Penerapan Software SLiMS dan INLIS Lite dalam Kegiatan Katalogisasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Banjar
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Katalogisasi bahan pustaka di perpustakaan menjadi salah satu kegiatan utama yang dilakukan oleh pustakawan. Pada kegiatan katalogisasi, pengolahan data bahan pustaka dilakukan mulai dari merepresentasikan isi hingga fisik bahan pustaka ke dalam berbagai macam bentuk katalog. Saat ini, kegiatan katalogisasi di perpustakaan didukung dengan teknologi perangkat lunak (software) yang dapat menampung data di dalam sistemnya. Adanya penelitian ini ditujukan untuk mengetahui secara deskriptif kualitatif terkait penggunaan perangkat lunak untuk katalogisasi perpustakaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kota Banjar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung di Diskarpus Kota Banjar dan wawancara bersama salah satu pustakawannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Diskarpus Kota Banjar telah menggunakan perangkat lunak SLiMS 8 Akasia untuk pembuatan katalog elektronik sejak tahun 2019. Namun, Diskarpus Kota Banjar mendapat imbauan dari Perpusnas RI untuk beralih menggunakan INLIS Lite dalam pembuatan katalognya. Hingga di tahun 2021, perpustakaan mengikuti imbauan tersebut dan mulai memanfaatkan INLIS Lite dalam sistem otomasi perpustakaan, termasuk kegiatan katalogisasinya. Dapat disimpulkan bahwa Diskarpus Kota Banjar telah memiliki pengalaman dalam menggunakan perangkat lunak SLiMS dan INLIS Lite.
Abstract
The cataloging of library materials in the library is one of the main activities carried out by librarians. In cataloging activities, data processing of library materials is carried out starting from representing the contents to physical library materials into various forms of catalogs. Currently, cataloging activities in libraries are supported by software technology that can accommodate data in the system. The purpose of this research is to find out descriptively and qualitatively related to the use of software for library cataloging at Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kota Banjar. The research method used in this study was direct observation at Diskarpus Kota Banjar and interviews with one of the librarians. The results of the research showed that Diskarpus Kota Banjar had been using the SLiMS 8 Akasia software for electronic catalog creation since 2019. However, Diskarpus Kota Banjar received an appeal from Perpusnas RI to switch to using INLIS Lite in its catalog creation. Until 2021, the library followed the advice and began to use INLIS Lite in the library automation system, including its cataloging activities. It can be concluded that the Diskarpus Kota Banjar already has experience in using SLiMS and INLIS Lite software.
Keywords:
Katalogisasi
· SLIMS
· INLIS Lite
· Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Banjar
Introduction
Era 5.0 menjadi momen munculnya beragam teknologi informasi dan pengolahan data di berbagai sektor kehidupan. Fenomena ini dianggap sangat krusial dan dapat dirasa telah memberi banyak perubahan dalam kegiatan produksi informasi yang dilakukan sumber daya manusianya. Perubahan tersebut tidak serta merta perlu meninggalkan teknologi informasi dan pengolahan data yang sebelumnya telah hadir. Teknologi informasi dan pengolahan data yang semakin canggih paling banyak ditujukan bagi kepentingan lembaga atau institusi informasi yang melayani masyarakat, salah satunya yaitu Perpustakaan. Semakin banyak bentuk dan jenis informasi yang ditawarkan perpustakaan sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi dan pengolahan data tentu memberikan banyak pilihan koleksi bagi masyarakat sebagai pengguna perpustakaan atau disebut pemustaka untuk menggunakan informasinya secara lebih bervariatif. Hal ini dinilai baik karena dapat membantu perpustakaan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Perpustakaan Pasal 15 Ayat (2) yang berbunyi "Pengolahan koleksi perpustakaan dilakukan dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi." Maka dari itu, perpustakaan menjadi institusi yang dinamis dan tidak akan lekang oleh waktu apabila dapat menyeimbangkan diri secara sejalan dengan perkembangan teknologi yang ada. Salah satu penggunaan teknologi informasi dan pengolahan data yang saat ini umum digunakan di perpustakaan adalah perangkat lunak (software) untuk kegiatan otomasi perpustakaan, khususnya dalam kegiatan katalogisasi. Contoh softwarenya yaitu SLIMS ataupun INLIS Lite. Kedua software tersebut telah diciptakan dan dikembangkan sejak tahun 2011 oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI)¹. Inovasi tersebut membuat pustakawan sekaligus pemustaka perlu keterampilan dalam mengoperasikan teknologi tersebut. Dapat dikatakan bahwa pemustaka setidaknya perlu mengetahui penggunaan informasi yang disediakan dalam berbagai bentuk dan jenis. Selain penggunanya, seorang pencipta informasi yakni pustakawannya sendiri juga harus lebih mengetahui secara lebih mendalam mengenai langkah-langkah pembuatan informasinya melalui penggunaan teknologi informasi dan pengolahan data yang ada. Melalui penelitian ini, penulis menyusun rumusan masalah yang akan dibahas, yaitu mengenai bagaimana penggunaan software SLiMS dan INLIS Lite yang diterapkan oleh Diskarpus Kota Banjar dan apa kendala yang dialami pustakawan dalam mengoperasikan SLiMS dan INLIS Lite dalam kegiatan katalogisasi. Adapun tujuan penelitian ini, yakni untuk mengetahui pengoperasian SLiMS dan INLIS Lite dalam pengelolaan bahan pustaka atau katalogisasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Banjar.
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Dikatakan menurut Sugiyono (2016) bahwa metode deskriptif kualitatif merupakan metode penelitian dengan dasar filsafat potpositivisme yang digunakan untuk penelitian terkait keadaan objek secara alami, bukan eksperimen. Metode ini dicirikan dengan peneliti yang berperan sebagai instrumen kunci dalam teknik pengumpulan data secara gabungan (triangulasi). Penggunaan metode deskriptif kualitatif ditujukan untuk memberikan gambaran atau deskripsi secara sistematis, akurat, serta faktual mengenai fenomena yang diteliti, mulai dari fakta, sifat, hingga hubungannnya. Menurut Rukajat (2018), ciri-ciri deksriptif tidak hanya menggambarkan tentang kejadian atau situasi, namun juga menerangkan hubungan, membuat prediksi, menguji hipotesa, dan mendapat arti serta implikasi dari masalah yang hendak dipecahkan. Waktu penelitian ini dilaksanakan yaitu mulai dari tanggal 15 November sampai 17 Desember 2021. Lokasi penelitian ini yaitu di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota banjar (Diskarpus Kota Banjar) yang terletak di Lingkungan Perkantoran Kota Banjar, Jalan Brigjend M. Isya, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat. Peneliti memilih Diskarpus Kota Banjar dengan alasan karena perpustakaan ini telah mempunyai sistem otomasi dalam pengolahan data koleksi yang ada. Lalu, teknik pengumpulan data yang diterapkan peneliti yaitu dengan cara observasi dan wawancara agar mendapatkan data yang objektif. Wawancara adalah teknik yang dilaksanakan dengan informan melalui komunikasi secara lisan. Dalam penelitian ini, terdapat proses tanya jawab yang dilakukan oleh peneliti dengan salah satu pustakawan Diskarpus Kota Banjar yang bernama Ian Gabriell sebagai objek wawancaranya. Selain itu, teknik observasi pun dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati dan mencatat dengan sistematis terkait fenomena yang tampak dalam objek penelitian ini, yakni Diskarpus Kota Banjar. Terdapat teknik analisis data yang dilakukan oleh peneliti, yakni analisis data kualitatif. Pada teknik analisis data kualitatif, peneliti melalui 4 tahap pelaksanaan, diantaranya pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Tema penelitian ini telah banyak dibahas melalui penelitian sebelumnya yang dijadikan rujukan dalam keberlangsungan penelitian ini. Rujukannya yaitu karya ilmiah yang disusun oleh Zihan Fadilla T. di tahun 2020 dengan judul "Sistem Otomasi Perpustakaan INLIS Lite (Integrated Library System) pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara” yang hampir sama pembahasannya dengan penelitian ini, yakni mengenai penggunaan INLIS Lite di perpustakaan. Karya lain yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah karya ilmiah berjudul "Optimalisasi Penerapan Sistem Otomasi SLIMS di Perpustakaan Utsman Bin Affan Universitas Muslim Indonesia" oleh Kadir Nurjayanti pada tahun 2016 yang memiliki tema sama, yaitu mengenai SLiMS. Perbedaan antara 2 rujukan tersebut dengan penelitian ini adalah tempat penelitiannya dan cakupan pembahasannya. Penelitian ini dilakukan di Diskarpus Kota Banjar dan topiknya berkaitan dengan SLiMS serta INLIS Lite sekaligus yang lebih banyak diterapkan dalam kegiatan katalogisasi.
Result & Discussion
Sebelum melangkah pembahasan yang lebih lanjut, penting untuk mengetahui sejarah dan profil singkat mengenai Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kota Banjar sebagai salah satu lembaga atau institusi penyedia informasi bagi masyarakat. Sejarah awalnya, Diskarpus Kota Banjar berdiri pada tahun 2003 dengan nama yang berbeda, yakni Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Perpustakaan Umum. Lalu, nama lembaganya diubah kembali pada tahun 2009 menjadi Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Karpusda). Dilanjutkan dengan perubahan yang terjadi pada tahun 2013 dengan nama Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (KPAD). Perubahan terbaru pun terjadi di tahun 2016 dengan penamaan lembaganya menjadi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus atau DKP) Kota Banjar. Profil mengenai Diskarpus Kota Banjar dapat diketahui mulai dari lokasinya yang terletak di Komplek Perkantoran Purwaharja, Jalan Brigjend M. Isya, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Lokasi ini juga bertepatan di jalan antarprovinsi yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah, sehingga lokasinya cukup strategis. Selain itu, untuk menunjang kegiatan perpustakaan yang lebih optimal, Diskarpus Kota Banjar memiliki struktur organisasi sebagai berikut. a. Kepala b. Sekretariat - Subag Perencanaan dan Keuangan - Subag Umum dan Kepegawaian c. Bidang Perpustakaan - Seksi Pengolahan dan Deposit - Seksi Layanan dan Promosi Minat Baca d. Bidang Kearsipan - Seksi Arsip Dinamis - Seksi Arsip Statis e. Bidang Pembinaan - Seksi Pengembangan dan Program - Seksi Pembinaan Di setiap perpustakaan, termasuk di Diskarpus Kota Banjar, kegiatan otomasi perpustakaan pasti perlu dilaksanakan dalam rangka membantu mengoptimalkan kinerja pustakawan dan membelikan layanan terbaik bagi pustakawan. Arti dari Sistem Otomasi Perpustakaan atau Library Automation System yakni perangkat lunak (software) yang dioperasikan berdasarkan pangkalan data (database) yang digunakan untuk mengotomasi kegiatan di perpustakaan. Di Indonesia, sistem otomasi perpustakaan secara umum memiliki 3 modul utama, diantaranya yaitu katalogisasi, sirkulasi, serta OPAC. Ketiga modul tersebut merupakan modul minimal yang perlu dimiliki oleh perpustakaan dalam rangka kepentingan otomasi perpustakaan. Modul-modul tersebut juga berupa sistem yang telah terintegrasi, sehingga sistem otomasi perpustakaan sering disebut dengan istilah sistem perpustakaan terintegrasi (Integrated Library System). Perpustakaan memberlakukan sistem otomasi bukan tanpa alasan, karena dapat dibuktikan dengan hal yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa perpustakaan harus memiliki modul-modul yang menerapkan sistem otomasi perpustakaan 10. Salah satunya dari sekian modul tersebut yaitu katalogisasi atau pengkatalogan yang merupakan kegiatan pokok perpustakaan dalam mengolah koleksi bahan pustaka secara sistematis dalam bentuk katalog, sehingga dapat dilakukan sistem temu kembali informasi dengan cara yang tepat dan cepat¹¹. Karena katalogisasi adalah salah satu kegiatan pokok perpustakaan, maka kinerja dalam katalogisasi akan sangat mempengaruhi keberhasilan perpustakaan ketika menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai institusi penyedia informasi yang sesuai bagi penggunanya. Dalam katalogisasi atau pengkatalogan, terdapat dua sub kegiatan yang harus dilaksankan oleh pustakawan, diantaranya yaitu: a. Mendeskripsikan fisik bahan pustaka (pengkatalogan deskriptif), meliputi pembuatan deskripsi bibliografi yang menyertakan informasi tentang koleksi tersebut (diantaranya nama pengarang, judul, jumlah halaman, dan sebagainya), lalu penentuan tajuk entri utama serta tajuk entri tambahan. b. Menganalisis isi bahan pustaka (pengkatalogan subjek), meliputi penentuan subjek bahan pustaka, penerjemahan isi menjadi tajuk subjek, lalu pemberian nomor kelas12. Sesuai dengan pembahasan mengenai katalogisasi sebelumnya, penulis menemukan bahwa pada awalnya kegiatan otomasi perpustakaan, khususnya kegiatan katalogisasi di Diskarpus Kota Banjar sempat diterapkan dengan bantuan teknologi perangkat lunak yang bernama Senayan Library Management System (SLIMS). Namun, Diskarpus Kota Banjar mendapat imbauan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) untuk mengganti sistem otomasi perpustakaannya dengan menggunakan perangkat lunaknya INLIS Lite. Perubahan tersebut didasarkan pada alasan kebijakan oleh Perpusnas RI untuk mendukung dan memfasilitasi (misalnya berupa bahan pustaka) dalam penerapan sistem otomasi perpustakaan untuk mewujudkan perpustakaan digital13. Maka dari itu, seluruh bahan pustaka di Diskarpus Kota Banjar yang telah dimasukkan datanya ke dalam SLIMS perlu di transfer ke dalam INLIS Lite, agar penggunaannya lebih maksimal dan tidak berceceran. Pertama kali penggunaan SLiMS oleh Diskarpus yaitu pada tahun 2019. Ketika menggunakan SLiMS, Diskarpus mengerahkan pustakawan untuk mengolah bahan pustaka yang telah dimiliki, mulai dari pelatihan mandiri hingga pada prakteknya. SLIMS yang pernah digunakan adalah SLiMS versi 8 Akasia yang pertama kali dikembangkan oleh Perpustakaan Kemendikbud. Fitur SLIMS yang telah diterapkan pada sistem otomasi Diskarpus Kota Banjar cukup banyak, diantaranya sebagai berikut. c. Home Home adalah fitur yang memperlihatkan tampilan utama dalam SLIMS. d. Online Public Access Catalog (OPAC) OPAC merupakan fitur yang menyediakan katalog yang telah dibuat sebelumnya oleh pustakawan. Fitur ini digunakan untuk melakukan pencarian dari penyimpanan katalog di dalam database perpustakaan. e. Bibliografi Bibliografi dalam SLiMS merupakan fitur yang digunakan dalam perekaman data fisik dan isi bahan pustaka yang dituliskan berdasarkan rujukan ISBD. Data yang paling pokok untuk dituliskan diantaranya yaitu judul, pengarang, edisi, cetakan, nama penerbit, tempat terbit, tahun terbit, nomor panggil, ISBN, dan subjek. Selain itu, terdapat pula fitur barcode yang ada di menu bibliografi untuk menentukan kode eksemplar yang akan ditempel ke koleksi perpustakaan. Dalam menu bibliografi juga terdapat 2 sub menu, yaitu daftar bibliografi (bibliographic list) dan tambahkan bibliografi baru (add new bibliographic). Sub menu bibliographic list menampilkan keseluruhan daftar koleksi yang telah tersimpan dalam database perpustakaan, baik itu daftar koleksi yang belum lengkap penginputan datanya, maupun yang telah lengkap dan siap digunakan. Untuk sub menu add new bibliographic, pustakawan dapat memasukkan data koleksi baru dalam bentuk 23 ruas data bibliograafi yang perlu diisi. Pada perangkat lunak SLiMS, pustakawan dapat menyunting, menghapus, dan menyimpan data yang telah dimasukkan, sehingga sifatnya fleksibel. f. Sirkulasi Fitur sirkulasi digunakan sebagai sistem yang ditujukan bagi peminjaman dan pengembalian buku di perpustakan. Terdapat data yang direkam berupa nama peminjam, buku yang dipinjam, serta waktu peminjaman dan pengembalian bahan pustakanya. g. Master File Fitur ini digunakan sebagai data bibliografi. h. Inventarisasi Fitur inventarisasi digunakan dalam pengolahan manjalah, jurnal, dan sebagainya. i. Sistem Pada fitur sistem terdapat berbagai pengaturan yang dapat diubah oleh pustakawan untuk memberikan tampilan desain perangkat lunak sesua keinginan. j. Pelaporan Fitur pelaporan digunakan sebagai pembuatan laporan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan oleh perpustakaan melalui pengaplikasian SLiMS. Pelaporan sangat penting untuk mempertimbangkan pengambilan keputusan oleh perpustakaan di periode selanjutnya. k. Kendali Terbitan Berseri Dalam fitur ini dapat dilakukan pengecekan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan dengan jenis terbitan berseri. l. Modul Presensi Fitur ini digunakan sebagai alat penghitung pengunjung perpustakaan. Setelah mengetahui fitur SLiMS yang pernah digunakan oleh Diskarpus Kota Banjar, maka untuk saat ini beralih ke pembahasan INLIS Lite. Hingga saat ini, Diskarpus Kota Banjar secara berkelanjutan menggunakan otomasi perpustakaan untuk menunjang kegiatan perpustakaan dengan menggunakan INLIS Lite. Perangkat lunak ini membantu pustakawan mengerjakan berbagai kegiatan di perpustakaan melalui berbagai fitur berbeda yang disesuaikan dengan bidangnya masing-masing. Jika diuraikan, INLIS Lite memiliki modul yang digunakan bagi sistem otomasi perpustakaan, diantaranya terdiri dari modul untuk User dan modul untuk Administrasi. Pada modul yang diperuntukkan bagi User dikelola oleh pustakawan serta staf perpustakaan yang memiliki tugas dalam pegelolaan data terkait bahan pustaka. Sedangkan dalam modul yang diperuntukkan bagi Administrasi dikelola oleh petugas yang membantu pihak User terkait pemeliharaan sistem berdasarkan bidang administrasi, contohnya yaitu penerapan hak akses User terhadap sistem, konfigurasi perangkat lunak, dan sebagainya. Adapun fitur yang dapat dimanfaatkan oleh User pada perangkat lunak INLIS Lite di Diskarpus Kota Banjar, diantaranya sebagai berikut. a. Akuisisi Pada menu ini terdapat proses perekaman data berupa jumlah atau hasil dari pengadaan bahan pustaka oleh pepustakaan yang berasal dari bermacam-macam sumber, contohnya koleksi bahan pustaka dengan berbagai macam bentuk (buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain) yang berasal dari adanya pembelian secara langsung, tukar menukar, maupun dari sumbangan atau hadiah oleh pihak ketiga, dan sebagainya. Dalam menu akuisisi, terpampang sub menu sebagai berikut. - Daftar Nama Sumber Perolehan yang menghimpun data rekaman perpustakaan dari adanya pengadaan serta pengembangan bahan pustaka di perpustakaan. Di menu ini, user dapat melakukan edit, hapus, serta tambah data. - Entri Koleksi yang merupakan menu untuk melaksanakan pendataan koleksi yang sebelumya telah melalui prosedur akuisisi. - Entri Koleksi Resources Data and Access (RDA) yang pengisiannya sama saja dengan entri koleksi, namun perbedaannya terletak pada tag penerbitan. Untuk RDA digunakan tag penerbitan 264, sedangkan entri koleksi menggunakan tag 260. - Daftar Koleksi yang berupa sistem penyedia fasilitas temu kembali informasi, sehingga User akan dengan mudah dan cepat dalam mencari serta menemukan bahan pustaka yang telah didata di perpustakaan - Jilid Koleksi yang merupakan sub menu untuk melihat daftar bahan pustaka dari terbitan berkala yang telah dilakukan penjilidan berdasarkan edisi serialnya. - Kardeks Terbitan Berkala, yakni himpunan serial yang dapat berupa edisi serial harian, bulanan, hingga tahunan. - Daftar Usulan Koleksi yang merupakan penyediaan fasilitas di OPAC untuk pemustaka dalam mengusulkan koleksi yang belum ada di perpustakaan. - Import Data dari Excel, yakni merupakan fasilitas untuk User dalam menghimpun data dari sumber data berbentuk Excel berdasarkan format standar yang telah ditentukan. - Keranjang Koleksi yang merupakan penyimpanan rekamanan yang hendak dicetak dari halaman yang berbeda. - Karantina Koleksi yang berupa daftar koleksi setelah mengalami penghapusan oleh User. b. Katalogisasi Katalog merupakan daftar yang memuat koleksi terdata di perpustakaan dengan susunan yang berdasarkan alfabetis dari judul, nama pengarang, nama penerbit, dan lain-lain. Jika katalog adalah bentuknya, maka katalogisasi adalah proses dalam pembuatan katalognya yang menjadi representasi isi dan fisik bahan pustaka. Di Diskarpus Kota Banjar, terdapat berbagai bentuk katalog yang pernah dibuat dalam rangka pencatatan koleksi di perpustakaan. Bentuk-bentuk katalog tersebut yaitu. - Katalog kartu atau card catalog adalah katalog yang dibuat dari jenis kertas manila dengan ukuran 12,5 x 7,5 cm dan sifatnya lebih tebal dibandingkan dengan kertas HVS. - Katalog buku atau book catalog adalah katalog yang tercetak dengan bentuk buku, sehingga terdiri dari beberapa entri di setiap halamannya. - Katalog elektronik atau e-catalog adalah katalog yang dibuat dengan bentuk file pada komputer. Katalog ini akan mudah diakses dalam penelusuran maupun pencarian ulang. - Katalog online adalah katalog dengan seluruh entrinya disusun ke dalam komputer melalui penggunaan pangkalan data (database) tertentu. Untuk saat ini, Diskarpus Kota Banjar memfokuskan pengolahan katalog bahan pustaka berbentuk online melalui INLIS Lite. Sehingga, penggunaan diperlukan modul katalog akan diperlukan oleh pustakawan dalam pelaksanaan katalogisasi ke dalam database. Modul katalog merupakan menu yang biasa digunakan dalam pengelolaan data katalog, sehingga dapat dihubungkan dengan data koleksi, eksemplar, maupun item. Pada modul katalog, terdapat sub menu yang lebih rinci, diantaranya yakni sebagai berikut. - Setting Katalog yang berupa penentuan master data dan parameter yang hendak dihubungkan dengan pengelolaan dari data katalognya. Dalam Setting Katalog terdapat setting data referensi, setting format kartu katalog, setting data tag, setting warna DDC, setting data lembar kerja, serta setting data penanggung jawab atau kepala bidang pengolahan. - Entri Katalog yang merupakan sarana untuk penginputan data katalog atau bibliografi. Pedoman yang digunakan Diskarpus Kota Banjar dalam mengisi form entri katalog di INLIS Lite yaitu INDOMARC sebagai rujukannya. - Salin Katalog yang merupakan sarana untuk melaksanakan penyalinan katalog (copy cataloging) berdasarkan MARC. - Daftar Katalog yakni merupakan sarana untuk mencari dan menayangkan atau menampilkan katalog yang telah tersimpan di dalam basis data. - Cetak Kartu Katalog yang merupakan sarana untuk mencetak kartu katalog jika dianggap perlu. - Cetak Label yakni berupa sarana untuk melakukan pencetakan label pustaka, contohnya label barcode eksemplar dan label nomor panggil (call number). - Koleksi yang Diterima yakni berupa isi seluruh daftar koleksi yang telah diinput berdasarkan modul akuisisi. Koleksi yang terpampang di daftar koleksi yang diterima belum dibuatkan data katalog, ataupun belum dihubungkan dengan data katalognya. Maka dari itu, perlu dilakukan langkah verifikasi oleh seorang kataloger. c. Manajemen Keanggotaan Pada menu ini, sistem kerja manajemen keanggotaan berupa proses dalam pelaksanaan pendaftaran untuk menjadi anggota di perpustakaan. Ketika entri anggota, akan ditampilkan jenis anggota, nama, alamat, dan lainnya. Sedangkan bagi pustakawan, INLIS Lite akan menampilkan template format yang dapat dibuka dengan Microsoft Excel14 dengan sub menu keanggotaan sebagai berikut. - Entri Anggota - Daftar Anggota - Impor Data dari Excel - Daftar Sumbangan - Daftar Perpanjangan - Keranjang Anggota Dapat dikatakan bahwa penggunaan SLiMS dan INLIS Lite di Diskarpus Kota Banjar memiliki peranan penting dalam sistem otomasi perpustakaan, karena hampir seluruh kegiatan-kegiatan utamanya telah terakam dan tergantung kepada database yang telah diciptakan 15. Namun, bukan tidak mungkin jika pustakawan di perpustakaan pasti memiliki hambatan ataupun kendala yang dialami selama menerapkan sistem otomasi, khususnya dalam kegiatan katalogisasi bahan pustaka. Sejalan dengan temuan penulis dalam penelitian, pustakawan Diskarpus Kota Banjar mengalami sejumlah kendala dalam kegiatan katalogisasi berbasis INLIS Lite, diantaranya sebagai berikut. a. Sumber Daya Manusia (SDM) Kendala ini berkaitan dengan SDM di Diskarpus Kota Banjar yang tidak banyak, yakni hanya 5 orang pustakawan. Selain itu, beberapa diantaranya bukan berasal dari latar belakang pendidikan perpustakaan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa petugas lain yang ada perpustakaan ikut serta dalam membantu kegiatan tersebut. Sebanyak 5 orang petugas lain yang turut membantu dalam mendikte data koleksi, kemudian 5 orang pustakawan yang menginput data tersebut ke dalam sistem. Dari jumlah pustakawan yang telah diketahuin, dapat dikatakan SDM menjadi kendala karena bahan pustaka atau koleksi yang harus diolah sangat banyak. Jika ditotalkan yaitu sekitar 13.000 bahan pustaka yang harus dimasukkan datanya ke INLIS Lite. Total tersebut termasuk bahan pustaka yang terdapat di tempat tertentu yang disediakan oleh Diskarpus Kota Banjar, diantaranya yaitu di perpustakaannya sendiri, lalu di enam mobil Perpustakaan Keliling, Teras Baca, serta Motor Baca. Sejauh ini telah terdata koleksi di INLIS Lite sebanyak 1.095 eksemplar yang siap untuk dipakai. b. Fasilitas Kendala dalam fasilitas Diskarpus Kota Banjar yakni berupa ruangan di kantor yang digunakan dalam pelaksanaan katalogisasinya. Tidak ada ruangan khusus untuk pengolahan bahan pustaka, karena kantornya tidak terlalu besar, sehingga pustakawan akan disatukan dengan petugas perpustakaan lain yang ada disana. Adapun kendala lain terkait fasilitas yaitu mulai dari awal imbauan penggunaan INLIS Lite, belum ada sama sekali pelatihan khusus terkait perangkat lunak INLIS Lite yang disediakan oleh pihak pemerintah maupun perpustakaan bagi para pustakawan. Sehingga, pustakawan membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam mempelajari sekaligus mempraktekkan langkah-langkah dalam mengoperasikan INLIS Lite.
Conclusion
Berdasarkan hasil yang didapat dari penelitian di Diskarpun Kota Banjar, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa sistem otomasi Diskarpus Kota Banjar, khususnya kegiatan katalogisasinya telah berjalan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Perpustakaan Pasal 15 Ayat (2) dan imbauan dari Perpusnas RI. Diskarpus Kota Banjar mempertimbangkan penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan katalogisasi dengan memanfaatkan perangkat lunak (software) pengolahan bahan pustaka yang bernama SLiMS 8 Akasia pada tahun 2019, lalu beralih penggunaan perangkat lunaknya menjadi INLIS Lite pada tahun 2021 karena adanya imbauan dari Perpusnas RI. Terdapat beberapa kendala yang dialami oleh pustakawan dalam kegiatan katalogisasi di Diskarpus Kota Banjar, yakni sumber daya manusia yang hanya berjumlah 5 pustakawan dengan latar belakangnya bukan berasal dari pendidikan perpustakaan. Bahkan, pustakawan belum pernah difasilitasi pelatihan khusus dalam penggunaan perangkat lunak SLiMS maupun INLIS Lite bagi pustakawan, sehingga mempelajarinya harus secara mandiri. Selain itu, fasilitas ruangan kantor yang tidak cukup besar dan tidak ada ruangan khusus pengolahan bahan pustaka pun menjadi kendalanya.