Studi Eksplorasi tentang Pemanfaatan Filantropi dalam Pengembangan Perpustakaan Sekolah Dasar (Studi Kasus pada Perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 3 dan 4 Banjar Jawa, Singaraja, Bali)
Universitas Pendidikan Ganesha; Universitas Pendidikan Ganesha; Universitas Pendidikan Ganesha; Universitas Pendidikan Ganesha
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) alasan orangtua murid beserta pihak-pihak terkait melaksanakan aktivitas filantropi untuk mengembangkan perpustakaan sekolah, 2) bentuk dan proses pemberian sumbangan yang dilakukan oleh para filantropis, dan 3) pengelolaan sumbangan yang diberikan oleh para filantropis sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang dititikberatkan pada deskripsi serta interpretasi perilaku manusia dalam mengelola perpustakaan sekolah. Penelitian dilakukan dalam empat tahapan, yakni; 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, serta 4) analisis data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) tindakan filantropi dilandasi oleh semangat keagamaan dan keinginan untuk mendapatkan imbalan sosial berupa pujian, 2) sumbangan dapat berupa peralatan, bahan pustaka, dan uang tunai yang umumnya diserahkan secara langsung ke sekolah, dan 3) pengelolaan sumbangan dilakukan sesuai dengan jenis sumbangan yang diberikan
Keywords:
filantropi
· perpustakaan sekolah
· sumbangan
Introduction
Perpustakaan sekolah memiliki peranan sangat penting dalam sebuah lembaga pendidikan formal (Soedibyo, 1987, Basuki, 1991). Hal ini berkaitan erat dengan tujuan pendirian perpustakaan sekolah yakni: 1) menimbulkan kecintaan membaca, 2) membimbing dan mempercepat penguasaan teknik membaca dari learning to read menjadi reading to learn, 3) memperluas dan memperkaya cakrawala pengalaman belajar siswa, 4) membantu pengembangan daya pikir siswa, 5) memberi dasar-dasar kemampuan penelusuran informasi, 6) memberi dasar kearah studi mandiri , dan 7) memberikan wahana rekreasi bagi siswa (Bafadal, 2006; Sugihartati, 2008). Peran pepustakaan sekolah bertambah vital jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian dewasa kini yang masih belum merata di semua kalangan. Daya beli masyarakat sangat timpang antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Kondisi ini pada akhirnya berimbas kepada pola pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pendidikan antara lain berwujud kesulitan membeli buku-buku pelajaran. Keengganan membeli buku bertambah parah, mengingat masyarakat Indonesia belum memiliki budaya baca yang tinggi (Muslih, 2003). Berkenaan dengan itu kebutuhan akan buku seringkali dinomorduakan dibandingkan dengan kebutuhan hidup lainnya. Dalam kondisi seperti ini maka kebutuhan akan buku baik ajar dan pengayaan secara memadai pada suatu perpustakaan yang dapat diakses oleh peserta didik dengan cara meminjam menjadi sangat penting, bahkan merupakan hal yang mendesak (Wirata, 2008). Pengadaan buku-buku pelajaran di sekolah yang sudah ditentukan oleh sekolah seringkali tidak membuat siswa mengembangkan pengetahuannya di luar buku yang dibagikan dari sekolah, sehingga pengetahuan siswa hanya terbatas pada apa yang dipelajari di dalam kelas. Fenomena yang sering terjadi adalah sekolah seringkali dikunjungi oleh pedagang buku untuk menjual buku-buku yang daipasarkan kepada siswa. Upaya ini biasanya berhasil mendorong siswa untuk membeli buku-buku tersebut. Padahal buku-buku yang dijual masih seputaran buku pelajaran. Guru berperan dalam membantu pedagang buku atau selaku mediator antara pasar dan peserta didik yang membutuhkan buku pelajaran. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan, karena diduga guru menerima imbalan finansiall lewat penjualan buku tersebut. Karena itu, tidak mengherankan jika Depdiknas mengeluarkan larangan bagi guru untuk menjual buku sebagaimana tercermin pada Peraturan Menteri Diknas Nomor 2 Tahun 2008. Dalam kondisi seperti inilah penerapan Peraturan Menteri Depdiknas Nomor 2 Tahun 2008, menjadikan kebutuhan akan perpustakaan sekolah menjadi lebih penting agar murid bisa mendapatkan buku pelajaran secara mudah, cepat, dan murah, tampa melibatkan jual-beli yang dilakukan oleh guru.. Walaupun perpustakaan sekolah sangat penting dilihat dari berbagai aspek, namun keberadaan perpustakaan sekolah di di berbagai jenjang sekolah masih sangat memprihatinkan. Pada jenjang Sekolah Dasar, secara nasional hanya terdapat 70.000 perpustakaan sekolah dari 149.454 Sekolah Dasar yang terdapat di seluruh Indonesia dengan kondisi perpustakaan yang tidak seragam (Kompas Cybermedia, 16 November 2007). Gejala ini menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah, walaupun sangat penting, namun belum menjadi prioritas bagi sekolah. Kepala sekolah cenderung tergiur untuk membangun fasilitas fisik sekolah yang bisa dipertontonkan kepada public, seperti lapangan, gedung bertingkat, mengadakan pendingin udara, dll, dibandingkan dengan mengembangkan perpustakaan sekolah (Kompas Cybermedia, 28 April 2005) Kondisi ini tercermin hampir di semua perpustakaan di Kabupaten Buleleng. Menurut informasi yang diperoleh dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Buleleng, untuk jenjang sekolah dasar hanya beberapa Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan sekolah. Hanya sebagian kecil saja dari perpustakaan sekolah itu yang dikelola dengan baik dan benar. Begitu pula berdasarkan pengamatan terhadap beberapa Sekolah Dasar di kota Singaraja, sebagaian besar belum memiliki perpustakaan sekolah yang andal. Jikalaupun mereka memiliki ruang perputakaan, koleksi buku-bukunya tidak terurus dengan baik, bahkan mengesankan kekumuhan. Namun, di balik kondisi tersebut ternyata ada dua sekolah yang memiliki perpustakaan yang dikelola dengan baik dan benar, yakni Sekolah Dasar Negeri 3 dan 4 Banjar Jawa. Kedua sekolah ini berada pada areal yang sama, sehingga mereka bisa mengembangkan satu perpustakaan untuk digunakan secara bersama. Perpustakaan kedua sekolah ini memiliki bahan pustaka yang cukup memadai dengan dua orang petugas perpustakaan yang siap memberikan pelayanan kepada siswa yang memerlukan. Selain itu, perpustakaan sekolah juga dilengkapi dengan dua unit computer yang dapat dimanfaatkan oleh staff guru yang memerlukan. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan Sekolah-sekolah Dasar lainnya, yakni perputakaannya sangat tidak memadai, kurang terurus, koleksi bukunya tidak lengkap, dan pengelolaannya diserahkan pada guru yang tidak professional. Keberhasilan SDN 3 dan 4 Banjar Jawa mengembangkan Perpustakaan Sekolahnya tidak dapat dilepaskan dari semangat filantropi (kedermawanan sosial) yang dimiliki oleh segenap siswa, orang tua siswa, alumni maupun pihak lainnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya sumbangan yang mereka berikan untuk pengadaan berbagai bahan pustaka maupun fasilitas perpustakaan lainnya. Selain itu, gaji para pengelola perpustakaan sepenuhnya ditanggung oleh komite sekolah yang menghimpun dana dari orang tua siswa. Kenyataan ini cukup membanggakan mengingat kecenderungan bahwa di satu sisi perpustakaan sekolah di Indonesia diabaikan (Muslih, 2003), begitu pula di Bali, namun di sisi yang lain perpustakaan di SD 3 dan SD 4, justru di kelola dengan baik dan benar. . Selain itu, kesediaan para donator untuk menyumbangkan modal finansal maupun modal material bagi pengembangan perpustakaan di SD 3 dan SD 4, sangat menarik, semangat filantropi merupakan hal yang sangat bernilai dalam kondisi masyarakat Bali dewasa ini yang memiliki kecenderungan untuk semakin individualistic. Mereka cenderung lebih mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan masalah orang lain. Jikalau mereka memberikan bantuan atau berdana punia kepada orang lain, maka bantuan itu cenderung diberikan kepada orang yang masih memiliki ikatan persaudaraan, ikatan dadia, maupun desa pakrama (Atmadja, 2008). Dalam konteks inilah semangat filantropi yang berkembang di SDN 3 dan 4 Banjar Jawa dalam mengembangkan perpustakaan menjadi sangat menarik untuk dikaji. Semangat ini dapat disinergikan sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi pengembangan perpustakaan sekolah. Begitu pula sistem pengelolaan perpustkaan yang baik dan benar merupakan kasus yang mengesankan sehingga penting untuk dikaji secara mendalam. .Pemahaman yang didapat sangat bermanfaat dalam pengembangan perpustakaan sejenis sehingga bisa memberikan layanan yang lebih optimal bagi penggunanya. Dengan demikian, dalam skala tertentu, permasalahan penyediaan perpustakaan sekolah yang selama ini selalu menjadi problem yang tidak terpecahkan dapat diselesaikan. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan mengenai; 1) alasan kaum filantropis melaksanakan aktivitas filantropinya untuk mengembangkan perpustakaan sekolah, 2) bentuk dan proses pemberian sumbangan, dan 3) pengelolaan sumbangan yang diberikan kepada perpustakaan sekolah. Alasan Melaksanakan Aktivitas Filantropi Secara harfiah, filantropi berasal dari bahasa latin, yaitu philos (cinta) dan antrhopos (manusia), yang berarti cinta sesamamanusia. Sebagai suatu aktivitas, filantropi secara umum dapat didefinisikan sebagai aktivitas memberi secara sukarela dan membantu orang lain yang berada di luar garis keluarga (Elchman, Katz dan Queen III, 2006). Dari difinisi ini dapat dilihat dengan jelas bahwa pemberian sumbagan bahan pustaka yang dilakukan oleh orangtua murid dan pihak-pihak yang berkepentingan merupakan aktivitas filantropi karena diberikan kepada pihak yang tidak memiliki hubungan langsung dengan para filantropis. Dari pengamatan kancah, kesediaan kaum filantropis dalam memberikan sumbangan kepada perpustakaan sekolah dilandasi oleh kesadaran bahwa sumbangan yang diberikan dapat memberikan bantuan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, kaum filantropis umumnya merasa bahwa sumbagan yang mereka berikan merupakan sebuah kebajikan yang sejalan dengan ajaran agama yang mereka anut. Dengan melaksanakannya, mereka merasa akan mendapatkan pahala di mata Tuhan. Pandangan ini sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa agama – yang berperspektif idealisme – merupakan basis yang paling dominan dalam melaksanakan aktivitas filantropi (Fauzia dan van der Meij, 2006). Sekolah memiliki kebijakan untuk memberikan label nama penyumbang pada setiap peralatan dan bahan pustaka yang tersimpan di perpustakaan. Dengan demikian, setiap orang yang menggunakan jasa perpustakaan dapat dengan jelas mengetahui pihak-pihak yang memberikan sumbangan. Selain itu, sumbangan yang diterima oleh pihak sekolah selalu diumumkan kepada seluruh siswa pada saat kegiatan upacara bendera. Pengumuman ini dengan jelas menyebutkan pihak penyumbang berikut jenis dan besaran sumbangan. Hal ini menjadikan informasi tentang pemberian sumbangan dapat diketahui oleh lebih banyak orang karena tidak jarang kegiatan upacara bendera menghadirkan pula pihak luar sekolah sebagai undangan. Pengumuman mengenai pemberian sumbangan dan pelabelan pada bahan pustaka atau peralatan perpustakaan ini memiliki manfaat positif dari aspek akuntabilitas. Dengan diumumkan, pihak penyumbang dapat diyakinkankan bahwa sumbangan yang diberikan telah dimanfaatkan secara tepat sasaran. Selain alasan akuntabilitas, pelabelan dan pengumuman pemberi sumbangan juga dimaksudkan sebagai penghargaan yang diberikan oleh pihak sekolah kepada para filantropis yang telah memberikan sumbangan. Dari hasil wawancara dengan pihak sekolah, diperoleh keterangan bahwa penghargaan bagi pemberi sumbangan merupakan hal yang sangat penting untuk memotivasi pihak-pihak lain untuk ikut memberi sumbangan. Kondisi ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh kerangka teori pertukaran sosial bahwa tindakan yang dilaksanakan oleh manusia dilandasi pula oleh keinginan untuk memperoleh imbalan sosial berupa pujian (Johnson, 1996). Berkenaan dengan itu maka kesediaan seseorang berfilantropi bisa karena mereka berharap mendapatkan imbalan sosial, yakni penghargaan atau pujian dari orang lain. Hal ini sangat penting, mengingat apa yang dikemukakan Maslow (dalam Goble, 1987) bahwa pemenuhan akan penghargaan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. 3.2 Bentuk dan Proses Pemberian Sumbangan Sumbangan yang diberikan untuk perpustakaan sekolah di SDN 3 dan 4 Banjar Jawa meliputi peralatan perpustakaan, bahan pustaka dan dana operasional perpustakaan. Peralatan perpustakaan merupakan peralatan yang menunjang aktivitas pelayanan perpustakaan. SDN 3 dan 4 Banjar Jawa memiliki dua unit komputer berikut alat cetaknya yang merupakan sumbangan dari orang tua siswa. Bahan pustaka merupakan koleksi perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung perpustakaan. Bahan pustaka yang dimiliki perustakaan meliputi berbagai jenis buku yang berjumlah lebih dari 1000 eksemplar. Sebagian besar buku yang dimiliki perpustakaan ini merupakan sumbangan dari para orang tua siswa. Bahan pustaka lain yang dimiliki oleh perpustakaan adalah atlas, globe, dan berbagai alat peraga. Bahan-bahan pustaka ini sebagian merupakan sumbangan dari orang tua siswa. Bentuk sumbangan dari para filantropis yang terkhir adalah dana operasional untuk mengelola perpustakaan sekolah. Pemberian sumbangan dari para filantropis yang berbentuk peralatan dan bahan pustaka umumnya diberikan langsung melalui kepala sekolah untuk kemudian diserahkan kepada para pustakawan. Apabila sumbangan diberikan dalam bentuk uang, maka uang ini dikumpulkan disimpan terlebih dahulu oleh Kepala Sekolah untuk kemudian dimanfaatkan sesuai dengan keperluan perpustakaan. 3.3 Pengelolaan Sumbangan bagi Perpustakaan Sekolah Pengelolaan sumbangan dari para filantropis dibedakan berdasarkan jenis sumbangan yang diberikan. Sumbangan berupa peralatan perpustakaan sebelum dimanfaatkan diinventarisir terlebih dahulu. Aktivitas ini menjadikan peralatan perpustakaan bagian dari inventaris sekolah yang pengelolaannya sama dengan inventaris sekolah yang lain. Sumbangan berupa bahan pustaka dikelola sesuai dengan kaidah pengeloaan bahan pustaka yang meliputi: a. Pencataan bahan pustaka pada buku induk; ini bertujuan agar buku-buku yang dibeli sesuai dengan pesanan dan ini juga berguna untuk mengetahui jumlah bahan pustaka yang ada b. Klasifikasi bahan pustaka; bertujuan untuk memudahkan pemakai perpustakaan dalam mencari bahan pustaka yang diinginkan serta memudahkan dalam menyimpan kembali bahan pustaka pada raknya. c. Katalogisasi bahan pustaka; tujuan katalogisasi adalah untuk memudahkan pemakai perpustakaan dalam mendapatkan informasi bahan pustaka yang diinginkan, karena dalam katalog pemakai bisa mengetahui judul buku, pengarang, subjek buku dan informasi yang lainnya. d. Peneraan/stempel; ini dilakukan agar bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan tidak mudah hilang. e. Pemasangan nomor panggil; biasanya nomor ini dipasang pada punggung buku berupa stiker, ini bertujuan untuk memudahkan penyusunan buku pada rak buku. f. Pemasangan label tanggal dan kantong; memudahkan dalam pencatatan peminjaman dan pengembalian. g. Pengecekan ulang; memastikan bahwa nomor klasifikasi dan penulisan katalog sudah benar. h. Penempatan pada rak; kegiatan penyusunan bahan pustaka pada rak tidak kalah pentingnya dengan kegiatan-kegiatan lain dalam rangkaian pengelolaan perpustakaan. Sumbangan yang berupa dana operasional dikelola oleh kepala sekolah dan digunakan untuk menggaji dua orang tenaga pustakawan yang bertugas di Perpustakaan SDN 3 dan 4 Banjar Jawa. Selain itu, dana operasional ini juga dimanfaatkan untuk memelihara bahan pustaka agar tidak mengalami kerusakan. Pertanggungjawaban penggunaan dana dilakukan oleh kepala sekolah dalam rapat dewan guru.
Conclusion
Semangat filantropi dapat bermanfaat dalam pengembangan perpustakaan sekolah sehingga perpustakaan sekolah yang merupakan sarana pembelajaran yang penting di sekolah dapat beroperasi secara baik. Dalam melakukan aktivitasnya, kaum filantropis umumnya berlandaskan semangat keagamaan. Meski demikian, keinginan untuk memperoleh imbalan sosial berupa pujian tidak dapat diabaikan sebagai alasan bagi tindakan manusia termasuk dalam pemberian sumbangan. Sumbangan yang diterima oleh Perpustakaan dapat berupa peralatan, bahan pustaka dan uang tunai. Peralatan dan bahan pustaka, setelah diterima oleh kepala sekolah langsung diserahkan kepada pustakawan untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, sedangkan uang tunai dikelola oleh kepala sekolah untuk dimanfaatkan dalam aktivitas operasional perpustakaan. Pengelolaan sumbangan yang diberikan oleh filantropis disesuiakan dengan jenis sumbangan. Sumbangan yang berupa peralatan dikelola sebagaimana inventaris sekolah yang lain. Sumbangan berupa bahan pustaka dikelola sesuai dengan kaidah pengelolaan perpustakaan, sedangkan pengelolaan sumbangan yang berupa uang tunai dilakukan oleh kepala sekolah dengan mempertanggungjawabkannya dalam rapat dewan guru.