Peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues Dalam Mengembangkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Penelitian ini berjudul “Peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues Dalam Mengembangkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu 1) bagaimana implementasi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, 2) apa saja peluang dan tantangan dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, dan 3) apa upaya yang dilakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dalam menghadapi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, peluang dan tantangan yang dihadapi, serta upaya yang dilakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues sudah berjalan baik yaitu pustakawan terlibat aktif, melakukan bimtek revitalisasi, bimtek pengelolaan perpustakaan dan melakukan advokasi Peer Learning Meeting. Peluang dalam perpustakaan inklusi sosial ini yaitu adanya peluang usaha, sosial lainnya dan mengurangi kemiskinan. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues memiliki tantangan dalam mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu kurangnya kerjasama, keterbatasan ruangan, dan keterbatasan anggaran dana. Adapun upaya yang dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut adalah dengan melakukan kerjasama dengan pihak lain dan memanfaatkan anggaran dana yang ada secara optimal yang diberikan oleh pusat.
Abstract
This research titled is "The Role of the Gayo Lues District Archive and Library Agency in Developing a Socially Inclusive Library." The research problem is as follows: 1) the implementation of the development of a socially inclusive library, 2) the opportunities and challenges in developing a socially inclusive library, and 3) the efforts made by the Gayo Lues District Archive and Library Agency in facing these challenges. The purpose of this research is to determine the implementation of the development of a socially inclusive library, the opportunities and challenges faced, and the efforts made by the Gayo Lues District Archive and Library Agency. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The data collection techniques used are observation, interview, and documentation. The results of the research show that the implementation of the development of a socially inclusive library in the Gayo Lues District Archive and Library Agency is going well, with librarians actively involved in revitalization training, library management training, and advocacy through Peer Learning Meetings. The opportunities in this inclusive social library include business opportunities, other social opportunities, and reducing poverty. The Gayo Lues District Archive and Library Agency faces challenges in developing a socially inclusive library, such as lack of cooperation, limited space, and limited budget. Efforts to overcome these challenges include cooperation with other parties and optimal utilization of the budget provided by the center. Keywords: Library Development, Social Inclusion, Gayo Lues District Archive and Library Agency.
Keywords:
Library Development
· Social Inclusion
· Gayo Lues District Archive and Library Agency
Introduction
Perpustakaan umum sekarang ini dituntut untuk melakukan transformasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat agar tetap mampu mempertahankan eksistensinya dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat dengan tujuan bisa dijadikan sebagai sarana maupun wadah bagi masyarakat dalam berkegiatan belajar sepanjang hayat, untuk dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya [1]. Dalam dunia perpustakaan, konsep perpustakaan didasarkan pada inklusi sosial, yaitu perpustakaan yang dapat digunakan sebagai pengembangan dan memperluas keterampilan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam kehidupan sosialny[2] Dalam UU No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan dapat dikatakan bahwa perpustakaan umum memperhatikan seluruh masyarakat tanpa pandang bulu sehingga konsep inklusi sosial sangat berkaitan dengan perpustakaan tersebut. Perihal konsep inklusi sosial, pada hakikatnya adalah upaya untuk membuat seluruh lapisan masyarakat terbuka dengan yang lain. Hal tersebut juga dinyatakan oleh World Bank (2013) yakni inklusi sosial merupakan proses peningkatan martabat dan peluang bagi seluruh lapisan masyarakat sehingga mereka dapat berpartisipasi atau mengambil peran dalam masyarakat dengan baik [3]. Hakikatnya perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah menjadikan perpustakaan sebagai ruang interaksi publik terkait isu pembangunan ekonomi, kesehatan, pendidikan, kohesivitas sosial bahkan berbangsa dan bernegara. Hal ini mendukung demokrasi perpustakaan dalam rangka memfasilitasi kebutuhan masyarakat untuk saling berbagi pengalaman, belajar konsektual, dan pusat belajar masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kualitas perekonomian dengan munculnya usaha [4]. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues merupakan perpustakaan umum yang berada di kota Blangkejeren. Berdasarkan observasi awal pada tanggal 23 Agustus 2021, dengan pengelola Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues menjelaskan bahwa perpustakaan ini sudah mengukuh dan mengembangkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dimulai dari tahun 2020, ada empat desa yang mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu Desa Cinta Maju, Desa Sepang, Desa Ulun Tanoh dan Desa Tampeng. Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues telah berhasil mengembangkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat seperti kegiatan sosialisasi berbasis wilayah, pelatihan bimtek komputer, kegiatan literasi untuk kesejahteraan, bimtek pendataan kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh perpustakaan dan masyarakat dalam upaya pengembangan perpustakaan yang berkesinambungan. Landasan Teori Berdasarkan pada beberapa penelitian sebelumnya, Khairunnisa dan Wenny Dastina mengatakan bahwa sebagai sarana pemberdayaan masyarakat, perpustakaan harus memberikan layanan yang mendorong inklusi sosial dan tentunya mendorong pemustaka untuk menggunakan layanan perpustakaan [5]. Tidak hanya Khairunnisa, Kurniasih dan Saefullah mengatakan dengan adanya perpustakaan berbasis inklusi sosial diharapkan perpustakaan dapat terjalin hubungan interaksi antara perpustakaan dengan masyarakat sebagai wahana untuk meningkatkan wawasan untuk mengembangkan kualitas hidupnya [6]. Urgensi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial tertuang dalam UU Perpustakaan Nasional tahun 2017 bahwa pendekatan layanan perpustakaan yang didedikasikan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dengan mengubah perpustakaan umum menjadi pusat pembelajaran dan berbagai kegiatan masyarakat [7]. Kajian tentang perpustakaan berbasis inklusi sosial dilakukan juga oleh Aprillita bahwa kendala yang dihadapi pada efektifitas perpustakaan inklusi sosial yaitu kuranya sarana dan prasarana sehingga sulit untuk melaksanakan program administrasi perpustakaan dalam menciptakan perpustakaan berbasis pertimbangan sosial, terutama untuk menjadi tempat belajar bagi daerah setempat [8]. Utami melanjutkan, tujuan transformasi menjadi perpustakaan yang berfokus pada inklusi sosial adalah untuk menciptakan koleksi perpustakaan yang disesuaikan dengan kebutuhan informasi masyarakat dan dapat mendorong pertumbuhan sosial dan ekonomi. Perpustakaan harus aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat. masyarakat dengan mengembangkan layanan penjangkauan sehingga dapat menarik lebih banyak orang [9]. Nur Asprijuli Mahaliyah menulis bahwa inklusi sosial memiliki peran yang penting dalam kemajuan masyarakat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu: 1. Market atau Segmen pasar (sasaran) yaitu bukan hanya masyarakat tertentu saja akan tetapi segala yang tersedia di perpustakaan dapat sampai menyeluruh pada semua lapisan masyarakat. 2. Service (layanan) yaitu bukan hanya layanan fisik yang disediakan akan tetapi nonfisik juga sebagai pengembangan layanan, disesuaikan dengan sasaran layanan dan kebutuhan informasi. 3. Space (ruang) yaitu pemabgian ruang yang ada menjadi aspek yang penting untuk memisahkan ruang gerak masyarakat pengguna.[10]. Agung Tri Dharma, dan Ely Sufianti mengutarakan bahwa salah satu cara untuk mendukung implementasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah dengan melibatkan pustakawan dalam pelatihan dan sosialisasi untuk meningkatkan perannya [11]. Mahdi memaparkan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun perpustakaan umum yang fokus pada inklusi sosial antara lain: (1) adanya kegiatan yang memberdayakan masyarakat; (2) hak untuk mengakses layanan perpustakaan; dan (3) aksesibilitas informasi perpustakaan [12]
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk mendapatkan data informasi yang memberikan gambaran atau penjelasan tentang kejadian segala sesuatu sebagaimana adanya atau sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan [13]. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian lapangan (field research). Penelitian ini di lakukan dengan turun langsung ke lapangan untuk menggali dan meneliti yang berkaitan dengan rumusan masalah. Metode penelitian ini dipilih untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara umum bagaimana peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dalam mengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Perpustakaan, Kabid Perpustakaan dan Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues yang direkomendasikan menjadi subjek penelitian ini. Objek penelitian ini adalah untuk mengetahu kontribusi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues terhadap pengembangan perpustakaan yang berbasis inklusi sosial. Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu Observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan staf pustakawan yang dipilih oleh peneliti sebagai sampel, peneliti memilih informan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu untuk mendapatkan informasi yang sesuai, adapun informan yang penulis wawancarai.
Result & Discussion
Implementasi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues Implementasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini telah dilaksanakan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues sejak tahun 2020. Program unggulan kegiatan perpustakaan yang saat ini telah dilaksanakan pada empat desa di kabupaten Gayo Lues dan masing-masing desa tersebut mendapat bantuan seperti unit komputer, modem, server, smart TV, dan referensi buku. Di Kabupaten Gayo Lues transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosisal telah dilaksanakan di empat perpustakaan desa, yaitu: Perpustakaan desa Cinta Maju, Perpustakaan desa Sepang, Perpustakaan desa Tampeng dan , Perpustakaan desa Ulun Tanoh. Secara umum Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues telah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial sejak tahun 2020, sesuai dengan pedoman Perpustakaan Nasional RI untuk perpustakaan berbasis inklusi sosial. Berikut kegiatan literasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues, menurut informasi yang diperoleh dari dokumen yang disediakan oleh pustakawan yaitu sebagai berikut: [14] a. Peningkatan literasi untuk kesejahteraan Melalui kegiatan yang meningkatkan literasi untuk kepentingan masyarakat, perpustakaan berperan penting dalam mewujudkan hal tersebut. Dengan membangun perpustakaan sebagai ruang publik untuk berbagi pengalaman, tempat belajar kontekstual, dan tempat melatih masyarakat dalam keterampilan kerja, tujuannya untuk meningkatkan literasi di masyarakat. Sehingga perpustakaan di setiap daerah dimanfaatkan lebih dari sekedar membaca buku, juga berfungsi sebagai tempat untuk berbagai kegiatan lain yang memanfaatkan pengetahuan. Pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dilakukan dengan beberapa strategi yaitu: 1. Pustakawan Terlibat Aktif Pustakawan bertanggung jawab untuk mengajari pengguna cara memilih buku dengan lebih baik dan membantu pemustaka menemukan sesuatu untuk dibaca. Bukan hanya untuk mendapatkan buku yang dibutuhkan, juga untuk mendapatkan buku tentang mata pelajaran. dapat disimpulkan bahwa pustakawan harus berperan aktif dalam penyebarluasan informasi ketika kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial dilaksanakan. Seorang pustakawan harus mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi. program perpustakaan, pustakawan meningkatkan literasi, berkolaborasi dengan dunia usaha, dan meningkatkan kualitas layanan. Hasil wawancara dengan [15] pustakawan Dinas Perpustakaan. 2.Bimtek Revitalisasi Perpustakaan Bimbingan Teknis pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues adalah kegiatan pelatihan masyarakat di bidang teknis tertentu yang disebut Bimbingan Revitalisasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Perpustakaan desa yang merupakan bagian dari program revitalisasi perpustakaan berbasis inklusi sosial menerima bimbingan teknis ini. Bimbingan teknis layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial dan pelatihan bagi pengelola perpustakaan binaan jurusan adalah dua contoh bimbingan teknis yang telah dilaksanakan di perpustakaan ini. Bantuan berupa komputer, modem, rak buku, dan koleksi buku diberikan kepada mereka yang berpartisipasi dalam program pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pengelola perpustakaan yang didukung perpustakaan ikut serta dalam kegiatan bimbingan teknis. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues pertama kali mengikuti kegiatan yang diadakan di pusat, yaitu Perpustakaan Nasional. Setelah itu, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues memberikan bimbingan teknis kepada pengelola perpustakaan desa yang terpilih sebagai perpustakaan penerima manfaat dan mengikuti program perpustakaan yang fokus pada inklusi sosial. 3. Bimtek Pengelolaan Perpustakaan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial akan diperluas oleh Perpusnas pada tahun 2022. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (SPP-TIK), Perpusnas telah menyediakan pengelola perpustakaan yang telah diseleksi. sebagai penerima manfaat program. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues membekali pengelola perpustakaan binaan desa dengan bimbingan teknis pengelolaan perpustakaan. Dalam bidang pembinaan dan pengembangan bahan pustaka, pustakawan menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis ini. Masyarakat sangat merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. bahwa perpustakaan terlibat dalam mempromosikan inklusi sosial. Pustakawan harus berpartisipasi dalam transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. di mana pustakawan berfungsi sebagai pemandu. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di kabupaten dan desa yang ditargetkan menunjukkan beberapa efek yang dirasakan dari program ini. Karena masyarakat lokal/perkotaan dan kota adalah penggagas program perubahan perpustakaan berbasis pertimbangan sosial. 4. Peer Learning Meeting (PLM) PLM adalah strategi untuk memperkuat program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Program ini untuk memperkuat peran perpustakaan umum sehingga kemampuan literasi meningkat yang berujung peningkatan kreativitas asyarakat dan menipiskan kesenjangan akses informasi. Peer Learning Meeting merupakan kegiatan saling sharing atau berbagi pengalaman seputar keberhasilan yang telah dicapai dalam pengembangan perpustakaan dan berbagai tantangan yang dihadapi, diskusi bersama untuk mencari solusinya. Pelaksanaan PLM ini bertujuan untuk memfasilitasi proses saling belajar dan berbagi pengalaman antar perpustakaan dan memotivasi serta membangun kepercayaan diri peserta untuk terus melaksanakan rencana kerja transformasi perpustakaan kabupaten dan desa yang memperkuat dalam proses mentoring dan monitoring perpustakaan 1. Kegiatan Inklusi Sosial di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues Adapun kegiatan pelibatan masyarakat yang dilakukan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues yaitu: a. Literasi untuk kesejahteraan: Penguatan literasi yang ada di masyarakat akan menumbuhkan kreasi dan inovasi dalam menghasilkan barang atau jasa yang dapat meningkatkan kesejahteraan diantaranya : Pelatihan masak kue tradisional, Pelatihan merajut dan menjahit, Pelatihan membut anyaman dari daun pandan, Bimtek Komputer. b. Pendidikan untuk berinovasi dan punya kreatifitaskreatifitas seperti : Kegiatan Storytelling, Layanan perpustakaan keliling, Lomba Mewarnai, Belajar Tahsin , Kegiatan membuat bookmark atau pembatas buku, Nonton Bareng dan diskusi (hiburan), Pelatihan Melengkan. c. sosialisasi, edukasi kesehatan dan kegiatan lainnya: Edukasi kesehatan, Mengadakan suntik vaksin dan konsultasi kesehatan masalah reproduksi, Pendataan dan sosialisasi ke perpustakaan sekolah, kampung, perguruan tinggi dan Taman Bacaan Masyarakat. 2. Peluang dan tantangan dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dengan adanya program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues ini memberikan dampak positif terhadap masyarakat yaitu: a. Adanya peluang usaha baru Pelibatan masyarakatnya dari unsur, anak sekolah, ibuibu muda, guru dan pengelola perpustakaan. Adapun impact setelah melaksanakan kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial seperti: pembuatan selai nanas dan naget, pembuatan saus dari buah pepaya, 65 pembuatan selai srikaya pandan, pelatihan pembuatan masker, pembuatan pernak-pernik kerawang Gayo dan pelatihan merajut, misalnya setelah mengikuti kegiatan pelatihan merajut tersebut peserta yang merupakan ibu-ibu sudah bisa mempraktekkan ilmu merajutnya dirumah sehingga hasil dari karya yang dibuat berhasil untuk dijual melalui via online seperti facebook, whatsaap dan lain sebagainya. b. Pendidikan Masyarakat yang sudah mengikuti kegiatan tersebut bisa menambah ilmu pengetahuannya seperti kegiatan belajar tahsin yang dilakukan dengan berbagai kalangan, seperti kegiatan diskusi dengan anak-anak yang bisa menambah wawasan ilmu pengetahuannya serta melakukan giat pustaka keliling dengan terjun ke berbagai lokasi desa, hal ini bisa menumbuhkan literasi kepada anak. Untuk kebutuhan sekolah anak bisa terpenuhi karena masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut bisa menyekolahkan anak-anannya dalam menuntut ilmu pendidikan. c. sosial perubahan menuju gaya hidup yang semakin berbasis teknologi ditangkap oleh perubahan indikator sosial lainnya. Digunakan dengan pola pikir individu yang semakin canggih dan semakin luasnya ketersediaan teknologi, seperti media sosial, yang menghubungkan dengan dunia luar. Program di Kabupaten Gayo Lues telah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendapatkan hiburan yang dibutuhkan. Dimana masyarakat menggunakan internet untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dan media sosial untuk menghibur diri sendiri Selain itu, masyarakat mempromosikan bisnis mereka sendiri melalui media sosial. d. Mengurangi Kemiskinan Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar secara ekonomi dianggap sebagai kemiskinan. Peserta program perpustakaan berbasis inklusi sosial ini telah mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.[16] Tantangan melakukan kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu: 1. Kurangnya Kerjasama Institusi atau lembaga diuntungkan dengan berinteraksi dengan lingkungan, dan perpustakaan dapat membina kerjasama dengan lingkungan. Di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues kurangnya kekompakan sesama pustakawan staff sehingga sedikit kegiatan yang dilaksanakan, sebagian antusias sebagian lagi sebaliknya. Yang paling penting adalah mempromosikan komunitas yang dapat diajak berkolaborasi, dengan memberikan penjelasan yang komprehensif tentang maksud dan tujuan pelaksanaan program tersebut. 2. keterbatasan ruangan Selain adanya peluang tentunya ada beberapa hal yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial, pustakawan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues menjadikan tempat pelaksanaan kegiatan sebagai faktor tantangan dalam melakukan kegiatan yang berbasis inklusi sosial dikarenakan ruangannya masih minim dalam melakukan suatu kegiatan. 3. Keterbatasan anggaran dana Setiap perpustakaan mutlak membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk membiayai seluruh operasional, staf, dan kebutuhan koleksi tambahan. Agar suatu organisasi atau lembaga dapat menampung suatu kegiatan yang perlu dilakukan, maka anggaran harus disiapkan.[17] 3. Upaya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dalam mengatasi tantangan a. Melakukan kerjasama Kerja sama yang dilaksanakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dengan: Halaqah Qur’an, Darma wanita, Dinas Syariat Islam, Dinas pariwisata, TBM Creative, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) b. Memanfaatkan dana secara optimal Keterbatasan dana membuat kegiatan tidak dapat diselenggarakan atau perpustakaan tidak dapat dibangun. Kebijakan perpustakaan berbasis inklusi sosial memiliki dana alokasi khusus yang digunakan untuk mendukung kegiatan prioritas sebagai iterasi untuk kesejahteraan. Karena perpustakaan menghabiskan uang dari anggaran tentang penciptaan koleksi digital, teknologi informasi perpustakaan, dan koleksi bahan perpustakaan.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian, bisa diambil beberapa kesimpulan yang mencakup beberapa pertanyaan penelitian. Adapun beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini yaitu: 1. Implementasi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues sudah berjalan baik, dilakukan dengan beberapa strategi diantaranya: Pustakawan terlibat aktif sebagai fasilitator, adanya bimtek revitalisasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, melakukan bimtek pengelolaan perpustakaan dan melakukan kegiatan advokasi PLM atau Peer Learning Meeting. 2. Di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues terdapat peluang pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, antara lain: Pustakawan mampu merencanakan kegiatan khusus di luar perpustakaan seefisien mungkin. Adanya peluang usaha baru, pendidikan, sosial dan mengurangi kemiskinan karena bisa memenuhi kebutuhan dengan adanya usaha. Sedangkan tantangannya yaitu kurangnya kekompakan atau kerjasama antar sesama staf pustakawan, keterbatasan ruangan dan keterbatasan anggaran dana. Terbukti bahwa anggaran berperan penting dalam pengembangan perpustakaan. 3. Upaya yang dilakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Gayo Lues dalam mengatasi tantangan yaitu dengan melakukan kerjasama dengan pihak lain dan memanfaatkan anggaran dana yang ada secara optimal yang diberikan oleh pusat.