Kembali
16
1
2019 Jurnal Pustaka Budaya Vol 6 · 2 ISSN 2442-7799

DLUWANG SEJARAHMU KINI : UPAYA KONSERVASI KERTAS TRADISIONAL INDONESIA

Pemerhati Perpustakaan Indonesia

Abstrak

Papyrus kita kenal sebagai tumbuhan yang digunakan untuk bahan pembuatan kertas pada masa mesir kuno. Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat kertas tradisional yang disebut kertas dluang/daluwang yang digunakan sebagai media penulisan manuskrip. Pada masa lampau kulit pohon dluwang ini tak hanya digunakan sebagai pembuatan kertas namun juga digunakan sebagai bahan pembuatan pakaian, tali dan kerajinan. Untuk membuat kertas dluwang ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan kesabaran luar biasa. Sayangnya, tradisi pembuatan kertas dluwang di Indonesia telah punah sejak tahun 1960. Sehingga masyarakat saat ini bahkan tidak mengetahui apa itu dluwang. Punahnya tradisi pembuatan kertas dluwang tergerus oleh produksi kertas modern yang kita kenal saat ini. Hal tersebut dikarenakan proses pembuatannya yang sangat tradisional sehingga dirasa kurang praktis dan ekonomis. Bahan pembuatan kertas dluwang adalah sejenis tumbuhan yang disebut pohon glugu (Papermulberry ‘Broussonetia papyryfea Vent’).serupa pohon murbey/ mulberry dan pohon waru atau saeh (sunda)- yg kulitnya digunakan untuk bahan pembuatan kertas. Dari segi kualitas, kertas dluwang ini memiliki ketahanan yang sangat bagus dikarenakan seratnya yang sangat kuat. Hal ini terbukti dari beberapa naskah kuno yang masih awet hingga saat ini. Salah satu daerah di Indonesia yang terkenal akan produksi kertas dluwang adalah desa Tegalsari, Kec. Jetis, Kab. Ponorogo. Sayangnya budidaya pohon dluwang telah terancam punah beriringan dengan punahnya tradisi pembuatan kertas dluwang ini. Setidaknya terdapat tiga lokasi di Indonesia yang saat ini berupaya melestarikan pembuatan kertas dluwang yakni, Tegalsari Ponorogo, sanggar Toekang Saeh, Bandung Jawa Barat, serta sanggar Sekar Jagad, Sukoharjo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penggunaan dluwang sebagai media tulis serta merekonstruksi bagaimanakah proses produksi kertas dluwang di tegalsari, jetis ponorogo. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan studi literature, wawancara dan survey.

Abstract

Papyrus is known as a plant that was used for paper making materials in ancient Egypt. In Indonesia itself there is a traditional paper called paper dluang / daluwang which is used as a medium for writing manuscripts. In the past dluwang tree bark was not only used as paper making but also used as material for making clothes, ropes and crafts. To make this dluwang paper requires a long time and extraordinary patience. Unfortunately, the tradition of dluwang paper making in Indonesia has been extinct since 1960. So the people today do not know what dluwang is. The extinction of the dluwang paper-making tradition was eroded by the modern paper production we know today. That is because the manufacturing process is very traditional so it is felt to be less practical and economical. The dluwang paper making material is a type of plant called the glugu tree (Papermulberry ‘Broussonetia papyryfea Vent’), similar to the murbey / mulberry tree and the hibiscus or saeh (sunda) tree - the bark used for papermaking. In terms of quality, this dluwang paper has very good durability due to its very strong fiber. This is evident from several ancient manuscripts that are still durable today. One of the regions in Indonesia which is famous for dluwang paper production is Tegalsari village, Kec. Jetis, Kab. Ponorogo. Unfortunately dluwang tree cultivation has been threatened with extinction along with the extinction of this dluwang papermaking tradition. There are at least three locations in Indonesia that are currently trying to preserve dluwang paper making namely, Tegalsari Ponorogo, Toekang Saeh Studio, Bandung West Java, and Sekar Jagad Studio, Sukoharjo. The purpose of this study is to identify the use of dluwang as a written media and to reconstruct how the dluwang paper production process is in tegalsari, jetis ponorogo. While the research method used is to use literature studies, interviews and surveys.
Keywords: Dluwang · Kertas Tradisional · Daluang · Javanese Paper

Introduction

Bagi kita yang kini berada dalam era digital bahkan digadang-gadang sebagai era menuju paperless, keberadaan kertas sebagai media tulis menulis mungkin bukan lagi sesuatu yang penting. Hal yang sangat berbeda akan kita temui apabila kita berada pada zaman dimana kertas belum tercipta. Keberadaan kertas di masa dahulu merupakan suatu penemuan yang sangat berharga. Pada masa jauh sebelum saat ini kita mengenal kain yang ditenun dari kapas maupun kertas buatan pabrik nenek moyang kita telah memiliki berbagai media tulis yang beraneka ragam. Seperti yang kita ketahui bahwa perkembangan tradisi tulis menulis tidak dapat dipisahkan dengan sejarah peradaban manusia. Pada masa itu, salah satu bentuk kegiatan manusia adalah mencatatkan segala pengalamannya dengan memberikan tanda pada batu, lempengan tanah (tablet), pohon, serta benda-benda lain yang dapat digunakan sebagai alat penyampaian komunikasi kepada manusia ataupun generasi selanjutnya. Adanya catatancatatan dalam berbagai media tersebut mampu membantu manusia dalam mengingat segala pengalaman yang telah dilakukan. Lambat laun, berbagai catatan tersebut dirasa kurang praktis, mengingat kehidupan mereka yang masih nomaden. Oleh karena itu, pada perkembangan selanjutnya, manusia mulai menggunakan kulit binatang dan kulit kayu sebagai media tulis. Selanjutnya pada tahun 2500 SM, bangsa Mesir menemukan bahan tulis yang disebut papyrus. Papyrus kita kenal sebagai tumbuhan yang digunakan untuk bahan pembuatan kertas pada masa mesir kuno. Kertas papyrus terbuat dari rumput papyrus yang tumbuh di sekitar lembah sungai nill. Sedangkan di wilayah Jepang terdapat kertas tradisional yang disebut “washi”, di Cina ada “hanji” dan di Meksiko ada amate paper . Kertas-kertas tradisional tersebuut sampai saat ini masih terjaga keberadaanya. Lalu bagaimana dengan Indonesia. Indonesia, khususnya wilayah Jawa dan Madura sebenarnya memilki media tulis sendiri yakni, dluwang. Sayangnya masyarakat saat ini bahkan tak mengetahui apa itu dluwang. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai apa itu dlwang, cara pembuatanya serta upaya yang dilakukan untuk melestarikan pohon dluwang dan kertas dluwang.

Method

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode antara lain: studi literature, wawancara dan survey. Studi lapangan dilakukan di daerah Tegalsari, Ponorogo Jawa Timur. Peneliti terjun langsung di lapangan untuk mendapatkan data- data yang diperlukan dalam proses penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini adalah keluarga Bapak Cipto Wiadi. Tujuan dari penelitian ini adaah untuk merekonstruksi bagaimanakah proses produksi kertas dluwang dan upaya pelestarian yang dilakukan.

Discussion

1. Sejarah Dluwang Di wilayah Indonesia media yang digunakan oleh nenek moyang sangat beragam antara lain daun lontar, kulit kayu dan pelepah kelapa. Terdapat Tradisi pembuatan naskah berbahan baku kulit kayu terdapat di daerah Batak yakni Pustaha. Putaha merupakan semacam buku dari kulit kayu yang dilipat-lipat yang memuat do’a petunjuk membuat obat tradisional dan cara menolak hal-hal yang jahat (Poda),dan mantra. pustaha tersebut terdiri dari lampak (sampul) dan laklak (kulit kayu sebagai media penulisannya). Selain itu, juga terdapat kertas tradisional yang disebut kertas dluang/daluwang. Kertas dluwang tersebut digunakan sebagai media penulisan kitab-kitab, al-Qura’an maupun berbagai karya seni. Kertas dluang ini merupakan kertas tradisional nusantara yang terbuat dari kulit dalam/ serat pohon dluwang. Pohon dluwang ini memiliki berbagai sebutan antara lain: dhalubang (Madura), Saeh (Sunda), Tapa (Sulawesi). Penyebutan istilah untuk dluwang dalam beberapa kamus terdapat perbedaan. Hal ini dikarenakan penyebutan masyarakat lokal untuk tanaman tersebut memang bermacammacam. Pada kamus ditemukan beberapa entri kata dan pengertian yang serupa antara lain adalah: a. daluwang: pakaian dari kulit pohon (dikenakan oleh petapa/ orang suci (hindu), glugu, semak sejenis jelatang (Zoetmulder, 1995:190) b. daluang: kain (kertas) dari kulit pohonpohonan (Purwadarminta, 1985: 224). c. daluang: kl n kain atau kertas dibuat dari kulit pohon (KBBI ). Bahan pembuatan kertas dluwang adalah sejenis tumbuhan yg disebut pohon glugu (Papermulberry ‘Broussonetia papyryfea Vent’).serupa pohon murbey/ mulberry dan pohon waru atau saeh (sunda)- yg kulitnya digunakan untuk bahan pembuatan kertas. Tanaman ini dikenal sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas di seluruh Asia Timur dan Tenggara, dan Polinesia. Tumbuhan tersebut sebenarnya bukanlah tanaman endemik di Indonesia tetapi berasal dari Cina Selatan. Tanaman ini merupakan keluarga Moroceae yang berkembang biak dengan menggunakan geragih atau akar rimpang. Tanaman ini memerlukan lahan yang memilki tanah gembur, berpasir dan dekat dengan sumber air. Semakin gembur tanah makan akan semakin cepat pertumbuhan tanaman ini (Heyne, 1987). Pada masa lampau kulit pohon dluwang tak hanya digunakan sebagai pembuatan kertas namun juga digunakan sebagai bahan pembuatan pakaian, tali dan kerajinan/ karya seni, pakaian, juga berbagai kebutuhan seharihari. Selain itu, pada masa penjajahan di Indonesia dluwang dimanfaatkan oleh pemerintah Belanda untuk kepentingan administrasi dan bahan pembuatan uang. Dari segi kualitas, kertas dluwang ini memiliki kehatahanan yang sangat bagus dikarenakan seratnya yang sangat kuat. Hal ini terbukti dari beberapa naskah kuno yang masih awet hingga saat ini. Dalam peneltian yang dilakukan oleh Rene (1995) menyebutkan bahwa dluwang juga digunakan untuk beberapa naskah Melayu dan Madura. Koleksi manuskrip yang ada di Jawa, rata-rata 8% terdiri dari naskah yang ditulis pada media dluwang. Dluwang juga digunakan di daerah seperti Solo, Sukoharjo dan Pacitan untuk menggambarkan episode wayang beber. Penggambaran wayang beber tersebut dilukis diatas kertas gulungan yang terbuat dari dluwang. Untuk saat ini, koleksi gulungan wayang beber yang terbuat dari dluwang ini masih data ditemukan di museum kekayon (museum khusus wayang) di daerah Jl. Piyungan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang di Jawa yang menggunakan lembaran atau gulungan daluang untuk menampilkan lakon/ kisah atau cerita pewayangan dalam bentuk gambar. Selain itu, kertas dluwang juga digunakan oleh masyarakat Hindu untuk upacara keagaman. Untuk membuat kertas dluwang ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan kesabaran luar biasa. Sayangnya, tradisi pembuatan kertas dluwang di Indonesia telah punah sekitar tahun 1960. Para siswa sekolah di tahun 1960-1970an masih menggunakan sabak (batu tulis) semacam lempengan yang terbuat dari tanah liat untuk berlatih menulis sebelum menggunakan buku, karena kertas merupakan barang yang berharga sangat mahal. Di masa sebelumnya, kertas berharga lebih mahal lagi. Masyarakat saat ini bahkan tidak mengetahui apa itu dluwang. Punahnya tradisi pembuatan kertas dluwang tergerus oleh produksi kertas modern yang kita kenal saat ini. Hal tersebut dikarenakan proses pembuatannya yang sangat tradisional sehingga dirasa kurang praktis dan ekonomis. Untuk itu perlu adanya upaya-upaya yang dapat dilakukan agar tradisi pembuatan kertas dluwang sebagai salah satu kearifan lokal. Hal ini bertujuan agar para generasi muda dapat mempelajari dan turut melestarikan budaya bangsa yang hampir punah. Salah satu daerah di Indonesia yang terkenal akan produksi kertas dluwang adalah desa Tegalsari, Kec. Jetis, Kab. Ponorogo. Kertas dluwang lebih dikenal penduduk setempat dengan istilah kertas gedhog/gedhong. Pohon glugu ini pada zaman dahulu banyak ditanam di sekitar masjid dan pesantren. Selain sebagai bahan pembuat kertas masyarakat ponorogo menggunakan kulit pohon dluwang (atau yang oleh penduduk setempat disebut pohon glugu/ galugu) untuk dijadikan tali pengikat pondasi rumah. Desa Tegalsari dalam beberapa literature yang pernah di tulis oleh Rene Tejygler pada tahun 1995 disebutkan daerah Tegalsari merupakan salah satu daerah penghasil kertas dluwang terbesar di Nusantara pada masa itu. Bahkan kertas dluwang dari Desa Tegalsari ini sering disebut dengan kertas gedhog/gedhong atau “kertas ponorogo”. Selain desa Tegalsari, sentra pembuatan kertas itu juga ada daerah Tunggilis, Garut. Hanya saja kertas dluwang dari Ponorogo ini dinilai lebih unggul dari segi kualitas. Pohon dluwang pada masa itu banyak ditanam di sekitar wilayah pesantren. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para kiai maupun santri membuat kertas dluwang sebagai media untuk menulis. Keberadaan desa Tegalsari sebagai pusat pendidikan islam sejak abad 18 memungkinkan banyaknya penggunaan media untuk menulis baik untuk keperluan pendidikan (al Qur’an dan kitab kuning/literature pesantren) maupun untuk mencatat hal hal penting. Kertas dluwang tersebut juga digunakan untuk digunakan para kiai di lingkungan pondok pesantren untuk menulis kitab. Sayangnya, kini pesantren Tegalsari sudah tiada, namun pesntren tersebut menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Darusalam Gontor yang dikenal saat ini sebgai salah satu pondok pesantren berpengaruh di Indonesia. Kertas dluwang lebih dikenal penduduk setempat dengan istilah kertas gedhog/gedhong. Pohon glugu/galugu ini pada zaman dahulu banyak ditanam di sekitar masjid dan pesantren. Selain sebagai bahan pembuat kertas masyarakat Ponorogo menggunakan kulit pohon glugu untuk dijadikan tali pengikat pondasi rumah. Di wilayah Tegalsari ini juga pernah berdiri sebuah pesantren yang sangat terkenal pada masanya, yakni Pondok Pesantren Tegalsari. Lembaga tersebut merupakan pesantren tertua di Indonesia yakni didirikan pada tahun 1742 M. Selanjutnya, Pondok Pesantren Tegalsari menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Darusallam Gontor yang kita kenal saat ini. Hal yg menarik lainya adalah, Pesantren Tegalsari adalah tempat dimana pujangga besar seperti Yosodipuro dan Ronggowarsito nyantri. Sehingga banyak naskah-naskah manuskrip karangan kedua pujangga itu yang menggunakan bahan baku berupa kertas dluwang. Jadi media tulis dari kertas dluwang ini memang berperan penting dalam tradisi penulisan masyarakat khususnya sebagai media tulis di lingkungan pesantren Tegalsari. Salah satu orang yang masih bisa dimintai keterangan tentang proses pembuatan kertas dluwang/gedhog ini keluarga bapak Cipto Wiadi. Beliau merupakan generasi ketiga dari keluarga Kyai Moh. Djaelani yang pada tahun 1950an memiliki usaha pembuatan kertas dluwang di wilayah Tegalsari, Ponorogo. “Dulu keahlian membuat kertas itu awalnya di jaman Belanda ada orang Tegalsari berdiskusi dengan orang Garut Jawa Barat soal tanaman, lalu diterangkan bahwa kulit pohon itu bisa dibuat kertas. Sejak itu maka lahirlah pembuatan kertas di Tegalsari, sampai tahun 1960an kertas Dluwang ini masih dibuat” ucap Pak Cipto Wiadi. Berdasarkan hasil observasi dilapangan, peneliti menemukan bahwa sebbenarnya masyarakat di desa Tegalsari, Kec. Jetis Ponorogo ini memiliki potens kuat untuk menghidupkan kembali upaya pelestraian dluwang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang dapat mengolah pohon dluwang menjadi kertas. Sayangnya, pengetahuan/ teknik pembuatan kertas dluwang ini tidak diimbangi dengan adanya lembaga yang mewadahi mereka untuk berkembang. Selain itu, pengetahuan teknik pembuatan dluwang juga hanya dimiliki oleh para warga masyarakat berusia lanjut. Belum ada generasi muda yang memilki perhatian khusus untuk pembuatan dluwang. Apabila hal ini terus berlanjut, maka sangat dimungkinkan jika tradisi pembuatan dluwang akan benarbenar punah. Punahnya tradisi pembuatan dluwang ini akan berimbas pada punahnya jenis pohin dluwang (Papermulberry ‘Broussonetia papyryfea Vent’) dan tidak terwariskannya teknik pembuatan kertas dluwang kepada generasi muda. 2. Proses pembuatan Dalam proses pembuatan kertas dluwang sebenarnya cukup mudah. Dalam tulisan bupati Ponorogo, RM. Soetikna (1939) yang dimuat dalam majalah Djawa berjudul “ Dloewang Panaraga: Het een en over de vervaardiging en verbreiding van kertas gendong te Tegalsari menyebutkan bahwa proses pembuatan dluwang sebenarnya hanya memerlukan peralatan yang sederhana. Proses pembuatan dluwang tersebut masih manual dengan menggunakan teknik tradisional. Secara keseluruhan pembuatan kertas dluwang ini memerlukan waktu satu hingga dua mimggu tergantung pada terik matahari. Kriteria pohon dluang yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan kertas adalah pohon dluang berumur 2- 3 bulan. Pohon dluwang tersebut telah memiliki serat dan kulit yang cukup bagus. Dalam proses pembuatanya dluwang tidak membutuhkan zat kimia apapun, sehingga kertas dluwang ini sangat ramah lingkungan. Sedangkan serangkaian proses pembuatanya adalah sebagai berikut: a. Pohon dluwang yang digunakan adalah yang berumur minimal 1- 2 bulan dan maksimal 2 tahun. Hal ini dikarenakan semakin tua usia pohon, maka serat dalam kayu semakin keras sehingga sulit dibentuk. b. Kupas kulit bagian luar pohon dluang yang berwarna kehijuan secara perlahan agar kulit bagian dalam tidak rusak. c. Rendam batang pohon yang telah dikupas kulit luarnya selama semalam. d. Kupas kulit dalam pohon dluwang (berwarna putih), rendam selama semalam agar kulit dalam tersebut lunak e. Selanjutnya, kulit yang telah direndam (diperam) dipukul-pukul hingga tipis dan melebar sesuai dengan tingkat ketipisan yang diinginkan. Semakin banyak kulit yang digunakan maka akan semakin lebar kertas yang dihasilkan. Lebar kertas yang dihasilkan dari selembar kulit dluwang dapat mecapai tiga kali lipat ukuran semula. f. Kulit dluwang yang telah ditipiskan direndam kembali (diperam) dan difermentasikan dengan cara dibungkus menggunakan daun pisang selama 3-7 malam. Proses fermentasi ini bertujuan agar kulit dluwang tersebut mengeluarkan lender sehingga seratserat kayunya semakin solid. g. Selanjutnya, setelah proses fermentasi selesai kulit dluwang dijemur, diikat diatas permukaan pohon pisang. Penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari. Bentuk batang pisang yang halus ini akan mempengaruhi permukakaan kertas dluwang. h. Setelah kering, proses berikutnya adalah menghaluskan permukaan kertas dengan menggunakan cangkang kerang yang memiliki permukaan halus. Selanjutnya, kertas tersebut siap digunakan sesuai dengan kebutuhan untuk melukis, kerajinan ataupun kertas buku. 3. Upaya Pelestarian Seiring dengan terhentinya produksi kertas dluwang maka pertumbuhan dan persebaran pohon dluwang pun ikut punah. Saat ini, persebaran pohon dluwang tersebut cukup sulit ditemui. Untuk itu perlu upaya pelestarian agar tradisi pembuatan kertas dluwang ini dapat terus dilestarikan. Upaya tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya, sistem pengetahuan serta teknologi tradisional pembuatan kertas sebagai salah satu warisan bangsa. Untuk melakukan upaya pelestarian kertas dluwang ini diperlukan sinergi dari berbagai pihak yakni, masyarakat, komunitas, perguruan tinggi serta dukungan pemerintah. Masyarakat dan komunitas dapat berperan dalam proses pembudidayaan dan pembuatan kertas. Perguruan tinggi dapat mendukung dengan berbagai penelitian dan penyuluhan kepada masyarakat untuk pembudidayaan tanaman. Upaya pelestarian ini melibatkan pola partisipasi aktif langsung dari masyarakat. Sedangkan pemerintah dapat memberikan dukungan berupa adanya berbagai kebijakan baik disektor perkebunan, industri maupun pariwisata. Pada tahun 2014 pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional mengeluarkan SK dengan Nomor 270/P/2014 terkait kelestarian dluwang. Hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk menghidupkan dluwang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Dengan adanya SK tersebut, diharapkan mampu mendorong masyarakat, komunitas maupun pemerintah untuk terus menggiatkan upaya pelestarian dluwang. Persebaran pohon dan konservasi pembuatan kertas dluwang di Indonesia saat ini dapat ditemui di beberapa daerah di Indonesia antara lain adalah: a. Desa Tegalsari Ponorogo, Jawa Timur. Dikelola sukarela oleh perorangan (keluarga Bapak Cipto Wiadi) yang merupakan generasi ketiga dari Kyai Moh. Djaelani produsen kertas dluang/gedhog. Upaya pelestarian yang beliau lakukan saat ini meliputi penanaman di sela-sela ladang pertanian. Beliau juga sering mengajarkan cara/ teknik pembuatan kertas dluwang kepada mahasiwa maupun peneliti yang datang ke rumahnya. Upaya yang dilakukan beliau memang masih belum maksimal, hal ini dikarenakan beberapa kendala yakni: kurangnya perhatian dari pemerintah setempat dan masyarakat sekitar yang lebih memilih bertani daripada membuat dluwang. Hal ini mengingat memang kertas dluwang memang sulit dipasarkan karena kurang praktis dibandingkan dengan banyaknya kertas produksi pabrik yang ada saat ini. b. Sanggar Toekang Saeh, di Kampung Tanggulan, Dago Pojok Kota Bandung, Jawa Barat. Sanggar Toekang Saeh ini didirikan oleh Ahmad Mufid Sururi pada tahun 2006. Beliau adalah seorang lulusan ITB. Hal yang melatar belakangi berdirinya sanggar Toekang saeh ini adalah keprihatinan Bapak Mufid akan kelestraian dluwang/saeh. Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah tidak mengenal dan mengetahui apa itu kertas dluwang. Upaya yang dilakukan oleh Bapak Mufid ini dapat dikatanya cukup menarik dalam mempromosikan kertas dluwang kepada masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan antara lain adalah: pameran dan workshop pada September 2013, penanaman pohon dluwang/ saeh, serta membuka pelatihan pembuatan kertas dluwang di rumahnya untuk umum. Tak jarang, sanggar ini juga sering diliput dalam berbagai media baik koran maupun televisi. Selain itu, melalui blog toekangsaeh dan akun instagram @toekangsaeh_journey, sanggar ini mampu mempromosikan dluwang/saeh secara lebih luas kepada masyarakat. Bapak Mufid juga mengumpulkan berbagai manuskrip/ kerajinan yang terbuat dari dluwang. Bahkan beberapa koleksi yang dimiliki oleh sanggar ini merupakan hasil buatan pengunjung yang belajar disana. Kedepannya sanggar Toekang Saeh ini diharapkan menjadi museum yang khusus mengkoleksi barang-barang berbahan baku dluwang/saeh. Hal ini bertujuan untuk menjaga tradisi nusantara. 3. Sanggar Sekar Jagad, Sukoharjo, Jawa Tengah Sanggar Sekar Jagad merupakan kelompok seni di wilayah sukoharjo yang berupaya menjaga tradisi dibidang kesenian local. Selain dibidang kesenian sanggar ini juga memiliki perhatian kan kelestarian sastra dan budaya. Sanggar yang di promotori oleh Bapak Joko Ngadimin memiliki perhatian khusus dengan kelestarian pohon dluwang di Indonesia. Sanggar sekar Jagad beralamatkan di Dusun Kotakan, RT 004/006 Kotakan, Desa Bakalan, Polokarto. Upaya pelestarian yang dilakukan adalah dengan penanaman secara masal pohon dluwang di desa tersebut sejak tahun 2011. Pengadaan bibit pohon ini didatangkan dari Jawa Barat. Upaya penanaman pohon dluwang ini dilakukan sebagai upaya melestarikan warisan nenek moyang. Diharapkan pembudidayaan pohon dluwang juga mampu mengangkat perekonomian warga. Hal ini dikarenakan kertas dluwang memiliki kualitas yang sangat baik yang bertahan hingga ratusan tahun. Program budidaya tanaman dluwang tersebut juga berorientasi untuk menjadikan Desa Kotakan sebagai desa berbudaya lingkungan atau eco village. Hingga saat ini, upaya yang dilakukan Bapak Joko Ngadimin ini masih terus dilakukan, banyak peneliti dan wisatawan yang singgah untuk belajar cara budidaya tanaman dan membuat kertas dluwang di sanggar tersebut. Pada dasarnya upaya pelestarian pohon dan pembuatan kertas dluwang yang disebutkan diatas memiliki satu pola yang smaa yakni partisipasi dari masyarakat. Dari ketiga lokasi tersebut, Sanggar Toekang Saeh merupakan yang paling paling produktif. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan pameran, workshop, liputan media dan penggunaan sosial media sebagai upaya pengenalan kepada masyarakat.

Conclusion

Di Indonesia terdapat setidaknya tiga lokasi yang saat ini sedang berupaya untuk membudidayakan pohon dluwang dang melestarikan tradisi pembuatan dluwang. Pelestaraian dluwang sebagai salah satu bentuk warisan buadaya perlu terus dilakukan dengan sinergi antara komunitas, masyakarat, perguruan tinggi serta peran pemerintah. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya mempertahankan tradisi pembuatan kertas tradisional asli nusantara.