pustaka agar tetap dalam kondisi yang baik dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan pengembangan dan pengelolaan koleksi yang berkualitas, relevan dan responsif terhadap kebutuhan pengguna dan perubahan lingkungan perpustakaan. Adapun komonen pengembangan koleksi menurut G. Edward Evans (2005) dalam bukunya Developing library and Information Center Collection mengidentifikasi enam kompenen utama yaitu: 1. Analisis kebutuhan : melibatkan penelitian dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan pengguna, minat, dan permintaan informasi untuk membentuk dasar pengembangan koleksi. 2. Kebijakan seleksi : menyusun kebijakan yang memberikan panduan dalam memilih dan mengevaluasi bahan yang akan ditambahkan ke dalam koleksi, termasuk kriteria seleskdi dan pertimbangan etis. 3. Penyeleksian koleksi : proses memilih bahan yang sesuai dengan kebijakan seleksi yang telah ditetapkan. Hal ini melibatkan evaluasi bahan berdasarkan relevansi, kualitas dan minat pengguna. 4. Pengadaan koleksi : melibatkan proses pembelian atau pengadaan bahan yang telah dipilih untuk ditambahkan ke dalam koleksi perpustakaan. 5. Penyiangan koleksi : melibatkan evaluasi dan penghapusan bahan yang usang, tidak relevan, atau tidak digunakan untuk menjaga kualitas dan relevansi koleksi. 6. Evaluasi koleksi : melakukan penilaian secara berkala terhadap koleksi untuk mengevaluasi keefektifan, kecukupan, dan kepuasan pengguna. Evaluasi ini membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan pengembangan lebih lanjut. Perpustakaan dalam perkembangannya diharuskan mengikuti arus penggunaan teknologi informasi serta dapat memberikan pelayanan prima bagi penggunanya. Di era digital seperti sekarang ini menjadikan perpustakaan memiliki tantangan tersendiri dalam melayankan informasi. Setidaknya berdasarkan penelitian Suqri dan Afzal (2007) ada tiga hal pokok yang menjadi tantangan perpustakaan di era digital seperti saat ini yaitu : 1. Informasi privasi (information privacy) mengacu pada tantangan yang berkaitan dengan perlindungan privasi pengguna dalam penggunaan dan akses terhadap informasi digital. Perpustakaan harus menjaga kerahasiaan dan privasi data pribadi pengguna serta memastikan kebijakan dan praktik sesuai untuk melindungi informasi sensitif. 2. Keamanan informasi (information security) dimana Perpustakaan dihadapkan pada risiko keamanan yang terkait dengan kehilangan, penggunaan tidak sah, menipulasi informasi digital. Pengguna harus mengimplementasikan langkahlangkah keamanan yang efektif untuk melindungi dan memastikan integritas data serta mencegah akses yang tidak sah atau pelanggaran privasi. 3. Hak cipta (copyright) yang mengacu berdasarkan undang-undang hak cipta dalam pengelolaan dan pemberian akses terhadap materi digital. Pengguna perlu memahami peraturan dan batasan terkait dengan penggunaan dan distribusi materi terlindungi hak cipta, serta mengembangkan kebijakan yang sesuai untuk menjaga kepatuhan terhadap hukum hak cipta. Tantangan-tantangan ini menjadi semakin relevan di era digital, dimana informasi dan akses terhadapnya melibatkan aspek privasi, keamanan dan hak cipta. Perpustakaan perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghadapi tantangan ini termasuk mengembangkan kebijakan, melibatkan pengguna dalam proses pengambilan keputusan, dan menjaga informasi agar selalu up to date dengan perkembangan hukum dan teknologi terkait. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, perpustakan perlu mengembangkan strategi yang inovatif, beradaptasi dengan perubahan teknologi, menjalin kemitraan dengan pihak eksternal dan mengembangkan kebijakan dalam pengembangan koleksi digital yang efektif. Pengimplementasian sistem informasi dan komputer tentu akan berdampak pada sumber daya manusia yang dapat menjalankan sistem otomasi. Perangkat yang akan dikembangkan tidak dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna kecuali, perangkat dikembangkan secara pribadi oleh perpustakaan sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Keterbatasan pengetahuan staf menjadi hambatan dalam pengembangan perpustakaan digital. Pustakawan tidak hanya dituntut untuk mampu menguasai teknologi juga dituntut untuk dapat membantu pengguna memanfaatkan jasa perpustakaan menggunakan media yang dikembangkan. Selain itu, perangkat teknologi memerlukan perawatan teratur, bahkan ada beberapa perangkat yang perlu diperbaharui setiap tahun yang menghabiskan biaya kurang lebih 10% dari anggaran (Rodin, 2013).

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan studi literatur dengan melakukan perbandingan terhadap 2 artikel jurnal relevan yang membahas mengenai pengembangan koleksi pada perpustakaan umum. Metode studi literatur dalam komparasi artikel melibatkan pencarian, seleksi, pembacaan cermat dan analisis komprehensif dari artikel-artikel yang relan. Tujuan utamanya adalah untuk membandingkan pendekatan, metode, temuan dan intrepretasi antara artikel-artikel tersebut sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih kaya tentang topik yang dibahas. Adapun artikel yang akan dibandingkan berjudul “Collection development policies in public libraries in Australia : a qualitative analysis” dan “Information system and collection development in public libraries”. Studi ini dapat dijadikan sumber referensi bagi praktisi perpustakaan dalam merumuskan dan mengimplemntasikan kebijakan pengembangan koleksi yang efektif.

Result & Discussion

Collection development policies in public libraries in Australia : a qualitative analysis Artikel ini ditulis oleh Matthew Kelly yang terbit pada tahun 2015 membahas tentang kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan umum di Australia dengan pendekatan kualitatif. Artikel ini menganalisis secara mendalam kebijakan yang digunakan oleh Perpustakaan umum dalam menembangkan dan mengelola koleksi. Matthew Kelly melakukan penelitian kualitatif yang melibatkan analisis dokumen kebijakan pengembangan koleksi pada 24 perpustakaan dengan 7 diantaranya telah menerbitkan kebijakan pengembangan koleksinya pada website perpustakannya. Hasil isi konten dari kebijakan pengembangan koleksi dikategorikan kedalam 6 sub tema meliputi kesetaraan sosial, karakteristik masyarakat, kepedulian terhadap pendidikan, teori koleksi, asosiasi perpustakaan dan kebijakan. Keenam tema tersebut memiliki dampak yang signifikan terhadap seleksi, evaluasi dan representasi kebutuhan pengguna. Namun, terdapat faktor yang paling penting dan perlu pertimbangan dalam kebijakan pengembangan koleksi adalah manajemen perencanaan dan penganggaran. Berikut tema yang akan disusun sesuai dengan prioritasnya antara lain: a. Seleksi Bahan Pustaka (alasan inklusi dan eksklusi) Kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan umum di Australia yang berorientasi pada pengguna dengan alasan inklusi dan eksklusi memiliki kebijakan yang bervariasi dari masing-masing perpustakaan. Pengembangan koleksi inklusi dan eksklusi mencakup bahan pustaka yang berkaitan dengan topik yang diminati oleh komunitas pengguna perpustakaan. Keputusan pengembangan koleksi perpustakaan didasarkan pada kebutuhan dan kepentingan komunitas pengguna serta programprogram yang diselenggarakan oleh perpustakaan. Bahan-bahan yang mendukung tujuan dan kegiatan perpustakaan dalam melayani komunitasnya akan diprioritaskan. Pemilihan bahan pustaka juga berdasarkan pada kualitas yang baik dan kredibilitas yang terjamin untuk dimasukkan kedalam koleksi. Kebijakan pengembangan koleksi menekankan pentingnya memilih bahan yang dianggap memiliki nilai informasi, akurasi dan otoritas yang tinggi. Faktor ketersediaan dan aksesibilitas bahan juga mempengaruhi keputusan inklusi dan eksklusi dalam pengembangan koleksi. Perpustakaan mempertimbangkan ketersediaan bahan di pasar, ketersediaan format digital, dan kemampuan untuk memberikan akses yang mudah kepada pengguna. Terdapat tiga sub kategori pemilihan bahan pustaka yang akan dikembangkan yaitu sub kategori konten Australia (mencakup bahanbahan yang berkaitan dengan sejarah, budaya, kebijakan atau masalah spesifik Australia), fokus lokal dan regional (koleksi yang mencerminkan kekhasan dan kebutuhan komunitas lokal atau regional) dan rekomendasi dari staf atau komunitas. Hal ini tampak dipertimbankan secara terpisah dalam pengembangan koleksi lebih lanjut yang dapat membantu pengambilan keputusan yang diambil didasarkan pada kepentingan pribadi atau didasarkan pada upaya untuk mengembangkan koleksi yang benarbenar relevan bagi pengguna komunitas. Namun, hal yang menjadi pertimbangan berikutnya adalah prevalensi konten sebagai kriteria utama dalam kebijakan pengembangan koleksi. Isu-isu organisasi dan politik menjadi perhatian lebih besar dari pada isu-isu terkait kepetingan pribadi pengguna yang tentu akan berdampak pada kegiatan pengembangan koleksi perpustakaan umum. Meskipun kriteria seleksi yang berorientasi pada sampel pengguna khusus, hal ini menunjukkan kepedulian yang tulus untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Sehingga, meskipun perpustakaan akan mengadakan bahan pustaka berdasarkan rekomendasi pengguna, perpustakaan tetap harus memilih kembali kriteria yang dikembangkan untuk umum. b. Manajemen Perencanaan dan Penganggaran Dalam perencanaan pengembangan koleksi pentingnya menentukan alokasi anggaran yang memadai termasuk penentuan sumber dana, perencanaan anggaran dan pengawasan anggaran untuk memastikan dana yang cukup untuk memperluas dan mempertahankan koleksi. Namun, pengembangan perpustakaan tidak terbatas hanya pada koleksi saja. Fokus yang perlu dikembangkan adalah aspek manajemen sumber daya manusia dan sistem. Peningkatan pengetahuan dan pendidikan pustakawan yang berorientasi pada praktek perpustakaan umum adalah upaya untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktisi perpustakaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka secara efektif. Peningkatan pengetahuan dan pendidikan yang berorientasi pada praktek perpustakaan umum dapat membantu para praktisi dalam mengikuti perkembangan terkini dalam bidang perpustakaan, memahami kebutuhan pengguna yang beragam, mengimplementasikan kebijakan pengembangan koleksi yang efektif, menggunakan teknologi informasi dengan baik dan menyediakan pelayanan yang berkualita kepada masyarakat. Dalam konteks artikel ini disebutkan bahwa kurangnya perhatian terhadap peningkatan pengetahuan dan pendidikan yang berorientasi pada praktek perpustakaan umum mungkin menunjukkan bahwa pada waktu tersebut fokus literatur lebih banyak tertuju pada aspek manajerial dan administratif perpustakaan dengan sedikit penekanan pada pengembangan kompetensi praktisi. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap penelitian memiliki cakupa dan fokusnya sendiri terhadap peningkatan pengetahuan dan pendidikan praktisi perpustakaan dapat berbeda dalam konteks penelitian lain. c. Jangkauan dan Kedalaman Koleksi Jangkauan dan kedalaman koleksi dalam kebijakan pengembangan koleksi menunjukkan pentingnya memastikan bahwa koleksi perpustakaan mencakup beragam topik dan minat pengguna serta memiliki tingkat kedalaman yang memadai dalam subjek-subjek yang relevan. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang beragam dan memberikan akses ke sumber daya yang dan terperinci dalam berbagai bidang pengetahuan. Jangkauan dan kedalaman koleksi merujuk pada dua aspek penting yaitu: 1. Jangkauan koleksi, mengacu pada sejauh mana koleksi perpustakaan mencakup berbagai topik, disiplin ilmu, genre, dan jenis bahan. Jangkauan yang luas berarti perpustakaan memiliki materi yang mencakup berbagai minat dan kebutuhan pengguna, sehingga dapat melayani kelompok pengguna yang beragam. Jangakauan koleksi yang baik juga dapat mencerminkan keanekaragaman budaya dan kepentingan komunitas yang dilayani oleh perpustakaan. 2. Kedalaman koleksi, mengacu pada tingkat kekayaan dan kelengkapan bahan dalam suatu objek atau topik tertentu. Kedalaman yang baik dalam koleksi berarti perpustakaan memiliki berbagai sumber daya yang mendalam dan terperinci dalam subjek tertentu. Memungkinkan pengguna untuk melakukan penelitian mendalam dan memperoleh informasi yang lebih komprehensif. Kedalaman koleksi juga dapat mencerminkan tingkat spesialisasi dan keahlian perpustakaan dalam bidangbidang tertentu. d. Penilaian Profesional Penilaian profesional melibatkan penilaian komprehensif terhadap kualitas, relevansi, kebaruan dan nilai informasi dari bahan-bahan yang dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam koleksi perpustakaan. Proses ini melibatkan pemahaman mendalam tentang kebutuhan pengguna, tren dalam bidang keilmuan, perkembangan terbaru dalam literatur dan sumber daya informasi serta pertimbangan etika dan kebijakan dalam pengembangan koleksi. Penilaian profesional menjadi aspek penting dalam pengembangan koleksi sebagai kriteria atau pertimbangan yang digunakan oleh staf perpustakaan dalam mengevaluasi bahan-bahan yang diajukan untuk dimasukkan dalam koleksi. Penilaian dilakukan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman staf perpustakaan dalam bidang yang relevan serta menggunakan kerangka kerja dan pedoman yang telah ditetapkan dalam kebijakan pengembangan koleksi. e. Standar Bahan Pustaka Dalam memilih koleksi yang akan dipilih untuk kemudian dikembangkan harus merujuk pada pedoman atau kriteria yang digunakan untuk memilih, mengevaluasi dan memperoleh bahan pustaka. Penekanan pada standar bahan pustaka menunjukkan pentingnya memiliki panduan yang jelas dan terdefinisi dengan baik dalam mengembangkan koleksi perpustakaan. Standar ini dapat mencakup berbagai aspek seperti kualitas, relevansi, kebaruan, otoritas dan nilai informasi dari bahan yang akan dimasukkan dalam koleksi. Standar bahan pustaka memastikan bahwa perpustakaan melakukan seleksi dan evaluasi yang teliti terhadap bahan yang diajukan untuk memastikan bahwa hanya bahan berkualitas yang memenuhi kebutuhan pengguna yang dimasukkan kedalam koleksi. Standar ini juga dapat melibatkan pertimbangan etika, kebijakan hak cipta, dan kepentingan budaya dan komunitas dalam pengembangan koleksi. Standar ini juga membantu perpustakaan dalam menghadapi tantangan dan perkembangan dalam bidang perpustakaan dan teknologi informasi yang dapat mempengaruhi pengembangan koleksi mereka. f. Menyeimbangkan Prioritas Koleksi, Permintaan dan Sirkulasi Penyeimbangan prioritas koleksi mengacu kepada upaya untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara menanggapi permintaan pengguna dan mempertahankan sirkulasi yang baik dalam koleksi perpustakaan. Perpustakaan perlu memantau permintaan pengguna dan memastikan bahwa koleksi mereka mengikuti tren dan perkembangan terkini untuk tetap relevan dan memberika akses terhadap bahan yang diminati oleh pengguna. g. Kesetaraan Sosial, Karakteristik Masyarakat, Kepedulian Terhadap Pendidikan, Teori Koleksi, Asosiasi Perpustakaan, dan Kebijakan Beberapa tambahan yang muncul dalam kebijakan pengembangan koleksi yang dijelaskan sebagai berikut: 1. Kesetaraan sosial, menekankan pentingnya perpustakaan sebagai lembaga yang mendukung kesetaraan akses terhadap informasi dan pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan pengembangan koleksi harus mempertimbangkan diversitas masyarakat dan mencakup bahan yang mencerminkan kepentingan, kebutuhan, dan latar belakang budaya yang beragam. 2. Karakteristik masyarakat, mengacu pada pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan masyarakat pengguna perpustakaan dengan memperhatikan profil demografis, minat khusus, dan kebutuan informasi khas dari masyarakat yang dilayani. 3. Kepedulian edukatif, menyoroti peran perpustakaan dalam mendukung pendidikan dan pembelajaran masyarkat. Kebijakan pengembangan koleksi harus mencakup bahan-bahan edukatif yang relevan, baik untuk pendidikan formal maupun informal serta mempertimbangkan kebutuhan pembeljaran sepanjang hayat. 4. Teori koleksi, mencakup prinsip dan teori yang menjadi dasar dalam pengembangan koleksi perpustakaan. Kebijakan pengembangan koleksi harus mencerminkan pemahaman tentang teori-teori koleksi termasuk pertimbangan kriteria seleksi, evaluasi dan perencanaan koleksi. 5. Asosiasi Perpustakaan, menekankan pada pentingnya kolaborasi dan keterlibatan perpustakaan dalam asosiasi atau jaringan perpustakaan. Kebijakan pengembangan koleksi harus memperhatikan pandun dan standar yang dikeluarkan oleh asosiasi perpustakaan sebagai acuan dalam pengembangan koleksi. Information System and Collection Development in Public Libraries Artikel ini ditulis oleh Deborah Barreau yang membahas mengenai penggunaan teknologi informasi dan sistem manajemen dalam mendukung proses pengembangan koleksi perpustakaan. Sistem informasi dapat digunakan untuk mengumpulkan dan mengelola data yang berkaitan dengan koleksi perpustakaan, seperti informasi tentang buku, jurnal, media digital dan sumber informasi lainnya. Artikel ini menyoroti pentingnya sistem informasi dalam mendukung proses seleksi dan evaluasi koleksi. Dengan menggunakan data dan informasi yang dikumpulkan melalui sistem informasi, perpustakaan dapat mengidentifikasi kebutuhan pengguna, menganalisis ketersediaan dan relevansi bahan, serta membuat keputusan yang tepat dalam mengembangkan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji proses pengembangan koleksi di Perpustakaan umum, mengidentifikasi peran komputer dan sistem informasi dalam mendukung kegiatan pengembangan koleksi berdasarkan orientasi pengguna. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terpimpin menggunakan pertanyaan terbuka ke dua puluh orang praktisi yang bertanggung jawab dalam pengembangan koleksi. a. Tugas Spesialis Pengembangan Koleksi Dalam wawancara yang telah dilakukan, terdapat 7 kategori tugas yang umum dilakukan oleh spesialis pengembangan koleksi yaitu: 1. Membuat kebijakan dan strategi pengembangan koleksi. Pustakawan memberikan rekomendasi yang digunakan sebagai dasar kebijakan dan strategi dalam mempertimbangkan pengembangan koleksi. Pustakawan juga ikut andil dalam partisipasi rapat perencanaan untuk meninjau kebijakan dan membuat rekomendasi anggaran. 2. Menganalisis kebutuhan koleksi. Pustakawan melakukan analisis kebutuhan koleksi berdasarkan kategori subjek, usia, format serta statistik sirkulasi, permintaan dari cabang dan pengguna, dan hasil survei pengguna. Priorotas pengembangan koleksi ditentukan berdasarkan anggaran. 3. Mengevaluasi dan memilih vendor. Pustakawan meninjau penawaran dari vendor, penerbit, dengan membaca ulasan, menghadiri konferensi, dan melihat langsung materi sebelum membuat pilihan. Pustakawan juga dapat meminta pendapat dari pustakawan lain untuk menilai potensi suatu sumber. 4. Memesan bahan pustaka. Beberapa spesialis pengembangan koleksi bertanggung jawab untuk melakukan pemesanan bahan pustaka termasuk menentukan jumlah eksemplar, memverifikasi bahwa item belum ada dalam koleksi atau rencana pembelian. Pemesanan juga melibatkan pemantauan status pesanan, mengecek kesesuaian pemesanan dengan pengiriman, serta membuat daftar keinginan untuk pertimbangan di masa depan. 5. Menyusun dan memelihara koleksi dan basis data. Pustakawan pengembangan koleksi terlibat dalam kegiatan penyusunan koleksi dan melakukan penyiangan. Mereka memberikan rekomendasi atau secara aktif terlibat dalam penyusunan koleksi. Penyiangan juga melibatkan pembersihan katalaog online ketika item dihapus. 6. Memilih staf. Para pustakawan melaporkan bahwa mereka bertanggung jawab untuk melatih staf dicabang lain mengenai cara menyiangi item dari koleksi, menilai prioritas koleksi dan mengelola anggaran. 7. Mengidentifikasi bahan pustaka untuk cabang baru dengan menganalisis kebutuhan pengguna sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka melibatkan pemahaman tentang profil demgrafis dan karakteristik masyarakat daerah tersebut. b. Informasi Yang Digunakan Dalam Pengembangan Koleksi Informasi yang digunakan dalam pengembangan koleksi membantu pustakawan untuk membuat keputusan dalam memilih bahan pustaka yang relevan, up to data, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ada beberapa hal yang menjadi acuan dalam pemilihan koleksi diantaranya: 1. Permintaan pengguna dapat dilihat melalui sumber informasi perpustakaan lokal, statistik sirkulasi, analisis koleksi, kebijakan penagihan, arsip pribadi pustakawan, OPAC perpustakaan, dan pertanyaan referensi. 2. Sumber konsorium yang biasanya didapatkan melalui sumber rapat perencanaan pengumpulan sumber daya, INFOTRAC, pertemuan MACDC, katalog online dari situs perpsutakaan lain, OCLC dan saran dari pustakawan departemen lain. 3. Sumber yang ditawarkan vendor. 4. Sumber penerbit, termasuk buku promosi, katalog, iklan, alat bantu referensi khusus seperti book in print. 5. Sumber media yang mengulas buku, termasuk majalah yang mengulas booklist, Library Joournal, Kirkus Reviews, Publisher’s Weekly, Washington Post, dan New York Times. 6. Daftar khusus, termasuk pemenang penghargaan, buku terlaris, daftar bacaan sekolah dan daftar pilihan. 7. Sumber elektronik, khususnya sumber elektronik yang tidak termasuk dalam kategori diatas seperti toko buku super online dan listserv. c. Penyiangan Bahan Pustaka Penyiangan bahan pustaka dapat dilakukan dengan hati-hati dan terarah untuk memastikan bahwa koleksi perpustakaan tetap relevan, up to date dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Sebelum melakukan penyiangan bahan pustaka, ada beberapa hal yang dilakukan sebagai berikut: 1. Analisis statistik seperti tingkat sirkulasi, frekuensi penggunaan dan popularitas buku menentukan buku yang jarang atau tidak pernah dipinjam. Hal ini membantu dalam mengidentifikasi buku-buku yang mungkin sudah tidak diperlukan lagi. 2. Peninjauan kondisi fisik, pustakawan mengevaluasi kondisi fisik buku termasuk kerusakan dan ketidaklayakan penggunaan. Buku yang rusak parah atau tidak dapat diperbaiki mungkin akan disiangi dari koleksi. 3. Evaluasi relevansi, pustakawan mengevaluasi relevansi buku dengan tujuan dan fokus koleksi serta kebutuhan dan minat pemustaka. 4. Penghapusan dan pemindahan, bukubuku yang disiangi biasanya dihapus dari koleksi perpustakaan. Beberapa buku yang masih layak namun tidak diperlukan di perpustakaan tersebut dapat dipindahkan ke perpustakaan lain untuk disimpan sebagai cadangan. 5. Perbaruan sistem informasi, setelah penyiangan dilakukan, pustakawan memperbarui sistem informasi perpustakaan termasuk katalog online untuk mencerminkan perubahan dalam koleksi. Hal ini melibatkan penghapusan entri buku yang disiangi dan memastikan bahwa informasi yang tersedia bagi pemustaka mengenai ketersediaan buku tetap akurat. Penyiangan buku dilakukan secara teratur untuk menjaga kualitas dan relevansi koleksi perpustakaan serta penggunaan teknologi dan data untuk membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih efisien dan efektif. d. Penggunaan Sistem Informasi Dalam Pengembangan Koleksi Dengan menggunakan sistem informasi yang efektif, penyeleksi dapat meningkatkan efisiensi, akurasi dan kecepatan dalam pengembangan koleksi. Sistem ini membantu mereka dalam mengelola informasi, berkomunikasi, melacak data, dan membuat keputusan berdasarkan data. Terdapat 5 hal dalam sistem informasi untuk meningkatakan kegiatan pengembangan koleksi yaitu : 1. Akuisis, sistem informasi memainkan peran penting dalam proses akuisisi bahan pustaka. Dengan menggunakan sistem informasi, penyeleksi dapat dengan mudah melacak, memeriksa dan memesan bahan pustaka dari berbagai sumber. Sistem ini juga memungkinkan penyelksi untuk memantau status pemesanan, mengelola anggaran, dan mengintegrasikan data akuisisi dengan sistem lain dalam perpustakaan. 2. Komunikasi, sistem informasi memfasilitasi komunikasi antara penyeleksi dan pihak lain dalam perpustakaan seperti staf akuisisi, pengelola koleksi, atau departemen lain yang terlibat dalam pengembangan koleksi. Melalui sistem informasi, penyeleksi dapat berbagi informasi, memberikan rekomendasi atau meminta masukan dari pihak terkait secara efisien. 3. Laporan, sistem informasi memungkinkan penyeleksi untuk menghasilkan laporan yang mendetail tentang status dan perkembangan koleksi. Mereka dapat melihat statistik sirkulasi, analisis pengguna atau data lain yang relevan untuk mengevaluasi efektivitas pengembangan koleksi dan membuat keputusan berdasarkan data. 4. Integrasi sistem, sistem informasi memungkinkan integrasi antara berbagai sistem yang digunakan dalam pengembangan koleksi. Misalnya, sistem informasi dapat terhubung dengan katalog online, sistem manajemen koleksi atau sistem inventarisasi untuk memastikan konsistensi dan akurasi data. Integrasi sistem mempermudah akses dan penggunaan informasi yang relan dalam pengambilan keputusan. 5. Akses keperalatan, sistem informasi juga berperan dalam menyediakan akses yang mudah dan cepat ke sumber daya informasi yang diperlukan oleh penyeleksi. Misalnya sistem informasi dapat memberikan akses ke basis data online, katalog elektronik, atau sumber daya digital lainnya yang membantu dalam proses selesksi dan evaluasi bahan pustaka. Hasil dari perbandingan kedua artikel tersebut yaitu pada artikel pertama, mengungkapkan temuan tentang tantangan dan peluang dalam pengembangan koleksi di perpustakaan umum Australia serta aspek-aspek kebijakan yang penting dalam proses ini. Di sisi lain, artikel kedua mengungkapkan tentang bagaimana sistem informasi dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengembangan koleksi. Dalam artikel pertama dijelaskan mengenai hal-hal yang menjadi dasar atau acuan dalam pengembangan koleksi dengan melihat isi dari kebijakan yang tentu mempengaruhi praktik pengembangan koleksi. Namun, hanya sedikit perpustakaan yang menekankan pada metodologi seleksi dan evaluasi yang berpusat pada pengguna. Tantangan yang dihadapi pustakawan dalam mengembangkan koleksi perlu mempertimbangkan hal-hal seperti anggaran, permintaan pengguna, kondisi wilayah demografis, jenis dan bahan koleksi, relevansi, dan kedalaman materi koleksi. Dalam pengembangan kebijakan koleksinya, perpustakaan umum Australia berpatokan berdasarkan teori Ranganathan dengan memastikan bahwa setiap pembaca mendapatkan bukunya. Perpustakaan umum diharapkan dapat mengakomodasi semua jenis koleksi untuk seluruh pembaca dan hal ini membutuhkan pemahaman tentang bagaimana koleksi memenuhi kebutuhan pengguna. Sehingga sebelum melakukan pengembangan koleksi, perpustakaan perlu memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia untuk memahami terlebih dahulu dasar-dasar yang perlu dilakukan sebelum melakukan pemilihan koleksi. Berbeda dengan artikel kedua yang membahas mengenai pemanfaatan sistem informasi dalam pengembangan koleksi di perpustakaan umum yang berfokus pada empat aspek praktis yaitu tugas-tugas yang dilakukan, sumber daya informasi yang digunakan, bagaimana sumer daya dipilih serta penggunaan dan dampak sirkulasi terhadap perencanaan pengembangan koleksi. Sistem informasi sangat membantu tugas pustakawan dalam menganalisis kebutuhan pengguna, evalusi, pemilihan bahan pustaka dan pemesanan. Penggunaan sistem dinilai lebih efektif untuk melihat penganggaran yang dilengkapi dengan data-data serta laporan yang dapat menjadi bahan pertimbangan pemilihan koleksi. Kedua artikel tersebut memiliki tema menarik dalam hal pengembangan koleksi pada perpustakaan umum. Meski berbeda latar belakang wilayah, permasalahan yang utama sebelum mengembangkan perpustakaan terletak pada anggaran. Anggaran menjadi tantangan yang paling utama untuk dapat membuat keputusan dan kebijakan agar seleksi dan evaluasi dapat berjalan maksimal. Hasil perbandingan pada kedua artikel diatas menunjukkan bahwa dalam pengambilan keputusan pengembangan koleksi ataupun pengembangan sistem informasi perpustakaan berdasarkan pada kebijakan serta visi dan misi perpustakaan. Sebagai bahan pertimbangan dengan memilih dasar teori dari ahli perpustakaan mana yang akan digunakan seperti Evan atau Ranganathan. Selain itu, pengambilan keputusan pemilihan koleksi dilakukan dengan melihat data statistik pada layanan sirkulasi, data permintaan koleksi, memilih vendor agar dapat menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

Conclusion

Hasil analisis mengenai pengembangan koleksi terhadap dua artikel tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang kontras mengenai kebijakan pengembangan koleksi. Kedua artikel memiliki kendala yang sama yaitu anggaran yang terbatas sehingga pemilihan koleksi perlu diseleksi dengan dasar tertentu sesuai dengan kondisi masing-masing perpustakaan umum. Selain itu, hal yang menjadi kendala lainnya yaitu sumber daya manusia atau praktisi profesional yang terbatas mengenai kebijakan pengembangan. Dalam hal ini, perpustakaan perlu memilih antara megembangkan sumber daya manusianya atau koleksi perpustakaannya. Keputusan ada pada perpustakaan masing-masing dengan melihat resiko yang paling minim dan kecukupan anggaran.