Kembali
16
1
2021 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5 · 3 ISSN 2598-3040

Peminjaman Kosa Kata Bahasa Jawa oleh Bahasa Banjar: Kajian Fonologi Generatif

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui kosa kata dalam bahasa Jawa yang diserap oleh bahasa Banjar dan untuk mengetahui bagaimana proses fonologis berupa perubahan stuktur silabel serta pelemahan dan penguatan yang terjadi dalam kata pinjaman tersebut. Penelitian ini menggunakan metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Data yang digunakan diperoleh dari penutur asli bahasa Jawa, penutur asli bahasa Banjar dan kamus bahasa Banjar. Peneliti menggunakan teori distinctive feature oleh Schane untuk menjadi acuan dalam menganalisis data. Analisis data menunjukkan bahwa terjadi dua proses fonologis, yaitu proses fonologis tunggal dan proses fonologis ganda. Proses fonologi tunggal terdiri dari penyisipan konsonan [h], penyisipan konsonan [m], penyisipan vokal [a], perubahan vokal [ə]menjadi [a], perubahan vokal [ə] menjadi [u], perubahan vokal [ɔ] menajdi [a], perubahan vokal [ɔ] menjadi [u], perubahan konsonan [j] menjadi [g] dan perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g]. Sedangkan proses fonologis ganda meliputi penyisipan konsonan [h] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a], perubahan vokal [ə]menjadi [i] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] dan perubahan konsonan [k] menjadi [h] dan vokal [ə]menjadi [i].

Abstract

This research is a qualitative research. The aim of this research is to find the vocabulary in Javanese absorbed by Banjarese and to find out how the phonological process in the form of changes in syllable structure and the weakening and strengthening that occurs in those words. This study uses metode simak followed by teknik catat. The data in this research were obtained from native speakers of Banjarese and Banjarese dictionary. The researcher uses the distinctive feature theory by Schane to be a reference in analyzing the data. Data analysis shows that there are two phonological processes, they are single phonological processes and multiple phonological processes. The single phonological process consists of insertion of consonant [h], insertion of consonant [m], insertion of vowel [a], change of vowel [ə] to [a], vowel change [ə] to [u], vowel change [ɔ] to [ a], vowel change [ɔ] to [u], consonant change [j] to [g] and consonant change [ҫ] to [g]. While the double phonological process consist of the insertion of consonant [h] and vowel change [ə] to [a], vowel change [ə] to [i] and vowel change [ə] to [a] and consonant change [k] to [h] and vowel change [ə] to [i].
Keywords: javanese · banjarese · generative phonology · borrowing

Introduction

Dahulu kala, masyarakat yang mendiami wilayah Kalimantan telah menjalin hubungan dengan masyarakat Jawa yang berada di wilayah selatan laut Jawa (Qalyubi: 2016). Qalyubi juga menjelaskan bahwa adanya hubungan diantara Banjar dan Demak memberikan dampak berbagai bidang, salah satunya yaitu terjadinya pertukaran seni dan budaya antara Banjar dan Demak. Selain itu, terjalinnya hubungan antara Banjar dan Demak juga menimbulkan adanya penggunaan istilah penggunaan gelar Jawa dalam kerajaan Banjar, seperti nyai, mangkubumi dan amangkurat. Bahasa Jawa dan Bahasa Banjar merupakan bahasa yang berasal dari rumpun Austronesia. Bahasa Banjar merupakan salah satu bahasa di Kalimantan yang pemakaiannya meliputi wilayah Kalimantan Tengah dan Timur dan Kalimantan Selatan. Ditinjau dari bentuk kosakata, banyak ditemukan bentuk yang sama antara bahasa Banjar dengan bahasa Dayak, bahasa Jawa, dan Melayu. Bahasa Banjar merupakan bagian dari Proto Malayo Javanic dan merupakan hasil interaksi dari bahasa Melayu, Jawa, dan Dayak (Yasin, 2017). Sedangkan bahasa Jawa merupakan bahasa yang penutur aslinya mendiami pulau Jawa. Selain itu bahasa Jawa juga dituturkan oleh beberapa daerah transmigrasi di Indonesia, seperti Provinsi Riau, Jambi dan Kalimantan (Wedhawati, 2006). Berbeda dengan bahasa Banjar, meskipun berasal dari rumpun yang sama, bahasa Jawa merupakan bagian dari Melayu Polinesia. Wedhawati (2006:1) menjelaskan bahwa bahasa Jawa secara diakronis bermula dari bahasa Jawa Kuno, yang mana bahasa Jawa Kuno berkembang dari bahasa Jawa Kuno Purba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kosa kata serapan bahasa Jawa dalam bahasa Banjar dan proses fonologis berupa perubahan stuktur silabel serta pelemahan dan penguatan vokal maupun konsonan yang terjadi dalam kata serapan tersebut. Menurut Qalyubi (2016) istilah pinjaman sering kali tumpang tindih dengan istilah serapan atau dalam bahasa Inggris disebut dengan borrowing. Qalyubi juga menambahkan bahwa dalam kajian sosiolinguistik, sebuah proses borrowing atau peminjaman disebabkan oleh adanya kontak budaya yang terjadi di antara penutur bahasa satu dengan penutur bahasa lain dalam suatu komunikasi. Hal tersebut bisa dilihat dari hubungan antara wilayah Kalimantan dan Jawa dimana hubungan antara dua wilayah tersebut bisa dibuktikan dalam beberapa naskah Jawa seperti, Negarakertagama, serat Cirebon, Babad Blambangan dan Babad Giri (Qalyubi :2016). Kridalaksana (2008:179) menjelaskan bahwa peminjaman atau borrowing adalah sesuatu yang memasukkan unsur fonologis, gramatikal atau leksikal dalam bahasa atau dialek dari bahasa atau dialek lain karena adanya kontak atau peniruan. Kemudian, teori fonologi generatif oleh Schane (1973) digunakan sebagai teori dasar dalam penelitian ini. Fonologi generatif merupakan suatu pendekatan yang membahas mengenai sistem aturan yang berhubungan dengan suara dan makna, representasi fonetik suatu bahasa, proses terjadinya perubahan bunyi, dan asumsi yang mendasari perubahan bunyi. Schane menjelaskan bahwa adanya fitur pembeda atau distinctive feature adalah sebagai pembeda satu fonem dengan fonem lainnya. Penelitian yang telah melakukan kajian mengenai proses fonologis dalam suatu bahasa antara lain; Khasanah dan Subiyanto (2020) yang mengkaji mengenai perubahan struktur sylable dan nasalisasi pada bahasa Makassar menemukan jenis suara dan suku kata yang berubah, yaitu (a) perubahan suara dari [ak-] menjadi [ʔ] bernama glotalisasi; (b) perubahan bunyi [ak-] menjadi nasalisasi; (c) geminasi [ak] dan [an-]; (d) perubahan suara dari /an-/ menjadi [aŋ-]; (e) pelepasan suara dan penyisipan awalan / an/; (f) perubahan suara dan nasalisasi. Masthuroh, et.al (2020) dalam penelitiannya mengenai proses fonologis prefix /-in/ dalam bahasa Perancis menunjukkan bahwa variasi bunyi awalan /in-/ dalam bahasa Perancis adalah [iŋ-], [in-], [im-], [il-], [iʁ-]. Proses fonologis yang terjadi didalamnya merupakan proses asimilasi yang terjadi dalam bentuk nasalisasi karena ada perubahan bunyi konsonan yang di nasalisasi di lingkungan suara hidung. Sedangkan Moon & Ungkang (2020) menunjukkan bahwa dalam bahasa Manggarai terdapat bentuk koartikulasi, yaitu pada bunyi primer [u] dan [a], /o/ dan /e/, /o/ dan [i]. Koartikulasi yang terjadi dalam bahasa manggarai yaitu labialisasi, palatalisasi, nasalisasi dan glotalisasi. Kemudian, Almos (2012) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa secara fonemis, bahasa Minangkabau mempunyai lima segmen vokal, yaitu /a, i, u, e, dan o/. Akan tetapi secara fonetis, bahasa Minangkabau memiliki sembilan bunyi vokal, karena vokal /a, i, u, e, dan o/ mempunyai alofon [I, ʊ, ε, ɔ]. Selanjutnya, apabila ditinjau dari segi fonemis jumlah konsonan asal bahasa Minangkabau berjumlah 18 buah, yaitu /p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ, w, y/, namun secara fonetis bahasa Minangkabau memiliki 19 buah bunyi konsonan, yaitu /p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ, ʔ, w, y/. Jaya (2019) menunjukkan bahwa dalam bahasa Bugis terdapat proses morfofonemik yaitu proses perubahan bunyi karena mendapat penambahan morfem. Perubahan bunyi konsonan terjadi pada kata yang berakhiran bunyi /ŋ/ ketika mendapat pemarkah sufiks –mu dan –na. Proses pergantian bunyi atau asimilasi dalam kategori nomina dengan bunyi akhir /ŋ/ akan mengalami perubahan bunyi menjadi [m] dan [n] mengikuti pola bunyi yang mendahuluinya yaitu berupa sufiks possessive mark dalam bahasa Bugis seperti -mu dan -na. Kemudian, Swandana (2018) dalam penelitiannya mengenai fonologi bahasa Bali dialek Jembrana menemukan adanya 16 proses fonologis terjadi di lingkungan yang berbeda. Lingkungan fonologis tersebut akan menentukan kaidah fonologis yang berbeda pula. Proses fonologis itu yaitu asimilasi nasal /ŋ/, pelesapan obstruen /p, b, t, d, c, ɟ, k, g, s/, pelesapan /s/, pelesapan /ŋ/, pelesapan /n/, pelesapan /k/, pelesapan /ə/, penyisipan /n/, penyisipan/ŋ/, penyisipan semivokal /y/, penyisipan semivokal /w/, penyisipan /ə/, desimilasi vokal, pengenduran vokal, peninggian vokal [a], dan penurunan vokal [i]. 2. Landasan Teori Wedhawati (2006:65) memaparkan bahwa dalam bahasa Jawa, bunyi bahasa dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu vokal, konsonan dan semivokal. Sudarmo (2017) menjelaskan bahwa dalam bahasa Banjar, tiap suku kata selalu memiliki vokal yang menjadi puncak suku kata yang didahului dan diikuti oleh satu konsonan atau lebih meskipun terdapat kemungkinan bahwa suku kata hanya mempunyai satu vokal atau satu vokal dengan satu konsonan. Sudarmo juga menyebutkan bahwa suku kata yang berakhir dengan vokal disebut sebagai suku terbuka, sedangkan suku kata yang berakhir pada konsonan merupakan suku tertutup. Bahasa Banjar mempunyai lima fonem vokal, yaitu [a], [i], [u], /o/, dan /ѐ/ sedangkan bahasa Jawa mempunyai enam fonem vokal, yaitu [a], [i], [u], /o/, /e/, dan /ə/. Penelitian ini menggunakan teori fonologi generatif transformasional, yaitu salah satu teori genaratif di bidang fonologi yang didasarkan pada konsep bahwa representasi fonem ke dalam alofon dijelaskan merlalui kaidah fonologis. Dalam teori ini kaidah fonologis dibuat dengan menggunakan ciriciri pembeda (disctinctive features). Penulis akan menggunakan konsep dan jenis ciri pembeda dari Schane (1973), yang membagi ciri pembeda menjadi beberapa kelompok, yaitu (1) ciri golongan utama yang digunakan untuk membedakan konsonan, vokal dan semivokal, (2) ciri cara artikulasi yang membagi bunyi berdasarkan cara pengucapan, yaitu kontinuan, delayed-release, striden, nasal, dan lateral, (3) ciri tempat artikulasi yang dibagi menjadi anterior dan koronal, (5) ciri tambahan yang dibagi menjadi lax, voice dan glottal dan (6) ciri prosodi yang dibagi menjadi ciri tekanan dan ciri Panjang. Selain itu, Schane juga membagi proses fonologis menjadi empat bagian. Proses fonologis yaitu suatu proses ketika bertemunya gugus bunyi bahasa yang menyebabkan terbentuknya satu morfem dengan perubahan bunyi karena mendapatkan pengaruh bunyi yang ada di dekat morfem tersebut. Proses fonologis menurut Schane, yaitu (1) asimilasi yang merupakan proses perubahan bunyi yang disebabkan oleh ciri ciri segmen yang berdekatan. Ciri-ciri segmen yang dipengaruhi atau mempengaruhi dapat berwujud sebagai vokal atau konsonan yang dapat menyebabkan antara vokal atau konsonan yang berdekatan. (2) struktur silabel yang mempengaruhi distribusi relatif antara konsonan dan vokal dalam suatu kata. Pada proses fonologis struktur silabel terjadi pelesapan maupun penyisipan antara vokal dan konsonan, penggabungan dua segmen menjadi satu, (3) pelemahan yang terbagi atas sinkop, apokop dan pengurangan vokal serta persegeseran vokal yang termasuk dalam penguatan vokal, (4) netralisasi yang merupakan proses fonologis berdasarkan segmen tertentu. Perubahan tersebut bisa dipengaruhi oleh lingkungan. Perbedaan segmen pada suatu lingkungan mempunyai wujud yang sama dalam lingkungan netralisasi.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dimana peneliti mendeskripsikan mengenai proses fonologis yang berupa perubahan silabel struktur dan penguatan serta pelemahan vokal maupun konsonan dalam serapan kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar. Data yang akan dikaji diperoleh melalui wawancara dengan penutur asli bahasa Banjar dan data yang berasal dari kamus bahasa Banjar. Proses analisis data pada penelitian ini menggunakan metode agih dan padan (Sudaryanto, 2015: 17). Peneliti juga menganalisa data dengan menggunakan teori distinctive features oleh Schane.Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan metode cakap yang dilanjutkan dengan teknik catat. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Metode simak digunakan untuk menyimak tuturan dari penutur asli bahasa Banjar selama proses wawancara dilakukan. Kemudian teknik catat dilakukan untuk mencatat informasi yang diperoleh dari narasumber. Sebelum menganalisis data, peneliti menulis kosa kata bahasa Jawa yang diserap oelh bahasa Banjar kedalam satu table dengan menyertakan arti dari kosa kata tersebut. Setelah itu, peneliti mengelompokkan data berdasarkan proses fonologis yang terjadi dalam kosa kata tersebut. Kemudian, peneliti melakukan proses analisis data menggunakan teori distinctive feature oleh Schane.

Result & Discussion

Dalam analisis data, penulis menemukan adanya proses fonologis tunggal dan proses fonologis ganda, yaitu proses fonologis lebih dari satu. Berikut diuraikan masing-masing kelompok proses fonologis tunggal, dan diikuti oleh proses fonologis ganda yang akan dijabarkan dalam pembahasan berikut ini: 4.1. Proses Fonologis Tunggal Proses fonologis tunggal dalam data unsur serapan meliputi perubahan struktur silabel serta pelemahan dan penguatan 4.1.1. Perubahan Struktur Silabel (Syllable Structure) Struktur silabel mempengaruhi distribusi relatif konsonan dan vokal dalam suatu kata. Dalam struktur silabel, konsonan atau vokal dapat dihapus atau disisipkan. 1. Penyisipan Konsonan (Consonant Insertion) a. Penyisipan konsonan [h] Penyisipan konsonan yang ditemukan dalam peminjaman kosa kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, yaitu penyisipan konsonan [h]. Penyisipan konsonan [h] biasanya terjadi dalam kosa kata yang berawalan dengan bunyi vokal. Berikut penjabaran mengenai penyisipan konsonan [h] yang ditemukan pada peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar: Tabel 1. Daftar penyisipan konsonan [h] No. Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [abaŋ] [habaŋ] merah 2. [aɲar] [haɲar] baru Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa kosa kata pada bahasa Jawa yang diawali dengan bunyi vokal [a] akan mendapatkan imbuhan konsonan [h] dalam bahasa Banjar. Dalam bahasa Banjar, konsonan [h] diucapkan pada awal suku kata maupun akhir suku kata dalam suku kata tertutup. Akan tetapi, pada data yang ditemukan konsonan [h] hanya diucapkan pada awal suku kata dan diikuti oleh vokal [a], Penyisipan konsonan [h] dapat dirumuskan dengan fitur distingtif sebagai berikut: Kaidah 1. Penyisipan bunyi [h] Ø -> [h] / # - V +son -cons # - V -ant Fitur distingtif tersebut menunjukkan bahwa kosa kata dalam bahasa Jawa yang dipinjam oleh bahasa Banjar yang berawalan vokal [a], [e] dan [i] mendapat sisipan konsonan [h]. Konsonan [h] berdasarkan tempat pengucapan atau tempat artikulasi termasuk kedalam bunyi glottal menggunakan glotis sebagai artikulasi utamanya. Fonem konsonan [h] merupakan fonem konsonan frikatif glotal tanpa suara yang terbentuk dari lewatnya udara pada pita suara yang dipersempit sehingga memunculkan bunyi desis tanpa hambatan. b. Penyisipan konsonan [m] Penyisipan konsonan yang ditemukan dalam peminjaman kosa kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar yang berikutnya yaitu penyisipan konsonan [m]. Sama halnya dengan penyisipan konsonan [h], penyisipan konsonan [m] ditemukan pada kosa kata yang berawalan dengan bunyi vokal. Berikut merupakan data yang ditemukan dalam penyisipan konsonan [m]: Tabel 2. Daftar penyisipan konsonan [m] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [asǝm] [masam] asam Konsonan bilabial nasal [m] dihasilkan dari kedua bibir yang dikatupkan, dimana kedua bibir berperan sebagai artikulator dan titik artikulasi. Dalam penggunannya, konsonan [m] ditemukan pada awal kata atau akhir kata. Hal tersebut bisa dilihat dari data yang terdapat pada tabel diatas, kata [asǝm] dalam bahasa Jawa akan berubah menjadi [masam] dalam bahasa Banjar setelah mendapat imbuhan konsonan [m] pada awal kata. Berikut merupakan fitur distingtif perubahan kata tersebut: Kaidah 2. Penyisipan bunyi [m] ø -> [m]/ # - V [s] +nasal +cons +ant #-V - son -cor +cont +cor Fitur distingtif diatas menjelaskan bahwa kosa kata dalam bahasa Jawa yang dipinjam oleh bahasa Banjar yang berawalan vokal [a] mendapat sisipan consonan [m]. Konsonan [m] berdasarkan tempat pengucapan atau tempat artikulasi termasuk kedalam bunyi bilabial dan berdasarkan cara pengucapannya termasuk kedalam bunyi nasal. Bunyi nasal merupakan bunyi yang dihasilkan dengan udara melewati rongga hidung. 2. Penyisipan Vokal a. Penyisipan vokal [a] Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai penyisipan vokal yang terdapat dalam peminjaman kosa kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, yaitu penyisipan vokal [a]. Penyisipan vokal [a] biasanya muncul atau terjadi di antara huruf konsonan. Berikut penjabaran mengenai penyisipan vokal [a] yang terjadi dalam bahasa Banjar: Tabel 3. Daftar penyisipan vokal [a] No. Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [glǝpuŋ] [galapuŋ] Tepung 2. [priŋ] [pariŋ] Bambu 3. [prǝngutan] [paraŋutan] Cemberut Penyisipan bunyi vokal yang terjadi pada kata [glǝpuŋ] dapat ditemukan pada suku kata pertama yaitu penyisipan bunyi vocal [a]. Dengan adanya penyisipan bunyi vokal tersebut, maka kata [glǝpuŋ] dalam bahasa Jawa yang memiliki arti ‘tepung’, kemudian berubah menjadi [galapuŋ] dalam proses peminjaman ke dalam bahasa Banjar. Hal yang sama juga terjadi pada kata [priŋ] dalam bahasa Jawa yang berarti ‘bambu’, kemudian berubah menjadi [pariŋ] dalam bahasa Banjar setelah disisipi oleh vokal [a]. Selanjutnya, kata [prǝngutan] dalam bahasa Jawa yang berarti ‘cemberut’ juga mendapat sisipan vokal [a] dalam suku kata pertama yang akibatnya menjadi kata [paraŋutan] dalam bahasa Banjar. Selain mendapat sisipan vokal [a], kata [glǝpuŋ] dan [prǝngutan] mengalami perubahan vokal [ə] menjadi [a] dalam suku kata pertama yang menjadi [galapuŋ] dan [paraŋutan]. Berikut merupakan penjelasan mengenai fitur distingtif yang terjadi pada penyisipan kata-kata tersebut: Kaidah 3. Penyisipan vokal [a] ø -> [a]/ #C-C -high +low +back # C - C -tense -round Fitur distingtif diatas menunjukkan bahwa dalam mengucapkan kata [priŋ], [glǝpuŋ] dan [prǝngutan], penutur bahasa Banjar menyelipkan vokal [a] yang terletak diantara dua konsonan, yaitu konsonan sebelum dan sesudahnya. Vokal [a] merupakan jenis vokal tense, dimana ketika akan melafalkan kata tersebut memerlukan tekanan atau bunyi lantang. 4.2. Pelemahan dan Penguatan 1. Perubahan vokal a. Perubahan vokal [ə] menjadi [a] Dalam perubahan vokal [ə]menjadi [a] ada beberapa data yang ditemukan dalam peminjaman bahasa Jawa yang terjadi dalam bahasa Banjar. Berikut merupakan kosa kata bahasa Jawa yang dipinjam oleh bahasa Banjar: Tabel 4. Daftar perubahan vokal [ə] menjadi [a] No. Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [kandəl] [kandal] tebal 2. [kəmbaŋ] [kambaŋ] bunga 3. [təlu] [talu] tiga 4. [wəsi] [wasi] besi 5. [wəlut] [walut] belut Data pada tabel 4 menunjukkan adanya perubahan bunyi vokal yang letaknya berbeda-beda, yaitu pada akhir sukukata seperti yang terlihat pada kata [kandəl] yang berubah menjadi [kandal]. Sedangkan data pada nomor 2 hingga 5 perubahan bunyi vokal mengalami perubahan pada suku kata pertama, dimana [kəmbaŋ] menjadi [kambaŋ], [təlu] menjadi [talu], [wəsi] menjadi [wasi] dan [wəlut] menjadi [walut]. Dalam bahasa Banjar, vokal [a] dapat didahului dan diikuti oleh vokal [i], [e], [a], [o] dan [u]. Fitur distingtif dari perubahan vokal tersebut yaitu: Kaidah 4. Perubahan vokal [ə] menjadi [a] [ə]-> [a] -low +low -back +back # C-C Fitur distingtif diatas menunjukkan bahwa penutur bahasa Banjar mengganti vokal [a] dengan vokal [ə] yang merupakan jenis vokal lax, dimana ketika akan melafalkan kata tersebut tidak perlu adanya tekanan atau bunyi lantang. Bunyi tersebut bisa disebut juga sebagai bunyi yang lemah atau rileks. Sedangkan vokal [a] merupakan bunyi tense yang memerlukan tekanan pada saat mengucapkan kata yang memiliki vokal [a]. b. Perubahan vokal [ə]menjadi [u] Selain perubahan vokal [ə]menjadi [i], ditemukan pula perubahan vokal [ə]menjadi vokal [u] pada kosa kata bahasa Jawa yang dipinjam oleh bahasa Banjar. Berikut merupakan contoh perubahan vokal [ə] menjadi [u] yang ditemukan pada peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar: Tabel 5. Daftar perubahan vokal [ə]-> [u] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [gəmbili] [gumbili] singkong Perubahan yang terdapat pada tabel 5 menunjukkan bahwa kata [gəmbili] yang mempunyai arti ‘singkong’ dalam bahasa Jawa berubah menjadi [gumbili] setelah mengalami proses peminjaman oleh bahasa Banjar. Proses perubahan tersebut terjadi pada awal suku kata dan terletak diantara dua konsonan. Dalam bahasa Banjar, pengucapan vokal [u] terjadi pada suku kata terbuka dan suku kata tertutup. Akan tetapi pada data yang ditemukan, vokal [u] hanya diucapkan pada awal suku kata dan pada suku kata tertutup. Dibawah ini merupakan penjelasan mengenai fitur distingtif dari perubahan vokal [ə] -> [u]: Kaidah 5. Perubahan vokal [ə]menjadi [u] [ə]-> [u] -high +high -back +back #C-C -tense +tense -round +round Fitur distingtif tersebut menunjukkan adanya pergantian dari vokal [ə] menjadi [u]. Vokal tersebut merupakn bunyi tense yang mana membutuhkan tekanan ketika akan mengucapkan kosa kata yang mengandung vokal [ə] dan [u]. c. Perubahan vokal [ɔ] menjadi [a] Pembahasan berikutnya yaitu mengenai perubahan vokal [ɔ] menjadi [a] pada peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar. Berikut merupakan contoh dari perubahan vokal [ɔ] menjadi [a] yang ditemukan pada peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar: Tabel 6. Daftar perubahan vokal [ɔ] -> [a] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [wɔlu] [walu] Delapan Tabel 6 menunjukkan bahwa dalam bahasa Jawa kata delapan adalah [wɔlu], maka ketika kata tersebut dipinjam oleh bahasa Banjar berubah menjadi [walu]. Perubahan tersebut terjadi ketika vokal [ɔ] dalam kata [wɔlu] mengalami perubahan menjadi vokal [a] sehingga berubah menjadi [walu]. Perubahan vokal dalam data yang ditemukan terjadi ketika huruf vokal terletak diantara huruf konsonan dan perubahan tersebut terjadi pada awal suku kata. Fitur distingtif dari perubahan vokal tersebut yaitu: Kaidah 6. Perubahan vokal [ɔ] -> [a] [ɔ] -> [a] -low +low -tense -tense #C-C +round -round Fitur distingtif diatas menunjukkan bahwa penutur bahasa Banjar mengganti vokal lax [ɔ] dengan vokal [a] yang merupakan jenis vokal tense, dimana ketika akan melafalkan kata tersebut memerlukan tekanan atau bunyi lantang. Sedangkan vokal [ɔ] merupakan bunyi tense yang tidak memerlukan tekanan pada saat mengucapkan kata yang memiliki vokal [ɔ]. d. Perubahan vokal [ɔ] menjadi [u] Selain mengalami perubahan menjadi vokal [a], vokal [ɔ] juga bisa mengalami perubahan menjadi vokal [u], seperti data yang tertera dalam tabel berikut ini: Tabel 7. Daftar perubahan vokal [ɔ] menjadi [u] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [takɔn] [takun] tanya Apabila pada data sebelumnya vokal [ɔ] mengalami perubahan pada awal suku kata, maka pada tabel 7 vokal [ɔ] akan mengalami perubahan pada suku kata kedua, yaitu kata [takɔn] dalam bahasa Jawa yang berubah menjadi [takun] setelah dipinjam oleh bahasa Banjar. Hal tersebut berarti bahwa vokal dengan ciri [-high] mengalami perubahan menjadi vokal dengan ciri [+high] yang terjadi pada suku kata terakhir. Dalam bahasa Jawa, vokal dengan ciri [+high] hanya ditemukan pada posisi tengah dan sering terjadi pada bunyi vokal tinggi dengan sifat lax (Perwira, 2016). Kemudian, ketika kata tersebut dipinjam oleh bahasa Banjar, maka ciri vokal [-high] berubabh menjadi [+high]. Fitur distingtif dalam perubahan vokal tersebut, yaitu: Kaidah 7. Perubahan vokal [ɔ] menjadi [u] [ɔ] -> [u] -high +high -tense +tense C-C# -round +round Berdasarkan fitur distingtif diatas, dapat disimpulkan bahwa vokal [ɔ] dan vokal [u] termasuk kedalam bunyi atau suara lax. Ketika hendak melafalkan kata yang mengandung vokal tersebut, tidak memerlukan suatu tekanan atau bunyi yang lantang. 2. Perubahan Konsonan a. Perubahan konsonan [j] menjadi [g] Setelah menjabarkan mengenai perubahan vokal yang terjadi dalam peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, pembahasan berikutnya yaitu mengenai perubahan konsonan yang ditemukan pada peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar: Tabel 8. Daftar perubahan konsonan [j] menjadi [g] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1 [jawil] [gawil] mencolek 2 [jaŋan] [gaŋan] masakan Perubahan yang muncul pada tabel 8 yaitu terjadi pada perubahan kata [jawil] dalam bahasa Jawa yang berubah menjadi kata [gawil] setelah dipinjam oleh bahasa Banjar. Dalam perubahan kata tersebut, menyebabkan terjadinya perubahan konsonan [j] yang mempunyai ciri distingtif [+son] berubah menjadi konsonan [g] yang mempunyai ciri distingtif [-son]. Dalam bahasa Banjar, konsonan [g] bisa ditemukan pada semua posisi, tapi tidak termasuk dengan posisi akhir. Fitur distingtif dari perubahan konsonan tersebut yaitu: Kaidah 8. perubahan konsonan [j] menjadi [g] [j] -> [g] +son -son +cont -cont #-V -cons +cons Berdasarkan fitur distingtif diatas, terdapat pergantian konsonan [j] menjadi [g]. Berdasarkan tempat artikulasi, konsonan [j] merupakan bunyi palatal, dimana bunyi dihasilkan dengan cara menempatkan lidah bagian depat pada langit-langit mulut. Sedangkan konsonan [g] merupakan konsonan plosif yang pengucapannya dilakukan dengan adanya letupan udara karena terhambat oleh lidah pada tempat artikulasi dalam mulut. b. Perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g] Perubahan konsonan kedua yang ditemukan dalam peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar yaitu perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g] yang terdapat dalam tabel dibawah ini: Tabel 9. Daftar perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1 [ҫapit] [gapit] jepit Pada tabel 9 bisa dilihat bahwa kata [ҫapit] dalam bahasa Jawa mengalami perubahan menjadi [gapit] setelah dipinjam oleh bahasa Banjar. Dalam perubahan kata tersebut, konsonan [ҫ] dengan fitur distingtif [+cont] mengalami perubahan menjadi konsonan [g] dengan fitur distingtif [-cont]. Berikut ini merupakan penjelasan dari fitur distingtif mengenai perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g]: Kaidah 9. Perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g] [ҫ] -> [g] +cont -cont +cor +cons #-V -ant +ant Konsonan [ҫ] merupakan sebuah konsonan frikatif palatal dimana bunyi konsonan tersebut terjadi karena adanya arus udara yang mengalir melalui celah jalannya pernafasan yang menyempit. Dalam bahasa Banjar bunyi konsonan [ҫ] berubah meanjadi bunyi konsonan [g] yang termasuk kedalam bunyi velar. Bunyi yang terjadi pada konsonan [g] dihasilkan dengan cara menggunakan langit langit bagian belakang. Kemudian, bunyi yang dihasilkan menghambat aluran pernafasan yang dikeluarkan oleh paruparu. 4.2. Proses Fonologis Ganda 4.2.1 Perubahan Struktur Silabel dan Penguatan 1. Penyisipan konsonan [h] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] Penyisipan konsonan yang ditemukan dalam proses fonologis ganda pada peminjaman kosa kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, yaitu penyisipan konsonan [h] dan dan perubahan vokal [ə] menjadi [a]. Penyisipan konsonan [h] dan perubahan vokal terjadi dalam kosa kata yang berawalan dengan bunyi vokal. Berikut penjabaran mengenai penyisipan konsonan [h] vokal [ə] menjadi [a] yang ditemukan pada peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar: Tabel 10. Daftar penyisipan konsonan [h] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] No. Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [irəŋ] [hiraŋ] hitam Seperti yang terjadi pada data dalam tabel 1, data yang terdapat dalam tabel 11 menunjukkan bahwa bahwa tidak hanya kosa kata pada bahasa Jawa yang diawali dengan bunyi vokal [a] akan mendapatkan imbuhan konsonan [h]. Dalam tabel tersebut, data yang diawali vokal [i] juga mendapat imbuhan konsonan [h] pada awal kalimat, sehingga kata [irəŋ] dalam bahasa Jawa yang berarti ‘hitam’ akan berubah menjadi [hiraŋ] setelah dipinjam oleh bahasa Banjar. Fitur distingtif pada proses fonologis ganda yang terjadi pada kata [irəŋ] yang berubah menjadi [hiraŋ], bisa dilihat pada kaidah 1 untuk penyisipan konsonan [h] dan kaidah 4 untuk perubahan vokal [ə] menjadi [a]. 2. Perubahan perubahan vokal [ə]menjadi [i] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] Pembahasan selanjutnya mengenai proses fonologos ganda yang terjadi dalam peminjaman bahasa Jawa oleh bahasa Banjar adalah perubahan vokal [ə] menjadi vokal [i] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] yang akan dipaparkan dalam tabel berikut ini: Tabel 11. Daftar perubahan vokal [ə]menjadi [i] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a]. No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [rəgət] [rigat] Kotor Data pada tabel 11 menunjukkan adanya perubahan vokal yang terjadi pada suku kata pertama dan suku kata kedua. Pada suku kata pertama, bunyi vokal [ə] berubah menjadi [i] sedangkan perubahan yang terjadi pada suku kata kedua, yaitu bunyi vokal [ə] menjadi [a]. Terjadinya dua perubahan vokal tersebut menyebabkan kata [rəgət] dalam bahasa Jawa yang mempunyai arti ‘kotor’ berubah menjadi [rigat] ketika dipinjam oleh bahasa Banjar. Fitur distingitf dari perubahan bunyi vokal [ə] berubah menjadi [a] bisa dilihat dari penjelasan mengenai fitur distingtif pada kaidah 4. Sedangkan fitur distingtif pada perubahan vokal [ə] menjadi [i], yaitu: Kaidah 10. Perubahan vokal [ə] menjadi [i] -high +high -tense +tense #C-C +back -back Berdasarkan fitur distingtif tersebut dapat dikatakan bahwa adanya pergantian dari vokal [ə]menjadi [i] yang terjadi diantara dua huruf konsonan. Kedua vokal tersebut merupakn bunyi tense yang mana membutuhkan tekanan ketika akan mengucapkan kosa kata yang mengandung vokal tersebut. b. Perubahan konsonan [h] menjadi [k] dan perubahan vokal [ə]menjadi [i] Pembahasan berikutnya adalah perubahan vokal yang juga ditemukan dalam peminjaman kosa kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, yaitu perubahan vokal [ə] menjadi vokal [i]. Berikut data yang ditemukan mengenai perubahan vokal [ə] menjadi vokal [i] yang terjadi dalam bahasa Banjar: Tabel 12. Daftar perubahan konsonan [k] menjadi [h] dan vokal [ə]menjadi [i] No Bahasa Jawa Bahasa Banjar Arti 1. [kəbak] [hibak] Penuh Data pada tabel 12 menunjukkan adanya proses fonologis ganda, yaitu perubahan dari bunyi vokal [ə] menjadi vokal [i] yang terletak pada awal suku kata dan perubahan konsonan [k] menjadi [h]. Dengan adanya perubahan konsonan dan vokal yang terjadi pada data tabel 12 menyebabkan kata [kəbak] yang dalam bahasa Jawa yang berarti ‘penuh’ berubah menjadi [hibak] setelah dipinjam oleh bahasa Banjar. Fitur distingtif dari perubahan vokal [ə]menjadi [i] telah dijelaskan dalam kaidah 10. Sedangkan fitur distingtif dari perubahan konsonan [k] menjadi [h], yaitu: Kaidah 11. Perubahan konsonan [k] menjadi [h] [k] -> [h] -son +son +cons -cons #-V -cont +cont Kaidah tersebut memperlihatkan kaidah fonologis mengenai perubahan konsonan [k] dengan ciri [-son; +cons; -cont] berubah menjadi konsonan h yang memiliki ciri [+son; -cons; +cont] yang terjadi pada awal suku kata. Kosonan [k] merupakan bunyi plosif, sehingga mempunyai ciri [-cont], sedangkan konsonan [h] memiliki ciri [-cons] dikarenakan konsonan [h] termasuk kedalam bunyi glottal.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis data pada peminjaman kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, peneliti menemukan proses fonologis berupa perubahan struktur silabel, pelemahan dan penguatan yang ditemukan dalam kosa kata bahasa Jawa yang dipinjam oleh bahasa Banjar. Selain itu, terdapat dua proses fonologis yang terjadi dalam penelitian ini, yaitu proses fonologis tunggal dan proses fonologis ganda. Proses fonologis tunggal yang terjadi, yaitu: 1. Penyisipan konsonan [h] pada kata [abaŋ] menjadi [habaŋ] dan [aɲar] menjadi [haɲar] 2. Penyisipan konsonan [m] pada [asǝm] menjadi [masam] 3. Penyisipan vokal [a] pada kata [glǝpuŋ] berubah menjadi [galapuŋ], [priŋ] berubah menjadi [pariŋ] dan [paraŋutan] menjadi [prǝngutan] 4. Perubahan vokal [ə] menjadi [a] [kandəl] berubah menjadi [kandal], [kəmbaŋ] menjadi [kambaŋ], [təlu] menjadi [talu], [wəsi] menjadi [wasi] dan [wəlut] menjadi [walut] 5. Perubahan vokal [ə]-> [u] [gəmbili] berubah menjadi [gumbili] 6. Perubahan vokal [ɔ] -> [a] [wɔlu] berubah menjadi [walu] 7. Perubahan vokal [ɔ] menjadi [u] takɔn] berubah menjadi [takun] 8. Perubahan konsonan [j] menjadi [g] [jawil] berubah menjadi kata [gawil] 9. Perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g] kata [ҫapit] menjadi [gapit] Proses fonologis ganda yang ditemukan pada peminjaman kata bahasa Jawa oleh bahasa Banjar, yaitu: 1. Penyisipan konsonan [h] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] pada kata [irəŋ] yang berubah menjadi [hiraŋ], 2. Perubahan vokal [ə]menjadi [i] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] pada kata [rəgət] menjadi [rigat] 3. Perubahan konsonan [k] menjadi [h] dan vokal [ə]menjadi [i] pada kata [kəbak] menjadi [hibak]